BoyzForum! BoyzForum! - forum gay Indonesia www.boyzforum.com

Howdy, Stranger!

It looks like you're new here. If you want to get involved, click one of these buttons!

Selamat datang di situs Boyzforum yang diarsipkan oleh Queer Indonesia Archive. Forum untuk komunitas gay Indonesia yang populer ini didirikan pada tahun 2003, dan ditutup pada tanggal 15 Desember 2020.

Forum ini diabadikan untuk kepentingan sejarah. Tidak akan ada konten baru di forum ini. Silakan menikmati forum ini sebagai potongan dari sejarah queer Indonesia.

Mr.Cupid

Chapter 1 “ Mr Cupid..”

Yuda tersenyum lebar di depan kaca. Giginya yang putih dan kecil-kecil berderet rapi.Sambil menyiulkan lagu New York New York-nya Frank Sinatra, jari-jari lincah Yuda menyisir rambut cepaknya yang berwarna cokelat tua keemasan.

Sambil terus bersiul-siul sampai bibirnya monyong, jemari mungilnya meraup hair gel dari meja, menyapukan ke rambutnya, dan cling! Rambut cepak trendinya langsung berdiri alias rancung-rancung.

“Ka, lo lama banget sih?” tiba-tiba Dika, adik cowoknya, sudah berdiri di depan pintu sambil cemberut. Ujung sepatunya mengetuk-ngetuk lantai tak sabar.Memang seminggu terakhir setiap pagi Yuda rutin bersiul sepanjang satu lagu. Kalau belum beres satu lagu, dia nggak bakal berangkat ke sekolah.Alhasil, Dika yang kebagian telat karena selalu nebeng Yuda.

“Ih, sewot! Lo kan udah tau gue selalu-dan-mesti-menjalani rutinitas bersiul satu lagu setiap pagi,” sahut Yuda di sela-sela siulannya. “Lagian kan lo yang nebeng gue. Kalo nggak mau nunggu, naek angkot sana,” sambungnya judes.

Yuda mencibir kesal. “Lagian apa gunanya sih, kegiatan siul-siul lo itu?”Siulan Yuda makin kencang.Bibirnya maju sampe tiga sentimeter, pake ada gerimisnya, lagi.

“Latihan otot bibir, tau!Biar seksi,” jawab Yuda setelah menyelesaikan bait terakhir lagunya.

“IH!”Dika bergidik jijik dan buru-buru kabur, menyelamatkan diri sebelum Yuda mengeluarkan
teori tentang bibir seksi yang pasti dia dapat dari majalah cowok metropolitan.

“Reseee...! kan lo juga yang bangga kalo bibir gue seksi!” jerit Yuda.Setelah memasukkan HP-nya ke tas, Yuda becermin sekali lagi.

“He-he... udah keren,” katanya pada diri sendiri.Yudamelenggang ke ruang makan. Dika yang dari tadi duduk manissambil cemberut, membuang napas lega melihat Yuda muncul.

“Yuk...” Yuda menyambar roti isi telur dari meja dan langsung menuju rak sepatu.

“Yuda, kamu makan jangan sambil berdiri gitu dong,” tegur mamanya yang juga sedang sarapan.
“Mama, jangan nasehatin Yuda duduk terus makan sekarang, aku bisa telat. Mendingan Mama beliin buku teks lagu-lagu pendek deh buat dia,” gerutu Dika.

Alis mama mengerut bingung. “Kok gitu?”

“Iya, biar acara siul-siulnya jadi cepet kalo lagunya pendek.”Mama tersenyum geli mendengar jawaban Dika.

“Kamu hari ini dapet setoran, ya?” tanya Mama pada Yuda yang masih sibuk mengikat tali sepatunya.

“Iya. Kok Mama tau sih?”

“Soalnya kamu nyengir melulu,” ucap Mama sambil menyentil hidung Yuda.

