BoyzForum! BoyzForum! - forum gay Indonesia www.boyzforum.com

Howdy, Stranger!

It looks like you're new here. If you want to get involved, click one of these buttons!

Selamat datang di situs Boyzforum yang diarsipkan oleh Queer Indonesia Archive. Forum untuk komunitas gay Indonesia yang populer ini didirikan pada tahun 2003, dan ditutup pada tanggal 15 Desember 2020.

Forum ini diabadikan untuk kepentingan sejarah. Tidak akan ada konten baru di forum ini. Silakan menikmati forum ini sebagai potongan dari sejarah queer Indonesia.

LOL

permisi, newbie pangkat seribu yang sedang belajar menulis, mau menjajal kemampuannya di forum sini :D

buat para mastah, tolong jangan kritik pedes* ya, soalnya aku kan msh newbie.. hoho

maaf, ya kalo ceritanya pendek-pendek, tapi ini udh usaha terbaikku, kok :v

***

Part 1

Awalnya, semua berjalan sebagaimana yang aku harapkan. Aku datang ke sekolah, mengobrol dengan beberapa teman baru, dan duduk bersama seseorang yang tampaknya tidak terlalu peduli dengan siapa dia akan duduk. Tapi, lalu saat aku tak sengaja menabraknya di kantin siang itu, semuanya berubah jadi mengkhawatirkan.

"Aduh, maaf, kak.. Aku nggak sengaja," kataku, merasa sangat bersalah saat makan siang cowok itu malah tumpah berserakan di lantai. "Aku ganti, ya.."

"Nggak, nggak usah," jawabnya, tersenyum. "Nggak apa-apa, kok,"

"Lho, kok gitu sih, Bas?" ini yang ngomong cewek di sebelah kakak tampan yang baru saja aku tabrak, ya. Mungkin dia pacarnya. "Nggak bisa gitu, ah. Dia ini udah nggak sopan nabrak kamu, numpahin makan siang kamu, masa kamu cuma bilang nggak apa-apa,"

Rasanya kepalaku mendadak pening seketika mendengar cewek itu bicara. Dia memang cantik, sih. Cantik banget malah. Tapi dengan mulut selebar dan selicin itu, mustahil aku tidak langsung membencinya.

"Udah, lah Grace," cowok itu berusaha menjelaskan pada ceweknya. "Lagian dia kan nggak sengaja,"

"Tapi-"

"Udah," Bas memotong dengan suara lembut namun tegas. Baik aku maupun Grace, sama-sama berjengit. Dia menoleh padaku, lalu tersenyum. "Lain kali hati-hati,"

"I.. Iya.. Sekali lagi maaf," kataku gugup. Dia menepuk pundakku sebelum pergi menjauh, diikuti Grace yang sepertinya masih sangat marah padaku.
Tagged:
«1

Comments

  • Wow. Cukup bagus tapi sesuai dengan perkataanmu "ceritanya pendek" tapi saya hargai usahamu karena untuk membuat cerita itu tidak gampang. Jika pendek maka sebaiknya kamu benar-benar memanfaatkan kata-kata yang sedikit itu dengan sebaik mungkin apalagi ini adalah paragraf pertama yang memiliki fungsi untuk menarik pembaca ke part cerita berikutnya. Jika paragraf pertama Anda gagal menunaikan tugasnya, maka hasilnya juga tidak akan sesuai harapan anda.

    pedes gak sih?
  • Hmm

    Mensyen ya
  • menarik ceritanya ... dilanjut ...
  • @bayu15213 bingo! makasih masukannya, mas.. hehe nggak, manis banget kok
    @boyszki oche
    @lulu_75 ini mau di update kok.. wkwkwkw

    ***
    Part 2

    Namaku Lian, saat ini masih berstatus sebagai siswa Kelas XI di sebuah SMA Swasta di kotaku. Yang barusan itu, keduanya, adalah kakak kelasku.

    Yang cowok namanya Bastian, seorang Kapten Tim Basket sekolah. Tampan, macho, baik hati, dan tidak sombong. Semua kebaikan dijadikan satu dalam sosoknya yang kekar dan selalu penuh misteri.

