BoyzForum! BoyzForum! - forum gay Indonesia www.boyzforum.com

Howdy, Stranger!

It looks like you're new here. If you want to get involved, click one of these buttons!

Selamat datang di situs Boyzforum yang diarsipkan oleh Queer Indonesia Archive. Forum untuk komunitas gay Indonesia yang populer ini didirikan pada tahun 2003, dan ditutup pada tanggal 15 Desember 2020.

Forum ini diabadikan untuk kepentingan sejarah. Tidak akan ada konten baru di forum ini. Silakan menikmati forum ini sebagai potongan dari sejarah queer Indonesia.

Complicated Love Story ___ End Part (Coming Soon)

1235713

Comments

  • tanggung,setahun sekali aja hehe...gw pgn bca bagian si aldo pas nyatain perasaannya k si raffa...hmm
  • yoedi16 wrote:
    tanggung,setahun sekali aja hehe...gw pgn bca bagian si aldo pas nyatain perasaannya k si raffa...hmm

    hmmm, part itu bakal agak 'sedih' jadi jgn kecewa yaaaa^^
  • Im ready for that...cos pernah ngalamin hehe.d tunggu!
  • yoedi16 wrote:
    Im ready for that...cos pernah ngalamin hehe.d tunggu!

    siplah ^^
  • >> SIDE ARGA

    sudah 2 minggu semenjak kejadian itu, semenjak itu pula aku dan kak raffi tak pernah bertemu lagi. Aku kangen sekali, rasanya hidup seperti kehilangan pijakan tanpanya. Aku tak berani menemuinya baik di kampus atau di rumahnya, aku takut bertemu kak raffa. Di tambah lagi sekarang om alvin sudah di rumahnya, itu semakin membuat keadaan menjadi rumit, kak raffa dan kak raffi berusaha menyembunyikan semua ini dari om alvin. Walau kak raffi tak pernah seharipun absen menelponku, tapi rasanya rindu ini tak cukup terobati, aku ingin bertemu dengannya.

    “arga..?” suara mama memanggilku dari luar.

    “iya ma, masuk aja...” terdengar suara pintu terbuka perlahan

    “kamu kenapa nak ? akhir-akhir ini seringnya ngurung diri di kamar ? kamu ada masalah ?”

    “hah.. eh.. nggak kok ma, arga cuman agak nggak enak badan aja”

    “hmm.. makanya kamu jangan telat makannya, nanti bisa jatuh sakit, kamu udah makan siang ?”

    “udah mah, tadi arga suruh bik lastri bikin nasi goreng”

    “hmm.. kok cuman setengah piring di makannya” ujar mama sambil melirik piring yang masih berisi nasi goreng di meja belajarku.

    “hmm.. arga nggak nafsu aja ma”

    “...” hening sesaat.

    “mah ?” ujarku sembari membaringkan kepalaku di pangkuannya.

    “kenapa nak?” mama membelai lembut kepalaku.

    “mama sayang nggak sama arga ?”

    “kok kamu nanya gitu sayang, nggak usah di tanya lagi, kamu itu anugerah tuhan yang paling berharga dalam hidup mama, kamu nggak meragukan itu kan ?”

    “i..iya mah, arga.. arga Cuma takut aja mah ?”

    “takut ? takut kenapa nak” sahut mama semakin bingung, aku pun lebih bingung bagaimana melanjutkan kata-kataku.

    “mah, arga sayang sama mama” hanya itu yang keluar dari mulutku seraya kulingkarkan pelukan di tubuh mama, mama hanya terdiam, mungkin bingung dengan tingkahku, di usapnya kepalaku perlahan.

    “mama nggak tahu apa yang ada di benak kamu sekarang nak, mama juga nggak maksa kamu cerita kalo memang kamu belum mau, tapi satu yang mama mau kamu tahu, mama selalu sayang sama kamu, dan selamanya akan tetap seperti itu” ujar mama yang cukup menenangkan diriku, hatiku bisa sedikit lega sekarang.