Hari ini memang hari Ike membalas jasa Yuda. T-shirt hijau toska bergambar anak ayam yang ia taksir di distro favoritnya. Eh, jasa. Jasa apayang membuat Ike dengan senang hati dan sukarela membelikan kaus impian Yuda?

Jawabannya : birjod. Biro jodoh.Yap, biro jodoh alias mak comblang.

Entah kapan dan bagaimana ujung-pangkalnya, Yuda terkenal sebagai mak comblang canggih dan tokcer. Di SMA Altavia, Yuda sudah terkenal mulai dari anak kelas satu sampai kelas tiga. Klien-kliennya pun hampir tidak ada yang gagal.Sampai-sampai Yuda dapat julukan Mr Cupid. Itu
lho, malaikat imut-imut dan hobi bawa panah sama busur, terus dengan senang hati menembakkan panah bermata cintanya langsung ke hati sepasang manusia.

Pokoknya yang dicomblangi Yuda pasti jadian. Kalau putus, ya salah mereka sendiri. Intinya, tugas Yuda membuat mereka jadian. Yuda juga tidak sembarangan menerima misi. Katanya, Yuda punya bakat melihat kans kliennya, kira-kira bisa jadi atau nggak. Tidak jarang Yuda menolak kliennya karena dia melihat tidak ada kemungkinan untuk berhasil.

Pokoknya, predikat Mr Cupid itu pas banget deh buat Yuda! Tapi dia juga dengan senang hati menerima misi Suti, teman sebangkunya waktu kelas satu.Suti itu biasa aja.Cewek kutu buku, berkacamata minus, penampilannya juga jauh dari modis. Suti itu baik hati, sabar, ramah, dan sebenarnya dia itu, curhat pada Yuda.Dia naksir Tio. Anak kelas sebelah yang super pinter dan juga superkeren. Dia ini salah satu cowok ngetop di sekolah. Dengan kepiawaiannya membaca situasi, Yuda berhasil membuat Suti jadian sama Tio. Dan mereka masih pacaran sampai sekarang, saat hampir kenaikan kelas tiga.

Keberhasilan kasus Suti ini menggemparkan seisi sekolah. Tio sama Suti! Berkat Yuda. Mungkin itu awal mulanya Yuda menjadi supertenar. Oh ya, kembali ke hari ini. Hari ini Ike sudah janji membawa T-shirt yang iajanjikan ke sekolah. Misi Yuda berhasil lagi. Semalam Rino menyatakan cintanya pada Ike. Berkat campur tangan Yuda, tentunya.

“Oke deh, Mam, aku cabs dul, ya? Nih, wayang orang udah nebeng brisik banget sih.”
“Yeee... kalo nggak terpaksa banget mah malessss.”Dika menjulurkan lidahnya.

Mama cuma bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan kedua anaknya.
“Udah, sana berangkat.”Yuda dan Dika mencium tangan Mama.

*****

Honda Jazz kuning Yuda diparkir di bawah pohon mangga favoritnya yang teduh dan banyak buahnya. Dilahapnya potongan terakhir roti isi telur yang ia bawa dari rumah, lalu bergegas turun dengan senyum sumringah. Siapa sih yang nggak sumringah menyongsong rezeki pada pagi hari. Betul kata orang-orang tua, jangan bangun kesiangan. Nanti rezekinya dipatok ayam.

“Pagi, Pak Oniiiiiiiii...” Dengan semangat ’45 Yuda menyapa Pak Oni, tukang parkir sekolahnya. Pak Oni sedang duduk di kursi kayu di bawah pohon mangga sambil menghirup kopi pahit.
“Eh, Nak Yuda. Narik setoran ye hari ini?”Kepala cepak Yuda mengangguk-angguk penuh semangat. Tau aja nih, Pak Oni. “Ntar Pak Oni dapet persen deh...”

