BoyzForum! BoyzForum! - forum gay Indonesia www.boyzforum.com

Howdy, Stranger!

It looks like you're new here. If you want to get involved, click one of these buttons!

Selamat datang di situs Boyzforum yang diarsipkan oleh Queer Indonesia Archive. Forum untuk komunitas gay Indonesia yang populer ini didirikan pada tahun 2003, dan ditutup pada tanggal 15 Desember 2020.

Forum ini diabadikan untuk kepentingan sejarah. Tidak akan ada konten baru di forum ini. Silakan menikmati forum ini sebagai potongan dari sejarah queer Indonesia.

A Hope under Thousand Stars

Haii ヾ(Ő∀Ő๑)ノ gue baru disini. Salam kenal ya. Ayo saling akrab. Btw gue buat cerita pertama kali disini semoga suka ya....

A Hope under Thousand Stars

Matahari pagi telah bersinar terang dengan cahaya yang cukup terik yang masuk lewat jendela kamar tidurku yang terbuka sedikit. Hawa sejuk dingin di pagi hari membuatku meraba halus kulitku yang kutepis kasar karena aku tidak ingin diganggu. Kuhiraukan suara nyanyian burung - burung kecil yang mangkal di pohon. Aku sedikit menggeliat ingin kembali merasa nyaman untuk kembali tidur karena tadi aku sedikit tersadar alias mau bangun. Saat dalam perjalanan menuju dunia mimpi, aku seperti mendengar suara dobrakan. Sesuatu terbuka begitu keras. Entah apa itu. Paling cuma suara - suara dari dunia mimpi. Tiba - tiba tubuhku digoncangkan.

“Bangun! Kamu bisa telat nak.”

Reflek aku terbangun. Ternyata mamaku membangunkanku karena aku keburu telat. Gawat nih. Cepat - cepat aku bangun dari kasur setelah mama keluar dan hanya menghela nafas melihat kelakuan yang jarang dilakukan anaknya, yaitu telat. Yap, aku memang jarang telat. Dalam hal apapun ya. Aku orang yang bisa dibilang masuk kategori disiplin. Tapi entah kenapa sekarang telat bangun. Padahal tidur pukul sembilan malam. Segera kuambil handuk dan masuk ke kamar mandi. Aku membanjur guyur ria dengan shower air hangat. Tak lupa aku membersihkan dengan sabun dan shampoo. Beginilah kalau telat, ribet. Mata sebelah kanan saja terasa perih karena kena shampoo mengucur dari rambut basahku yang dipenuhi busa. Aku panik. Dengan sigap aku membasuh mata kananku yang perih itu dengan air dingin banyak - banyak biar sakit perihnya hilang. Setelah mandi langsung kupakai seragamku. Untunglah sudah kusiapkan buku - buku sesuai jadwal kemarin malam.

Aku menuju ruang tamu yang sebelumnya melewati ruang makan. Mama terlihat resah melihatku yang terburu - buru sambil mengelap meja makan bekas mama dan papa makan. Sedangkan papa lagi baca koran harian dengan santainya walaupun kutahu papa pasti berpikir heran.

“Ma, Pa, aku pergi dulu ya.” kataku berpamitan.

“Nak, dimakan dulu roti lapisnya. Buat sarapan.” kata mamaku.

Sepintas kulihat roti lapis yang ada di atas meja makan. Kasian mama, sudah susah - susah mau membuatkan untukku. Terlihat juga raut agak sedih di wajahnya. Aku tidak tega. Aku minum air putih terlebih dahulu lalu kusambar roti lapis untuk dimakan di jalan. Ibu tampak senang aku akan memakannya. Aku menghargai setiap usaha kok. Mau kecil atau besar pasti ada pengorbanan.

Aku pergi menggunakan angkot. Sebetulnya ada mobil di rumah tapi untuk kedua orang tuaku bekerja. Sekolah dan tempat kerja orang tuaku berlawanan jadi lebih baik aku pakai angkot. Walaupun yah, terkadang menyebalkan kalau angkot lagi nge tem nunggu penumpang. Padahal waktu itu berharga. Tapi mau bagaimana lagi, aku gak boleh egois. Lagipula ini kendaraan umum. Angkot tujuanku sudah ada, duduk dekat pintu masuk keluar agar lebih cepat entar turun. Ada beberapa penumpang disana. Lega rasanya angkot ini langsung jalan. Perjalanan kira - kira memakan waktu tiga puluh sampai empat puluh menit. Kulihat jam tangan hitamku. Waktu tinggal lima belas menit lagi sebelum bel masuk berbunyi. Sial! Ayo lebih cepat! Aku akan mengutuk semua yang menghalangiku karena terlambat waaaa! Kalau boleh tahu, apa ya?

Saat sudah sampai aku langsung turun sesudah membayar ongkos angkot tadi pas mau turun di dalam. Gerbang masih terbuka sedikit. Fyuh, untunglah. Terlihat gedung di depan yang didominasi warna putih pucat. Pak satpam menghampiriku dengan raut aneh. Ketahuan sudah tahu apa maksudnya.

''Kok tumben telat? Ada apa toh?''

