BoyzForum! BoyzForum! - forum gay Indonesia www.boyzforum.com

Howdy, Stranger!

It looks like you're new here. If you want to get involved, click one of these buttons!

Selamat datang di situs Boyzforum yang diarsipkan oleh Queer Indonesia Archive. Forum untuk komunitas gay Indonesia yang populer ini didirikan pada tahun 2003, dan ditutup pada tanggal 15 Desember 2020.

Forum ini diabadikan untuk kepentingan sejarah. Tidak akan ada konten baru di forum ini. Silakan menikmati forum ini sebagai potongan dari sejarah queer Indonesia.

Saber, Saber

Ada ratusan notifikasi dan tak ada satupun yang bisa saya cek lagi apa.








R E D E F I N E D


Berbahagia. Itu, jawaban kalau ditanya saat ada di ruang ini lagi. Siang tadi saya buka lagi forum ini setelah.. lebih dari dua tahun lah. Sedikit tergelitik melihat-lihat lagi tiap sisinya. Kembali terasa. Seperti saat kamu menengok lagi rumah masa kecilmu. Entah itu rumah yang dulu keluargamu tinggali atau itu rumah eyang yang kerap kamu kunjungi. Terasa kembali dan kamu pun tersenyum.

Saya tidak yakin bila dalam suasana itu, kamu masihlah kamu yang dulu itu juga. Tentu saja kamu banyak melewati hal-hal kehidupan. Dan beberapa hal mengubahmu menjadi kamu yang sekarang.

Jadi, apa kabar kamu disana?

Tergelitik saya masih, sebab terpikir bahwa dua tahun itu, saya banyak menghabiskan waktu menatap layar laptop dan ponsel untuk berinteraksi dengan kamu disini di dalam ruang yang ramai ini. Dulu aktifitas itu mendominasi keseharian. Pagi saya bangun tidur, siang setelah kelas bubar, sore saat di kantin, dan malam saat sambil menikmati musik, dan bahkan saat larut malam dan mengubah jam tidurmu. Karena di ruangan ini ramai. Kamu menemukan banyak benda baru dan banyak orang yang kamu temui. Dua tahun itu.

Lalu dua tahun belakang kini.

Itulah kenapa tadi tergelitik. Dua tahun belakang kamu berada di luar ruangan tadi, berkendara menuju tempat-tempat keren, menyusuri hutan beton bersama teman-teman, berkas-berkas dirapikan, langit senja memerah tercemar polusi, langit biru digores gumpalan-gumpalan awan putih, hawa sejuk atas bukit berhutan pinus, dokumen-dokumen penting disiapkan. Kamu manusia penikmat perjalanan, kamu manusia pekerja korporat, kamu manusia pengecap rasa, kamu manusia kota, kamu manusia kamaran. Sedikit mencoba melucu, ada satu hal yang sama dari kurun dua waktu itu; ratusan “hai” di layar ponsel. Haha.

Dua tahun dan dua tahun. Sudah barang pasti kamu bukan pribadi berisi sama seperti isi kamu empat-lima tahun lalu.

Sudah. Saya mau matikan lampu kamar lalu istirahat. Terima kasih Banda Neira, album terakhirnya telah dengan mulus menemani tulis ocehan mala mini. Terima kasih juga buatmu yang sudah membaca sampai di titik ini.
«1

Comments

  • You know what it is.


    1. Lebih suka kereta api eksekutif daripada first class pesawat
    2. Matured in so many ways
    3. That behind-the-scene kind of young guy
    4. Sedang menabung untuk bisa kesana
    5. My brothers and sisters. They all suck.
    6. Menuju warga Plat D resmi 2019
    7. Bengbeng wajib saat bepergian
    8. If there’s a fog index for my writing, it would be off the chart
    9. Active contributor to Google Maps
    10. Alhamdulillah ganteng
    11. That cool-but-weird guy in family gathering
    12. Own a male corgy
    13. Failed my vegan program in 2 weeks
    14. Usually use English when talking in mind
    15. Semacam liberalis-humanis
    16. Able to speak in 7 different Indonesian accent
    17. Still a fan of Blok M
    18. Polaroid over mirrorless
    19. Up for more unexpected events of life
    20. No fear. Not today.
  • kirain cerita ternyata kek blog jurnal
  • Sudah sehat?
  • terima kasih juga udah share ...
  • Sudah sehat?

