BoyzForum! BoyzForum! - forum gay Indonesia www.boyzforum.com

Howdy, Stranger!

It looks like you're new here. If you want to get involved, click one of these buttons!

Selamat datang di situs Boyzforum yang diarsipkan oleh Queer Indonesia Archive. Forum untuk komunitas gay Indonesia yang populer ini didirikan pada tahun 2003, dan ditutup pada tanggal 15 Desember 2020.

Forum ini diabadikan untuk kepentingan sejarah. Tidak akan ada konten baru di forum ini. Silakan menikmati forum ini sebagai potongan dari sejarah queer Indonesia.

Stories: Kumpulan Kisah

edited July 2015 in BoyzStories
Topik ini rencananya akan menjadi tempat penampungan semua kisah pendek yang saya buat

List of Stories
+ Pesan - Page 1
+ Coklat - Page 1
+ Coklat II (by @Rika1006 ) - Page 2
+ Nada - Page 3
+ Red Rose - Page 4
+ Gifted Hand: Prolog - Page 4
+ Gifted Hand: Touch Me - Pgae 5-6
+ Gifted Hand: Remember Me - Page 6-7
+ Mike Obero - Page 8
+ Ares Evergreen - Page 9
+ Home - Page 10

---

Kisah berikut saya tulis baru saja, setelah teman saya curhat. Hope u enjoy~

----

PESAN

Lucas namanya. Pria yang lebih tua empat tahun darinya itu ia kenal dari teman dekatnya yang sama seperti dirinya, yang orientasi seksualnya menyimpang dari jalur normal. Kala itu mereka bertemu sekali ketika tidak sengaja bertemu di pusat perbelanjaan saat berjalan-jalan bersama teman. Dan pada pandangan pertama, ia telah tertarik dengan pria dengan tampilan rapi dan menawan itu.

Rambut Lucas rapi disisir klimis dengan cambang yang tipis di garis rahang. Tatapan matanya yang tajam didukung oleh alisnya yang tegas dan tebal, berhidung tinggi, dan berbibir tipis. Yang membuatnya semakin tampan adalah senyum yang menampilkan deretan gigi yang rapih dan putih. Pria metroseksual, pikirnya. Namun ia menyukainya, tanpa ragu meminta nomor ponsel pria itu dari teman dekatnya. Mengetahui bahwa pria itu juga sama seperti dirinya, menjadi modal keberanian yang ia miliki.

From: Me
Hi


Malam itu, ia segera menghubungi Lucas, mengiriminya pesan singkat. Terlalu agresif, tentu saja. Sebenarnya dulu ia bukan pemuda yang agresif. Namun setelah waktu memberinya pengalaman, setelah teman-teman menyarankannya untuk bertindak lebih cepat, ia kini lebih memilih untuk bergerak lebih dahulu.

Lucas baru membalas pesannya esok pagi.

From: Lucas
Siapa?

From: Me
Ari, teman Septa. Kita ketemu kemarin sore.

From: Lucas
Oh.


Hanya itu. Terlalu singkat. Ari menggigit ponselnya gemas. Ia bingung harus membalas dengan apa. Ia masih ingin berbincang lebih lama, mengiriminya pesan-pesan lain yang sudah ia pikirkan sejak semalam. Tapi ia urungkan. Ia harus tenang, melakukannya dengan pelan. Jadi ia menunggu hingga jam makan siang ketika kuliah telah berakhir untuk menghubungi Lucas.

From: Me
Siang


Tidak ada jawaban untuk beberapa menit. Membuat Ari berpikir keras. Apa ia harus mengiriminya pesan lagi? Ia mencoba berpikir positif. Mungkin Lucas sedang sibuk dengan pekerjaannya. Dan sekali lagi ia bersikap sabar, menunggu hingga malam tiba.

From: Me
Malam


Tidak ada jawaban bahkan ketika waktu tengah malam telah lewat. Ari masih setia menunggu, menahan kantuk yang telah mendera sejak tiga jam yang lalu. Namun lagi-lagi ia harus bersikap sabar, menunggu hingga pagi tiba.

From: Me
Pagi


Untuk kesekian kalinya tidak ada jawaban, meski hari telah berganti siang dan siang telah berganti malam. Ari masih bersikap optimis, berharap suatu saat, entah di pagi, siang atau malam hari, Lucas akan membalas pesannya. Tidak peduli hari berganti hari dan hari berganti minggu.

Hingga akhirnya di minggu ketiga, ia mendapat pesan balasan yang membuat hatinya melambung.

From: Me
Pagi

From: Lucas
Pagi

From: Me
Apa kabar?

