BoyzForum! BoyzForum! - forum gay Indonesia www.boyzforum.com

Howdy, Stranger!

It looks like you're new here. If you want to get involved, click one of these buttons!

Selamat datang di situs Boyzforum yang diarsipkan oleh Queer Indonesia Archive. Forum untuk komunitas gay Indonesia yang populer ini didirikan pada tahun 2003, dan ditutup pada tanggal 15 Desember 2020.

Forum ini diabadikan untuk kepentingan sejarah. Tidak akan ada konten baru di forum ini. Silakan menikmati forum ini sebagai potongan dari sejarah queer Indonesia.

PULANG

edited September 2014 in BoyzStories
Permisi, newbie mau share cerita aja
udah lama nggak nulis, silakan dibaca

kritik, saran atau komentar silakan ditulis dibawah.
semoga yang baca menikmati ceritanya
terima kasih :D

“Saya mau beli yang itu mbak!” ujarku kepada seorang pramuniaga toko handphone.
Mbak pramuniaga itu menoleh, lalu tersenyum saat melihatku. “Oalah, jadi mas yang ini?”
“Jadilah,” sahutku. “Udah sering ngeliat, nanya-nanya, megang-megang. Masak nggak jadi?”
Dia pun mengangguk kemudian menyiapkan pesananku. Sempat kulihat namanya Sherli dari ID Card-nya.

Setelah transaksi, akhirnya satu unit iPhone 5S gold bisa kubawa pulang. Sebelumnya aku memang sering mampir ke toko ini, melihat-lihat ponsel itu. Sampai pramuniaga yang bernama Sherli itu mungkin hafal wajahku. Harganya mahal memang, tapi untungnya Sherli memberi tahuku untuk promo akhir tahun. Lumayan kan?
“iPhone-nya buat mas?” tanya Sherli saat pengetesan unit.
“Bukan, buat pacar saya,” jawabku.
“Wah, beruntung banget ya pacar mas. Dibeliin iPhone,” celetuk Sherli sambil tersenyum seolah membayangkan.
Aku cuma tersenyum.

“Nggak sekalian, mas. Cover-nya? Kita ada yang Hello Kitty, back cover gambar Eiffel. Favoritnya cewek?” tawar Sherli.
“Nggak deh mbak, pacar saya nggak bakal suka,” jawabku terdiam sebentar memberi efek dramatis sambil menatap mata Sherli. “Soalnya dia cowok.”
“Oh,” gumam Sherli pelan dan tertegun selama beberapa detik. “Oke deh mas.”
“Anti goresnya aja,” tambahku.

Aku ingin tertawa melihat reaksi Sherli. Kutimang-timang lagi ponsel berbalut keemasan itu. iPhone ini akan jadi kado ulang tahun termanis untuk Bobby, besok. Bobby tidak pernah meminta, tapi aku tahu dia sangat menginginkannya. Padahal sebentar lagi iPhone 6 akan rilis, tapi Bobby kekeuh memfavoritkan iPhone 5S. Entah apa alasannya. Atau bahkan saat kubelokan ke ponsel Android, dia masih tetap dengan produk berlambang apel groak itu.

“Anti goresnya biar saya sendiri yang pasang,” ujarku saat Sherli berniat membuka pack-nya.
“Oke,” sahutnya. Dia merapikan ponsel itu sampai benar-benar rapi. “Terima kasih telah berbelanja di XYZ shop, ditunggu kembali kedatangannya.”
Kulemparkan senyum sebelum pergi kepada Sherli, kulihat masih ada seraut shock di wajahnya.

Sambil jalan menuju parkiran, aku telpon Bobby. Sambil kulirik arloji, sekarang jam enam. Apa dia sudah pulang kuliah? Setelah beberapa nada “tut” akhirnya panggilanku diangkat.
“Halo Yang, ada apa?” tanya Bobby.
“Hai, sweetheart! Kamu udah pulang?” tanyaku.
“Udah,” sahut Bobby. Suaranya terdengar seperti orang habis kerja rodi.
“Kok kamu kayak ngos-ngosan gitu, Yang?” tanyaku. “Abis nguli ya?”
“Aku lagi beres-beres kamar ini,” jawab Bobby.
“Oalah,” ujarku. “Yaudah, aku kesana deh.”
“Oke,” jawab Bobby.
Telepon selesai tepat saat aku tiba di depan motorku. Aku segera bergegas, kusempatkan beli beberapa cemilan sebelum ke kostan Bobby. Tidak lupa kusembunyikan hadiah itu di kantong rahasia ranselku.

Kostan Bobby berada di kawasan padat yang rawan macet. Apalagi kebanyakan pengguna jalan itu manusia bermental orang susah. Tukang serobot, tidak sabaran, hobi klakson, tidak tahu aturan, egois. Ya, tapi kemunculan manusia-manusia itu tidak setiap saat. Setelah parkir di halaman, aku segera menuju lantai dua ; kamar di pojok lorong. Pintunya setengah terbuka.

Aku mengendus diriku, parfumku sudah cukup semerbak untuk radius dua meter.
“Selamat sore,” sapaku sambil mengetuk pintu.
“Waalaikum salam!” sahut Bobby, sedang mengangkat dos besar ke tumpukan. Anak itu menoleh ke arahku.
Keringatnya mengucur deras, membasahi wajah dan kaos singlet yang dia kenakan. Sekilas dia seperti kuli bangunan dekil, tapi di mataku Bobby terlihat seksi.
“Kerja keras banget, bro?” gumamku sambil melihat kamar Bobby yang berantakan.
“Lumayan,” sahut Bobby sambil menyeka keringat di dahinya. “Udah lama nggak beres-beres.”
“Aku bawa pisang bakar keju kesukaan kamu,” ujarku sambil menunjukan bungkusan di tanganku.
“Mantap!” ujar Bobby sumringah.

“Mandi dulu gih, baru kita makan di teras!” ujarku.
“Tanggung, aku cuci tangan aja!” kata Bobby lalu bergegas ke kamar mandi.
“Aku ke teras duluan ya,” kataku, lalu menuju teras.
Sebenarnya lebih tepat disebut beranda, karena biasa dipakai untuk menjemur baju para penghuni kost. Tapi posisinya bagus dan ada dahan pohon mangga yang menjorok ke teras.

Pemandangan di teras adalah jemuran celdal, boxer, singlet sampai kaos butut. Tapi penghuni kost punya inisiatif dengan meletakan meja bekas dan sofa butut yang masih bagus disana. Lumayan kan buat nongkrong sambil memetik buah mangga. Jam segini penghuni kostan masih terjebak macet di jalan, jadi tidak akan ada yang minta icip.
“Tumben-tumbenan nih?” Bobby tiba-tiba duduk di sebelahku. “Katanya kamu lagi sibuk?”
“Sibuk sih,” sahutku sambil mengambil satu pisang dan kusodorkan ke mulut Bobby. “Tapi aku kangen, mau ketemu my sweetheart.”
“Co cweet-nya,” sahut Bobby sambil mengunyah.