    Sementara cewek bermulut lebar itu namanya Grace. Dia cantik, populer, anggota cheerleaders, tapi sayangnya dia sangat sombong dan terlalu banyak bicara. Contohnya, seperti tadi saat aku secara tak sengaja menumpahkan makanan Bastian.

    Kalau cowok tampan itu tidak menahannya, dia pasti bakal mencercaku lebih parah, seolah aku baru saja melemparkan kotoran sapi ke mukanya. Terpujilah Hera dan sapi-sapinya, semoga dia menitipkan seonggok kotoran sapi hangat ke muka Grace.

    "Lian," aku menoleh saat Calvin, cowok ramping berpostur semampai, memanggilku yang sedang melamun.

    "Apa?" jawabku malas.

    "Kamu kelihatannya sedang depresi sekali," dia mendiagnosa seenak jidat luasnya sambil menotol-notol lenganku. "Sedang ada masalah, ya?"

    "Aku?"

    "Iya, kamu. Dari tadi aku perhatiin kamu diem terus, nggak ngomong-ngomong. Padahal aku udah ngoceh dari tadi, tahu,"

    "Jadi, duta sampoo lain?"

    Selama sepuluh menit berikutnya, Calvin menolak untuk bicara denganku. Dia bahkan diam saja saat aku mencolek pinggangnya.
  • Part 3

    "Nanti aku ke rumahmu, ya, Vin," kataku, saat aku dan Calvin berjalan menyusuri koridor di jam pulang sekolah. "Ada yang mau aku tanyain soal pelajaran tadi. Masih bingung cara ngaliin sama mindahin angkanya,"

    "Oke, datang aja, Yan. Tapi jangan kesorean, soalnya jam lima aku harus nemenin Ibu ke rumah Nenek," Calvin menjelaskan. Aku mangut-mangut.

    "Abis ganti baju aku langsung ke rumahmu, deh," kataku memastikan.

    "Sip, deh. Aku duluan, ya, Yan," kata Calvin yang langsung menuju parkiran untuk mengambil motornya. "Bye,"

    "Oke, Bye,"

    Aku biasanya pulang sama berangkat sekolah naik kendaraan umum. Bukan karena tidak punya kendaraan sendiri, tapi aku merasa bersalah saja mengendarai motor ke sekolah saat usiaku bahkan belum sah secara hukum. Lagi pula aku punya kakak seorang Polisi, yang mana sangat mengerikan. Tapi kalau mau main sih, biasanya aku juga pakai motorku sendiri.. Hehehe

    Menunggu angkot yang biasanya lewat jam segini di depan gerbang, aku memainkan BlackBerry-ku dan membalas beberapa chat dari temanku. BB mungkin saat ini udah nggak zaman lagi, tapi karena aku orangnya nggak mau ribet, aku masih tetap setia memakainya. Lagi pula, aku memakai smartphone cuma buat kepentingan komunikasi aja. Selebihnya biasa aku lakukan dengan laptopku di rumah.

    Hanya dalam lima menit setelah aku mematung di depan gerbang, Calvin aku lihat lewat di sebelahku dengan motor hijau besarnya bersama Feni, ceweknya, dan membunyikan satu klakson untukku.

    Kalau melihat dia dengan pacarnya kadang aku merasa sedih juga. Kapan aku bisa membonceng pacarku dengan motorku sendiri ke sekolah? Kapan aku bisa bermanja-manjaan dengan pacarku saat rumah sedang sepi? Kapan aku bisa mengajak cewekku makan malam di Kedai Ramen favorit pasangan kasmaran?

    Masalnya, aku sama sekali belum menemukan sosok yang cocok buatku jadikan tambatan hati. Biarpun ada lumayan banyak cewek yang mengirim sinyal suka padaku, aku tetap saja menolak mereka dengan alasan ingin fokus belajar. Apa ada sesuatu yang salah dengan otakku, ya?

