BoyzForum! BoyzForum! - forum gay Indonesia www.boyzforum.com

Howdy, Stranger!

It looks like you're new here. If you want to get involved, click one of these buttons!

Selamat datang di situs Boyzforum yang diarsipkan oleh Queer Indonesia Archive. Forum untuk komunitas gay Indonesia yang populer ini didirikan pada tahun 2003, dan ditutup pada tanggal 15 Desember 2020.

Forum ini diabadikan untuk kepentingan sejarah. Tidak akan ada konten baru di forum ini. Silakan menikmati forum ini sebagai potongan dari sejarah queer Indonesia.

Mahesa,Lelakiku

11011131516

Comments

  • nah nyahoookk tu ananta dim bakal 'pengganggu' kah???
  • nah lo ...
  • 38)

    ***
    "Om sama tante jarang pulang ke sini kah bik?"

    "Ga mesti sih den,kadang sebulan dua kali,klo kgn sama den satria,"

    "Iya,abang kan emng ngangenin hihihi,"

    "Oh ya den bibik bikinin honey tea dulu ya buat den Dim,"

    "Ahh bibik masih inget aja my fav drink hehe mksh bik,"

    "Inget dong den Dim kan lama tinggal disini masa lupa kebiasaan2 aden,"

    "Hehe iyaa bik jd terharu,eh iya bik tadi ada cowok disini mana bik? Siapa dia bik?"

    "Oh..eh..em..itu..duh gimana ya? Itu den..dia..den Ananta,pacar den Satria...,"

    "......."

    "Yaudah den bibik ke dapur dulu bikinin aden minum,aden istrihat aja di ruang tv,"

    "Bik...,"

    "Ya den..."

    "Udah lama kah?"

    "Apanya?"

    "Hubungan mereka.."

    "Em..bibik kurang tau den..,"

    "Sejak kapan dia stay disini?"

    "Em..sekitar dua mingguan lah.."

    "Oh..okay thanks bik,"

    "Ya den,permisi dulu..,"

    Dari dalam kamar aku menguping percakapan bibik dengan lelaki yang belakangan kutahu bernama Dimitry,yg baru tadi pagi diceritakan oleh bik sum.

    Melihat postur tubuhnya,wajah indo jermannya,bersih kulitnya,mancung hidungnya,jenaka sinar matanya,seksi bibirnya,stylist fashionnya,benar benar membuatku cemburu setengah hidup.

    Kekasihku pernah memiliki lelaki sesempurna itu!
    Hatiku sakit membayangkan bagaimana Satria dulu mencintai lelaki blasteran itu.
    Dadaku sesak memikirkan bagaimana manisnya kebersamaan mereka dulu.

    "Hi..can me join with u there?"

    Aku menoleh kaget ke arah pintu yg dibuka tiba tiba.
    Dimitry masuk kamar dan menghampiriku.

    "Ga ganggu kan?"

    Aku menggeleng pelan.
    Lelaki itu mengulurkan tangan.

    "Dimitry..you can call me just Dim,"

    "Ananta,bisa panggil Ta,atau An,atau apa aja terserah,"

    Aku menyambut tangannya enggan.

    "Apa aja terserah,berati bisa panggil dono atau kasino atau indro juga ya?"

    Dia memamerkan deretan giginya yang bersih terawat.

    "If you like,"

    Aku membalas tersenyum tipis.

    "Harusnya kmu timpali "warkop DKI kali ah dono kasino indro,"

    Yee,mulut mulut saya knpa dia yg ngatur.

    "Asli jakarta sini?"

    "Semarang,"

    "Wow from java, my parent very exited all about java,last year we come jogjakarta,solo and then surabaya,very nice place,"

    Aku hanya manggut manggut malas.

    "So are you working in here? Or study?

    "Work,"

    "Where are you working?"

    "XXX bank,"

    "Uhm..okay..,"

    "Oke juga,"

    "Sorry?"

    "Nothing,"

    "Boleh aku tanya about something? Yang sifatnya personal?