    Sudah tidak flu, hanya batuk sesekali saja. Obat pun hanya tinggal habiskan antibiotik.
  • [24-Part_1]




    “She’s art with words. Today she’ll tell you stories you’ve never heard. Find the bridge to her world.”


    Then you know happen after those words.




    I first know this band from a friend last year. And he told me to listen to the one of the band’s siggy song. I said OK but listened to it days or maybe weeks after that ‘cause I didn’t think his taste of music could meet mine could fit mine. That first song is called Worth It.

    Saya selalu ingin berada di depan sana, di atas situ, berjingkrak dengan tamborin dimainkan mengikuti berisik drum dan gitar di belakang, kaki tiada beralas, mata terpejam menari bersamanya bak dirasuki ronggeng merasai gemas dan lara. Tubuhnya dia mungil. Kulitnya dia kuning langsat, bersih dan mulus. Rambutnya dia dikepang dua, sepasang anting kesukuan menjadi instrumen bagi kedua telinganya, goretan putih di pipi, dan arsiran pelangi di kelopak matanya. Dia selalu siap menyeret energi semesta ke pundaknya dan ditebar pada kita semua.

    Tidak banyak waktu yang tersedia untuk leyeh-leyeh walaupun Light dan Saber ingin, setidaknya, tiga jam lagi untuk menikmati pagi diatas kasur empuk bersprei putih. Bahkan mungkin lebih dari tiga jam. Bukan karena mereka belum puas sebab keluyuran tadi malamnya, lebih karena mereka begitu menikmati peluk hangat dan sensualnya rasa geli saat kaki keduanya berangkulan. Mereka tetap ingin seperti demikian tapi kemudian bangkit bersegera. Saber tidak mau telat kesana, saking merindunya ia pada udara sejuk Puncak Bintang. Bukan cara Saber yang terburu-buru yang membuat Light sedikit kesal, tetapi bagaimana ia terus menggerutu perkara akan hujan nanti sore. Ditunjuk-tunjuknya terus awan hitam yang tampaknya terus berarak dari barat daya ke timur laut.

    Mereka berkendara dari Holis ke Puncak Bintang. Sepanjang perjalanan, Saber terus saja gugup memandangi kerumunan awan hitam itu. Light yang dapat merasakan gelisah Saber pun mengajak ngobrol Saber soal hal-hal lucu seperti bagaimana Saber kerap mengerjai Light yang tidak paham jalanan Bandung dibawa berputar-putar oleh Saber. Kalau sampai kesal, Light akan ditenangkannya dengan segelas es dawet di dekat Centrum. Light dan Saber pun larut dalam tawa sepanjang berkendara. Sesekali Light menengok wajah Saber melalui spion dan Saber akan mulai membuat ekspresi-ekspresi konyol. Mulai memasuki Cimenyan, hawa dingin memang membuat Saber mulai bergetar melawan dingin, tapi bukan itu yang menjadi fokusnya. Ia kini memandangi langit Cimenyan yang benar-benar cerah sore hari itu sembari tersenyum lebar. Kerumunan awan hitam telah bergeser ke sebelah, ke Dago Pakar.

    Motor diparkir, Saber segera berjalan setengah lari. Dengan langkah yang ringan ia meninggalkan Light di belakang yang sudah ngap-ngap. Haha.


    “Hah? Ini baru 10 meter loh, kamu udah gak bisa atur nafas?”

    “Aku habis bawa motor.”

    “Payah.”


    Pemandangan saat itu bukanlah lagi pemandangan yang ditemui Saber kali terakhir ia berkunjung kesana. Sore itu ia temui alang-alangnya sedang lebat, bunga-bunga yang tadinya mekar menghiasi jalan setapak menuju keatas sedang tak ada. Namun ia tetap semangat menapaki jalan menanjak itu. Karcis dua diproses di loket, langsung ia menuju ke arah kiri, kembali ditapaki jalanan menangga ke arah Sang Bintang. Tak banyak orang diatas sana kala itu dan Saber memilih untuk duduk di tanah di sela tempat duduk yang berderet di pinggir tebing Sang Bintang. Light menemaninya di tempat duduk dekat Saber duduk, tidak disampingnya persis, sebab Light tahu bahkan dirinya sekalipun tak boleh mengganggu koneksi yang sedang menguat antara Saber dan semesta di sekitarnya. Cahaya matahari sore itu sedang lemah, tak begitu menajamkan pandangan bila ditantang. Namun Saber tetap memainkan jarinya ke arah matahari, berharap jemarinya mendapat sedikit hangat.

    “Sama sekali tidak silau. Kamu orang aneh.”