''Gak ada apa - apa. Cuma yah, lagi sial hari ini.''

Aku mempercepat jalanku, berharap bisa secepat citah dan saat sudah sampai di depan pintu kelas, aku deg - degan. Pasti kena marah pak guru nih. Tanpa banyak berpikir kubuka pintu perlahan dan semua orang yang ada di kelas langsung tertuju padaku. Duh aku betul - betul gak suka diperhatikan kayak gitu. Membuat risih dan kesal aja. Pak guru tak luput menoleh ke arahku yang sedang gugup.

''Ehem! Tumben sekali kau terlambat.''

''Maaf Pak. Entah kenapa bisa terjadi tapi tadi telat bangun. Sekali lagi, maaf Pak.''

''Makanya kalau bangun itu pagi - pagi! Setel jam yang ada alarm! Lain kali jangan telat lagi!'' bentak tegas pak guru padaku.

Aku menggangguk dan lalu duduk dibangku masih kosong di pojok belakang dekat jendela. Setelah absen menyebutkan dan mencontreng siapa aja yang masuk, pak guru mengajar dengan serius. Oh ya, namaku Fadel. Aku sekarang kelas 2 SMA dan berumur 17 tahun. Aku murid jurusan IPA. Walaupun begitu aku tidak terlalu suka pelajaran satu ini. Kadang membuat kepalaku pusing. Menguras tenaga berlebihan. Orang tuaku yang memaksaku untuk masuk jurusan ini. Untungnya aku cukup pandai dan ingin membahagiakan mama dan papa, jadi kuputuskan untuk masuk.

Kali ini belajar biologi. Lumayan itu favoritku. Tangan lihai pak guru yang sudah terlatih untuk menulis di segala papan tulis selama dua puluh tahun itu menulis struktur badan ikan dengan organ - organnya. Entah kenapa aku jadi merasa ada sesuatu yang bikin gugup dan tak enak. Keringat bercucuran sedikit di muka dan telapak tangan. Jangan sampai, kumohon! Sia - sia saja harapanku. Tiba - tiba sesuatu yang sama sekali tak ingin kudengar malah terdengar karena itu ucapan yang membuatku lemas.

''Anak - anak, minggu depan kita akan mengadakan praktek meneliti tubuh ikan luar dan dalam. Disarankan memakai ikan mas. Alat dan bahan bisa kalian lihat di mading karena beberapa kelas lainnya juga akan melakukan di hari yang sama. Kalian akan berkelompok. Silahkan buat sendiri.''

Argh, sungguh aku benar - benar  kaget dan gak suka. Emm, sebetulnya, aku bisa dibilang penyendiri. Aku lelaki yang lumayan pemalu. Tapi aku selalu berusaha untuk mendapatkan teman dengan percaya diri yang kubangun kuat - kuat. Seperti menyapa, ikut membantu atau ikut berbicara pada topik yang dibicarakan. Sedihnya, tak pernah berhasil. Terkadang aku diacuhkan atau digubris sedikit. Aku pernah beberapa kali menangis karena itu. Sungguh, siapa sih yang gak sedih dikucilkan dan tak ada yang menemani? Perasaan hancur terkoyak. Andai, setidaknya kumohon satu teman saja yang dekat padaku dan aku sangat bersyukur. Bahkan tidak ada yang peduli padaku  seperti tidak ada yang mengajakku menjadi teman kerja kelompok. Sangat menyedihkan. Terlihat semuanya bergumul dan mengobrol, tinggal diriku sendiri. Bilang ini, bilang itu. Telinga serasa ditusuk pisau bilah. Tidak lama kemudian bel berbunyi. Pak guru keluar dari kelas menandakan sudahnya pelajaran dan minggu depan ingin memastikan semuanya sudah berkelompok. Sungguh aku menjadi sangat khawatir terhadap diriku sendiri. Tidak, aku tidak boleh menyerah!

Setelah melewati tiga jam pelajaran, bel tanda istirahat berbunyi. Aku berjalan menuju kantin yang berada di belakang sekolah. Perutku berbunyi pelan. Lapar banget nih. Tadi cuma makan roti lapis sih. Ada nasi kuning dan teh melati dingin kesukaanku. Setelah membelinya, segera aku duduk di bawah pohon rindang yang besar. Bisa terasa sejuk yang lebih daripada di rumah atau dalam bangunan. Begitulah Jakarta, banyak asap kendaraan di jalanan jadi susah hirup udara segar oksigen. Kalau mau asapnya ikt sekalian kehirup sama oksigen seengkanya janganlah. Takut bahaya. Entah kenapa bebanku berangsur - angsur terlupakan. Pas santapan siang selesai, saat itu juga istirahat selesai. Pas banget. Baru saja mau berdiri, ada suara bergesekan dari tanaman lebat seperti semak. Penasaran. Kulihat dan ternyata ada kucing yang kaget karena tadi aku hampir memegangnya. Kucing itu berlari menjauh. Mengeong - ngeong tak jelas namun penuh emosi. Dikirain apaan.

