BoyzForum! BoyzForum! - forum gay Indonesia www.boyzforum.com

Howdy, Stranger!

It looks like you're new here. If you want to get involved, click one of these buttons!

Selamat datang di situs Boyzforum yang diarsipkan oleh Queer Indonesia Archive. Forum untuk komunitas gay Indonesia yang populer ini didirikan pada tahun 2003, dan ditutup pada tanggal 15 Desember 2020.

Forum ini diabadikan untuk kepentingan sejarah. Tidak akan ada konten baru di forum ini. Silakan menikmati forum ini sebagai potongan dari sejarah queer Indonesia.

PENJARA HATI ( JAIL)

Mohon maaf semuanya, saya silent reader muali belajar menulis. ini tulisan saya yang pertama. mohon kritikan dan bantuannya. selamat membaca. dan jangan sungkan mengkritiki.
“Disinilah aku berdiri menatap cakrawala jingga serta menitipkan harapan untuk hari esok”
“hu…. Semoga.” Ujarku lirih.
Entah keberapa kalinya rangkaian kata tadi kuucapkan hanya untuk sekedar memberikan ketenangan bagi batinku. Menyemangati diri sendiri? Itu kebiasaanku. Mungkin kebanyakan orang menganggapku hanya orang yang terlalu percaya diri sehingga senyum di bibirku ini jarang sekali hilang. Kau salah kawan. Lihat segalanya lebih dekat. Apa lengkungan vertical dibibirku membiaskan aku bahagia? Apa senyum pesona menandakanku bahagia? Tak selalu!
Aku selalu ingat lagi dari penyanyi cilik Sherina Munaf yang berjudul Lihat Segalanya Lebih Dekat. Lagu itu memberikan sedikit ruang untuk mampu bersandiwara dalam kehidupan ini. Bersandiwara? Iya aku menipu jutaan orang dengan topeng di wajahku. Namun siapa yang tahu aku sebenarnya? Hanya aku dan Sang Penciptaku.
Dalam kisah kehiupan rumitku ini mungkin akan sedikit kukupas mengapa diriku hanya bersandiwara di hidup ini.
***
Saling Sayang Silang
“Dek bunda sedikit pusing, temani bunda di kamar ya?” pintanya.
Iya, dia adalah kekuatanku untuk hidup di dunia ini. Bundaku tercinta, sumber segala kebahagian. Namun kini sikapnya sedikit berbeda. Sejak Ayah meninggal dunia dengan menyisahkan tanggungan yang berat yang harus di pikul bunda sendirian pula. Aku kemana? Saat ayah berpulang ke pangguan Allah di Surga aku masih kecil. Terlebih aku juga tidak terlalu dekat dengan ayah karena beliau jarang berada di rumah dan selalu dinas ke luar kota maupun luar negeri. Ayah sebelum meninggal adalah seorang Direktur di perusahaan kontraktor di bilangan Surabaya Jawa timur. Namun kini sejak beliau berpulang, tidak ada lagi yang mampu mengurus pekerjaannya. Bunda hanya mampu sekedarnya.
Jika ada yang bertanya seperti apa dan dimana setting dari cerita ini? Aku tidak akan menutup-nutupinya. Setting cerita ini berada di beberpaa kota tentunya, Malang-Mataram-Sumbawa. Dan tetntunya periode waktu yang akan hadir juga bergulir maju berawal dari tahun 2011.
Sebelum melangkah semakin jauh mungkin semua terheran mengapa diriku tidak mengenalkan nama dan usia ku. Nanti dengan berjalannya waktu tanda tanya akan terjawab sendirinya.
Kembali kepada bundaku yang kini merasa tidak enak badan. Aku baru saja memasuki rumah sederhana yang baru setahun ini ku tempati ber4 dengan bundaku dan keluargaku. Namun naas, baru satu minggu tinggal disini Jessica telah hilang entah kemana. Berkuranglah jumlah keluargaku. Untung Berbie sudah cukup besar untuk ditinggal sendiri oleh ibunya, Jessica. Apakah ada usahaku mencarinya? Tidak mungkin tidak. Dia anggota keluargaku. Berbagai macam cara telah kami lakukan untuk mencarinya. Mulai dari mencarinya berkeliling komplek yang pada mulanya kita mengira bahwa Jessica tersesat saat ingin pulang kerumah. Hingga menyebar selebaran di berbagai sudut tempat di sekitar tempat tinggalku. Hasilnya nihil, mungkin Jessica telah dibawa lari jauh oleh orang. Bagaimana tidak, akupun menyadari bahwa kemolekan tubuh Jessica sanggat mempesona dan mampu menghipnotis siapapun yang melihatnya. Walaupun ia telah memiliki dua anak kembar yaitu Barbie dan Diego, tidak mengurangi pesona tubuh indahnya. Kemana kah Diego? Ia telah meninggal tertabak mobil ketika sedang bermain di pinggir jalan depan rumahku. Tinggalah aku, bunda dan Barbie yang tersisa dirumah.
Rumah tempat tinggalku sekarang berada di pinggiran kota malang, tidak terlalu terpencil, hanya memerlukan waktu 10 menit menggunakan angkot dari terminal arjosari. Rumah ini nampak sangat kontras dengan kehidupan glamor kami dulu ketika Ayah masih ada di dunia ini. Dulunya rumah kami bak istana di wilayah luar kota malang. Namun tak apalah, aku menerima saja kenyataan ini dan mencoba selalu tersenyum untuk bundaku, dan untuk barbie. Mungkin bunda tak mampu menyewa rumah yang lebih besar lagi dari ini dikarenakan uang hasil menjual rumah mewah kami dan beberapa mobil telah ludes untuk melunasi hutang piutang perusahaan ayah yang telah colleps. Rumah ini juga menurutku cukup nyaman bagi kami bertiga, terdapat 4 kamar tidur sederhana, dan 1 kamar mandi di belakang rumah. Tidak ada halaman yang luas serta tempat parkir seperti rumah kami dulu, tapi Stop membandingkan keadaan sekarang dan dulu.
“bunda sudah makan? “ ujarku lembut dengan memijat kakinyanya. Mungkin Bunda lelah dengan langkahnya yang berat.
“sudah tadi pagi, kamu masak ya dek, buatin makanan juga buat Barbie.” Kata bunda pelan sambil tetap memejamkan matanya.
Aku bangkit dari tempat dudukku dipembaringan bunda menuju dapur. Barbie sudah mengikutiku dengan lucunya. Tidaklah susah untuk membuatkan makanan untuk sikecil ini. Cukup diberi bubur dengan potongan wortel rebus dan susu putih sudahlah cukup. Dia loncat kegirangan ketika melihat makanan yang ia tunggu telah siap hidang.
Aku membawa manggkok makanannya ke ruang tengah. Ia mengikuti dengan menggemaskan sambil mengeol-geolkan pinggulnya.
“guk guk… guk guk… “ ujarnya sambil mengibaskan ekor cantiknya. Ternyata dia tidak pernah bosan dengan makanan yang kusuguhkan. Berbie sungguh menggemaskan. Walau usianya masih kecil namun ia telah dapat memahami beberpa perintahku, seperti duduk, kemari, lari, dan berputar. Rumah seakan tidak pernah sepi dengan hadirnya Barbie kecil di rumahku. Mungkin Barbie tak semolek Jessicaa ibunya yang memang berjenis Seberian Eskimo, karena Jessica selama ini menyimpan hubungan gelapnya dengan Rocky, si gagah peranakan Golden. Sehingga lahirlah Barbie dan Diego.
Usai membuat santapan Barbie dan memasak kembali untuk ku dan bunda untuk makan malam nanti, aku kembali membuka buku pelajaran hari ini yang telah diberikan oleh guruku di sekolah. Aku bukanlah anak cerdas dan pintar di sekolah, namun aku cukup berbakat dikesenian. Satu hal yang kuyakini, dikemudian hari, di jenjang pendidikan yang lebih lanjut itulah saatnya pembuktian akan kemahiran seseorang.
Dengan membaca buku geografi tentang iklim dan tata letak, aku mencoba memfokuskan diri pada apa yang telah kukerjakan. Tentunya tidak lupa ditemani music dari hp jadulku Nokia series Express music. Lagu anggun yang berjudul in your mind masih samarak menemaniku belajar disore menjelang malam itu. Tiba-tiba kudengar lagu ini sedikit tersendat, aku sudah atu apa artinya, ada sebuah pesan singkat masuk ke hp ku.
“Aku gak jadi datang, mungkin lain kali saja ya.” Begitu isinya. Aku memang memiliki janji membuat kerajinan gypsum dirumahku bersama Hiilman. Tapi yasudahlah, dia membatalkan janji secara sepihak.
Aku tutup buku pelajaran geografiku dan melangkah menuju pematang sawah didepan rumah. Syukurlah, walau rumah sewaan kami sangat sederhana, namun dari sini aku masih bisa menatap sang fajar yang gagah berani meringkuk diperaduannya.
Tatapan mataku tidak pernah kosong, pembatalan janji bukanlah hal yang berarti besar terhadapku.
“Dan disinilah aku tuhan, menatap cakrawal jingga serta menitipkan harapanku untuk hari esok.” Kalimat itu sekali lagi lancar kuucap.
“Dir.. Dirga.. Masuk dek, sudah petang.” Suara bunda memanggil dari depan pintu rumah.
Aku masuk kedalam rumah dan menyiapkan santapan malam kami yang telah kumasak tadi. Hanya menu sederhana, tidak ada ayam, tidak ada daging. Hanya tahu dan tempe penyet serta sayur asam kesukaan bunda.
“bun nanti malam bikin kripiknya berpa kilo?” tanyaku disela makan malam kami.
“hanya 5 kilo mungkin dek, tadi bunda belanja hanya beberpa sisir pisang, dan 2 diantaranya belum begitu masak.”
“ya lumayan lah bun bisa buat simpanan modal 3 hari kedepan.” Jawabku menenangkan.
“bun besok Dirga sepulang sekolah jadikan ambil uang hasil keripik di warung-warung?” tanyaku.
“ya kalo ada hasil ya diambil aja, kebetulan minyak goreng tadi kayaknya kurang.”
Begitulah singkat keseharianku, aku membantu bunda membuat kripik pisang, dan membantunya pula memasarkan dibeberapa warung kenalanku.
***
“Dirga Karya Nirwana” Ujar guru Matematikaku Bu Lutfiah membagikan hasil Ulangan harian tempo hari.
Aku maju kedepan dan menatap hasil ulanganku. Yes sesuai target, aku dapat nilai 90.
“Belajar lagi, masa dari kelas satu sampe kelas 3 Cuma 90 saja nilai matik kamu.” Kata Bu Lutfiah.
“yak an yang penting betul semua bu.” Jawabku cuek sembari berjalan kembali kebangku ku di barisan nomor 3.
“Aneh, betul semua tuh harusnya 100, km 90 ada 2 soal lagi yang gak dijawab. Kebisaan dari kelas 1 gak pernah dirubah.” Bu lutfiah masih merancau tidak jelas. Teman-temanku ? jelas mereka dapat nilai yyang lebih tinggi dari aku, karena berada dikelas dan sekolah ini persainganya sangat ketat.
Kringggggggg “times to first break”
bunyi bel di kelas ku mengakhiri pelajran matematikaku hari ini.