Namaku Arphan , pegawai di usaha kecil-kecilan milik keluarga. Yang sekarang sedang dalam misi membawa usaha tersebut ke kancah internasional. Hidupku sederhana, tidak bergelimang harta tapi selalu cukup. Sebaliknya dengan pacarku ini, dia memang berasal dari keluarga berada. Bobby Satrio Adhiyasa, anak tunggal keluarga ningrat di Depok. Sebenarnya Bobby punya dua orang adik perempuan, tapi mereka semua meninggal saat masih kecil. Jadilah dia anak semata wayang yang akan mewarisi kekayaan orang tuanya.

Eits! Aku memacari Bobby bukan untuk uangnya! Aku benar-benar tulus mencintai Bobby. Keluargaku itu punya kebiasaan, kami cuma jatuh cinta sekali seumur hidup. Dan bisa dibilang Bobby adalah pertama dan terakhir. Cinta monyet jaman sekolah tidak dihitung.
“Aku sayang kamu,” bisikku kepada Bobby.
Anak itu terdiam sebentar, kunyahannya memelan. Dia menatapku lurus-lurus. Kami saling menatap seperti dua makhluk mau kawin. Bobby tersenyum simpul.
“Udah lama aku nggak ngedenger kata-kata itu,” ujarnya.
“Hahaha,” sahutku. Aku ingat dulu dia memintaku agar tidak terlalu sering mengucapkan “I Love You”. Waktu awal-awal pacaran aku memang agak berlebihan. Maklum waktu itu kan pertama kalinya aku pacaran.

Bobby pemuda tampan yang berkulit putih bersih. Apalagi badannya “jadi” hasil nge-gym sejak SMA. Apalagi perawakannya macho dan cool. Tak akan ada yang menyangka bahwa dia gay. Apalagi dia bottom. Sebaliknya aku yang terlihat biasa saja, bahkan cenderung tukang ngambek adalah yang top. Banyak yang bilang kami pasangan yang unik. Karena tidak seperti pasangan gay lazimnya.

Kan ada rumusnya:
Top+Bot= Cocok
Top+Top= Nggak Pantes
Bot+Bot= Lesbi

Tapi aku sendiri sih merasanya top. Atau vers?

“Gimana kuliahmu?” tanyaku sambil membelai rambut Bobby.
“Lancar,” sahut Bobby menyomot lagi pisang kejunya. “InsyaAllah tahun depan wisuda.”
“Bagus!” kataku sambil mengancungkan jempol. “Biar cepat jadi sarjana kebanggaan mama-papa.”
Bobby mengangguk tersenyum. Dia lalu menyandarkan badannya ke bahuku.
“Dan kebanggaanku juga,” bisikku di telinganya.
Pisang keju bakarnya sudah habis, Bobby pasti lapar sekali. Kami berdua terhanyut dalam hening, menikmati semilir angin yang sesekali membelai kami. Momen seperti ini jarang sekali bisa kami dapatkan. Well, sejak kami berdua sama-sama sibuk.

“Bantuin aku yuk! Tinggal beresin dus-dus aja,” kata Bobby seraya bangkit.
Tak lama terdengar bunyi beberapa motor masuk ke halaman. Sepertinya para penghuni kost sudah mulai berdatangan.
“Sama ngerapihin kamar,” tambah Bobby.
“Oke,” sahutku. Sekalian olah raga.
Pertama angkat-angkat dus ke area pembuangan, sedang Bobby merapikan kembali perabotannya. Lalu kami bersama-sama bersih-bersih. Setengah jam baru selesai, aku dan Bobby duduk bersandar di tembok. Menguras tenaga juga. Untung aku bawa dua botol minuman segar, lumayan kan untuk melepas dahaga.

Keringatku mengucur deras, bajuku lepek.
“Aku mau mandi, Yang,” ujarku.
“Bareng yuk!” ajak Bobby sambil tersenyum mesum. “Udah lama kan?”
Aku pun tersenyum lebar. Kalau begini yang ada mandinya nggak selesai-selesai.
OoO

Cahaya matahari yang hangat membangunkanku. Cahaya yang menembus dari jendela kamar. Aku membuka mata dan mendapati diriku berada di kamar Bobby. Terbaring hanya berbalut selimut putih kebiruan. Semalam kami tempur habis-habisan.

Bobby meninggalkan note, dia harus berangkat kuliah pagi-pagi. Baiklah, aku tidak keberatan. Aku garuk-garuk kepala sambil mengumpulkan nyawa. Aku melirik ranselku, seharusnya semalam aku berikan hadiah itu. Semalam kami terlalu asyik mendaki puncak kenikmatan.

Kupungut celana boxer-ku, aku pemanasan kecil sembari meregangkan ototku. Tak sengaja aku menendang dus di kursi belajar Bobby, sampai isinya jatuh berhamburan.
“Astaga,” gumamku. “Bikin perkara aja lu, Phan!”

Aku membereskan kembali isinya ; yang terdiri dari buku-buku lama. Sebagian buku pelajaran jaman SMA dan buku-buku tulis. Dari sekian benda-benda itu ada satu buku yang menarik perhatianku. Di lembaran pertama ada biodata Bobby, lengkap dengan foto 3x4 ala foto ijazah. Tadinya kukira ini buku penghubung, tapi ternyata buku harian. Cowok semaskulin Bobby bisa juga punya buku harian.

--12 November
Aku berhasil memenangkan lomba atletik.
Aku menang taruhan!!
Hilmi berjanji akan memberikan koin zaman Belanda miliknya
Sepasang koin emas kuno kebanggaannya

--28 November
Setiap Hilmi menginap, mama pasti masak enak
Obrolan di meja makan jadi terasa hidup
Adikku pun menyukainya, seperti abang sendiri

Sampai-sampai aku pernah merasa dianak tirikan

--5 November
Gatfan mengajakku main PS di rumahnya
Dia punya kaset-kaset limited edition yang sudah lama kuincar
Tadinya kami cuma main berdua, kemudian Irfan datang

Mulanya Gatfan menyodorkanku rokok, kemudian rokok ganja
Ditambah Irfan mencekokiku minuman alkohol
Lama-lama aku teler

Entah bagaimana ceritanya, Hilmi datang
Membawaku pergi dari tempat laknat itu
Kalau dia tidak datang, aku tidak tahu selanjutnya bagaimana

Hilmi pun mengomeliku, dia sudah sering menasihatiku agar,
Menjauhi Gatfan dan kawanannya
Aku menurut

--7 November
Aku memamerkan gambar-gambar waria dalam pose menggelikan
Niatnya ingin kubuat gambar parodi, tapi sebelumnya Kutunjukan
-kepada Hilmi supaya kita tertawa bersama
“Mereka benar-benar konyol! Ampun, najis banget!” ujarku

Hilmi cuma tersenyum
“Jangan menghina orang lain, nggak baik.”
“Tapi liat dah! Jijik banget lho. Bisa-bisanya Tuhan nyiptain
-manusia macam itu?”
“Kamu nggak boleh gitu, belum tentu kan kamu lebih suci dari
-mereka? Mereka kan juga nggak minta ditakdirkan kayak gitu.
Seandainya kamu yang jadi kayak mereka, dan diolok-olok gimana?”

