BoyzForum! BoyzForum! - forum gay Indonesia www.boyzforum.com

Howdy, Stranger!

It looks like you're new here. If you want to get involved, click one of these buttons!

Selamat datang di situs Boyzforum yang diarsipkan oleh Queer Indonesia Archive. Forum untuk komunitas gay Indonesia yang populer ini didirikan pada tahun 2003, dan ditutup pada tanggal 15 Desember 2020.

Forum ini diabadikan untuk kepentingan sejarah. Tidak akan ada konten baru di forum ini. Silakan menikmati forum ini sebagai potongan dari sejarah queer Indonesia.

Bintang di atas Pelangi

[Pegunungan Dieng, 2007]. Dieng, kalian tentu tau tempat ini bukan? Daerah Pariwisata yg terkenal seantero Jawa Tengah. Daerah yg penuh dengan Mata air, sungai kecil, juga kebun teh, kebun bawang dan tanaman-tanaman hasil tani lainnya. Ya, di sinilah aku dibesarkan. Tempat yg dingin, namun asri. Gelap penuh kabut, namun hangat akan teman-teman. Tempat yg kucintai, namun dalam waktu dekat, aku akan meninggalkannya.

"Nengopo Tang? (Kenapa Tang?)" tanya salah seorang temanku. Dia Pandu, temanku sedari kecil.

Tak kuhiraukan pertanyaannya. Sekarang pikiranku sedang melayang entah kemana. Mataku sama sekali tak bergeming dari gelapnya awan mendung itu. Kuluruskan kakiku di atas rerumputan ini. Menghela nafas, menikmati dinginnya udara yg bercampur gerimis.

Saat ini kami, ya kami, aku dan kelima orang temanku, sedang duduk-duduk diatas bukit menikmati udara dingin sore hari. Pun dengan baju basah kuyup, tak ada satupun dari kami yg menggigil.

"Sido pindah dek? (jadi pindah dek?)" kali ini Mas Rifqi yg bertanya, dia juga temanku. Diantara lima anak yg sedang bersamaku ini, memang hanya dia yg tau akan rencana kepindahanku.

"Pindah ngendi? (Pindah kemana?)" Tanya pandu, sementara yg lain diam memperhatikan.

Kutatap satu persatu wajah mereka. Pandu, Mas Rifqi, Adi, Beni, Rara. Aku tak kan melihat wajah-wajah ini lagi. Guratan senyum dan tawa mereka saat bercanda, mimik muka lucu mereka saat mengejek satu-sama lain. Aku tak kan bisa melihat itu lagi.

"Meh pindah ngendi mas? (mau pindah kemana mas?)" tanya Rara.
"Jakarta dek." jawabku berat.

Kupandangi matanya, temanku yg satu ini memang sedikit cengeng. Dia satu-satunya perempuan yg tergabung dalam geng anak-anak nakal ini.

"Jare meh bareng-bareng tekan gede. Jare meh mlebu SMP bareng, jare meh ng SMA bareng,. NDOPO'AAN (Katanya meh sama-sama terus. Katanya mau masuk SMP bareng, katanya mau masuk SMA yg sama. OMONG KOSONG)" balas Adi, dia sedikit emosi.

Sementara itu kulihat Rara mulai menangis. Menangis tertahan tanpa suara. Bibirnya mengatup rapat dan menunduk seolah agar aku tidak melihatnya.

"Meh ng Jakarta pirang taun dek? Meh mrene neh kan? (di jakarta berapa tahun dek? Nanti balik kesini lagi kan?)" Tanya mas Rifqi.

Aku hanya menggeleng. Aku juga tidak tau bagaimana nanti kedepannya.

"Karang asuuu.. [Umpatan Kasar]" Teriak Adi.
"kowe iso meneng porak Diii?? (kamu bisa diem ngga di?)" Balas mas Rifqi tak kalah kerasnya.

Sementara itu, Beni mulai merangkulku, aga' berat menahan tangannya yg besar ini. Dia memang sedikit gemuk.

"Jare meh Kawan selamanya??" balas Adi lagi.

