BoyzForum! BoyzForum! - forum gay Indonesia www.boyzforum.com

Howdy, Stranger!

It looks like you're new here. If you want to get involved, click one of these buttons!

Selamat datang di situs Boyzforum yang diarsipkan oleh Queer Indonesia Archive. Forum untuk komunitas gay Indonesia yang populer ini didirikan pada tahun 2003, dan ditutup pada tanggal 15 Desember 2020.

Forum ini diabadikan untuk kepentingan sejarah. Tidak akan ada konten baru di forum ini. Silakan menikmati forum ini sebagai potongan dari sejarah queer Indonesia.

Potret Hidupku (Reinkarnasi)[On Hold]

edited October 2013 in BoyzStories
Ini adalah cerbungku. So, maaf kalau banyak kesalahan. Aku menerima kritik, saran apapun itu.

Serta...

MUNGKIN cerita ini lain dari yang lain. Tapi, berhubung yang kutulis adalah cerita fiksi, jadi semoga bisa dimaklumi.

Potret 1



Cinta... Cinta itu menurutku sesuatu yang sangat sulit. Entah penjabaran atau prakteknya.



Bila dijabarkan, mungkin aku menyebut cinta itu adalah penyatuan antara 2 hati. Dan hati itu dilambangkan dengan bentuk... Arrghh! Entah apakah itu. Pantatkah? Apel kah? Atau sesuatu yang abstrak? Mungkin jawabannya memang itu. Sesuai asumsiku yang kedua. Yaitu cinta adalah sesuatu tidak berbentuk...



Mengenai cinta itu adalah penyatuan antara 2 hati, apa maksudnya? Bukannya penyatuan itu sudah pasti mengenai kedua orang yang berbeda? Yaitu kaum laki-laki dan perempuan. Tapi mengapa harus ada cinta yang sama? Dimana kaum laki-laki menyukai kaumnya sendiri, dan sebaliknya.



Andai saja aku mempunyai orientasi yang lumrah. Dimana lawan jenis menjadi awal aku mematri kisah. Yaitu sebuah cinta yang abadi dan sejati. Yang sebagian orang meng-asumsikan cinta sejati terjadi oleh sepasang kekasih yang berlawanan. Arrghh aku benci penjabaran itu!



Lalu apa yang menjadi asumsiku terhadap cinta? Mari kita lihat!



Flash back



Aku adalah siswa di sebuah SMA yang ada di Lembang. Dengan nama Restan Septian yang tinggal di sebuah kampung. Sebut saja kampung itu kampung Langensari.



Dulu aku mempunyai seorang kekasih yang mungkin bisa membuatku bahagia. Orang itu tentunya laki-laki. Tapi, terpisah oleh jarak dan waktu yang membuat aku berpisah dengannya. Karena egoku dan... keadaan. Keadaan yang sangat menyakitkan...



Waktu itu umurku 15 tahun. Dan aku menyadari orientasiku berbeda semenjak kelas 6 SD. Tapi, aku yang dulu tidak memikirkan keadaanku yang menyimpang. Justru menikmatinya layaknya orang pada umumnya. Sehingga pada kelas 9 SMP aku mempunyai seorang sahabat, atau bisa dibilang... kekasih.



Hubungan terlarang itu terus aku jalani selama 1 tahun. Semua rasa yang ku alami telah kami tuangkan menjadi sebuah potret. Dan potret itu... termasuk potret yang menyakitkan. Karena kehilangan itu esensinya nyata dan selamanya.



Awal mulanya ketika Masa Orientasi Peserta Didik atau yang disebut MOPD. Memang wajah kekasihku itu termasuk kategori tampan. Maka tidak aneh bila banyak orang yang dekat dengannya. Dan penyesalan itu terjadi karena...



"Surat apaan tuh?" tanyaku ketika Riko mendapat sepucuk surat.



"Gak tau. Gak ada namanya," jawabnya seraya membuka surat itu.



"Datanglah ke sebuah taman," ucap Riko sembari menaikkan kedua alis.



"Apa maksudnya?" tanyaku bingung.



"Entahlah... Mari kita lihat," kami pun pergi ke taman itu.



