BoyzForum! BoyzForum! - forum gay Indonesia www.boyzforum.com

Howdy, Stranger!

It looks like you're new here. If you want to get involved, click one of these buttons!

Selamat datang di situs Boyzforum yang diarsipkan oleh Queer Indonesia Archive. Forum untuk komunitas gay Indonesia yang populer ini didirikan pada tahun 2003, dan ditutup pada tanggal 15 Desember 2020.

Forum ini diabadikan untuk kepentingan sejarah. Tidak akan ada konten baru di forum ini. Silakan menikmati forum ini sebagai potongan dari sejarah queer Indonesia.

Melon Es Doger

edited May 2019 in BoyzStories
Judulnya masih belum fix ya. TS-nya masih bingung mau ngasih judul apa. Buat temen-temen penggemar WHD (kalau ada), Halo lagi! Kali ini Summersnow udah nyelesaiin draft-nya baru upload disini. Jadi ga akan digantungin lagi kok kayak 2 cerita terakhir yg ga dilanjut-lanjut. Hehe.

**Preview**

“Mandi gih. Abis itu temenin gue.”

Tangannya menyodorkan handuk di hadapanku, sebelum aku sempat mengambilnya dia melepas handuk itu sehingga jatuh di pangkuanku. Sial, tabiatnya menyebalkan. Kenapa aku harus terjebak dengan orang ini sih? Kalau bukan karena dia anak bos papa, sudah kuhabisi dia. Seperti tidak pernah diajarkan sopan santun saja.

“Ke?”

“Beli baju,” jawabnya sambil berbalik memunggungiku.

“Gue udah ada rencana hari ini.”

“Batalin.”

*****************************************************

“Hmm. Padahal baru kemarin lu mau jalan sama Aini, tapi hari ini lu malah jalan sama Aa’ ini.”


*****************************************************

“Buka baju lu!” Katanya dengan nada galak seperti tadi.

What?? Buka baju? Di kerumunan orang sebanyak ini.

“Kenapa? Malu? Di teknik banyakan cowok, ga ada bakal ada yang nafsu.” Tukasnya.


*****************************************************

“Lu gampang banget kasihan sama orang ya? Kayak kenal aja.”

“Gue emang ga kenal dia, tapi gue pernah ngerasain posisi dia.”


*****************************************************

Comments

  • Chapter 1

    Kebiasaan! Siapa lagi ini yang parkir di depan rumahku. Punya mobil tidak punya tempat parkir. Terpaksa aku parkir di depannya, di depan rumah tetangga. Hal yang lebih menyebalkan adalah, kalau mobil putih itu pergi, aku harus turun lagi dari kamar dan memasukkan mobil ke garasi. Sudah malam begini, aku mau langsung tidur.

    Dengan langkah kesal aku menuju pintu depan rumah. Entah kenapa kesialan terjadi beruntun padaku hari ini. Dimulai dari macet karena kecelakaan, hampir setengah jam mencari tempat parkir di mal, hingga Aini yang meninggalkanku begitu saja karena aku terlambat. Lebih parahnya dia mengatakannya via Whatsapp. Sepertinya Tuhan tidak mengizinkan aku bertemu dengannya. Dan sekarang, mobil ini!

    Mercedes-Benz putih. Aku sedang berdiri di depannya. Rasanya ingin menendang mobil sedan ini untuk melampiaskan amarahku.

    Kulihat pintu depan rumah terbuka, sepertinya ada tamu. Jangan-jangan tamunya pemilik mobil ini. Tapi hal itu tidak mengurangi kekesalanku. Aku malas untuk memindahkan mobil ke garasi nantinya, seperti kerja dua kali.

    “Malam,” salamku sambil mengetuk pintu depan pelan. Semua orang di ruang tamu langsung menoleh padaku.

    Ada papa, mama, seorang laki-laki dengan setelan jas yang rapi, dan anak laki-laki yang sepertinya seumuran denganku.

    “Nah itu Ari pulang,” mama menyambutku.

    “Sini duduk.”

    Aku bingung. Aku tidak kenal kedua orang tamu itu tapi kenapa aku disuruh duduk? Bukannya mereka tamu papa? Tapi aku menurut saja duduk di sebelah anak laki-laki tadi. Sial, baunya aneh. Bukan busuk, tapi bau yang cukup menyengat bila dekat dengannya.

    “Ini Pak Bram, bos papa di kantor.”

    Aku menoleh pada pak Bram dan tersenyum sopan.

    “Dan itu anaknya, Edgar.”

    Saat aku menoleh padanya, dia membuang muka dan menatap kosong ke pintu depan. OK, first impression yang buruk. Daripada memprovokasi sikapnya barusan yang akan membuatku semakin kesal, aku menoleh ke papa lagi.

    “Mereka baru saja mengalami musibah, rumah mereka kebakaran. Karena gak ada kelurga yang rumahnya di kota ini, jadi mereka minta bantuan kita.”

    “Bantuan apa, Pa?”

    “Mereka akan tinggal disini sampai menemukan tempat tinggal sementara.”

    “Ehm,” pak Bram bersuara. “Sebenarnya hanya Edgar aja yang akan tinggal disini. Kamu ingat kan Al, besok saya harus ke Jepang.”

    “Lho? Jadi berangkat, Pak? Kan baru dapat musibah.” Papa terlihat bingung.

    “Gak mudah buat atur pertemuan sama mereka, jadi pertemuan itu harus tetap jalan. Lagipula, rumah kamu dekat dengan kampus Edgar, jadi saya minta tolongnya sama kamu.”

    “Ehmm, Edgar kuliah di Universitas Hulu?” Mama bertanya, aku sudah menebak arah pembicaraannya jika Edgar mengiyakan.

    “Iya tante.”

    “Wah, Ari juga masuk sana.”

    “Oh.”

    Wah, ini cowok emang pelit ngomong atau gak diajarin sopan santun sama orang tuanya? Melihat mukanya yang sombong itu membuatku semakin kesal.

    “Masuk jurusan apa kamu, Ri?” pak Bram bertanya, melanjutkan topik yang sama.

    “Teknik sipil, Om.”

    “Oh beda fakultas berarti sama Edgar. Dia fakultas hukum, mau jadi pengacara ayahnya dia. Haha.”

    Papa dan mama ikut tertawa. Entah apa yang lucu, mungkin bagi orang tua guyonan garing itu lucu.

    “Ari ke kamar dulu ya, Ma. Mau istirahat.”

    “Ah, Edgar kamu juga ikut sana. Istirahat juga.”

    “Hah?”Aku terkejut. “Dia tidur di kamar Ari, Ma?”

    “Iya lah, sama di kamar adik kamu. Sudah sana.”

    Aku tidak mau membantah. Sekesal apa pun aku pada dunia aku sebisa mungkin tidak menunjukkannya pada mama atau papa. Mereka berdua selalu bersusah payah membuat aku bahagia, jadi tidak adil rasanya saat dunia kejam padaku, aku melampiaskan pada mereka.

    Aku berjalan menuju kamarku di lantai atas, Edgar mengikutiku tanpa bersuara di belakang. Di lantai atas ada dua kamar yang saling berhadapan, kamarku dan kamar adik perempuanku yang cerewetnya bukan main. Entah dimana dia sekarang, kalau ada di rumah pasti aku sudah mendengar suaranya dari tadi.

    “Tunggu disini dulu ya, gue masuk duluan.”

    “Kenapa? Ada majalah porno yang harus lu sembunyiin dulu?” Tanya Edgar dengan nada bicara sok. Hampir aku naik pitam, aku masih bisa menahannya. Aku ingat dia baru saja tertimpa musibah.

    “Bukan, ada bangkai orang yang belum gue buang!” aku menimpali saja.

    Aku langsung masuk kamar dan menguncinya dari dalam, jaga-jaga kalau Edgar nyelonong masuk. Sial, kamarku luar biasa berantakan. Biasanya aku membereskan hari minggu pagi karena siangnya mama suka inspeksi kamar. Tapi aku harus membereskannya sekarang karena aku tidak mau anak bosnya papa menilaiku hanya dari keadaan kamarku.

    Tok tok!!

    Pintu kamar berbunyi. Ah aku masih beres-beres. “Tunggu! Sebentar lagi!” aku berteriak menyahuti.

    Tok tok!!

    Gak sabaran banget sih! Aku semakin kesal. Rasanya ini hari terburuk dalam hidupku. Masalah demi masalah terus muncul padahal sudah pukul 9 malam.

    Tok tok!!

    Kulempar buku terakhir yang ada di lantai ke atas meja. Buku mendarat terbalik. Ah biarkan saja, daripada aku harus mendengar ketukan pintu lagi.

    Wajah Edgar tampak tidak senang ketika aku membuka pintu. Dia melirik ke arah kamar, berjinjit sedikit untuk melihat dari atas kepalaku. Dia lebih tinggi sedikit dariku.

    “Masuk.”

    Aku berbalik dan langsung duduk di tepi kasur. Kamarku tidak besar tapi cukup banyak perabotan. Sebagai anak sulung, aku berhak mendapat kamar yang ada jendela depan rumahnya, di bawah jendela ada sofa. Di sebelahnya ada meja belajar dan komputerku. Di seberang ruangan, dekat dengan pintu masuk, ada lemariku dan kasurnya berada di tengah-tengah menempel pada salah satu dinding ruangan.

    Edgar berjalan masuk dan melihat-lihat. Aku tahu pasti kamar dia lebih besar. Dia anak bos, tentu rumahnya pun lebih besar. Tanpa permisi dia membuka lemari, seperti tidak menemukan yang dicarinya, dia berjalan melewati kasur menuju jendela. Kemudian mengamati barang-barang yang ada di meja belajarku. Rasanya seperti inspeksi mingguan mama tapi lebih ketat.

    Jengah dengan keheningan, aku bangkit dan berjalan menuju lemari. “Gue beresin dulu lemarinya, biar lu bisa naro baju lu disini.” Aku memindahkan beberapa kaosku ke rak lain di dalam lemari itu.

    “Mana koper lu?” aku menoleh menatap Edgar.

    Dia hanya menatapku seolah berkata ‘pikir bego!’ dan setelah beberapa detik berpikir baru aku nalar.

    “Ah sorry sorry. Gue lupa kalau rumah lu..,” dia menunduk ketika aku hendak berkata kebakaran. Aku tidak mesti membicarakan itu.

    Aku berbalik ke lemari dan mengambil kaos dan celana pendekku. Juga sehelai handuk yang masuk belum dipakai. Aku memberikan padanya barang-barang itu.

    “Nih, kamar mandi ada di deket tangga. Lu bisa pakai baju gua dulu.”

    Dia menerima tanpa berkomentar. Mungkin dia pikir dia butuh mandi juga. Aku tidak tahu bagaimana kejadian kebakarannya, tapi kalau aku berada di posisinya mungkin mandi hal yang aku butuhkan sebelum tidur. Dan sementara dia mandi, aku punya waktu untuk lanjut membereskan kamarku.

    Setelah sekian lama, akhirnya ada cowok lain yang akan tidur di kamarku. Padahal kupikir dia akan menjadi satu-satunya karena dia begitu spesial dulu. Kuharap kali ini aku mampu menahan diri.

    **
  • Chapter 2

    “Kak.”

    Suara menjengkelkan itu terdengar lagi. Aku sudah bangun dari pertama kali dia memanggilku dan menggoyang-goyangkan badanku. Hanya saja aku masih ingin tidur. Pergi sana, Ra!

    “KAK ARI!!” Suaranya jauh lebih melengking dari sebelumnya. Adik perempuanku ini memang selalu menjengkelkan.

    “Apaan elah!” Aku langsung duduk dan menatapnya kesal.

    Ra tersenyum seolah tidak peduli aku kesal padanya. Dia lalu bangkit dan berbalik menuju pintu kamar. Apa-apaan dia?!