Aku berdiri hendak menuju kanti. Berpapasan dengaan segerombolan teman-teman kelasku di depan pintu.
“sabar ya dir, bu lut memang gitu.” Ujar Mariam.
“halah santé aja, dah sering digituin aku. Jadi kebal.” Ujarku sambil tersenyum.
Aku memang sudah biasa disindir oleh beberapa guru kecuali Pak Aswani Guru Kesenian. Beberpa guru itu selalu protes dengan nilai-nilaiku yang tidak pernah meningkat ataupun turun. Standart. Aku mmemang sengaja untuk mengincar nilai yang pantas buatku. Apakah aku tidak mampu mengerjakan soal-soal itu hingga mendapatkan nilai 100? Mampu, Cuma gak mau saja. 90 kurasa sudah cukup untuku mampu memberikan peluang teman-temanku berada pada urutan diatasku.
“Ibu, aku mau ambil uang kripik bunda.” Ujarku ramah dan tersenyum kepada ibu kantin, ibu gendut ini amatlah baik , bunaris sering kali ditipu oleh teman-temanku dengan mengambil makanan tanpa bayar. Anak orang kaya kok begitu.
“Ini le, Cuma ada 47 ribu. Masih ada yang belum laku.” Diberikannya uang sejumlah itu kepadaku.
“Makasih bu, itu kripiknya masih bisa 2 hari lagi, klo 2 hari lagi masih sisa nantti tak ganti yang baru ya.”
“yo harus lah. Hehe”
Usai mengantongi uang hasil kripik bunda aku berjalan menuju ruang kesenian. Ruang ini amatlah cocok untukku. Disini aku dapat berekspresi semaksimal mungkin.
Duggggg….
Eiitt. Ada orang menepuk pundakku ketika aku melangkah memasuki bilik seni rupa di bagian sudut paling kanan.
“Sorry, kemaren aku aku aku nganter mama.” Ternyata Hilman yang ditangannya telah ada beberapa alat membuat patung.
“santai aja, dah sering juga toh batalin janji.” Jawabku sembari berjalan menuju kursi favotirku dimana ada pekerjaan patung tanah liatku yang setengah jadi.
“jangan marah dong.” Rayunya mengikuti langkahku.
“Gak marah, marah tu bikin capek.” Jawabku cuek. Aku basahi tanganku dengan air dan mulai membasahi pula pekerjaanku sedikit.
“ kalo gak dimaapi aku cium nih.” Tantangnya.
“malu ama otot pake cium-cium laki.” Masih cuek dan memulai pekerjaanku memutar dan membentuk tanah liat didepanku.
“sm pacar sndiri juga napa pake malu.” Jawabnya sambil memonyongkan bibirnya. Aku dengan sigap mengolesi lumpur tanah liat d tanganku ke bibirnya.
“tuh cium tanah, capek aku pacaran sm kamu, putus dah ayok.” Ucapku masih dengan kecuekan super tinggi.
“Lah dir aku aku aku gak maulah. Jangan ya ya ya.” Rajuknya.
Huhfff aku membuang nafas panjang.
“lagian ngapain sih pacaran cowok sama cowok? Gak bisa pegangan tangan, gak bisa mesra-mesraan, gak bisamalam mingguan, adanya backstreet mulu.”
“ya kan kamu yang gak mau aku pegang tangannya. Kmu juga yang gak pernah mau aku ajak malam mingguan.” Jawabnya tak mau kalah.
“hilman hilman, entar kamu latihan basket jam berpa?” tanyaku mnegalihkan pembicaraan, karena sesungguhnya aku tak benar marah sama dia.
“jam 5an seperti biasa yank.”
“gak usah yank yank an. Entar lepas sekolah temenin aku ambil uang kripik bunda di warung-warung.” Todongku sambil berdiri menuju meja peralatan didepan untuk mengambil pensil silet untuk mengukir.
“tapi tapi tapi aku mau ke timezone sama Ciko.”
“yaudah, pacaran sama ciko sono, gak usah deketin aku lagi, banyak menganggu dan tidak pernah membantu.” Jawabku datar.
“lah yank ojo gitu a.” memelas dianya.
“kan wes aku bilang gak usah ngomong yank-yankan. Yayankmu itu Ciko. “ aku kembali sibuk dengan ukiran ukiran detail di grabah yang lagi kubuat ini.
Hilman masih diam saja, dia kini menggeser kursinya kehadapanku. Dia masih membisu namun tangannya tidak diam. Ia mulai mencampur bubuk semen putih dengan bubuk gypsum yang selanjutnya akan dia cetak. Aku meliriknya. Dia mengambil cetakan Huruf di lemari. Cetakan ini terbuat dari silicon dan lapisan luarnya semen keras. Ia mengambil tulisan H dan D secara terpisah kemudia ia mengambil piringan bulat silicon untuk tempat huruf itu.
“Hilman Dirga” ujarnya sambil senyum-senyum. Aku melihatnya hanya mengangkat alis sebelah saja.
“High Difinition kale…”
“yank kamu wes gak pernah olahraga yo? Ngegym juga kayak wes jarang.” Tanyanya mengalihkan sindiranku atas sikapnya yg kekanak-kanakan.
“emang dah gak pernah.”
“Lemakmu loh nanti numpuk klo gak di pakai olahaga.” Katanya sambil mengipas2in cetakan gypsumnya yang telah diolehsi minyak goreng.
“babah, badan-badanku, ngapai kamu protes.”
“lah kan ngajakin tengakar lagi, nanti kamu gak ganteng lagi loh.”
“terus????” tanyaku.
“ya gak terus-terus, entar fansmu ilang.”
“biar, biar km sekalian hilang dari hidupku.”
“lah kan salah lagi aku.”
“lagian kamu ngapain she masih disini, kamu itu selalu ngabisi persediaan bahan patung gypsum disini loh, kamu kan gak ikut kelas bakat minat seni rupa, jadi ngapain masih aja nangkring di sini.”
“lah aku kangen pacarku, dia kan selalu disini.”
Arrrrggggggggghhhhhh. “weslah sakarepmu, aku kesel. Pergi basket sana loh.”
“cium dulu.” Ujarnya sambil memajukan bibirnya.
Daripada makin panjang dan konsentrasiku semakin buyar karenanya, aku cium saja pipinya.
“loh kok pipi she?” ujarnya protes.
“nyocot, ndang ngaleh.” Ucapku kasar. Dia berlalu dengan cengengesan. Dasar Hilaman sarap.
Huhffttt hanya tersisa 5 menit lagi untukku menikmati kesendirian di ruangan ini sebelum bel masuk kembali bordering.
Aku mencoba kembali fokus kepada pekerjaanku, kuukir dengan teliti grabah didepanku ini. Detail-detail kecil selalu menjadi cirri khasku.
***
Menyusuri warung-warung disekitar tempatku sekolah tidaklah melelahkan. Lokasi tempat kripik bunda dititipkan paling jauh hanya di sekitar Rumah sakit Saiful Anwar. Untuk menghemat ongkos aku tidak pernah menggunakan kendaraan umum. Kendaraan pribadiku kemana? Aku tidak punya. Mungkin bisa dibilang bahwa hanya aku seorang yang pulang pergi disekolahku yang menggunakan angkot. Karena memang rata-rata mereka bermobil dan bermotor. Sering berjalan kaki juga membuat badanku sehat, bukan seperti yang dikatakan hilman tadi pagi bahwa lemakku akan menumpuk. Badanku tetap terjaga atletis dengan kulit yang mulai menghitam karena sering berjalan di bawah terik matahari.
Sampailah aku di warung terakhi tempatku mengambil uang. Warung ini milik bu parmi, seorang ibu-ibu separuh baya yang sangat ramah sekali. Seperti yang kukatakan tadi warung beliau tepatnya berada di belakang rumah sakit umum saiful anwar.
“bulek, mau ambil uang kripik.” Sapaku sopan dan hendak mengukarakan maksud dan tujuanku kemari.
“oalah Dirga, bentar yo, sudah abis kripik e, besok diantar yo dir. Ucap bu Parmi seraya menyerahkan uang lembaran 150 ribu kepadaku.
“duduk dulu dir, pasti kamu capek jalan jauh.” Tawar bu parmi.
“nggak usah bulek, aku langsung aja, sudah biasa jalan kok.” Pamitku.
“loh loh sudah tak buatno es jeruk ini loh, gratis.” Bujuk bu parmi.
“oalah bulek kok repot-repot.” Ujarku kembali duduk dan menikmati es jeruk buatan bu parmi. Sama seperti rasa es jeruk biasanya.
“hebat ya, masih SMA tapi dah berani jadi pengusaha kripik.” Celetuk Mas-mas yang duduk disampingku. Dari pakaiannya sudah pasti dapat dikenali bahwa dia adalah salah satu tenaga medis di Rumah sakit depan warung.
“wah enggak dok, Cuma bantuin bunda buat kebutuhan sehari-hari.”
“itu yang hebat, jaman sekarang jrang sekali anak muda seperti kamu mau bentu dan ngerti keadaan orang tua, semuanya hanya menuntut saja.”
“gak semua seperti itu dok, masih banyak kok remaja-remaja baik yang sedang berjuang untuk kehidupan keluarganya di luar sana.”
“bijaksana sekali kamu.”
“terima kasih dok.”
Pandanganku yang menatap jalan yang cukup padat ini tidak lepas dari mengawasi gerak gerik manusia ynag tertangkap mataku. Duggggg… Aku melihat Mobil Sedan City milik Hilman dikendarai oleh Cowok lain dengan hilman di sampingnya sedang melintas, Istimewanya dia sedang bersama cowok lain, bukan Ciko. Aku mencoba menghubungi Hilman melalui pesan singkat.
“man lagi dimana? “ selang beberapa menit pesanku dibalas.
“masih di timezone yank, ciko masih ngajak taruhan basket nya.”
“oh gitu, yaudah deh, tadi aku liat mobil kamu lewat, mau aku berhentiin tapi kok tak liat bukan kamu yang nyetir.”
Lama balasannya dari Hilman.
“oh itu td mobil di pinjam kakaknya Ciko.”
“oh ya? Kayaknya muka mas Dino gak seperti td itu.”
“iya beneran yank, tadi Dino ikut kita ke Matos. “
“kok aku juga liat kamu di samping nya mas-mas itu ya, oh mungkin mataku ae yang rabun.”
Tidak beberapa lama setelah SMS itu terkirim, masuklah panggilan Telepon dari Hilman. Namun aku sedang tidak mood membahas masalah ini lagi.
“wah kamu nyeremin ya.” Kata dokter di sampingku itu.
“haaa?”
“iya, tadi kamu terlihat ceria, terus tegang, terus ada guratan marah, terus sekarang datar.” Ucapnya polos.
“hahahahah dokter nih bisa aja, aku kan emang jago acting dok.”
“haha tuh kan sekarang ketawa ketiwi.”
“lah dokter lucu.”
“hehehheh”
“yowes bulek mas dokter, aku pamit ya.”
“eh pulang ke daerah mana?” tanya dokter tersebut.
“Arjosari dok.”
“Ayo bareng saya, saya bawa motor.”
“Wah aku gak punya uang banyak dok kalo mau begal aku.”
“hahah lambemu, aku bukan orang jahat yo.” Jawabnya terkekeh.
“aku mau liat pabrik kripik mu” lanjutnya
“bukan pabrik dok, Cuma industry rumahan biasa.”
“Podo ae” ujarnya sambil keluar dari warung menuju parkiran belakang RS ini. Aku mengikut dari belakang. Sedikit ada rasa canggung menerima bantuan dari orang tidak dikenal. Namun aku ingat kata Bunda bahwa semua orang itu baik, Cuma keadaan yang membuat mereka tidak baik.