    "You can do,"

    "Uhm..dimana kenal abang?"

    "Abang?"

    "Abang Satria i mean,"

    "Oh..di forum,"

    "Huh? Forum? What is that?"

    "Forum gay di sebuah situs online,"

    "Ohh ya ya ya,sejak kapan dia suka main situs forum gay? Perasaan dulu ga doyan gituan,"

    Aku menggeleng enggan.

    "Berapa lama hubungan kalian?"

    "Belum lama,mungkin beberapa bulan terakhir ini,"

    "Uhm..kamu..mencintai abang?"

    Pertanyaan konyol.

    "Of course,"

    "I know..he is good person,i love him too so much,"

    "Huh?"

    "Ehhh i'm so sorry,"

    "No problem,"

    "Eh den Dim disini toh bibik cariin ,udah makan belum den? Bibik bikinin udang saus tiram kesukaan aden ya? Dikulkas ada bahan bahannya tuh?"

    "Ga usah bik ntr dim aja yg masak sendiri,sekalian masakin abang,"

    "Huh? Den Satria lg di bandung den ada tugas disana,pulangnya baru besok malam,"

    "Huh? Di bandung? Ihhh abangg disamperin malah pas pergi!"

    "Kan den Dim nya yg ga ngabarin dulu,bibik kira malah udah ga bakalan kesini lagi sejak menikah,"

    "Sini deh bik Dim pgn curhat,"

    Bik Sum mendekati kami yang duduk di sofa di dalam kamar,beliau ikut duduk di samping Dimitry.

    Lelaki itu menyandarkan kepalanya ke pangkuan bik sum sebelum bercerita.
    Aku memalingkan muka,cemburu melihat sedekat itu hubungan mantan Satria dengan asistan rumah tangga kekasihku.
    Bik Sum membelai kepala Dimitry seolah itu putranya sendiri.

    "Natasha itu bawel bik,banyak nuntut ini itu,posesif,cemburuan,setahun hidup sama dia berasa di neraka! Dia sangat merongrong kehidupan Dim,banyak ngatur,ngebatasin ruang gerak Dim,benar2 ilang kebebasan Dim sama tu cewe sialan,tapi Dim terus bertahan demi mama...sampe akhirnya dia yang nyerah karna Dim ga pernah mau diajak make out! Hahahaha"

    "Hah??apa itu? Apa artinya den?"

    "Ohh make out itu ml bik,bikin anakkk hahaha,"

    "Astagfirullah,"

    "Jahaha abis Dim ga doyan cewe kan bik mana bisa tidur sana cewe!"

    "Jadi setaun tuh ga ehem ehem den??seriusan?"

    "Pernah nyoba sekali,Dim lari ke kamar mandi liat dia telanjang!jadi belon ngapa2in hahaha,"

    "Duh Gustiiii dennn kok iso koyok ngono!"

    "Ya gimana bikk dim doyannya batangan disuru mainan apem ya ga bisaaa lahh,"

    "Setidaknya berusaha lah den kan udah nikah,gmn mau punya anak klo bikin anak aja jijik sama cewe!"

    "Hehehe ogah bik geliii,"

    ",tapi kok istri aden bisa bertahan setahun ya tanpa ehem ehem?"

    "Harta bikk,biasaa,dia bertahan karna kekayaan papa dim!"

    "Husshh ga boleh suudzon ah den sama istri sendiri!"

    "Bekas bik bekas istri,bukan istri lagi,"

    "Oalah denn..den..jadi aden sekarsng duda nih?"

    "Yoii bikkk,durenn nihh,"

    "Ckckck yawis cari istri lagi aja deh den,"

    "Dihh ogahh,orang cerai karna ga doyan cewe malah suru cari cewe lgi,"

    "Lha trus karepe pie toh den?"

    "Pengennya balikan sama abang lagi!"

    ......

    Hening.
    Tidak ada suara lagi.
    Tidak terdengar percakapan lagi.
    Aku menahan perasaan.
    Kulirik bik sum yang curi curi pandang ke arahku.
    Kulirik Dimitry yang melakukan hal yg sama,mencuri pandang kepadaku.