    “Udah bangun tuh, Ra tinggal ya kak,” katanya pada Edgar yang berdiri di tengah ruangan. Dia melambaikan tangan tanpa menoleh.

    “Thanks ya, Ra,” balas Edgar sambil tersenyum.

    Ternyata dia bisa tersenyum juga, kukira dia hanya bisa bermuka masam seperti yang diperlihatkannya sepanjang malam kepadaku.

    Edgar berjalan menuju ke arahku. “Kenapa tidur di sofa?”

    Karena kamu. Aku menjawab cepat dalam hati. Semalam semuanya terasa aneh. Setelah dia selesai mandi, aku gantian mandi. Begitu selesai, kulihat dia sudah tidur di kasurku dengan tenangnya. Dia terlihat lebih tampan saat tidur begitu, ah tidak lebih tampan saat tersenyum seperti tadi.

    Jadi yang kulakukan semalam hanya duduk di tepi kasur dan menatapi wajahnya yang tidur dengan damai. Entah apa yang merasukiku, aku bahkan belum mengenalnya sama sekali. Seperti ada sesuatu yang mendorongku untuk terus menatapinya. Saat aku terpikir bahwa aku tidak akan bisa lepas dari ‘dunia’ ini jika aku terus memandanginya, aku bangkit dan langsung lari ke sofa.

    I am gay. No! I was gay!!

    Kejadian dengan dia, orang pertama yang tidur di kasurku, tidak ingin kuulangi kembali. Kejadian yang membuatku kehilangan orang paling spesial dalam hidupku. Aku tidak bisa membayangkan kalau hal itu terjadi dengan Edgar. Kami bahkan belum tahu nama panjang masing-masing dan aku sudah berani untuk melakukannya? Lebih baik aku mencegahnya dengan tidur di sofa.

    Aku tahu diriku, sekuat apa pun aku mencoba, aku selalu kalah pada godaan. Apalagi dengan cowok setampan Edgar. Ah tapi mukanya masam lagi pagi ini. Hal bagus sih, karena aku tidak tertarik saat dia begitu.

    “Gak pa-pa,” jawabku setelah jeda cukup lama. “Gue tidurnya rusuh, ntar lu ketendang-tendang.”

    “Masa? Dari tadi gue liatin lu tidur di sofa ga gerak sama sekali.”

    What??? Lu ngeliatin gue tidur?? Pikiranku ngalor-ngidul membayangkan yang terjadi.

    “Lu tidur dikasur malam ini. Gue tamu, gue yang harusnya tidur di sofa.”

    “Karena lu tamu, jadi gue harus memperlakukan lu sebaik-baiknya,” aku berkilah.

    Dia diam sambil menatapi handuk yang ada di tangannya. Dia maju mendekatiku.

    “Mandi gih. Abis itu temenin gue.”

    Tangannya menyodorkan handuk di hadapanku, sebelum aku sempat mengambilnya dia melepas handuk itu sehingga jatuh di pangkuanku. Sial, tabiatnya menyebalkan. Kenapa aku harus terjebak dengan orang ini sih? Kalau bukan karena dia anak bos papa, sudah kuhabisi dia. Seperti tidak pernah diajarkan sopan santun saja.

    “Ke?”

    “Beli baju,” jawabnya sambil berbalik memunggungiku.

    “Gue udah ada rencana hari ini.”

    “Batalin.”

    “Hei, siapa lu nyuruh-nyuruh gue?”

    Kepalanya menengok ke belakang sedikit tanpa memutar badannya. Dengan mimiknya yang menyebalkan dia menjawab, “gue tamu lu, jadi lu harus memperlakukan gue sebaik-baiknya.”

    Aku cengo. Senjata makan tuan. Tanpa permisi dia meninggalkan kamar. Aku baru sadar kalau dia sudah rapi. Dia mengenakan celana yang dia pakai semalam dan kaos yang tidak asing. Sial, dia seenaknya mengambil salah satu kaosku untuk dia pakai.

    Oh Tuhan, kenapa kau turunkan cowok brengsek ini kepadaku??

    Selesai mandi dan berpakaian rapi, aku langsung turun. Dari tangga kulihat mama sedang mengambil piring kosong dari hadapan Edgar dan Ra.

    “Tidur jam berapa kamu sih, Ri?” Tanya mama, seperti ingin marah tapi ditahan. Jadi suaranya seperti suara gemas.

    “Biasa kok, Ma,” jawabku sambil cengengesan sambil duduk di sebelah Ra. Edgar duduk di hadapan Ra.

    “Ini sarapan dulu sebelum berangkat.” Mama meletakkan piring berisi roti isi untuk sarapanku.

    Kulihat Edgar dan Ra saling bertatapan dan mengobrol berdua. Sepertinya mereka sudah mengobrol sejak aku mandi tadi. Percayalah, dengan Ra, kalian tidak akan pernah kehabisan bahan obrolan.

    “Jadi gitu, Ra gak boleh sekolah disana karena jauh.”

    “Enak jadi anak SMA?” Tanya Edgar ramah. Ternyata dia bisa juga ramah pada orang lain.

    “Enak dong. Kantin sekolahnya lebih gede dan lebih banyak pilihan. Jumat kemarin Ra nyobain bakso bu budi yang di pojokan. Selama ini Ra kira gak enak karena jarang lihat orang beli, ternyata enak banget. Lebih enak daripada bakso langganan kak Ri di depan komplek.”

    “Makan mulu dipikirin.” Celetukku.

    “Dih, makan dulu tuh abisin baru ngeledekin orang.” Dia membalas.

    Aku gemas. Ku toyor kepalanya pelan tapi dia merasa seolah aku memukulnya dengan tongkat kasti.

    “Bundaaaa…” Ra merengek sambil memegangi kepalanya.

    “Ari,” mama melirik kepadaku.

    Aku langsung nunduk, pura-pura sibuk makan kembali. Ra tidak tahu malu, sudah 1 SMA masih suka merengek bunda-bunda. Apalagi sedang ada orang asing di depannya, tapi sepertinya mereka sudah akrab. Entah apa yang terjadi antara mereka berdua selama aku tidur.

    Dan di sudut mata, aku melihat Edgar tersenyum lagi. Dia memang tampan saat tersenyum.

    **
  • Chapter 3

    Aku, Edgar, dan Ra sampai di mal paling dekat dengan rumah dengan menggunakan mobil Edgar. Mercedes-Benz putih yang semalam menutupi jalanku untuk masuk garasi ternyata mobilnya dan biasa dia pakai ke kampus.

    Aku sempat panik karena tidak melihat mobilku di garasi. Garasi rumahku model terbuka (hanya berkanopi) dan cukup untuk dua mobil. Satu-satunya mobil yang parkir adalah merci itu, di tempat biasa aku parkir mobil. Ternyata semalam papa memindahkan mobilku ke lapangan yang cukup jauh dari rumah. Jadilah kami memilih solusi terpraktis yaitu menggunakan mobil Edgar. Ra tidak berhenti norak saat di dalam mobil.

    Langkahku terhenti saat aku melihat toko eskrim. Toko dimana harusnya semalam aku bertemu dengan Aini. Aku terpikir lagi padanya tapi dari semalam dia tidak membalas whatsappku. Sepertinya dia benar-benar kecewa karena aku gagal menemuinya.

    “Kak, kenapa berhenti? Departemen store-nya masih diujung tuh,” Ra menunjuk-nunjuk arah tujuan utama kami datang kesini.

    “Eh iya.”

    Kami bertiga terus bejalan sampai ke ujung mal dimana departemen store berada. Kurasa Edgar bisa mendapatkan semua pakaian baru dari celana dalam sampai jaket disana.

    “Nah sampe. Karena Ra janji sama bunda cuma nganter sampai tokonya, Ra duluan ya,” Ra berbicara dengan entengnya.

    Saat berbalik dan hendak kabur kuraih tangannya.”Heh, mau kemana?”

    “Mau main sama temen-temen Ra,” dia berhasil melepas pegangan tanganku. “Makasih ya kak Edgar tumpangannya.”

    Tidak ada yang bisa kulakukan lagi untuk menahannya. Adikku itu selalu punya cara untuk mendapatkan kemauannya. Aku mendengus kesal. Mau tidak mau aku harus menemani Edgar sepenuhnya. Padahal tadi sempat ada pikiran untuk meninggalkan Edgar dengan Ra berdua, ternyata adik sialan itu malah meninggalkanku duluan.

    Edgar mulai memilih-milih kemeja berbagai model. Setelah ketemu yang cocok, dia meminta nota dan mencari pakaian lainnya. Banyak juga kemeja yang dia beli, rasanya seperti dia punya satu lemari baru dan ingin mengisi semuanya dengan kemeja.

    “Baju-baju lu benaran habis semua?” akhirnya keluar juga pertanyaan yang ingin kuutarakan dari tadi.

    Edgar melirikku sebal, seolah aku mengorek lagi luka lamanya. Salah satu ujung bibirnya tertarik, bukan tersenyum, lebih ke meledek untuk menjawab pertanyaanku. Menyiratkan balasan jutek, “lu pikir?”. Lalu dia kembali memilih-milih celana yang ingin dia beli.

    Menyebalkan!

    Setelah celana, kami berada di bagian kaos-kaos. Entah sudah berapa banyak nota yang dikantonginya. Yang pasti kalau semua nota itu tidak dia tebus, aku yakin sekali dia akan dilarang masuk mal ini selamanya. Haha.

    “Lagi beli dua gratis satu nih, lu mau?” Tanpa ada tanda-tanda, dia tiba-tiba saja menawarkanku baju gratis.

    Ah aku masih sebal padanya. Pada tatapan dan seringaiannya yang menjengkelkan padahal aku bertanya baik-baik. “Gak!” jawabku tegas.

    “Oke.” Singkat, jelas, padat. Tidak ada neko-neko. Entah kenapa malah membuatku semakin sebal.

    Rasanya sudah berjam-jam aku dan Edgar berkeliling, tapi saat kulihat jam ternyata masih jam 11 lewat. Baru satu jam dan nota di tangan Edgar sudah cukup tebal. Kurasa itulah bedanya cewek dan cowok saat berbelanja. Cowok lebih efisien waktu karena sudah tahu apa yang ingin dibeli.

    Setelah membeli pakaian dasar, termasuk celana dalam, Edgar memutuskan untuk membayar. Kami pun mengantri di kassa.

    “Ri.”

    “Hmm.” Aku agak acuh karena sedang membaca chat grup di whatsapp.

    “Kok lu manggil nyokap mama tapi si Ra menggil bunda? Kalian saudara tiri?”

    Pertanyaan itu membuatku mengalihkan perhatian dari chat grup teman-teman SMA-ku.

    “Gak lah. Ra aja yang alay. Lihat temennya ada yang manggil nyokap pake ‘bunda’, dia jadi ikut-ikutan. Nyokap gue mau nolak pun pasti Ra tetep bakal manggil ‘bunda’. Keras kepala kan anaknya.”

    “Untung abangnya penurut.” Komentarnya pelan, tapi masih dapat kudengar jelas.

    “Hah?”

    Edgar tidak menanggapi karena kasir sudah memanggilnya. Bodo amat lah dengan apa yang dikatakannya barusan, mungkin aku salah dengar. Aku kembali fokus pada ponselku. Tiba-tiba ada chat pribadi masuk.

    ‘Lu dimana? Gua di Mal 5 nih.’

    Ditto. Salah satu sahabatku di SMA. Kami masuk universitas dan fakultas yang sama. Hanya saja dia memilih jurusan Informatika. Aku tidak yakin dengan otaknya yang seadanya begitu bisa mengerti tentang komputer.

    ‘Lah sama. Ngapain lu?’ balasku.

    “Lagi liat lu jalan sama cowok,” bisik seseorang dari belakangku.

