BoyzForum! BoyzForum! - forum gay Indonesia www.boyzforum.com

Howdy, Stranger!

It looks like you're new here. If you want to get involved, click one of these buttons!

Selamat datang di situs Boyzforum yang diarsipkan oleh Queer Indonesia Archive. Forum untuk komunitas gay Indonesia yang populer ini didirikan pada tahun 2003, dan ditutup pada tanggal 15 Desember 2020.

Forum ini diabadikan untuk kepentingan sejarah. Tidak akan ada konten baru di forum ini. Silakan menikmati forum ini sebagai potongan dari sejarah queer Indonesia.

You Are My Spring

edited July 2015 in BoyzStories
Ini adalah cerbung yang sudah aku janjikan dari oneshoot yuri.




-Satu-

Suatu hari, aku akan terbiasa dan tidak akan menangis lagi...

---

Tidak ada yang berubah. Kehidupanku berjalan seperti biasanya, yang berubah hanya aku yang lebih sering menangis saat aku tidak tahu harus bagaimana untuk bisa menekan rasa rinduku pada keluargaku.

Aku masih berangkat sekolah setiap harinya seperti biasanya, di sekolah biasa yang tidak begitu terkenal. Walaupun di sekolah ini aku tidak benar-benar memiliki teman, tapi mereka tidak ada yang memperlakukan aku dengan buruk seperti dulu. Seperti itu saja sudah cukup untukku.

Aku tidak tahu kenapa sejak kemarin Ibu panti mendatangi tempat kerjaku di pencucian mobil, Ibu panti lebih banyak diam dari biasanya, seperti ada yang beliau pikirkan. Apa mungkin aku berbuat sesuatu kesalahan yang tidak aku sadari? Yang menyinggung Ibu panti misalnya.

"Yuri, bisa Ibu bicara sebentar?" Ibu panti masuk ke dalam kamarku. Aku langsung meletakan buku pelajaran yang sedang aku baca. Ibu panti duduk di sisi ranjangku, aku juga bangun dari meja belajarku dan duduk di samping beliau di atas ranjang.

"Tentang apa Ibu?" Tanyaku sedikit gugup. Aku merasa ada hal penting yang ingin Ibu panti bicarakan padaku. Aku sudah tinggal di sini selama 2 tahun, dan sekarang usiaku sudah beranjak 16 tahun. AKu sudah sangat bersyukur karena Ibu panti masih mau menampungku. Tapi, sepertinya aku belum siap kalau Ibu panti memintaku untuk meninggalkan panti ini. Hasil dari menjual kue dan bekerja di pencucian mobil, hanya pas-pasan untuk membiayai sekolahku. Aku tidak tahu harus tinggal dimana kalau Ibu panti menyuruhku untuk meninggalkan panti ini.

"Kamu anggap Ibu apa?" Tanya Ibu panti dengan nada yang lembut. Sepertinya kekhawatiranku sudah salah.

Aku tersenyum dan memegang tangan beliau. "Bu.., Yuri punya orang tua, dua orang Papa dan itu tidak akan pernah berubah selamanya. Yuri yakin dimanapun keluarga Yuri sekarang berada, mereka juga nggak akan pernah melupakan Yuri.." Aku menghela nafasku dan mengusapkan jariku yang menggenggam tangan beliau. "Tapi, kalau Ibu nggak keberatan.., Yuri akan berterima kasih kalau Yuri boleh menganggap Ibu sebagai Ibunya Yuri."

Mata beliau berkaca-kaca dengan tersenyum yang terulas di wajahnya. "Kamu anak yang baik, Yuri.. Tidak heran mereka begitu sangat menyayangi kamu." Mataku berkaca-kaca mengingat keluargaku. Aku menundukan kepalaku, dadaku sesak menahan rinduku pada Papa Anjas, Papa Farid dan Nanda adikku. Mereka semua memang sangat menyayangi aku, aku sangat tahu itu, karena itulah juga yang menjadi alasan aku pergi. Aku tidak ingin mereka merasakan kesulitan karena aku.

Ibu panti mengangkat daguku dengan tangannya. "Kamu juga pasti sangat menyayangi mereka kan?" Aku mengangguk dengan menahan isakan. Aku sangat menyayangi mereka, bahkan melebihi diriku sendiri.