Kelas lagi ribut dan berisik. Ternyata gak ada guru sekarang. Sekarang jamkos. Asyik, aku mau baca novel. Mau ditamatkan hari ini. Tak terasa jamkos sampai waktu pelajaran terakhir berakhir. Kenyang melahap cerita novel yang menyihir banyak pembaca sampai novel ini banyak digemari. Berarti sekarang pulang dong! Diriku ini sama seperti yang lain. Suka banget sama yang namanya pulang. Langsung aja naik angkot menuju rumah. Niatnya mau langsung tepar di atas kasur empukku, hehehe. Entah kenapa kalau pulang waktunya lebih cepat. Kayak cuma sebentar banget kayak naik motor.

Saat sudah sampai terlepas lah sepasang sepatu hitam putih khas anak sekolahan dengan kasar terlempar kesana - kemari. Tanpa aba - aba, tubuhku terhempas ke atas kasur. Mmn, empuknya nyata sekali. Empuk yang dirindukan. Lambat laun pandangan mulai pudar. Tak kuasa menahan kantuk di siang hari yang bentar lagi sore. Aku tertidur tak berapa lama kemudian.

Beberapa jam kemudian aku bangun. Pandangan terasa samar. Setelah sepenuhnya sadar, kutengok melihat ke jendela. Langit sudah gelap? Pukul berapa sekarang? Kulihat sudah setengah tujuh malam. Aku kebawah dan melihat mama yang sedang menuangkan nasi ke piring.

''Hei, baru bangun ya? Kelihatan tuh rambutnya acak - acakan.''

''Iya nih Ma, hehe.'' jawabku sambil nyengir kuda.

''Ya sudah, cepat mandi lalu makan malam.''

''Sip. Tunggu aku ya. Makannya bareng Ma.''

Aku mandi lalu berganti baju menjadi baju santai. Emm, entah aneh atau gak, bajuku kali ini ada gambar kereta kayak dikartun itu lho. Ya tau sendiri lah. Kayak gak ada baju lain aja ya? Gak tau lagi pengen yang ini aja. Heran kok ada ukuran untuk remaja ya.

Disana sudah ada papa yang mengambil semur jengkol sedangkan mama membuat jus jeruk untuk bertiga. Aku mengambil tempat duduk di depan hadapan papa dan mama, membiarkan untuk duduk bersebelahan.

''Kok minum jus jeruk malam - malam gini? Enaknya minum susu coklat panas Ma.''

''Kita sudah lama gak konsumsi jeruk. Tadi Mama beli di toko buah - buahan baru itu lho. Yang ada di pertigaan.''

''Gitu ya. Ok deh.''

Mama kembali dengan nampan yang mengangkut tiga jus jeruk segar. Makanan dan minuman mama selalu yang terbaik! Meskipun sibuk, selalu sempat membuat kebutuhan pokok keluarga. Kami makan malam dengan nikmat. Setelah makan malam, aku langsung menuju kamar tidur. Aku melihat - lihat gambar kucing di internet. Duh lucunya! Menggemaskan! Bulu lebatnya, ekornya, imut! Tapi kuharap kelakuannya gak kayak kucing tadi. Sudah lama kuimpikan ingin memelihara kucing. Tapi tak dibolehkan karena alasan tertentu. Aku pun belum mengetahui apa alasan itu.

Pukul sembilan. Sudah waktunya tidur. Kunaikkan selimut sampai dagu. Aku berharap dapat mimpi indah malam ini. Seperti bertemu ibu peri bergaun biru yang dapat mengabulkan permintaanku yaitu mempunyai teman yang setia. Hmm, berharap dapat terjadi di dunia nyata.

Besoknya, seperti biasa pergi ke sekolah. Kali ini gak telat. Datang lebih cepat daripada yang lain malah. Angkotnya lagi baik gak nge tem seperti biasa. Saat memasuki kelas, masih sepi. Aku duduk di tempat kemarin. Kubuka jendela dan menikmati semilir udara pagi. Masih ada embun di dedaunan. Lalu datanglah seorang lelaki masuk ke kelasku. Dia duduk paling depan. Dia menatapku sebentar lalu berbalik arah ke depan lagi. Kami hening dalam diam. Saling memainkan HP masing - masing. Canggung sih buatku, tapi entah buat dia. Ingin rasanya menyapa dia. Mengobrol lalu menjadi akrab lama - kelamaan. Apakah mungkin? Sekarang aku belum berani.

Lama - lama banyak murid masuk ke kelasku. Bisa ditebak, aku duduk sendiri. Setiap saat. Jumlah murid di kelas ganjil jadi aku sendiri. Jujur kesal banget diacuhkan. Aku juga makhluk sosial tahu! Aku juga membutuhkan orang lain untuk hidup termasuk di sekolah! Maka dari itu jangan tanya apa kenang - kenangan berharga saat - saat masih belajar alias sekolah. Gak ada!

Setelah bel masuk berbunyi, bu guru datang dengan membawa beberapa lembar kertas yang belum diketahui apa isinya. Bisa jadi lembar absen baru, soal, surat pemberitahuan atau materi untuk ujian semester. Benar saja, salah satu tebakanku benar. Opsi kedua yang benar. Soal. Semua soal uraian. Bu guru mengabsen dan ada dua orang yang gak masuk.