    “Anjrit!! Sialan lu, Dit!” Bentakku cukup keras. Sepertinya beberapa pengunjung yang sedang mengantri di kassa menoleh karena suaraku barusan.

    Ditto tertawa geli, senang melihat temannya kaget bukan main. Sialan.

    “Siapa itu? Gue kira lu udah insaf.” Ditto selalu senang jika dia punya topik untuk meledekku. Dia terkikik sendiri setelah bertanya. Matanya menatap pada Edgar yang sedang membayar.

    “Bukan urusan lu.”

    “Urusan gue lah. Gue kan sahabat lu yang selalu ada saat lu lurus atau belok. Hahaha!!” Ditto tertawa makin keras, kurasa sudah ada satu halaman penuh ledekan untukku di otaknya.

    Kutoyor kepalanya dari belakang, tapi yang ada dia makin ketawa. Aku kesal, dan dia senang melihatku kesal. Hentikan, Ditto sial!

    “Ayo.” Suara Edgar tiba-tiba terdengar dari sebelah kananku. Ditto langsung berhenti tertawa dan memandangi Edgar dari kepala sampai kaki. Kulihat Edgar bingung melihat Ditto.

    “Hmm. Padahal baru kemarin lu mau jalan sama Aini, tapi hari ini lu malah jalan sama Aa’ ini.”

    Aku bersumpah itu adalah jokes receh paling receh yang pernah diucapkan Ditto. Tapi dia seperti biasa akan tertawa, sebelum itu terjadi, kutepuk bibirnya dengan tanganku.

    “Aw, Ri!” Keluhnya. Tangannya memegang bibir yang menjadi korban tamparanku. Biarin, biar tahu kalau punya mulut kadang harus diayak.

    “Siapa ini?” Tanya Edgar. Nada bicaranya datar, seolah tawa dan tingkah aneh Ditto tidak berefek apapun padanya.

    “Ehm, Ditto ini Edgar, Edgar ini Ditto,” aku memperkenalkan mereka berdua.

    Keduanya bersalaman canggung. Lalu entah kenapa Edgar memandangku dengan tidak suka. Tatapan yang menyiratkan bahwa aku baru saja melakukan kesalahan yang tidak kusadari.

    “Apa?”

    “Gue lebih tua, lu harusnya ga manggil nama gue doang.”

    Ahh, apalagi maunya dia sih? “Lu mau gue panggil pake ‘kak’?”

    Dia mengangguk. “Lagipula gue senior lu di kampus, jadi lu ga boleh panggil gue pake nama doang.”

    Terserah!

    “Lu kuliah di Hulu juga?” Ditto menengahi perdebatan kecil aku dan Edgar.

    “Iya, kenapa?” Edgar menatap Ditto galak.

    “Eh gak. Gak pa-pa.” Ditto kicut.

    Edgar tanpa basa basi menyodorkan beberapa kantong plastik, memintaku untuk membawa tanpa berkata tolong. Benar-benar deh anak ini butuh pelajaran sopan santun. Tapi aku terima saja beberapa kantong itu dan membawakannya.

    “Gue laper.”

    Laper makan woy! Jangan curhat!!! Erangku kesal dalam hati. Entah kenapa tidak bisa kuucapkan langsung padaku. Takut? Mungkin.

    Edgar langsung ngeloyor begitu saja meninggalkan aku dan Ditto. Aku menoleh ke arah Ditto dan mendapatinya menatap Edgar dengan tatapan cengo, seolah tidak percaya apa yang baru saja dilihatnya.

    “Nemu dimana sih lu? Cakep-cakep tapi begitu.”

    “Dia anak bosnya bokap gue. Rumah mereka kebakaran jadi dia numpang tinggal di rumah gue.”

    Kulihat Edgar sudah lumayan jauh, sehingga kuputuskan untuk mulai berjalan mengikutinya. Ditto ikut jalan di sebelahku. Meninggalkan departemen store ini.

    “Numpang kok songong?”

    “Mungkin mentalnya masih belum stabil, dia kan habis kena musibah.” Demi dewa neptunus, aku tidak percaya aku berkata demikian. Tanpa sadar aku membela Edgar di hadapan sahabatku sendiri? Memang alasan itu logis tapi tidak pernah aku memikirkan hal itu. Sejak bertemu dengannya aku selalu menilai sikapnya kurang sopan. Tidak ada pembelaan.

    “Yowes dah. Gue ikut kalian makan yah. Gue juga laper.”

    “Hmm.”

    **
  • Chapter 4

    Ditto tahu aku gay dan Ditto juga tahu kalau aku sedang berusaha untuk berkencan dengan wanita. Dia tahu segalanya tentangku. Ditto satu-satunya orang yang tahu apa yang terjadi dua tahun lalu antara aku dengan dia. Yang membuat tiga menjadi dua. Aku dan Ditto.

    “Gue gak peduli lu suka cewek atau cowok, yang gue peduliin adalah orang yang menganggap lu seperti sampah. Mereka lebih dari sampah!”

    Kata-kata Ditto tersebut masih teringat jelas di ingatanku. Dua tahun lalu setelah kejadian yang seharusnya tidak terjadi di kamarku. Aku memang salah, aku sudah minta maaf. Tapi menurut Ditto tidak seharusnya orang itu tidak sepantasnya membuangku begitu saja. Semua masalah pasti ada jalan keluarnya.

    Aku beruntung punya Ditto sebagai sahabatku di SMA, dan kuharap akan terus berlanjut sampai kuliah karena kami masih di fakultas yang sama.

    “Gue turut berbelasungkawa, Gar. Eh Kak Edgar.” Kata Ditto begitu Edgar duduk di sebelahku setelah mencuci tangannya.

    “Hmm,” gumamnya mengiyakan.

    Kami baru saja selesai makan di salah satu restoran fast-food di mal ini. Masih santai sejenak sambil menghabiskan sisa minuman yang masih ada beberapa tegukan lagi.

    “Sebenernya lu boleh panggil gue Edgar. Agak aneh aja denger lu panggil gue ‘kak’.”

    Aku menoleh pada Edgar. Apa maksudnya?

    “Tapi gue kan seumuran sama Ari.”

    “Maksud gue, aneh aja ngeliat orang dengan muka kayak lu manggil gue ‘kak’. Panggil Edgar aja. Anggep aja pengecualian buat lu.”

    Ditto memandang Edgar bingung. Akhirnya dia merasakan rasanya berbaik hati pada Edgar dan mendapat balasan yang menyebalkan. Air susu dibalas air tuba.

    Ditto memutar wajahnya padaku, salah satu telunjuknya menunjuk ke wajahnya, “Ari, emang muka gue tua ya?”

    Iya sih. Wajah Ditto memang terlihat lebih dewasa, atau kasarnya lebih tua dari Edgar. Apalagi badannya cukup berisi sehingga menampilkan aura cowok berumur 20 tahunan padahal kami berdua masih berumur 18 tahun.

    “Kan, Ari aja gak bisa jawab.”

    “Gimana pun dia, Ditto tetep sahabat gue,” aku menimpali, “kak.” Kutekankan pada kata tersebut, meledeknya.

    “Gak penting.”

    Tanganku mengepal kencang mendengar dia berkata begitu dengan gayanya yang sok. Dia benar-benar harus diberi pelajaran. Tapi apa yang akan kuceritakan pada papa kalau aku tiba-tiba meninjunya, kurasa papa tidak akan menerima alasan apa pun karena Edgar adalah anak bosnya. Aku makin dongkol.

    “Ri, jadi gimana sama Aini?” Ditto tiba-tiba membuka topik lain. Dia melirik Edgar sebentar saat bertanya demikian, entah kenapa.

    “Hmm. Gak tau, dia belum bales whatsapp gue dari tadi pagi.”

    “Gak lu telpon?”

    “Gak ah, pasti bakal direject sama dia.”

    “Coba dulu lah, Ri. Siapa tahu dia pengennya….”

    “Yuk jalan lagi.” Edgar memotong.

    “Sekarang?”

    “Besok.” Dia melakukannya lagi, berbicara dengan gaya sok yang menjengkelkan. Tanpa permisi dia berdiri dan meninggalkan aku dan Ditto begitu saja.

    Aku memandangi dia keluar dari restoran, seperti tadi dia benar-benar meninggalkan aku. Sial, dia sama sekali tidak membawa kantong belanjaannya, semuanya masih menumpuk di kursi sebelah Ditto yang kosong. Saat pandanganku beralih ke Ditto, kulihat dia senyum-senyum sendiri.

    “Kenapa lu?”

    “Sono kejar suami lu!”

    “Heh kalo ngomong!” Kugeplak kepala Ditto dengan santainya. “Lu ikut gak?”

    “Gak, gue ada urusan lain.”

    “Oke.”

    Aku langsung meraih semua kantong belanjaan dan berlari mengejar Edgar. Dengan santainya dia meninggalkan aku dan barang-barangnya. Kalau aku menkonfrontir perlakuannya ini, pasti dia akan membalas bahwa itu keistimewaan dia sebagai tamu. Kadang aku benci saat kata-kataku berbalik menyerangku.

    Kudapati Edgar sedang memilih sepatu di salah satu toko sepatu olahraga. Tidak lama karena sepertinya dia tidak menemukan yang dia suka. Aku memberikan sebagian kantong belanjaan dengan memaksa. Dia tidak berkomentar.

    Satu jam berkeliling keluar masuk toko sepatu dan baju, Edgar hanya membeli satu sepatu kasual dan sebuah jaket coklat suede. Dia memutuskan untuk langsung pulang.

    Edgar langsung memarkir mobilnya di tempat parkirku di rumah. Kulihat papa sudah pulang karena mobilnya sudah parkir juga di sebelah.

    “Ri.”

    “Hmm?”

    “Lu beruntung.”

    Kenapa nih bocah? Tiba-tiba kayak promo gosok tutup ale-ale, bilang anda beruntung.

    “Maksudnya?”

    Edgar langsung keluar dari mobil tanpa memberi jawaban. Isk. Maksudnya apa? Dia memberi penyataan dan langsung kabur dari ucapannya sendiri. Tidak bertanggung jawab!

    Pintu belakang mobil terbuka, Edgar mengambil kantong-kantong belanjaan yang diletakkan di kursi belakang.

    “Maksudnya apa, kak Edgaaar?”

    Dia berhenti sebentar dan menatapku.

    “Saat gue bilang sesuatu, terima aja. Gak perlu nanya alasan. Dasar. Adiknya cerewet abangnya pengen tahu.” Semua kantong belanjaan sudah dipegangnya, setelah berkata demikian dia langsung menutup kembali pintu belakang. Meninggalkanku dengan seribu kebingungan atas sifatnya yang random.

    Kalau orang-orang bilang cewek susah dimengerti, aku berani jamin Edgar seribu kali lebih susah untuk dimengerti. Tapi entah kenapa aku merasa ingin mengerti dia, makanya aku bertanya. Aku ingin mengerti agar bisa menolongnya. Meski aku tidak tahu kenapa aku harus melakukan itu. Aku hanya ingin. Mungkin karena aku mulai peduli padanya.

    **
  • Chapter 5

    “Bunda, kak Ari kan satu kampus sama kak Edgar, boleh ga Ra pake mobilnya kak Ri?”

    Ra seperti biasa menjadi orang yang memecah keheningan yang ada. Saat ini kami berlima sedang sarapan. Ra duduk di sebelah mama dan Edgar duduk di sebelahku. Papa sebagai kepala keluarga duduk di ujung meja. Normal family breakfast.

    “Gak. Mobilnya gue bawa, Ra.” Aku menjawab sebelum mama bersuara.

    “Sebenernya lu bisa bareng gue, Ri. Fakultas hukum sama teknik gedungnya deketan.” Oh Edgar, kamu ga perlu ikut campur ah. Biasanya diam kenapa sekarang malah sok baik.