***
“Nama kamu siapa” pecah kebisuan dokter ini ketika kami sedang berada diatas motor vixion miliknya.
“Dirga dok. “ jawabku.
“Jangan panggil dok dok lah, aku lagi gak dinas, panggil aja Rio, ya mas Rio.” Tawarnya.
“Oke mas Rio. Maaf aku ngerepoti mas Rio.” Ujarku berterus terang.
“gak apa-apa dir, daripada aku pulang sendiri ke rumah, kan lebih asik ada temannya. Btw kamu sekolah dimana? Seragammu bagus, anti mainstream.”
“aku di SMA Swasta Katolik mas, di daerah ijen sana. Iya memang kalau hari kamis gini seragam kita batik coklat mas.”
“Wah sekolah orang tajir banget tuh, berarti kamu pinter dan kaya ya bisa masuk sekolah swasta favorit.”
“Gak juga mas, aku anak orang gak mampu, bersyukurlah bisa ngerasain sekolah dengan fasilitas oke.”
Sampailah kita dilampu merah Blimbing. Daerah yang cukup macet jikalau sore hari menjelang, hal yang biasa karena sekarang tepatnya jam pulang kantor.
“mas aku numpanng nyanyi yo.” Ujar salah satu pengamen cilik yang sedang mengais rejeki di pertigaan lampu merah ini.
“lek apik tak keki 5 ewu “ kataku menyemangati. (kalau bagus kukasih 5 ribu). Kuamati wajah mas Rio hanya tersenyum-senyum saja melihat aku yang menggoda anak kecil ini.
Mulailah dia memetik ukulelenya dengan cukup mahir. Menarik juga permainan anak kecil ini, sungguh menghibur. Ia membawakan lagu Laskar pelanggi dari Nidji. Cocok sekali menggambarkan dirinya yang seakan tiada lelah mengais rejeki dari belas kasihan pengendara-pengendara ini. Di tambah dengan celana merah khas seragam anak SD yang ia kenakan dengan atasan baju kaos lusuh ia menyanyi dengan irama yang lucu di tambahin dengan goyangan-goyangan simple ala anak kecil.
“hahaha… “ pecah juga suara mas Rio melihat ulah pengamen ini.
Tidak bisa dipungkiri memang, kadang mereka memberika warna tersendiri bagi kehidupan jalanan yang menarik ini. Kuberika uang selembar 5 ribu rupiah. Dia tampak senang. Dia berceloteh dengan polosnya.
“biasanya lek 5 ewu itu aku nyanyi 5 lagu mas. Di tambahi ora iki?” (biasanya kalo lima ribu itu aku nyanyi 5 lagu mas, di tambahin lagunya gak ini?)
“gak usah, kamu jangan main terus, belajar, katanya kalo besar mau jadi tentara.” Ujarku menasehati.
“halah mas Dirga, kan aku seneng nyanyi mas, lagian kan lumayan loh dapet duit.” Dia merajuk, haha aku memang cukup akrab dengannya. Dia ridwan, pengamen kecil yang tinggal di daerah blimbing ini. Memang awal mula kenalan kita secara tidak disengaja. Saat dia mengamen didalam angkot yang sedang kutumpangi ada salah seorang penumpang yang mengusirnya dikarenakan mengganggu. Aku langsung tegur saja ibu-ibu sok itu yang tidak peka terhadap kejamnya hidup orang lain. Aku turun meninggalkan angkot itu dan mengejar anak kecil yang ketakutan dibentak ibu-ibu tadi. Darisanalah aku kenal dia.
Saat lampu telah hijau dan perjalanan kamu kembali lancar,, mas Rio menanyakan prihal kedekatanku dengan pengamen tadi.
“kamu kok bisa kenal sama anak kecil tadi itu? Keliatan akrab banget lagi.”
“iyalah diakan adekku. “ jawabku ngawur biar pertanyaannya tidak semakin panjang. Namun dugaanku salah, jawaban asalku tadi semakin menimbulkan tanda tanya besar di benak mas Rio.
“loh kok bisa adekmu dibiarin ngamen. Lagian kamu kan sekolah di sekolah elit pasti keluargamu cukup mampulah kasi uang jajan ke dia.”
“hahahaha dia adek ketemu gede mas. Aku kenal dia 3 tahun lalu saat aku kelas 1, dia pernah diusir ibu-ibu di dalam angkot gara-gara berisik. Sejak saat itu aku akrab sama dia dan sering bantuin dia belajar kalau dia ada PR.”
“wah suanggaaarrr, aku bener-bener gak nyangka.”
“halah biasa aja mas, dia juga yang mau belajar, kalau dia gak mau ya aku gak maksa.”
Perbincangan basa basi masih berlanjut. Hingga sampailah kita pada gang perumahan kecil dimana aku tinggal.
“belok situ mas, di blok yang pinggir sawah.” Pintaku dan mas Rio menuruti dengan membelokan motornya menuju jalan perumahan ini. Sepertinya dia memang hafal daerah sini, secara Singosari terletak setelah Arjosari ini.
“itu yang warna krem mas.” Berhentilah kita didepan rumahku. Rumah sederhana kami.
“ini rumah kamu?” Tanyanya mengerutkan kening.
“iya , jelek ya, kan q dah bilang kalau aku anak orang gak punya.” Jawabku sambil tersenyum.
“tapi kok bisa sekolah di sekolah itu, kan gak murah.”
“banyak persoalan yang gak semua orang harus tahu mas, termasuk tentang hidupku.” Jawabku diplomatis.
“hmmmm, iya deh, aku balik.” Jawabnya datar. Sepertinya ia tidak terima jika penasarannya tidak terjawab dengan baik. Tapi biarlah..
“oke mas thank you, sorry ngerepotin.”
“gak masalah.” Ia melajukan motornya menuju sisi jalan lainnya di perumahan ini.
***
Didepan puntu terdapat sepasang sepatu. Sepertinya bunda ada tamu. Tapi kulihat didepan tidak ada kendaraan sama sekali.
“So..re.” kataku tercekat ditenggorokan. Ngapain dia datang. Aku sedang malas berbicara dengannya.
“Pulang sama siapa?” tanyanya dengan nada marah.
“mana bunda?” balikku bertanya, dasar tidak tahu sikon,memulai perang dirumahku. Bahaya kalau bunda sampai mendengar ini semua.
“kewarung, beli kue. Itu tadi siapa?” tanyanya lagi dengan pertanyaan yang masih belum kujawanb dari tadi.
“huh dasar ngerepotin orang saja, kasian bundaku lagi sakit.”
“itu siapa yank.” Desaknya
“gak usah yank-yankan, itu pacar baruku.” Jawabku asal. Mata hilman terbelalak tidak percaya, bagaimana tidak pastilah dia merasa minder dengan mas Rio baik secara fisik maupun secara status.
“jangan bohong a yank, kan kamu masih pacarku.” Katanya dengan intonasi mengiba.
“lah kan udah selesai kita, lagian kamu kan sudah dapet yang baru.” Jawabku sambil meletakkan sepatuku di rak sepatu dekat pintu.
“itu Cuma temen yank, baru kenalan.” Ia mencoba membela diri.
“wah sayangnya aku gak suka tuh dibohongin, aku kan gak pernah neko-neko sama kamu, kamunya aja yang nakal.”
“maafin aku yank, aku loh sayang kamu, ojo gini a.” merajuknya.
“sory kayaknya km tadi dah liat orang yang lagi dekat sama aku, jadi sudah jelas toh kalo kamu sudah gak ada di hatiku.” Jujur saja sakit menyatakan ini kepada Hilman, karena aku sebenarnya memang masih sayang sama dia, namun apa boleh buat, bohong adalah penyakit yang tidak akan sembuh, dan toleransi adalah obat yang dosisnya tidak akan naik.
Hilaman langsung memakai kembali sepatunya. Dia terlihat marah sekali denganku. Aku biarkan saja seperti apa maunya dia, toh dia yang memulai ini semua.
“Tak rusak hubunganmu sama dia.” Ujarnya sambil berlalu.
Wah bisa panjang nih urusannya kalau Hilman beneran bertindak seperti itu. Secara aku dan mas Rio kan juga baru kenal dan gak ada hubungan apa-apa, tidak bertukar kontak telepon juga. Semoga itu hanya gertakan sambal dari hilman. Aku lihat Hilman memakir mobilnya cukup jauh dan tidak terlihat dari depan rumahku. Cerdik sekali strateginya, dia hafal jika aku melihat mobilnya pastinya aku akan lama pulang ke rumah.
Hilaman terlihat sekali cemburu dengan mas Rio. Mas Rio memang jauh lebih ganteng dan gagah dari dia. Hilman hanya menang putih karena dia keturunan jepang saja. Cakep sih Cuma bad attitude bisa ngerusak segalanya.
***
Pilihan Yang Berat
Diawal Oktober yang mulai berhembus angin-angin dingin khas musim penmgujan ini paling enak dengan menyeduh the hangat. Tidak lupa kubuatkan the tawar hangat untuk bunda. Rintik-rintik hujan diluar rumah mewarnai kesenduan malam yang semakin mencekam.
Aku duduk diteras rumah sambil memandangi hujan yang malai tanpa malu lagi untuk turun. Aku tidak terlalu suka hujan, karena hujan selalu menghadirkan suasana duka. Seolah langit menangis menatap kebengisan manusia dimuka bumi ini.Bunda ikut duduk menyusulku di teras sambil menikmati segelas the di tangan kita masing-masing. Bunda masih tampak cantik walau usianya sudah tak lagi muda. Balutan busana santai khas ibu rumahan dan sebuah syal merah darah bertendang asik dileher bunda. Rambutnya digerai manja sepanjang bahu nya. Sunggu cantik bundaku. Ia selalu berdandan sederhana. Sangat berbedda dari waktu ketika adanya Ayah di dunia ini. Penampilan bunda selalu didukung dengan barang-barang mewah nan glamour. Tapi sekarang bunda tetap cantik dengan balutan busana sederhana ini.
“dir, kamu sudah kelas 3, sudah tau mau nerusin kemana dek?”
“belum tahu bun, liat nanti saja, aku mengalir aja kemana takdir akan membawaku.”
“hehe anak bunda memang bijak, ikuti apa kata tuhan ya dek, tuhan pasti tunjukan yang terbaik untuk kita.”
“iya bun” jawab ku mengiyakan pernyataan bunda yang memang benar adanya. Aku berserah bukan berarti pasrah.
“besok adek pulang jam berapa?”
“biasanya jam 1 bun kalo jumat, soalnya ada doa bersama di sekolah.”
“oh jam 1.” Hanya itu saja pernyataannya.
***
Pelajaran hari ini berlangsung cukup lancar dengan materi-materi pra UN yang diberikan oleh beberpa guruku. Kami di kelas 3 tidak lagi ada pelajaran. Semuanya telah dilibas habis ketika kelas 1 dan 2 sehingga di kelas 3 kita hanya mempersiapkan diri dengan soal-soal yang akan di Ujiankan nanti. Pelajaran usai pukul 11, seperti biasanya siswa diberikan waktu istirahat sebelum dimulai jam berdoa bersama. Aku yang memang sedari dulu tidak pernah membeli makanan di kantin memang jarang sekali menginjakan kaki di ruangan itu, hanya sekedar mengambil uang jualan kripik bunda di buNaris saja. Aku kembali melangkah menuju ruang kesenian, biasanya di hari jumat aku memang memberikan pelatihan bagi tim art madding 3 Dimensi di sekolahku, karena dulunya aku yang memegang jabatan sebagai ketua devisi art madding 3d. Mading 3D sekarang banyak diperlombakan, oleh karena itu aku berperan mendampingi pak Aswani untuk memberikan bimbingan kepada adek kelasku. Biasanya hanya 3-4 orang saja yang menjadi tim art di madding 3D.
“halo semuanya.” Sapaku pada mereka yang sedang memandang satu leptop dikeroyok berempat.
“kak dirge, lihat sini kak, ada kompetisi di UB, dari fakultas Ekonomi dan Bisnis.” Ujar Martino salah satu dari adik bimbinganku.
“oh ya, temanya tentang apa.” Jawabku sambil meletakan tas ke rak biasanya dan menuju kearah mereka.
“ini temanya tentang pajak kak.” Kali ini Frans yang menjawab.
“wah kalau pajak seru nih, kebetulan kan kalian anak IPS semua, jadi ngertilah gimana konsep yang bakal kalian bawakan nanti.”
“kalau aku sih pinginnya kosep tata kota kak, kan tata kota tuh seperti pembangunan ini itunya selalu ada pajaknya.” Martin berpendapat.