Aku langsung diam, Hilmi selalu lebih bijaksana
Setelah itu kuhapus foto-foto itu

--25 November
Hari ini aku dan Novi double date dengan Hilmi dan Sari
Kami jalan ke Botani Square, makan-makan dan nonton film
Hilmi seperti sengaja pamer kemesraan
Dasar norak! Apa maksudnya coba?

--30 November
Seks pertamaku dengan Novi gagal
Siapa lagi pelakunya kalau bukan Hilmi?
Untuk apa dia menelponku pura-pura kecelakaan?
Aku benar-benar marah kepadanya

--4 Oktober
Hilmi tidak masuk beberapa hari ini
Usut punya usut karena dia putus dengan Sari
Sampai-sampai dia kabur dari rumah

Enggak tahu aku harus merasa senang atau sedih

--6 Oktober
Hilmi adalah sahabatku sejak kecil
Dia anak yang periang dan aktif, semua orang menyukainya
Bahkan karena berteman dengannya,
aku yang angkuh dan egois perlahan menjadi anak baik

Aku ingat dulu aku pernah jatuh ke kolam sedalam dua meter
Dan Hilmi yang menolongku,
aku berhutang nyawa kepadanya

--7 Oktober
Aku datang ke rumahnya
Dia ada disana, tidak seperti yang dirumorkan
Hilmi memang terlihat agak kuyu, kata ibunya dia sakit

Dia senang melihat kedatanganku
Seolah sakitnya sembuh mendadak
Aku memutuskan menginap di rumahnya

--12 Oktober
Hubunganku dengan Hilmi kembali seperti biasa
Dia tetap sahabatku yang sok-sokan berlagak jadi abangku
Sosok populer dan anak emas guru
Ya, itulah Hilmi

Sampai suatu hari Sari memperingatiku agar menjauhi Hilmi
Dia bilang sahabatku itu faggot alias homo
Dia bahkan membeberkan beberapa rahasia,
Yang seharusnya membuka mataku bahwa Hilmi menyukaiku

--27 Oktober
Hilmi mungkin sadar aku jaga jarak dengannya
Dia sampai menyeretku agar aku mau berbicara dengannya
Aku tidak berani menatapnya

Perasaanku campur aduk saat berhadapan dengannya
Rasanya ingin kabur saja, tapi aku sadar
Kabur itu bukan jalan keluar

“Aku mohon sekali, besok ikut aku. Kita bicara empat mata
-di tempat yang lebih tenang.”
Aku tidak bisa menolak

--28 Oktober
Hilmi mengajakku ke sebuah situ daerah Cibinong
Kami duduk disana

“Sari cerita sesuatu ya ke kamu?” tanyanya.
Aku tidak menjawab.
“Itu betul, aku memang suka kamu sejak dulu. Dan itu juga
-salah satu alasanku putus dari Sari. Aku bosan membohongi diriku
-sendiri. Kalau situasinya begini, apa kamu masih mau bersahabat denganku?”
Aku masih tidak menjawab.
“Kayaknya nggak ya?” sahut Hilmi sambil garuk-garuk kepala.
“Maaf ya aku jadi menodai persahabatan ini. Ini salahku.”
Aku bahkan tidak menatap matanya, pandanganku lurus ke arah air
“Hei, ngomong sesuatu lah. Seburuk itukah aku di matamu?”

Aku cengkram pergelangan tangan Hilmi, kutatap tajam dia.
“Kamu suka aku? Kamu menginginkan ‘itu’ kan? Ayo kita lakukan!”
“Hei, ini bukan soal...”
“Kita cari hotel terdekat, puaskan hasratmu! Setelah itu menjauh
-dari hidupku!”

--2 Desember
Malam itu, dia benar-benar melakukannya
Yang aku rasakan hanya kosong Hingga saat klimaks
dia membisikan, “aku mencintaimu tulus.”
Aku merasakan gejolak di hatiku, tapi aku berusaha menampiknya
Hilmi benar-benar menjauh

Kemudian datang kabar bahwa Hilmi dan ibunya pindah ke Manado
Aku seketika blank
Dan rasa menyesal menyembur deras bak lumpur lapindo

--5 Desember
Aku bahkan tidak sempat mengucap selamat tinggal
Kami berpisah dengan cara yang buruk
Aku menyesal, sangat menyesal!
OoO

Aku menyesal membaca buku ini. Tapi aku penasaran ingin mengetahui ending buku harian ini. Buku harian adalah privasi, sekalipun itu milik Bobby. Aku berusaha meletakan kembali buku itu ke dalam dus.
 Standing in the hall of fame, And the world's gonna know your name
Cause you burn with the brightest flame

Ponselku berdering ; Bobby menelpon.
“Iya, Yang?” sapaku.
“Kamu udah bangun?” tanya Bobby. “Jangan lupa sarapan!”
“Oke, my sweetheart!” sahutku. Rasanya hatiku bahagia sekali, Bobby seperhatian ini. Kurasa seks semalam berhasil. “By the way, hari ini jadwal kamu apa aja?”.
“Ada tugas kelompok, presentasi materi sama ketemu dosen pembimbing,” jawab Bobby.
“Wow, sibuk ya?” gumamku garuk-garuk dagu. “Nanti aku jemput kamu ya, jam delapan.”

“Mau ngapain?” tanya Bobby.
“Mau merayakan hari spesial kamu lah!” ujarku dengan semangat. “Aku nggak akan melewatkan momen ini.”
“Baiklah,” sahut Bobby. “Aku pegang omonganmu, Yang.”
“Oke, komandan!”

Otakku berputar untuk segera menyiapkan sederet rencana. Aku ingin Bobby mendapatkan pengalaman tak terlupakan sesi kedua. Aku melirik lagi buku harian itu, ku urungkan niatku untuk melihat ending-nya. Aku langsung memesan kamar hotel di daerah Blok M, lalu melihat-lihat daftar restoran paling enak. Tapi kalau kupikir-pikir lagi, banyak kok tempat makan biasa yang menawarkan makanan yang tak kalah enak. Warung bakso di Pejaten, mie ayam di Ciganjur atau ayam bakar di Cililitan.

Aku langsung bangkit, tidak sabar rasanya untuk sampai jam delapan. Seharusnya hari ini aku sudah ada di kantor (a.k.a rumah). Tapi tak apalah, toh ada abangku ini yang akan mem-backup. Aku bergegas mandi dan berpakaian. Jadwalku hari ini adalah rapat dengan beberapa rekanan lalu meninjau tambak udang di Depok.

