BoyzForum! BoyzForum! - forum gay Indonesia www.boyzforum.com

Howdy, Stranger!

It looks like you're new here. If you want to get involved, click one of these buttons!

Selamat datang di situs Boyzforum yang diarsipkan oleh Queer Indonesia Archive. Forum untuk komunitas gay Indonesia yang populer ini didirikan pada tahun 2003, dan ditutup pada tanggal 15 Desember 2020.

Forum ini diabadikan untuk kepentingan sejarah. Tidak akan ada konten baru di forum ini. Silakan menikmati forum ini sebagai potongan dari sejarah queer Indonesia.

Mari Berbagi Kisah Inspiratif

edited August 2014 in BoyzStories
Dear guys, pagi ini membaca share dr teman tentang sebuah kisah yang menurutku bermakna, dan ingin sekali berbagi inspirasi ini kepada teman-teman semua. Jika kita bisa berbagi inspirasi, pastinya kita akan mendapat lebih banyak lagi inspirasi yang bermanfaat bagi hidup kita kelak ... :)


: ADIKKU TERSAYANG :: dikutip dari SL BOOKS

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku. Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu ditangannya.“Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya.Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara.Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!”Dia mengangkat tongkat bambu itu tinggi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!”Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus-menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas.Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang dan memarahinya, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!”Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun.
Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.”Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku.
Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah bisa lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun dan aku berusia 11 tahun.Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah Universitas propinsi.
Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkusSaya mendengarnya memberengut, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik… hasil yang begitu baik…”Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?”Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, “Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, saya telah cukup membaca banyak buku" Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!”.Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata,“Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya, kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini”.Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: “Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimimu uang”.
Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun, dan aku 20. Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas).Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, kemudian teman sekamarku masuk dan memberitahukan,“Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!"Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?”Dia menjawab sambil tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?”Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, “Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu…”Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, kemudian berkata, “Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.”Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku lalu menangis dan menangis.
Tahun itu, ia berusia 20 dan aku 23.Suatu hari aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. “Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!”Tetapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu..”Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit salep pada lukanya dan mebalut lukanya. “Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya.“Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan…”Di tengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku.Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Seringkali suamiku dan aku mengundang orangtuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku juga tidak setuju, ia mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu saja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.”Suamiku menjadi direktur di pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras untuk memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.Suatu hari, adikku di atas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, kemudian ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?”Dengan wajah yang serius, ia membela keputusannya.Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah, “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!”“Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggam tanganku.
Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.Saat adikku berusia 30 tahun, ia menikahi seorang gadis petani dari dusun. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?”Tanpa berpikir panjang ia menjawab, “Kakakku.”Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. “Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sendoknya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.”Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar dari bibirku, “Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.”Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.Bisakah kita memiliki jiwa besar seperti si adik yang seperti dalam cerita, … tapi bagaimanapun, yang namanya Saudara patut kita jaga dan kita hormati, apakah itu seorang adik atau seorang kakak.

Karena apa arti hidup kalau tidak bisa membahagiakan saudara dan keluarga kita ???
«13456798

Comments

  • Bener banget.. memang prioritas utama itu membahagiakan orang tua dan tetap jaga hubungan sama saudara :)
  • @whysoasian‌ thanks for your smile bro
    @Pepen95‌ hehehe silahkan share klo kbetulan lg bca sesuatu dan anda terinspirasi :)
  • Ngepost dulu ya TS sebelum baca kisah nya ;)
  • edited August 2014
    Semua kisah hidup dan isi hati saya mulai dari masa kecil saya yang miskin bahkan tinggal di rumah 'sakpitik',hingga obsesi saya yang ingin selalu cantik membawa saya kepada kecanduan operasi plastik.Ada di buku saya 'My Life,My Secret'.
  • Bahagiakan mereka selagi masih bisa
  • Hwaaaaa :'( :'(
    Ak jd nangiiiis.... :(
    Ak belum bisa nyenengin kluargaku sendiri, malah seringkali tidak peduli :(
  • Hehe :) yukk silahkan klo ada kisah inspiratif lainnya :)
  • Aku tambahin..
    Kisah ini aku temukan d fb (mungkin sebagian member ada yg pernah baca)..

    Aku sampai berkaca-kaca membacanya.. Jd inget sama ibu yg memang sedari kecil udah pisah sama ayah..


    = IBU BUTA YANG MEMALUKANKU =

    Saat aku beranjak dewasa, aku mulai mengenal sedikit kehidupan yang
    menyenangkan, merasakan kebahagiaan memiliki wajah yang tampan, kebahagiaan
    memiliki banyak pengagum di sekolah, kebahagiaan karena kepintaranku yang
    dibanggakan banyak guru. Itulah aku, tapi satu yang harus aku tutupi, aku malu
    mempunyai seorang ibu yang BUTA!