From: Lucas
Baik

From: Me
Baguslah :)


Dan hubungan keduanya berkembang lebih baik. Ari lebih sering mengirimi pesan, bukan lagi ucapan selamat pagi atau siang. Bukan sapaan formal. ‘Sudah sarapan?’ atau ‘sudah makan?’ menjadi hal yang biasa. Meski pria itu menjawab dengan singkat, seadaanya, Ari sudah cukup puas dengan itu.

From: Me
Lagi di mana?

From: Lucas
Kantor

From: Me
Semangat ya, kerjanya

From: Lucas
Ya

From: Me
Jangan lupa istirahat

From: Lucas
Ya


Malam hari pun ponselnya kini bordering lebih sering daripada biasanya.

From: Me
Masih kerja?

From: Lucas
Udah di rumah

From: Me
Udah makan?

From: Lucas
Belum

From: Me
Makan, gih. Atau mandi aja dulu, bersihin diri.

From: Lucas
Ya. Thanks.

From: Me
Sama-sama :)


Ucapan ‘selamat tidur’ dan ‘have a nice dream’ pun menjadi amat biasa baginya.

Ari bahkan mengabaikan ajakan Septa untuk berjalan-jalan di malam minggu. Lebih memilih menemani Lucas melalui pesan-pesan singkat.

From: Me
Malam minggu keluar, gak?

From: Lucas
Iya

From: Me
Ciee yang jalan. Sama siapa? Pacar?

From: Lucas
Sama teman.

From: Me
Teman apa teman?

From: Lucas
Teman kok.

From: Me
Teman apa deman? Xixi

From: Lucas
Teman lah.

From: Me
Haha. Jalan ke mana, nih? Gak ngajak-ngajak.

From: Lucas
Keliling aja sih. Lain kali lah.

From: Me
Asik. Traktir ya.

From: Lucas
Ya

From: Me
Janji ya. Hehe

From: Lucas
Iya

From: Me
Asiik.


Namun suatu hari, ponselnya berhenti berbunyi. Tidak ada pesan dari Lucas yang ia terima satupun. Ari berusaha terus menghubungi. Mengirimi pesan sapaan pagi atau menanyakan kabar, menanyakan keadaan pria itu yang membuat Ari khawatir. Menelepon pun percuma, pria itu tidak mengangkatnya sekalipun. Ari kini hanya bisa menatap ponselnya yang telah membisu.

Berganti minggu pun, tidak ada kabar meski Ari tidak henti mengirimi pesan. Ia khawatir, tentu saja. Namun pemuda itu masih memiliki optimis yang menipis. Ia meyakinkan diri bahwa Lucas sedang amat sibuk saat ini.

Hingga suatu hari, sebuah pesan singkat dari Lucas masuk ke dalam ponselnya.

From: Lucas
Kita harus bertemu, besok sore di kafe xxx.


Dan tentu diterima oleh Ari dengan semangat. Sekali lagi ia merasakan dirinya melambung amat sangat tinggi. Kini tidak ada pesan, mereka akan bertatap muka. Sungguh membuat jantungnya bedebar.

Ari tentu membuat dirinya tampak semenarik mungkin. Bermodal pakaian terbaik namun terlihat sederhana, ia telah duduk di Kafe xxx sejak setengah jam yang lalu. Tidak lupa memakai parfum yang membuatnya amat wangi. Ia menyentuh dadanya yang kini berdebar keras, menanti pria itu tiba.

Ia menyeruput minuman ketika tenggorokannya terasa kering. Menunggu dan berdebar diwaktu bersamaan membuat tangannya berkeringat. Amat sangat menyebalkan.

Dari jauh, ketika ia melihat Lucas masuk dan menghampirinya, wajah Ari tampak merona bahagia. Jantungnya berdebar jauh lebih cepat. Tangannya yang basah oleh keringat menggenggam ponselnya lebih erat. Lucas tampak lebih menawan dari terakhir ia temui pertama kali. Rambutnya lebih pendek, masih disisir klimis. Kumis dan janggut tipisnya dibiarkan tumbuh namun membuatnya makin rupawan. Mata tajamnya bagai elang masih membuat Ari tak berkutik.

“Hai.” Sapa pria itu saat duduk.

“Hai.”

Ari tak bisa lepas pandang dari Lucas. Pria itu mengusap tangan. Lalu mengetuk meja dengan satu tangan, dan tangan lainnya berada di dagu menutupi hingga mulut.

“Kamu tidak pesan sesuatu?” Akhirnya Ari memutuskan untuk membuka suara lebih dulu.

“Tidak. Aku hanya sebentar.”