    “Yap.” Jawab Saber tanpa menoleh sedikitpun.


    ***


    Saya tak lagi berharap dapat menyaksikannya langsung dalam suasana yang syahdu. Kini setiap kali datang, penonton akan ikut bernyanyi di lagu terakhir itu. Bukan nyanyian suara dua yang merdu, tetapi cenderung teriak tak menghiraukan bagan dan makna. Satu hal yang membuat saya mundur belakangan kalau ditawari nonton mereka dan beberapa musisi lainnya.

    Di Lapangan Pussenif bulan Februari 2017 pertama kali saya saksikan mereka. Mereka tampil lebih awal dari jadwal, musik mereka sudah terdengar sejak saya antri di pintu masuk saat pengecekan keamanan.

    Kalau dengan teman-teman, selalu gemas dengan gerak selow mereka. Diajak buruan pun gak konek. Blah. Jadilah saya lari duluan ke arah panggung. Dari kejauhan saya saksikan mereka, terutama dia, si tubuh mungil-kulit kuning langsat itu. Dia sedang menyanyikan Worth It. Tidak hanya suara nyanyinya, juga suara bicaranya yang menarik minat saya. Ia menyapa kami yang menyaksikan, memuji tema acara besutan SMA yang memang beken dengan acara pensinya itu, lalu masuk ke lagu penutup. Dan ya, itu menjadi pertama dan terakhir kalinya saya menyaksikan lagu itu disajikan syahdu tanpa sumbangan suara sumbang penonton. Bagian terakhir lagunya, pasti kamu tahu, kan? Itu dia. Dia menari disana, ia buka jembatan menuju dunianya, sontak jiwa saya terseret ke dalamnya. Jiwa yang mulia, jiwa yang tercuci. Setelah itu, sudah barang pasti, ia menjadi tujuan saya dalam berburu tontonan langsung.

    Kali pertama saya bertemu dengannya. Di belakang panggung di Cilandak dua-tiga bulan lalu. Sahlah album itu dilegalisir oleh keduanya.

    ***


    “Waktu di Malang kemarin, seru ya. Ah, rindu.”

    “Tiba-tiba minta belok terus naik ke Bromo. Gila sih itu..”

    “Tapi seru kan. Dadah-dadah ke tiap rombongan pendaki yang kita lewati. Begitu ya para pendaki itu, solid!”

    “Iya mereka memang gitu.”

    “Ah, rindu.”
  • [24-Part_2]




    Mereka mengendarai motor gigi yang sudah usang tampilannya menanjaki jalan terjal Tumpang menuju Bromo. Mereka sampai di Bukit Tubby siang hari. Mulai dari alang-alang tinggi dan kering, hingga bukit yang bergunduk-gunduk ditapaki kaki keduanya dengan lincah. Saber duduk di salah satu gundukan tanah diatas bukit itu. Dipandanginya pemandangan sekitar yang luas. Jeep yang lewat di bawah sana terlihat berjalan seperti mobil mainan, rombongan bermotor trail yang sedang istirahat dalam teduh sebuah pohon besar di bukit sisi seberang. Semuanya membawa benak Saber pada satu momen di masa lalunya.

    Mungkinkah semesta mencabut restu yang telah diberikannya sehingga apa yang telah tersusun dan terangkai, terburai kembali menyisakan hanya serpihan dan debu?

    Saat itu sudah siang dan matahari dengan perkasanya berada di hadapan Saber. Dipincingkannya kedua mata, kepalanya tertunduk. Cukup lama ia menunduk hingga ia kembali mencoba menatap, dengan tangan membantu melawan silau. Panas rasanya. Ia tetap seperti itu, lalu tertawa kecil. Dimain-mainkannya jemari tangannya, ia tertawa kecil, merasa lucu dengan bagaimana jemarinya sedang mengerjai kedua bola matanya.

    “Wey! Udah makin panas. Ayo turun. Kita ke Pasir Berbisik!”
    “Heh.. ayo!”

    “Yuk!”


    Keduanya pun menuruni Bukit Tubby yang licin dengan semangat. Motor usang itu dinyalakan, suaranya garang, dan mereka menuju Pasir Berbisik.. dengan susah payah. Tahu sendiri gimana kalau bawa bawa motor begitu di Pasir Berbisik. Butuh paha dan lengan yang kokoh! Haha.

    “By the way, besok aku mau ke pantai, ya?”

    “Anywhere, my friend.”