    “Wah wah, kalian berdua sepertinya sudah akrab,” papa memandangi aku dan Edgar bergantian. “Gak heran sih, Gar. Ari orangnya emang gampang bergaul.”

    Edgar hanya tersenyum menanggapi ucapan papa, lalu kembali makan.

    “Boleh ya, Bundaaa,” rengek Ra mengembalikan bahasan ke topik tentangnya. Dasar pencari perhatian.

    “Ra mau pake ke sekolah?” Tanya bunda lembut.

    Ra mengangguk-angguk manja.

    “Sekolah Ra kan deket, lagipula Ra belum punya SIM.” Haha, mama menolak keinginan Ra. Aku sudah bisa membayangkan muka bete Ra, dia tidak suka ditolak.

    “Ra udah bisa bawa mobil?” Lagi-lagi entah kenapa Edgar terdengar terlalu ikut campur dengan keluargaku.

    “Bisa dong, malah duluan Ra daripada kak Ari yang bisa. Ujian SIM aja ulang-ulang terus sampai duit papa habis.”

    “Heh Ra!” Tegurku padanya. Dia tertawa jahil.

    “Kak Edgar pinjemin mobil kakak aja kalau gitu, kakak nebeng sama Ri.”

    “Hei hei!” Giliran Edgar yang kena teguranku.

    “Kenapa? Lu gak mau pinjemin mobil lu, ya gue pinjemin mobil gue.” Edgar terdengar menantang, ingin beradu argumen denganku.

    “Nyokap gue udah gak ngizinin Ra pakai mobil, jangan sok peduli sama Ra.”

    “Ri.” Tegur papa pelan. Mungkin ucapanku barusan terdengar kurang sopan di telinga papa. Tapi papa belum tahu bagaimana sikap Edgar kepadaku selama ini.

    “Maaf om, Edgar sayang aja mobil Edgar nganggur kalau Edgar bareng Ri.” Papa tersenyum menerima permintaan maaf Edgar.

    “Yaudah gue bareng lu ke kampus, pakai mobil lu.” Aku mengalah.

    “Horee! Jadi Ra boleh pake mobil kak Edgar kan bunda?”

    “Gak!” Papa dan mama menjawab kompak. Ra langsung cemberut.

    Akhirnya acara sarapan pagi ini berlangsung hening karena Ra bete. Lagipula untuk apa dia bawa mobil ke sekolah, baru juga kelas 1 SMA. Aku saja harus bersusah payah agar papa mau membelikan hadiah mobil. Masuk ke jajaran 10 besar di angkatan bukan perkara mudah untukku yang tidak terlalu pintar ini.

    Aku dan Edgar sudah dalam perjalanan ke kampus. Dia mengenakan kemeja dan celana chinno baru yang dibeli kemarin. Mungkin karena baju baru, dia terlihat lebih tampan. Sedangkan aku belum boleh memakai pakaian bebas. Hari ini adalah hari pertama OSPEK, aku diharusnya menggunakan pakaian putih abu-abu SMA.

    Dalam perjalanan tanpa sadar sepertinya aku tertidur. Bangku penumpang di mobil sedan ini rasanya lebih nyaman daripada sofa yang kutiduri semalam. Ya, Edgar hanya membual soal ucapannya kemarin pagi. Semalam aku sudah keduluan dia tidur di kasur sehingga aku kembali tidur di sofa dengan alasan yang sama. Aku tidak tahan melihat wajah damainya saat tidur. Aku tidak mau lepas kendali meskipun saat bangun dia orang yang menyebalkan.

    “Ri.” Sebuah suara lembut terdengar saat aku sedang bermimpi. “Ri.”

    Ah sial Edgar mengganggu tidurku saja. Aku mencoba membuka mata tapi hasrat tetap menutupnya lebih besar.

    “Ri.” Suaranya pelan, tapi terasa hembusan nafas hangat di pipi kananku.

    Aku membuka mata perlahan dan menengok ke arah Edgar.

    “Huaa!!” Aku terkejut melihat betapa dekatnya wajah Edgar denganku. Dia langsung menarik wajahnya lagi dan duduk normal di bangku pengemudi.

    “Ternyata bener kata Ra, lu ga bisa dibangunin pakai teriak-teriak. Cukup dipanggil di deket telinga aja.”

    Aku yang masih shock memandangnya dengan tidak percaya. Hanya beberapa centimeter lagi, bisa-bisa saja bibir kami saling bertemu saat aku menoleh. Dia terlalu dekat!

    “Please jangan lakuin itu lagi.” Pintaku.

    Edgar hanya mendelik sebentar lalu keluar dari mobil. Aku meraih tasku dan ikut turun.

    “Gedung fakultas teknik ada disana,” Edgar menunjuk salah satu tempat. “Cuma kayaknya anak-anak baru pada dikumpulin di pendopo.”

    Aku melihat sekeliling dan mendapati tulisan Fakultas Hukum yang besar di depan salah satu gedung terdekat. Ternyata ini parkiran anak-anak hukum.

    “Pendopo dimana?”

    “Ujung sana, ikutin aja orang-orang yang pake baju kayak lu.” Edgar menunjuk arah yang berlawanan, tapi kulihat ke arah itu tidak nampak gedung atau bangunan seperti pendopo.

    “Jauh?”

    “Gak usah manja.”

    Dan seperti biasa Edgar langsung meninggalkanku begitu saja. Menyebalkan. Aku pun berjalan ke arah yang ditunjuk Edgar. Kulihat ada satu dua anak lain yang mengenakan putih abu-abu juga. Jadi kuikuti saja mereka. Berharap mereka bukan anak SMA yang sedang survei kampus, tapi sama-sama mahasiswa baru sepertiku.

    Kupikir lima menit sudah aku berjalan tapi belum sampai juga. Karena semakin banyak yang berpakaian putih abu-abu menuju arah yang sama, aku yakin ini arah yang benar menuju pendopo. Hingga sampailah aku di bangunan besar beratapkan limas segi empat. Di depan bangunan ada lapangan besar yang sudah diisi puluhan barisan mahasiswa baru berpakaian putih abu-abu.

    Si Edgar sialan! Pendoponya jauh banget!

    **
  • 5 chapter dulu yah. Tinggalkan jejak dan tulis nama kalian kalau mau dimention untuk next chapternya. :D
  • Ceritanya bagus. Baru lima chapter, tapi sudah bikin penasaran. Ntar kalo udah ada lanjutannya saya di-mention. Thank you.

  • Ceritanya model 'benci jadi cinta'
  • Chapter 6

    “Lu kenapa sih? Dari tadi gelisah banget.”

    Aku memandang Ditto seperti meminta belas kasihan. Saat ini aku dan Ditto duduk sebelahan di halaman depan pendopo kampus. Ya, dijemur oleh senior-senior.

    “Dua malem gue tidur di sofa, punggung gue jadi sakit begini,” keluhku.

    “Lah? Kasur lu kemana?”

    “Dibajak Edgar.”

    Ditto manggut-manggut paham. Kemudian nyengir kuda, hendak meledekku lagi. “Kenapa gak tidur seranjang aja?”

    Tanganku sudah siap untuk menempeleng kepalanya. Sudah berkali-kali aku bilang padanya bahwa aku ingin kembali normal, pacaran sama cewek. Mungkin Edgar adalah batu penghalang atau ujian dari Tuhan, apakah aku benar-benar ingin normal lagi. Tapi si Ditto sialan ini malah terus-terusan meledek yang membuatku ingin tetap gay.

    “Satu hari aja Ri lu gak jitak gue bisa gak sih?” Ditto menggosok-gosok kepalanya.

    “Kalian berdua!” Tegur sebuah suara dari belakang kami.

    Aku dan Ditto kompak menoleh ke belakang. Kulihat seorang senior cowok dengan kemeja PDL Fakultas Teknik berdiri tegak di belakang kami. Tangannya bertolak pinggang dan tatapan wajahnya galak.

    “I.. iya kak?” Aku bersuara. Melihat tatapan galaknya, aku jadi sadar bahwa Edgar saat jutek tidak seburuk itu. Dia tetap tampan. Ah sial, kenapa aku terpikir si brengsek itu di saat seperti ini.

    Senior itu tidak bersuara tapi menunjuk ke arah depan. Aku dan Ditto kembali menghadap depan. Ada sebuah panggung kecil di depan barisan, dan kurasa bapak yang sedang berbicara disana adalah Rektor universitas. Entahlah, aku tidak terlalu memperhatikan.

    “Sekali lagi kalian berdua ribut sendiri, kalian akan berhadapan ama gue.” Senior itu menunduk dan membisikkan kalimat itu di dekat kuping ku dan Ditto. Aku menelan ludah mendengar ancaman itu. Gara-gara Ditto nih.

    Usai upacara pembukaan OSPEK di halaman pendopo, semua mahasiswa baru pergi ke fakultas masing-masing untuk mendapat sambutan-sambutan lainnya. Ah membosankan rasanya mendengarkan banyak basa-basi dari pejabat-pejabat kampus. Isinya sama saja.

    Saat melewati sebuah kantin di sebelah gedung fakultas hukum, aku melihat Edgar sedang duduk seorang diri. Dia sedang menyantap makan siangnya. Kulirik jamku, tidak terasa ternyata upacara pembukaan tadi berlangsung sampai jam makan siang. Perutku pun sontak terasa lapar.

    Beberapa detik aku memandanginya sambil berjalan menuju fakultas teknik. Saat dia mengangkat kepalanya, aku langsung membuang muka. Aku tidak mau dipergoki sedang memperhatikannya. Hal itu pasti akan jadi alasan lain baginya untuk memarahiku.

    Karena barisan mahasiswa baru menuju fakultas teknik dibuat per jurusan, aku tidak bisa jalan di dekat Ditto. Ada untungnya sih, kalau dia mendapati aku sedang memperhatikan Edgar disana, pasti ledekannya akan keluar lagi. Sepertinya ledekannya itu seperti ungkapan bahwa aku pasti gagal dalam usaha untuk kembali normal, straight.

    “Anak mana?” Tanya seseorang tiba-tiba. Ternyata mahasiswa baru yang berjalan di sebelahku.

    “Komplek Darmamas.”

    “SMA lu maksudnya.”

    “Oh oh, sorry. SMA TKN.”

    “Ooh. Gue Tian,” tangannya langsung menyodor untuk bersalaman.

    “Ari.” Kami bersalaman. “Lu anak mana?”

    “Gue dari daerah, lu ga bakal tahu SMA gue.”

    “Lu juga ga tahu SMA gue dong?”

    “Hehe, kagak.” Jiahh.

    Tian nyengir kuda sambil menggaruk-garuk kepalanya, malu. Dari pakaian yang dipakainya, sepertinya dia bukan anak SMA negeri. Dia mengenakan celana kotak-kotak merah maroon, bukan celana abu-abu biasa seperti yang kupakai. Alisnya yang tebal membuatku cepat membedakannya dari mahasiswa yang lain.

    Tian jadi orang pertama yang kukenal di kampus ini selain teman SMA ku. Terlebih dari itu, Tian sementara jadi satu-satunya orang yang kukenal satu jurusan denganku.

    Ternyata di gedung fakultas teknik, sambutan yang diberikan tidak terlalu panjang. Mungkin karena sudah saatnya makan siang, jadi setelah sambutan super singkat para mahasiswa baru dipersilakan untuk cari makan siang sendiri. Entah kenapa aku terpikir untuk pergi ke kantin fakultas hukum.

    “Cari siapa?” Tanya Tian, dari tadi dia terus berada disisiku. Mungkin dia juga belum kenal siapa-siapa.

    “Temen gue.”