“Kalian semua harus mengerjakan soal - soal ini secara berkelompok tiga orang. Sesudah itu presentasikan di depan kelas.”

Glek. Lagi - lagi! Semua sudah membentuk grup kecil dan menerima satu lembar soal dan kertas polio. Aku celingukan, resah. Ingin rasanya meremas lalu merobek dan dibuang ke laut jauh - jauh.

“Fadel, kenapa kamu belum  gabung? Itu ada yang masih dua orang. Ayo masuk kelompok sana.”

Dua murid itu melihatku. Dengan pelan berjalan mendekati mereka. Berusaha menghilangkan rasa gugup. Lalu kutarik kursi kosong dari bangku lain dan duduk dekat keduanya yang menatapku kesal. Eh kesal? Kenapa? Aku gak ada salah apa - apa.

“Heh Fadel, jangan belagu karena kamu disini. Nurut aja deh sama perintah kita.”

“Betul banget. Kerjakan yang banyak ya.”

Sakit hati rasanya dibilang begitu. Gak bisa seenaknya nyuruh orang dong. Gak tau diri banget. Kalau nyuruh berarti kalian yang bodoh dan aku yang pintar disini.

“Eh, gak… Gak bisa dong. Harusnya kita kerjakan sama - sama.”

Mereka malah makin sebal sama aku. Lalu salah satu dari mereka berdua berdiri sambil menunjukku.

“Woi, bocah! Banyak omong banget.  Bodoh banget! Nurut aja apa masalahnya sih? Kamu tuh gak diperlukan disini! Ngaca dong, ngaca! Lihat tuh hidung, pesek amat kayak tomat asem nan busuk. Mau berantem? Ayo aja! Siapa takut!”

Sontak bu guru marah terhadap murid yang sudah bilang begitu kasar padaku di siang bolong begini. Tambah sakit hati diriku dihina seperti itu. Murid yang menghinaku tadi langsung sadar. Wajahnya pucat dan bekeringat gak karuan. Nilai sikapnya pasti bakal buruk. Terus terang, aku sudah gak kuat dihina terus. Tak jarang aku dihina oleh kebanyakan laki - laki. Padahal aku tak tahu apa salahku pada mereka yang tentu pasti gak ada salah apa - apa sama mereka. Cukup sudah. Aku sudah muak dengan semua hal buruk yang mereka lontarkan. Hilang sudah kesabaran. Rasa sakit ini teramat menyiksa. Bahkan dengan memukul seribu batu kasar dengan palu yang kuanggap batu - batu itu adalah rasa sakit tak akan hilang. Aku berdiri dan akan mengumumkan apa yang selama ini terasa karena mereka semua.

“Sudah cukup! Aku muak dengan semua ini! Aku benci kalian dan dengan hinaan, tatapan, terpinggirkan dan hal buruk lain yang kalian berikan padaku! Tak tahan! Aku selalu sendiri tak ada yang mau menemani! Aku selalu berusaha untuk dekat dengan kalian tapi tak ada yang mau peduli! Puas kalian membuat hidupku buruk, hah? Sakit rasanya diperlakukan seperti itu! Kalian tak tahu apa yang kurasakan selama ini! Penderitaan yang teramat sangat perih! Apa salahku pada kalian? Gak ada! Aku benci kalian semua!” kuutarakan apa yang kurasakan selama ini sambil mengebrak meja.

Setelah itu aku langsung keluar kelas. Menutup pintu kelas dengan keras, membantingnya. Saat berlari gerbang sekolah masih terbuka karena mobil mau masuk. Tak kusia – siakan kesempatan itu.  Barulah aku terasa berlari cepat kayak citah. Pak satpam yang melihatku kaget dengan apa yang kulakukan dan menyuruhku untuk balik lagi ke sekolah! Hell no! Siapa yang mau masuk ke penjara kayak gitu lagi? Aku sudah tidak peduli dengan pendidikan yang sudah ditempuh sejauh ini. Tidak ada bandingannya dengan rasa sakit yang menusuk hidup.

Aku pulang ke rumah untuk terakhir kalinya. Yap, aku akan kabur. Aku tak mau ketahuan dan dimarahi oleh mama dan papa karena aku gak mau sekolah lagi dan tak tahu kalau aku punya masalah sosialitas. Pasti entar disuruh sekolah lagi kalau aku gak pergi dari sini. Gak boleh home schooling. Saat sudah turun dari angkot, aku langsung  mengeluarkan kunci rumah cadangan. Membuka pintu rumah dan mengambil koper di gudang. Koper ini sudah berdebu. Aku bersihkan dengan lap dan tepukkan tangan. Debu mengepul kemana - mana. Kuletakkan pakaian luar dan dalam. Peralatan mandi, HP, beberapa buku cerita, cemilan dan dompet. Persiapan sudah semua. Aku memesan tiket kereta ke kota di luar provinsi yang masih satu pulau yang ingin kukunjungi sejak kecil secara online. Kota Yogyakarta. Kereta yang kupesan masih ada tempat dan akan berangkat sore hari. Aku menulis surat permintaan maaf dan masalah yang sedang terjadi. Tak lupa memberitahu bahwa aku sayang banget dan rindu kedua orang tua yang sudah merawatku. Surat diletakkan di meja makan. Aku pergi meninggalkan rumah yang sudah menjagaku sejak aku lahir ke dunia kejam dan tak adil ini. Rasanya berat, Tapi aku berusaha tabah dan sanggup menempuh hidup baru dan berharap yang lebih layak.