    Perlahan ku turunkan lagi kepalaku di pangkuannya, aku berbaring membelakanginya, aku ingin tertidur di pangkuannya. Mama terus membelai lembut rambutku, suasana hening. Pikiranku semakin kalut, aku bingung, aku satu-satunya anak di keluarga ini, aku satu-satunya harapan buat papa, penerus nama besar keluarga kami, tapi aku sudah mengecewakan mereka. Aku kini menjadi aib tersembunyi di keluarga kami, apakah mama masih akan bisa berkata seperti tadi ? jika nanti ia tahu siapa sebenarnya anak kesayangannya ini. Aku tak berani membayangkan hal itu terjadi, lebih-lebih papa, rasanya tak mustahil ia membunuhku bila tahu semuanya, bahwa anak kebanggaan satu-satunya miliknya adalah seorang pencinta sejenis, dan lebih parah lagi mencintai sepupunya sendiri. Aku betul-betul dihadapkan pada dilema yang begitu menyiksa kini. Aku tak mau mengecewakan mereka, tapi.. apakah salah ? jika aku hanya ingin merengkuh sedikit saja kebahagiaan untukku ? aku hanya manusia biasa, aku tak kuasa menolak rasa yang menyiksa ini. Maafkan aku ma.. pa.. aku tak mungkin membohongi hatiku.

    ***

    Kepalaku agak sakit begitu merasakan timpaan cahaya menghantam mataku yang masih tertutup, ku halangi sinar itu dengan tanganku,
    lalu perlahan coba ku buka mataku. Rupanya sudah pagi, cahaya matahari terbit menembus jendela kamarku dan langsung menimpaku yang menghadap ke sana. Aku beringsut bangun dari kasurku, aku menuju kamar mandi, setelah cuci muka dan sikat gigi, aku turun ke bawah bergabung dengan mama dan papa yang sedang minum teh, hari ini hari minggu, jadi kami bisa lebih santai memulai pagi.

    “udah bangun nak ? gimana nyenyak tidurnya ?” tanya papa.

    “lumayan pa” jawabku sambil tersenyum, ku comot satu kue bolu buatan mama di meja.

    “iyalah pah dia nyenyak tidurnya, kan di pangkuan mama..”

    “ihh mama..” dengusku kesal.

    “huu.. udah gede masih manja kamu ya, kalo papa mana di kasih tidur di pangkuan mama..” ledek papa.

    “huu.. kalo papa udah tuwir, nggak pantes !”

    “hahahaha” gelak tawa pecah di antara kami.

    “oh iya, papa lupa..”

    “lupa apa pa ?”

    “alvin ngajak kita makan malam di rumahnya sebentar, mau ngerayain
    ultah papa mah” ujar papa yang sukses membuat mataku terbelalak.

    “wah iya yah pa, mama sampai lupa kalo besok ultah papa”

    “iya ma, kita juga udah lama kita nggak ngumpul sama-sama, di tambah lagi livia kakak andita datang ma”

    DEG !

    Belum habis kekagetanku dengan ajakan om alvin untuk kami makan siang di sana, mataku kembali di buat melotot mendengar papa menyebut nama tante livia. Dia itu kakak mamanya kak raffi, aku kenal betul tempramennya, aku tak berani membayangkan nantinya kalau sampai ia tahu hubunganku dan kak raffi. Ya tuhan, aku bingung harus bagaimana, hari ini aku akan ke rumah kak raffi, bertemu kak raffa, kakek, dan yang terparah tante livia. Bagaimana nanti kalau kak raffa mengadukan semuanya ?

    ***

    Jam 6 sore...

    “udah siap nak ?” tanya mama, hanya ku jawab dengan anggukan, lalu kami semua pun langsung masuk ke mobil, mobil pun berlalu meninggalkan rumah.

    Sepanjang perjalanan aku hanya terdiam dalam perasaan kalut yang teramat sangat, jantung rasanya berdetak 10 kali lebih cepat dari biasanya, andai bisa, aku ingin waktu berjalan 100 kali lebih lambat, atau bahkan berhenti. Aku sangat takut melihat kak raffa, lebih-lebih kakek dan tante livia, rasanya seperti perjalanan ke neraka saja.
    30 menit berlalu kami pun tiba di rumah om alvin, dengan gontai aku melangkah mengekor mama dan papa yang sudah lebih dulu masuk.

    “kak santi !” lengkingan suara tante livia langsung membahana begitu mama masuk, lengkingan itu juga sukses menghentikan langkahku, aku tak berani masuk ke dalam.

    “loh arga kok diem ? ayo masuk..” tante livia tiba-tiba muncul dari balik pintu membuatku tersentak.

    “eh..eh.. iya tante” sahutku gugup, bersama tante livia akupun melangkah masuk ke ruang tengah, kakek tersenyum begitu melihatku.