Aku hanya tertunduk lesu. Entah aku harus marah atau bagaimana menanggapi Adi. Adi bersikap seperti itu jutru karena dia tidak mau kehilangan teman sedari kecilnya.

"wes wes.. Kae delok Tang, ono Pelangi. (sudah.. Sudah.. Lihat itu Tang? Ada Pelangi.)" Benni mencoba menghiburku, agar aku tak tertunduk lagi. Kuangkat kepalaku.

"heh? Ha'a wi, tapi samar-samar (hh? Iya, tapi rada samar)" timpal Pandu disebelahku.

Sedangkan Rara sudah tidak menangis lagi, tapi matanya tetap sembab dan berlinang. Lalu dia tersenyum dan bilang "Hh? Ha'a mas bintang, Apik neni (hh? Iya mas Bintang. Bagus banget)"

Melihat mereka seperti itu, aku malah jadi tambah tidak karuan. Kupandangi Pelangi yg mulai samar itu dengan lamunan bayang-bayang keceriaan mereka. Lemas kakiku, sedih.

"Delokno, ndewe iku kudu koyo pelangi. Meski de'en seje werno, tp de'en tetep siji segares (Lihat, kita itu harus kayak pelangi. Meski mereka berbeda warna, tapi mereka tetap satu segaris)" terang Mas rifqi.

"Yo ibarate, koyo bintang sng ganteng, Mas Rifqi yg bijak, Adi sng galak, Pandu sng ireng, Rara sng Ciwek, Benni sng Genduut. Tapi ndewe tetep sahabat kan? (ya ibaratnya, kayak Bintang yg ganteng, Mas Rifqi yang bijaksana, Adi yang galak, Pandu yang item, Rara yang cengeng, Benni yang genduut, tapi kita tetap sahabat kan??)" lanjut mas Rifqi.

Mendengar penjelasan Mas Rifqi, mereka semua tertawa, apalagi bagian si Beni. Pandu mengocok-ngocok perut beni seolah-olah menegaskan kata 'Genduut' yg diucapkan mas Rifqi tadi. Sementara yg diolok-olok hanya senyum2 seperti orang bodoh.

"karo siji neh, ojo lali karo ndewe. (sama satu lagi. Jangan lupa sama kita)" lanjut mas Rifqi lagi, kali ini sembari merangkul bahuku.

Aku mengangguk dengan tegas.

"nek ndewe ki ibarat pelangi, aku mileh sng Pink ahh (kalo kita itu ibarat pelangi, aku milih yg pink ahh)" Celetuk Rara.
"pelangi yo nono sng pink ciweekk (Pelangi ya ndak ada yg Pink cengeeengg)" ejek beni.
"yo wes aku sng Abang (ya udah aku yg merah)" kataku.
"Nek Pandu sng ireng hahaha sesuai karo kulite ckck (kalo pandu yg hitam hahaha sesuai sama kulitnya ckck)" ejek beni lagi.
"ora, nek Pandu iku mendunge podo irenge ckck (bukan, kalo pandu itu kayak Mendungnya sama itemnya ckck)" ejek mas Rifqi.

Sementara itu, Adi hanya diam tak mengatakan apapun. Lalu dia berdiri dan meninggalkan kami. Dia memang yg paling dekat denganku. Asal kamu tau ini juga berat untukku Di.
«13456789

Comments

  • Bakal Sedih nih sepertinya.....
    Boleh d mention dong kalo update.. Hehe
  • Wahh menarik nih.