Rintik hujan turun. Bersamaan dengan air mata yang mengalir di pipi yang tak dapat dibendung. Aku menangis. Berusaha orang - orang tidak mengetahui jadi air mata keluar tanpa suara isakan. Tudung jaket yang dipakai menutup kepala yang menunduk. Aku menatap jalur kereta yang mulai basah dengan hujan gerimis. Cuaca mendukung suasana perasaan yang kurasakan selama ini. Ditambah dengan lagu galau yang mengalun di stasiun. Akh sial, tambah bikin badmood aja! Gak tau malu nih. Minta dibacok speaker dan yang nyanyinya.

Kereta tujuanku sudah datang. Aku masuk dan duduk di tengah - tengah. Sesudah semua penumpang masuk, kereta mulai bergerak jalan. Punggung tangan kiri mengusap wajah yang basah dan mata yang sembab. Sama aja, di kereta duduk sendiri. Ada pegawai  wanita muda yang mendatangi penumpang untuk di cek tiketnya. Saat giliranku cuma bentar. Aku menatap keluar. Dari hujan gerimis menjadi hujan lebat. Beberapa dari pohon bahkan tak kuat untuk berdiri tegak karena angin rusuh. Merenung memikirkan apa yang harus kulakukan saat sudah tiba. Hidup lebih mandiri secara mendadak tanpa ada persiapan yang matang. Tak ingin ambil pusing, aku tidur karena ingin beristirahat setelah pikiran dan kejadian yang buruk.

Sepuluh jam sudah terlewati. Aku turun dari kereta. Celingak - celinguk melihat stasiun kereta yang baru kupijaki. Sudah tak terdengar suara hujan lagi. Sepertinya sudah berhenti. Benar saja, saat keluar terlihat jelas bulan purnama di langit malam. Jam tangan menunjukkan pukul sepuluh malam. Aish, sudah malam. Apa bisa cari kontrakan sekarang? Entahlah. Jalan - jalan cari tempat menginap aja dulu.

Lihat - lihat kota Yogyakarta di malam hari bagus ya. Ada pasar malam juga disana. Gemerlap lampu - lampu warna - warni menerangi gelap malam yang riuh ramai. Pengen kesana tapi belum ketemu tempat tinggal. Lebih baik nginap di hotel dulu ya? Ada gedung berukuran sedang untuk ukuran hotel yang didominasi warna krem beserta perkarangan bunga - bunga. Kata mba yang kerja disana harga sekali nginap tiga ratus ribu. Jadilah aku menginap disana daripada harus keliling malam - malam gulita. Ruang nomor dua puluh tujuh adalah kamar menginapku malam ini.
Tagged:
«13

Comments

  • menarik ceritanya ... kasihan Fadel, apa yang akan terjadi nih ... dilanjut
  • Tandai dulu, belm sempet baca full, sepertinya menarik .. jangan lupa mention ya
  • Mention gue ya
  • Baby, now, uuuu, kiss me under the light of a thousand stars ~
  • @didot_adidot ayo dibaca terus :vv/
  • @lulu_75 mau di update kok :vv
  • edited November 2015
    part 2

    Aku berjalan keluar hotel setelah membayar biaya nginap semalam. Rasanya tubuhku sudah rileks, gak kaku karena letih. Riuh pikuk keramaian menarik perhatianku. Mungkin ada festival rakyat disana. Sekalian cari makan juga ah. Saat dilihat dari jarak tak jauh, benar ada festival rakyat. Pengen sih kesana, tapi aku lagi bawa koper dan tas besar. Malu - maluin. Entar dikira orang merantau dari mana lagi. Emang ada benarnya juga sih. Setengah mungkin?

    Kuurungkan niat untuk mengunjungi kawasan tersebut. Aku harus cari kost dulu. Aku berkeliling sambil menikmati pemandangan. Aku agak takut kalau nanti bakal tersesat. Tapi toh gak apa - apa. Bisa dapat pengalaman lain yang tak terduga. Ambil sisi positifnya aja hehehe.Lagipula emang aku gak banyak kenal sama jalan - jalan di kota Yogya.

    Sudah lama sekali aku mencari. Belum ketemu juga. Aish, dimana sih? Tadi juga tersesat malah masuk jalan yang itu - itu lagi. Heran. Itu ngatifnya. Kalau positifnya tadi aku melihat kucing anggora lagi main benang wol. Sepintas saat melewati gerbang besar bewarna coklat yang sudah sedikit karatan, ada selembar kertas yang ditempel bertuliskan, ‘Menyewa kost untuk putra. Yang berminat silahkan datang.’ Hati ini girang. Pengen rasanya lompat - lompat kayak kelinci atau kangguru. Akhirnya! Bisa dapat kost untuk tinggal di kota ini. Aku mempersiapkan diriku. Gak boleh gugup dan bersikap sopanlah walaupun kutahu bisa aja terjadi. Kupencet tombol bel. Tak lama datanglah wanita yang sekitar berusia dua puluh sampai tiga puluh tahun mengenakan baju santai ala rumahan.