    ***


    Saya setel lagu ini saat di pagi hari. Kepalaku membantali perutnya. Sengaja saya pilih lagu ini, karena dia lama tinggal di Jogja.

    “Ini siapa? Kok mirip suaranya EVO..”

    Yay! Dia tau EVO!

    “Kamu tau EVO?”

    “Band aku masih awal-awal kuliah itu. Enak-enak lagunya..”

    Ah, senangnya.



    Saya cukup terkesima ketika menyimak liriknya. Oh oke. Cinta masa muda. Bagaimana sepasang kekasih menikmati kebersamaan, pergi ke tempat-tempat seru, tertawa bersama, akhir pekan yang cerah, saling gelitik pinggang, fancy dinner, berdansa dengan Norah Jones diputar di ruangan. Semua menjadi momen-momen yang diabadikan waktu hingga keduanya sudah tidak dalam kondisi yang memungkinkan adanya momen-momen baru. Sebagai seorang manusia yang sehat dan normal, subyek tentu mengingat semua momen yang pernah dicipta, ia terus mengingat-ingat semua momen itu hingga satu kali kedipan membuatnya sadar bahwa ia harus berhenti memutar pita film berisi semua momen indah itu, lalu menciptakan momen-momen baru yang akan kembali membuatnya bahagia. Kembali membuatnya bahagia, kembali membuatnya bahagia.

    Sampai disini, saya hampir merasa cukup. Hingga saya kembali mengulang-ulang lagu ini, menyimak banyak video panggungnya untuk membaca ekspresi wajah dan tubuhnya. Saya baca kembali bait demi bait liriknya, hingga video klip resminya rilis. Dan yang saya temukan adalah lebih dari itu semuanya.

    Saya telah menyimpan draft ini sebelumnya. Saya mencoba untuk menyelami apa yang dirasakan Elda sesungguhnya. Dan saya berada di sana, roman punggung yang merinding ketika ia memulai intro Man Upon the Hill, jerit laranya di chorus terakhir, dan rasuk semesta di bagian outro lagu. Mata terpejam dan saya ada di dunia yang sama yang Elda maksud. Dan untuk bisa menuju kesana lagi, bukanlah hal yang mudah. Apalagi hidup saya belakangan yang kurang asupan sedih, saya merasa makin berjarak dari intisari lagu. Disini saya mencoba untuk melepaskan semuanya, saya mencoba untuk menumpahkan apa yang setidaknya masih tersisa.

    ***

    This very part will be filled tomorrow.

    ***

    Selamat tidur. Terima kasih untuk The Cure dengan Pictures of You, sebagai teman selingan bagi MUTH yang sudah diulang sejak awal draft.
  • I cannot edit the post above. Educating its members to be consistent and responsible to their own post, such a progress for the beloved forum I guess.

    So, here it is.




    Kalau sudah digariskan berjodoh dengan semesta, jangan buang tenaga untuk menolak energy itu untuk menyatu ke dalam jiwamu. Berbicara soal Elda Suryani, ya, kita tahu bagaimana panjangnya jalan karir music yang ia tempuh. Hingga mulai mendapat ruang dengan bendera EVO. Saya suka dengan Terlalu Lelah. Beberapa kali saya terkecoh dengan permainan vocal yang ringan di lagu itu, tetapi lihatlah wajahnya yang tidak memiliki pancaran semesta. Cukup satu video dan kau bisa menyimpulkan bahwa ia tak begitu berbahagia dengan apa yang ia lakoni kala itu.

    Saya tidak tahu bagaimana kronologi perjodohannya dengan semesta berjalan. Mungkin hanya Adi yang tahu paham soal itu selain Elda sendiri. Namun saya yakin transformasi dari EVO ke Stars & Rabbit bukanlah kreatifitas dalam olah genre semata atau bahkan sekedar ujicoba selera music lagi bagi mereka. Sesuatu terjadi pada Elda dan biarlah itu tetap menjadi rahasia Elda.


    Arms. Arms. Constellation Arms.

    Arms! Arms! Arms! Begitu kencangnya bagian itu dilantunkan sebagai isyarat terbuka seorang hamba kepada Yang Maha Kuasa. Bahwa semua kenangan indah yang pernah dilalui di masa lalu, dan semua perih yang timbul akibat perceraian adalah datangnya dari Dia, Sang Semesta Raya. Elda telah berada di titik kesadaran itu, itulah mengapa ia tak lagi berinteraksi soal kenangan lalu mendongak ke langit, bersimpuh mengakui posisinya sebagai seorang hamba dan memohon ketulusan semesta untuk dapat membersihkannya dan membawanya ke dunia yang hanya bisa ditembus oleh mereka yang juga telah berada di titik kesadaran tertinggi manusia.

