It looks like you're new here. If you want to get involved, click one of these buttons!
Copyright 2021 Queer Indonesia Archive. See our Privacy Policy. Contact us at [email protected]
Dengan menggunakan situs ini berarti Anda setuju dengan Aturan Pakai.
BoyzForum.com adalah situs anti pedofilia!
Comments
Waktu berlalu... TK-SD-SMP aku selalu menganggap Papa gak sreg sama aku somehow dibandingkan terhadap adikku (adikku juga laki2, tp straight). Sampai suatu ketika aku berhasil masuk SMA favorit di Jakarta (dan termasuk unggulan se-Indonesia), dan tiba-tiba sikap Papa benar-benar totally berubah terhadap aku. Papa bangga denganku. Papa jadi banyak ngobrol denganku. Entah mengapa aku merasa aku dianggap sudah dewasa. Papa tidak lagi marah-marah ketika menasihati aku, melainkan memberikan wejangan selayaknya aku sahabat dekatnya. Sangat lembut dan baik-baik. Aku benar-benar merasa dihargai. Saat itu aku baru merasa kalau aku ini benar-benar anaknya. Aku gak tahu apa yg terjadi, mungkin Papa sudah mulai embrace kalau anaknya ini gay.
Setelah momen itu hingga sekarang ini (aku sdh masuk tingkat akhir perkuliahan), aku benar-benar merasa dekat dengan Papa. Papa yang sekarang bukanlah dulu yang aku takuti. Papa menjadi sangat suportif dan selalu mendengar keluh kesahku. Aku sangat berterima kasih kepada Tuhan yang mungkin telah menyentuh hati Papa untuk menerima anaknya ini apa adanya.
Jadi gini bro. Papamu itu dulu keras karena sedang menempamu.
Ibarat berlian yang belum terasah, kamu perlu digosok dengan amat kuat.
Hasilnya adalah pelan2 batu bosok itu mulai berkilau. Makanya papamu udh bisa tersenyum senang.
Dan berlian yang sudah berkilau, akan semakin cemerlang kilaunya bersama waktu. Seperti halnya hubunganmu dengan Papamu yang kian membaik...
Woahhh thanks for the kind words bro! Iya mungkin seperti itu yaaa hehehe.
Ayah keras mendidik anak. Yang namanya tali pinggang kulit udah sering nabok badanku yang saat itu masih duduk di bangku sekolah dasar. Ayah seorang pengajar.Beliau jarang di rumah semenjak punya anak tiga. Hidupnya di habiskan di kerjaan dan di luar bersama teman temannya. Pada usia 12 tahun ayah dan mamak pisah rumah dan 2 tahun setelah itu mereka bercerai secara resmi lewat pengadilan. Semenjak saat itu beliau tidak perduli pada kami. Sampai akhirnya aku berusia 19 tahun pada saat itu dan sudah bekerja jadi TKI beliau mulai perduli pada kami. Hingga saat terakhirnya aku tidak bertemu dengan beliau karena posisi aku pada saat itu sedang berada di pedalaman Kalimantan. Beliau wafat 1 Des 2012 dan saya tiba di sana 4 Des 2102. Apa yang aku ingat terakhir sebelum berangkat ke Kalimantan adalah Ayah memelukku sambil berkata "Hati hati Bang, jaga kesehatan, semoga sukses". Andai waktu bisa kembali aku ingin mengabdi, memperbaiki hubungan kami yang selama ini tidak baik. Di balik keras dan khilaf yang sudah dia lakukan "Dia adalah ayah terbaik" dan apa yang sudah dia lakukan setelah kami dewasa semua itu adalah buat anak anaknya. Terima Kasih Ayah.