    “kesini ga, kakek udah kangen..” ujar kakek sembari menepuk-nepuk sofa di sampingnya, akupun mendekat ke sana.

    Mama dan tante livia langsung heboh dengan obrolan mereka sedangkan papa sepertinya langsung ke toilet begitu masuk tadi. Aku tak melihat kak raffi dan kak raffa sedari tadi. Aku mendekati papa dan kakek yang tengah duduk di sofa, kemudian menyalami mereka berdua.

    “gimana kabar cucu kakek yang ganteng ini ?” kata kakek sambil mengusap pelan rambutku.

    “baik kek, kakek sendiri ?”

    “alhamdulillah kakek sehat-sehat aja “

    “oh iya, selamat ulang tahun yah kek” ujarku sembari mencium tangannya.

    “makasih nak, gimana sekolah kamu ? sebentar lagi ujian kan ?”

    “alhamdulillah lancar-lancar aja kek, iya bulan depan mau ujian”

    “hmm bagus lah, kamu belajar yang rajin yah, kakek yakin kamu pasti jadi orang sukses nantinya”

    “iya kek, makasih yah”

    “hmm.. kakek juga udah tau rencana kamu, mau sefakultas sama raffa kan, bagus itu, nanti dia bisa arahin kamu” ujar kakek.

    “i..iya kek..”

    ###

    Aku terlibat obrolan kecil dengan kakek dan papa untuk beberapa menit, mama dan tante livia sekarang membantu bik ina di dapur menyiapkan makanan. Tak lama kemudian om alvin dan kak raffi bergabung, sepertinya kak raffi sedang mandi saat aku sampai tadi. Obrolan kami terhenti sejenak begitu suara mobil terdengar memasuki pekarangan, tak lama kemudian masuk tante maria dan om irwan yang langsung di sambut oleh kakek dengan ramah, kedatangan mereka ini sukses membuatku semakin takut, menyusul di belakang mereka ada kak raffa yang tengah membantu kak aldo berjalan, ia menggunakan tongkat,kaki kirinya di perban. Aku tak memusingkan itu, yang jelas aku tak berani menatap mereka.

  • ***

    “ga, ambilin udangnya dong, aku nggak nyampe nih..” kata kak raffa sambil tersenyum kearahku, aku bingung, tak ada rona kemarahan dari matanya.

    “i..iya..” jawabku singkat sembari mengambil setusuk sate udang lalu ku letakan ke piringnya.

    “makasih yah..” sahutnya masih dengan senyuman, aku semakin bingung di buatnya, apa memang dia sudah tak marah lagi, atau hanya menyembunyikannya karena ada kakek dan tante livia.

    Seperti biasa acara makan kami berlangsung hening, sudah tak aneh lagi bagi seluruh anggota keluarga kakek, kecuali om irwan yang sepertinya belum terlalu terbiasa, beberapa kali ia terlepas membuka obrolan dengan papa yang langsung mendapat deheman dari tante maria.

    ***

    Selesai makan para orang tua mengobrol di ruang tengah,kakek,om alvin, papa, mama, tante livia, juga om irwan dan tante maria. Sepertinya sangat seru obrolan mereka, terutama di tambah celotehan dari mama, tante maria, dan tante livia yang tak habis-habisnya. Kakek juga terlihat begitu bahagia.

    Aku hanya duduk duduk di serambi belakang rumah, di samping kolam ikan aku bermain dengan kecipak air dari air mancur mini yang ada di situ. Pikiranku sedang kalut sekarang, seperti berada di ujung tanduk saja, salah sedikit saja semua bisa hancur berantakan. Aku bingung dengan perlakuan kak raffa tadi padaku, seperti tidak terjadi apa-apa, dia begitu ramah bahkan sempat mengajakku mengobrol tadi, aku harap itu sungguh-sungguh, walau aku tahu itu hanya ia lakukan agar kakek dan tante livia tidak curiga. Lamunanku buyar begitu merasakan usapan tangan di bahuku.

    “kak..” desisku begitu menyadari itu kak raffi, ia tak menjawab, ia tertunduk beberapa saat lalu kemudain menengadah ke atas.

    “bawa aku pergi kak, kita tinggalkan semua ini, kita cari kebebasan kita sendiri..” lanjutku lirih.

    “hah ? maksud kamu ?” decaknya kaget.

