BoyzForum! BoyzForum! - forum gay Indonesia www.boyzforum.com

Howdy, Stranger!

It looks like you're new here. If you want to get involved, click one of these buttons!

Selamat datang di situs Boyzforum yang diarsipkan oleh Queer Indonesia Archive. Forum untuk komunitas gay Indonesia yang populer ini didirikan pada tahun 2003, dan ditutup pada tanggal 15 Desember 2020.

Forum ini diabadikan untuk kepentingan sejarah. Tidak akan ada konten baru di forum ini. Silakan menikmati forum ini sebagai potongan dari sejarah queer Indonesia.

Gue, Dia , dan Lady Gaga [sebuah sekuel] [chapter 2: new updated 13 june 2012]

edited June 2012 in BoyzStories
one

It's been two years since I let you go
I couldn't listen to a joke or rock 'n' roll
Muscle cars drove a truck right through my heart

On my birthday you sang me A Heart of Gold
With a guitar humming and no clothes
This time I'm not leaving without you, oh, oh, oh, oh

Sit back down where you belong
In the corner of my bar with your high heels on
Sit back down on the couch where we
Made love for first time and you said to me

[Lady Gaga- You & i]


AKU terus saja melangkahkan kakiku menelusuri koridor sekolah yang sudah nampak lengang karena bel pulang sekolah sudah berbunyi sekitar lima belas menit yang lalu. Aku mengendarkan pandanganku ke sekililing, mencari diantara. Bimo. Si cowok berkacamata super nyebelin itu tak kunjung juga menampakkan batang hidungnya. Padahal dia tadi sudah berjanji mau ketemu denganku di dekat perpustakaan. Namun begitu aku sampai disini, di depan perustakaan sekolah yang terletak beberapa meter dari kelasku ini, tak kutemukan tanda kehadirannya sedikitpun.

"Dasar nyebelin, katanya mau ketemu,"umpatku dalam hati. Kulirik arloji ditangan kananku, pukul dua kurang lima belas menit. " Jangan- jangan dia mau ngerjain aku lagi."

Belum sempat aku mengutarakan umpatan- umpatan lain yang tak se mestinya, tiba- tiba saja hapeku berbunyi. Sebuah telepon masuk. Dari Juna. Kekasihku. Segera kuangkat.

"Hello dear, what's up?".

"Hay honey, kamu lagi dimana? Aku dah di gerbang sekolah nih, kamu cepetan keluar ya?," ujar Juna di kejauhan sana.

"Yaudah, kamu tunggu bentar ya, aku kesana."

Dan tut. Kututup teleon sembari bergegas melangkahkan kaki menuju gerbang sekolah karena Juna telah menungguku. Masa bodoh dengan Bimo andai saja dia datang dan tak menemukanku. Siapa suruh datang terlambat kalau ada janji denganku.
«134

Comments

  • lanjut kak...
  • edited June 2012
    Langkahku terhenti tepat didepan gerbang sekolah. Dan seperti biasa aku cuma bisa nyengir saat mendapati My beloved Arjuna Dhanu Sastiawan tengah nangkring di motor ninjanya dengan dandanan yang selalu bikin meleleh. Wajahnya yang bersih kini mulai ditumbuhi jambang- jambang halus yang membe ntuk garis sepanjang pelipis hingga janggutnya. Membuat sosoknya semakin terlihat dewasa saa ini.

    Oh, ya, aku lupa memberitahu kalian kalau aku saat ini sudah kelas tiga. Artinya, sudah hampir setahun lebih sejak pertemuanku dengan Juna karena konser Lady Gaga yang super itu. Sebentar lagi aku mulai siap- siap menghadapi Ujian Nasional yang katanya nightmare buat siswa SMU itu.Aku masih pacaran dengan Juna begitupun dengan Bimo. Aku masih berteman dengannya , bahkan lebih akrab untuk saat ini. Tentu saja sifat sifat nyebelin Bimo itu masih saja ada. Tapi tak apalah, justru disitulah letak karakteristik unik milik Bimo.

    "Hei, ngelamun aja, mikirin apa sih?, "Juna mengibas- ngibaskan tangan kirinya di depan mukaku.