    Mention bro...
  • i love friendship..
  • i love friendship..
  • Perpisahan memang selalu menyakitkan
  • ada lanjutannya gak ? friendship yg indah
  • ini lanjutan cerita yang satunya @bintang ... dilanjut ...
  • Mention yaaa
  • @Lulu_75 bukan mas, ini cerita lain. Yg itu lanjut tp nanti... :)
  • lanjutt
  • Kalian tau apa arti dari persahabatan? Menurutku persahabatan itu bagai Tugu. Ya, Tugu.
    ¤
    Monumen Tugu disetiap sudut kota selalu memiliki makna. Sepertihalnya persahabatan, persahabatan juga penuh Makna. Makna akan berbagi keceriaan dan kesedihan.
    ¤
    Tugu terbuat dari tumpukan batu yang menjadi satu, sedangkan persahabatan terjalin dari perbedaan yang menjadi satu.
    ¤
    Tugu itu tinggi, tapi angin, bahkan badai pun tak kan bisa merobohkannya. Begitu juga seharusnya persahabatan. Apapun permasalahan yg menghadang, persahabatan harus tetap kuat dan kokoh bagai Tugu...
    Senin, tak kuingat tanggal dan bulannya. Tapi ini adalah hari yg paling aku benci. Hari inilah aku akan pergi meninggalkan desa tercintaku ini. Dan yang paling mengiris hati adalah aku akan berpisah dengan mereka. Ya, mereka yg tempo hari bersamaku dibukit. Sudah dua hari ini aku tak bertemu dengan mereka. Bahkan untuk keluar rumah pun aku malas. Rasanya membuatku lebih sedih saja jika aku bermain dengan teman-teman, karena pada akhirnya aku akan pergi juga.

    Berkali-kali juga aku membujuk orangtuaku untuk membatalkan rencana perpindahan ini. Tapi mereka tetap kekeuh akan keputusan yg mereka ambil. Disini peranku hanya sebagai anak, aku akan pergi kemanapun mereka pergi.

    Sempat satu kali aku mengurung diri dikamar dan tak makan sama sekali, tapi itu justru membuat keadaan semakin buruk. Engsel pintu kamarku hancur karena dobrakan Bapak. Beliau marah besar. Sejak itu aku mulai pasrah.

    Kini yang aku lakukan hanya membaca komik dan bermain game disekitaran rumah saja. Sembari menunggu semuanya siap, baru kemudian sore harinya kita akan berangkat.

    "sek opo? (sedang apa?)" Bapakku menghampiriku yg tengah duduk membaca komik diteras rumah.

    Tak kupedulikan pertanyaannya. Aku tetap fokus pada cerita komik yang aku baca.

    "Bapak ngerti iki angel gawe Bintang. Tapi enko Bintang entok konco luweh akeh ng kono. (Bapak tau ini sulit buat Bintang. Tapi nanti Bintang dapet teman lebih banyak disana)"

    Aku tetap diam. Sekarang ini aku tidak mau berkata apapun padanya. Karena ujungnya pasti hanya akan memicu perdebatan.

    "Bintang jenkel karo bapak? (Bintang marah sama Bapak?)" tanyanya.

    Aku menggeleng.

    "Bapak yo pengene ora Pindah. Tapi gawean bapak sng mekso. (Bapak juga inginnya tidak pindah. Tapi Kerjaan Bapak yg mengharuskan)" jelasnya.

    "Tapi Bapak kan biso ng Jakarta ndewe. Bintang, Mas Adam, kale Ibuk kan biso tetep ten mriki. (Tapi Bapak kan bisa ke Jakarta sendiri. Bintang, Mas Adam, sama Ibuk kan bisa tetap disini)" kilahku.

    "Terus Bapak ora kangen? Ngono? (Terus Bapak ngga kangen sama kalian? Gitu?)" balasnya.

    "Tapi nengopo Pakde Son biso ng kalimantan ndewe. Mas Roni karo Budhe Sri tetep ng kene.. (Tapi kenapa Pakde Son bisa merantau ke kalimantan sendirian. Mas Roni dan Budhe sri tetap disini kok)" balasku tak mau kalah.

    "Iku seje. Pakde Son bakale balek. Omahe ng kene. (Itu beda. Pakde Son suatu saat akan pulang. Rumahnya disini)"
    "Tapi ndewe rak mrene neh. Bapak meh gawe omah ng jakarta. (Tapi kita ngga akan kesini lagi. Bapak mau buat rumah dijakarta.)" Lanjut Bapak.

    Aku menghela nafas beberapa kali. Aku memang sudah tau jika kepindahanku ini tidak akan membuatku kesini lagi. Tapi penegasan Bapak tadi, membuatku lebih tak enak hati. Hilang sudah semangatku. Semangat untuk bersekolah, semangat untuk rumah baru, semangat untuk lingkungan baru, semangat untuk hidup. Tak ada lagi.