    Saat aku menemukan Ditto, aku langsung bergegas menghampirinya. Dia sedang tertawa-tawa dengan beberapa mahasiswa lain yang tidak kukenal. Mungkin teman satu jurusannya. Aku terus memperhatikan Ditto sampai tidak terlalu peduli dengan kerumuman mahasiswa-mahasiswa lain yang kulewati.

    Bukk.

    Aku merasakan ada sesuatu yang panas dan lengket di dadaku. Aku menabrak seseorang yang sedang membawa kotak makanan. Kulihat baju putihku sudah menguning terkena gulai yang ada di kotak makanan orang itu. Saat aku menengadah untuk melihat siapa orangnya, aku langsung kicut. Itu senior yang tadi.

    “Buka baju lu!” Katanya dengan nada galak seperti tadi.

    What?? Buka baju? Di kerumunan orang sebanyak ini.

    “Kenapa? Malu? Di teknik banyakan cowok, ga ada bakal ada yang nafsu.” Tukasnya.

    Kurasa banyak orang di kerumunan ini memperhatikan, tentu aku jadi peduli kalau harus buka baju di sini. Di tengah-tengah lantai dasar gedung fakultas teknik yang ramai. Di hari pertama aku jadi mahasiswa! Pasti aku akan langsung mendapat julukan yang aneh-aneh nanti.

    Senior itu memberikan kotak makanannya pada Tian yang berdiri di sebelahku. Tanpa permisi dia membuka kancing kedua kemeja SMA-ku. Aku kaget bukan main dan langsung menepuk tangannya.

    “Saya bisa sendiri, kak!”

    Dia menarik tangannya. Dengan berat hati aku membuka kemejaku yang sudah kuning dari dada sampai bagian perut. Banyak orang memperhatikan, termasuk Ditto di ujung sana. Tapi pandangannya tidak seperti orang lain yang tertawa geli, lebih seperti tatapan khawatir.

    Akhirnya lepas sudah kemejaku. Aku bertelanjang dada dengan bawahan celana abu-abu SMA. Orang-orang masih memperhatikan. Hei, ayolah. Bukankah kalian harus makan. Waktu istirahat tidak lama! Rasanya ingin kuteriakkan kalimat-kalimat itu, kalau saja tidak ada senior ini di hadapanku.

    “Ikut gue!” Katanya sambil berbalik pergi.

    “Saya gimana kak?” Tian bersuara.

    “Buang kotak itu.” Jawabnya tanpa menoleh.

    Berat hati aku berjalan mengikutinya, aku tidak tahu mau dibawa kemana. Aku berjalan menunduk supaya tidak melihat ekspresi orang lain padaku. Ah hari pertamaku sebagai mahasiswa tidak seindah yang kubayangkan. Semua bermula karena Edgar, ya karena dia. Dialah yang harus disalahkan atas kesialan beruntun yang menimpaku.

    Senior ini membawaku keluar dari gedung fakultas teknik. Bagus, mahasiswa fakultas lain jadi bisa melihatku. Anak baru yang bertelanjang dada di hari pertama OSPEK. Aku percaya ada julukan lebih buruk yang sudah terpikir di benak mereka.

    Ada bangunan dua tingkat tepat di sebelah gedung fakultas teknik, Sekretariat Fakultas Teknik. Ada beberapa pintu di lantai bawah dan atas yang memiliki warna-warna berbeda. Di kiri kanan bangunan ada tangga untuk menuju lantai atas.

    Senior ini memasuki pintu berwarna merah. Aku berhenti di depan pintu dan memperhatikan apa yang sedang dilakukannya. Mencoba menebak apa yang akan terjadi padaku disini. Dia sedang mencari-cari sesuatu di dalam sebuah tas.

    Tak lama dia berjalan ke arahku dengan sebuah kemeja hitam. Ada tulisan Teknik Sipil di atas kantong sebelah kiri. Dia menyerahkan kemeja itu padaku.

    “Di sebelah tangga ada ada kamar mandi. Disitu lebih sepi daripada toilet fakultas. Bersihin badan lu dan pakai PDL ini.” Perintahnya dengan tegas dan jelas. Aku mengangguk dan pergi dari pintu merah itu.

    Sesampainya di toilet, kuambil tisu untuk mengelap tubuhku yang jadi berminyak karena kuah gulai. Sial, dilap pakai tisu saja tidak cukup. Aroma gulainya masih tercium, tapi tidak ada yang bisa kulakukan. Aku tidak bawa parfum atau semacamnya. Pasrah deh.

    Kukenakan kemeja PDL yang diberikan senior tadi. Biarpun gaya bicaranya galak, kurasa dia cukup baik. Kupikir aku akan habis dimarahi olehnya di tengah-tengah kerumunan orang tadi. Ternyata dia malah memberikan kemeja PDL-nya untukku. Kupandangi diriku di cermin dengan kemeja PDL hitam ini. Ada nama terbordir di atas saku sebelah kanan. Gilang. Jadi itu namanya.

    Aku segera kembali ke tempat tadi. Dia sudah menungguku disana, di depan ruangan tadi ada bangku taman seadanya, dia duduk disana dan melihat aku tiba.

    “Duduk sini,” katanya. Dia bergeser sedikit untuk memberiku ruang duduk.

    Aku menurut.

    “Ini,” dia memberikan kotak manakan seperti yang dibawahnya tadi. “Makan itu, kalau lu ke kantin pasti ga bakal keburu. Soalnya bentar lagi kumpul,”

    Aku menerimanya dengan hormat. Tidak ada waktu untuk basa-basi menolak, aku sudah lapar dan ada senior baik yang memberiku makanan. Orang bodoh yang pura-pura malu dan menolaknya. Ternyata dia menungguku sambil makan kotak makanannya yang baru.

    “Terima kasih, kak.” Kataku begitu aku menghabiskan makananku.

    “Ya, no problem. Lagipula tadi itu salah gue karena jalan sambil lihat HP. Cuma karena wibawa gue sebagai senior harus dijaga, hanya itu yang kepikiran sama gue buat lu lakuin di depan orang-orang.”

    Aku manggut-manggut paham. “Terima kasih buat makanannya juga, saya jadi ga perlu beli hehe.”

    “Itu jatah kotak panitia kok, gue gak beli. Haha.”

    Aku hanya tersenyum untuk menanggapinya yang tertawa sendiri.

    “Tetep aja, makasih kak Gilang.”

    “Gilang?” Dia berpikir sebentar, aku malah jadi bingung. Itu namanya kan? “Oh iya. Yang lu pake bajunya Gilang. Dia anggota BEM Kampus jadi PDL jurusannya gak dipake. Ini nama gue.” Dia menampilkan tulisan di dada kanan kemeja PDL yang dipakainya.

    Taufan.

    “Saya Ari kak, jurusan sipil.”

    “Wah berarti lu junior gue,” katanya sambil tiba-tiba salah satu tangannya menepuk-nepuk pelan bagian atas kepalaku.

    Tunggu. Normalkan ini? Atau ini cara lain dunia untuk menguji keseriusanku untuk kembali normal? Pikiranku menjalar kesana kemari. Ah mungkin memang kebiasaan dia seperti itu. Kuanggap saja hal itu normal.

    Tapi masa iya?

    **
  • Chapter 7

    Ternyata mengenakan kemeja PDL ini lebih menarik perhatian orang-orang dibanding aku bertelanjang dada. Karena aku berpakaian beda dari yang lain, aku jadi sasaran empuk para senior ketika ada yang disuruh maju ke depan. Baik untuk games atau sekedar ditanya-tanya. Tidak hanya di fakultas tapi sampai acara jurusan juga. Aku berharap hari ini bisa segera berakhir dan kembali menggunakan baju putih SMA besok.

    Setelah semua rangkaian acara selesai, Ra menelponku.

    “Kak Ri dimana?”

    “Di kampus lah.”

    “Iya lagi dimananya?”

    “Masih di gedung fakultas, baru kelar ini. Kenapa sih?”

    “Kak Edgar udah nungguin di kantin fakultas hukum katanya, mau pulang.”

    Oh iya, aku dan Edgar belum janjian pulang jam berapa. Dan bodohnya lagi, aku belum punya nomor ponselnya dan aku belum memberikan nomorku padanya.

    “Yaudah ini langsung kesana. Kirimin nomornya Edgar, Ra.”

    “Tanya aja sendiri, kan mau ketemu. Dah ya, bye.” Et dah apa susahnya tinggal kirimin nomor doang. Kalau nanti aku ga ketemu Edgarnya gimana? Punya adik satu resek banget.

    Baiklah kalau begitu aku langsung menuju kantin tadi, dimana aku melihat Edgar makan seorang diri. Kulihat jam sudah pukul 5 sore.

    Aku berjalan keluar gedung fakultas teknik sendirian. Entah dimana Ditto dan Tian berada. Mungkin Ditto masih belum kelar dengan jurusannya, atau jangan-jangan sudah pulang duluan. Sementara Tian, terakhir kulihat dia izin ke toilet.

    Dari kejauhan kulihat Edgar sedang duduk di kantin sendirian lagi. Tapi kali ini dengan beberapa buku di hadapannya dan dia sibuk mencatat. Dia menyadari kedatanganku dan sudah menutup semua buku catatannya saat aku duduk di hadapannya.

    “Hari pertama langsung dapet PDL jurusan? Keren juga teknik.” Komentarnya dengan nada sarkas.

    Aku benar-benar tidak ingin membahas ini. Edgar jadi orang ke ratusan yang berkomentar tentang pakaianku. Dari sesama mahasiswa baru sampai dosen sudah menanyaiku semua.

    “Udah yuk langsung balik.” Biar aku bisa langsung melepas kemeja PDL ini.

    “Lu lama, gue udah mesen makanan.”

    “Yaudah, gue juga makan dulu. Apaan yang enak disini?” Aku memandangi dari jauh deretan kios makanan yang ada. Sepertinya lengkap, dari kios yang menjual mi instan sampai ada tongseng kambing. Nah, jadi pengen tongseng.

    Saat aku hendak bangkit, ada seorang ibu mengantarkan soto betawi ke meja kami. Sepertinya ini pesanan Edgar.

    “Bu, satu lagi ya,” kata Edgar sopan.

    “Buat siapa?”

    “Lu lah.”

    “Gue mau beli tongseng.”

    “Gimana sih? Tadi lu nanya yang enak apa, ya ini yang enak. Gue pesenin,” dia mengomel lagi.

    “Ja.. jadi gak mas?” tanya ibu itu, tentu dia bingung.

    “Jadi, bu,” tukas Edgar lalu ibu itu langsung meninggalkan kami.

    “Resek lu.” Aku menggerutu kesal.

    Edgar tidak menanggapi, dia mulai sibuk dengan makanan di hadapannya. Aku sadar belum ada minuman, aku langsung bangkit sebelum Edgar memutuskan minuman yang harus kupilih.

    “Kemana?”

    “Beli minum,” jawabku dan langsung ngeloyor pergi.

    Aku memesan jus melon di kios ujung. Kios yang khusus menjual minuman. Aku sedang memilih minuman untuk Edgar. Dia boleh memilihkan makanan untukku, tapi kini saatnya aku memilih minuman untuknya.

    “Satu lagi apa mas?” tanya penjual saat selesai membuat jus melonku.

    Aku masih bingung. Es teh manis terlalu biasa. Jus lainnya aku tidak terlalu suka. Baiklah, sama saja kalau begitu. Minuman favoritku, “jus melon juga deh.”

    “Yah si mas, dari awal dong bilang jus melon dua. Jadi saya ngeblendernya sekali doang,” keluhnya.

    Aku hanya cengengesan karena merasa bersalah. Tidak makan waktu lama jus melon kedua sudah siap. Aku membawa keduanya di masing-masing tanganku. Kulihat ibu soto tadi juga sedang meletakkan makananku di meja.

    “Ri!”