    Ddrrtt drrttt drrttt.
    Getar ponselku memecah keheningan yang menaungi kami.
    Kuraih ponsel,kulihat penelepon.
    Satria.

    "Halo? Ah iya bang,udah kok,oh iya iya bang,pulang hari ini? Katanya besok sore? Lokasinya kurang bagus? Ohh iya iya bang oke..em..iya...love u too..,"

    Dimitry menatapku,tatapanya sulit kuartikan.

    "Den Satria pulang hari ini?"
    Bik sum memandangku.

    "Iya bik,lokasi shootingnya kurang oke,"

    "Ohh yaudah bibik masak buat ntr sore sekarang aja sebelum aden pulang,"

    "Aku aja bik yg masakin abang!!"

    Aku dan Dimitry berseru berbarengan.
    Kami lalu saling pandang.
    Bik sum menatap kami bingung

    "Udah bibik aja,aden aden berdua istrihat aja,"

    "Tapi aku lama ga masakin abang bik,"

    "Tapi aku belum pernah masakin abang bik,pgn nyoba,"

    "Emang bisa masak??ga usak sok deh!"

    "Situ yg sok,mentang mentang bisa masak terus belagu!"

    "Yeeyy emng aku bisa masak kok,abang paling suka masskanku!"

    "Tapi bang Satria paling suka makan kusuapin!"

    "Hahaha timbang gitu doang,dia udah beribu kali suap2an sama aku!"

    "Tapi itu dulu! Sekarang dia pacarku bukan pacarmu!"

    .....

    Dimitry diam.
    Sukurin,dia kalah sekarang.
    Tanpa memandangku lagi dia bangkit dari sofa.

    "Bik aku mo tidur dulu di kamar tamu sambil nunggu abang pulang,"

    Tanpa memandang bik sum juga dia berkata lalu menghilang keluar kamar.

    "Ma..maafin den Dim ya den Ananta,maaf.."

    Tergagap asistan rumah tangga satria berkata padaku.
    Kenapa malah bik sum yang meminta maaf.

    "Bibik ga salah apa2 jgn minta maaf,"




    ******
    "Biiikk bikk summm,itu kok ada mobil Dim didepan???!!"

    Aku mendengar teriakan Satria dari dapur.
    Aku tengah membantu bik sum menyiapkan makan malam ketika kekasihku itu datang dari bandung.
    Huuff,mobilnya aja dia hafal.
    Tiba tiba aku kesal.

    "Iya den,den Dim disini,"

    Bik sum menyambut tuannya yg memag memegang sendiri kunci rumah.

    "Huh??dim disini?? Serius bik??!"

    "Yesss i'm here honey,do you miss me hm?"

    Dari arah kamar mandi dimitry muncul dan langsung merentangkan kedua tangan dihadapan Satria.

    "Oughh shittt!! Honeyyy!!"

    Satria langsung menghambur memeluk tubuh Dimitry,erat sekali.

    "I miss you my man!"
    Dimitry berdesis mesra.

    "Miss you too so much my sweetheart!"
    Satria menciumi pipi Dimitry.

    "Ee....den..den Satria...e..maaf..ini dicari den Ananta,"

    Bik sum tergagap berucap sambil melihatku yang berdiri mematung menyaksikan pemandangan menyakitkan didepan mataku.

    "Sayang!!"

    Satria kaget lalu spontan melepas pelukannya pada tubuh dimitry.
    Lelaki itu menghampiriku,namun sedetik kemudian berhenti dan menoleh ke arah dimitry.
    Kesadaranku kembali muncul,aku langsung beranjak angkat kki dari ruangan itu menuju kamar tanpa menoleh lagi.

    "Ta!"

    "Bang,dim kangen,"

    "Iya Dim tapi..,"

    "Yaudah deh Dim pulang aja,"

    "Jangan! Eh..tapi..,"

    "Dim udah cerai sama Nat bang..,"

    "What???"