    "mending saiki pamit sek karo konco-koncomu. (Mending sekarang kamu pamit dulu sama temen-temenmu)"

    Bapak menyarankanku untuk pamit pada mereka terlebih dahulu. Benar juga kata Bapak, apalagi selama ini kita bersahabat baik. Tak baik rasanya jika aku pergi begitu saja.

    Kuputuskan untuk pergi kerumah Rara saja dulu.
    "Assalamualaikum.."

    "Dek..? Assalamualaikum.."

    "Dek Rara...?"

    Beberapa kali kuucapkan salam tapi tak ada satu orang pun yang keluar rumah. Pintunya juga tertutup. Mungkin Rara dan keluarganya sedang pergi.

    Lebih baik aku kerumah Pandu saja. Rumah Pandu tepat berada dibelakang rumahku. Itu artinya, aku harus pulang lagi. Seharusnya tadi aku kerumah Pandu saja dulu.
    "Assalamu'alaikum"

    "Wa'alaikum salam." Terlihat kakak Pandu keluar dari pintu belakang rumah. Dia sedang menjemur Pakaian rupanya.
    "Pandu ne wonten Mbak Lina? (Pandu nya ada Mbak Lina?)" tanyaku.
    "Oh Pandu ne durung bali ko'an Tang. (Oh Pandu nya belum pulang Tang)"

    Belum pulang? Kemana saja dia? Ini sudah Pukul satu siang. Seharusnya dia sudah pulang. Apa dia sedang ikut Les?

    Aku memang tidak tau lagi tentang kegiatan sekolah. Karena sudah sejak Sabtu lalu aku tidak berangkat sekolah. Bapakku meminta Izin dari sekolah untuk bersiap-siap menjelang keberangkatan kami ke Jakarta.

    "Oh nggeh mpun mbak. (Oh, ya udah mbak)"

    "Bintang... "

    "Jaga diri baik-baik yo.." ucap mbak lina. Lalu kemudian dia memelukku.

    Dia memang sudah kuanggap seperti Kakak perempuanku sendiri.

    "Bintang Pamit mbak.." kataku.

    Mbak lina mengangguk...
  • Aku menuju rumah Adi. Sedikit ada rasa khawatir jika saja dia masih marah. Tapi jika aku tidak pamit padanya, mungkin saja hubungan kita dimasa depan akan lebih buruk. Karena tekatku adalah aku harus kembali kesini. Tidak peduli kapan, tapi aku tetap akan kembali kemari.
    Tak butuh waktu lama untuk sampai, karena memang sejatinya kita adalah tetangga se-desa. Terlihat beberapa Ibu-ibu paru baya dan bapak-bapak sedang bercengkrama disana. Pakde Yuri (ayah adi) juga kudapati disana. Kuhampiri saja.

    "Assalamualaikum.." sapa ku.

    "Wa'alaikum salam.." jawab mereka serentak berbarengan.

    "Adi ne wonten Pakde? (Adi nya ada Pakde?)"

    "Oh bintang. Kae ng njero. Di..!!!" panggil pakde yuri.

    "mlebet bae Tang. (masuk saja Tang)"

    Aku hendak masuk, namun beberapa tetangga Adi ini mulai melemparkan beberapa pertanyaan padaku. Tentu saja seputar kepindahanku. Kujawab saja seadanya, bahwasanya kami akan pindah ke Jakarta dan kepindahan kami semata-mata hanya karena pekerjaan Bapak.

    Belum sempat aku masuk, tiba-tiba saja Adi keluar rumah.

    "Pak opo mrene? (Mau apa kesini?)" tanyanya rada ketus.

    "aku meh pamet Di." aku berusaha untuk tetap santai dan tersenyum.

    "lungo geri lungo kok (pergi ya pergi aja)" jawabnya.

    Mengapa dia bersikap seperti itu? Padahal sebelum ini kita adalah kawan baik. Apa dia sudah tidak menganggapku sebagai teman nya lagi?

    "Adi..!!!" bentak ayahnya.

    Sementara semua orang yg ada disini diam menatap kami berdua. Aku tidak tau harus bersikap bagaimana, aku diam saja.