Banyak yang bilang hubungan sesama jenis tak akan ada yang awet. Salah satu pasangan selingkuh lah, memutuskan normal lah, dipaksa menikah. Hubungan yang normal saja tidak sedikit yang kandas. Tapi kali ini aku tulus mencintai Bobby. Aku akui, beberapa bulan belakangan aku terlalu sibuk merintis ulang usaha keluargaku. Beberapa kali aku kehilangan momen dengan Bobby. Dan Bobby masih memaafkanku.

Mungkin dia balas dendam dengan sibuk dengan kuliahnya. Ah, tapi itu cuma pikiran negatifku saja. Dia memang dalam semester terakhir dan sibuk mengurus skripsinya. Namun sesibuk-sibuknya aku, pasti akan menyempatkan waktu mengontak Bobby. Meski sekadar bilang halo atau obrolan singkat.

Teman-temanku banyak yang bilang, aku termasuk beruntung bisa mendapatkan Bobby. Bot manly itu amat sangat langka. Cuma orang-orang terpilih yang bisa memiliki mereka. Seharusnya aku sujud syukur dan menyantuni seratus anak yatim sebagai tanda terima kasihku.

Aku ingat pertemuan pertama kami adalah di rumahku sendiri. Saat itu Bobby dan dua kawannya sedang survey lapangan tentang industri UKM. Keluargaku adalah pengrajin udang. Kami menyediakan udang mentah, dan juga mengolahnya menjadi kerupuk, rempeyek atau kremes. Bobby adalah ketua kelompok survey itu, dia jadinya yang paling sering kontak-kontak denganku. Ngobrol sambil ngopi, melihat pembuatan kremes, melihat tambak udang. Bahkan Bobby membantu memasarkan kremes udangku ke kampusnya. Sejak saat itulah kami jadi dekat.

Aku mampir sebentar ke toko kado sebelah rumah, beli kertas kado sekalian membungkus iPhone untuk Bobby. Saking semangatnya, tak terasa pekerjaanku hari ini tuntas. Abangku sampai heran melihatku. Dan sebelum berangkat, kupastikan penampilanku sudah keren.

Semesta sedang mendukungku, aku tiba sejam lebih awal dari waktu janjian. Tadinya kupikir jalanan akan macet parah. Ya, tak apalah! Sekalian mengatur rencana. Aku keliling-keliling sebentar sambil iseng mencari Bobby. Meski malam begini, kampus ini tetap ramai. Sayang, aku tidak akan merasakan hal-hal seperti ini. Otakku sudah terlalu penuh untuk dijejali pelajaran lagi.

Lalu aku berhasil menemukan Bobby. Dia berada di lorong sedang mengobrol dengan kawannya. Aku menepuk tanganku ala kode memanggil orang jarak jauh. Mereka menoleh ke arahku, kawannya pergi sedangkan Bobby menghampiriku.
“Katanya jam delapan?” tanya Bobby seperti petugas investigasi.
“Aku kira macet, ternyata Tuhan berkehendak lain,” sahutku sambil nyengir. Kukeluarkan kado dari ranselku. “Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun. Selamat ulang tahun Bobby!”
Raut wajah Bobby langsung sumringah.

“Apa ini?” tanyanya sambil mengguncang-guncang kado itu.
“Buka dong!” ujarku sambil tersenyum.
Bobby membuka kadonya dengan semangat. Wajahnya semakin sumringah saat melihat isi kadonya.
“Ini serius?” tanyanya, dengan ekspresi campur aduk.
“Seriuslah!” kataku sambil menepuk bahunya. “Buat penyemangat kamu menjelang skripsi. The best for my lovely best.”
Seandainya disini bukan tempat umum, aku yakin Bobby akan memelukku erat-erat. Tapi aku memberi kode untuk pindah ke “tempat yang lebih tenang”.

“Oh, iya! Yang tadi siapa? Kayaknya aku belum pernah lihat?” tanyaku.
“Anak fakultas sebelah,” jawab Bobby.
“Siapa namanya?” tanyaku.
“Hilmi.”

-part 1 selesai-

«1345

Comments

  • edited September 2014
    Asyik rivengold buat cerita baru.

    Hilmi masa lalu Bobby?


    Titip mention ya.Terima Kasih. :)
  • waduh cerita yang bagus @Rivengold awal cerita udah ada konflik lanjut ...
  • Hmmm ... new bie? Busett, salam senior !!
    Hadiahnya mantebs bener yak ... jd bingung tuh yg punya usaha kecil2an -_-!
  • newbie pada jamannya.. #eh :p
  • titip mention.. :D
  • edited September 2014
    3ll0 wrote: »
    Asyik rivengold buat cerita baru.

    Hilmi masa lalu Bobby?


    Titip mention ya.Terima Kasih. :)

    @‌3ll0 iya bisa dibilang begitu :D
    oke broh
    lulu_75 wrote: »
    waduh cerita yang bagus Rivengold awal cerita udah ada konflik lanjut ...

    @lulu_75 terima kasih, tetap pantau ya ^_^
    Wita wrote: »
    @Rivengold mention yee

    @‌wita @elul okeh
    Tsunami wrote: »
    Hmmm ... new bie? Busett, salam senior !!
    Hadiahnya mantebs bener yak ... jd bingung tuh yg punya usaha kecil2an -_-!

    @Tsunami‌ ssst! :P

    @octavfelix zaman apa ya mas? zaman azali? :P
  • Ninggalin jejak kaki ah....
  • Wah cerita baru nih, asik
  • edited September 2014
    ini part 2 nya, tadinya ane pengennya dua bab doang, tapi kayaknya ada penambahan sedikit. sedikit kok nggak banyak

    silakan @erickhidayat‌ @susucoklat @zaldy @elul @octavfelix
    @3ll0 @lulu_75 @wita @tsunami

    mudah-mudahan kalian terhibur :smiley:


    Hai Bobby,
    Beberapa hari lagi kamu akan ulang tahun kan? Aku akan datang kesana. Kebetulan aku punya kesempatan cuti empat hari.

    Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku rindu sekali padamu, tahu nggak? Seperti terngiang lagu Home-nya West life. Kamu pasti jauh lebih tampan dari yang difoto.

    Siapkan sambutan yang meriah ya, hehehe. Aku akan datang sekitar tanggal 26. Mudah-mudahan pacarmu tidak keberatan aku meminjammu selama beberapa hari.

    Maaf, surat ini kubalas terlalu singkat. Topik-topik yang kemarin sengaja kusimpan untuk kita obrolkan saat bertemu nanti. Sampai jumpa di kamar kostmu ya.

    Salam bajak laut

    Hilmi Agustian


    Nb: Aku janji kamu kedatanganku kali ini akan jadi momen yang tak terlupakan bagimu.