“Oh, o-oke.” Ari kecewa, namun masih ada rasa senang karena pemuda itu masih menyempatkan diri.

“Aku ingin kamu berhenti mengirimiku pesan-pesan tidak berguna itu.” Tiba-tiba saja Lucas berbicara dengan suara berat dan rendah.

Kening Ari mengerut tidak mengerti. “Pesan tidak berguna?”

“Ucapan selamat pagi dan semuanya. Aku ingin kamu berhenti melakukannya.” Pria itu mendesis dengan nada tidak suka.

Ia tersentak, merasakan pukulan imajiner mendarat di perutnya. Menelan ludah, berusaha mencari sedikit celah yang ada. “Jadi—kapan aku bisa mengirimu—pesan?”

“Tidak hari ini, tidak besok dan tidak kapanpun.”

“Tapi, bukannya—“

“Aku yang bodoh, harusnya tidak meladenimu waktu itu. Aku tidak suka. Jadi berhenti mengirimiku pesan.”

Ucapan tegas itu memperjelas maksud, menutup celah yang tidak bisa ia gapai. Kepalanya seperti dihantam dengan keras oleh kenyataan yang berada di depan mata. Ia sudah tidak memiliki kesempatan apapun.

“Sampai jumpa.” Pria itu beranjak pergi, meninggalkan luka amat perih.

Ia menatap pria itu berjalan menjauh darinya, menatap bahu tegap yang ia harap akan berhenti. Namun menoleh pun tidak. “Sampai jumpa, dan terima kasih.” Lirihnya.

Ari bersandar pada sandaran kursi, melemaskan bahu yang sejak tadi menegang akibat menahan beban berat tak kasat mata. Ia menunduk, menghela napas, memandangi ponsel yang tergenggam erat di tangan. Harusnya ia tahu, bahwa ia tidak bisa mengharapkan apapun dari interaksi mereka melalui pesan singkat. Ia hanya terlalu buta dan bodoh.

Bibirnya menampilkan senyum pahit. “Lagi-lagi aku gagal.”
«13456711

Comments

  • Yaudah, Ari sms aku aja yah :( Eh jangan sms deh, WA aja, gak ada pulsa~ #ditendangAri
  • kasihan ari
  • @Tsu_no_YanYan mana nih nomor hp, id WA nya? ntar kukasihin ke Ari. hahaha

    @Centaury namanya ngingetin centaurus. iya, kasihan.
  • 0858138692** uehehehe :P
  • @Tsu_no_YanYan yaaah kok dua angka disensor sih, satu aja dong, biar kemungkinannya cuma 8 kesalahan. kalau dua angka kan malah jadi +/- 99 kesalahan :p
  • Ari kan pantang menyerah... Jadi gak masalah 99 kesalahan~ wkwwkkw
  • @Tsu_no_YanYan hahahaha keburu abis pulsa dia. wkwkwk
  • Isiin atuh Nong~ wkwkwk
  • @adamx yang dulu pernah request cerita sekolahan kan. Maaf ya, malah cuma jadi cerita yang amat singkat. semoga tidak mengecewakan.



    COKLAT

    “Tolongin gue kali ini, please.”

    Anton menatapku memohon kala itu setelah sekolah berakhir. Ia langsung menghampiriku, meraih tanganku dan menyeretku pergi. Aku masih ingat jelas ekspresi memelasnya yang tampak lucu dan menggemaskan. Dan ketika aku dengan berat hati mengiyakannya, aku tidak akan pernah melupakan wajahnya yang tampan dengan senyum lebarnya yang memikat.

    Pemuda itu bernama Anton. Siswa kelas sebelah yang kutaksir sejak dibangku kelas satu SMA. Awalnya kami sekelas satu tahun pertama. Ia baik dan ramah. Namun aku tidak pernah berbicara kepadanya sekalipun. Ia memiliki kelompoknya sendiri, dan aku dengan diriku sendiri. Namun tidak pernah menghalangi rasa sukaku padanya yang diam-diam kupendam hingga kini.

    Hingga kesempatan itu datang, meski dibarengi oleh luka.

    Kini aku di kelas dua, memiliki seorang sahabat bernama Andin. Gadis manis berambut pendek sebahu yang ramah dan perhatian. Entah bagaimana awalnya hingga aku dan dia menjadi sangat dekat. Begitu aneh, dengan dua sifat kami yang berbeda. Andin yang ramah dan aku yang pendiam. Jika saja orientasiku tidak menyimpang, sudah sejak dulu aku akan menjadikannya kekasihku.