    "Dim ga mampu berpaling dari abang,"

    "Dim...,"

    "Dim just loving you,still you,"

    "Tapi...,"

    "Demi abang dim tinggalin Nat..,"

    "Dim..,"

    ",jadi sekarang dim minta tinggalin dia buat aku bang,"

    "Whatt!"

    "Klo itu ga bisa yaudah dim mo pergi ikut papa ke jerman aja,"

    "Jangan!..."

    "Tinggalin dia...,"

    "Dim please...,"

    ......

    Aku memegangi dadaku yg nyeri sambil mendengar percakapan kekasihku dan mantan bf nya dari kamar.
    Hatiku sakit sekali.
    Aku memukul mukul bantal.
    Kutumpahkan airmataku disana.
    Bayangan satria memeluk lelaki lain yg tadi kusaksisan sendiri begitu menyakitkan perasaanku.
    Mata satria yang berkilat kilat senang melihat keberadaan dimitry.
    Seruan kerinduannya pada masa lalu terindahnya.
    Semua itu cukup menjelaskan bsgaimana posisi dimitry dihati satria.
    Sangat special.

    Entah dari mana datangnya tiba tiba berkelebat bayangan seseorang dibenakku saat aku masih menangisi kesakitanku.
    Bayangan Mahesa.
    Oh Tuhan,jadi begini rasanya terluka seperti yg dialami lelaki baik itu.
    Tangisku makin pecah mengingat bagaimana satria menyetubuhiku di depan mata mahesa tanpa belas kasihan sedikitpun trhdp lelaki itu.
    Perihku tidak ada apa2nya dibanding luka batin lelaki berhati malaikat itu.

    "Sayang..sayang maaf..sayang maafin abang..,"
    Satria tiba tiba sudah masuk kamar dan mendekapku dari belakang.
    Kukibaskan tangannya kasar.
    Airmataku masih bercucuran.
    Memalukan sekali!
    Aku seperti perempuan yg meratapi lelakinya yg ketauan berkhianat.

    "Sayang jangan menangis..sayang maafin abang.sayang...!"

    Satria berusaha meraih tubuhku kepelukannya,aku berontak sekuat tenaga.
    Terjadi aksi saling tarik dan saking dorong diantara kami.

    "Lepahhsinnn!!"
    Dengan suara yg masih terisak aku berseru pada satria yg memegang pergelangan tanganku kuat kuat.

    "Sayang jgn begini pleaseee,"

    "Lepaasss jgn sentuh akuuu!!"

    "Sayang dengerin abang dengerr dulu sayang!"

    "Gak!!ga mau!pergiii!!"

    "Sayang Dimitry itu cuma masa lalu abang,dia udah ga ada artinya buat abang,percaya abang sayang,"

    "Oh yaa???lalu kenapa abang peluk dia,cium dia hahhh!! Bulshitt!!!"

    "Karna dia masih mencintaiku ,bodoh!!"

    Dimitry masuk kamar dan menghampiri kami yg duduk di ranjang,dan yg dilakukanya kemudian betul betul mengejutkan kami.
    Lelaki itu melucuti pakaian satria dengan gerakam cepat,lalu dilepaskannya juga pakaiannya sendiri,lalu ditindihnya tubuh kekasihku di ranjang dengan kasar.
    Di ciuminya seluruh bagian muka satria dengan ganas.
    Satria meronta ronta menolak perbuatan dimitry,tapi tak digubris sama sekali.
    Malah lelaki itu turun ke selangkangan satria dan langsung mengulum batang kemaluan kekasihku tanpa ampun.

    "Ougghhhhh Dimmmm,don't!! Dimm pleaseee awwhhh oughhh dimm!!"

    Satria berseru antara nikmat dan melarang apa yg dilakukan mantan kekasihnya.

    "Fucking me honey fuck me!!"