    “iya.. kita pergi dari sini.. ke tempat kita bisa bebas menjalin cinta kita..”

    “hah !!! jangan bercanda kamu ! aku cinta sama kamu, tapi bukan begini caranya !”

    “trus kita harus gimana ? apa kamu punya ide lain yang lebih baik dari ini ? aku tak bisa berpikir lagi..”

    “...” ia tak menyahut lagi, rasanya dia juga belum punya jawaban untuk pertanyaan itu.

    ***

    >> SIDE RAFFI

    “aku kangen kamu sayang” ucapku lirih sembari menggenggam tangan arga.

    Ia hanya mendesis resah mendengar ucapanku, ia tertunduk tak mampu berucap. Ya tuhan.. kenapa harus serumit ini, harusnya kami masih bisa lebih tenang sekarang, yang tau baru raffa dan aldo, dan aku tahu mereka tak mungkin membocorkan ini semua, lebih-lebih pada papa dan tante livia. Tapi entah kenapa semua terasa berbeda sekarang, serba terbatas, ada yang mengekang kami untuk lebih dekat lagi. Beban, saat ini kami berdua bagai memikul beban yang begitu berat di pundak kami. arga ada di sampingku kini, bahkan aku menggenggam tangannya, tapi kenapa ia rasanya begitu jauh sekarang. Kami bagai kembali di batasi dinding tebal lagi, tapi kali ini berbeda, bukan salah satu dari kami yang membuatnya, dinding yang ini muncul dengan sendirinya.

    “bawa aku pergi kak, aku mohon, aku.. aku nggak peduli semuanya lagi sekarang, aku hanya ingin bersamamu, aku.. aku nggak mau kita di pisahkan” cecarnya bertubi-tubi, aku hanya tertunduk mendengarnya.
    Aku tak mampu menjawabnya, jika ditanya, aku ingin, sangat ingin, apapun akan kulakukan agar bisa bersamanya. Tapi aku sadar, aku tak sendiri, masih banyak sekitarku yang harus aku perhatikan. Untuk apa menggapai kebahagiaan sendiri jika harus mengorbankan banyak orang. Orang-orang yang sudah menyayangi dan peduli padamu ? aku tak menolak, aku hanya belum bisa menjawabnya, mungkin sekarang, atau selamanya.

    “kita jalani dulu ini perlahan ga, kita pasti bisa, kita jangan bertindak gegabah.. kita nggak boleh egois, berusaha mengejar kebahagiaan dengan mengorbankan orang lain”

    “tapi aku capek gini terus kak..” sahutnya lirih.

    “kita pasti bisa ga, kita akan lewati ini sama-sama” kataku sembari mempererat genggamanku, ingin sekali aku memeluknya saat ini, merasakan hangat dekapannya, tapi itu terlalu gila kami lakukan di sini.

    ***

    Aku langkahkan kakiku menyusuri jalan setapak di taman ini, salah satu tempat favoritku di kota ini. Tempat teduh dan menenangkan seperti ini rasanya sangat langka di kota ini. Langkahku terhenti di salah satu sudut taman ini, ada sebuah kursi taman tertata di samping rerimbunan pohon ketapan yang berdiri kokoh dengan tinggi ideal. Aku berbelok menuju kursi taman itu, begitu sampai , ku henyakkan pantatku di kursi itu, kuluruskan badanku sembari kedua tanganku saling kukaitkan menyilang di atas dadaku. Aku erjamkan mata merasakan belaian angin malam yang dingin, 10 menit berlalu baru kurasakan betapa dinginnya malam ini, sewater yang ku kenakan tak cukup tebal untuk menghadang terpaan angin. Namun rasa dingin itu tiba-tiba hilang begitu kurasakan sesuatu di lingkarkan ditubuhku, perlahan ku buka mataku.

    “ss..sely ?”

    “hehe.. kakak kok disini sih, kan dingin ?”

    “kkamu sejak kapan disini ? tadi kakak nggak lihat kamu di rumah ?”

    “aku kan les piano kak, hari ini jadwalnya malem” jawabnya yang hanya mendapat ‘o’ panjang dariku.

    “kamu ikutin kakak yah ?”

    “ng..enggak kok, aku nebak aja kakak di sini.. abis sering banget sih kakak ke sini”

    “berarti kamu sering ikutin kakak kaan ?”

    “ups.. hehe..”