“Nah... gitu dong, Bapak doain deh kliennya tambah banyak.”Yuda tertawa lebar. “Thank you, Pak Oni. Kalo Pak Oni punya order, saya kasih diskon deh. Siapa tau anak Pak Oni mau cepet naik pelaminan.Hehehe…”

Yuda berjalan meninggalkan lapangan parkir. Lagi-lagi sambil bersiur, kali ini lagu dangdut Jatuh Bangun.

“Hei!” tepukan halus di punggungnya hampir membuat Yuda terjungkal saking kagetnya. Maklum, bersiul sambil melamun sampai-sampai nadanya agak lebih deket ke keroncong daripada dangdut. Hebat, kan? Bersiul lagu keroncong. Keahlian khusus tuh.

“Gila, kaget gue.”Yuda mengelus-elus dadanya kayak nenek-nenek latah kena lemparan petasan. Di depannya berdiri Maya. Sobatnya itu nyengir kuda melihat reaksi Yuda yang over.

“Sori deh... kok lo jadi jantungan gini sih?” ucap Maya lembut.

“Lo tuh, yang bikin kaget.”

Maya tertawa renyah. Serenyah kerupuk udang yang baru digoreng. Yuda menatap sobatnya. Heran, bisa-bisanya dia sobatan sama Maya padahal mereka begitu berbeda. Maya tipe cewek idola cowok-cowok. Cantik, tinggi, lemah lembut, sabar, dan bla bla bla... pokoknya memenuhi syarat banget deh. Yuda? Kelihatan dong dari kelakuannya. Kayak cacing kepanasan. Cuek, lincah-tepatnya hiperaktif dan sporty. Tampang Yuda sih cute, tapi galak.

Cowok-cowok segan deketin Maya karena dia anggun, mereka segan deketin Yuda karena dia galak. Maya sih belum pernah tuh butuh bantuan Yuda. Iya lah, mau cowok mana aja dia sih tinggal tunjuk. Wong hampir semua cowok di sekolah naksir dia. Sebulan yang lalu dia baru putus sama kapten voli sekolah, anak kelas 3 IPA3.

“Lo kok pagi-pagi gini udah ceria banget, Ka?”Maya mengibaskan rambutnya persis iklan sampo.

“Biasaaaa...”Mereka berdua langsung berjalan beriringan menuju kelas. Sesampainya disana, Ike sudah berdiri di depan pintu. Tangannya menenteng kantong karton berlabel distro langganan Yuda. Ia langsung tersenyum begitu melihat Yuda.

“Yudaaaaaaaaaaaaaaa... lo top banget deh. Sumpriiiiit!” jeritnya. Anak-anak lain yang bergerombol di teras depan sambil menunggu bel masuk, langsung sibuk berbisik-bisik melihat aksi Ike berlari menyongsong Yuda dengan gaya India.

“Lo emang tokcer, Yud. Nggak salah gue pilih lo jadi mak comblang gue.”Ike berjingkrak-jingkrak heboh sambil memeluk Yuda.

“Gue...! Mana, mana kaos anak ayam gue?”Ike menyerahkan bungkusan di tangannya.“Nih.”

“Merci.”Dengan semangat Yuda membuka bungkusan dari Ike. Bel berbunyi nyaring.Y uda masuk kelas sambil melompat-lompat kecil karena kegirangan.

*****

Waktu istirahat Yuda menarik Maya ke toilet. Maya yang memang dasarnya kelewat lembut alias lambat, kerepotan mengikuti langkah Yuda.

“Ngapain sih, Yud? Kebelet pipis?” omel Maya.

“Gue mau nyoba kaos baru gue.”

Maya cuma bisa pasrah. Kalau ada maunya, Yuda susah dibendung, apalagi waktu kegirangan gini.

“Lo tunggu depan disini, oke, sista?” Yuda menutup pintu kamar mandi. Iyalah masa dia ikut ke kamar mandi cowok, bisa digrebek masa nantinya.

“Yud?” panggil Maya dari luar.