    Perasaanku campur aduk saat membaca surat itu. Apakah ini mimpi? Kusimpan kembali surat itu kedalam amplopnya. Dia akan datang kesini? Setelah beberapa bulan kami menjalin komunikasi hanya melalui surat. Rasa rindu yang selama ini kukurung sekarang menggedor-gedor ingin keluar. Dia juga menyertakan selembar foto dalam balutan seragam tempat kerjanya. Semacam restoran sea food. Dia bahkan lebih tampan dariku.

    Namaku Bobby Satrio Adhiyasa, mahasiswa semester delapan sebuah universitas ternama. Surat tadi adalah surat terakhir dari Hilmi, sahabatku. Sahabat plus-plus kurasa. Aku baru menyadari bahwa aku menyukainya setelah dia pergi. Penyesalan memang selalu datang belakangan.

    Aku punya pacar bernama Arphan. Orangnya tidak terlalu tampan, biasa saja. Tidak sekeren mantan-mantanku. Teman-temanku sering menoyor-noyorku jika menyinggung soal hubunganku dengan Arphan. Ada yang bilang aku dipelet dia, sudah hilang akal sehat atau apalah. Tapi aku sendiri masih suka bingung sendiri apa alasanku memacarinya. Mungkin aku sudah bosan dengan yang ganteng? Hahaha.

    Arphan sebenarnya orang yang baik, sayangnya dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Saking sibuknya, dia tidak tahu bahwa apa yang aku lakukan di belakangnya. Oh, tenang! Aku tidak sebajingan itu. Aku sudah cukup kenyang dengan “kehidupan liar”, setidaknya sekarang aku berusaha komit dengan ikatan yang kumiliki.

    Di suatu ketika dalam kehidupanku yang membosankan, aku menerima surat dari orang itu. Entah darimana dia mendapatkan alamatku. Saat kubaca alamat pengirimnya, masih dari Manado. Sejak saat itu aku dan Hilmi saling surat menyurat. Dia tidak bisa memberikan nomer teleponnya karena suatu alasan.

    Tidakkah dia tahu, hal yang paling menyebalkan adalah surat menyurat. Bagaimana mungkin aku bisa tahan menunggu tiga hari sampai seminggu, menunggu balasan. Di zaman serba canggih begini? Seharusnya bisa mendekatkan yang jauh! Apakah aku mengkhianati Arphan? Tenang saja, ini kan cuma surat menyurat antara dua sahabat.

    Tapi lama kelamaan isinya jadi ngelantur. Kami mulai membicarakan sesuatu yang terlalu jauh dan sangat pribadi. Yang melewati batas persahabatan. Jadilah aku dan Hilmi seperti dua orang yang sedang hubungan jarak jauh. Aku pernah meminta foto bugilnya. Kemudian dia meminta hal serupa juga.

    “Dia udah datang, beb?” tanya Ruli, si hebring yang hobi pakai kaos pink ketat. “Iih, iri deh! Pokoknya nanti kenalin ke akuh!”
    “Dianya nggak mau ketemu ama lu!” sahutku mengejek.
    “Tinta mungkara! Dese pasti exciting kalo udah ketemu akuh!” ujar Ruli dengan jumawa. “Tidak ada laki-laki yang mampu menolak aura kecantikan kembaran Raisa ini!”
    Aku tepok jidat. Kelakuan oh kelakuan. Beginilah risiko punya teman “cowok tomboy”.

    “Hilmi berapa lama di Jakarta?” tanya Ruli.
    “Dia nggak bilang,” jawabku. “Kata dia, bakal lumayan lama buat kita bulan madu romantis.”
    “Ecieeh,” seru Ruli heboh. “Jadi envy akuh! Berani benar dia main api sama pacar orang.”
    Aku cuma tersenyum dingin

    Kurogoh ponsel, niatnya menelpon Hilmi untuk menjemputku. Aku menatap sesaat iPhone 5S pemberian Arphan. Warna gold 32 GB persis yang kuinginkan. Mamaku menolak membelikan agar aku fokus dulu skripsi. Aku harus cum laude dulu baru dibelikan. Setahuku Arphan agak pelit soal “buang-buang uang”, tapi dia rela membelikanku benda mahal ini. Apalagi semalam dia benar-benar membuat momen ulang tahunku sangat berkesan.

    “Nanti malam mau ikut akuh nggak?” tanya Ruli sambil kipas-kipas heboh. “Akuh mau party sama geng ke pondok asmara.”
    “Kayaknya gue nggak bisa,” jawabku. “Hilmi ngajakin jalan, kemarin kan nggak jadi.”
    “Oh, iya ya!” gumam Ruli tepok jidat. “Eh, ajak aja dia! Gimana?”
    “Kapan-kapanlah! Gue kan mau having a quality time berdua ama dia,” sahutku. “Ntar kalo dia ikut, imannya goyah lagi.”
    “Hahahahaha! Kamu tenang aja, beb! Aku tidak akan merebut dia,” ujar Ruli dengan gaya ngondek supernya. “Paling cuma icip-icip dikit. Bolehlah secelup dua celup!”
    “Anjir! Laknat bener mulut lu, hahahaha!” kataku.
    “Yaudah, salam aja dari Ruli Manuri Frederika Hutagalung. Princess XXX,” ujar Ruli sambil mengedipkan sebelah matanya. “Kalo kamu menemukan noda lipstik biru di kemejanya, itu dari akuh!”
    “Semerdeka lu dah!” sahutku geleng-geleng kepala.

    Arphan bilang dia akan sibuk selama dua hari ini, itu berarti sekarang gilirannya Hilmi. Dia mengajakku makan di lapangan tembak Senayan. Ngobrol-ngobrol panjang lebar, membahas topik-topik yang dia simpan sampai kami bertemu. Aku biarkan dia yang mendominasi, sambil memperhatikan cara bicaranya, cara dia menatapku, cara dia tertawa. Aku menyukai semua yang ada pada dirinya. Semua yang tidak dimiliki Arphan, tentunya.

    “Kamu berapa lama di Jakarta?” tanyaku.
    “Maunya berapa lama?”
    “Selamanya!”
    “Kalau itu ada syarat dan ketentuan berlaku,” sahut Hilmi tersenyum.
    “Udah kayak operator?” gumamku sambil meneguk minuman. “Emang apa syarat dan ketentuannya?”
    “Hmm, gimana kalo kita bicarakan itu di tempat yang lebih privat?” Hilmi mengedipkan sebelah matanya.
    Aku menganggukan kepala.

    Setelah bayar makanan, dia membawaku ke sebuah rumah belakang Jamsostek. Rumah itu agak kecil seperti kontrakan sepetak, dengan pagar besi setinggi dua meter.
    “Ini rumah siapa?” tanyaku.
    “Rumah kawanku,” sahut Hilmi seraya menunjukan kunci rumah itu. “Dia bilang aku boleh memakainya selama di Jakarta.”
    “Baik sekali kawanmu,” gumamku.
    Hilmi tersenyum, dia lalu melepas jaket dan kemejanya, mempertontonkan badannya yang putih dan bertato.