    Salah satu aksi paling berkesan yang pernah saya alami; di Ciumbuleuit dalam gelaran Focal Point tahun ini. bagaimana Elda bermain dengan sorot lampu panggung dengan jemarinya. Salah satu malam paling membahagiakan yang pernah saya alami selama hidup. Tidak sedang bercanda..saat itu ada S&R, PW, EK, D, PS, T, dan TTATW. Di Bandung. Kembali menulis secuil ini saja sudah membuat saya kembali tergetar. Di lain waktu akan saya ceritakan puasnya. Oh iya, saya ingat malam itu penontonnya tidak resek dan saya dapat menikmati Man Upon the Hill dengan syahdu.

    “I like that part too..”

    Begitu kata Elda sembari tersenyum dan matanya terpejam sebagai respon dari riuhnya sorak tepuk tangan penonton sesaat setelah intro MUTH yang monumental itu. Tak lupa ia berterima kasih kepada langit Ciumbuleuit yang cerah dan sepoi angin sejuk malam itu.

    Tentu saja Elda adalah otak dibalik video klip MUTH. Tapi.. siapa sih itu, yang jadi sosok di balik teknik grafisnya? Kalau dia seorang pria, akan dengan senang hati saya melayaninya sekali oral seks. Bila musik video MUTH tidak masuk nominasi video terbaik kelas internasional, maka seluruh acara penghargaan bagi musik video di tahun 2018 tak akan punya makna sedikitpun bagi saya.

    Seluruh pesannya akan dengan jelas terbaca saat kamu memahami siapa yang sedang kamu tonton. Pemikiran soal konstelasi dan naungan semesta atas gerak apa-apa yang ada di alam ini, semuanya tertuang di klip itu. Elda dengan gaun mini putih berjalan memasuki gerbang gaib menuju dunia kesadaran, cakranya menyala-nyala dari relung jiwanya, memberikannya visi yang jauh dan luas tentang sekitarnya, membuatnya menjadi lebih bijak dalam bertindak dan berkata.


    And we danced in the room
    Grew our heart a bloom..

    I stopped right there!
    You’ve found a new home
    And I should be happy.



    Oh boy.. di bagian ini, ah susah menjelaskannya. Tetapi itu, di videonya, saya bingung sekali membahasakannya karena ‘sangat bagus’ saja tidak cukup untuk mendeskripsikan betapa sempurnanya bagian ini hingga ke akhir lagu.


    Ooh I should.. be happy..

    Nelangsa Elda di pengulangan frasa ini membuat saya menyibak suatu kemungkinan bahwa sebenarnya ia tak pernah benar-benar berpaling dari semua momen itu, sekalipun ia telah menyatu dengan kekuatan semesta yang agung dan mencerahkannya. Bahwa ia mungkin kembali menemukan jalan kebahagiaannya namun ia tahu bahwa kebahagiaan yang terekam dalam momen-momen di masa lalu itu tetaplah tak bisa ditandingi, bahwa ia akan selalu menjadikan itu semua tolok ukur dalam menentukan kebahagiaan-kebahagiaan selanjutnya. Bahwa ia tak pernah benar-benar berhenti mengenang seluruh momen itu. Tak pernah.


    Oh, Elda. Saya selalu ingin berada disana, menari bersamamu, lelah, pulang, istirahat, bangun esok harinya.. lalu lanjut mengagumi dirimu.


    gAMC6z2.jpg
  • I was going to write about Britney because I felt so so so insecure and uneasy to write about any depressed songs. Then when I open my playlist, oh this one, why not?_




    Semua punya ruang, lukis yang kau mau
    Cerita memilihmu
    Semua punya ruang
    Anganku anganmu.



    Ide ini bermula mirip seperti awal mula When You Believe, dimana dua insan kharismatik ini dibisiki oleh orang label masing-masing. Ya, berawal dari perbincangan santai orang Juni Records dan orang Sony Music Entertainment di awal tahun 2016 tentang lebaynya perseteruan kusir penggemar keduanya di media sosial. Dari bincang santai itu disepakati: Raisa dan Isyana akan berduet dalam sebuah single. Keduanya pun dibisiki oleh tim masing-masing tentang ide karya itu, dan disetujui oleh keduanya. Yang sulit adalah bagaimana karya tersebut direalisasikan karena jadwal padat keduanya. Hingga akhirnya masuk ke dapur pun, keduanya bertemu hanya empat kali untuk membicarakan seluruh proses produksi mulai dari penulisan lagu, aransemen, improvisasi, hingga lanjut-lanjutnya. Direkam di Swedia, mastering di New York, distribusi Juni Records dan Sony Music, jadilah.. lagu pop terbaik Indonesia 2017.