“Hm?” sahut Yuda dari dalam kamar kecil.

“Lo aneh banget sih? Sibuk aja ngurusin urusan cinta orang-orang, nah lo sendiri nggak cari pacar?” tanya Maya iseng.

“Hmmm,” Yuda bergumam.“Kayaknya gue belum butuh deh sekarang.Lagian profesi gue menguntungkan kok.”

Terdengar krasak-krusuk Yuda mengganti baju.

“Tiga bulan lalu gue dapet benda biru dari Karin. Sebulan lalu dapet tas dari Dina. Dua minggu lalu dapet dompet mini gambar dari Dea.Nah, sekarang dapet T-shirt dari Ike.”Pintu kamar kecil terbuka.

“Menguntungkan dooong!?” ujar Yuda sambil bergaya di depan Maya.

“lagipula lo juga tau kan kalo gue sukanya bukan sama cewek tapi sama cowok”

“tapi tetep ajah kan lo bisa cari cowok yang sama kayak lo, lagian gue yakin kok disekolah ini banyak cowok ‘sakit’ yang naksir sama lo Cuma lo nya ajah yang ngak nyadar”protes Maya ngak mau kalah

“gue tetep sama penderian gue May, sekali ngak tetep ngak”

“Keren nggak, May?”lanjutnya

Yuda memutar-mutar badannya seperti model kawakan.

“Keren. Pas banget deh, Yud. Lo pesen ke Ike pake nyebut ukuran segala ya?”Yuda mengedipkan sebelah mata.“Ya dooong. Misi khusus sih. Lo tau kan cowoknya si Via itu judesnya minta ampun.”

Maya cekikikan.“Dasar. Untung lo nggak disemprot, tau-tau ngajak tu cowok kenalan.”

“Yoi. Malah pertamanya dia sangka gue yang naksir dia. Ih, amit-amit! Judes gitu.”

Yuda berjalan masuk kembali ke bilik kamar mandi untuk memakai seragamnya lagi.

“Yud, beneran nih..menurut gue lo perlu juga lho, cari ‘cowok’. Masa mak comblang profesional nggak bisa nyomblangin diri sendiri,” ucap Maya saat Yuda di dalam bilik.

“Maya, Maya... Mbah nggak perlu cowok sekarang. Kalo Mbah mau, Mbah tinggal ngedip-dip,” sahut Yuda sambil meniru suara dukun nenek-nenek. Mereka tertawa keras bersama.“Atau, gue tinggal memanah hati gue sendiri pake panah cupid gue yang canggih itu, terus satu lagi ke hati orang yang gue incer. Dijamin tokcer. Masa Mr Cupid nggak bisa cari jodoh sendiri, ya nggak?!”

Maya mengangguk-angguk setuju. Iya juga sih. Buktinya di gambar-gambar yang dia lihat Cupid selalu bermuka ceria dan senyum. Pastinya mereka nggak ada masalah cari jodoh sendiri, dong? Maya geleng-geleng sendiri. Ngapain sih mikirin begituan?

Di dalam, Yuda terdiam sesaat. Ada juga ganjalan hatinya yang sudah lama menyesakkan dada. Apa yang Maya bilang memang benar. Satu-satunya cowok yang pernah jadi pacarnya Cuma Wira , itu pun cuma bertahan dua bulan. Wira yang posesif tidak tahan dengan sifat Yuda yang periang, supel, dan banyak teman.Yuda membuang napas berat. Mungkin hampir semua orang berpikir seperti Maya.Yuda, si Mr Cupid, gagal cari jodoh buat diri sendiri
«1345678

