BoyzForum! BoyzForum! - forum gay Indonesia www.boyzforum.com

Howdy, Stranger!

It looks like you're new here. If you want to get involved, click one of these buttons!

Selamat datang di situs Boyzforum yang diarsipkan oleh Queer Indonesia Archive. Forum untuk komunitas gay Indonesia yang populer ini didirikan pada tahun 2003, dan ditutup pada tanggal 15 Desember 2020.

Forum ini diabadikan untuk kepentingan sejarah. Tidak akan ada konten baru di forum ini. Silakan menikmati forum ini sebagai potongan dari sejarah queer Indonesia.

Tak Selamanya

"Kamu di pecat!" Bos berteriak
tepat didepan wajah ku.
"Ta tapi pak, saya salah apa?"
"Kamu ini ga sadar juga? Kamu
sering telat berangkat kerja.
Memangnya kamu pikir ini
tempat kerja nenek moyang
mu hah!
"Ta tapi pak, saya telat kan
karna harus bekerja
mengantar koran pak"
"Itu alasan kamu saja! Saya
sudah berikan kamu kesempatan tapi selalu kamu
ulangi. Sekarang keluar dari
sini dan jangan pernah datang
lagi!" aku menunduk dan
berjalan keluar dari ruangan
ini, memang salah ku selalu
datang terlambat tapi kan
aku begitu karna ada alasannya.
Aku bekerja membanting tulang
pun ini semua demi orang tua
ku di kampung. Hidup di
kota besar memang sulit.
"Kamu kenapa Ra?" sebuah
suara sontak mengagetkan ku.
"Eh, kamu Yos? Bikin kaget ja"
dia ini yoshi teman ku di
tempat ku bekerja eh maksud
ku mantan tempat bekerja.
"Kamu dimarahi bos lagi ya?"
tanyanya. Aku mengangguk
sedih. Yoshi mendekat dan
merangkul pundak ku.
"Aku kan sudah bilang Ra,
kamu berhenti saja bekerja
jadi pengantar koran"
"Aku gak bisa Yos, kalau aku
berhenti dari pekerjaan itu
aku makan apa nanti di kos"
"Setelah di pecat aku juga
bingung Yos, harus bayar pake
apa untuk bayar uang kos"
"Bahkan untuk mengirimi
uang ke kempung bulan ini
pun gak ada" aku melamun.
Yoshi mengeratkan rangkulannya di pundak ku.
"Kamu tinggal di kostan ku
ja Ra"
"Eh? Ga usah Yos. Aku ga mau
repotin kamu" aku menggelengkan kepala ku
cepat, aku tidak mau merepotkan dia, yoshi ini sudah
terlalu banyak membantu ku.
"Aku ga repot ko Ra, malah
aku merasa ga berguna jika
melihat sahabat ku sendiri
susah"
"Tapi Yos..."
"Sstt.. Udah" yoshi meletakkan
jarinya di depan bibir ku.
"Kamu bereskan barang barang
mu di kost, dan pindahkan
ke tempat ku oke" ucapnya
dengan senyuman tulus.
"Yoshi, Terima kasih" aku
memeluknya erat dan
mengucapkan terima kasih ku
berulang ulang, dia memang
lelaki yang baik terlalu
baik. Dia selalu ada saat aku
benara benar terpuruk dan
selalu menyemangati ku jika
aku sedang ada masalah.
"Oya ini kunci kosan ku kamu
pegang saja dulu" Yoshi
memberikan ku satu kunci
kosannya, aku hanya menatapnya dan mengangguk.
"Kamu pulang jam berapa?"
"Aku pulang jam tiga sore,
jangan kamu kunci ya pintunya
aku ga punya kunci cadangan"
"Iya, nanti aku sekalian
beres beres tempat mu tidak
apa kan?" Yoshi hanya tertawa
dan mengusap kepala ku.
"Iya, sudah sanah aku mau
kerja lagi. Hati hati dijalan"
"Iya" mulai hari ini aku akan
tinggal berdua dengan teman
baik ku, seperti apa ya hidup
bersama dengan yoshi. Aku
menumpang pun harus mulai
mencari pekerjaan baru lagi
selain mengantar koran.
"Semangat!" ucap ku riang.
«13456727