    Tidak ada promosi heboh atas rilis karya ini walaupun seluruh prosesnya sengaja dijauhkan dari mata publik. Mulanya pun saya menganggap hasilnya akan biasa-biasa saja, tapi saat mendengar langsung dan videonya dirilis.. mereka tidak sedang menjual sampah industri yang bisa dinikmati para receh disini. Keren! Olah kembang vokal keduanya terasa tidak berlebihan dan mengalun sangat berirama dengan musik latar yang merangsang hormon kebahagiaan. Saat mendengarkan lagu ini kita dapat membayangkan keduanya bernyanyi dengan santai, sembari tersenyum saling bertatapan. Di bridge lagu, kita bisa membayangkan Raisa yang sedang memejamkan mata dan bermain di lower register lalu mengejutkan telinga dengan soothing falsetto dan diroketkan oleh upper register Isyana saat masuk ke klimaks. Satu lagi yang menurut saya menarik dan memuaskan adalah tidak adanya alunan instrumen yang berekor di ujung lagu. Keduanya menutup nyanyian dengan soft vocal seperti di bagian awal, dan disitulah lagu berakhir, tanpa ada denting senar atau piano lagi. Dan oh, terkadang saya bisa merasakan kehadiran Marco Steffiano dalam hentakan drum yang khas di setiap chorus lagu. You hear it too, right? That’s so him.

    Tidak berfokus pada penjualan, keduanya hanya memiliki harap lagu ini akan lebih disorot makna dan pesannya. Kamu bisa saja menganggap ini lagu soal mendamaikan penggemar Raisa dan penggemar Isyana yang kerap adu urat jari di media sosial. Atau mungkin bisa saja bagimu ini adalah lagu dimana sepasang kekasih berpisah, namun setelah berpisah keduanya cukup bijak untuk paham bahwa tidak perlu ada dingin hati, amarah, dan benci setelahnya. Hal yang kerap terjadi kalau ada suami-istri yang menikah, pihak keluarga jadi ikut heboh membangun kubu. Yang menjalani siapa, yang berkeputusan siapa, nah yang angkat senjata siapa. Bagi saya momen rilis lagu ini saat tepat sata itu di Jakarta. Tidak perlu diperinci soal apa, saat itu hampir semua kita bahkan yang di luar Jakarta ikut merisaukan fenomena yang terjadi. Ada begitu banyak benci yang bertebaran di udara membuat banyak manusia terselimuti mata hati dan jiwanya hingga tak mampu melihat terang. Dan lagu ini datang dengan pesan yang sangat menohok bagi mereka yang buta dan tidak mengetahui. Tapi kalau sudah terselimuti begitu, jangankan karya seni, logika sederhana saja tak mampu dipahami.

    ***

    Dia menginap di tempat saya malam itu. kami bangun sekitar pukul 7:00 pagi, masih saling berangkulan. Saya bangun, menyetel lagu ini, dan mulai menyiapkan sarapan untuk kami berdua. Tidak dapat menahan diri, saya mulai bermain dengan senter kecil yang ada di atas meja dan mulai ikut bernyanyi, well, lip-sync tbh. Tidak peduli dengan dia yang sedang merekam video saat itu karena toh nanti hasilnya saya tetap bakal terlihat keren. Haha. Lagu selesai, ia bangkit dari ranjang, melahap roti yang sudah saya siapkan, kami berpelukan dan ...
  • Going to write about this band? Ooooo boy, I gotta know what I'm doing. This week I'll try to get the feeling back the spirit back the memories back and put them all in words. Yesterday I got the chance to watch them live so it will helps I am sure.

    ***


    "I had to, like, open the bruise up, and let some of the bruise blood come out to show them. Come out to show them. Come out to show them. Come out to show them. Come out to show them. Come out to show them. Come out to show them. Come out to show them..."

    It goes on and on then the beat comes up taking control.

    ttatw_2642.jpg?w=1000
  • We took Medy for grooming. And in the morning we took him for a very fun morning walk. I really enjoyed scaring the children by shouting "attack! attack!" and pointed the children.. Hahahaha.. They were screaming and jumping.. at that very moment I felt kinda like a psycho in Hollywood thrilling movies who enjoy his victim's loud screams. Haha.