Comments

  • Dinantikan kelanjutannya ya...
  • Seruu, baru baca nih mention ea low updeat
  • Titip mention ya,
  • titip mention ... Suka nih yg beginian ... :D
  • izin ninggalin jejak
  • User ini dan semua pesannya telah dihapus oleh Moderator.
  • Pas baca deskripsi awal "gigi kecil" dan "tangan mungil" gw malah nyangkanya ngegambarin bocah umur 7 tahun yang lagi narsis, ragu bisa nebengin orang gw pikir naik sepeda eh baca lagi naik motor pas ngasih nama sekolah eh ternyata bener SMA :))
  • lanjottttt!!
  • mention yaak :D
  • edited June 2014
    woy udah bisa dibuka ini :D
    gue mau kasih coment apa ya -_-
    bingung, lanjut aja dah. hahahhaa :P
  • Mention ya....
  • Good story. Mention ya kalo update. Makasih :)
  • edited July 2014
    gue pengen ngucapin spesial thanksnya buat @amira_fujoshi karena kemarin udah mau jadi dengerin curhatan gue. rela begadang demi edngerin curhatan gaje gue T_T. lu emang soulmate gue dah!! :)

    @3ll0 : sip thanks udah baca :)
    @arifinselalusial : thanks, udah gue mention nih
    @Beepe : thanks udah baca
    @Wook15 : thankyu udah gue mention
    @kiki_h_n : oke - oke thanks udah baca
    @reenoreno : makasih udah baca :)
    @elul : udah gue memntion :)
    @Adityaa_okk : thanks udah baca :)
    @Gabriel_Valiant : sangkyu :)
    @Gabriel_Valiant : oke - oke :)
    @animan : haha Yuda emang difatnya childis cuma ya bisa galak juga kalo dia udah marah. dan juga kendaraan yang dipake Yuda itu bukan motor tapi mobil :)


    Chapter 2 “Kevin”

    HARI INI Yuda benar-benar sial. Jazz kuning kesayangannya mogok gara-gara dibawa nge-date sama Dika. Yang punya salah sama sekali tidak bertanggung jawab, pagi-pagi buta Dika kabur berangkat sekolah naik bus kota. Kabur menyelamatkan diri sebelum dibombardir kata makian dan timpukan benda-benda ajaib oleh Yuda.

    “Maaa... aku nggak usah sekolah deh ya?” rengek Yuda. Tidak terbayang olehnya berangkat sesiang ini dari rumah naik bus kota.

    Bisa-bisa baru besok nyampe sekolah. Mana pelajaran pertama Bahasa Indonesia pula. Bu Dini, wali kelasnya, pasti melotot deh. Tapi Mama paling anti anak-anaknya bolos.

    “Yuda, kamu kan nggak terlambat tiap hari. Masa Bu Dini nggak mau maklum sih?” tukas Mama membela Bu Dini

    “Aduuuh, Mama. Nggak tau Bu Dini sih. Dia malah seneng, Ma. Dia kan paling anti sama kita yang bawa mobil. Kesenjangan sosial, katanya. Ngomelnya pasti tambah panjang kalo tau aku telat gara-gara mobilku mogok. Aku kan nggak mungkin bilang busnya mogok juga makanya aku telat, Ma. Ya, Ma, ya? Masa Mama tega sih,” cerocos Yuda panjang lebar.

    “Kalo masih ngomong terus sama Mama disini, bisa-bisa kamu diomelin sampe pohon Mama yang Mama tanem di belakang berbuah,” ucap Mama tegas.

    Yuda tahu Mama sudah tidak bisa dibantah. Sambil menekuk bibirnya ke bawah mirip bulldog, dia menenteng tasnya lalu berpamitan. Ia menyeret langkahnya dengan malas. Siapa tau Mama berubah pikiran karena iba

    Tapi pastinya sih harapan semacam itu sia-sia. Pokoknya tak ada kata bolos buat Mama. Bolos aja sudah salah. Apalagi kalau ditambah pura-pura sakit. Salahnya jadi dua kali lipat.