"Mungkin Tuhan yang sudah menciptakan Yuri.., tapi Papa yang sudah memberikan kehidupan pada Yuri.., mereka adalah jawaban dari pertanyaan Yuri pada Tuhan, untuk alasan apa Yuri dilahirkan di dunia ini?" Air mataku mengalir mengatakan itu semua. Keluargaku adalah alasan Tuhan menciptakan aku. Walaupun sekarang kami tidak bersama lagi, aku yakin suatu saat keluargaku akan mencariku lagi. Jika saat itu tiba, aku harus sudah menjadi seseorang yang membanggakan untuk mereka, sehingga aku bisa melindungi keluargaku. Bagaimanapun, aku adalah anak pertama keluargaku.

Ibu panti memeluk tubuhku yang gemetar karena isakan. Pelukan beliau terasa sangat begitu menenangkanku. "Mereka beruntung memiliki anak seperti kamu..," Ibu panti melepaskan pelukannya. "Benar, Yuri menganggap Ibu sebagai Ibu Yuri?" Aku mengangguk yakin. "Kalau begitu mulai sekarang, biarkan Ibu yang bertanggung jawab atas kamu."

Aku mengerjap. "Maksud Ibu?"

Ibu panti menghela nafasnya pelan. "Kamu berhenti bekerja mencuci mobil, biaya sekolah kamu biar Ibu yang menanggungnya.

Dahiku mengerut, bukannya aku tidak menghargai tawaran beliau. Tapi, di sini masih banyak adik-adik panti yang lebih membutuhkan biaya untuk sekolah mereka, aku tidak ingin membebani Ibu panti lebih lagi. "Bu, maaf bukannya Yuri mau menolak, tapi Yuri sudah cukup berterimakasih Ibu mengijinkan Yuri tinggal di sini. Yuri nggak mau membebani Ibu lebih dari ini, jadi Yuri harap Ibu percaya sama Yuri kalau Yuri bisa mandiri." Ucapku meyakinkan.

"Tapi Ibu gak tega melihat kamu kerja di pencucian mobil itu."

Aku tersenyum. "Kalau Ibu nggak suka Yuri kerja di sana, Yuri akan berhenti tapi tunggu Yuri mendapatkan pekerjaan lain yang lebih baik." Ibu Panti ingin memotong ucapanku, tapi aku langsung mengeratkan genggaman tanganku pada beliau dan melanjutkan kata-kataku lagi. "Yuri laki-laki, Bu. Pekerjaan apapun asalkan halal, Yuri akan jalani. Ibu percaya sama Yuri kan?"

Ibu panti menghela nafasnya pasrah dengan menggeleng-geleng kan kepalanya. "Kamu memang keras kepala."

Aku tersenyum lebar dan langsung memeluk tubuh beliau dengan erat. "Terimakasih sudah mempercayai Yuri, Bu."

Beliau mengusap pelan punggungku dengan tangannya. "Kalau nanti Ibu sudah nggak ada, kamu jaga diri baik-baik yah.."


Sudah dua tahun bayangan anak lelaki memakai celana biru SMP dan kemeja putih sekolah yang terkoyak dengan wajah putih yang kontras dengan matanya yang sembab penuh air mata sering muncul di sampingnya.

Entah mengapa bayangan anak yang terlihat begitu menyedihkan itu selalu hadir mengganggunya. Mungkin karena Galuh merasa menyesal saat itu membiarkan anak itu dibully oleh teman-temannya.

Dia tidak pernah memperhatikan anak yang dibully itu lagi. Hidupnya sudah cukup sibuk di usianya yang baru beranjak 15 tahun saat itu, dia sudah tidak punya waktu lagi untuk mengurusi hidup orang lain.

Suatu hari, saat dia berada di kantor guru, ada dua orang lelaki dewasa mendatangi kantor guru. Galuh tidak sengaja mendengar percakapan dua orang dewasa itu dengan salah satu guru di sana. Anak mereka pergi dari rumah.

Kedua orang lelaki dewasa itu terlihat sangat terpukul dengan kepergian anaknya walaupun mereka sudah berusaha untuk terlihat tenang. Mereka tidak tahu pasti alasan anaknya pergi dari rumah, karena anaknya hanya meninggalkan kue tart dengan hiasan permintaan maaf di kue itu tanpa surat apapun lagi yang bisa menjelaskan semuanya.