    “ckckck, kamu yah..”

    “he..kakak kenapa sih, selly perhatiin murung terus akhir-akhir ini?”

    “hmm.. nggak apa-apa kok sel, ada sedikit masalah aja”

    “soal kak arga kan kak ?” tanya selly sukses membuatku melotot.

    “kamu...?”

    “he.. iya.. aku udah tahu semua kok kak..”

    “hah ! maksud kamu ?..”

    “iya.. hubungann kakak sama kak arga, aku udah tahu semua”

    “hmmhh.. pasti aldo yang bilang yah..” dengusku kesal, rasanya tak ada yang bisa di bohongi lagi darinya.

    “hehe.. nggak kok kak, selly udah tahu semua jauh sebelum kak raffa dan kak aldo tahu 2 minggu yang lalu..” ujarnya dengan senyum tersungging di wajahnya.

    “hah ! kamu.. sampai tahu sedetail itu ? se..sejak kapan kamu tahu semuanya ?” decakku semakin kaget.

    “kakak masih inget kejadian di pantai waktu itu ? saat kakak kembali baikan sama kak arga ?”

    “hah ! berarti kamu ?”

    “iya, aku ada di situ saat itu”

    “hmmphh.. kenapa kamu sampai mencari tahu sejauh itu ?” dengusku resah.

    “hehe. Itu semua karena aku sayang sama kakak..”

    “hah ! maksud kamu ?”

    “ihh.. kebanyakan ‘hah’ nya kakak nih, hihi.. iya..selly udah sayang sama kakak sejak lama”

    “kamu yakin dengan ucapanmu ? kamu tahu sendiri kan aku bagaimana”

    “iya.. aku tahu, tapi di kamus aku nggak ada laki-laki yang nggak bisa suka wanita kak, aku akan coba buktiin itu kalo kakak kasih aku kesempatan” ujarnya sembari tersenyum.

    Aku tak habis pikir dengan anak ini, terbuat dari apa hatinya sampai bisa menyukai laki-laki sepertiku. Aku kagum dengan kekuatan hatinya, tapi.. soal permintaannya itu, rasanya masih terlalu berat dan muluk untukku.

    “aku nggak minta kakak jawab sekarang, aku cuman mau kakak mikirin semua itu, aku yakin kakak cukup dewasa kan untuk menyikapi semuanya... udah malem kak, kakak belum mau pulang, aku mau pulang nih, mama pasti udah nyariin..” ujarnya berbalut senyuman.

    “biar kakak yang anter sel..”

    “hah ? oh.. iya kak” sahutnya setengah tersipu.

    ***

    23.34 malam, kami masih di perjalanan menuju rumah selly. Sejak awal naik tadi, ia terus saja senyam senyum sendiri. Aku paham perasaannya, sekaligus bingung. Aku harusnya merasa beruntung, dengan keadaanku yang seperti ini, masih ada wanita yang dengan tulus menyayangiku. Tapi apa mau di kata, hati tak mungkin di paksa. Sepanjang perjalanan terasa sekali pelukannya sangat erat, kepalanya ia sandarkan ke bahu kiriku.

    “hmm.. ngapain sih senyam senyum sendiri ?” sindirku sembari melirik wajahnya

    “hah.. eh.. aku.. aku cuman seneng aja kak” sahutnya tersipu.

    “hmm.. makasih ya sel ?”

    “makasih ? buat apa kak ?”

    “buat kamu.. buat semuanya..”

    “hah.. oh.. iya kak..”

    “hmm oke, anyway jadi turun nggak nih..?” tanyaku sambil melirik ke rumahnya yang sudah di sebelah kita, saking asyiknya ia sampai tak sadar motor sudah berhenti.

    “hah ?! eh.. aduh.. hehe.. iya kak, maaf..” sahutnya kalut, perlahan ia turun dari motorku sembari melepas helmnya.

    “makasih tumpangannya kak..” ujarnya sembari memberikan helmnya padaku.

    “iya sama-sama, kakak pulang yah..”

    “i..iya kak” sahutnya lalu berbalik menuju rumahnya, segera ku putar balik motorku.

    “kak !!!” tiba-tiba selly memanggilku lagi, dengan cepat ia berlari mendekatiku, dan CUP !, satu ciumannya mendarat di pipiku, aku masih mematung tanpa suara.

    “selly sayang sama kakak” bisiknya seraya berlari masuk ke dalam rumah.