Comments

  • @ElninoS, @Ren_S1211, @Marukochan, @Just_PJ,
    @semua, @Fazlan_Farizi

    ini cerita kedua ku, mohon
    sarannya.. Arigatou..
  • Wah, ada cerita baru lg, belum bsa berkomentar masi awal, belum ngerti cerita'nya gmana!
    Lanjut lg yak!
  • semua wrote: »
    wah ada yg baru lg nih :D
    bagus nih awal2 langsung ping pong,

    smg ga nyusahin yoshi ya, ada kaitan sama cerita satunya?



    gak ada kaitannya sama cerita
    satunya bang..
    Ini yang lain ko..
  • Aku membuka pintu kost
    yoshi dan masuk kedalam
    ruangan minimalis ini, tempatnya nyaman isi kamar
    pun rapih, aku melihat banyak
    poster yang tertempel di
    dinding dan melihat satu kasur
    besar yang muat untuk di
    tempati dua orang.
    "Hmm, disini bersih sekali"
    aku membuang wajah ku
    ke arah buffet dan di atasnya
    ada sebuah bingkai foto.
    Foto Yoshi bersama seorang
    lelaki? Ini seperti foto lama.
    "Ini Yoshi bersama dengan
    siapa?" aku memperhatikan
    kedua orang yang ada di dalam
    foto tersebut dan mengelus
    lembut sosok Yoshi yang sedang tertawa lepas.
    "Tampan.." ucapku pelan.
    Aku memukul kepala ku dan
    menaruh kembali bingkai
    foto itu di tempatnya semula.
    "Uuh, aku berpikiran Yoshi
    itu tampan? Sejak kapan aku
    mulai menyukai sosok laki
    laki?" aku menaruh tas besar
    ku dia atas kasur dan mulai
    merapihkan semua isinya.
    Aku melipat baju dan beberapa
    helai celana yang ku punya.
    Aku mengambil gantungan
    kecil yang bergambar anime
    naruto, dan beberapa buku
    komik koleksi ku.
    "Hmm, kira kira aku taruh
    dimana ya komik ini?"
    Yap betul aku ini penggila
    anime naruto dan ada
    beberapa barang yang ku
    koleksikan sebagai barang
    pribadi yang wajib aku bawa
    kemana pun ya seperti
    gantungan kecil yang ku
    pegang ini. Aku menaruhnya
    setumpuk komik disamping
    bingkai foto.
    "Sekarang jam berapa" aku
    menengok jam dinding yang
    menunjukan pukul dua sore.
    "Ah, satu jam lagi yoshi
    pulang. Aku buatkan masakan
    dulu" aku pergi ke arah dapur
    kecil di samping kamar dan
    mulai memasak untuk yoshi
    pulang nanti.