    “Ada apa dek? Mau ngekost disini ya?”

    “I-iya Bu. Katanya ada kamar kosong.”

    “Emang ada kok. Sini masuk.”

    Aku masuk mengikuti ibu itu dan melihat rumah lumayan mewah bersebelahan dengan gedung dua tingkat tapi luas, bahkan lebih luas daripada rumah ibu itu sendiri. Aku naik ke lantai dua. Lalu kami berhenti di kamar yang dekat dengan tangga.

    “Jadi begini, saya mengelola kost untuk laki - laki. Yang menentukan kost untuk putra atau putri itu suami saya haha saya sih setuju aja sama keputusannya. Nah, tinggal kamar ini yang kosong. Harga sewa perbulan cuma empat ratus ribu kok. Ada AC dan kulkas mini juga. Kata suami saya sih biar yang ngekost betah. Berminat gak? Eh panggil saya tante aja.”

    “Berminat. Aku ambil ya Tante.”

    “Tunggu bentar ya, saya mau mengambil kertas di pagar karena kamu sudah ambil dan bawa kunci kost ini di rumah.”

    Aku mengagguk. Serasa beruntung deh. Menurutku harga kosnya murah karena ada AC dan kulkas mini segala. Gak berabe apa tuh listrik? Tapi kalau buat orang kaya kan cetek hehehe. Jadi gak ada yang namanya ‘berat’. Tante itu kembali dengan kunci yang dipegang lalu dikasih padaku. Aku berterima kasih.

    “Ini kuncinya. Nikmati ya. Oh lupa nama saya Ratna. Saya permisi dulu.”

    Aku membuka kamar kost ku. Wah, bagus nih. Ada kasur berukuran sedang. Ada kulkas mini dan AC segala yang ternyata benar adanya. Dikirain cuma bercanda tadi haha. Kamar ini bercat orange campur kuning. Jadi orange kekuningan. Dikirain kamar warnanya putih karena tampak gedung dari luar adalah warna putih. Aku membuka koper dan memasukkan semua pakaian ke lemari kayu yang bersebelahan dengan pintu. Kamar ini juga ada jendela dengan hordeng. Baru hordengnya warna putih. Setelah selesai menaruh semua barang di tempat termasuk menaruh tas besar dipojok, aku terjun ke atas kasur. Menghempaskan diri. Capek datang menghampiri setelah berjuang. Aku mengecek HP dan benar dugaan. Sangat banyak telepon tak terjawab dan sms yang masuk. Kuabaikan dan taruh HP di meja dan kembali tidur - tiduran. Kejam juga aku mengabaikan kekhawatiran yang mereka berikan. Maaf tapi aku gak ada pilihan lain. Apa tindakan yang kulakukan di luar kepala orang waras? Entahlah. Banyak orang yang melakukan ini juga dengan alasan tertentu masing - masing.

    Tiba - tiba ingat kalau aku pengen ke festival rakyat. Tapi aku lupa lagi letaknya dimana? Duh gimana ya? Tanya sama ibu kost aja gitu? Coba aja deh. Siapa tahu tante Ratna mengetahuinya.Tak lupa membawa HP dan dompet yang kutaruh di kedua saku celana jin yang kupakai. Aku turun ke bawah dan melihat tante Ratna lagi nyiram perkarangan bunga. Kuakui bunga - bunga yang ditanam di belakang rumah dan kostan emang bagus. Menyejukkan mata. Ditambah dengan angin yang sekarang berhembus pelan membuat bunga - bunga dan rumput - rumput menari sesuka hati. Aku tak ingin mengganggunya tapi sudahlah mau gimana lagi.

    “Pe-permisi Tante Ratna, kalau festival rakyat ada dimana?”

    “Oh, mau ke festival rakyat? Jalan lurus ke depan terus belok kanan terus belok kanan lagi. Lalu belok kiri. Disana ada lapangan dan jalan raya yang diblokir yang jadi kawasan festival rakyat.Untung ada jalan alternatif lain. Pasti ketahuan kok dari ramenya suasana.”

    “Makasih Tante. Pamit pergi dulu.”

    Aku bingung dengan info yang dikasih. Gak terlalu jelas. Aku jalan sesuai peta kurang jelas yang terekam di ingatan. Ok aku sudah jalan lurus. Terus kemana lagi nih. Oh ya ke sebelah kanan.Sudah belok ke kanan belok kemana lagi? Oh belok kanan untuk kedua kali. Tapi saat aku mau belok, kaget. Waduh ada dua jalan belok ke kanan. Yang mana nih? Aku coba belok kanan yang pertama dekat warteg. Moga aja benar. Setelah keliling ria malah balik lagi ke tempat semula.Berarti belok ke dua. Aku belok kanan yang itu dan terdengar riuh pikuk keramaian. Yap, pasti ini jalan yang benar. Aku belok kiri dan menemukan jalan raya yang bukannya dipenuhi mobil dan motor, ini malah dipenuhi stand - stand. Ada stand yang jual makanan minuman, alat tulis,barang kesenian tradisional, dll. Di sebelah ada lapangan yang berdiri sebuah panggung. Aku jalan diantara kerumunan orang yang memenuhi kawasan. Dari anak kecil bawa balon sampai yang sudah berkepala empat atau lebih ada disitu. Perut makin manja, maksudnya minta diisi.Tapi makan itu emang benar adanya wajib. Aku menuju stand yang menjual berbagai bakso. Aku membeli bakso ikan tusuk. Hmm, enak...