    "nek meh lungo, lungo mrono. Rak usah ngebacot. (kalo mau pergi, ya pergi sana. Ngga usah banyak bacot)" Adi mengatakan itu dengan tangan seperti mengusir. Lalu kemudian dia pergi entah mau kemana.

    Pakde Yuri sempat memarahinya namun Adi tetap tak menghiraukannya. Sementara aku? Aku hanya diam bingung harus bagaimana. Perasaanku campur aduk tidak karuan.

    "Bintang rak usah rungok'ke omongane Adi yo. Sng penting bintang ng kono dadi anak rajin, ojo nyusahke bapak mbek ibu. (Bintang, ndak usah dengarkan omongan Adi ya. Yg penting bintang disana harus jadi anak rajin. Jangan menyusahkan Bapak sama Ibu.)" Pakde Yuri mencoba untuk menghiburku.

    Aku mengangguk saja. Lalu kemudian aku pamit pada mereka semua. Kusalami mereka semua satu-persatu.

    Sedikit sesak melihat tingkah Adi seperti itu. Dia bukannya menghiburku disaat-saat terakhirku, justru malah seperti memutuskan tali pertemanan begitu saja.

    Sekarang mungkin aku harus kerumah Mas Rifqi saja. Perasaanku mengatakan akan baik-baik saja jika dengan Mas Rifqi. Dia juga menerima kepindahanku dengan baik-baik. Meski berat kaki ini melangkah, tapi aku meyakinkan diriku bahwa aku baik-baik saja. Adi tetap temanku. Tetap sahabatku...
    Rumah Mas Rifqi tak jauh dari rumah Pandu. Hanya saja aku harus melewati satu gang dan beberapa sekat rumah saja.

    Kulihat dia sedang mencuci sepeda nya diteras rumah.

    "mas.." panggilku.

    "woi." dia sedikit terkaget.
    "durung mankat? (belum berankat?)" tanyanya.

    "nha iki aku meh pamet. Hehe (ini aku mau pamit)" jawabku.

    Tangannya mengisyaratkan untuk aku mengahmpirinya. Mas Rifqi ini usianya setahun lebih tua dariku.

    Aku mendekat.

    "yor piye? (terus gimana?)" tanyanya.
    "tekan kene sek wae rwa? (sampe sini dulu ya?)" lanjutnya sembari menjulurkan tangan.

    Kujabat tangan nya. Hangat, penuh persahabatan.

    "mankate jam piro? (berankatnya jam berapa?)" tanyanya lagi.

    "paling jam empat-lima an. Meh sore-sore'an."

    "jek ono wektu. (masih ada waktu)" kata nya.

    Dia menyiapkan sepedanya, lalu menyuruhku untuk naik ke boncengan nya.

    "ayo tak jek (ayo ikut aku)"

    Aku menurutinya. Entah kemana dia mau membawaku pergi.

    Mas Rifqi mulai mengayuh sepedanya. Berjalan menyusuri rumah-rumah. Lalu keluar gang menuju perkebunan Teh. Kita bersepeda diantara hamparan daun-daun hijau yg bisa kami seduh ini.

    "Pit-pitan wae sek (Sepeda'an dulu ya.)" katanya setengah berteriak.

    Dia mengayuh sepeda ini cepat sekali.

    "Siaapp" aku mengacungkan jempol kedepan.

    Kita bersepeda dengan gila. Setiap ada jalanan yg menurun, kita teriak sejadi-jadinya. Hahaha. Beperapa pengunjung yg melihat kami sempat menggeleng-gelengkan kepala. Mungkin mereka piki 'Anak siapa itu, dasar tak sayang nyawa'. Ckck

    Pun pasangan sejoli yg tadinya sedang berangkulan mesra, begitu mendengar teriakan kami mereka langsung berpisah satu sma lain. Mungkin mereka juga berpikir hal yg sama. Hehe
    Kami memutuskan untuk ke bukit waktu itu saja. Bercerita tentang bagaimana kedepannya nanti. Sekedar ngobrol-ngobrol sebelum akhirnya kami benar-benar berpisah.
  • "apik rwa pemandangane? (bagus ya pemandangannya?)" kata nya.