    "..." tak sepatah katapun keluar dari mulutku, selain ekor mataku
  • @renlyRain: ada typo di sewater (sweater).
    Benar-benar complicated ya tapi masih terasa alami, gak berlebihan. :)
  • @Zhan wajahku memerah membaca sanjunganmu ^^
  • Adam08 wrote:
    @renlyRain: ada typo di sewater (sweater).
    Benar-benar complicated ya tapi masih terasa alami, gak berlebihan. :)

  • Complicated..........
    Tetep 2 kata komentarnya...
    Unyu-unyu ;)
  • dhie_adram wrote:
    Complicated..........
    Tetep 2 kata komentarnya...
    Unyu-unyu ;)

    picmu lebih unyu-unyu-unyu wkwkwkwkwkwk ^_^
  • laannjjuutt...

    *gak bsa brkta apa* lgi*
  • @renlyrain. Jujur setelah baca crita u yg ini rasanya terlalu crowdit bgt deh critanya dan terlalu byk pemerannya jd bikin bingung dr awal baca sampai yg terakhir halaman 5 ini crita tidak masuk n tdk dpt dimengerti lain sama crita u yg pertama sblm crita ini dr awal baca dah kliatan bagus critanya nyambung dibacanya. Gitu aja sih sdikit apa ya ini namanya.... Pemberitahuan kl ya dr pembaca. Hehehe
  • @bioreric_80 hmmm thanks untuk koreksinya, saya memang mnggunakan 4 sudut pandang utama di cerita ini, di tambah beberapa part yang ditulis menggunakan sudut pandang penulis, saya coba bereksplorasi dengan gaya penulisan spt itu, smoga aja stlh ending [mbaca ngga lagi mengeryit bingung dgn alur nya , amiiiiiin ^_^
  • edited February 2012
    NEXT UPDATE ^^ enjoy !

    >> SIDE ALDO

    Kepalaku sejak tadi tak bergeser, posisi tangan dan tubuhku pun tidak. Rasa pegal sudah menyerang dari tadi tapi aku masih enggan bergerak. Ada sosok makhluk indah tertidur di lenganku, terlelap dengan wajah damainya, mungkin ia tengah bermimpi sekarang. Ah.. dalam jarak sedekat ini rasanya ia terlihat seratus kali lebih manis dari biasanya, gurat senyum di wajahnya mempertegas garis wajahnya yang mengalur mengikuti kedua sisi dagunya. Sungguh mahakarya yang Kuasa.

    “hmphh..” desisku begitu merasakan tanganku kram.

    Pegal yang sangat menyiksa ini agaknya tak sebanding dengan rasa bahagia yang kurasakan saat ini. Raffa, tertidur pulas di dekapanku. Apa lagi yang lebih indah dari ini ? aku tahu tipe tidur raffa seperti apa, jika sudah lelah, ia takkan terbangun walau ada badai yang menerjang kamarnya.

    Berbekal itu aku beranikan diri membelai wajahnya, wajah indah ini.. wajah yang sudah bertahun-tahun mengisi hatiku, wajah yang tak sekalipun absen bertandang ke mimpi-mimpi indahku, wajah yang selalu memberi semangat untukku menjalani hidup, wajah teduh yang selalu bisa memberiku kedamaian memandanginya. Ku belai lembut rambutnya, menyingkapnya ke atas agar aku bisa lebih jelas melihat lekuk wajah manisnya yang bagiku sangat sempurna.

    Aku tertawa kecil melihat beberapa jerawat nakal yang tanpa permisi tumbuh di atas dahinya, kata orang jika seseorang berjerawat jarang seperti itu tandanya ia tengah menyukai seseorang. Aku menggumam sesaat.. ku tepuk perlahan kepalaku begitu menyadari aku membayangkan bahwa orang yang di sukainya itu aku.

    Bodoh kamu aldo ! terus saja mengkhayalkan sesuatu yang jelas-jelas mustahil menjadi milikmu !

    Tapi apakah salah ? meng-angankan memilikinya pun aku tak boleh ?
    Rasanya dunia ini begitu kejam, mengapa harus ada cinta semacam ini ? kalau memang haram, kenapa cinta ini harus ada ? kenapa semua manusia tak di ciptakan hanya dengan rasa suka terhadap lawan jenisnya saja.