    Perjalanan dari rumah ke halte depan terasa jauh banget. Yuda bolak-balik melirik jam tangannya. Ada juga sedikit keberuntungan buat Yuda hari ini. Bus yang dia tunggu langsung nongol begitu dia sampai di halte. Buru-buru Yuda melompat naik ke dalam bus yang penuh sesak itu. Semilir bau-bauan tujuh rupa langsung mampir ke hidung Yuda. Dari wangi parfum murahan yang sering diobral di kios-kios, sampai wangi sabun colek bercampur keringat.

    Gaya melompatnya dibuat senatural mungkin supaya terlihat sudah ahli. Yuda takut ada yang tahu kalau dia jarang naik bus, kemudian dijailin, dicopet, di-hiiii. Di dalam bus Yuda nyaris tidak ias bernapas. Tinggi badannya yang pas-pasan membuat posisinya sangat tidak menguntungkan. Mukanya persis berhadapan dengan ketiak bapak brewokan yang baunya minta ampun.

    Yuda setengah mati menahan napas. Saking kuatnya menahan napas, sampai-sampai Yuda kentut sedikit.

    “Bang, nggak ada tempat kosong nih?” Yuda bertanya pada kenek sambil menyerahkan ongkosnya.

    “ngak ada dek, namanye juge bus kota. Ya untung-untungan aja. Kalo dapet ya untung, kalo kagak ya apes, nyiumin ketek,” jawab Si Abang kenek nyebelin. Sementara Si Bapak brewok mendelik karena merasa tersindir.

    Perjalanan dua puluh menit itu sungguh menyiksa buat Yuda. Mana Si Bapak belum turun-turun, lagi. Otomatis ketiaknya makin amit-amit baunya gara-gara keringat.Yuda bergidik sedikit waktu matanya tertuju pada noda kekuningan di ketiak kemeja putih Bapak itu. Orang ini nekat juga. Jelas-jelas produksi keringatnya berlebihan, masih ngotot pakai baju putih. Dan dasinya? Ya ampun! Beli dimana dia dasi berpola bunga matahari yang noraknya melewati batas normal kenorakan manusia biasa itu?

    *****

    Bus berhenti di halte depan sekolah Yuda. Dengan gerakan superlincah Yuda menerobos ketiak-ketiak para penumpang yang terangkat, lalu melompat turun. Aaahh... udara segar. Mata Yuda tertuju pada Bapak brewok tadi, yang juga turun di halte sekolahnya. Pengalaman mencium ketiaknya selama dua puluh menit membuat Yuda tergelitik untuk bertanya.

    “Bapak turun disini juga?” tanyanya sok akrab.

    Si Bapak menoleh, lalu mengangguk.“Iya. Bapak sih rumahnya memang disini. Tapi lagi bosen aja, makanya dari subuh Bapak naek bus tadi muter-muter kota. Itu lho, yang kata turis-turis namanya siti tur. Jalan-jalan keliling kota naik bus. Makanya Bapak dandan keren begini.”Jawaban bapak itu bikin Yuda melongo. Kurang kerjaan amat. Mana bau, lagi. “Oh...” tanpa ba-bi-bu lagi Yuda berlari menuju gerbang sekolahnya yang sudah sepi.

    “Psst, psst, Pak Oni.”

    Pak Oni yang asyik tidur di kursi kayu kesayangannya melonjak kaget. “Lho, Dek Yuda? Mana Si Kuning?” tanya Pak Oni tergopoh-gopoh membuka pagar. Matanya lirak-lirik penasaran mencari Si Kuning.

    “Si Kuning lagi demam,” jawab Yuda asal. “Makasih, Pak Oni.” Lalu Yuda melesat sampai nyaris nyangkut di dahan pohon mangga yang menjuntai

    Kelasnya begitu hening. Pasti Bu Dini lagi menulis teori-teorinya di papan tulis. Gawat. Ini buah simalakama namanya. Masuk, pasti Bu Dini ngamuk. Bolos? Mama yang ngamuk. Yuda mengatur napasnya. Sambil mengingat-ingat latihan pernapasan ibu-ibu hamil yang sering dia lihat di TV, Yuda mencoba mempraktekkannya dengan modal ingatan yang lupa-lupa ingat, ditambah daya monyong bibir yang maksimal.