    Aku menutup mata dengan kedua tanganku.
    Aku ingin pergi,ingin berlari,tapi tenagaku seakan tidak ada sama sekali.
    Namun anehnya aku malah bisa menjerit kencang;

    "Bang Mahesaaaaaaaaaa!!!!!!"
  • Oh my gosh.. Dimbitch!
  • rasaaakaaan anantaa
  • Karma berlaku
  • @Riyand yes you right bro
    @jjsssan thanks for supporting my stories always ma bro
    @Aurora_69 karma itu ada ya bang,cepat atau lambat,mksh ya bang kehadirannya,oh ya minta tolong mention saya klo my beloved askar up tiap part nya ya
    @bayu15213 maaf bang klo mention saya ganggu,besok2 saya ga kan lgi lakuin itu,thanks pernah mampir dan memberi masukan positif pada tulisan saya :)

    *entahlah tapi suasana hati sedang melow,kesal,sedih etc etc.
  • @lulu_75 bagaimana penulis amatiran mengatasi rasa kesal dan hilang mood and feel untuk nulis lgi bang? mohon masukannya
  • edited September 2016
    @RakaRaditya90 aku hanya pembaca tapi kalo mood ku turun biasanya dengerin musik atau jalan-jalan kemana saja mencari udara segar supaya perasaan atau mood kembali lagi ... yang sabar ya ...
  • 39)

    ***
    "Bik aku mau pulang,"

    Sambil menahan gelegak amarah di dadaku aku menghampiri bik sum dikamarnya.
    Wanita seusia ibuku itu mendekat lalu menuntun tanganku menuju ranjang tidurnya.
    Ia dudukkan aku di tepi kasur.
    Ia genggam tanganku erat,seolah mengalirkan kekuatan melalui genggaman itu.
    Bik Sum pasti tau apa yg terjadi antara putra majikannya dan diriku.

    "Kuat ya den..,"

    Aku luruh di pangkuan bibik.
    Kutumpahkan tangisku disana.

    "Den Dim knp seperti ini duh gustii,sabar ya den An,"

    Tangan tua bik Sum membelai belai kepalaku.
    Isakkku makin kencang.
    Aku jadi rindu ibuku.

    "Bik aku mau pulang aja,"

    Aku mengangkat kepalaku dan memandang wajah bibik dengan perasaan sakit.

    "Pulang kemana den udah malem,"

    "Ke bekasi bik ke kontrakanku yg dulu,"

    Aku tau bang Mahesa kembali ke kontrakanku dari bang Jack,tetangga kontrakan sebelahku.
    Dia pernah bbm mengatakan klo abang menempati kontrakanku sendirian.

    "Besok aja ya den pulangnya,sekarang aden istirahat dulu di kamar tamu ya,"

    "Engga bik aq mau pulang sekarang,"

    Aku tak sanggup memaafkan perbuatan satria dan mantan kekasihnya itu.
    Tidak sama sekali.
    Aku tidak sudi lagi berada di rumahnya ini.
    Aku jijik pada mereka.
    Aku benci sekali.

    "Yaudah klo den An bandel mo pulang,biar bibik antar ya,"

    "Antar? Ga usah bik kan motor ku disini,"

    "Ya bibik aden bonceng,bibik ikut aden pulang,nanti pulang kesininya lagi biar bibik naik bus,"

    "Duh bik ngapain bibik ikut sih?"

    "Bibik ga mau den An bunuh diri!jadi bibik harus ikut buat mastiin aden ga macem2,"

    "Astaga bikk bunuh diri??aku ga sesempit itu lah bik,cuma karna mereka aku mengakhiri nyawaku?najis!"

    "Bibik ga mau tau,pokoknya bibik mau ikut,aden tu sedang kalut,ga baik pulang sendiri,takut ada setan lewat nemplokin aden trus aden nekad nabrakin motor ke tiang gimana,klo bibik mbonceng kan pasti aden ga berani nyelakain bibik,"

    Astaga.
    Ada ada aja pikiran bibik.
    Dalam perasaan sedih aku masih menahan tawa karna pikiran asistan rumah tangga Satria ini.
    Baiklah,kuanggap ini sebgai bentuk kepedulian wanita tua yg sudah bersamaku di rumah ini selama kurang lebih 3 minggu.