    Langkahku langsung berhenti. Hampir saja aku menabrak orang di depanku. Mungkin satu langkah lagi, akan tumpah semua jus melon di kedua tanganku.

    “Kak Taufan?”

    “Lu jalan meleng mulu. Jadi nyesel gue merasa bersalah tadi siang,” sindirnya.

    Aku nyengir kuda menanggapinya. Ya memang tabrakan tadi siang salahku juga. Aku terlalu fokus pada Ditto sehingga tidak memperhatikan jalan.

    “Oh ini bocahnya, Fan?” kata suara yang muncul dari belakang kak Taufan.

    “Iya.”

    “Baju gue cuci dulu baru lu balikin ya.”

    Aku memandang kak Taufan sambil menunjuk orang itu. Dia mengerti maksud tatapanku dan menjawab, “iya, ini Gilang.”

    “Saya Ari, kak,” kataku pada kak Gilang.

    “Lu ngapain makan disini, Ri? Kantin teknik lebih banyak pilihan.”

    “Oh itu. Saya pulang bareng senior dari FH, kak,” aku menunjuk Edgar yang masih menyantap makanannya. Kak Taufan dan kak Gilang kompak menengok ke arah yang kutunjuk.

    “Edgar,” suara kak Taufan setengah berbisik tapi aku masih dapat mendengarnya dengan jelas.

    “Kenal, kak?”

    “Satu kampus juga kenal ama dia, si es doger. Jadi salah banget kalau lu beli jus melon buat dia,” kak Gilang menyahut sambil tertawa sendiri.

    Si Es doger? Satu kampus kenal sama Edgar? Apa maksudnya. Masa iya Edgar yang jutek begitu bisa populer. Aku tidak percaya.

    “Es doger kesukaan dia?” tanyaku bingung.

    “Bukan,” jawab kak Taufan. “Lu tau es kan? Sifatnya gimana?”

    “Dingin?”

    “Nah itu sifatnya dia juga, terus nama dia dianagramin ama anak-anak dari Edgar jadi dager, diplesetin jadi doger. Jadi deh es doger,” sambung kak Gilang lalu dia tertawa lagi.

    “Udah, Lang. Seneng banget sih lu. Orangnya aja gak kenal sama lu,” tegur kak Taufan.

    “Gayanya sengak sih, Fan. Haha.”

    Kak Taufan membiarkan temannya tertawa sendiri lalu menatapku, “Kita duluan ya, Ri. Mau ambil pesenan makanan buat panitia.”

    “Iya kak.”

    Aku berpisah dengan mereka. Masih terpikirkan julukan Edgar yang jutek dan terlihat sempurna itu adalah es doger. Lucu sih, tapi ada benarnya juga. Edgar memang dingin, jutek, dan sejenisnya.

    Kutaruh jus melon untuk Edgar di hadapannya dan duduk. Makananku pun sudah siap untuk disantap.

    “Lama banget lu beli minum doang. Buru makannya, keburu malem nanti macet.”

    Aku melirik jahil padanya, bukan kesal seperti biasanya saat dia mengomel. “Iya es doger.”

    Itu wajah paling lucu Edgar yang pernah kulihat. Ekspresinya saat mendengar aku memanggilnya begitu jauh dari Edgar yang selama ini aku lihat. Dia tampak kesal sekaligus malu. Pipinya terlihat memerah dan matanya melotot kesal padaku. Dia ingin mengatakan sesuatu tapi sepertinya tertahan.

    Aku langsung makan dengan santai. Akhirnya aku punya amunisi untuk meledeknya. Dan itu amunisi yang ampuh. Es doger. Haha.

    **
  • Chapter 8

    Hari kedua OSPEK rasanya memiliki jadwal yang lebih padat dari hari kemarin. Aku dan teman-teman satu jurusan masuk beberapa kelas dengan pemateri dari kakak-kakak senior. Mereka memberikan pengenalan kampus dan jurusan, serta sejarah dan filosofi bangunan kampus dan sekitarnya.

    Materi yang membosankan karena aku bisa membaca semuanya di Google. Aku berusaha keras menahan kantuk. Aku benar-benar kurang tidur. Aku tidur larut karena harus membuat name tag dari kardus yang baru disuruh kemarin. Bentuk dan warnanya sudah ditentukan sesuai dengan jurusan. Punyaku berbentuk rumah berwarna merah. Aku jadi paham apa maksud warna pada pintu-pintu di bangunan sekretariat kemarin. Itu melambangkan jurusan yang menempatinya.

    “Gue mau kalian tulis selengkap-lengkapnya, gak ngasal, di kertas yang dibagiin sama kakak-kakak. Kita bakal tahu kalau ada yang isi ngasal, dan siap-siap aja terima hukuman,” kata kak Gilang di depan barisan maba fakultas teknik. Kami duduk di lantai dasar gedung fakultas. Jadi tidak terpapar matahari langsung.

    Beberapa senior lain sibuk membagikan kertas yang dimaksud kak Gilang. Seorang senior cewek memberikan padaku. Isinya semacam form biodata, berisi nama, tempat tanggal lahir, dan lain-lain. Tidak ada yang aneh. Ada juga kolom hobi dan eksrakurikuler yang pernah diikuti di SMA. Aku? Bola voli, meski tidak pernah masuk tim inti.

    “Yang selesai, bisa langsung ke depan dan istirahat makan siang,” tambah Gilang. Ucapannya itu jadi pelecut semangat anak-anak lain untuk segera menyelesaikan mengisi biodata. Aku juga. Aku sudah lapar, dan ngantuk. Paket lengkap.

    “Ri, tidur termasuk hobi?” Tanya Tian yang duduk di sebelahku. Kurasa dia selalu di sebelahku dari pagi tadi, hanya kadang saja aku tidak menyadari keberadaannya.

    “Mungkin.” Aku berusaha fokus mengisi formulirku.

    “Kalau bersih-bersih kamar mandi?”

    “Hobi itu ya apapun yang lu senang melakukannya, Tian,” jawabku gemas. Mengganggu saja.

    “Kalau sayang sama orang yang gak sayang sama kita?”

    Wah benar-benar nih anak. Jelmaan Ditto dari desa. Aku langsung melotot padanya, tapi dia tidak bergeming. Eh, masa sih dia serius nanya begitu?

    “Itu hobi lu?”

    “Hehe enggak, Ri. Hobi gue disayang tapi gak bisa sayang balik ke orang itu.” Tian terkekeh.

    “Ha!” Aku pura-pura tertawa dan kembali fokus pada formulirku.

    Sekitar lima menit kuhabiskan untuk mengisi semuanya. Aku tidak bisa menulis cepat dengan tangan. Kalau aku melakukannya yang ada tulisanku tidak akan terbaca dan disuruh mengulang oleh senior.

    “Lu udah, Tian?”

    Hilang. Tian sudah tidak duduk di sebelahku, entah kemana. Apa dia sudah selesai? Tapi aku tidak melihat dia beranjak dan maju ke depan untuk mengumpulkan formulirnya. Lagipula, kenapa dia tidak bilang-bilang kalau sudah sih?

    Saat aku akan berdiri, ada pesan whatsapp masuk dari Edgar. Semalam kami sudah saling tukar nomor ponsel untuk memudahkan kami janjian pulang.

    ‘Ri.’

    Dengan cepat kubalas, ‘ya?’

    ‘Gue tunggu di kantin FH, tempat kemarin.’

    Mau apa nih anak tiba-tiba. Apa dia mau ngajak makan siang bareng. Aku teringat dia kemarin siang duduk sendiri disana. Jiwa baikku berkata aku turuti saja kemauannya. Setelah mengumpulkan kertasku pada kak Taufan, aku langsung berjalan menuju pintu keluar gedung fakultas teknik hingga Ditto muncul entah darimana.

    “Mau kemana, Ri?”

    “Makan.”

    “Kantin kan disana,” Ditto menunjuk arah belakang gedung, dimana ada pintu tembusan menuju kantin fakultas teknik.

    Dalam sekejap matanya menyipit, tatapan menyelidik. Ngapain sih, Dit?

    “Lu tidur dimana semalem?” Tanyanya cepat.

    “Kamar lah.”

    “Sofa atau kasur?”

    Ah aku tahu kemana arah pembicaraan Ditto. Dia ingin mengecek lagi apakah sahabatnya masih teguh pada pendiriannya untuk menjadi normal.

    “Sofa,” jawabku cepat. Sedetik kemudian aku ragu. Aku ingat betul tadi pagi bangun di kasur. Punggungku tidak sakit seperti kemarin karena bangun di kasur. Tapi aku juga ingat setelah mengerjakan name-tag, aku rebahan di sofa dan tertidur. Masa iya aku tidur sambil jalan.

    Mata Ditto masih memicing padaku, seolah tidak percaya pada jawabanku.

    “Lu pasti mau ketemu suami lu ya?”

    Tanganku dengan santai menepuk keningnya. Jalan pikirannya memang sudah kuduga, tapi pertanyaan itu rasanya tidak pantas. Suami? Edgar? Tunggu laut jawa kering baru hal itu terjadi. Meski tebakannya benar.

    “Iya. Tapi dia bukan suami gue. Gue normal.”

    “Berusaha normal. Inget, yang menilai kelurusan lu itu gue. Jadi gue yang menentukan apakah lu straight atau gay.”

    “Dih siapa elo?”

    “Mau gue teriakin nih?”

    Tanganku langsung membekap mulut Ditto. “Jangan macem-macem, Dit!”

    “Kalau mau gue gak macem-macem, ayo makan di kantin teknik aja,” Ditto seperti sedang memerasku.

    Aku memikirkannya sejenak. Makan dengan orang menyebalkan yang baru kukenal kemarin lusa, atau makan dengan sahabatku sejak SMA yang tidak pernah bosan berada di sampingku. Perbandingan yang tidak imbang. Kuputuskan untuk makan dengan Ditto. Lagipula aku tidak ada kewajiban moral untuk makan siang dengan Edgar. Dia pasti punya teman bukan?

    Kantin Fakultas Teknik sangat ramai. Bukan hanya dari banyak orangnya, tapi juga suara orang-orang yang mengobrol. Terdengar begitu hidup. Aku dan Ditto mengambil makanan di kios yang menghidangkan secara prasmanan. Setelah itu mencari tempat duduk.

    “Temen lu bukan itu?” Tanya Ditto menunjuk seorang cowok beralis tebal yang duduk sendirian.

    “Ah iya, Tian. Yuk duduk disana, sebelahnya kosong tuh.”

    Akhirnya aku dan Ditto duduk di depan Tian. Dia sedikit terkejut melihat kehadiran kami lalu dengan santai melanjutkan makan. Sebelum aku makan, aku memperkenalkan Tian dan Ditto satu sama lain.

    “Boleh gabung?”

    Aku menoleh ke arah suara, kak Taufan dan kak Gilang. Sepertinya dari pagi tadi aku lihat mereka selalu berdua kemana pun. Mungkin mereka berdua seperti aku dan Ditto. Sahabat dekat.

    “Boleh, kak.” Aku bergeser sedikit memberi ruang untuk kak Taufan di bangku panjang kantin, aku jadi di tengah-tengah antara Ditto dan kak Taufan. Sedangkan kak Gilang duduk di sebelah Tian, di sisi meja lainnya.

    Lalu semuanya mulai sibuk dengan makanan masing-masing.

    “Hari ini gak dapet makanan panitia kak?” Aku menatap dua seniorku itu bergantian.

    “Dapet, tapi si br… aw!” kak Gilang melenguh kesakitan tiba-tiba. “Kaki gue digigit semut kayaknya.” Kulihat tangan kirinya bergerak-gerak, entah apa yang dilakukannya di bawah meja.