    Kami duduk dihamparan rumput basah dengan pemandangan petakan-petakan sawah penuh kabut.

    "ndewe ki wes koyo wong pacaran wae mas. Hehe (kita udah kayak orang pacaran aja mas hehe)" kata ku.

    Dia tertawa saja, lalu merangkulku

    "ojo lali tenan karo temen-temenmu yo Tang" tegasnya.

    "iyo mas,"

    "Sobat??" dia mengepalkan tinju kearahku.

    Kupandangi wajahnya, tak ada guratan sedih, atau marah sekalipun. Dia tersenyum dengan begitu sumringah. Justru malah aku sekarang yang sedih.

    "sobat, hehehe." kubalas pukulannya sepertihalnya pertamanan anak laki-laki.
    Perpisahan adalah hal yang paling aku tidak suka. Berpisah dengan teman-teman yg entah mulai kapan aku mengenalnya.

    Tidak ada kata 'Perkenalan' diantara kami. Kami tumbuh bersama, layaknya saudara kandung yg serumah. Kami berangkat sekolah bersama, kami bolos sekolah bersama, kami mencuri buah semangka juga bersama-sama. Bahkan sunat pun kami dengan dokter yang sama. Dan aku harus meninggalkan mereka semua?

    Dulu kita berjanji untuk tetap bersama sampai tua dan punya anak. Bahkan Pandu berencana untuk menjodohkan anaknya dengan anak ku suatu hari nanti. Impian-impian gila ini selalu kami utarakan disetiap kami bermain.

    Kami bermimpi untuk bersekolah disekolah yang sama, kuliah di kampus yang sama, dan menikah di waktu yang bersama'an.

    Kini semua Tawa ini tak kan pernah kulihat dan kudengar lagi...
    "ayo balek mas" ajakku.

    Aku tak tahan lagi disini. Dua hari ini aku sengaja untuk tidak keluar rumah agar aku tidak merasakan hal ini. Hanya dengan mas Rifqi saja, aku sudah mulai merasa tidak rela untuk pergi.

    Kepalan tangan tadi itu, justru malah seperti semakin menahanku. Aku benar-benar tidak ingin pergi.

    "ayo mas, enko wedine nek bapak nggolek'i (ayo mas, takutnya nanti kalo bapak nyari'in)" ajakku lagi.

    "yo wes, ayo."

    Aku dan mas rifqi kembali menuruni bukit. Dia akan mengantarku pulang sekalian pamit.
    Setelah menuruni bukit, menyusuri kebun teh, dan masuk ke gang perumahan, kami sampai didepan rumahku. Sudah ada satu mobil minibus dan satu mobil pick up disana. Beberapa tetangga juga ada disana untuk mengantarkan keberangkatanku dan keluarga.

    Aku menghela nafas panjang.. Baiklah, ini saatnya.

    Setelah beberapa lama kami bercengkerama, aku dan keluargaku menyalami mereka satu persatu. Lalu kami naik mobil untuk kemudian langsung menuju ke Ibu Kota.

    Kubuka jendela mobil, karena kulihat mas rifqi tepat berada didepannya. Kukepalkan tanganku kearahnya.

    "sobat?" ucapku. kali ini dengan sedikit mata berlinang. Hehe.

    "sobat!" dia membalas tinjuku. Kali ini tanpa guratan senyum sedikitpun.

    Beberapa orang yg ada disini melihat tingkah kami berdua. Mereka semua diam seolah memberi ruang untukku dan mas Rifqi.

    Mobil mulai berjalan. Dari jendela kuperhatikan wajah-wajah ini. Wajah penuh sahaja, wajah dengan senyum yg selalu menghiasinya. Orang-orang ini... Semua orang ini, aku tak kan pernah melihatnya lagi.

    Mas rifqi berlari kecil mengejar mobilku.

    "semangat, ojo lali karo ndewe tenan lho (semangat, jangan lupa sama kita lho)" ancamnya.

    Aku sudah tidak bisa menahan diri lagi.

    "mas rifqi, ojo lali karo aku yo? (mas rifqi jangan lupa sama ku yo?)" kata ku menangis.

    "pasti!!! Janji!!!" tegasnya.