Tadinya Galuh tidak mempedulikan hal itu karena sekali lagi itu bukan urusannya dan dia sudah sangat sibuk untuk dirinya sendiri. Sampai saat dia keluar dari kantor guru karena urusannya di sana sudah selesai, dia tak sengaja mendengar obrolan beberapa anak yang sedang berkumpul seperti meributkan apakah ingin menghapus sesuatu yang ada diponsel mereka atau tidak. Karena Galuh merasa penasaran, Galuh langsung merebut ponsel yang dipegang salah satu anak yang ada di situ.

Dengan wajah datarnya, Galuh terus memperhatikan video yang berdurasi kurang dari 9 menit itu. Seorang anak bertubuh kecil, dipukuli dan ditelanjangi di dalam toilet sekolah, tubuh putihnya terekspos tak berdaya karena beberapa orang yang menahan tubuhnya. Wajah-wajah pengeroyok tidak begitu jelas, karena kamera membelakangi mereka, tapi jelas Galuh tahu siapa mereka. Hanya wajah menyedihkan tak berdaya itu yang terlihat jelas dalam video, dia juga tahu wajah itu. Dia ingat kejadian setahun sebelumnya dimana dia mendengar keributan di dalam toilet, dan dia kesana hanya untuk menghentikan itu tanpa menindak lanjutinya.

Setelah dipaksa, akhirnya mereka menceritakan pada Galuh apa yang terjadi selama ini. Galuh merasa ikut bersalah karena seandainya dia bisa lebih peduli saat itu, mungkin anak itu tidak akan sampai mengalami hal sekeras ini.

Galuh kemudian kembali ke ruang guru dengan membawa ponsel itu. Dia tidak mempedulikan anak-anak itu yang memohon padanya, dia bahkan menghajar satu-satu anak itu.

Galuh kemudian memberanikan dirinya untuk memberitahukan video itu pada guru dan orang tua anak itu yang kebetulan masih berada di ruang guru. Orang tuanya berhak tahu apa yang dialamin anaknya selama ini. Galuh juga berniat untuk meminta maaf kepada orang tua anak itu karena dia merasa ikut bersalah.

Mata kedua orang dewasa itu terlihat merah, giginya bergeretak dengan tangan yang mengepal keras menahan amarah melihat video itu.

"Kami selalu berpikir Yuri baik-baik saja karena dia anak yang ceria.., senyum dan tawanya selalu menghiasi rumah. Jadi gimana bisa anak semuda itu menyembunyikan hal seperti ini sekian lama!"

Kedua orang dewasa itu menyalahkan diri mereka sendiri karena tidak mengetahui apapun tentang yang dialami anaknya selama ini. Mereka terlihat sangat marah, sedih dan menyesal.

Galuh merasa lirih, dia bisa melihat bagaimana kedua lelaki itu sangat mencintai anaknya dan begitu sangat terpukul. Cinta yang tak pernah dia lihat dari ayahnya untuknya.

Yang Galuh tahu, kelima anak yang mengeroyok anak itu hanya berakhir dikeluarkan dari sekolah. Benar-benar tidak sebanding dengan akibat yang ditimbulkan mereka. Seseorang bisa saja berakhir dengan bunuh diri jika mengalami hal sekeras itu dalam waktu yang lama.

Pertemuannya yang tidak disengaja dengan anak itu sebulan yang lalu memberikan efek yang mendalam untuknya. Bayangan anak itu kini lebih sering hadir hanya saja sudah berubah pakaian yang memakai seragam putih abu-abu. Galuh pikir, itu lebih baik dari pada pakaiannya sebelumnnya yang memakai seragam SMP dengan kemeja yang terkoyak.

Teringat jelas oleh Galuh, bagaimana pertemuan mereka terkahir kali. Anak itu menangis dengan lirih dan terus mengucapkan maaf untuk Papanya. Tanpa anak itu menjelaskannya, Galuh sudah cukup mengerti situasi yang terjadi pada anak itu. Saat itu dia tidak memiliki waktu banyak. Dan anak itu juga dengan cepat pergi naik angkutan yang lewat, sehingga pertemuan mereka saat itu hanya berakhir begitu saja.

Akhirnya Galuh menemukan alamat sekolah anak itu setelah selama sebulan dia mencarinya. Galuh juga tidak tahu alasan pasti kenapa dia ingin sekali bertemu dengan anak itu lagi, jadi dia memutuskan harus mendatanginya untuk mencaritahu alasan kenapa dia begitu ingin sekali melihatnya.

-
-

"Yuriii!"