    “Gue gak suka menu hari ini. Kangen makanan ibu kantin juga, kan liburan lumayan lama kemarin,” jawab kak Taufan. Aku hanya ber-Oo menanggapinya lalu kembali makan.

    “Lu kok beda kak, waktu pertama ngeliat lu kayak galak gitu, sekarang gak.” Ditto bertanya pada kak Taufan. Ya, itu yang ingin kutanyakan juga. Aku masih ingat betul bagaimana kak Taufan berdiri tegak sambil berkacak pinggang di halaman pendopo kemarin.

    “Heh, lu ngomong ama senior yang sopan. Lu masih pake putih abu-abu seminggu ini,” kak Gilang menegur Ditto tapi sepertinya dia tidak peduli.

    “Nah galak kayak gitu.” Ditto menunjuk kak Gilang.

    “Kapan lu pertama ngeliat gue?” Tanya kak Taufan.

    “Waktu pembukaan, di halaman pendopo.”

    “Itu kalian berdua?”

    Aku dan Ditto kompak mengangguk. Aku melihat kak Gilang seperti melirik jahil pada temannya.

    “Itu karena dia udah.. aw Fan!!”

    Aku dan Ditto memandang kak Gilang bingung. “Sial banyak banget semut disini,” keluhnya.

    “Well, kayaknya gue emang ga bisa jadi senior galak. Hehe.”

    “Iya kak, lu mah terlalu baik orangnya,” aku menimpali. Kak Taufan tersenyum dan memalingkan pandangan dariku.

    “Eh iya Ri, baju gue mana?” Tanya kak Gilang, berganti topik jauh sekali.

    “Belum dicuci, kak.”

    “Jangan dicuci, gue gak suka kalau aroma sabunnya nanti beda. Lu bawa besok ya.”

    “Saya lihat dulu deh kak, semoga belum dicuci sama nyokap.”

    “Sip. Soalnya kayaknya ada orang yang pengen cium baj.. aw!!”

    “Semut lagi?” Tanyaku bingung. Kak Gilang mengangguk-angguk sambil menahan sakit.

    Ditto penasaran dan langsung mengintip ke kolong meja untuk melihat apa yang terjadi. Dia duduk normal lagi sambil tersenyum yang tidak kumengerti maksudnya. Ah sepertinya aku dikelilingi orang-orang yang bersikap aneh hari ini. Hanya Tian saja yang dari tadi diam… Sebentar! Pantas saja tidak terdengar suaranya, dia sudah hilang lagi!

    Sebelum aku sempat bertanya pada Ditto kenapa dia tersenyum aneh begitu, terdengar keributan di pintu masuk kantin fakultas teknik. Teriakan cewek-cewek histeris seperti melihat kecoak. Aku menoleh ke belakang untuk melihat apa yang terjadi.

    Edgar, dengan gagahnya dia berdiri di pintu masuk sambil clingak-clinguk mencari sesuatu. Saat matanya bertemu dengan mataku, dia berjalan menghampiriku.

    “Isk cewek-cewek maba itu belum tahu aja gimana kelakuan si es doger. Dasar mental SMA, lihat cowok kece dikit langsung histeris,” sindir kak Gilang pelan.

    Edgar berdiri di ujung meja panjang tempat aku dan yang lain makan. Di tangannya ada sebuah kantong plastik, disodorkannya kantong itu ke arahku. Kantong itu berada tepat di depan muka kak Taufan yang memang duduk dekat ujung meja.

    “Hei, Ger,” sapa Gilang sok asik memanggil Edgar dengan julukannya.

    Edgar hanya melirik tidak peduli pada kak Gilang. “Nih, ambil.”

    “Apaan itu?”

    “Makan siang lu.”

    Aku mendelik pada makananku di piring yang belum habis. “Ini makan siang gue.”

    “Katanya lu mau tongseng, ini gue beliin tongseng.” Edgar memajukan badannya sedikit dan meletakkan kantong itu tepat di sebelah piring makan siangku. “Kalau gak lu makan, buang aja. Lain kali kalo gak bisa, bilang. Jangan diem aja.”

    Tanpa menunggu responku, Edgar langsung meninggalkan aku dan yang lainnya begitu saja. Semuanya menatapku dengan tatapan ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Hei, aku pun tidak tahu apa yang terjadi. Edgar dingin dengan segala hal random yang dilakukannya.

    “Lu siapa dia, Ri?” Tanya kak Gilang, pertanyaan yang sudah kuduga akan keluar.

    “Dia tinggal di rumah saya, kak.”

    “Jangan bilang dia kakak lu. Beda banget soalnya sifatnya,” komentar kak Taufan.

    “Bukan. Dia anaknya bos bokap. Emang pada gak tau kalau rumahnya kebakaran? Nah sementara dia tinggal di rumah saya.”

    “Ohh anak FH yang rumahnya kebakaran itu si Edgar.”

    “Percuma ya dia dingin tapi ga bisa dipake buat madamin api.”

    “Lang! Ga boleh ngomong gitu lu,” tegur kak Taufan.

    “Lu lihat ga Fan tadi cara dia ngelihat gue? Ngeselin gak tuh?” Kak Gilang mencoba membela diri.

    Kak Taufan menatapku lagi, “jadi kalian tinggal serumah?”

    “Sekamar,” Ditto meralat. “Tapi gak seranjang.”

    Kutempeleng kepala Ditto karena bicara semaunya lagi. Kedua seniorku itu tertawa melihat Ditto yang sedang mengusap-usap kepalanya yang kena jitakanku.

    “Itu lu makan gak? Kalau gak sini gue aja yang makan.”

    Tanpa menunggu persetujuanku Ditto meraih kantong plastik itu dan membukanya. Isinya benar tongseng yang dibungkus plastik dan satu bungkus nasi putih. Dengan cepat Ditto meninggalkan tempat duduknya untuk mengambil mangkok dan sendok baru.

    “Jangan dilihatin doang, Fan, kalau gak mau keduluan sama orang lain.”

    Aku melihat kak Gilang sedang menatap jahil pada kak Taufan. Aku mengalihkan pandangan pada kak Taufan, tatapan kami bertemu beberapa detik sampai aku bertanya, “Mau tongsengnya kak?”

    Entah kenapa kak Gilang langsung tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaanku. Kak Taufan melotot pada kak Gilang tapi tetap saja dia tertawa. Ah aku benar-benar tidak mengerti. Makan siang paling random yang pernah kualami.

    **
  • Chapter 9

    “Kenapa lu ngeliatin gue dari tadi?” Bentak Edgar, dia berhasil memergokiku menatapnya sejak perjalanan keluar dari kampus tadi.

    Aku langsung menatap ke jalan di depan, “gak pa-pa.”

    Ada alasan kenapa aku menatapinya dari tadi, aku ingin tahu kenapa cewek-cewek maba di kantin tadi siang begitu histeris melihatnya. Ya Edgar tampan, lalu apa? Mungkin benar kata kak Gilang, mereka belum tahu bagaimana sifatnya. Kalau sudah tahu dia sedingin es, pasti tidak akan seperti itu.

    “Sorry gue gak bilang kalau makan di kantin FT tadi.”

    “Gak usah dibahas.”

    “Oke.”

    Hening lagi. Aku mencoba mencari-cari topik yang bisa dibahas.

    “Hmm, sejak kapan lu dipanggil es doger?” Good job Ri, dari sekian banyak topik yang bisa diambil, lu malah milih bertanya begitu. Aku menghardik diriku sendiri.

    “Gak sudah dibahas.”

    Sudah kuduga tanggapannya begitu. Aku pun diam lagi. Ah bosan.

    “Semalam lu tidur di kasur kan? Dan jangan jawab gak usah dibahas atau gue turun!”

    Tiba-tiba mobil minggir dan berhenti. “Gih turun.” Kata Edgar, terdengar suara klik tanda kunci pintu dibuka olehnya.

    Aku panik, gertak sambalku dianggap serius olehnya.

    “Ya udah gak usah dibahas deh.” Kataku sambil cemberut. Lalu mobil kembali melaju.

    “Jawabannya iya, gue tidur di kasur,” Edgar menjawab. Aku senang mendengarnya, akhirnya ada yang bisa kami bahas di perjalanan pulang yang membosankan ini.

    “Kok gue bisa pindah di kasur paginya? Awalnya gue tidur di sofa kan?”

    “Gue yang pindahin lu ke kasur.”

    “Kenapa?”

    “Kemarin lu kurang tidur karna tidur di sofa, makanya semalam gue pindahin ke kasur.”

    “Terus lu tidur dimana?”

    “Sebelah lu lah, kasur lu cukup lebar.”

    Aku sedikit kaget mendengarnya, jadi semalam aku tidur satu kasur dengannya? Beruntung aku tidak bangun di tengah malam dan menyadarinya. Kalau itu terjadi pasti aku langsung kabur ke sofa lagi. Aku masih tidak bisa menahan gejolak yang timbul ketika melihat dia tidur. Mungkin aku harus tidur duluan dari Edgar, agar aku dan dia bisa sama-sama tidur di kasur.

    “Malam ini langsung tidur di kasur. Gue gak bakal mindahin lu lagi.”

    “Gak janji.”

    “Kenapa?”

    Karena kamu, es doger! Kalau saja sifat Edgar tidak sedingin ini, pasti aku sudah suka padanya dari awal bertemu. Dan Ditto nantinya akan mengatakan ‘I told you so’ berkali-kali padaku karena dugaannya benar, aku tidak akan berhasil menjadi normal lagi.

    “Gak pa-pa.”

    “Kayak cewek aja.”

    Ya hanya itu yang bisa kujawab. Tidak mungkin aku mengatakan yang sebenarnya pada Edgar. Kalau dia tahu dan dia bilang ke ayahnya, bisa-bisa nanti mama dan papa bisa tahu kalau anak sulungnya gay. Kurasa mereka tidak akan menerima pembelaanku bahwa aku sedang berusaha menjadi normal.

    Sesampainya di rumah, aku langsung berlari menuju tempat cuci baju, meninggalkan Edgar di garasi begitu saja. Kulihat di samping mesin cuci masih ada tumpukan baju kotor, dan kemeja PDL milik kak Gilang ada di paling atas. Baguslah, belum sempat dicuci. Langsung saja kuambil dan kubawa ke kamar.

    Aku kaget ketika membuka pintu mendapati Edgar hanya tinggal mengenakan celana boxernya saja. Dia sudah melepas kaos dan celana panjangnya. Dengan cepat aku menutup pintu lagi dan berdiri bersandar ke pintu. Sial, godaan lainnya. Badannya terlihat sempurna. Bentuk badan cowok yang aku suka. Ah Ri sadar Ri!! Lu mau normal!! Aku menghardik diriku sendiri.

    Padahal hanya melihat beberapa detik saja, tapi bayangannya tidak bisa dengan mudah kuhapus. Aku memang masih suka cowok. Aku hanya sedang berusaha suka cewek tapi belum berhasil. Dan dunia sepertinya tidak menginginkan aku normal karena mengirimkan cowok setampan Edgar ke kamarku.

    “Ri.”

    Edgar membuka pintu. Aku yang besandar pada pintu langsung kehilangan keseimbangan dan terhuyung ke belakang. Semua terjadi begitu cepat, karena tiba-tiba saja tangan Edgar sudah menahanku agar tidak terjatuh. Seperti adegan-adegan di film romantis, aku pun saling bertatapan dengan Edgar selama beberapa saat.

    Jantungku memompa lebih keras dari biasanya. Hatiku berdesir mencium aroba tubuh Edgar yang begitu memikat. Sial, dia masih hanya mengenakan celana boxer-nya. Dia bertelanjang dada! Rasanya aku ingin berteriak saat itu juga sekeras-kerasnya. Semua rasa bercampur aduk di hati dan otakku dan aku perlu melampiaskannya dengan berteriak.