Dari kejauhan, aku melihat seorang cowok tampan yang sedang berkutat dengan HP-nya. Lalu, Riko pun celingak-celinguk untuk memastikan bahwa orang yang mengirim surat itu ada disekitar taman.



"Gue yang mengirim surat itu." aku tercengang. Tertanya Rehan yang mengirim surat itu. "Dan sekarang kita resmi pacaran," lanjutnya sembari mencium bibir Riko. Melihat kejadian itu, aku langsung berlari. Ke sebuah taman yang berada di sebrang jalan.



Rehan adalah sahabatku dan Riko. Hanya saja, dia belum tau aku pacaran sama Riko.

"Res! Ini bukan seperti yang kamu lihat!" teriak Riko di sebrang sana, lalu menghampiriku.



"Arrgh bullshit! Kenapa lo gak menghindar ciuman dari Rehan!?" teriakku emosi. Sebelum dia menjawab, ku potong ucapannya. "Lalu kenapa dia bilang kamu dan dia pacaran hah?!"



"Itu jebakan Res! Gue juga gak tau! Ternyata di belakang kertas itu ada tulisan 'apabila lo datang ke taman, berarti kita resmi pacaran'," jelasnya. Disaat yang sama, hujan merabak dengan derasnya.



"Itu hanya sangkalan lo kan?" aku mengubah kata aku-kamu menjadi lo-gue.



"Okay, akan gue ambil kertas itu!" jawabnya seraya berlari dengan kencang. Dari kejauhan, aku melihat sebuah mobil melaju dengan kerasnya. Lalu, suara kelakson pun terdengar. Memekikkan semua ragaku menjadi luluh lantah.



End Flash Back



"Baiklah anak-anak, kalian akan mendapatkan teman baru. Silahkan memperkenalkan diri." lamunanku tentang cinta dan masa lalu pun buyar. Terganti oleh realita yang tidak kuingini.



"Perkenalkan, nama saya Raka Farras Mahardika. Saya pindahan dari Jakarta. Semoga kita bisa bekerja sama dan menjadi teman yang baik," ucap pria baru itu. Aku masih tidak menoleh. Malas rasanya.



"Silahkan duduk," kata bu Nia -- guru bahasa Indonesia.



Tak lama kemudian, aku merasakan getaran di bangku dan kursiku. Ternyata murid baru itu duduk di bangku-ku. Ku alihkan pandanganku ke dia. Seketika mataku membulat, tubuh bergetar, tenggorokan tercekat! Rupanya dia, "Riko?" ucapku kaget.



To be continue


«13456711

Comments

  • Maaf kalau singkat. Ini hanya awal (gambaran) untuk ke depannya. Semoga suka :)

    @Han_Gaozu

    @jerukbali

    @tamagokill

    @dekisugi

    @Zhar12

    @Klanting801

    @heavenstar
    @Sicnus
    @rubysuryo
    @Hyu_ghy
    @Adam08

  • ngikut aja deh..
  • @Han_Gaozu dinata? Haha, ku masukan nama itu karena paling sulit dalam pembuatan cerita menurutku nama. Btw, thanks :)
  • edited July 2013
    Yah, kok gituh. Hahaha, memang dinata aneh ya? Wkwkwk. Ku ganti deh jadi Raka Farras Mahardika? bagaimana? haha
  • Good luck!!
  • Thanks kak :)
  • edited July 2013
    Potret 2

    Orang yang kupanggil Raka kini telah menoleh. Tersenyum lalu berkata, "Nama saya Raka, bukan Riko," ucapnya sembari mengulurkan tangan, tanpa ada balasan dariku. Anehnya, dia tetap mengulurkan tangan meskipun tidak ada reaksi dariku.

    Semua orang menatapku. Huh baiklah. "Nama gue Restan, salam kenal," ucapku datar. Lalu dia tersenyum.

    Tak lama kemudian, bel tanda irtirahat telah berdenting. Semua pria pada ngacir entah pergi ke toilet, kantin, ataupun taman sekolah yang biasanya di pake untuk area bermain. Tidak semua sih, karena Riko, maksudku Raka masih ada di dalam kelas. Termasuk aku tentunya.