    Aku duduk di dekat pohon besar menjulang tinggi yang berumur sudah sangat tua. Aku melahap bakso ikan tusukku sambil menonton konser. Lagu rock menggema. Ternyata yang nyanyi bukan hanya artis band, tetapi band dari beberapa sekolah juga ikut manggung. Mencari ketenaran. Biasa anak muda, mau dibilang ada sifat narsis atau gak, pengen terkenal juga. Biar followers nya banyak (?) Kalau buatku ketenaran gak penting. Asalkan ada yang selalu menemaniku itu cukup. Kali ini yang nyanyi grup band dari SMA yang ada di sekitar daerah sini. Lagu yang mereka nyanyikan bagus. Mereka memakai pakaian bewarna serba hitam. Kesan seram dan metal muncul. Namanya juga anak rock.

    Menyadari kalau diriku masih lapar, emang dari pagi belum makan sih. Aku beranjak dari situ dan mencari makanan dengan karbohidrat. Lagi malas makan nasi, jadi pengen kentang aja. Akhirnya ketemu juga. Aku beli kentang goreng berbumbu, jagung bakar pedas dan es jeruk kelapa muda. Rakus ya? Gak ah. Kan namanya juga orang lagi kelaparan hehehe. Aku balik lagi ke tempat tadi. Sekarang yang manggung bukan band, tetapi pertunjukkan tari tradisional. Mungkin sesi musik sudah selesai.

    Nyam nyam, jagung bakarnya enak banget kayak baru pertama kali nyoba! Jagung ini adalah yang paling terbaik dari yang terbaik haha. Saking asyiknya melahap karbohidrat berwarna kuning biji - biji runcing ini aku sampai tak menyadari sesuatu.

    “Saus pedasnya nempel di dekat mulutmu.” seorang lelaki tiba - tiba mengelap saus pedas dengan jempolnya. Haahh?!
    Tunggu! Apa?!

    Aku tengok ke sebelah dan mendapati sesosok laki - laki dengan nakal menjilat saus pedas seperti dia menikmatinya. Aku kaget bukan kepalang setelah diam beberapa detik untuk kembali sadar ke dunia nyata. Ini cowok ngapain sembrono gini?! Wajahku pasti merah gak karuan kayak kepiting rebus.

    “Ka-kamu siapa? Kenapa jilat i-itu? Argghh orang sinting!”

    “Pfft, tenang. Aku masih waras kok. Kenalkan, aku Jevera.”

    “A-aku Fadel. Ok, kau orang asing nan aneh.”

    Orang itu malah diam saja memandangku. Aku risih dipandang seperti itu. Segera aku beranjak dari situ. Aku tidak mau sama orang yang mungkin bakal mencelakaiku. Tapi lelaki bernama Jevera malah memegang tanganku yang tidak memegang makanan minuman. Ia menatap sayu. Heran. Seperti memohon sesuatu. Ada apa dengannya?

    “Tunggulah disini. Aku mohon… Setelah urusanku selesai aku bakal balik lagi kesini.”

    Aku terbelalak kaget. Baru aja ketemu kenapa sudah…. Urgh, susah dijelaskan! Aku merasa senang bahwa dia ingin menemuiku lagi, tetapi dia orang yang belum kukenal sepenuhnya jadi aku merasa takut. Bimbang. Antara tungguin dia atau nggak. Namun aku merasa bisa memercayai dia sedikit. Aku memilih untuk menunggunya.

    “Baiklah, aku tunggu. Ta-tapi kau harus benar - benar datang.”

    “Tentu! Ah, sudah waktunya. Bye bye!”

    Jevera berlari menuju panggung. Kami saling melambai tangan. Aku sadar dia adalah penyanyi dari band sebelumnya. Terlihat dari dia yang memakai jaket jin dengan kaus hitam pekat. Senyum tipis mengembang di wajah yang masih panas dan bisa jadi makin panas karena dia.

    Sudah lama disini. Santapan juga sudah habis ke perut. Lagi dalam proses pencernaan. Hari makin sore. Sudah sedikit yang berada di sini. Satu persatu stand tutup. Hanya beberapa dibuka ditemani drama wayang. Kok dia lama banget. Apa dia berbohong? Akh gak mungkin. Aku menepuk pipiku. Dia pasti datang.

    Aku melihat HP dan sudah jam enam sore lebih. Mau malam nih. Duh dia kemana ya? Aku tak tahan. Tunggu, jangan - jangan dia bohong. Ya, dia berbohong. Grr, aku geram. Kesal banget! Tangan terkepal erat. Aku bangkit dan memilih untuk kembali ke kostan. Sialan!