    Seolah terhipnotis, perlahan-lahan ku dekatkan wajahku ke wajahnya, semakin dekat dan semakin dekat.. aku tak tahan lagi, aku ingin merasakan bibir itu walau singkat, bibir yang suah lama sekali ku inginkan. Tersisa beberapa senti lagi jarak bibirku dengan bibirnya,satu gerakan kecil saja bibir kami akan bertemu. SRTTHH... tiba-tiba raffa bergerak, tubuhnya menggeliat sesaat seraya melingkarkan pelukannya di tubuhku, ia berbalik, kini tubuhnya menindih separuh bagian tubuhku, pelukannya begitu erat di pinggangku, dan bibirnya kini bersarang di pipi kiriku, astaga, ia mengiraku gulingnya !

    Wajahku terasa panas dengan ciuman raffa di pipiku. Kian lama pelukannya kian erat, kaki kirinya melingkari kedua pahaku, tubuhku benar-benar terkunci sekarang. Jantung ini serasa berdetak seratus kali lebih cepat dari sebelumnya, desiran darahku terasa sampai ke ubun-ubun, membuat tubuhku sedikit bergetar. Ya tuhan, aku tak akan bisa tertidur kalau begini terus.

    Sejam berlalu, posisi kami masih tak berubah, raffa terus merapatkan pelukannya, bibirnya pun masih melekat di pipiku, tubuhnya agak sedikit bergetar mungkin karena tak tahan sengan hembusan angin malam, bagaimana tidak, selimutnya sampai tersingkap tak karuan. Perlahan ku geser tubuh raffa ke samping lagi, ku singkap kakinya dari pahaku, ku luruskan kembali tubuhnya seraya ku menyelimuti tubuhnya dengan selimut. Ia masih terlelap dengan gurat senyum kecil di wajahnya. Aku masih menatapnya sampai beberapa puluh menit kemudian sampai ku rasa kan kantuk benar-benar mulai menyerangku. Entah jam berapa aku mulai terlelap.

    ***

    Mataku perlahan terbuka begitu merasakan cahaya matahari menimpa mataku, perlahan aku beringsut bangun dari ranjang, ku gapai tongkatku yang bersandar di bufet samping ranjang, ku topang tubuhku dengan tongkat lalu mulai berdiri. Sudah hampir sebulan semenjak kejadian di kampus waktu itu, sakit di kakiku sudah tak begitu parah, namun tetap saja untuk berjalan aku masih mengandalkan tongkat ini.

    Aku tak melihat raffa, dia juga tak ada di kamar mandi. Ah.. anak itu pasti di dapur, kenapa sih dia selalu sibuk tiap aku sakit sedikit saja, penyakitnya yang satu ini pasti kambuh. Sebenarnya aku juga senang mendapat perhatian lebih darinya seperti saat ini. Tapi rasanya risih juga jika terus-menerus seperti ini. Jam masih menunjukan pukul 06.21, masih setengah 7 kurang tapi dia sudah sibuk di dapur.

    “eh..eh..eh.. kamu kok udah bangun sih, kan masih dingin duhh..” dengan masih memegang spatula di tangannya dan tubuh berbalut celemek bik tantri raffa gelagapan memapahku ke meja makan.

    “nggak usah panik gitu kali raff, aku nggak apa-apa kok..” sahutku risih.

    “hmm.. kamu nih, ntar aku handle nasi gorengnya dulu..” ia kemudian berbalik menyelesaikan pekerjaannya tadi, 10 menit kemudian nasi goreng buatannya siap.

    “hmmmhh... harum banget raff..!”

    “hehe, raffa gitu ! ini nasi goreng resep rahasia keluarga aku, hehe..”

    “hmm.. kayaknya aku inget nasi goreng ini raff..” sahutku sedikit berpikir.

    “masa sih ? emang pernah liat di mana”

    “aaku nggak yakin sih, tapi rasanya femiliar aja gitu”

    “hmm, hehe.. iya do, nasi goreng kayak gini tuh yang selalu di bikinin papa rangga buat kita-kita semasa hidupnya, kalo lagi kangen aku pasti bikin nasi goreng ini, hmm yaudah ah, ayo makan ntar keburu dingin”

    “yaudah..”

    “pagi kak, pagi kak raffa, wah.. enak nih.. minta yah..” selly yang beru bangun menghampiri kami sembari mengucek matanya.

    “eh..eh..eh.. tu tangan gatel banget sih.. ambil tuh yang masih di wajan..”