“pajak identik sama pembayaran, gimana kalau kita konsepkan kemana aliran pajak itu akan ditempatkan.” Kali ini Debora yang berusul. Dia satu-satunya tim art yang cewek. Aku menatap salah satu orang yang sedari aku datang tadi hanya diam saja. Ya itu Hilman. Sejak kejadian minggu kemaren dia tidak pernah lagi menyapaku. Aku tidak masalah dengan keadaan ini. Toh bentar lagi aku lulus. Dia masih ada setahun lagi yang harus di tempuh.
“kalo aku boleh usul nih ya, konsep kalian tuh keren , dikolaborasikan aja, nanti konklusinya mmengapa aliran pajak itu tidak semuanya didistribusikan, nah kan tahun ini lagi ngehits tuh kasusnya penggelapan pajak oleh Gayus Tambunan, kalian buat saja konsepnnya seperti itu.”
“wah keren. Asik .. boleh itu kak, ayo kita gambar konsepnya.” Ujar Frans dengan riang. Ketiga anak ini sangat bersemangat, Cuma hilman saja yang nampak diam membisu.
“eh kamu, ambil kertas A3 di rak itu dong, sekaligus bawa pensil dan penggarisnya. “ perintahku ke Hilman. Dia hanya menatapkku dan berdiri mengikuti perintah dariku.
Aku mulau mengawasi mereka yang sedang menggambar konsep 2 dimensinya dulu sebelum diaplikasikan ke 3dimensi. Aku hanya menambahkan sedikit saja sebagai finishing dari konsep mereka. Mereka sungguh cerdas.. Untuk masalah gambar konsep 2 Dimensi, Hilmanlah memang yang paling jago. Tapi tidak untuk pengalikasian pada 3D nya. Dia bisa saja ngawur dan tidak sesuai konsep awal. Baisanya diperlombaan madding 3D, peserta hanya diperbolehkan mengerjakan 50% pekerjaan mereka di rumah dan 50% di lokasi lomba dengan durasi waktu yang telah ditentukan panitia.
Hilaman menggambar konsep dengan sangat apik, dia lihai sekali menggoreskan pensil di lembaran kertas dalam bentuk sketsa. Teman-temn tim yang lainnya hanya memandu gambar apa yang harus di gambar Hilman.
Usai 1 jam mereka mengkonsep dan sekaligus finishing nya. Kali ini kita sepakat untuk bertemu di kelas bakat minat hari sabtu esok. Karena memang biasanya hari sabtu hanya diisi kegiatan ekstrakulikuler.
“gimana sama dia.” Tanya hilman datar ketika ketiga temannya mulai meninggalkan ruang kesenian untuk menuju kapel. Aku biasanya memang akan datang terlambat.
“biasa, lancar-lancar aja.”
“hebat ya dia, masih muda, cakep, masa depan cerah, sudah mau ambil spesialis lagi.” Ujar Hilaman santai.
Dugs… bagaikan dihantam pemukul baseball. Dari mana dia tau informasi semua itu, aku saja tidak tahu banyak tentang Mas Rio yang dia maksud.
“wah kau mata-mata yang hebat ya.” Uajrku menutupi kegugupan.
Dia hanya diam dan berlalu begitu saja. Sepertinya dia memang serius dengan perkataannya.
Usai berdoa bersama, siswa diijinkan pulang kerumah masing-masing. Aku berjalan terlebih dahulu menuju gerbang. Setelahnya akan diikuti oleh anak-anak lainnya yang mulai berhamburan keluar sekolah. HP nokia express musicku bergetar. Kulihat ada sebuah pesan singkat masuk.
“Dek, samperin bunda di depan alun-alun ya, bunda bawa belanjaan.” Begitu isi SMSdari bunda. Langsung saja aku keluar gerbang. Kudapati apa yang tidak ingin kulihat sebenarnya.
“hai, yuk bareng.” Ujarnya seraya menyerahkan helm KYT hitam seperti wktu aku dulu menumpang motornya.
“ngapain kesini mas?” tanyaku.
“jemput kamu lah, mumpung aku lepas piket siang tadi.” Jawab mas Rio.
“aku mau ketemu Bunda di Alun-alun, mau bantuin bunda bawa belanjaan.” Jawabku menolak.
“yaudah ayo, bundamu kok yang nyuruh mas jemput kamu.”
“haaa.. kok bisa.” Aku terkaget takpercaya, darimana dia bisa kenal bunda.
“udah ayo, nanti aku certain.”
Baru saja aku ingin naik ke motor Vixion nya Mas Rio, keluarlah Hilman dari pelataran parkir, ia mnatap kamu berdua.
“man langsung pulang?” tanya mas rio.
“iya mas.” Jawab Hilman dengan senyum yang dipaksakan.
Wah bisa panjang nih masalah. Aku yang di bonceng mas Rio hanya diam menbisu, bingung memikirkan perasaan Hilman yang pastinya sangat sakit. Sorry Man.
“tadi tuh aku pesen kripik di bunda kamu buat oleh-oleh tanteku yang mau balik ke Kalimantan lusa. Kebetulan aku ingat kalo kamu punya usaha kriik pisang. Tapi sayangnya stok di rumah kamu lagi kosong makanya tadi aku antar bunda kamu ke pasar sambil belanja bahan-bahan kripik.” Dia menjawab tanda tanyaku dengan sendirinya.
Aku hanya meng owww kan saja.
Saat tiba di alun-alun, kulihat bunda sedang mengobrol bersama ibu-ibu penjual kacang di pelataran parkir alun-alun ini.
“wah ini toh anaknya, gagah sekali bu, mukanya bukan kaya orang jawa yo bu” ujar ibu penjual kacang itu kepada bundaku. Jelaslah, memang tidak ada darah jawa mengalir di darahku. Bundaku dari Nusa Tenggara barat yang bersuku bugis, dan ayah dari Sulawesi dengan darah peranakan portugis. Aku hanya senyum dan bersalaman dengan ibu penjual kacang itu. Kemudia disusul dengan mencium kedua pipi bunda Mas Rio hanya tersenyum melihat ulahku.
“Ayo bun pulang, kita naik angkot saja ya, biar mas Rio pulang duluan pakai motor.” Tawarku.
“Eh bentar dek, ada yang belum bunda beli, temani bentar ya.” Kulihat mas Rio hanya senyum-senyum saja. Uhh cepat pulang sana, bikin galau saja.
“ayo dah bun, keburu sore.”
Motor mas rio diparkir di Alun-alun tempat kita tadi ketemu bunda. Kemudia kita bertiga berjalan menyusuri pertokoan menuju pasar besar malang.
“loh bun kok masuk sini.” Kuliahat bunda menampakan wajah yang tidak mau diprotes. Aku menurut saja, alhasil masuklah kami ke Malang plaza, salah satu plasa yang banyak menjual handphne di malang.
Menujulah kami kelantai 3 dari plaza ini. Aku masih bingung apa yang mau dibeli oleh bunda, karena jelas disini itu tempatnya handphone bukan bahan makanan atau kue. Kami berhenti didepan salah satu konter. Bunda melihat lihat barang yang dijajakan oleh konter tersebut. Kemudia bunda menunjuk salah satu handphone mewah nan canggih. Untuk apa? Entahlah, aku juga tidak tahu, mungkin bunda Cuma ingin melihat saja.
Bunda melihat-lihat spesifikasi dari smartphone itu, dan dia sedikit berbicara dengan mas Rio. Spertinya mereka ada konspirasi. Aku hanya menjadi kambing cengok.
“Dek kamu suka enggak?” tanya bunda padaku menunjukan smartphone jenis Blackberry tipe tourch.
“bagus bun, Mas Rio mau beli?” tanyaku pada mas rio dan dia hanya senyum-senyum saja.
Aku diajak mas rio pergi menemaninya ketoilet, kebelet pipis katanya. Sekembalinya dari toilet kami berpapasan dengan bunda yang baru saja keluar dari kawasan handphone tersebut dengan menenteng tas berlogokan merk handphone dan nama konternya.
“selamat ulang tahun Dirga, semoga Allah dan Nirwana selalu menyayangimu sayang.” Ujar bunda sambil memberikan bungkusan handphone tersebut kepadaku.
“kan baru sebulan lagi dirge ulang tahun bun, kok dibeliinnya sekarang, lagian kan ini mahal banget pasti bun.” Protesku.
“gak papa, bunda takut gak sempat beliin kamu kado nantinya, lagian kalau bunda liat kamu sendiri yang belum pakai BB di sekolah kamu.”
“yaelah bun, mereka kan anak orang kaya, jadi gak seberapa uang mereka untuk beli hp begini.”
“mau diterima tidak?” tanya bunda tegas dengan menunjukan wajah yang tidakmau diprotes.
Aku hanya manggut-manggut sambil mengambil pemberian bunda.
“bun, kok doanya semoga nirwana selalu menyayangi sih?” tanya mas Rio kebingungan dengan doa bunda tadi.
“iya kan nama putra bunda ini Dirga Karya Nirwana.”
“wah keren ya bun namanya, berat, berarti dia harus menunjukan sikap yang baik-baik layaknya penghuni nirwana sana ya bun?”
“pastinya, itu doa ayah Dirga waktu memberikan nama itu ke putra semata wayang kami ini.”
Aku masih tidak menanggapi pembicaraan mereka yang mempersoalkan namaku yang beratlah atau apalah. Aku masih ragu menerima kado ulang tahun yang belum terjadi ini dari bunda. Akhirnya kami berdua pulang mengendarai angkot menuju kerumah kami. Hanya perlu oper angkot 1 kali. Malam hari ini aku akan bantu bunda membuat pesenan kripik dari mas Rio,biar bunda tidak capek.
***
Setelah semalaman membantu bunda untuk membuat 30 pack atau bungkus besar kripik pisang, akhirnya selesai juga packing. Memang selalu seperti ini, aku selalu bangun pagi-pagi sekali untuk membantu bunda membungkus hasil kripik kita yang telah ditiriskan semalam. 30 Pack bukan jumlah yang sedikit terlebih dengan ukuran besar. Biasanya kami hanya menjual ukuran kecil yang seharga 1500 hingga 2000 an saja. Namun jika harga paket bungkus besar kami menjualnya seharga 7000 hingga 10.000 rupiah.
Mengapa kami menerima pesanan yang sedikit dari masRio, tidak lebih hanya karena ingin memberikan kepuasan terhadap pelanggan dan mendapatkan kepercayaan akan kualitas kripik kami. Walau hasilnya tidak seberapa, namun sudah sepatutnya kami mensyukuri nikmat dari tuhan.
Hari ini aku memiliki jjanji pembimbingan divisi art madding 3 Dimensi. Kebetulan juga hari ini adalah hari ekstrakulikuler. Jadi mmulai nanti jam 8 pagi hingga siang kami akan mengaplikasikan konsep 2dimensi kemarin kepada bentuk 3 dimensinya. Pastinya juga di damping oleh devisi lainnya seperti bagian yang menuliskan isi dari madding-masing tersebut.
Kami memang terbiasa seperti ini, konsep nyatanya dulu yang jadi barulah mengisikan isian yang cocok dengan konsep ini. Jadi kami akan berkerja secara terorganisir.
Pukul 6.30 aku mulai melangkah keluar dari pintu rumah. “tuhan iringi langkah positifku hari ini, sukseskanlah..” ujarku dalam hati.
Perjalannan menuju ke sekolah diakhir pekan tidak sepadat hari hari lainnya, kini sedikit lenggang. Karena memang sedikit kendaraan yang berlalu lalang. Tidak perlu membutuhkan waktu lama hingga ku sampai di sekolah. Pukul 7.30 aku tiba di sekolah. Sudah banyak siswa-siswa lainnya dengan aktivitas ekstrakulikuler mereka masing-masing.
Langkahku pastinya tidak untuk menuju ke kelas, jadi langsung kuarahkan kaki ini menuju ruang kesenian. Kulihat telah berkumpul hampir semua anak-anak madding 3 dimensi. Sepertinya mereka semangat sekali mengikuti kompetisi ini.
“Pagi semua.” Sapaku ramah kepada mereka yang sedang asik berdiskusi.
“pagi kak.” Serempak mereka.
“kita lagi bicarakan konsep kemarin kak sama devisi konten, biar mereka juga bisa mempersiapkan isiann yang cocok buat konsep kita.” Ujar Martin.
“mana Drupadi?” tanyaku kepada anak-anak itu. Drupadi adalah Pembina devisi konten bersama bu Yesika. Drupadi sama sepertiku, dulunya kita satu tim jikalau ada kompetisi madding 3 dimensi. Dan pastinya aku sudah percaya sekali dengan kualitas isi tulisan dari Drupadi.
“kak dru masi otw katanya.” Jawab Jana, cowok binaan Drupadi kelas 1 itu.