    "Makasih ya bik,bibik baik sekali sama Ananta,"

    Aku memeluknya.
    Kami keluar dari rumah itu tanpa pamit,aku tidak akan menggambarkan apa yang tengah dilakukan dua lelaki di kamar tidur tanpa keluar sekejap saja itu.
    Membayangkan saja aku tak mau.

    ***
    Sepanjang perjalanan jakarta bekasi memboncengkan wanita berumur hampir lanjut sungguh membuatku hampir gila.
    Setiap saat bik sum berteriak teriak memintaku mengurangi kecepatan.
    Ckckck.

    Sepanjang perjalanan pikiranku juga dipenuhi wajah seseorang yg sudah kuhancurkan.
    Sebentar lagi aku akan kembali bertemu dengannya.
    Jika mau jujur tentu aku malu kembali pada lelaki berhati malaikat ini,sangat malu.
    Ia sudah hancur,berkeping keping,karenaku.
    Ia sudah luka,berdarah darah,karenaku.
    Sakitku terhadap apa yg kusaksikan bberapa jam yang lalu di kamar Satria sungguh tak sebanding dengan kepedihan Mahesa karna perbuatanku.
    Tak sebanding sama sekali.
    Ah,masihkah ia mau menerimaku?
    Masihkah ia sudi memaafkanku?

    Ketika kami sudah tiba didepan pintu kontrakan yang bberapa minggu kutinggalkan,aku terpaku.
    Untuk mengetuk pintu saja tanganku tak mampu.
    Perasaaan malu,takut,bercampur di hatiku.
    Aku menjijikkan.
    Menghancurkannya,meninggalkanya,lalu kembali kepadanya setelah terluka oleh orang lain.

    "Den? Kok malah bengong toh?ini rumah aden kan?bawa kunci ga? Atau ada teman atau sodara gitu di dalam?"

    Bik Sum menepuk pundakku.
    Aku menoleh lemah padanya.

    "Bibik aja yang ketuk,"
    Ucapku lirih.

    "Oh ada orang nya di dalam den,"
    Bik Sum mengetuk pintu dan mengucapkan salam.
    Ketika terdengar suara jawaban salam dari dalam hatiku bergemuruh.
    Suara itu!
    Abang Mahesaku!

    Aku mundur beberapa langkah.
    Menunduk berdebar debar menunggu lelaki cacat yang sudah kusakiti membukakan pintu.

    "Ya cari sia..."

    "Lohhh!!!Den!!Den Mahesa???!!"

    Aku tersentak kaget mendengar teriakan kencang bik Sum di depanku.
    Apa tadi??
    Aku tidak salah dengar kan?
    Bik Sum berteriak menyebut nama abang?

    "Astagfirullah dennnn , bibik cari cari kemana2 aden ngilang gitu aja dari panti,semua pengurus panti ga ada yg tau keberadaan aden,den Mahes kemana wae tohh denn,duh Gustiii,"

    Aku sama bengongnya dengan Mahesa ketika bik Sum jongkok memeluk tubuh abang erat erat sambil terisak isak.

    "Ma..maaf..maaf bu,ibu ini siapa ya?kok kenal saya?Ta? Ini siapa?"

    Mahesa menatapku bingung.
    Tatapan itu...
    Kenapa aku tiba tiba merasa hangat dan damai melihat tatapan polos itu.
    Kenapa aku baru merasainya sekarang.

    "Aden apa kabar? Makannya gimana?sehat sehat kan den? Ya Allah terimakasih sudah mempertemukan bibik lagi dengan den Mahesa,"

    "Apa ga sebaiknya kita masuk dulu bang?"

    Aku meraih tangan bik sum,kuajak berdiri dan masuk rumah.