Baru saja Yuri melewati pagar sekolahnya untuk pulang, Yuri menghentikan langkah kakinya saat seseorang memanggilnya. Orang itu berlari kecil menghampiri Yuri. "Kak Virgo, ada apa?" Tanya Yuri sedikit heran karena Kakak kelasnya itu tiba-tiba memanggilnya. Mereka tidak cukup dekat, tapi cukup mengetahui nama masing-masing. Jadi sedikit mengherankan kalau tiba-tiba Virgo menghampirinya seperti ini.

"Aku dengar kamu kerja di pencucian mobil ya?" Yuri mengangguk. Virgo langsung tersenyum senang. "Kalau kerja di restoran kamu mau gak? Gajinya lumayan loh, di restoran tempat aku kerja lagi butuhin orang untuk jadi pelayan."

Yuri langsung histeria mendengarnya. "Yang benar kak? Aku mau Kak! Aku mau!" Tanpa Yuri sadari dia memegang lengan Virgo dan menggoyang-goyangkan.

Virgo terkekeh melihat Yuri untuk pertama kalinya bersikap seperti itu, dia berpikir Yuri selama ini anak yang pemalu dan pendiam.

"Maaf Kak..," Yuri menundukan kepalanya ketika dia sadari sikapnya sudah berlebihan.

Virgo menggelang-gelengkan kepalanya, dia mengulum senyumnya melihat Yuri yang terlihat sangat lucu. "Kamu bisa kalau pulang sekolah ini ikut saya ke restoran?" Tanya Virgo kemudian.

Yuri menengadah. "Bisa kak." Balasnya cepat dengan tersenyum dan mata yang membulat lebar.

Virgo terkekeh lagi mengamati sikap Yuri yang selama ini tidak pernah dia lihat sebelumnya.

Baru saja Yuri dan Virgo ingin berjalan mencari angkot, tiba-tiba ada seseorang yang menarik mundur bagian belakang leher kaos olah raga yang Yuri kenakan.

Yuri tersentak kaget, dan lebih mengejutkan lagi, orang yang masih memegangi leher kaosnya sehingga membuat tubuh kecilnya sedikit terangkat adalah Galuh.

Masih belum melepaskan tangannya dari leher kaos Yuri, perlahan Galuh mendekatkan wajahnya pada wajah Yuri dengan menyipitkan matanya menatap Yuri tajam.

Yuri mengerjap. "Lepasin!" Yuri memukul-mukul tangan Galuh yang masih memegangi leher kaosnya.

Galuh melepaskan tangannya dari leher kaos Yuri sehingga membuat Yuri sedikit tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya. Virgo dengan sigap menahan bahu Yuri dengan tangannya.

"Yuri, dia siapa?" Tanya Virgo yang merasa aneh dengan hadirnya sosok Galuh. Galuh terlalu mencolok di antara anak-anak sekolah itu. Galuh menjadi pusat perhatian anak-anak lain karena mobil sport yang dia bawa ke sekolah biasa itu sangat mencolok. Penampilan Galuh pun tidak kalah mencolok, dia terlihat sekali bukan anak biasa yang berasal dari sekolah biasa.

"Bukan urusan lu!" Desis Galuh melirik tajam ke arah Virgo. Virgo mengerutkan keningnya karena baru pertama kalinya dia bertemu orang dengan tingkah seperti itu.

"Maaf Kak.." Ucap Yuri pada Virgo merasa tidak enak. Virgo hanya membalas dengan tersenyum kecil.

"Ikut aku!" Galuh langsung saja menarik tangan Yuri untuk masuk ke dalam mobilnya.

"Lepasin!" Yuri menahan kakinya dan mencoba melepaskan tangannya dari pegangan tangan Galuh.

Galuh melepaskan tangan Yuri. "Kita harus bicara." Jelas Galuh.

Yuri menyeringai kecil menanggapi orang di hadapannya ini. "Bicara soal apa? Aku pikir kita nggak punya sesuatu apapun semacam itu untuk bisa jadi alasan kita bicara." Yuri masih ingat bagaimana dengan sombongnya Galuh memberikan dia uang waktu itu untuk mengganti kuenya.

Galuh menaikan ujung bibirnya dan lalu tiba-tiba dia menempelkan sebuah kertas di kening Yuri.

Yuri tersentak. "Apa ini?" Yuri mengambil kertas yang menempel di keningnya, dia memperhatikan kertas itu yang seperti sebuah nota.

"Itu harga dari perbaikan rem mobil." Galuh menyeringai.