Anak-anak devisi konten biasanya memang terdiri dari beragam kelas, tidak seperti devisi art yang mewajibkan kelas 2 untuk mengisinya. Seleksi yang ssering kami lakukan untuk mengisi keanggotaan dari Tim madding 3 dimensi juga sangat ketat. Baik dari segi art maupun konten. Camestry dari tim harus selaludi bentuk agar tim dapat kompak dalam menjalankan tugas masing-masing.
Aku membasuh tanganku agar bersih sebelum memulai aktifitas bersama mereka. Itu kebisasaanku.
“cie yang dibeliin hp baru sama pacar, kalo aku mah mana mampu.” Kata Hilman yang tiba-tiba muncul dan ikut mencuci tangannya disampingku.
“apa sih, sok tau banget.” Jawabku ciuek.
“iya kemaren si Rio itu kan pergi sama kamu buat belikan km hp kan, kemaren aku tanya kalian lagi di konter katanya.”
“sudah deh gak usah buat berita aneh-aneh.”
Makin kesini mulut dari hilman makin tidak bisa dijaga. Asal bunyi saja tanpa tahu bagaimana realitanya.
Aktivitas kami selama menyusun madding ini sangat mengasikkan. Aku lebih aktif bberbicara dengan martin dan Debora karena hanya mereka yang sepikiran dengan diriku dimasalah teknik ukir dan bentuk.
“tanggal berapa kompetisinya?” tanyaku kepada Debora ketika kami semua sedang beristirahat. Lelah juga rasanya mengerjakan madding ini, karena konsepnya adalah tata kota sehingga detail kecil yang ada juga pasti banyak. Di ruangan ini hanya tersisa aku, Debora, dan Hilman. Sisanya yaitu pergi kekantin untuk mengisi perut mereka masing-masing.
“Besok hari selasa kak, hari ini TM nya, entar biar si Frans sama Cristin yang pergi.”
“wah mepet ya, untung kita gerak cepat.”
“iya kak, informasinya sih juga yang lambat kita terima.”
“gak apalah, kalo memang professional ya dalam seharipun selesai kok sebenarnya 100% itu.”
“iya kak, untungnya ada kak Dirga yang bantu.”
“kalo aku gak bantu apa arti alumni dari tim art coba.”
“iya sih, eh kakak mau kuliah dimana nanti?” tanyanya. Sebenarnya aku males sekali membicarakan ini. Mengapa? Karena aku tidak tahu bunda punya uang atau tidak untuk biayaku kuliah nanti. Pastinya kuliah tidaklah murah.
“gak tau, masih belum mikir kesana.” Ujarku menghindar.
“masuk ISI aja kak, atau ke IKJ.” Saran dari Debora.
“liat saja nanti.” Jawabku. Aku mengeluarkan kotak makan ku yang sudah disiapkan bunda setiap harinya.
“masi aja bawa bekal, kaya bocah.” Celetuk Hilman. Aku hanya menatapnya serta menaikan alis sebelah.
“gak papa lagi, kan lebih sehat dan hemat, emangnya elu, boros gak tau diri.” Ucap Debora membelaku. Hilaman dan Debora memang teman sekelas, ditambah lagi mereka setim dalam tim art, maka pantas saja kalau mereka telah mengerti kebiasaan satu sama lainnya.
Aku keluarkan hp nokia express musicku, Hp baru dari bunda memang belum kusentuh dari kemarin. Bahkan belum kukeluarkan dari dalam kotaknya.
“mana hp barunya.” Celetuk hilman lagi. Ah nih anak mulut apa knalpot sih, bikin polusi aja.
“bukan urusanmu kan, urus saja hidupmu yang penuh sandiwara itu.” Ucapku cuek. Debora hanya ketawa mendengan omonganku.
Kegiatan mengurus madding hingga mencapai 50% sudah selesai. Tinggal mereka berjuang untuk penyusunannya di hadi H. aku tidak akan ikut serta karena aku bukan peserta lagi. Untuk urusan pendamping biasanya pak aswani yang akan pergi nantinya. Kita cukupkan pertemuan hari ini bersama mereka. Nanti sebelum mereka pergi bertarung aku akan membriefing mereka lagi untuk mematangakan hasil mereka nantinya. Jangan memandang kompetisi hanya sebastan menyabet juara, tapi jadikan kompetisi sebagai jalan untuk menambah pengalaman dan wawasan.
***
Minggu-minggu belajar terasa monoton namun mengasikan. Tidak ada yang istimewa dan special dari aktifitas sehari-hari ini. Bedanya aku sudah mencoba menggunakan hp pemberian dari bunda sejak minggu kemarin. Saat itu bunda memprotes kenapa ia tidak pernh melihatku menggunakan hp pemberiannya tersebut. Al hasil aku harus mulai membiasakan jari-jarriku dengan model hp baru ini.
Sabtu sore ini suasanya sendu sekali. Awan bergemuruh seolah menandakan hujan akan turun. Tapi entahlah, kadang hanya langit saja yang menampakan kepalsuannya. Aku sedang bermain bersama Barbie dengan mengajaknya berlarian di sawah. Dia terlihat senang sekali dengan kegiatan kami ini, sesekali aku abadikan tingkkah lucunya dengan kamera hp baruku ini.
Kami masih belum terlalu akrab dengn tetangga-tenagga disini, entah akunya yang jarang bersosialisasii atau karena merekanya yang jarang ada. Hanya beberapa kali kamu bertegur sapa. Di sebelah kanan rumahku ada pasangan keluarga muda. Namanya om Gerry. Ia tinggal bersama istrinya dan bayi mungilnya. Di sebelah kiri rumahku masih kosong, sepertinya rumah itu telaah lama tak berpenghuni.
Aku sudahi berlri-larian dengan Barbie di sawah ini, aku mengajaknya untuk pulang kerumah. Barbie tidak pernah diikat, jadi ia tidak pernah merasa terkekang dengan aktivitasnya. Aku lihat bunda tidak nampak di di depan rumah, seperti bunda sedang beristirahat didalam kamarnya. Akhir-akhir ini bisnis kami tersendat gara-gara banyak kemasan yang rusak dan akhirnya membuat kami rugi. Entah sengaja di rusak atau bagaimana kami juga tidak tahu. Mungkin itu yang membuat bunda lelah memikirkan masalah ini. Uang modal yang tadinya cukup banyak kini kian menipis. Hanya tersisa beberapa lembar ratusan ribu saja.
Hilman dan Mas Rio juga keduanya sudah menghilang jauh dari kehidupanku. Tidak pernah ada kabar sedikitpun dari mereka, begitupun aku yang enggan memberi kabar kepada mereka. Terakhir keduanya kulihat semakin akrab. Pernah sesekali ketika pulang sekolah kulihat mas rio mengajak hilman pergi bersama. Entahlah. Ini hanya dugaanku saja. Semoga mereka cocok. Sejauh hubunganku dengan hilman, kami hanya menganggap pacaran kami dulu sebatas teman dekat, tidak lebih.
“dek, bunda di kamar, nanti malam adek tidur sama bunda ya.” Pinta bundaku disela makan malam kami. Kasihan bunda. Tidak ada sanak saudara yang mau membantu kami ketika kesusahan. Coba dilihat dulu wkatu keluargaku masih berjaya, mereka bergiliran datang setiap harinya kerumah. Sekarang, sejak ayah meninggal tidak ada satupun yang menampakan batang hidungnya.
Kulihat mata bunda telah terpejam. Benar saja, bunda terlihat sangat letih. Setidaknya usaha kripik kami masih bisa berjalan walau banyak mengalami kerugian. Kutatap wajah bunda. Goresan urat kepedihan terpampang jelas di kerutan kening dan sekitar kelopak matanya. Bunda, sebersih itukah hatimu, hingga kau mau menanggung ini semua sendirian?Gusarku dalam hati. Selama kami hidup berkecukupan dulu, bunda tidak poernah lupa untuk selallu berbagi ke sesame yang membutuhkan. Begitupun sekarang, walau keadaan perekonomian keluarga kamu jauh dari kata cukup, kami masih terbiasa untuk membagi hasil.
“ingatlah rencana Tuhan itu lebih baik dari segala yang diinginkan oleh manusia.” Itu pesan bunda sesekali waktu aku mengeluh akan hidup yang tak berpihak pada kami.
Begitupun dalam setiap keinginan-keinginan lucu yang kadang kulontarkan, dan kini sering kali membuatku malu. Bunda mengajarkanku untuk selalu sadar diri akan keterbatasan kami, baik dalam segi tenaga maupun perekonomian. Jangan menuntuntut lebih dari apa yang ada di depan matamu.
“ingat, tuhan tahu apa yang sangat kamu butuhkan, bukan apa yang kamu inginkan, biarkan tuhan berkerja dengan caranya sendiri.”
Ah… Bunda. Dirimu bagaikan malaikat Seputih itukah hatimu bunda. Berbagilah deritamu denganku.
Entah mengapa malam ini aku merasa gunda gulana. Bunda, aku sangat sayang padamu. Ajari aku terus untuk menjadi ikhlas sepertimu. Jikalau aku telah siap menatap dunia, aku akan melangkah dengan kakiku sendiri.
Aku mulai berbaring di samping bunda. Kubenahi selibut bunda yang tidak berubah sedikitpun posisinya dari awal bunda berbaring. Untunglah, selama kami tinggal disini bunda sebelumnya telah akrab dengan tetangga lain blok. Namanya Tante Yuslina, dan suaminya Om Darwin. Bunda sering membantu mereka menjaga kedua anak mereka yaitu Denaline dan Carolina. Selama ini juga keluarga om Darwin amat baik mau direpotkan oleh kami dalam berbagai masalah. Om Darwin adalah rekanan kerja Ayahku dulu, dan beliau jugalah yang membantu kami untuk mencarikan tempat tinggal di rumah sederhana ini.
Malam ini mataku terasa masih terjaga dan enggan untuk terpejam. Anganku kembali terbang kemasa lalu dimana aku bunda dan ayah hidup sebagai keluarga yang sangat bahagia. Ya, bahagia dalam arti sesungguhnya. Walau rumah kami mewah dan hanya kami bertiga penghuninya, kami tidak pernah merasa sepi. Selain Jessica dan Barbie yang selalu membuat suasana rumah ramai, Ayah dan Bunda juga sering kali kedatangan tamu. Bunda sangat hobi sekali bernyanyi, dan rata-rata temannya yang datang adalah para musisi yang cukup terkenal di kota malang. Pernah sesekali Ayah dan Bunda mengadakan pesta. Sayang aku tidak pernah dijinkan untuk bergabung karena di pesta itu hanya ada orang-orang dengan minuman keras di tangan mereka, dan mulailah merancau mengenai bisnis yang tiada akhirnya.
Sebenarnya teman dari keluargaku buakan hanya sebagatas rekan bisnis ayah dan para musisi teman bunda. Tapi lebih dari itu, ada pula mas polisi ganteng yang bernama mas Heri, ada tukang bengkel tetangga depan rumah, ada juga pegawai bank dan lain sebagainya. Ayah dan Bunda mudah akrab dengan siapapun, dan siapapun itu juga pasti akan diundang untuk datang ke rumah kami.
Itu yang harus kutiru dari ayah dan bunda, mereka bisa bertahan ada didunia ini dengan meninggalkan kebaikan dihati orang-orang. Meninggalkan senyum di wajah orang-orang itu. Dan kini dengan keadaan keluarga kami yang amat buruk, bunda tak ingin meninggalkan duka di wajah mereka. Bunda tak ingin membebani mereka. Ah.. aku ingat satu lagi perkataan bunda yang menurutku amat sangat spektakuler.
“kita sudah pernah kaya, dan belum pernah miskin, jadi sekarang gantian, ada orang yang menjadi kaya, dan kita menjadi miskin, biar kita tahu bagaimana rasanya jadi kaya dan miskin. Adil kan?”
Wow banget kan kata-kata dari bunda untuk selalu menenangkan hatiku yang kadangkala gelisah diawal-awal keadaan kami dulu.
Baru sekitar jam 2 malam mataku terasa lelah dan ingin terpejam. Belum lama setelah mataku terpejam bunda membangunkanku. Bunda tak banyak bicara, dalam posisi tidur ku tadi, bunda memeluk ku. Kepala Bunda ada didadaku. Aneh sekali bunda pagi ini. Mataharipun masih enggan untukk menampakan dirinya karena asih terlalu dini untuk pagi.
“dek, kamu yang kuat ya, bunda yakin tugas bunda sudah selesai.”