    "Kok perempuan gak ada yang keluar?" tanya Raka. Mungkin dia jengah karena jadi bahan perhatian.

    "Lagi datang bulan kali," jawabku asal. Padahal, apabila ada yang mengajakku bicara, aku selalu diam. Entah kenapa, Raka seperti mempunyai daya tarik tersendiri.

    "Anter gue ke kantin yuk,"

    "Ke kantin aja sendiri. Punya kaki kan?" balasku ketus.

    "Yaela, gue belum tau dimana letaknya. Lagian gue laper nih," sahutnya dengan wajah menyebalkan.

    "Ok... Maksud gue, cari aja orang lain. Banyak tuh CW yang siap siaga." Raka menghiraukan ucapanku. Justru, dia malah menyeretku untuk keluar kelas.

    "Lo apa-apaan sih! Lepasin gue gak?!" aku sedikit berteriak. Tapi dia malah mencengkram pergelangan tanganku erat. "Aww, sakit Raka!"

    "Makanya jangan bawel," balasnya menyebalkan.

    "Tapi kita diliatin orang!"

    "Bukan urusan gue!" oh baiklah. Dia sangat menyebalkan!

    "Emang lo tau dimana kantinnya?" seketika Raka berhenti.

    "Nggak!" lalu dia berjalan lagi.

    "Terus kita mau kemana?"

    "Ya nyari kantin lah. Masa mau ke WC?" balasnya santai. For Gods sake! Kenapa aku harus berfikiran bahwa dia Riko?

    "Yasudah gue anter ke kantin. Tapi, lepasin gue!" teriakku. Membuat semua pandangan tertuju ke arahku. Dan orang menyebalkan ini tentunya.

    "Nah gitu dong," lalu dia melepaskan cengkramannya. Tanpa ba-bi-bu, aku langsung berlari menuju taman. Tapi, belum juga 10 meter Raka sudah berhasil menangkapku. Bukan menangkap sih. Ya dia sedang memelukku dari belakang. Padahal, waktu kelas 6 SD aku juara ke 2 lomba lari se Jawa Barat.

    "Please, gue lapar banget," lirihnya ditelingaku. Jadi kasian juga.

    "Ok deh..." ucapku akhirnya.

    Sesampainya di kantin, Raka langsung memesan nasi goreng 2 mangkuk. "Rak, gue ogah deh. Gue masih kenyang," kataku.

    "Ge-er banget sih... Siapa juga yang mau neraktir lo?" jawabnya seraya memasukan nasi goreng itu ke mulutnya. Arrghh! Dasar orang menyebalkan! Sayup aku mendengar suara orang tertawa di belakangku.

    **
    "Heyy!!" teriak seorang waria di ujung koridor sekolah. Dibelakangnya, ada 2 orang yang tidak kalah alai.

    "Siapa tuh?" tanya Raka. Saat ini, aku dan Raka sedang berjalan menuju parkiran. Berniat pulang tentunya.

    "Dia Yanto! Orang ter-alay di SMA ini," jawabku datar.

    "Stop!" waria itu menghadangku. Lalu mulai menelusuri setiap inci dari tubuh Raka. Lalu tiba-tiba dia menjerit histeris.

    "Kok muka kamu seperti Adam Lambert? Minta nomernya dong!" teriaknya sambil jingkrak-jingkrak. Arrgh dasar ulat bulu!

    "Sory gue ada urusan sama dia. Jadi permisi!" aku menerobos kumpulan ulat bulu itu.

    Setelah sampai di parkiran, Raka langsung tertawa seperti orang gila. Bahkan, semua mata pun kini tertuju pada dia. "Lo kenapa sih?"

    "Huahahaha! Gila! Penampilan mereka... Huahahaha!" tawanya terpingkal-pingkal.

    "Terserah! Gue balik dulu ya!"

    "Tunggu!" cegahnya. Aku mengernyit.

    "Gue ikut ke rumah lo ya. Bokap and nyokap gue gak ada di rumah." ucap Raka sambil menyalakan satria F U.