    Andin tentu memiliki beberapa pemuja rahasia. Dan yang tidak kusangka, mengejutkanku, salah satunya adalah Anton, karena pemuda itu tidak pernah menunjukkan ketertarikannya pada Andin sedikitpun. Saat itu ia memohon untuk memperkenalkan Andin padanya, membantunya untuk dekat pada gadis manis itu, saat itu pula hatiku terasa nyeri. Kenyataan terlalu pahit memang. Dan bodohnya, aku menyutujuinya, membuatku terjebak dalam luka yang lebih parah.

    “Andin, ini Anton. Dia… temanku.”

    Waktu itu, saat jam istirahat, aku memperkenalkan keduanya di kantin sekolah. Anton tentu tampak sangat bahagia. Terlihat jelas dari rona wajahnya yang merah dan cerah. Senyum tak lepas dari wajah pemuda itu, membuatnya tampak tampan. Anton tanpa ragu dengan senyum bahagia yang melekat di wajah, menjabat tangan Andin. Gadis berambut sebahu itu membalas dengan senyumnya yang manis.

    Anton dan Andin dengan chemistry yang terlihat jelas di antara keduanya, mereka terjebak dalam dunia milik berdua, tenggelam dalam percakapan yang membuat keduanya mampu saling melempar tawa dalam pertemuan pertama. Aku yang pendiam, tidak tahu harus mengikuti arah pembicaraan hanya menjadi penyimak. Sesekali menimpali ketika Andin bertanya padaku, yang kujawab dengan singkat.

    Anton tidak pernah melepaskan sedetikpun pandangannya dari Andin, seolah seluruh dunianya hanya gadis itu seorang. Padahal baru pertemuan pertama. Aku sesekali menatap raut wajah bahagia pemuda itu. Terselip rasa sesal saat terlintas ingatan dimana aku menyetujui keinginannya. Namun jika itu bisa membuatku lebih dekat padanya, mampu menatap wajahnya lebih dekat dan menyapu seluruh ekspresi yang mampu kubaca di wajahnya, aku tidak keberatan untuk menambah luka yang lain.

    From: 082576xxxxxx
    Hi, Tomi

    From: Me
    Hi. Dengan siapa ya?

    From: 082576xxxxxx
    Ini gue, Anton.


    Malam itu hatiku telah berbunga. Efek kupu-kupu yang dulu kurasakan kembali menghampiri. Anton menghubungiku, untuk pertama kali. Aku buru-buru menyimpan nomor ponselnya. Mengiriminya balasan dan nyaris setengah malam kuhabiskan untuk berkirim pesan dengannya.

    Anton muncul di pintu kelas setelah bel istirahat berbunyi. Ia menghampiriku, mengajakku untuk makan bersama dikantin. Aku tentu senang, dengan sedikit terselip kecewa. Aku tidak buta untuk melihat bagaimana manik hitamnya dengan antusias melirik Andin yang duduk disebelahku. Aku tahu pemuda itu ingin Andin ikut bersama, namun masih malu untuk mengajak.

    Aku menoleh pada Andin. “Ayo ke kantin.”

    Andin tersenyum padaku dan Anton, sungguh gadis itu sangat manis. “Maaf ya, gue harus ke perpus nih. Bentar nyusul deh.”

    Tentu aku bisa menangkap ekspresi kecewa di wajah Anton ketika Andin telah beranjak pergi. Ia terdiam di sisi meja Andin, begitu pula aku di sisi mejaku. Aku menarik napas, bingung harus bersikap bagaimana dengan keadaan yang canggung ini. Mungkin pemuda itu ingin segera pergi, karena aku tahu ia hanya berharap untuk bersama Andin saja, atau memikirkan cara lainnya karena aku hanya menjadi alibinya saja. Namun ia melambungkanku ketika Anton tersenyum, memandangku dan berkata “Ayo.”

    Tidak ada yang bisa kami biacarakan. Aku diam karena aku memang pendiam. Anton diam di seberangku karena tidak tahu ingin berbicara apa. Kedekatan kami hanya beberapa hari, itupun karena Anton menyukai Andin. Jadi aku tidak tahu topik apa saja yang menarik untuknya.

    “Tom,” ia memanggilku, menyebut namaku hingga membuatku berdebar.

    “Ya?”

    “Andin itu sudah punya pacar, gak?”

    Aku terdiam. Memikirkan dua jawaban yang bisa kuberikan padanya. Kebohongan atau Kebenaran. Aku bisa menjawab dengan dusta, mengatakan bahwa Andin telah memiliki kekasih dengan begitu pemuda itu tidak akan dibutakan oleh cintanya pada Andin. Dengan konsekuensi, Anton akan berhenti mendekati Andin, mengakhiri kedekatan kami yang amat singkat. Atau menjawab jujur bahwa gadis manis itu tidak memiliki kekasih saat ini.