-----bersambung------



mohon kritik dan sarannya ya teman-teman.

Comments

  • aaaahh ya ampun suka... lanjutt... banyak typo dikit2 tapi huaahh trenyuh dan bangga sih.. ini ibunya apa ngasih firasat apa ya... ya ampun jangan dooongg...
  • edited January 2016
    @putrafebri25 thank you bang, nanti siang aku update lagi, iya banyak typo baru ngeh .. hehe

    @Hajji_Muhiddin makasih om haji
  • selamat menikmati guys.... maaf jika banyak sekali typo .. gak kuat tahan tangis soalnya .. jadi teringat kisah masa lalu lagi ...






    Aku tidak mengerti apa maksud dari bunda ini. Aku balikan badan bunda dan tanpa terasa mata ini telah berembun. Bun, Bun, mengapa secepat ini. Aku lihat Bunda menarik nafas beratnya hingga dadanya berbenti bergerak. Dengan kondisi mata yang sedikit saja terbuka dan mulut yang sedikit terbuka pula. Akupun menangis sejadinya. Biar semua orang tahu. Biar semua orang menilaiku bagaimana. Aku tidak sanggup ditinggal bunda.

    Aku berlari meninggalkan rumah menuju ke kediaman om Darwin. Om Darwin harus menolong ku dan bunda. Aku teriak-terik kaya orang gila di depan rumahnya. Tante Yuslina yang tertaget dengan kedatanganku di pagi petang ini kebingungan akhirnya berlari karahku dan membukakan pintu gerbangnya. Aku menangis sesenggukan dipelukannya. Aku menceritakan apa yang terjadi. Tidak kalah syok, Tante Yuslina berteriak-teriak memanggil om Darwin dan langsung mengajakku berlaalri menuju rumah. Tuhan aku tahu Bunda sudah tak bernyawa lagi. Tapi tolong tuhan, aku masih belum terlalu kuat untuk ini.

    Om Darwin datang dengan mobilnya. Di rumah sudah ada aku dan tante yuslina serta beberapa tetangga yang tidak aku tahu namanya ikut turut menangis. Jasad Bunda diangkat oleh om Darwin menuju mobil. Aku hanya diam tak bergeming sedikitpun. Biarlah Om Darwin yang mengurus semuanya. Aku akan tunggu di rumah, aku masih meyakini bahwa Bunda masih tidur di kamar, bukan orang yang sedang di gendong Om Darwin tadi. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa air mata ini enggan untuk berhenti mengalir. Kian detik kian deras alirannya. Ya, aku tidak bisa mendustai kenyataan bahwa kini aku hidup sendiri, tidak ada yang akan ditunggu bunda untuk menuju pembaringan terakhirnya, maka akan kulakukan sesegera mungkin.

    Pukul 6 pagi Om Darwin datang bersama beberapa tetangga ku lainnya dengan mobil Om Darwin. Disusul oleh lobil ambulan di belakang mobil om Darwin. Ya, itu mobil ambulan yang membawa jenazah bundaku. Aku lihat bundaku di turunkan dari mobil. Aku telah membantu tetangga-tetangga untuk mengeluarkan kursi dan sofa dari ruang tamuku. Disana nantinya bunda akan didoakan untuk terakhirkalinya sebelum disemayamkan di tanah yang dingin.

    Aku mengambil hpku, sesegera mungkin kukirimkan SMS kepada Hilman dan Mas Rio.
    “Aku butuh bahu, bundaku berpulang.” Hanya kata itu yang mampu menggambarkan kondisi kerapuhanku saat ini.

    Tidak selang waktu lama, kulihat Hilman datang memasuki rumah dan menangis histeris. Aku miris rasanya melihat orang lain menangiss seperti itu. Setelah hilman mencium kening bunda, hilman beralih kearahku. Ia menangis sesegukan. Aku juga ikut menitihkan air mata.

    Setelah adegan mengaharu biru itu, aku bimbing Hilman untuk duduk sejenak di luar rumah. Dimana kursi-kursi ruang tamuku ditempatkan. Disana telah ada beberapa tetangga. Aku berikan air minum untuk Himan untuk sekedar menghilangkan rasa syok pada dirinya.

    “Dir, sini nak, Bundamu harus segera dimandikan.” Ujar tante Yuslina.

    “iya tan, tapi gaun sama peti Bunda bagaimana?” tanyaku resah.

    “sudah diurus sama om mu, sekarang ayo, kamu harus ikut mandikan.” Ajaknya.

    Aku pun menurut. Terima kasih sekali tante dan om yang telah membantuku dalam mengurusi pemakaman Bunda.

    “bisikan ditelinga Bundamu kalau kamu ikhlas, biar mata dan mulut bundamu bisa tertutup rapat.” Bisik tante Yuslina d telingaku. Aku menurutinya saja. Walau dalam hati masih belum ikhlas dan siap ditinggal seorang diri oleh bunda.

    “bun, adek ikhlas, bunda yang tenang ya, tunggu adek di samping tuhan. Adek gak papa kok, adek kuat bun.” Begitu aku membisikan kalimat tersebut dengan tertatih ditelinga bunda sembari menutup kedua kelopak matanya dan mengatupkan bibirnya.

    Tiba-tiba terukir senyum tipis diwajah Bunda. Akupun ikut tersenyum samar. Bunda, selamat jalan.

    Tamu-tamu dan rekanan ayah bunda telah hadir di acara doa terakhir untuk bunda. Ada mas Rio juga. Ia terus saja merangkulku dan memelukku. Tidak lepas dari saat ia datang tadi. Ia datang ketika bunda telah selesai dimandikan dan sedang dikenakan gaun putih. Dan lagi-lagi, hanya aku yang bisa melemaskan persendian bunda agar mampu masuk kedalam gaun indah itu. Bunda sungguh cantik. Semua orang kembali menangis ketiika melihat senyum di bibir bunda.

    “pergi dengan damai ya kak.” Ujar tante Yuslina sambil menahan tangis.

    Mas Rio hanya menagis di pundakku. Dia tidak mau melepaskanku sedikitpun. Selang beberapa saat, datanglah rombongan teman-teman dan guru-guru dari sekolahku. Cukup terhibur dengan kehadiran mereka, terlebih dengan adanya Putri, Anggun, Yohana, Dan Yosika yang sangat gokil. Aku tidak begitu akrab sebetulnya dengan mereka. Namun mereka tahu cara mengihibur diriku yang sedang kehilangan.

    Doa terakhir untuk bunda berjalan sangat khidmat, begitu pula sakramen perminyakan yang di pimpin oleh salah satu pemuka agama. Teman-teman sekolahku ikut serta mendoakan bunda. Terus diikuti dengan nyanyi-nyanyian persembahan yang di pimpin oleh om Darwin. Kami menyanyi lagi The Prayers untuk mengingatkan bahwa tuhan yang berkerja dengan cara yang amat indah untuk membawa kita di keabadian. Hilman tidak ikut serta dalam doa ini. Dia ikut bersama beberapa tetanggaku untuk mempersiapkan makam Bunda.

    Segala prosesi persiapan pemakan telah usai, bunda pun terlihat nyaman di petinya. Kini kita beriringan membawa bunda ke pemakan yang tidak terlalu jauh dari kompleks perumahan ini.. Awalnya bunda tidak boleh di makamkan disini karena kami bukan penduduk asli di prumahan ini, kami hanya mengonntrak, jadi KTP kami pun masih belum di urus kepindahannya. Namun atas usaha besar Om Darwin dan sedikit protes dari beberapa rekanan bunda akhirnya bunda bisa juga di makamkan di sini. Pastinya dengan uang pelican juga. Ckck dasar, orang sudah meninggal saja di persusah, tak berprikemanusiaan.

    Pemakaman ini tidak telalu ramai penduduknya. Tapi sekarang tampak penuh dengan pelayat. Bunda telah siap dikebumikan. Aku di suruh menyumbangkan persembahan terakhir untuk Bunda. Aku berbicara dengan salah satu teman bunda Om Jackie yang kukenal sebagai musisi salah satu café.

    “om bantuin iring ya lagu lirih dari arilaso.”

    “kok lagu itu?” tanyanya protes.

    “gak apa-apa om, ini tanda cintaku untuk bunda, dulu bunda suka sekali lagu ini, katanya ini lagu cintanya untuk Ayah." ujarku lirih.

    Mulailah petikan gitar mengalun merdu mencekap suasana yang duka ini.
    Para pelayat sudah tak kuasa menahan tangisnya lagi. Beberapa temanku juga sudah pecah bendungan air matanya.

    “Kesunyian ini
    Lirihku bernyanyi lagu indah untukmu
    Aku bernyanyi

    (notasi demi notasi berhasil kuraih untuk baik pertama ini.)
    (susasan semakin terlihat mencekam, aku sudah tidak kuasa membendung kesedihan ini sendiri.)

    Engkaulah cintaku
    Cinta dalam hidupku
    Bersama rembulan..

    Aku menangis
    Mengenangmu
    Sgala tentangmu ohhh
    Kumemamnggilmu dalam hati lirih

    (tumpah sudah segala jeritan hatiku ini, aku lemah bunda aku tak sanggum melangkah seorang diri. Kemana semangat yang akan kau berikan padaku ? aku tak mampu bunda.)

    Engkaulah hidupku
    Hidup dan matiku
    Tanpa dirimu

    Aku menangis mengenangmu
    Sgala tenantang mu ohhh ku memanggilmu dalam hatiku..

    Aku bernyanyi mengenangmu
    Kumemanggilmu dalam hatiku

    Aku bernyanyi
    Mengenangmu
    Sgala tentangmu
    Ku memanggilmu dalam hati lirih
    Ku memanggilmu dalam hati lirih
    Kukenang dirimu
    (Mas rio langsung memelukku usai ku nyanyikan lagu paling sedih yang kurasa ini. Lagu untuk kekasih hatiku, bundaku tercinta. )
    Kulihat beberapa pelayat termasuk teman-temanku juga mengusap air mereka yang lembab. Aku sudah tak kuat lagi melihat bunda terbaring seorang diri di tanah dingin ini. Tuhan kemana takdir akan membawaku melangkah. Aku percaya tuhan akan jalanMu, namun apakah sesakit ini tuhan? Apakah semenyedihkan ini jalan yang harus aku tempuh tuhan?