    Saat itu sebuah motor kembali melewatiku. Bedanya, kali ini si pengendara menghentikan motornya di depanku. Aku mencoba menerka siapa kiranya cowok bermotor merah besar itu.
  • Sangat menarik, mention akuu ;)
  • @Rama212 @Aurora_69

    Part 4

    "Kok belum pulang?" itu adalah suara yang keluar dari balik helm full-face yang digunakan cowok itu. Rasanya aku kenal siapa pemiliknya, tapi aku lupa.

    "Lagi nungguin angkot," aku mengangkat bahu dan menatapnya dengan kening berkerut. Siapa sih dia?

    Menyadari kebingunganku, cowok itu terkekeh pelan, lalu membuka helmnya. Aku nyaris saja terjungkal ke selokan saat melihat siapa pemilik motor itu. Coba tebak? Bastian!

    "Kak.. Bas-Bastian.." aku tak tahu harus berkata apa. Dia tersenyum, mempertontonkan deret giginya yang putih dan sempurna, dibawah siraman matahari yang terik, dia kelihatan makin hot saja dimataku.

    "Kenapa? Nggak usah gugup gitu lah," dia berkata, seperti menertawakanku. Aku berusaha menarik nafas dan mengendalikan diriku sendiri. "Mau bareng sama aku nggak?"

    "Apa? Bareng? Maksudnya, kakak anterin aku?" aku mendadak jadi sangat bodoh di bawah tatapan mata tajamnya. Aku ingin berlari menabrakan diri ke mobil pertamina yang barusan lewat itu, tapi aku tak bisa menolak pesona Kak Bastian yang seperti dewa.

    "Iya, lah. Masa aku lemparin kamu ke jurang," dia berkelakar. Melihatku yang hanya melongo menatapnya, dia berkata. "Naik."

    Simple, namun kedengeran seperti sebuah vonis final dari hakim. Aku tahu aku tidak punya kesempatan untuk menolak lagi, lagi pula untuk apa aku menolak. Buru-buru aku naik ke boncengannya sebelum dia marah dan membentakku. Eh, mungkin, kah dia akan membentakku karena menolak pulang bersamanya?
  • sangat menarik dan rrrrrrrrrr jangan lupa mention lagi yaa ;)
  • waw ... di anterin nih sama Bastian ...
  • Lanjuut,nitip mention yaa
  • @albyLf bastian nya kepincut ama lian hh
    Oh ya, saya di mntion yaa
  • @Rama212 @lulu_75 @faizalle @Abdulloh_12

    Part 5

    "Kak," aku memberanikan diri bicara saat akhirnya kami sampai di depan rumahku. Dia melepaskan helmnya dan menoleh padaku.

    "Hn?" gumannya pelan.

    "Makasih, ya udah nganterin aku," kataku, agak malu juga mengatakannya. Mungkin karena aku belum terbiasa.

    "Iya, sama-sama. Nggak usah pake terima kasih, kan aku yang minta nganterin kamu," dia tertawa mendengar ucapannya sendiri. "Udah, ya. Aku mau pulang dulu,"

    "Eh, nggak mau mampir dulu, kak?" aku menawarkan, bukan sebagai formalitas, tapi aku benar-benar ngarep buat bisa lebih lama lagi sama dia. Kendati dia sedikit menyeramkan juga, tapi aku suka.

    "Nggak usah, lah. Lain kali aja aku mampirnya," katanya, lalu memakai helmnya. Dia menyalakan motornya, lalu membunyikan klakson satu kali sebelum memelintir gas motornya. Tapi baru beberapa meter, dia berhenti dan memundurkan motornya lagi ke hadapanku.

    Aku kira dia berubah pikiran, memutuskan untuk mampir ke rumahku, tapi ternyata tidak. Dia hanya kembali untuk mengacak rambutku dengan tangan besarnya sebelum kembali melaju meninggalkanku yang mirip anak ayam kehilangan emak dan semua saudaranya.
  • oh may gaaay... di panjangin dong ;) kurang puas
Sign In or Register to comment.