Kening Yuri mengerut sambil memperhatikan angka di nota itu yang hampir menyentuh angka 7 juta. "Apa hubungannya ini sama aku?"

Galuh masih menyeringai licik. "Kamu nggak ingat, rem mobil ini blong gara-gara ada orang mau bunuh diri di tengah jalan!"

Yuri menghela nafasnya pasrah. Yah dia ingat kejadian itu dimana hari itu dia harus menerima kenyataan bahwa dia tidak bisa bertemu dengan keluarganya lagi.

Yuri diam, memikirkan dari mana dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu?

"Karena aku orang yang mudah kasihan sama orang susah, kamu bisa nyicil bayar uang itu." Yuri menatap kesal pada orang yang begitu sombong itu, tapi dia benar, Yuri tidak mungkin bisa membayarnya langsung. "Mana ponsel kamu?" Pinta Galuh kemudian.

Masih dengan menahan kesalnya, Yuri memberikan ponselnya pada Galuh.

Mata Galuh memincing sambil meneliti ponsel Yuri dengan membolak baliknya. "Aku punya ini waktu aku masih SD." Galuh berdecak kagum.

Yuri menghela nafasnya berat, dia hampir kehilangan kesabarannya menghadapi sikap Galuh.

Kemudian Galuh menyimpan nomor ponsel Yuri di ponselnya, begitupun sebaliknya dia juga menyimpan nomornya sendiri di ponsel Yuri. "Ini! Hubungi aku setiap kamu mau mencicilnya. Dan selalu angkat setiap aku telpon." Galuh memberikan kembali ponsel Yuri. "Aku ada urusan sekarang, nanti aku akan datang lagi." Ucap Galuh kemudian sambil mengedipkan sebelah matanya sebelum dia berbalik dan masuk kedalam mobilnya.

Yuri masih terperangah melihat mobil Galuh berlalu cepat. Dia masih bingung memikirkan orang seperti Galuh. 'Dasar orang kaya', pikir Yuri.

Bagaimana dia bisa menghadapi orang itu? Dia bersikap semaunya.

Yuri kemudian tersadarkan oleh beberapa gerombolan anak-anak sekolahnya yang melihatnya penuh penasaran. Galuh sudah membuatnya menjadi pusat perhatian!

"Maaf Kak.." Ucap Yuri ketika menghampiri Virgo yang masih berdiri menunggunya.

Virgo tersenyum kecil. "Nggak apa-apa. Ayok kita udah mau kesorean." Virgo melihat jam tangannya. Sepertinya Virgo juga tidak ingin membahas tentang orang yang tiba-tiba muncul di sekolah mereka itu.

-
-

Yuri diterima bekerja di restoran karena Virgo. hari itu Yuri langsung bekerja untuk dilihat kinerjanya oleh manager restoran. Manager restoran itu sepertinya sangat menyukai pekerjaan Yuri yang cukup telaten dan cepat menangkap apa saja yang diajari. Senyuman Yuri yang sangat ramah, memiliki nilai tambah untuk manager tidak meragukan untuk menerima Yuri sebagai pegawainya.

Restoran ini lebih terlihat seperti cafe untuk kalangan menengah ke atas, terlihat dari tamu-tamu yang datang dengan mengenakan pakaian dan barang-barang yang mereka kenakan, terlihat mahal. Yuri juga diberi seragam khusus, kemeja polos warna biru muda dengan cap sablon nama cafe itu di saku depannya.

Yuri bekerja sama seperti Virgo, dari pukul 3 sore sampai pukul 10 malam, dan mereka bisa libur di hari libur. Hari ini pun Yuri bekerja langsung sampai pukul 10 malam. Karena arah pulang Virgo dan Yuri berbeda, mereka pun berpisah di tengah jalan.

-
-

Yuri memperlambat langkahnya saat melihat Galuh berdiri menyandar pada mobilnya di depan panti. Galuh terlihat sibuk menepuk-nepuk tubuhnya karena nyamuk-nyamuk di luar.

"Malam banget sih pulangnya!" Galuh berkomentar saat dia melihat Yuri yang sudah berjalan mendekat, dia masih sibuk menepuk-nepuk nyamuk yang menggigitinya.

"Kok kamu bisa ke sini?" Tanya Yuri dengan heran. Bagaimana bisa orang itu mengetahui tempat tinggalnya. Dan untuk apa dia datang malam-malam seperti ini?