    Usai ku menyanyikan lagu ku untuk Bunda, disusul dengan lagu-lagu rohani lain yang mengiringi kepergian bunda. Kebetulan om darwin adalah penyanyi Gereja. Jadi ia tahu cara memimpin prosesi pujian ini.
    lagu-lagu yag di lantunkan hanya untuk menghibur keluarga yang ditinggalkan, hanya untuk mengingatkan yang hidup bahwa kematian bisa datang kapan saja. Semua suasana duka terpancar dari sekeliling. Semua ikut menyanyi dengan suara parau. Lilin-lilin yang telah dinyalakan juga menambah nilai duka yang mendalam ini.

    Satu persatu pelayat mulai menggalkan pemakaman ini, tapi tidak untukku. Mereka satu persatu menepuk bahuku menguatkanku, bahkan beberapa rekanan ayah bunda memelukku. Ya mereka tahu bagaimana nasibku kedepannya.

    Aku masih ingin disini, walau hujan ikut mengguyurku dan belahan bumi ini aku tidak peduli. Aku merasakan kesedihan langit pula melihat semua yang telah kualami. Aku senang menangis di bawah guyuran hujan ini. Aku menikmatinya. Aku merasa langit masih merangkulku dengan segala duka yang ku panggul sekarang.

    Malam hari ini terlihat sepi sekali di rumah. Mas Rio dan Hilman enggan meninggalkanku dalam kondisi seperti ini. Masih rapuh untukku bisa berdiri sendiri. Aku perlu waktu. Aku masih ingin bersama bunda yang telah terkubur dalam tanah yang masih memerah ini.
    Air mataku rasanya sudah habis tak tersisa. lelah rasanya batin ini menghadapi hidup yang begitu tidak adil. Sekuat itukah aku tuhan?

    ***

    Sepulang dari makam hingga saat ini aku masih duduk di tempat yang sama. Ya di ruang keluarga ini. Mataku terpejamm. Semua memori indah akan kebersamaanku dan bunda seperti gulungan rol film usang yang terputar dengan sendirinya. Rumahku sudah rapi kembali dengan bantuan Mas Rio dan Hilman. Mereka sangat berjasa terhadapku.

    Masa akan berjalan terus, akankah aku tetap terpuruk seperti ini? Aku melihat bunda hadir dalam bayanganku mengenakan gaun kematiannya. Ia tersenyum dan menganggukan kepala. Ya bunda aku akan kuat seperti kataku tadi. Istirahatlah dengan tenang.

    Aku buka mata dengan berat karena masih ada sisa butir-butir air mata yang mengering. Kutatap hilman dan mas Rio tampak kelelahan kini sedang terbaring di kursi ruang keluarga. Mereka saksi keterpurukanku.

    Aku bangkit dan menuju kamar bunda. Aku ingin tidur dengan mencium aroma tubuh bunda yang tersisa. Dengan segala beban yang amat berat ini ingin kucurahkan padamu bunda.
    Disana aku kembali terisak dalam keterpurukanku, aku takut , aku lemah , aku rapuh.

    ***

    Ketika pagi menjelang,ku coba untuk menatap segala berkah yang masih tuhan curahkan kepadaku. Walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa hatiku hampa. Aku melangkah keluar dari kamar bunda. Kudapati masRio dan Hilman tidur berdampingan di karpet ruang keluarga. Matahari belum begitu nampak. masih malu-malu mengintip dari peraduannya. Aku coba untuk membangunkan Hilman dan mas Rio. Siapa tahu mereka ada kegiatan pagi ini. Aku tidak ingin lebih merepotkan mereka lagi.

    Aku guncangkan badan mereka bergantian. Aku coba juga untuk tersenyum ketika mereka menatapku. Aku ingin menunjukan kepada bahwa aku baik-baik saja.

    “sudah pagi aja ya,tidak terasa,padahal masih ngantuk.” Ujar mas Rio dengan suara parau.

    Aku hanya tersenyum tulus. Hilman masih mengucek matanya dan sesekali menguap lebar. Pagi ini aku harus melangkah menuju jalan yang harus kutapaki seorang diri.

    “man, kamu sekolah kan?”

    “iya, tapi kalau kamu masih butuh kamu aku bisa bolos kok.”

    “nggak usah lah,aku gak papa,Cuma hari ini aku masih belum masuk sekolah aja, besok mungkin sudah masuk.” Ujarku.

    “aku juga dinas siang hari ini.” Sahut masRio.

    Usai mereka berbenah tanpa mandi mereka satu persatu meninggalkan rumahku. Satu pesan mereka,
    “kalau ada apa-apa jangan sungkan menghubungi.” Aku iyakan saja jawaban mereka.

    Aku lagi ingin sendiri memikirkan langkah kedepanku seperti apa.
    Rumah kembali sepi, Barbie juga tampak sedang tak bersemangat untuk beraktivitas. Aku membersihkan badanku yang sangat lengket sekali karena kemarin tidak mandi seharian. Guyuran air dingin ini semoga dapat melunturkan duka yang masih terpendam dalam dilubuk hatiku. Aku sedang tidak terpikiran untuk membicarakan cinta. Cinta? Entahlah aku pusing. Aku masih nyaman dengan kehadiran Hilman dan Mas Rio lagi di kehidupanku. Walau tidak mungkin bertahan lama.
    Sekarang bagaimana caraku bertahan hidup dengan tidak adanya tabungan peninggalan bunda? Hanya rumah sewaan ini yang masa sewanya berakhir Agustus tahun depan. Semoga aku bisa memanfaatkan kemampuanku untuk bertahan seorang diri ini. Aku sudah tidak ingin merepotkan siapa-siapa lagi. Cukup mereka membantu ketika pemakaman bunda kamarin. Aku akan kembali membuat keripik pisang.
    Setidaknya hasil dari keripik pisang dapat kugunakan untuk hidupku bertahan sesaat.

    Air ini cukup menyegarkan sesaat. Aku coba menuju kamarku. Senyum tipis yang hambar tersungging dari bibirku. Ya aku harus membangun jalinan pertemanan dengan baik mulai sekarang. Sikap cuekku harus kurubah, aku tak ingin kehilangan teman-temanku lagi. Aku tak mau merasa sendirian didunia ini.

    Aku tidak yakin bisa bertahan lama di kota ini. Satu yang harus aku yakini, aku harrus lulus secepatnya dan melanjutkan hidup. Mengikuti saja bagaimana takdir akan membawaku. Biaya sewa rumah ini cukup tinggi untukku seorang diri.

    ***
    Malam hari ini aku cukup kelelahan. Membuat keripik pisang kemasan kecil untuk kujual kembali kewarung-warung. Setidaknya uang penghasilan dari kripik ini bisa untukku makan sehari-hari. Untung saja untuk masalah sekolah bunda telah melunasinya dulu ketika rumah mewah kami di jual. Kurasa bunda telah mempersiapkan segalanya sebelum beliau pergi. Satu yang bunda yakini, aku pasti bisa bertahan dan mencoba untuk menjadi sukses kelak. Amin.

    Setelah 50 bungkusan kecil ini aku masukan ke tempat yang bersih aku membaringkan badanku di sofa. Sedikit bermain dengan Barbie. Setidaknya dia masih mau dan setia menemaniku. Esok sebelum berangkat sekolah akuakan keliling kebeberapa warung untuk menitipkan daganganku sekaligus mengambil uang jualan kemarin yang belum sempat aku ambil.

    Mataku mulai lelah dan ingin terpejam. Ada suara motor berhenti di depan rumah. Seingatku aku tidak memiliki janji dengan siapapun malam ini. Tok … tok.. tok…. Pintu rumahku di ketuk oleh tamu tersebut. Tanpa meyahut aku berjalan menuju pintu depan. Kulihat ada mas rio yang tampak lelah masih dengan baju kerja yang rapi.

    “ada apa mas?” tanyaku sopan walau mataku mulai terkantuk.

    “kok suami pulang gitu sambutanya.” Canda mas rio. Aku tahu dia tidak berniat apa-apa, hanya sekedar menghiburku yang baru saja kehilangan.
    “ah mas ngaco, ayo masuk.” Acuhku, badanku letih sekali.
    “mas mau tidur disini. Mau temenin kamu.” Ujarnya seraya meletakan tas kerjanya.
    “iya aku masukin motornya dulu. Mana kuncinya?” dia melemparkan kunci motor vixionnya dan secepat mungkin kupindahkan motornya kedalam ruang tamu. Rumah kami tidak memiliki garasi. Ingatkan.

    “aku lapar nih.” Rayunya ketika melihat ku sedang duduk di sofa ruang keluarga.
    “uh, merepotkan saja.” Ujarku dan bangkit menuju ke dapur. Tentunya dengan nada bercanda. Untungnya masih ada sisa makan malamku tadi. Menu sederhana, hanya tempe bakar penyet dan oseng kangkung.

    “hmmm, masa suami minta makan digituin.” Mulai mengaco lagi omongan mas Rio.

    “mas ini suami suami aja, ngawur terus.” protesku.

    “lah kamu kan yang bilang ke Hilman kalau aku pacar kamu.” Ujarnya cuek dan mulai menyuapi makanan kemulutnya. Aku tercekat.

    “emang kapan hilman bilangnya?” desakku.

    “semalam.”nafasku semakin tercekat.. Oh tuhan apa lagi ini.

    “it .. itu kan Cuma pacar mas bukan suami. Eh maksudku itu Cuma bercanda mas” Ucapku ragu.

    “iya entar malam kita jadi suami istri ya.” Giodanya lagi.

    “apaan sih mas kan aku Cuma bercanda kemarin ke Hilman.” Aku mulai gugup.

    “ya kan apa yang diucapkan adalah doa, sekarang doa kamu terwujud cling…..” candanya. Haha mas rio tampak sangat lucu dengan ekspresi itu.

    “mas gak usah main-main dengan hati. Hati aku sekarang sedang rapuh mas ”tulusku. Mas Rio kini tampak terdiam sesaat kemudian melanjutkan makannya yang tersisa sedikit.

    “aku takutnya kamu yang mempermainkan aku nantinya.” Katanya lirih.

    “huhfff.. gak mikir cinta-cintaan dulu deh mas. Mikir buat makan aja susah."

    “loh loh kok gitu, kan nanti malam kita mau main kawin-kawinnan.” Mulai lagi candaannya. Dasar mas Rio.

    “hahahahahh” tawaku pecah, ekspresinya seperti anak kecil yang baru saja dibohongi orang tuanya. Lucuuuu. Dia sukses menghiburku.

    Setelah mas rio selesai makan aku menyuruhnya membersihkan diri dan berganti pakaian. Untungnya pakaianku cocok dengan ukuran badannya, walau sedikit kesempitan sepertinya. Aku siapkan celana jersey MU putih dan baju barong bali yang nyaman untuk tidur. Malam ini mas Rio tidak mau tidur di karpet lagi, pegel katanya. Ya terpaksa harus tidur berdua denganku. Tidak mungkin juga Mas Rio tidur dikamar bunda. Atau aku yang tidur di kamar bunda. Oh tidak , aku sedang tidak ingin menangis lagi.

    Mas Rio tampak segar saat kembali dari kamar mandi dengan pakaian yang telah terganti. Satu yang istimewa dari mas rio ini, senyumnya itu tidak pernah hilang sedikitpun. Entah hanya untuk menghiburku atau memang begini wataknya aku kurang tahu. Secara aku mengenal mas rio hanya sesaat, dan berjumpa dengannya hanya sebatas 4 kali saja. Belum cukup waktu untukku dapat menyimpulkan bagaimana sifatnya. Yang terpenting dia memiliki rasa menyayangi yang besar serta rawsa mengayomi. Maklumlah jiwa seorang dokter.

    “mas tadi pakai sikat gigi siapa?” tanyaku ketika ia telah berbaring di kasurku dan aku sedang menyapkan buku pelajaran untuk besok.

    “gak tau, yang warna biru muda itu.” Katanya.

    “loh itu sikatku, mas gak bawa sendiri emang? Gimana sih, mau nginap tapi ngerepotin.” protesku.

    “lah emang kenapa kalau itu sikat gigi kamu?”