    “Tatonya keren?” pujiku.
    Dari dulu aku memang sangat ingin punya tato, tapi Arphan melarangku. Aku sempat diceramahi dua jam penuh karena memasang tato temporer. Bahkan sampai bawa-bawa agama, seolah akhlak dia sholeh saja.
    “Yang ini nama tengah kamu,” ujar Hilmi mendekatiku menunjukan tato bertuliskan “Satria”.
    “Wow?” ujarku. Konsentrasiku terbagi antara melihat tato dan badan Hilmi.

    Lelaki itu mengangkat daguku dan melumat bibirku. Tangannya meraba leherku, ke tengkuk sampai belakang kepala, dijenggut pelan rambutku. Aku hampir saja mati lemas kehabisan nafas.
    “Langsung aja ya?” bisik Hilmi lalu menarik bajuku.
    Kemudian dia mendapati tubuh yang tidak “jadi” seperti dia. Dan sepertinya itu makin membangkitkan birahinya. Kupikir cuma gadun berseragam militer yang suka Bot kekar.

    Kami bercinta dengan penuh nafsu, di ruang tamu, di dapur, kamar tidur dan kamar mandi. Mungkin ada sampai sebelas kali. Hilmi lebih hebat soal seks ketimbang Arphan. Sepertinya dia sudah sangat berpengalaman. Seandainya tidak mengenal lelah, mungkin kami tidak akan berhenti. Aku dan dia terkapar lemas di karpet ruang tengah.

    “Aku kangen kamu, tahu nggak?” gumam Hilmi sembari membelai rambutku.
    “Masak?” sahutku dengan nada ngeselin.
    “Kapan sih aku nggak serius sama omonganku?”
    “Bukannya cowok Manado ganteng-ganteng?” tanyaku. “Kamu bisa dapat yang lebih cakep dari aku.”
    “Nggak ada yang pernah bisa menggantikan kamu di hatiku,” ujar Hilmi lagi, kali ini dengan penekanan. “Menurut kamu buat apa aku bela-belain datang ke Jakarta di hari spesial kamu?”
    Aku diam, meski pandangan kami saling beradu. Aku bisa melihat kesungguhan itu dari matanya.

    “Aku sayang kamu, Bi,” tambah Hilmi, berusaha meyakinkanku. Dia memiringkan tubuhnya menghadapku, meraih tanganku dan menempelkan di dadanya.
    Bisa kurasakan denyut jantungnya yang cepat dan lembut.
    “Aku berharap kita bisa tetap begini,” bisikku pelan.
    Hilmi terdiam, dia menatapku dalam-dalam. Tatapannya yang tajam melunak seperti anak kecil meminta dibelikan permen.
    “Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan kan?” ujar Hilmi. “Hati itu didesain hanya untuk satu orang.”
    Aku memeluk Hilmi, kuletakan kepalanya di dadaku agar dia juga bisa mendengar isyarat hatiku. Tak ada lagi kata yang keluar dari mulut Hilmi ataupun aku. Kami terlelap dalam kelelahan.
    OoO

    “Kamu mau kemana?” tanya Hilmi. Dia mengucek matanya sembari bangkit ke posisi duduk.
    “Aku mau ke tempat si Ruli,” jawabku sembari memakai baju. “Tadi dia BBM, ada tugas urgent.”
    “Lama nggak?”
    “Aku usahakan cepat,” jawabku.
    “Mau aku anter?” tawar Hilmi.
    “Aku bisa sendiri,” jawabku sambil merapikan kemeja dan jeansku yang agak kusut. “Lagian kamu masih capek kan?”
    “Nggak apa-apa,” sahut Hilmi memungut bajunya dan memakainya dengan cepat. “Urgent ini kan?”
    Aku mengangguk sambil tersenyum. Hilmi mengambil kunci motornya.

    Hilmi mengantarku dengan motor Ninja hijau yang terlihat terawat. Entah itu memang punya dia atau bukan. Hilmi tampak sudah mahir sekali melawan lalu lintas di Jakarta. Tidak sampai setengah jam kami tiba di rumah Ruli.
    “Jangan pernah coba-coba lagi ninggalin aku pas tidur!” ujar Hilmi membuka kaca helm full face-nya.
    “Siap komandan!” sahutku dengan gaya hormat tentara.
    “Kalau sudah selesai, SMS aku. Biar nanti langsung aku jemput!” ujar Hilmi lagi. “Aku mau siapin sesuatu buat kamu.”
    “Baiklah!” jawabku sambil tersenyum.
    Kemudian dia pergi bersama suara bising motornya.

    “Eh, cyin! Itu Hilmi??! Kok nggak diajak masuk?” tiba-tiba Ruli dengan hebohnya membuka gerbang.
    “Dia buru-buru,” jawabku santai.
    “Iih! Kamu kebiasaan deh!” ujar Ruli sembari membenarkan poninya. “Takut banget tersaingi sama kecantikanku.”
    “Lah emang dia buru-buru,” sahutku sambil tertawa. “Dia bilang mau nyiapin sesuatu buat gue.”
    “Wow, so sweet banget! Andai mas Har akuh se-so sweet dia!” jerit Ruli ala-ala tokoh perempuan manga dengan mata berbinar-binar.
    “Emang kemana si mas Har?” tanyaku.
    “Lagi dinas ke luar kota,” jawab Ruli lesu. “..lagi.”
    “Dinas mulu dia,” gumamku sambil garuk-garuk dagu. “By the way, tugas apaan yang urgent?”

    Ruli mengajakku masuk, melewati ruang tamu menuju ruang keluarga yang menghadap kolam renang. Disana ada seorang wanita sedang asyik merokok, mungkin saudarinya Ruli. Sekarang sedang jamannya wanita merokok. Aku sempat tersenyum kepada dia, namun dia hanya membalas dengan anggukan.
    “Kata pengantar?” tanyaku sambil mengerutkan dahi ke arah Ruli.
    Dia menganggukan kepala dengan semangat sambil pasang tampang puppy eye-nya. Sayangnya hal itu tidak berpengaruh untukku.
    “Lu kan bisa googling, copas, modif dikit, jadi deh,” gerutuku sambil tarik kursi. Biarpun sambil mendumel tapi tetap saja aku kerjakan.
    “Kan kamu yang paling pinter mengarang, say,” Ruli tarik kursi juga dan duduk di sebelahku. Ditambah lagi dia menyandarkan kepalanya di bahuku.