    ********
    Satu jam kemudian..........


    Tok Tok Tok..
    Aku mendengar suara ketukan
    pintu, aku bangkit dan membuka pintu.
    "Yoshi.." aku tersenyum kecil
    dan membuka pintu lebar
    lebar membiarkan yoshi masuk
    kedalam.
    "Bagaimana? Kamu betahkan
    disini?"
    "Hehe betah ko tempatnya
    nyaman"
    "Syukurlah" jawabnya dengan
    senyuman tipis matanya begitu
    teduh dan bibirnya yang merah
    seakan merekah saat dia
    tertawa atau tersenyum.
    "Kenapa?" dia menepuk pundak
    ku saat aku sedang asyik
    memandang wajahnya.
    "Tidak apa, ini minumlah dulu
    kamu pasti capek" aku
    memberinya satu gelas air
    putih dingin.
    "Kamu lapar tidak?" yoshi
    hanya mengangguk dan
    meminum airnya, yoshi
    mengembalikan gelas yang
    sudah kosong pada ku dan
    ku taruh kembali.
    "Aku sudah masak sayur lodeh
    kesukaan kamu tuh" aku
    hanya nyengir dan di pun
    tertawa kecil.
    "Wah berasa punya istri haha"
    "Eh??" aku kaget dengan kata
    katanya.
    "Ya biasanya kan setiap aku
    pulang kerja selalu cari makan
    sendiri paling males masak
    jadi yang instan ja, tapi
    sekarang beda karna ada kamu
    yang masakin" dia menunjuk
    wajahku dengan sendok yang
    dia acungkan kepada ku.
    "Aku laki laki yoshi bukan
    perempuan" ucap ku kesal.
    "Tapi kamu paling jago masak"
    "Biasa saja menurutku"
    "Merendah, coba kamu cicip"
    Yoshi mengangkat sendok
    yang berisi sayur lodeh, dan
    menyuapkannya pada ku.
    Aku menggelengkan kepala
    ku cepat.
    "Loh? Kenapa?" tanyanya
    bingung.
    "Aku bisa makan sendiri"
    "Haha, gpp lah itung itung
    ucapan terima kasih karna
    sudah masakin buat aku"
    "Ayo aaa.." aku membuka
    mulut ku dan memakan
    suapan pertama yoshi pada
    ku. Yoshi menatapku jail.
    "Bagaimana?" tanyanya.
    "Enak" ucapku pelan dengan
    wajah memerah, Yoshi
    hanya tersenyum dan mulai
    melanjutkan makannya kembali.
  • Yoshi menepuk nepuk perutnya
    yang penuh dengan makanan.
    "Uft... Kenyang" Yoshi menghela
    nafas berat dan merebahkan
    diri beralaskan kasur lantai.
    "Kamu makan sampai habis
    semua sayurnya" aku menatap
    tragis mangkuk besar yang
    sudah kosong.
    "Masakan kamu selalu enak"
    Yoshi menowel dagu ku dan
    terkikik sebentar.
    "Huh..." aku mengusap usap
    toelannya di dagu ku.
    "Kamu kenapa makan sedikit
    tadi? Ga lapar ya?"
    "Errr... Itu aku keburu kenyang"
    aku mengalihkan mata ku
    ke arah lain. Yoshi menyipitkan
    kedua matanya yang memang
    sipit.
    "Bohong" serunya seraya
    mendekatkan wajahnya
    kepada ku. Aku hanya diam
    tangan ku berkeringat.
    "Aku ga bohong"
    "Ketauan ko kamu bohong.
    Lihat saja tangan mu penuh
    dengan keringat" dia menarik
    tangan ku dan menunjukkannya
    pada ku.
    "Itu kebiasaan mu Sya, kamu
    ga akan bisa berbohong"
    "Kamu selalu tau aku ini
    berbohong atau tidak"
    aku memanyunkan bibir ku.
    "Haha pastilah aku tau
    Rasya Ferlinno" dia mengeja
    nama ku dengan lengkap.
    "Ga perlu pake nama lengkap
    begitu OSHI!"
    "Loh kenapa kamu sebut nama
    itu lagi sih, itu kan nama
    panggilan kamu dulu sama
    aku"
    "Haha, biar. Kamu rese sih"
    "Dasar Asya!"
    "Loh? Kamu kenapa sebut
    nama itu juga sih. Aku kan
    gak suka Oshi"
    "Sudah terima saja" Yoshi
    terkekeh pelan. Aku melempar
    bantal ke arah wajahnya dann
    tepat mengenai wajahnya.
    "Hey kenapa kamu lempar
    bantal ke wajah ku" tanyanya
    tak terima. Aku mengedikkan
    kedua bahu ku dan kembali
    melemparkan bantal ke arah
    wajahnya. Kami terus saja
    melempar bantal ke seluruh
    penjuru ruangan ini. Kami
    berdua terengah engah dan
    beristirahat.
    "Hah hah hah udah Sya..."
    "Ok Shi, capek" Oshi dan Asya
    adalah nama panggilan
    kesayangan kami berdua ya
    mungkin untuk ukuran sahabat
    diantara lelaki itu aneh, tapi
    buat kami itu semua tidak
    begitu di pikirkan asalkan
    masih saling merasa nyaman
    dengan panggilan itu.
  • "Kamu serius mau cari
    pekerjaan baru lagi?"
    "Iya.. Aku gak tidak mau terlalu
    membebankan kamu"
    "Aku gak merasa terbebani
    Sya"
    "Iya itu kamu Shi, beda lagi
    dengan ku" aku memeluk
    bantal yang berada dekat
    dalam jangkauan ku saja.
    "Tapi aku benar benar tidak
    seperti itu Sya" Yoshi meletakkan kepalanya di
    sisi bantal yang ku peluk.
    "Uhh. Kamu terlalu baik"
    aku menatapnya lembut.
    "Kamu sahabat aku Sya, jadi
    jangan merasa canggung dengan ku" dia menggenggam
    tangan ku lembut.
    "Aku janji akan membayar
    semuanya" Yoshi menatap ku
    tajam.
    "Tidak usah Sya!"
    "Tapi kan Shi hmphh" Yoshi
    membekap mulutku dengan
    tangannya.
    "Sudah, tidak usah kamu
    pikirkan. Aku ikhlas membantu
    mu aku juga tidak mengharapkan balasannya"
    "Kamu makan sedikit juga
    pasti karna alasan itu kan"
    tebaknya kepada ku.
    "Umm.. Iya" aku menunduk.
    "Haha sudahlah, kamu ga
    perlu pura pura di depan ku
    Sya. Aku ini buakn orang lain
    lagi buat mu" dia tertawa.
    "Tetap saja aku ga enak sama
    kamu Shi" Yoshi memeluk ku
    dan mengusap punggung ku.
    "Sahabat itu selalu ada saat
    temannya sedang dalam
    masalah Sya, aku disini ya
    buat membantu mu jadi jangan
    sungkan lah"
    "Aku ga tau harus apa lagi
    kalau kamu gak ada Shi"
    aku terisak pelan, dan membalas pelukannya.
    "Menangis saja Sya, jika itu
    bisa membuat mu tenang"
    Yoshi mengusap kepala ku
    dan tangisan ku pecah saat
    itu juga. Aku tak peduli
    jika orang orang menganggap
    ku cengeng atau manja
    buat ku saat ini aku butuh
    tempat untuk bersandar
    melupakan sesaat kepenatan
    dalam masalah hidup.
  • sugoiiiiiii >_<
  • sugoiiiiiii >_<
  • mmm, masih penasaran gmn kejadian selanjutnya *Stillwait bro
  • ElninoS wrote: »
    sou desu ka. Over all not bad. Cuma kebiasaan nih, update nya dikit2