    Sampai di kamar kostan tentunya, aku langsung tidur - tiduran, menggelinding kesana -kesini. Tante berpesan untuk tidak pulang pergi setelah jam Sembilan kecuali untuk urusan pengecualian seperti bekerja di shift malam. Untung langsung balik. Aku lempar bantal ke tembok. Ukh, kesal! Dia mempermainkanku. Sebaiknya aku cepat tidur biar galau bisa hilang. Aku memenjam mataku dan ukh susah sekali. Pikiran masih membayangi sosoknya. Aku salah apa sampai harus memikirkan dia? Lupakan!

    Paginya, aku mandi dan bersiap untuk melamar kerja. Kuharap aku bisa bekerja tanpa ijasah kelulusan SMA. Bukannya aku tidak pernah sekolah SMA, aku pernah tetapi ya tahulah. Wah sampai ngantri gini. Untung kamar mandinya gak cuma satu, jadi gak perlu ngantri ke belakang banget. Setelah mandi aku memakai pakaian yang sekiranya ala orang pekerja, yang umumnya.Biar terlihat lebih sopan dan lebih meyakinkan untuk diterima. Aku kunci kamar dan tutuphordeng biar gak ada orang sembarangan lihat.

    Kemarin sebelum tidur karena tidak bisa tidur cepat aku melihat - lihat lowongan kerja dikoran. Ada beberapa yang menarik perhatian. Syaratnya tidak terlalu sulit atau ribet. Pertama mendatangi hotel yang populer diminati para pariwisatawan dalam dan luar negeri. Kini sudah sampai di tempatnya. Wuih tiga kali lebih gede daripada yang waktu itu. Gedung ini sangat mewah dengan pintu otomatis dan ukiran - ukiran di kaca.

    Pak satpam mengarahkan tempat ruang tunggu untuk interview. Banyak orang menanti dengan gugup.Bahkan diperparah dengan mau pria atau wanita keluar dari ruang interview dengan muka pucat lesu. Tampak sedih dan putus asa terpampang jelas. Sial, emang segitu susahnya ya? Gah aku juga jadi khawatir banget. Setelah orang di depanku barulah diriku. Aku menunggu sekitar empat puluh menit lebih. Setelah keluar dia menampakkan wajah berseri - seri. Dia pasti diterima.Wow, hebat! Aku masuk ke ruang interview. Seorang penguji yang bertampang sopan tapi kelihatan aura galak wew gak segitunya juga kali, menatapku intens apakah aku calon yang sempurna. Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit, dan bermenit - menit kemudian aku bisa menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan setelah memberi berkas kepadanya. Lalu pertanyaan tak diharapkan malah datang tiba - tiba.

    “Ada ijasah SMA? Kamu pasti lulusan SMA kan?”

    Deg! Hahaha mampus, gak ada pak sorry aku gak punya karena aku kabur jadi gak lulus. Aku ingin menjawab jujur, tetapi akan kujawab begini aja.

    “Maaf Pak, saya bukan lulusan SMA. Berarti saya tidak punya ijasah SMA. Namun saya bisa buktikan saya bisa menjadi pekerja yang dapat Bapak handalkan.”

    Bapak itu berpikir dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca. Dia
    menimbang - menimbang, berpikir apakah aku bagus atau tidak. Duh gimana kalau aku langsung ditendang gak berhasil?

    “Baik, coba saya lihat.”

    Aku terperangah senang. Ini adalah kesempatan sekali seumur hidup. Tak bisa disia - disiakan. Mulai dari tes berpakaian seperti pegawai sungguhana hingga melayani tamu kulakukan sebsa dan segigih aku belajar ketika sekolah. Lagi - lagi aku tak bisa membaca ekspresinya. Aku tak tahu apa dia terkesan atau tidak. Aku juga tidak tahu bila membuat kesalahan dimana letak salahnya.

    Setelah lama menghadapi ujian mendadak, kami kembali ke ruang semula. Dia dengan yang lainnya berunding, sementara aku duduk diam di sofa. Tak lama bapak itu memanggilku dan mereka yang berunding dengannya bubar keluar.

    “Selamat! Dengan ini, kamu diterima! Saya kagum dengan usaha yang dikerahkan olehmu. Karena itu, kamu diterima disini.”

    Apa aku tak salah dengar? Ok aku tak salah dengar dan biar meyakinkan itu emang benar - benar kejadian nyata. Aku sangat senang! Aku diperbolehkan keluar. Mulai besok, aku bisa kerja disini. Yosh, saatnya berkerja!
  • apa mamanya Fadel engga khawatir ...? wah ada cowok baru nih ...
  • Untuk driMu,bgm dgn ortux?
  • Kesulitan bergaul lalu melarikan diri dari rumah dan hidup mandiri? Konfliknya bakalan seru, nih!
  • @lulu_75 khawatir kok kan ada sms dan telepon masuk tapi gak digubris sama Fadel
  • @Agova maksudnya bagaimana dengan ortu itu apa :/?
  • Orang tuax...apa tdk khawatir
  • @Agova napa harus khawatir.. aku gak bikin masalah apa apa sama ortu sendiri :v/
Sign In or Register to comment.