    “Jaga sikap dikit mas broh!” kataku, menolak sandaran Ruli. “Ada kakak lu juga!”
    “Woles aja, dia udah tahu kok soal kita kok,” sahut Ruli cuek dan terus menyandar manja.
    “Ehem!” wanita itu berdehem.
    Ruli menoleh kearahnya, “Hai, qaqa!”
    “Meskipun gue ngasih toleransi atas ketidak normalan lu, bukan berarti gue mengizinkan lu mesra-mesraan di depan gue!” ujar dia. “Apalagi sama pacar orang!”
    Deg! Jantungku berdegup kencang. Omongannya pedas juga.
    “Iya qaqa, maapin Uli ya qaqa,” ujar Ruli dengan nada manja-najis-tralala. “Hahahaha! Ini lho yang namanya Bobby. Lu kalem aja pas dia datang.”

    Dia mematikan rokoknya lalu bangkit menghampiriku dan Ruli. Kali ini dia tersenyum.
    “Nama gue Lidia,” dia memperkenalkan diri. “Ruli sering cerita tentang lu.”
    “Oh, iya? Gue Bobby,” sahutku membalas senyumnya.
    “Sayang ya, ganteng-ganteng doyannya ama yang ganteng juga,” ujarnya menepuk bahuku.
    “Alah! Bilang aja lu tersepona sama Bobby?” sahut Ruli sambil mencubit keras pipiku.
    “Sakit, cong!” seruku sambil mengusap-usap pipiku.
    “Gue mau bikinin minum dulu,” ujar Lidia dengan kalem. Dia pun menoyor Ruli. “Lu tuan rumah bukannya bikin suguhan buat tamu.”
    “Eh, kurang ajar lo ye, julak-julakin pala gue!” sahut Ruli pura-pura sewot. “Pala gue ini difitrahin tahu nggak?”
    Lidia cuma tertawa kecil sambil berlalu.

    Setelah Lidia tak tampak dari peredaran aku langsung bertanya, “Itu adek lu?”
    “Sepupu jauh akuh, beb,” sahut Ruli mengambil kaca kecil dan mengaca genit. “Tapi udah kayak saudara kandung, kembar siam gitu. Dari kecil mainnya sama akuh.”
    “Cool banget ya orangnya?” gumamku, sambil ketak-ketik lagi.
    “Ngeselin juga,” tambah Ruli. “Eh, gimana momen romantis lu sama Hilmi? Kalian main berapa kali? Pakai lilin-lilin romantis nggak?”
    “Kasih tahu nggak ya?” ujarku dengan nada ngeselin.
    “Pasti kamu dibikin orgasme berkali-kali!” ujar Ruli membayangkan dengan ekspresi seolah dia yang orgasme. “Akuh yakin dia perkasa sekali di ranjang.”
    “Udah deh, otak lu pikirannya ngeres aja!”
    “Aduuuh, ampun deh beb!” kata Ruli dengan gaya rempong. “Akuh udah tiga bulan nggak dapat nafkah batin. Kangen digenjot sampai lemes tak berdaya!”
    “Whatever!” sahutku, kucoba mempercepat Kata Pengantar tugas ini.

    “Trus kamu udah memutuskan belum?” tanya Ruli. Kali ini nada bicaranya serius.
    “Entahlah,” jawabku sambil menarik nafas.
    “Lho kok kamu ragu?” sahut Ruli. “Bukannya kamu emang nyari yang ganteng, setia dan baik? Akuh rasa Hilmi tipe kamu banget!”
    Kukeluarkan ponsel baruku.
    “Wow! Handphone baru?? Kapan belinya?” tanya Ruli sambil menimang-nimang benda itu.
    “Hadiah ulang tahun dari Arphan,” jawabku.
    “Serius Arphan ngasih kamu ini? Ini kan harganya mehong bingit!” seru Ruli mulai keluar ngondeknya.
    Aku cuma mengangguk. “Mungkin harus gue kembalikan ke dia.”
    “Sayang beb, mendingan kita jual! Bilang aja kecopetan!” usul Ruli.
    “Anjir bacot lu?” ujarku menggeleng-gelengkan kepala.

    Tiba-tiba benda itu bergetar dan berbunyi, Ruli sampai kaget. Hampir saja iPhone-ku terlempar. Langsung saja kusambar dan kulihat: Arphan menelpon.
    “Halo, Yang?”
    “Hai, sweetheart,” jawab Arphan dari seberang sana. “Kamu lagi ngapain?”
    “Lagi di rumah Ruli, dia lagi bantuin revisi skripsi aku,” jawabku, Ruli berusaha menguping pembicaraan. “Ada apa?”
    “Hmm, ada waktu nggak? Aku mau ketemu.”
    “Waduh, agak susah nih, Yang! Kayaknya aku bakalan nginep.” Aku berusaha menghindar. “Kalau besok sore gimana?”
    “Ooh, gitu ya?” ujar Arphan, dari nadanya terdengar dia kecewa. “Yaudah deh, nggak apa-apa. Kamu fokus aja ama skripsi kamu.”
    “Maaf ya, Yang,” ujarku.
    “Iya, sayang,” kata Arphan. “Aku cuma ingin kamu tahu, kalau aku sangat sayang kamu.”

    Kata-kata itu terasa JLEB sekali. Setelah itu sambungan terputus. Bersamaan Lidia muncul dengan nampan berisi cola dan kentang goreng panas.
    “Kalian abis ngapain? Mukanya kok kusut gitu?” tanya dia sambil meletakan nampan itu dan mengambil sebatang kentang.
    “Nggak apa-apa cyin! Bobby lagi bingung mau jual hapenya,” sahut Ruli asal bunyi.
    Lidia memandangiku dan Ruli bergantian.

    “Kayaknya udah waktunya gue tidur,” ujar dia sambil menguap. “Itu udah gue gorengin kentang, lumayan buat nemenin ngerjain tugas kan?”
    Baru jam sembilan, kurasa Lidia paham kehadirannya membuatku tidak bebas.

    Ruli menunggu Lidia benar-benar tidak nampak di sekitar, baru berbicara.
    “Jujur ya, beb. Akuh salah satu orang yang kurang setuju kamu ama Arphan,” ujar Ruli. “Tapi, nggak tahu kenapa, cuma karena iPhone ini... akuh ngerasa Arphan serius sama kamu.”
    “Dan lu juga tahu banget kan, gimana bangs*tnya Reza dan Wili?” sahutku seraya mengingat masa lalu. “Yang satu macarin gue buat taruhan, yang satu cuma karena pengen ngeseks ama gue. Makanya gue milih Arphan, yang gue pikir lumayanlah untuk jadi ban serep gue. Tapi, gue juga nggak setega itu.”
    “Apapun keputusan kamu, akuh akan selalu dukung,” ujar Ruli menggenggam tanganku. “Kamu udah dewasa, udah tahu setiap risiko dari apa yang kamu ambil.”

    Dia bangkit menuju kamar mandi, katanya kebelet pup. Aku mengirim SMS kepada Hilmi agar menjemputku. Kemudian kulanjutkan mengarang pekerjaanku sampai selesai.

