Baru - baru ini teman saya menangis dan sedih karena kehilangan seorang Ibu. Dia adalah anak Medan (etnis Batak). Teman ku ini adalah anak ke 6 dari 7 bersaudara. Dia satu - satunya anak yang belum menikah.
Ibunya dan keluarganya adalah seorang pemegang adat yang kuat. Sehingga sering sekali teman ku diminta untuk menikah pada saat ibu nya hidup.
Alasannya supaya pada saat Ibu nya meniggal dapat dilaksanakan upacara SARI MATUA. Sari matua itu adalah upacara adat yang dilaksanakan bagi orang tua yang meninggal. Karena anak - anaknya sudah menikah semua. Syaratnya harus menikah semua anak - anaknya.
Teman ku sangat sayang dengan ibu. Tetapi teman ku juga bangga sebagai seorang gay.
Karena tekanan itu lah teman ku meninggalkan kota Medan ke Jakarta untuk tidak dipaksa terus menikah.
Teman ku selalu ngomong kepada saya, bagaimana menjelaskan kepada keluarga soal ke gay annya.
Ini benar - benar menjadi buah simalakama bagi teman ku.
Barusan temanku menelpon dan menangis betapa sedihnya dia karena ibunya tidak dapat dilaksanakan upacara Sari Matua. Yang selalu diinginkan ibunya sejak dia masih hidup.
Teman ku menangis tak henti - henti...Kenapa Adat begitu kejam dengan saya. Karena dia juga seperti "dpersalahkan" oleh pihak keluarga karena tidak dapat dilaksanakan upacara itu.
Padahal temanku ini adalah anak yang disayang oleh ibunya. Ini menurut cerita temanku.
Teman ku menangis karena ibunya harus meninggal dengan tangan mengepal diatas dada. Padahal jika upacara itu dilaksanakan tangan harus dilepaskan. Artinya bahwa orang tua sudah selesai akan tugasnya untuk membesarkan anak - anaknya. Sehingga tangan mengepal dimaknai sebagai sesuatu meminta kepada sang maha kuasa. Jadi kalau tangan diletakkan ke lepaskan artinya sudah tidak meminta lagi kepada tuhan. Itu lah lebih kurang maknanya.
Dihadapan mayat ibu nya teman ku terus menangis. Sambil memohon kepada pemangku adat untuk dapat dilaksanakan upacara itu. Tetapi lagi - lagi ini tidak dapat dilaksanakan adat tersebut yang syaratnya harus semua anaknya menikah.. teman ku bilang tetapi dia bahwa dia kan sudah dewasa (umur teman ku sekitar 33 tahun).
Sekarang teman ku sedang duka sekali. Karena lagi dalam proses pemakaman ibunya tanpa upacara SARI MATUA.
Teman ku menangis dan terus menangis karena dia tidak dapat memberikan SARI MATUA buat perempuan yang paling dia sayangi (ibunya).
Saya cuma diam dan tidak bisa berkata apapun pada saat temanku telpon, Selain mengatakan kenapa Adat tidak pernah memberikan hak kepada kami yang memilih untuk tidak menikah atau memilih untuk berbeda orientasi seksual dari umumnya orang.
Teman ku adalah seorang aktivis HIV dan AIDS di Jakarta..
Salam
Toyo
Comments
Pesanku ke temanmu,
ingat dan berpasrahlah kepada Tuhan, ingatlah bahwa Tuhan punya rencana yang indah untuk umatnya.
Jangan menangis teman..doakanlah ibumu agar diperistrahatan beliau yang terakhir ibunda dapat dgn tenang.
Tuhan maha baik, percayalah! dan tak ada gunanya engkau menyalahkan adat.
Turut berduka ya!
with love for you n your mother. GBU!!!
btw,turut berduka cita...
namanya juga adat..
emank ga ada toleransi..
Win win solutions ,
lakukan saja perkawinan sejenak. kawin kontrak , kawin dengan lesbi
yang penting niatnya baik . Ibunya tidak akan gentayangan sebagai arwah penasaran , karena upacara adat bisa dilakukan , dan sang teman tidak menderita karena perkawinannya tidak akan membunuhnya ( kalau dia pura pura kawin , tetapi gak menyukai wanita ). Jadi lakukan perkawinan beneran tapi secara "kontrak" setelah upacara matua , cerai lagi . Siapa tau , berkah Illahi , perkawinan sementaranya tidak jadi diputus ditengah jalan, karena .....eh ternyata kawin ama ce , enak juga .....
(mmmm.....itu aja deh yg harus diyakini n bisa bikin tentram....)
banci bawa sial donk nek'
Teman ku itu kayaknya ada di Forum ini, tapi dia jarang buka dan kirim postingan.
Sekedar ralat, nama adatnya Saur Matua bukan Sari Matua.
Salam
Toyo
tp Maaf tak bisa comment, ak cukup MENGERTI maksud thread ini.
thx
I am sorry hearing that. moga2 bisa melupakan kesedihan dan terus berjuang demi hidup....