    "Terus apa hubungannya?" jawabku ketus. Tapi pasti kalian sudah tau apa yang akan dia lakukan? Memaksaku dengan kekerasan. Dasar menyebalkan!

    "Rumah lo dimana?" aku tidak menjawab. Dan...

    "AaaaaAaaaAaaa!" aku berteriak ketika Raka melajukan motor ini dengan sangat sangat sangat cepat.

    "Raka hentikan?!" tidak henti-hentinya aku berteriak.

    "Raka please," lirihku di telinganya. Memang aku sangat sekali takut naik motor. Ya semacam ketakutan yang berlebihan akan suatu hal yang pernah terjadi kepadaku.

    "Kamu menangis?" Raka sedikit terkejut melihatku terisak. "Huahahahaha! Masa seorang Raka bisa menangis?" ejek Raka. Ku jitak kepalanya. Tapi, apa maksud Raka ya? Seakan-akan pernyataan tadi adalah bahwa Raka sudah mengenaliku.

    "Gue mau turun!" ucapku ketus.

    "Yaela... Please lah Res," pintanya dengan memelankan laju motor.

    Entah kenapa, mendengar Raka memelas, dada ini terasa sesak. Seperti ada ingatan yang tidak sopannya menerobos pikiranku. Karena, sosok Raka seperti Riko. Meskipun sifatnya jauh berbeda, tapi ketika Raka memelas, aku yakin bahwa Raka adalah Riko. Dan ingatan itu pun kembali menyeruak. Membuka celah dimana lembaran kisah telah terpatri. Dan semua itu hanya kekosongan dan kehampaan yang kudapat.

    "Lo menangis lagi?" tanya Riko khawatir.

    "Nggak Rik. Yasudah, rumah gue berada di wilang Cikidang. Lo masuk aja ke lapangan Langensari."

    **
    "Maaf rumah gue kecil," ujarku ketika sudah sampai di rumah.

    "No problem," jawabnya singkat.

    "Yasudah masuk aja gih. Lagian nyokap gue jam segini lagi kerja,"

    "Oh okay. Lo mau kemana?"

    "Cuman ada urusan sebentar, bentar yah."

    Lalu aku pun pergi ke warung untuk membeli rokok. Lalu kembali ke rumah dengan sebuah tinjuan di perut.

    "Arrghh! Kenapa lo menghirup racun seperti itu?! Lo gak tau hah apa akibatnya?! Cepat buang?!" Raka mencak-mencak dengan wajah sangar. Jujur, sekarang aku takut sekali dengan dia.

    "Iya iya, bawel amat sih!" teriakku balik. Namun yang ada malah nada konyol yang keluar. "Emangnya lo siapa sih? Kenal aja baru tadi pagi," lanjutku yang di balas dengan sebuah senyuman.

    "Tok tok tok..." terdengar suara pintu yang di ketuk. Segera aku membuka pintu itu dan alangkah kagetnya ketika aku melihat dia. Orang yang telah mencium Rako. Dan secara tidak langsung orang yang telah menciptakan lubang hitam tepat berada di hati.

    "Elo?!"

    To be continued
  • Semangat dekkk
  • Thanks kak..
  • Nah ini baru seru..
  • Ada Typo kak.

    "Kamu menangis?" Raka sedikit terkejut melihatku terisak. "Huahahahaha! Masa seorang RAKA bisa menangis?" ejek Raka. Ku jitak kepalanya. Tapi, apa maksud Raka ya? Seakan-akan pernyataan tadi adalah bahwa Raka sudah mengenaliku.

    (yg aku tulis kapital semua, harusnya si Restan kan?)


    "Lo menangis lagi?" tanya RIKO khawatir.
    "Nggak RIK. Yasudah, rumah gue berada di wilang Cikidang. Lo masuk aja ke lapangan Langensari."

    ini harusnya Raka kan?

    Lanjuutkann....
  • Lanjuut...
  • @Zhar12 thanks koreksinya. Sangat membantu, dan itu memang benar. Akan ku coba lebih baik lagi. :)

    Dan jangan panggil aku kak deh. Aku masih kecil kak. Hehe,
  • #nyimak #dudukmanis
Sign In or Register to comment.