    “Belum.” Kuputuskan untuk menjawab jujur yang tidak akan kusesali karena senyum menawan itu terukir di wajah Anton. Wajahnya terlihat lega, menerawang entah apa. Bisa kutebak, namun tidak ingin kubayangkan.

    Anton mengaduk es teh manisnya, menatapku lekat dengan kilat penasaran. “Andin itu suka apa sih?”

    Aku menyadari bahwa ia memulai pendekatan lainnya. “Coklat. Andin suka banget coklat.””.

    “Begitu ya.” Pemuda iu tersenyum dan tertawa pelan.

    Esoknya, ia mengejutkanku dengan memberiku sebungkus coklat dengan merk yang sama yang kukatakan padanya dulu. Aku senang bukan kepalang, tentunya. Pemberian pertama Anton untukku. Tapi aku hanya mampu tersenyum kecut dan berterima kasih padanya ketika ia juga memberikannya pada Andin, yang tentu diabaikannya saat Andin berseru senang padanya. Aku tidak bisa melepaskan pandanganku dari rona bahagia di wajah Anton yang membuat hatiku terasa damai. Damai bagai duri.

    Anton dengan segala usahanya tidak pernah henti berusaha merebut perhatian Andin. Aku yang menjadi sahabat dengan gadis manis itu tentu menjadi sumber informasi bagi Anton. Dimana tempat favoritnya, warna kesukaan, makanan kesukaan, benda kesukaan dan semua hal yang ingin ia ketahui dengan setengah hati kuberikan padanya. Aku tidak pernah berkata dusta padanya, berusaha menjebaknya untuk jauh dari Andin. Aku tidak sepicik itu untuk menjatuhkannya. Anton dan pesonanya terlalu kuat untuk membuatku berkata jujur.

    Tepat seperti yang kuberitahukan, Anton menghujani Andin dengan segala perhatian, hadiah yang membuat gadis itu tenggelam dalam bahagia. Aku sudah bisa membaca bahwa perkembangan mereka menjadi sangat baik. Dengan saranku, mengorbankan perasaanku, menggores luka dihatiku. Wajah Anton yang diliputi oleh rona bahagia menjadi satu-satunya penyemangatku. Tidak peduli sedalam apa luka yang ia toreh, aku tidak berhenti.

    Sampai suatu hari, namaku telah digeser oleh Andin. Anton tidak lagi mengajakku makan bersama. Hanya Andin. Seluruh fokusnya hanya pada sahabatku saja. Aku terluka. Sangat sakit bagai dihujam ribuan belati. Andin masih mengajakku bersama, yang segera kutolak saat raut kecewa tergambar jelas di wajah Anton. Kusadari ia hanya ingin berdua bersama gadis itu. Peranku telah dianggap berakhir olehnya, menurutku. Rona bahagia tidak akan lagi kutemukan darinya jika aku terus bersama keduanya.

    Jadi kuputuskan untuk mundur dan menjauh.

    Kukeluarkan sebungkus coklat yang selalu kubawa kemana-mana. Coklat yang sama yang diberikan Anton padaku. Aku tidak pernah memakannya, menyimpannya sebagai kenangan. Aku menatap diriku di cermin kamar mandi. Mataku merah dengan kantung mata yang tebal.

    Aku membuka bungkus coklat itu, dengan gemetar menggigitnya , mengunyahnya dan menelannya. Merasakan setiap rasa coklat yang seharusnya manis, malah terasa pahit di mulutku. Merasa muak bagai menelan asam pekat. Dengan rasa sakit oleh luka yang lebar dan perih, aku terus melahapnya hingga tandas, mengabaikan pipiku yang telah basah oleh air mata yang tidak bisa kubendung.

    Oh, betapa bodohnya aku.
  • Huuffff kenapa selalu sad ending sih TS T_T *sakit
  • @Wita gak tau. yang kepikir sad mulu. keseringan galau kayaknya. wkwkwk.
  • kejutan2nya masih kurang mas. btw, thank you.
  • Huh dri kmren baca sad ending trus, tmbh ancur moodnya.. :(
    Tp keren kok, tmbh keren klo di lanjut dan satukan mereka sma org yg mreka cintai..hihi
  • @adamx begitu ya? maaf ya, gak sesuai. saya menekan pada feel aja sih. sama2.

    @Rika1006 hahaha thanks. belum tau gimana cara bikin happy ending. haha
  • general mas untuk one shoot, biasanya yang pendek2 twist/kejutannya ndak ketebak. gregetnya di situ. *sotoy
Sign In or Register to comment.