"Kenapa ponsel kamu gak diaktifin?" Tanya orang itu dengan tidak menghiraukan pertanyaan Yuri.

"Kenapa kamu bisa tahu aku tinggal di sini?" Tanya Yuri lagi masih dengan nada heran.

"Kenapa ponsel kamu gak diaktifin?!" Galuh manaikan nada suaranya karena Yuri tidak menjawab pertanyaannya.

Yuri memutar bola matanya. "Aku kerja, jadi ponsel aku matiin." Jelas Yuri.

Galuh menekan pelan kening Yuri dengan telunjuknya. "Mulai sekarang pensel kamu jangan gak diaktifin. Balas sms aku saat kamu senggang. Aku gak akan nelpon di jam kerja kamu."

Yuri menepis tangan Galuh yang jari telunjuknya menempel di keningnnya. "Aku akan menyicil uang kamu setiap aku mendapatkan gajiku."

Galuh memasukan kedua tangannya ke dalam jaket levis yang dia kenakan. "Jadi selama ini kamu tinggal di sini?" Pandangan Galuh meneliti ke dalam panti.

"Apa ada hal lainnya?" Tanya Yuri, dia tidak mau berlama-lama lagi menghadapi Galuh. Dia sudah cukup lelah hari ini.

Galuh menatap dalam mata Yuri. "Yuri anak yang ceria, tawa dan senyumnya selalu menghiasi rumah. Jadi bagaimana anak semuda itu bisa menyembunyikan hal sekeras ini selama itu?" Yuri mengerjap mendengarnya. "Papa kamu yang mengatakan itu saat mereka menyaksikan video itu." Tambah Galuh menjelaskan.

Tubuh Yuri langsung gemetar, dadanya terasa begitu menyesakan, rasanya sakit sekali membayangkan orang tuanya menyaksikan dirinya seperti itu. "Papa..?" gumamnya pelan menahan sesak.

Galuh menangkup wajah Yuri. Dihapusnya air mata yang begitu saja keluar dari mata Yuri dengan jarinya. Galuh sedikit menunduk untuk mensejajarkan pandangan mereka. "Mereka datang ke sekolah setelah kamu pergi. Mereka sangat terlihat terpukul, aku bisa melihat Papa kamu bagitu menyayangi kamu."

Yuri memejamkan matanya dan mengangguk menahan isakan. "Papa.., maafin Yuri..," gumamnya pelan menahan rasa sakit yang menusuk dadanya.

Galuh masih belum melepaskan tangannya dari wajah Yuri. "Kenapa aku selalu melihat kamu menangis yah..," Galuh menghela nafasnya. "Aku gak suka lihat orang nangis.., Jangan menangis seperti ini di depan orang lain!" Galuh melepaskan tangannya dari wajah Yuri.

Yuri mengusap air matanya cepat. "Makasih.., makasih karena sudah memberitahu aku.."

"Maaf, karena dulu aku membiarkan semua itu begitu aja."

Yuri mengerjapkan matanya, dan mengusap lagi air matanya yang tidak mau berhenti mengalir.

"Aku datang malam ini, untuk mengatakan itu." Galuh menyentil pelan kening Yuri. "Sekarang masuklah, nyamuk-nyamuk ini akan menghisap darah kamu!" Desis galuh dan menggaruk-garuk lagi lehernya yang terasa gatal oleh nyamuk-nyamuk itu.

Yuri terkekeh kecil dengan menahan isakan. "Makasih..," ucapnya lagi. Dia kemudian berbalik dan masuk ke dalam panti dengan terus mengusap air matanya.

Galih masih berdiri di sana, melihat Yuri yang berjalan membelakanginya sampai dia benar-benar masuk ke dalam sana. Rasanya sedikit membuat Galuh tenang karena sudah mengatakan semua itu pada Yuri.

Kenapa ada cowok yang cantik begitu sih? Dia sangat manis untuk seorang cowok.

Galuh memukul kepalanya sendiri saat dia memikirkan hal itu. Secantik apapun Yuri, dia tetap seorang cowok.

Melihat mata sembab penuh air mata itu, membuat Galuh seperti ingin menghapusnya. Perasaan aneh yang Galuh rasakan saat ini, hanya rasa kasihan terhadap orang yang hidupnya menyedihkan. Itu saja.


Cerita ini akan mix dengan cerita I'm Fall in love jadi postingnya akan bergantian antara dua cerita dengan story yang beda tentunya.
«13456727

Comments

Sign In or Register to comment.