    Abang pergi ke dapur mengambil air minum setelah aku dan bik sum duduk di ruang tamu.
    Lucu memang,aku seperti tamu di bekas kontrakanku sendiri.
    Kuedarkan pandangan ke sekililing ruangan.
    Bersih dan rapi sekali.
    Foto2 ku dan keluargaku masih tergantung dengan manis ditempatnya.
    Aku tersenyum tanpa sadar.

    "Ini silahkan diminum bu,Ta,"

    Mahesa menyorongkan dua cangkir teh dengan mulutnya ke hadapan kami.
    Bik sum kembali tersedu.
    Ia memandangi mahesa dengan sedih.

    "Kenapa aden pergi dari panti bbrapa tahun yg lalu?kemana saja aden selama ini?"

    Serak suara bik sum bertanya.
    Mahesa menatap bik sum dengan heran.

    "Maaf,sebenarnya ibu ini siapa?kenapa bisa tau tentang saya?"

    Bik Sum terisak sambil tangannya mengusap kepala mahesa.

    "Bibik tau aden orang yg kuat,bibik tau aden pasti bisa jalanin hidup meski berat...,"

    "Tolong bu,saya benar benar bingung,ibu siapa? Apa...ibu ini ibunya Ananta?"

    Aku kaget namaku disebut abang.
    Aku menggeleng pelan.

    "Den Mahes kenal den Ananta?kenal dimana den?"

    Duh si bibik.
    Daritadi ditanyain abang malah balik nanya padahal dia belum jawab.

    "Den?kalian kenal dimana?temen kerja kah? Atau temen dri panti?"

    Aku menggigit bibir.


    BRAAAAKKKKKKK!!!!

    Belum sempat kujawab pertanyaan bik sum kami dikejutkan suara dobrakan pintu di depan kontrakan.

    "SAYANG!! abang tau kamu disini!!keluarr!!"

    Aku kaget setengah mati melihat sosok satria berdiri di depan pintu sambil berkacak pinggang.

    "De..den..den Satria!!"

    "Bibik juga disini??!!"

    "Satria..."

    Mahesa berdesis lirih.

    "Bajingan lu ya cacatttt,mo rebut pacar gua lagi lu hahh!!!"

    "BANG!"

    Aku berseru.

    "DEN!"

    Bik Sum berseru.

    "Gua bunuh lu cacattt,ga tau diri banget lu ya,udah cacat ga ngaca berani ngambil milik gua!!lu mo ngambil bibik gua juga hah!!gua tau ananta pasti kesini,lu suruh kan cacat??!!"

    "BANG CUKUP!JAGA MULUTMU BANG!!"

    Aku berteriak.

    "DEN CUKUP!BICARA YANG SOPAN!!"

    Bik Sum berteriak.

    Tapi Satria yg dikuasai amarah sama skali tak menggubris seruan kami,ia justru mendekat ke arah mahesa dan tanpa kami semua duga ia mendorong tubuh cacat lelaki baik itu hingga tersungkur ke lantai.

    "AAAARTGHHHH!!!"

    Aku dan bik Sum menjerit berbarengan.
    Yang terjadi berikutnya sungguh diluar sangkaan kami.
    Kami mendelik saat satria mengambil sesuatu dari saku celana nya lalu menghunjamkan benda berkilat kilat itu ke dada Mahesa.
    Itu...PISAU!!!

    "Mampus lu bangsatt!!lu emng harusnya matii!!"

    "DEENNNNNNNNN SATRIAAAA JANGAANNN ITU KAKAK ADENNNNN,ITU ABANG KANDUNGMUUU DENNNN!!!!"

    "APP..APPA????!!!"

    Bibik menjerit jerit histeris menubruk tubuh mahesa yg berlumuran darah.

    "DENN DEN MAHES BANGUN DENN BANGUN!!!DEN SATRIA KENAPA LAKUIN INI DENN,INI ABANGMU,INI SODARA KANDUNGMU DEN,INI PUTRA PERTAMA TUAN DAN NYONYA,MAMA PAPA ADEN!!!"
Sign In or Register to comment.