    Aku berontak ketika sadar hal ini tidak lazim, mencoba bangun tapi yang ada aku terlepas dan pegangan Edgar dan jatuh ke lantai. Bukk!!

    “Lu gak pa-pa?”

    Edgar berjongkok di sebelahku. Pertanyaan bodoh, Gar. Aku baru sadar terjatuh dan mendarat keras di lantai. Pinggang belakangku terasa sakit karena berbenturan dengan lantai. Aku merintih.

    Tanpa permisi Edgar melesakkan tangannya di punggung dan di bawah lututku. Dia menggendongku seperti cowok menggendong cewek di depan. Aku masih kesakitan sehingga tidak bisa berkomentar, apalagi menolak. Dia menurunkanku dengan perlahan di atas kasurku.

    “Punggung lu sakit?”

    Aku mengangguk sekenanya, berkali-kali aku mengeluarkan suara hish-hish karena menahan sakit. Padahal jatuhnya tidak terlalu tinggi. Kalau saja aku mendarat di bokong pasti tidak akan sesakit ini.

    “Tunggu disini, gue ambilin es batu di bawah.”

    Lu pikir gue bisa kemana emang?? Lagipula, “pakai baju dulu!” Pintaku.

    “Kenapa? Lu nafsu?”

    Kuraih bantal yang ada di sebelah kepalaku dan langsung melemparnya pada Edgar. Dia menyeringai, kalau saja itu Ditto pasti dia sudah tertawa terbahak-bahak. Kurasa memang Edgar tidak bisa tertawa, hanya bisa menyeringai kecil.

    Setelah mengambil baju di lemari, dia berjalan keluar kamar sambil memakai baju itu. Tidak lama dia kembali dengan handuk kering dan satu kantong es batu yang sudah dihancurkan kecil-kecil

    “Balik badan lu!” Perintah Edgar, dia berdiri di samping kasur.

    “Mana bisa?”

    Edgar memegang punggungku dan membalikkan tubuhku seperti mama membalikkan telur yang sedang dimasak. Sekurus itukah aku sehingga dengan mudahnya dia membalik tubuhku ini? Aku pasrah saja dan membenamkan wajahku ke bantal.

    Aku merasakan Edgar duduk di tepi kasur. Tangannya mengangkat kemeja SMA-ku bagian belakang dan menyentuh-nyentuh bagian pinggang belakang. Tangannya dingin. Sampai satu titik aku melenguh karena terasa sakit, dia berhenti. Selanjutnya kurasakan kain handuk dingin ditekan-tekankan ke bagian yang sakit tadi. Agak ngilu tapi nyaman.

    Kuputar kepalaku ke kiri untuk bisa bernafas lebih leluasa. Dari sudut pandangan kulihat Edgar tersenyum tulus. Hatiku berdesir seperti sedang diisi jutaan sel cinta. Sial, sepertinya aku jadi suka pada Edgar yang sedang bangun. Bukan karena fisiknya, tapi karena kepeduliannya padaku saat ini.

    Sementara tangan kirinya menekan-nekan bagian sakit di pinggangku, tangan kanan Edgar tiba-tiba memijat-mijat dengan lembut pundakku. Aku merasa semakin nyaman dibuatnya. Begitu nyaman hingga rasa kantuk datang begitu saja. Yang kutahu selanjutnya, aku tertidur pulas.

    “Terima kasih, Gar.” Lirihku sebelum aku benar-benar pulas.

    Detik selanjutnya aku tidak bisa membedakan mana mimpi dan kenyataan. Aku merasakan sebuah tangan mengelus-elus kepalaku dengan lembut. Aku harap itu kenyataan, yang membawaku ke dalam mimpi indah.

    **
  • Chapter 10

    Aku suka Edgar. Itu pikiran pertama yang terlintas olehku saat bangun. Aku masih ingat aroma tubuhnya saat aku dalam rangkulannya semalam. Aku masih bisa merasakan pijatan lembutnya di pundakku dan belaian tangannya di kepalaku. Semua terasa seperti mimpi, meski nyata.

    Saat aku terbangun, Edgar tidak ada di kasur maupun di sofa. Sepertinya dia bangun duluan dan turun ke lantai bawah. Sial, apakah aku masih bisa menatapnya seperti biasa saat aku menyadari bahwa aku menyukainya.

    “It’s just a crush,” ucapku pada diri sendiri. Semuanya akan sama saja, aku yakin. Edgar akan tetap menjadi Edgar yang dingin, jutek, dan bertindak semaunya padaku.

    Aku langsung mandi dan bersiap-siap untuk ke kampus. Sampai aku siap mengenakan baju SMA-ku yang terakhir, karena yang pertama terkena kuah gulai dan yang kedua lecek dibawa tidur, aku masih belum bertemu dengan Edgar. Bahkan di meja makan pun hanya ada mama, papa, dan Ra. Kemana dia?

    “Kak Edgar lari pagi.” Kata Ra, dia berhasil menebak siapa yang kucari.

    “Ooh.” Aku duduk di kursiku.

    “Katanya dia gak ada kuliah hari ini, jadi kamu berangkat sendiri aja, Ri,” kata mama.

    “Oke.”

    Entah kenapa aku merasa kecewa, tidak bertemu dengannya pagi ini. Rasanya seperti ada yang ingin kukatakan padanya kalau bertemu. Ah tidak, aku hanya ingin melihat wajahnya. Melihat apakah dia akan menatapku berbeda setelah apa yang terjadi semalam.

    Bodoh. Tidak ada yang terjadi semalam. Edgar hanya membantuku karena aku memang sedang butuh bantuan. Aku berpikir terlalu jauh lagi, aku menganggap kepedulian seseorang karena dia suka padaku juga. Ah sial. Hal ini tidak seharusnya terjadi. Aku tidak seharusnya suka pada Edgar.

    Aku berangkat bersama papa sampai lapangan tempat mobilku parkir.

    “Ayahnya Edgar pulang kapan, Pa?” Tanyaku di mobil.

    “Perjalanan dinasnya satu minggu, jadi harusnya sabtu atau hari minggu ini pulang. Cuma papa gak tau kalau ada urusan mendadak disana. Bisa nambah.”

    “Kalau sudah pulang, berarti Edgar ikut ayahnya?”

    “Iya, rencananya begitu. Edgar numpang di kita sampai ayahnya pulang. Katanya pak Bram sudah menyewa satu apartemen tapi baru siap ditempati minggu depan.”

    Aku manggut-manggut. Jadi kesempatanku bersama Edgar hanya tinggal beberapa hari lagi. Kalau ini hanya sebatas rasa suka, kupikir aku bisa menahannya. Setelah Edgar pergi pasti perlahan-lahan rasa ini akan hilang dengan sendirinya.

    Rasanya ada yang aneh berangkat ke kampus sendiri. Padahal baru dua hari aku ke kampus dengan Edgar, tapi aku merasa ada yang hilang di perjalanan pagi ini. Tahan Ri, tahan! Aku masih meyakinkan diriku bahwa ini hanya rasa suka saja. Perasaan yang muncul dan akan hilang sama mudahnya.

    “Muka lu kenapa?” Tanya Ditto saat aku menemuinya sebelum acara OSPEK hari ini dimulai. Kami duduk di kursi panjang yang ada di salah satu ruang kelas di gedung fakultas.

    “Hah? Kenapa?”

    “Gue inget muka lu pernah kayak gini, waktu kelas 1 SMA,” Ditto terus memperhatikan mukaku. “A-ha! Lu suka Edgar?!” Lanjutnya hampir berteriak.

    “Psstt!!” Kubekap tanganku ke mulutnya dengan cepat. Bagaimana dia bisa tahu?

    “Bener?”

    “Apa sih yang gak lu tahu dari gue?”

    Ditto tertawa. Keakraban kami selama bertahun-tahun membuat dia sangat mengenalku. Tapi tidak kuduga sampai dia bisa menebak aku suka Edgar hanya dengan melihat wajahku.

    “Darimana lu tahu?”

    “Well, gue inget lu selalu bermuka begini saat suka sama orang. Dan satu-satunya orang yang mungkin lu sukai sekarang ya si Edgar.”

    “Bisa aja kak Taufan, atau kak Gilang,” bantahku.

    “Hemm, tentang itu, ada yang lupa gue kasih tahu ke lu kemarin.”

    “Apa?”

    “Ri,” panggil seseorang memotong obrolan aku dan Ditto. Aku memutar badan dan mendapati duo seniorku berdiri di belakangku.

    “Ya?”

    “Bajunya?” Tanya kak Gilang.

    “Oh ya, bentar.” Aku langsung mengedepankan tas ranselku untuk mengeluarkan kemeja PDL kak Gilang. Langsung saja kuserahkan ke pemiliknya. “Ini kak. Thanks ya.”

    “Sama-sama, Ri,” balas kak Gilang. “Nih!” Kemudian dengan santainya dia melempar kemeja itu ke muka kak Taufan.

    “Kok dikasih ke kak Taufan?”

    “Dia yang sembarangan minjemin kemeja gue ke lu, Ri. Jadi dia yang harusnya nyuci. Biarpun gak yakin bakal dia cuci sih.”

    Kak Taufan langsung menyikut perut kak Gilang cukup keras.

    “Kalian berduaan mulu, beda jurusan juga,” ujar kak Taufan setelah menurunkan kemeja tadi dari mukanya.

    Ditto tiba-tiba melingkarkan lengannya ke belakang leherku, “wah kita mah emang gak bisa dipisahkan, kak.” Katanya sambil tangannya yang bebas mengacak-acak rambutku. Ini anak kenapa lagi deh?

    “Terserah lu pada dah. Bentar lagi acara mulai, mending langsung gabung ke jurusan masing-masing.” Perintah kak Gilang.

    “Iya kak,” kataku, lalu mereka berdua meninggalkan aku dan Ditto.

    Aku melepaskan rangkulan Ditto dan menatapnya bingung. “Sialan, Dit. Lu apa-apaan sih barusan?” Aku menghardiknya.

    Ditto tersenyum-senyum sendiri, seperti ada hal yang lucu dalam benaknya. “Gak pa-pa. Sepertinya gak lama lagi gue bakal menyaksikan drama paling ajib di tahun ini.”

    “Maksud lu?”

    “Dah, Ri!” Ditto melambai padaku dan meninggalkanku begitu saja.

    “Eh tunggu,” aku berhasil menangkap tangannya dan menahannya sebelum pergi jauh.

    “Yang lupa lu bilang ke gue kemarin apa?”

    “Rahasia, Ri. Biar lu kepikiran terus. Haha.” Dia tertawa lalu melepaskan genggaman tanganku. Aku menatapnya pergi dengan kesal.

    Pasti ada yang direncanakan olehnya, atau dia tahu sesuatu yang berhubungan denganku tapi tidak ingin aku tahu. Itu seperti sebuah kesenangan baginya melihatku sengsara dalam ketidaktahuan.

    “Ditto kenapa?”

    Aku tersentak kaget mendengar suara itu. Tian tiba-tiba saja sudah berada di sampingku. Entah kapan datangnya.

    “Anjrit!! Lu dari kapan di sebelah gue, Tian?”

    “Dari tadi kok. Setelah dua senior yang makan bareng kita kemarin pergi.”

    Masa sih? Aku memang belum terlalu mengenal Tian, tapi dari kemarin dia selalu datang hilang begitu saja tanpa permisi.

    “Kayak jaelangkung lu mah, datang pergi ga ketahuan.” Ledekku.

    “Jaelangkung apaan?”

    “Boneka. Lucu deh,” balasku gemas lalu meninggalkan dia menuju kumpulan anak-anak jurusan teknik sipil lainnya. Aku gak tau deh Tian mengikutiku di belakang atau tidak. Pokoknya pasti nanti dia tiba-tiba hilang dan muncul begitu saja.

    **
Sign In or Register to comment.