    maaf deh, kebiasaan itu... Haha

  • darkrealm wrote: »
    m174.gif .... baca dengan cermat karya baru Ryouta ...

    m087.gif .... gak ada masalah nech .. tapi lebih baik dikasih prolog ... jadi pembaca bisa tahu ... khan kaget juga .... pertama baca .... "Kamu Dipecat" weekkss ...hihihi..

    cemungud .. selalu ..





    Thanks bang, yang ini emang
    gak ada prolognya sengaja..
    Hehe
  • SROTTT SROTTT...


    Aku menghapus bekas ingus
    ku ke baju yang di pakai
    Yoshi, aku meneruskan tangisan ku kembali, Yoshi memukul
    kepala ku pelan.
    TUK...

    "Aduh..." ringis ku dengan
    memegang atas kepala ku.
    "Kenapa aku di pukul?"
    "Kamu jorok Sya, lap ingus
    mu kenapa ke baju ku"
    Yoshi memandang jijik lendir
    putih yang menempel di
    bagian bahunya. Kemudian
    dia membuka kemejanya dan
    menyisakan dirinya hanya
    dalam balutan kaus singlet
    putih. Aku melototkan mata
    ku bulat bulat memandang
    pemandangan indah yang
    tersaji di depan ku.
    "Hei..." Yoshi mengibas ngibaskan tangan di depan
    wajah ku.
    "Eh... Iya?" jawab ku kaget.
    "Malah bengong. Liatin badan
    ku bagus ya? Haha" dia hanya
    tertawa, aku menjulurkan lidah ku pura pura muntah.
    "Bweekk.. Badan kerempeng
    begitu mana bagusnya.."
    ucapku meledek, Yoshi tertawa
    mendengar kejujuran ku.
    "Sirik tanda tak mampu"
    serunya.
    "Yehh, aku gak sirik ya"
    "Sirik... Sirik" ujarnya berulang
    ulang. Aku menyipitkan mata
    dan melipat kedua tangan di
    dada.
    "Aku gak sirik Oshi!" aku
    memukul bahunya tapi dia
    tetap tertawa bahkan sampai
    menggulingkan tubuhnya
    kesana kemari. Aku yang kesal
    dengan tingkahnya pun
    akhirnya aku hantam tubuhnya
    dan ku tindih dia, aku
    memiting kepalanya ke ketiak
    bawah ku. Dia pura pura tidak
    bisa bernafas padahal jepitan
    ku pada lehernya tidak terlalu
    kuat dia ini memang suka
    berlebihan.
    "Ampun gak!" tanya ku dengan
    suara mengancam.
    "Hahaha, iya iya ampun
    bang" Yoshi menepuk nepuk
    lantai karna pitingan ku
    semakin kuat.
    "Bilang maaf dulu, baru aku
    lepas"
    "Males, aku gak salah"
    "Ehh, ga akan aku lepas
    nih" ancam ku, Yoshi menyeringai kecil dan menggeliatkan tubuhnya
    ke sana kemari. Badannya
    yang memang lebih besar
    dari ku berhasil membuat ku
    tumbang dan jatuh ke lantai.