    “Assalamualaikum.”Suara Yuda bergetar persis suara penyanyi seriosa.

    “Waalaikumsalam.”Suara berat Bu Dini terdengar bagai petir di siang bolong. Matanya menatap tajam ke arah Yuda.

    “Yuda, Yuda, Yuda,” ujar Bu Dini menyebut namanya dengan gaya Nyonya-nyonya Belanda. Yuda makin keder dibuatnya

    “Kamu sudah terlambat setengah jam. Setengah jam! Kamu tau artinya?”

    Tiga puluh menit? Jawab Yuda dalam hati. Yuda menggeleng-geleng pasrah.

    “Kamu sudah melewatkan satu bab penjelasan saya. Mengerti?”Kali ini Yuda mengangguk-angguk.

    Bu Dini ini ya, ibaratnya kereta, dia ini kereta ekspres monorail yang supercepat itu. Setengah jam cukup baginya untuk menjelaskan satu bab. Yang tidak menyimak, silahkan terima nasib.

    “Yuda!” bu Dini membuat Yuda terlonjak kaget. Seisi kelas menahan senyum.

    “I... iya, b... bu?” rasanya Yuda bakal ngompol sebentar lagi. Dia paling tidak tahan dipermalukan di depan umum.

    “Kamu sudah sangat rugi karena saya tidak akan mengulang. Sekarang cari tempat duduk kamu!”

    Yuda mengalihkan pandangan ke arah bangkunya. Hah? Siapa tuh yang duduk di bangkunya? Seorang cowok yang tidak dia kenal duduk di bangkunya di sebelah Rio. Yuda menatap Maya dengan tatapan bertanya-tanya. Maya cuma balas menatap pasrah dari bangkunya di sudut lain.

    “Bangku saya ada orangnya, Bu...” suara Yuda semakin hopeless.

    “Ya, memang ada orangnya. Memang buat duduk orang toh? Kalau saya taroh sapi di bangku kamu, baru kamu boleh heran,” tukas Bu Dini cuek sambil terus menulis di papan tulis. Yuda makin bingung. Masa berdiri sampai pelajaran selesai sih?

    “Yuda, karena saya pikir kamu tidak mungkin datang, jadi bangku kamu saya berikan pada orang lain. Kamu silahkan duduk di bangku saya. Cari jalan keluarnya setelah pelajaran saya,” jelasnya tegas.

    Walhasil, dua jam pelajaran Yuda duduk di meja guru. Tengsin-sin.

    *****

    “Gue titip tas.” Yuda memasukkan tas ke laci mejanya. Cowok baru itu cuma menatap bingung, lalu mengangguk. Yuda bergegas menghampiri Maya dan menyeretnya keluar.

    “Ntar, ntarrr... gue masukin buku dulu.”

    “Buruan, May, kita ke kantin kek, ke WC kek, atau ke mana kek.” Yuda menarik-narik tangan Maya

    Mereka berdua ke kantin, duduk di pojokan tempat Mang Sum, Si tukang bakso

    “Dua, Mang. Biasaaa, spesial buat kita,” Yuda memesan.
    Mang Sum dengan cekatan membuat dua mangkok bakso pesanan pelanggannya yang mulai kelaparan ini.

    “May, tuh cowok siapa sih? Kok duduk di bangku gue sih?” sambil mengomel, tangan Yuda sibuk menuang sambal Mang Sum yang pedasnya minta ampun.

    “Anak baru. Namanya Kevin, dari Amerika katanya. Keren ya?” jawab Maya yang sibuk memotong baksonya jadi kecil-kecil supaya mulutnya yang imut tak harus mangap selebar buaya untuk melahap bulatan daging yang enak itu.