    Aku merasakan ada sekelebat bayangan yang lewat di belakangku, bulu kudukku seketika merinding. Apalagi area sekitar kolam berenang itu agak gelap. Hanya kolam berenang yang terang karena lampu bawah air. Saat kuberanikan diri menoleh ternyata Lidia.
    “Rokok gue ketinggalan,” kata dia sambil menunjukan kotak kecil dengan gambar mengerikan. Semua bungkus rokok sudah disematkan gambar-gambar begituan.
    Kulemparkan senyum lega.

    “Boleh tanya sesuatu?” ujar Lidia.
    “Silakan,” sahutku sembari memutar kursi ke posisi yang lebih enak.
    “Yang gue denger-denger, lu dulu straight kan?”
    Aku mengangguk.
    “Apa lu nggak berpikiran untuk mengakhiri ‘permainan’ ini...” Lidia memberi isyarat kutip dengan dua jari. “..dan menikah? Punya anak?”
    “Mungkin udah jadi rahasia umum kan hubungan sesama kayak gini nggak ada yang awet,” ujarku. “Tapi gue nggak bisa membohongi hati kecil sendiri. Membohongi wanita yang gue nikahi kelak.”

    Lidia mengangguk-angguk, dia membakar rokoknya.
    “Emang benar kata pujangga, cinta itu buta,” kata Lidia.
    Aku meminta rokoknya sebatang dan ikut membakarnya. “Kalo kata sesepuh gue, cinta nomer satu, jenis kelamin nomer dua.”
    Sontak Lidia tertawa terbahak-bahak lalu batuk.
    “Hei, apa-apaan inih??” Ruli pun muncul, penampilannya sudah keren sekali.
    “Bukannya tadi lu bilang mau boker?” tanyaku heran.
    “Hari ini kan akuh ada party, beb,” sahut Ruli dengan gaya sok high class. “Kita nyewa tiga stripper dengan seragam polisi seksi.”
    “Wow,” ujar Lidia.
    “Amazing,” ujarku.
    OoO

    “Kenapa sih mataku pakai ditutup segala?” tanyaku.
    Mataku ditutup dengan sapu tangan, sedang Hilmi dibelakangku mengarahkan.
    “Kan kejutan,” jawab Hilmi dengan riang.
    Setelah maju beberapa langkah, akhirnya Hilmi mengizinkanku melepas tutup mataku. Aku terbelalak: seluruh ruangan gelap dan diterangi lilin-lilin kecil. Persis seperti di video clip A Thousand Years-nya Christina Perry. Lilin-lilin kecil itu terbaris rapi membentuk jalan, dan belok menuju kamar.

    “Ada apa disana?” tanyaku.
    Hilmi cuma tersenyum, dia lalu merogoh sakunya.
    “Hei, aku boleh tanya sesuatu?” tanyaku.
    “Boleh,” jawab Hilmi.
    “Apa kamu benar-benar mau serius sama aku?”
    “Tentu saja, Bi.”
    “Kamu tahu kan hubungan kayak begini nggak ada yang awet?”
    “Maksud kamu?”
    “Apa kamu nggak berpikir untuk berhenti bermain dan menikah dengan wanita? Kalau kamu memang bertekad untuk serius,” tanyaku, persis gaya Lidia. “Kamu akan punya anak, membina sebuah keluarga yang bahagia, melihat anakmu lulus wisuda, menimang cucu.”

    Hilmi terdiam, dia menatapku lurus-lurus lalu membuang pandangannya ke lilin-lilin kecil. Aku menelan ludah, sebenarnya aku takut mengatakan ini tapi aku harus tahu bagaimana jawaban dia.
    “Kamu itu cinta pertamaku, Bi,” ujar Hilmi. “Aku sudah menyukaimu sejak kamu memutuskan duduk di sebelahku saat SD dulu. Kamu yang dulu memelukku erat karena suara petir menakutkan itu. Sejak saat itu aku bertekad untuk selalu melindungimu!”
    Aku tidak menyangka Hilmi masih ingat kejadian itu. Waktu kecil aku paling takut suara petir.

    “Dan sampai detik ini aku sangat yakin dengan perasaanku ke kamu,” kata Hilmi sambil merogoh sakunya. “Karena itu, maukah kamu menikah denganku?”
    Dia menunjukan sebuah kotak berisi sepasang cincin.
    Aku mengerutkan dahi, kupandangi Hilmi dan cincin itu bergantian.
    “Aku serius, Bi,” ujar Hilmi meyakinkanku. “Aku mencintai kamu!”

    Aku terkejut, benar-benar di luar ekspektasiku. Hilmi tampak menunggu jawabanku, sedangkan di dadaku perang batin. Logika bertarung dengan perasaan. Kita semua tentu tahu siapa yang selalu menang.
    “Jujur,” kataku. “Aku nggak bisa bilang nggak.”
    Perlu waktu tiga detik untuk Hilmi hingga senyum di wajahnya merekah seperti mawar di kebun pagi. Dia meraih tanganku dan menyematkan sebuah cincin di jariku. Lalu aku melakukan hal yang serupa.

    Hilmi lalu menggandeng tanganku menuju kamar. Rupanya disana ada lebih banyak lilin, membentuk formasi yang indah. Aku ngeri ada satu lilin yang jatuh dan membakar karpet.
    “Kita akan memasuki ruangan sakral,” ujar Hilmi di depan pintu. “Kita harus melepaskan pakaian.”
    “Kamu bercanda?” sahutku sambil tersenyum.
    Hilmi melepas bajunya satu persatu. Baiklah, dia serius. Aku pun mengikuti peraturannya.

    Lagi-lagi, mendaki puncak kenikmatan. Membuat malam terasa begitu panjang. Hei, itu manusiawi bukan? Kita semua memang dibekali hasrat dasar, untuk saling melengkapi dan merangkul satu sama lain. Kalau ada yang bilang cinta bisa tanpa seks, itu bullshit.
    OoO

    Ponselku berdering-dering, tak jauh dari tempatku bergumul. Hilmi sedang melakukan serangan fajar. Aku bisa menjangkaunya namun Hilmi tidak membiarkanku. Aku sengaja membawa ponsel untuk alarm pagi. Sementara Hilmi semakin keras “menyerang”ku, tapi tidak mengurungkan niatku untuk meraih ponselku. Sekadar mengintip siapa yang menelpon pagi-pagi.

    My Mom is calling.....


  • ternyata >.<
  • edited September 2014
    @rivengold‌ ceritanya bagus. klo lanjut, ane di mention ya... :-*
  • Sangat benci akan perselingkuhan X(



    Sedikit koreksi ya TS.GPPkan? :D

    “Wow! Handphone baru?? Kapan belinya?” tanya Hilmi sambil menimang-nimang benda itu.
    “Hadiah ulang tahun dari Arphan,” jawabku.
    “Serius Arphan ngasih kamu ini? Ini kan harganya mehong bingit!” seru Hilmi mulai keluar ngondeknya.

    Kan seharusnya Ruli
  • Akan ada penyesalan lagi dalam hidup bobby
Sign In or Register to comment.