    Ibuku sempat mencium kening mas rifqi, padahal mobil sedang berjalan. Mas rifqi tetap berlari mengimbangi. Semakin cepat,, dan cepat.. Kini mobil hampir keluar gang perumahan..

    "BINTANG SEMANGAAAAAAAAAAAATTTTT" Teriaknya.

    Dia sudah jauh tertinggal dibelakang, tapi aku tetap bisa mendengarnya. Kakiku lemas, semua persendianku terasa lemas. Aku benar-benar tidak ingin pergi.
    Mobil sudah keluar gang dan kini kami melewati jalan utama dengan kebun teh disekeliling nya untuk kemudian kami sampai di Jalan pantura dan menuju ke arah Ibu Kota.

    Namun baru saja kami keluar gang, ada yg memanggil-manggil namaku. Kutoleh kebelakang.

    Itu Pandu dan Rara. Pandu berlari cepat sekali mengejar mobilku. Sedangkan Rara jauh tertinggal dibelakang.

    "Pak mandeg pak.. (Pak berhenti pak.)" perintahku pada yg mengendarai mobil ini.

    Bapakku sempat melarang, namun aku memaksa. Ibu' juga membantuku untuk menghentikan mobil ini. Seperti dengan terpaksa, bapak pun akhirnya menuruti.
  • Kini mobil benar-benar terhenti. Pandu sampai didepan jendela terengah-engah. Kubuka jendela dengan tergesa.

    "hehehe, iki gawe kenang-kenangan. (ini buat kenang-kenangan)" ucapnya, dia memberiku beyblade dan mobil Tamiya. Tapi, ini Tamiya kesukaannya..

    Aku benar-benar lemas. Kupandangi wajahnya. Dia tersenyum lebar sekali, sembari sesekali menarik nafas karena tadi habis berlari.

    Ibu kemudian mencium kening pandu. Tak lama setelah itu Rara sampai didepan jendela mobil. Ibu juga kemudian menicum kening Rara.

    "Ojo lali karo aku yo mas, hehe" ucap Rara. Dia mengatakan itu dengan mata penuh air, namun tetap dipaksakan dengan sedikit tawa.

    "Sobat??" Pandu mengepalkan tangan kearahku.

    Aku tidak bisa. Aku benar-benar tidak bisa. Aku menangis sembari membalas tinju nya.

    "Sobat!!!" kataku.

    Sementara Rara diam memperhatikan. Bibirnya benar-benar terkatup rapat menahan tangis.

    "Mlaku pak. (jalan pak)" kata bapak.

    Perlahan, mobil mulai berjalan. Pandu dan Rara berlari kecil mengikutiku. Kulihat Pandu, kali ini tak ada lagi senyum diwajahnya. Matanya sedikit berair.

    Mobil semakin cepat. Dan cepat.
    Mereka berdua tertinggal dibelakang.

    "BINTAAAAANNNNGGGGG......" Teriak pandu.

    Aku keluarkan kepalaku dari jendela sembari melambaikan tangan pada mereka.

    Itu? Dia... ?

    Adi?

    Kulihat Adi dibelakang Pandu dan Rara. Dia melambaikan tangan padaku.

    "ADIIIIIIIIIIIIII...." Teriakku..

    Adi berlari begitu cepat mengejar mobilku. Aku meminta untuk menghentikan mobil ini sekali lagi. Tapi bapak tidak mengijinkan.

    "SOOBAAAAAAAAATTTT???" teriak Adi dari kejauhan sambil mengarahkan tinju nya.

    "SOOBAAAAAAAAAATTTT!!!!" teriakku dengan membalas tinjunya dari kejauhan.

    Kulihat Adi di depan Rara dan Pandu. Tubuh mereka terlihat semakin kecil seiring mobil ini berjalan menjauh.

    Aku tetap memperhatikan mereka dengan perasaan tidak karuan. Kulihat Adi kemudian menutup matanya dengan lengannya, lalu pandu merangkulnya. Sementara Rara berdiri dibelakang mereka.
    Sobat.. Kalian sahabat terbaikku. Aku janji suatu hari nanti kita akan bertemu lagi. Selamat tinggal KAWAN.....

Sign In or Register to comment.