    Anyway, it took me like hours to capture this.


    W0EuBJ7.jpg


    There's a meeting tomorrow morning and I have to go to bed right now. Right now. Oh not really, gotta finish Barasuara's last song in their Bukamusik performance. Good night!

    Sampaikan mereka..
  • Meresahkan Rahasia


    Sudah sangat lama sekali rasanya saya tidak menulis tentang mereka ini. Lama sekali. Saya masih ingat saat itu saya menulis postingan pendek disini. Saya bercerita tentang awal mula saya berkenalan dengan musik mereka dan bagaimana saat itu mereka mulai memasuki masa kejayaannya. Waktu berlalu, saya berpaling dari mereka, dan kini ada kilau terang membuat saya kembali menoleh pada mereka. Terang itu bukan hanya sekedar secercah titik kecil lagi. Terang itu kini telah menampakkan perkasanya menerangi gelap malam yang penuh tanya.

    ***

    Mari sedikit mengenang-ngenang ke beberapa tahun lalu. Saat itu saya masih belia, skripsi sedang digarap, coret-revisi lalu coret-revisi lalu final. Banyak waktu luang bagi saya berarti banyak musik untuk diresap. Dan menjelang akhir status mulia saya sebagai mahasiswa itulah saya mulai berkenalan dengan beberapa grup musik dari skena musik indie seperti Banda Neira, Tigapagi, lalu mereka ini; Payung Teduh (PT). Saat masih sangat awam dan mengira bahwa indie itu artinya folk folk –an demikian, PT ini termasuk yang saya dengarkan setiap malam dengan lagu andalan hingga saat ini: Rahasia. Tentu saja UPYSDP sangat sangat sensual dan romantis, namun bagi saya, Rahasia punya kompleksitas sendiri yang lebih nikmat untuk diselami. Waktu itu mengikuti band-band begini baru lewat Twitter. Ingat ‘kan, yang mana yang publikasi rilis albumnya melalui Twitter waktu itu? haha.

    Saya berbincang beberapa kali dengan mereka yang mengikuti PT saat masih berdua dan bisa dibilang musisi pinggiran yang kerap tampil di Kansas. Berbincang bagaimana saat itu mereka harus mengumum-umumkan ke lingkaran teman-temannya agar datang menyaksikan mereka tampil, agar mereka mendapat dorongan moril untuk bisa bersenandung dengan karyanya. Baru saja saya cek Wikipedia, dan tampak tak ada perubahan dengan profil mereka di Wiki seperti saat pertama saya mencari tahu tentang mereka bertahun-tahun silam.

    Berandalkan kesyahduan keroncong, PT mulai mendapatkan perhatian dari para penyelenggara festival musik. Saya dulu masih sering datang menyaksikan mereka saat masih bebas dari polusi sing-along yang tak nikmat itu. masalah yang sama yang akan saya temui saat menyaksikan Stars & Rabbit, yang juga membuat saya enggan datang belakangan ke gigs mereka kini-kini. Album dan album dirilis, PT pun tak perlu lagi meminta teman-temannya agar datang meramaikan, karena tanpa demikian saja sudah sangat ramai. Oh! Synchronize Fest 2016! Malam itu saya baru saja selesai gawe dan berdua dengan seorang kawan kerja langsung menuju Kemayoran. Tak begitu ingat, tapi itu malam pertama dan Yura Yunita sedang tampil saat kami tiba disana. Semakin malam, di panggung yang sama, PT akan segera tampil. Enggan untuk duduk, kami berdua bersikeras tetap berdiri sambil berharap penonton sebaris kami juga tetap berdiri. Namun teriakan-teriakan dari belakang membuat kami kalah dan kami harus duduk. Satu-dua lagu dimainkan, kami merasa tak nyaman menyaksikan sambil duduk, dan saya menawari kawan ini untuk maju ke arah panggung dan jadi pagar betis saja. Saat itu tidak penuh loh seperti tahun ini yang penontonnya tidak bisa duduk. Haha. Kami duduk termasuk di baris dua atau tiga dari depan, dan dari depan kami ke pagar besi itu masih sangat lowong areanya karena dengan nonton sambil duduk, tentu tidak ada yang mau duduk dibawah pagar tepat dan menonton besi dan monitor panggung, bukan?


    “Ga asik ah gini. Coba berdiri.”

    “Iya.”