    BRUGHH....
    Sekarang giliran tubuh ku
    yang terlentang di lantai dan
    tertindih oleh badan Yoshi
    di atas ku.
    "Argghh.. Kamu curang Oshi"
    aku memukul dadanya dan
    berusaha menyingkirkan
    tubuhnya dari atas tubuh ku.
    Tapi dia malah tertawa dan
    menahan kedua pergelangan
    tangan ku di atas kepala.
    Tiba tiba tawa Yoshi berhenti
    suasana yang tadinya riuh
    oleh candaan kami menjadi
    hening mengingat posisi
    kami yang ganjil saat ini.
    Mata ku dan matanya saling
    memandang lekat, wajah kami
    pun hanya berjarak beberapa
    senti saja. Pegangan tangannya
    Yoshi pada pergelangan tangan
    ku semakin kuat.
    Aku mengedipkan mata ku
    dan membalas pandangan
    matanya yang seolah menghipnotisku dari jarak
    sedekat ini. Deru nafasnya yang
    menguar begitu hangat
    menyapu seluruh wajah ku
    dan berat badannya yang
    menimpa badan ku sedikit
    membuat dedek ku yang
    berada di bawah perut ku
    terbangun dari tidurnya.
    Sama halnya dengan ku
    ada sesuatu yang mengganjal
    benda keras yang berdiri
    kokoh menyenggol bawah
    perut ku. Jangan jangan
    punyanya ikut terbangun?
    Gawat....
  • Sora wo miagereba.
    Hoshitachi ga hora matataieru.
    Kono hoshi no hitotachi mitai
    ni.
    Samazama na hikari wo hanatte.
    Sou dakara boku mo.
    Hitokiwa kagayaite itain da.
    Nagareboshi ni yume wo
    takushite.



    (Nagareboshi - Home Made Kazoku)


    ********


    Suara dering telphone mengagetkan ku dan Yoshi,
    dia menatap ku dalam diam.
    Dia menghela nafas kecil dan
    bangkit berdiri. Yoshi melangkah mendekat ke atas
    meja kecil dan mengambil
    handphonenya yang sejak tadi
    berdering tanpa henti.
    Dia menekan tombol hijau
    dan mengangkat telphone
    aku melihatnya dari kejauhan
    memandang wajahnya yang
    serius berbicara dengan
    seseorang di seberang sana.
    KLIK.. Yoshi menutup telphone
    dan kemudian menatap ku
    lama. Dia mendekati ku
    perlahan dan memegang
    bahu ku.
    "Ada apa?" tanya ku.
    "Tadi teman ku menelephone
    dan menanyakan ada lowongan
    pekerjaan di tempatnya bekerja
    dia bilang butuh dua orang lagi
    disana" jelasnya cepat.
    "Be benarkah?" tanya ku tak
    percaya, dia mengangguk dan
    tersenyum. Aku memeluk
    tubuhnya erat.
    "Terima kasih" ucapku. Dia
    membalas pelukan ku dan
    menepuk punggung ku.
    "Sama sama" dia melepaskan
    pelukan ku dan menatap ku.
    "Tapi kamu jangan malas
    malasan ya bekerja disana"
    "Tentu!" ucap ku riang.
    "Minggu depan kamu sudah
    boleh memulai bekerja disana"
    ucapnya tenang.
    "Loh? Tapi kan aku belum
    memberikan persyaratan
    lamaran kerjanya Shi"
    tanya ku bingung.
    "Sudahlah tidak usah terlalu
    formal, ini sangat genting
    karna dia benar benar sedang
    membutuhkan pegawai"
    aku hanya mengangguk mengerti.
    "Memang pekerjaannya apa?"
    tanya ku.
    "Pelayan Resto, bagaimana?"
    "Umm.. Iya aku mau hehe"
    aku tersenyum kecil, lalu
    menggenggam tangannya.
    "Terima kasih ya"
    "Iya... Asal gajian pertama nanti
    aku di traktir makan ya"
    serunya dengan tawa yang
    membuat matanya semakin
    terlihat sipit. Aku manyun
    dan memukul bahunya.
    "Dasar..." ya tapi aku pun
    ikut tertawa melihatnya
    begitu lepas saat tersenyum.
Sign In or Register to comment.