    Matanya tidak ada satu. Aku sangat malu, benar-benar malu. Aku sangat menginginkan kesempurnaan terletak padaku, tak ada satupun yang cacat
    dalam hidupku juga dalam keluargaku. Saat itu ayah yang menjadi tulang punggung kami sudah dipanggil terlebih dahulu oleh yang Maha Kuasa.

    Tinggallah aku anak semata wayang yang seharusnya menjadi tulang
    punggung pengganti ayah. Tapi semua itu tak kuhiraukan. Aku hanya mementingkan
    kebutuhan dan keperluanku saja. Sedang ibu bekerja membuat makanan untuk para
    karyawan di sebuah rumah jahit sederhana.

    Pada suatu saat ibu datang ke sekolah untuk menjenguk keadaanku. Karena sudah
    beberapa hari aku tak pulang ke rumah dan tidak tidur di rumah. Karena rumah kumuh itu membuatku muak, membuatku kesempurnaan yang kumiliki manjadi cacat. Akan kuperoleh apapun untuk menggapai sebuah kesempurnaan itu.

    Tepat di saat istirahat, Kulihat sosok wanita tua di pintu sekolah. Bajunya pun bersahaja rapih dan sopan. Itulah ibu ku yang mempunyai mata satu. Dan yang selalu membuat aku malu dan yang lebih memalukan lagi Ibu memanggilku. “Mau
    ngapain ibu ke sini? Ibu datang hanya untuk mempermalukan aku!” Bentakkan dariku membuat diri ibuku segera bergegas pergi. Dan itulah memang yang kuharapkan.

    Ibupun bergegas keluar dari sekolahku. Karena kehadiranya itu aku benar-benar malu, sangat malu. Sampai beberapa temanku berkata dan menanyakan. “Hai, itu ibumu ya???, Ibumu matanya satu ya?” yang menjadikanku bagai disambar petir mendapat pertanyaan seperti itu.

    Beberapa bulan kemudian aku lulus sekolah dan mendapat beasiswa di sebuah sekolah di luar negeri. Aku mendapatkan beasiswa yang kuincar dan kukejar agar aku bisa segera meninggalkan rumah kumuhku dan terutama meninggalkan ibuku yang membuatku malu. Ternyata aku berhasil mendapatkannya.

    Dengan bangga kubusungkan dada dan aku berangkat pergi tanpa memberi tahu Ibu karena bagiku itu tidak perlu. Aku hidup untuk diriku sendiri. Persetan dengan Ibuku. Seorang yang selalu menghalangi kemajuanku.

    Di Sekolah itu, aku menjadi mahasiswa terpopuler karena kepintaran dan
    ketampananku. Aku telah sukses dan kemudian aku menikah dengan seorang gadis
    Indonesia dan menetap di Singapura. Singkat cerita aku menjadi seorang yang
    sukses, sangat sukses. Tempat tinggalku sangat mewah, aku mempunyai seorang
    anak laki-laki berusia tiga tahun dan aku sangat menyayanginya. Bahkan aku rela
    mempertaruhkan nyawaku untuk putraku itu.

    10 tahun aku menetap di Singapura, belajar dan membina rumah tangga dengan
    harmonis dan sama sekali aku tak pernah memikirkan nasib ibuku. Sedikit pun aku tak rindu padanya, aku tak mencemaskannya. Aku BAHAGIA dengan kehidupan ku
    sekarang.

    Tapi pada suatu hari kehidupanku yang sempurna tersebut terusik, saat putraku
    sedang asyik bermain di depan pintu. Tiba-tiba datang seorang wanita tua renta dan
    sedikit kumuh menghampirinya. Dan kulihat dia adalah Ibuku, Ibuku datang ke Singapura. Entah untuk apa dan dari mana dia memperoleh ongkosnya. Dia datang menemuiku.

    Seketika saja Ibuku ku usir. Dengan enteng aku mengatakan: “HEY, PERGILAH KAU PENGEMIS. KAU MEMBUAT ANAKKU TAKUT!”
    Dan tanpa membalas perkataan kasarku, Ibu lalu tersenyum, “MAAF, SAYA SALAH
    ALAMAT”

    Tanpa merasa besalah, aku masuk ke dalam rumah. Beberapa bulan kemudian datanglah sepucuk surat undangan reuni dari sekolah SMA ku. Aku pun datang untuk menghadirinya dan beralasan pada istriku bahwa aku akan dinas
    ke luar negeri.