    “Ke depan sana yok, berdiri!”

    “Ayo, ayo!”


    Kami pun berdiri, tidak tepat di depan panggung, agak ke samping. Lirikan petugas keamanan yang sok sok wibawa, aman ah. Kami berdua yang rada ngantuk juga karena abis gawe nonton dengan kepala bersandar di tangan yang posisinya merangkul pagar, menikmati lagu demi lagu. Tak ada orang lain sepanjang pagar selain kami kala itu. Is tampil tak lagi mengenakan sarung. Ia saat itu sudah tampil dengan rambut dipangkas, celana jeans tiga per empat, kaos biasa, dan sepatu kets. Sungguh bukan tampilan Is PT yang saya kagumi sih. Di satu momen, ia sempat menyapu pandangan sekeliling dan sesaat berhenti di kami berdua lalu tersenyum dan memulai lagu selanjutnya.

    Saya rasa kita semua akan setuju bila saya sebut periode 2016-2017 adalah periode puncak emas PT dimana mereka hampir tak pernah menolak undangan tampil. Halaman sekolahan, alun-alun kota, rooftop dan aula mall, gedung konser bergengsi di SCBD, gedung pertunjukan bersejarah, cafe berbagai ukuran, tengah hutan pinus, ataupun tepian kolam renang hotel berbintang, semuanya telah dijejali disyahdukan digetarkan oleh suara-suara mereka. Dan di puncak karir PT inilah saya kemudian mulai meninggalkan gigs mereka agar kesan baik saya terhadap mereka tetap lestari dan tak dirusak oleh suara-suara sumbang penonton yang bernyanyi membabi buta tanpa makna tanpa kesadaran. Di periode ini, PT bukanlah PT yang saya kenal di awal. Kita tahu tiap sesuatu itu berubah, tapi pada PT, sungguh, bukan perubahan ini yang baik bagi mereka. Bagi manajemen mereka mungkin baik, tapi tidak bagi mereka sebagai manusia-manusia seni. Is mulai melepas sarung dan baju keadatannya, ia tak lagi membahas angin dan malam, tak ada lagi horror dalam nyanyiannya, ia kini lebih sering membahas galau dan galau. Berbincang dengan seorang teman soal ini, ia pun menambahkan keluhannya pada Comi yang mengganti contra bass –nya.

    Mengenai album ketiga pun adalah bagi saya topik yang bisa menjadi bahan hujat saya pada mereka. Bagaimana bisa seniman begitu sibuk kesana-sini dan meninggalkan tugasnya untuk penciptaan karya. Saat mau digarap, datang-datang pula proyek baru dan jadinya album ketiga adalah pembawaan-pembawaan baru dari seluruh lagu lama. Saya menolak untuk mengatakan isi album Live & Loud (2016) itu sebagai versi baru sebab itu sejatinya bagaimana lagu dibawakan dengan aransemen baru. Dengan akhirnya dirilisnya Akad, sebenarnya menjadi mekar harapan lagi. Oh, jadi mereka mulai kerja lagi nih, kerja sebagai seniman lagi? Tetapi saat saya menyimak Akad.. Gak, ini mah bukan PT. Ini mah band buatan Yamaha. Blah. Bahkan walaupun albumnya sudah keluar penuh nanti, dengan Akad sebagai representasi, mmm-kay. Baguslah, saya bersyukur albumnya sudah rilis, tapi saya mungkin takkan merasakannya nikmat seperti karya-karya sebelumnya.

    Kita semua tahu apa yang sudah diputuskan dan diumumkan Is. Dan saya amat bergembira menyambutnya. Seperti yang dikatakan oleh Whitney Houston, entah itu 10.000 atau 100.000 ataupun 1.000.000 keping album yang terjual, seorang seniman publik perlu mengambil waktu untuk dirinya sendiri, menjauh beberapa lama untuk dapat melihat kembali arah dan alam sekitar lebih jeli. Saya tak begitu peduli dengan bagaimana PT tanpa Is nanti. Menantikan apa yang akan dilakukan Is dengan independensi waktu di tangannya kini akan lebih menarik bagi saya. Dan akan menjadi bahasan yang menarik pula seberapa besar ketenaran dan kesuksesan PT mengubah pribadi pimpinannya.



    IMG_20161029_001817--.jpg

    Payung Teduh / Synchronize Fest 2016 / Kemayoran, 29-10-2016
  • Album ke-3 bukan Live and Loud.
  • Album ke-3 bukan Live and Loud.
Sign In or Register to comment.