    "E....Ehhhh... eng, enggak kog, gak mikirin apa- apa." ujarku gelagapan begitu kesadaranku kembali ke alam nyata.

    "Hemm...."Juna menghela nafas. "Temenin ak jalan- jalan sebentar yuk, ada yang mau aku omongin nih sama kamu."

    "Ngomongin apaan?" tanyaku penasara n.

    "Naiklah dulu,' jawabnya asambil menepuk- nepuk jok motor ninjanya yang kian montok.

    Seketika pula Juna menyetar motornya dan kemudian meninggalkan gerbang sekolah yang sudah lengan. Hanya ada anak-a nak ekskul basket yang sok kerajinan menjelang olimpiade daerah beberapa bulan lagi. Aku sebenarnya rada penasaran de ngan apa yang Juna ucapkan . Kenapa musti nyari tempat yang enak dulu kalau mau ngomong. Biasanya dia langsung ngomong kalau ada perlu d enganku. Tak perduli dimanapun itu. Tapi.... yasudahlah, mungkin memang obrolan penting yang ingin Juna katakan.

    ___________________%%%%%_____________________

    Motor yang kami naiki berhenti di depan sebuah kafe di bilangan Sudirman. Setelah memarkir motornya Juna segera mengajakku masuk ke dalam kafe tersebut. Aku langsung semangat seltelah mendengar musik techno yang mengalu n di dalam. Lagu Lady Gaga terbaru. Born This way. Ko ntan tubuhku menunjukkan reaksi spontannya. Bergerak- gerak diluar kontrol seperti orang gila.

    "Aku mau Blended Coffe latte, dan Blended Mocca late,"ujar Juna pada seorang mas- mas pelayan yang menghampiri kami begitu duduk di sebuah kursi tepat dipojokan yang memiliki view ke sepanjang jalanan ibukota yang mulai padat oleh kendaran- kendaraan pulang kantor.

    "Tit...."u cap Juna membuyaekan lamunanku. Aku yang sedari tadi asyik menatap pemandangan segera mendongakkan kepalaku menghadap Juna yang nampak memasang muka serius.
  • Erghh..kentang.. :'(
  • Erghh..kentang.. :'(
    Erghh..kentang.. :'(

    hahahha..... keken sabar tah.... hihihi


  • lanjut kak...

    sipp.... ditunggu yas?
  • edited June 2012
    "Iya , Jun, kenapa?" sahutku pelan.

    Sesaat Juna nampak gelisah. Nafasnya mendadak berubah berat. Keringat titpis nampak membasahi pelipisnya. Aku seperti De Javu. Aku pernah mengalami ini sebelumnya. Dulu. Saat Juna menceritakan hal pahit tentang Josh padaku. Feelingk memang terkadang kuat. Tapi kali ini, aku mencoba untuk tak mempercayai feeling itu. Aku tak mau mendengar hal buruk saat aku dan Jna tengah merengguk manisnya madu percintaan.

    "Sampai sekarang kau masih mencintaiku kan? tanya Juna kemudian.

    Aaku hanya tersenyum. Rupanya memang feelingku salah. Rupanya Juna hanya takut kalau aku bosan dengan dia. Takut kalau aku mulai kehilangan rasaku padanya. Hei Juna, kau lucu sekali saa sedang khawatir begini. Lantas dengan mantap kujawab.

    "Tentu saja aku mencintaimu, Juna. Sampai kapanpun. Bahkan sampai langit akan runtuh sekalipun. Memangnya kenapa kau mempertanyakan al seperti itu? Tak usahlah kau takut akan kehilanganku. Demi Tuhan sekalipun aku takkan pernah meninggalkanmu." u capku hiperbolis. Akupun baru nyadar kalau kata kataku sudah kayak penyair kesiangan.

    Juna menghela mnafas lega. "Syukurlah, kukira, perasaanmu padaku mulai berkurang, "jelasnya dengan wajah memerah. Lucu. Dan tentu saja tampan. Wajahnya yang sedang memerah seperti ini memang kelihatan tampan, apalagi sekarang, dia tampak jantan dan lebih dari sekedar tampan.