    “yah kak raffa, kan tinggal dikit, pelit amat..”

    “yaudah ama wajan-wajannya sekalian biar banyak..”

    “huhh... tega amat sih.. kalo sama kakak aja di manjain, hmm.. ntar aku engkelin kaki deh biar di manjain sama kak raffa hahaha..”

    “hush ! dasar kamu nih.. udah sana ambil nasi gorengnya, masih cukup kok..”

    “hehe.. beneran kak ? asik”

    “kamu nggak makan raff ?”

    “udah kamu makan aja, aku udah makan pisang kukus bik tantri tadi,
    enak banget sampe 5 bungkus aku abisin, hehe..”

    “ooo..”

    “emmhh.. enak banget nasgornya kak ! ajarin selly nanti buatnya yah ?”

    “sipp, abisin cepet nasi goreng kamu, jangan telat ke sekolahnya”

    “sipp kak”

    ***

    “kamu kenapa sih raff ? kayaknya seneng banget ni hari ?” tanyaku pada raffa yang tengah berbaring di pangkuanku.

    “hehe masa sih do ?” sahutnya sambil memandangi layar ponselnya tanpa jengah.

    “iyaa.. dari tadi senyam-senyum sendiri mandangin layak hape, mang ada apa sih ?”

    “hehe.. liat deh !” ia menyodorkan layar ponselnya kepadaku, ada foto wanita yang aku kenal, dadaku tiba-tiba sesak melihatnya.

    “i..iya ini foto Cheryl.. kenapa emangnya?” raffa kini bangkit dari baringannya lalu menghadap padaku, kedua tangannya berada di pundakku.

    “do ! aku lagi seneeeeeng banget sekarang do ! si cheryl mau jawab tembakan aku kemarin..” ujarnya dengan mata berbinar.

    “hah ! kemarin ? kkamu nembak dia ?”

    “i..iya do, dan dia mau jawab entar malem do di acara ultahnya ! aku gugup banget do ! doain aku yah do ?”

    “i..iya raff, aku.. aku selalu doain kamu” sahutku sembari menyunggingkan sebuah senyuman padanya, senyuman tersulit yang pernah ku berikan, dia langsung menarik punggungku da memelukku erat.

    “makasih do ! kamu memang sahabat aku yang paling baik, aku janji apapun hasilnya nanti, kamu adalah orang pertama yang mendapat kabar itu dari aku, thanks do..” sahutnya dalam pelukanku.

    Ia kembali beringsut ke pangkuanku, kini matanya terpejam menikmati alunan musik dari headset i-podnya. Susah payah ku sunggingkan senyuman di wajahku tiap dia menatapku, tapi rasanya sulit sekali. Untuk menahan tangis ini keluar saja rasanya sukar sekali apalagi untuk tersenyum ? hati ini bagai tesayat sembilu mendengar apa yng barusan di ungkapkan raffa. Aku berkali-kali sudah berusaha mengatur mindsetku, raffa itu normal, ia tak mungkin memilihmu, ia tak sepertimu. Tapi entah kenapa rasanya tetap sangat sakit mengetahui semua itu, aku bisa apa ? aku tak punya hak sedikitpun dalam hidupnya..

    Ku pandangi wajah indah itu, gurat senyum kebahagiaan tersirat betul di wajahnya, aku bisa bayangkan betapa bahagianya sekarang. Sebentar lagi ia akan mendapatkan cintanya, aku tak ingin merusak kebahagian itu. Aku tahu cheryl, aku bersahabat dengannya sejak smp dulu,aku yang mengenalkan cheryl pada raffa saat baru masuk kuliah dulu, aku juga sudah menduga raffa menyukainya , dan agaknya cheryl tak akan menolak permintaan raffa untuk menjadi kekasihnya. Namun entah kenapa rasanya tetap sakit bila menyadari kalau itu akan benar-benar terjadi. Aku harus kuat, airmata ini jangan sampai jatuh di hadapannya. Aku mencintainya, memang, tapi bukan berarti aku harus memilikinya, bahagianya harus kujadikan bahagiaku juga. Aku tak ingin merusak persahabatan yang sudah terjalin ini dengan rasa ini. Biarlah rasa ini kupendam selamanya. Biar hanya aku dan tuhan yang tahu.

    ##################################################################################################################################################################################################################
Sign In or Register to comment.