    “Yeee... bukan waktunya deh, May, ngomong gitu. Dia duduk di bangku gue kok lo sebut dia keren?”

    “Lo kayak nggak tau Bu Dini aja, Ka. Lo tadi telat, nggak ada berita. Bu Dini yakin banget lo pasti bakal dateng, makanya bangku yang dianter Pak Oni buat Kevin dia suruh balikin lagi. Buat ngehukum lo.”

    Yuda melahap baksonya bulat-bulat dengan geram. Dasar bu Dini.

    “Uhuk... uhuk... air, May, air.” Tiba-tiba Yuda keselek bakso. Maya buru-buru menyodorkan segelas air mineral. “Makanya. Kesel sih kesel, tapi nelen bakso segede bola ping-pong bulet-bulet sama aja bunuh diri. Nggak keren tau, mati keselek bakso.”Maya cekikikan geli.

    “Sialan lo.”Yuda mengurut-urut tenggorokannya.“Trus gue gimana dong sekarang?”

    “Ngomong aja sama si Kevin, suruh dia minta bangku ke Pak Oni.”

    “Ih, kan gue nggak kenal.”

    “Iya, tapi dia kan anak baru, masa dia nggak mau.”Maya menuang kecap banyak-banyak ke potongan-potogan kecil baksonya dan menyuapnya satu per satu.

    “Kelamaan!”Yuda meraup semua bakso dari mangkok Maya dengan sendok dan melahapnya

    “Yudaaaaa...! Itu save the best for last gue.”

    “Gue nyelametin lo, tau. Masa telat masuk kelas gara-gara motongin bakso jadi kecil-kecil. Mendingan gue, gara-gara mobil mogok.”Yuda tertawa terbahak-bahak sambil kabur.

    “Bayar ya, May!” teriaknya dari kejauhan.

    “Kurang ajaaaar…” teriak Maya.

    *****

    “Gue Yuda,” Yuda memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan.

    “Gue tau.”Cowok itu membalas uluran tangan Yuda.

    “Nama lo ‘Tau’?” Tanya Yuda bego. “Katanya Kevin.”

    “Nama gue Kevin. Tapi gue tau kalo nama lo Yuda.” Suaranya berat dan agak serak. Bruce Willis, kali.

    “Lo tau juga dong itu bangku gue?”Kevin mengangguk sambil tersenyum tipis.

    “Gue nggak mau pindah. Lo pindah, ya? Ya, ya? Gampang kok, tinggal minta bangku ke Pak Oni.”

    Kevin tersenyum lagi. Agak kaget mendengar Yuda yang supercuek memperkenalkan diri hanya demi mendapatkan bangku kesayangannya kembali.

    “No problem. Nanti gue ke Pak Oni. Thanks.”
    Yuda mengacungkan jempol ke arah Kevin.

    “Thanks ya, Kevin.”sambung Yuda sambil melompat-lompat ke arah Maya, persis kelinci.

    “Gimana, oke kan?” Maya menyambut Yuda.

    “Siiip.Tapi orangnya dingin amat. Untung mau pindah. Kalo nggak gue mesti duduk sendirian. Tidaaakk, gue udah soulmate banget, lagi, sama si lebay Rio.”Yuda cengengesan membayangkan tampang Rio, sobat sekaligus teman sebangkunya yang merasa dirinya cowok terkeren seantero sekolah dan berbadan paling oke, harus duduk sama cowok sedingin Kevin.

    Bisa gila Rio kalau sehari aja nggak ngomongin soal penampilan. Atau baju terkeren dengan model tergaul keluaran terbaru. Dasar lebay. Cita-citanya aja sudah jelas. Model atau bintang sinetron. Supaya gampang menggaet cewek-cewek paling keren dan terkenal, pastinya.

    Mereka langsung masuk ke kelas dan duduk begitu bel berbunyi. Hoaahhmmm, pulangnya masih lama nih.
Sign In or Register to comment.