    "Permisiiiii..... Blended coffee dan mocca lattenya datang nih........" sela mas- mas pelayan tadi. S e telah meletakkan pesanan kami, ia langsung ngacir pergi, sepertinya dia memang punya naluri yang sensitif . Sehingga dia sadar kalau keberadaannya disini mengganggu aku dan Juna.

    "Lantas apa yang ingin kau bicarakan Jun? Katanya ada sesuatu yang kau ingin katakan padaku." ucapku memecah keheningan.

    Juna -sekali lagi- menghela nafas. Seakan membuang segala beban berat yang memenuhi rongga dadanya.

    "Aku......"Juna nampak ragu- ragu untuk melanjutkan perkataanya. "Aku dapat beasiswa ke Amerika!"
  • Yeee di lanjut innn.. Horayyyy..
  • Degdegdegdeg..abis kakak kentang seh...
  • @Tea_for_two cptan donk update nya
  • cihuyyy T2 bikin sekuelnya :D
  • cihuyyy T2 bikin sekuelnya :D
  • Asiikkk..Ada sekuel'y.. ˚ƪ(^▽^)∫˚
    Bro, @Tea_for_two υ∂ħ kangen nich dgn karya2'y Ɣƍ lain..
    Ditunggu lanjut'y Ɣɑ, a..
  • @suck1d,@dirpra,@yunjaedaughter,@petertomasoa,@fabolous16 monggo.......
    "Hah???!"

    Aku terkesiap begitu mendengar perkataan terakhir Juna. Aku terpaku. Sumpah, aku nggak tahu musti seneng atau sedih. Seneng, karena aku punya pacar hebat yang bisa mendapatkan beasiswa kuliah ke Amerika. Sedih, karena dengan Juna pergi ke Amerika, maka aku dan dia akan terpisah jarak. Itu sama saja kiamat kecil bagiku. Terpisah sesaat dengan Juna sama saja membunuhku secara perlahan. Aku sunnguh tak tahu harus gimana.

    "Kemarin aku dapat surat dari University Of New York, aku diterima di fakultas Fotografi disana. Tesis yang kukirim dulu ternyata diterima,"lanjut Juna dengan antusias. Sementara aku hanya terdiam. Tak tahu harus bagaimana.

    "Be.. begitu ya...."aku mencoba tersenyum. Namun aku gagal, hanya senyum kecut yang keluar dari bibirku. Dan tentu saja Juna mampu menangkapnya.

    "Kau tak senang ya?".

    "Eh.." aku terkesiap
  • "Enggak, enggak kog... aku senang. Aku benar- benar bangga punya pacar hebat sepertimu, hehehe......" aku mencoba menampilkan senyum senatural mungkin. Mencoba menyembunyikan hatiku yang sebenarnya perih. Perih seperti diiris ribuan pisau berujung lancip.

    "Kau tak usah bohong Tit... aku tahu kau sedih."

    Aku hanya diam. Aku skak mat. Juna benar, aku memang takkan pernah bisa terpisah dengannya.

    "Kalau kau keberatan, aku bisa membatalkan beasiswa itu kog," ucapnya sembari melempar senyum termanis yang pernah ia berikan padaku.

    Tidak. Aku tidak mungkin mengatakan iya. Aku tahu kalau kuliah fotografi di University of New York adalah impian terbesar Juna. Sama seperti impian- impian besarku terhadap Gaga. Aku tahu kalau sedari kecil Juna sangat menginginkan kuliah di salah satu Universitas terbaik di dunia itu. Mengatakan tidak sama saja aku menghancurkan impiannya. Aku tak mungkin melakukannya. Aku benar- benar tak ingin.

  • "Kenapa kau bilang seperti itu Jun... A...Aku... Aku senang kog,"aku mencoba tegar. "Aku pasti akan sangat mendukungmu untuk mengambil beasiswa itu sayang. Aku benar- benar akan kecewa kalau kau membatalkannya. Sungguh."

    "Benarkah apa yang kau ucapkan sayang? ", Juna nampak tak percaya dengat ucapanku.

    Aku hanya mengangguk." Lagipula, kita berpisah jarak, bukan berarti hati kita terpisah kan?"

    "Semoga saja begitu," Juna nampak ragu.

Sign In or Register to comment.