    Singkat cerita, tibalah aku di kota kelahiranku. Tak lama hanya ingin menghadiri pesta reuni dan sedikit menyombongkan diri yang sudah sukses ini. Berhasil aku membuat seluruh teman-temanku kagum pada diriku yang sekarang ini.

    Selesai Reuni entah megapa aku ingin melihat keadaan rumahku sebelum pulang ke
    Sigapore. Tak tau perasaan apa yang membuatku melangkah untuk melihat rumah
    kumuh dan wanita tua itu. Sesampainya di depan rumah itu, tak ada perasaan sedih atau bersalah padaku, bahkan aku sendiri sebenarnya jijik melihatnya. Dengan rasa
    tidak berdosa, aku memasuki rumah itu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Ku lihat rumah ini begitu berantakan. Aku tak menemukan sosok wanita tua di dalam
    rumah itu, entahlah dia ke mana, tapi justru aku merasa lega tak bertemu dengannya.

    Bergegas aku keluar dan bertemu dengan salah satu tetangga rumahku. “Akhirnya kau datang juga. Ibu mu telah meninggal dunia seminggu yang lalu”
    “OH…” Hanya perkataan itu yang bisa keluar dari mulutku. Sedikit pun tak ada rasa sedih di hatiku yang kurasakan saat mendengar ibuku telah meninggal. “Ini, sebelum meninggal, Ibumu memberikan surat ini untukmu”
    Setelah menyerahkan surat ia segera bergegas pergi. Ku buka lembar surat yang
    sudah kucal itu.

    “Untuk anakku yang sangat Aku cintai,
    Anakku yang kucintai aku tahu kau
    sangat membenciku. Tapi Ibu senang
    sekali waktu mendengar kabar bahwa
    akan ada reuni disekolahmu.
    Aku berharap agar aku bisa melihatmu
    sekali lagi. karena aku yakin kau akan
    datang ke acara Reuni tersebut.
    Sejujurnya ibu sangat merindukanmu,
    teramat dalam sehingga setiap malam
    Aku hanya bisa menangis sambil
    memandangi fotomu satu-satunya yang
    ibu punya.Ibu tak pernah lupa untuk
    mendoakan kebahagiaanmu, agar kau
    bisa sukses dan melihat dunia luas.
    Asal kau tau saja anakku tersayang,
    sejujurnya mata yang kau pakai untuk
    melihat dunia luas itu salah satunya
    adalah mataku yang selalu membuatmu
    malu.
    Mataku yang kuberikan padamu waktu
    kau kecil. Waktu itu kau dan Ayah mu
    mengalami kecelakaan yang hebat,
    tetapi Ayahmu meninggal, sedangkan
    mata kananmu mengalami kebutaan.
    Aku tak tega anak tersayangku ini hidup
    dan tumbuh dengan mata yang cacat
    maka aku berikan satu mataku ini
    untukmu.
    Sekarang aku bangga padamu karena
    kau bisa meraih apa yang kau inginkan
    dan cita-citakan.
    Dan akupun sangat bahagia bisa melihat
    dunia luas dengan mataku yang aku
    berikan untukmu.
    Saat aku menulis surat ini, aku masih
    berharap bisa melihatmu untuk yang
    terakhir kalinya, Tapi aku rasa itu tidak
    mungkin, karena aku yakin maut sudah di
    depan mataku.
    Peluk cium dari Ibumu tercinta.”

    Bak petir di siang bolong yang menghantam seluruh saraf-sarafku, Aku terdiam! Baru kusadari bahwa yang membuatku malu sebenarnya bukan ibuku, tetapi diriku
    sendiri....(Sumber: http://annasjava.heck.in)
  • Hmmm... speechless gw @raden_imo pernah baca sih, tp ttp aja nyesek klo remind lg :(
  • Bener om..
    Nyentuh bget kisahnya.. :)
  • @raden_imo
    gw tau itu dari grup fb family guide
    mpe skarang blm berani baca, termasuk yg punya situ
    mata keburu banjir duluan T_T
  • @raden_imo
    gw tau itu dari grup fb family guide
    mpe skarang blm berani baca, termasuk yg punya situ
    mata keburu banjir duluan T_T
  • Tp memang ada lho kenyataannya gtu ... >_<
  • @Tsunami

    iya sih. kadang qt berpikir kalo cerita tragis n lebay itu cuma ada di sinetron.
    eh ternyata di dunia nyata ada.
Sign In or Register to comment.