    “yak an kitajadi ciuman secara gak langsung ihhh.”aku menunjukan ekspresi jijik.

    “yaudah ayo ciuman yang langsung aja.” Ucapnya cuek.

    Bugggggg….. aku lempar buku yang tidak terlalu tebal keperutnya..

    “ih KDRT dia, awas gak tak kasih jatah.” Kata mas rio merajuk.

    “tuh kasi jatah aja Barbie, lg butuh belaian lelaki. Dia murung terus dari tadi pagi, syukur deh suaminya barbie sudah sampai rumah." Aku memasang muka sebal.

    “hahaha” tawa mas rio pecah. Tawanya dia melunturkan rasa sebalku kepadanya. Orang ini tulus sepertinya.

    “udah ayo tidur.” Ajakku sambil memposisikann badanku dissamping kirinya.

    “loh main kawin-kawinannya kapan?”

    “hmmm” jawabku cuek dengan mata terpejam.

    Bunda datanglah dimimpiku malam ini aku rindu. Aku lelah menangis siang tadi mengingat aktivitas kita bersama saat membuat kripik. Tidak terasa mataku mulai sembab.

    “jangan nangis Dir, mas disini untuk kamu.” Bisik Mas Rio di telingaku sambil merangkulkan tangannya keperutku.

    Aku tak merespon sedikitpun. Mataku tetap terpejam hingga larut namun dalam batin diriku masih terjaga. Entah aku tak dapat tidur nyenyak setelah kejadian berat 2 hariterakhir ini. Tangan Mas Rio masih saja bertengger di perutku.
    Entah jam berapa mataku benar-benar terpejam dan larut dalam tidur gelisahku. Kini jam menunjukan pukul 4 pagi. Mas Rio masih terlelap dalam tidurnya. Aku bangkit dan bergegas membersihkan diri. Aku harus berangkat pagi-pagi sekali untuk mengantar dagangan kripikku ke warung-warung. Pukul 5 semuanya sudah siap. Aku tinggalkan note didekat meja makan setelah sebelumnya aku membuat telur orak-arik untuk Mas Rio sarapan nanti.
    “mas aku pergi duluan, mau antar kripik ke warung-warung sebelum sekolah, ini sarapan untuk mas, kunci rumah taro di atas meteran listrik saja, jangan lupa bahagia.” Begitu isi note nya.

    Sedikit semangat tercercah diwajahku. Ya aku harus melaju lagi. Harus melangkah mantap lagi. Aku bergegas menuju ke sekolah. Tidak lupa pula ku menenteng barang daganganku. Ada beberapa warung yang akan kulewati hingga ke tempat angkot dimana mangkal di bawah fly over arjosari. Biasanya aku dari depan komplek naik angkot ke arjosari, namun kini aku coba berhemat dengan berjalan kaki.

    Baru saja aku sampai di dekat fly over ponselku berdering. Tertera nama mas Rio memanggil.

    “pagi mas.”

    “kenapa gak bangunin mas?" Cerca nya.

    “aku berangkat pagi-pagi sekali tadi mas buat anter dagangan.” Jawab jujurku.

    “iya kan mas bisa antar, kenapa sih kamu ini.” Marahnya. Aku terdiam.Tidak paham atas apa maunya.

    “dimana kamu sekarang?” lanjutnya.

    “di fly over mas, mau naik angkot.” Jawabku lirih karena merasa gak enak di marahi.

    “tunggu 10 menit, eh enggak 5 menit.” Tutt… jawabnya cepat dan mematikan panggilannya.

    Nasiblah, mas rio marah, dan aku terpaksa menunggunya. Masih ada 2 warung lagi yang ada di sekitar sekolah dan 1 di kantin sekolah yang harus kuhampiri untuk menitipkan kripik ini. Bahkan kurang dari 5 menit menurutku motor vixion mas Rio sudah berhenti di depanku. Ia membuka kaca helm nya. Dengan muka jutek dia menyuruhku naik.
    “cepat.” Ujarnya dan menyerahkan helm kepadaku. Aku diam saja tidak berani menyahut.
    Sekitar 15 menit Mas Rio memacu kendaraannya dalam diam dengan sangat kencang. Aku terpaksa berpegangan pada belakang motor agar tidak jatuh.

    “mas berhenti di warung situ dulu ya, mau nitip kripik.” Ujarku ketika kami mulai memasuki kawasan sekolahku. Motorpun berhenti dan aku turun secepat mungkin.

    “bu ini kripik nya, jumlahnya 10 biji ya bu.” Ujarku pada pemilik warung asongan ini yang ku kenal namanya bu siti.

    “loh dir, titipin di sini 20 aja ya, soalnya banyak yang suka le kripikmu.” Titah bu siti sambil menyerahkan uang kripik tempo hari yang telah ludes terjual sejumlah RP. 60.000

    “iya tah bu, yawes ini 20 tak taro disini ya bu. Dirga pamit dulu bu.” Ujarku sopan sambil menyalimi tangan bu siti dengan santun. Bu siti mengangguk dan tersenyum.

    “kemana lagi sisanya diantar? “ tanya mas Rio masih dengan nada juteknya.

    “di kantin sekolah aja mas.” Ujarku masih berdiri di samping motornya.

    “yaudah cepat.” Perintahnya. Aku tak bergeming.

    “ck.. kenapa? “ tanya nya.

    “mas jangan marah, aku gak suka liat orang marah.” Ujarku liirih..

    “siapa yang marah.” Masih dengan nada ketus nya.

    “tuh mukanya ditekuk.”

    “gimana gak marah coba, percuma mas tidur di rumah kamu kalo kamu masih susah-susah gini pergi sekolah. Harus antar ini lah itu lah. ” cerocosnya. Lega sudah, ia akhirnya melepaskan amarahnya padaku.

    “aku gak mau ngerepotin mas Rio. Mas kan capek semalam pulang larut.”

    “kalau mas bilang gak suka ya gak suka, gak usah protes napa dibilangin sama yang lebih tua.”

    “iya pak tua.”

    “anjrit malah ngatain.” Makinya.

    “hihi mas sih gitu aja marah.” Ujarku polos sambil naik kembali keatas motornya.

    Sekolahku masih berjarak 500 meter kedepan.

    “nanti pulang sekolah gak usah pulang naik angkot, mas jemput.” Ujarnya saat motor mas Rio berhenti di depan sekolah.

    “gak usah repot mas.” Jawabku sambil menyerahkan helm ke mas Rio.

    “gak u s a h PROTES.!!!” Wow jawaban yang penuh dengan penekanan. Aku hanya melengos pergi sambil mengucapkan terima kasih. Huh. Mas rio suka memaksakan kehendaknya.

    ***
    Suasana sekolah masih saja tidak ada yang berubah masih sama seperti sedia kala. Hanya aku saja yang berbeda. Terlihat tidak seceria dulu. Sekolah masih saja sibuk-sibuk dengan persiapan ujian nasional yang akan di laksanakan semestrer depan. Masih banyak teman-teman yang mengucapkan bela sungkawa padaku. Aku tahu mereka peduli ,hanya peduli. Aku juga tidak mengharapkan lebih. Aku harus semangat menentukan masa depanku. Harus belajar yang rajin.
    Disekolah Hilman nampak setia sekali menemaniku kemanapun aku pergi, ke perpus, ke ruang seni, ke kantin, dan lain-lainnya. Katanya dia takut aku kenapa-kenapa. uhhh... temanku yang satu ini sungguh.... setiiiaaaaa.

    Sesuai dengan janjinya, Mas Rio sudah nangkring di depan motornya dengan masih mengenakan pakaian formal tanpa tas. Dia terlhat asik memainkan ponselnya. Siswa-siswa lainnya terlihat berhamburan keluar dari pintu gerbang. Hari ini hanya kelas 12 yang pulang lebih larut karena ada perkenalan dan promosi dari universitas-universitas. Selama masa promosi tadi aku sama sekali tidak tertarik untuk mengikutinya. Ya jelas saja, aku sudah pasti tidak dapat berkuliah seperti mimpiku dulu. Mungkin berkerja adalah pilihan yang tepat usaiku lulus nanti. Walau tidak dapat dipungkiri bahwa kuliah masih menjadi mimpi terbesarku saat ini.

    “maaf mas nunggu lama.” Sapaku membuyarkan aktifitas mas rio dengan ponselnya.

    “gak kok mas juga baru sampai.” Ujarnya sambil menunjukan senyum menawannya.

    Entahlah aku baru menyadari bahwa mas Rio memang menawan sebagai seorang pria dengan strata sosial yang baik.

    “ikut mas ke RS dulu ya, mas masih 3 jam lagi pulang, nanti ikut aja di ruangannya mas.”

    Aku menuruti maunya. Aku tidak mau kejadian dia mengamuk seperti tadi pagi terulang lagi. Sesampainya di RS milik pemerintah ini mas Rio memarkirkan motornya dan mengajakaku untuk memasukinya. Kami memasuki sebuah ruangan dokter di salah satu bangsal.

    “oh Rio, sudah jemput adiknya?” sapa ibu-ibu tua yang dapat kukenali seprofesi dengan mas Rio dari bajunya.

    “sore bu, saya Dirga.” Sapaku sopan sambil mencium tangan ibu dokter ini. Walau usianya sudah tidak muda lagi, tapi sisa kecantikan masa lampaunya masih terpancar dengan anggun di parasnya.

    “sore Dirga, saya Eni, kata Rio kamu mau masuk kedokteran juga ya lepas SMA? Loh kok mata kamu bengkak, habis nangis ya?” tanya dokter Eni polos. Ya tentu saja bengkak, terlalu banyak air mata yang di produksi kemarin.
    Aku hanya melongo saja dengan pernyataan tentang masuk kedokteran tersebut.
    Aku balas hanya sebatas senyuman tipis. Mungkin ini alasan dari Mas Rio agar aku dapat ikut serta melihat aktivitasnya selama berkerja.

    Mas Rio Terlihat sangat Sibuk sekali dengan aktivitasnya melayani pasien. Aku selalu diajak mengekor Mas Rio saat ia harus memeriksa keadaan pasien rawat inap. Sungguh pekerjaan yang sosial sekali. Mas Rio juga nampak tulus melayani dengan segenap hatinya. 3 jam tak terasa dengan pengalaman baru mengekor pada dokter muda ini.


    ***
    Ketika diatas motor dalam perjalanan pulang aku mulai menanyakan kegelisahan hatiku saat berucap denagn Dokter Eni tadi pada mas Rio. Sepertinya dia belum terlalu jauh mengenalku. Tentu saja, kita belum lama kenal.

    “mas kok bisa ngarang sih aku mau masuk kedokteran?” tanyaku.

    “lah iya kan, kamu cocok jadi dokter.”

    “cocok dari mana? “

    “jiwa kamu kuat, kamu pekerja keras, dan penuh kasih sayang serta perhatian.”

    “mas, mas kayaknya belum kenal aku jauh deh.”

    “maksudnya??”

    “mas, pertama, aku jursan IPS, inget !! IPS, dan kedua, aku gak mungkin kuliah, aku setelah lulus harus cari kerja yang baik untuk hidupku.”

    “tapi kuliah itu penting.”

    “iya penting, bagi yang punya uang untuk kuliah. Lah aku? Lihat sendiri kan? Untuk makan hari ini dan besok saja aku haru berjuang mati-matian.”

    “semoga ada jalan nantinya. Kamu banyakin teman, siapa tau bisa bantu-bantu kamu, baik nanti waktu kamu kuliah atau kerja.” Nasehatnya.

    “iya, kalau yang itu sudah pasti. Aku mulai nyari kenalan-kenala di luar kota lewat sosmed. Biar kalau aku harus kerja di luar kota sudah punya teman.”

    “tapi jangan teman yang aneh-aneh ya? Suami mu gak rela.” Protesnya.

    “ih apaan sih mas, emang kita cowok apaan pake suami-suamian.” Haha pembicaraan yang sangat konyol dan cukup menghibur hatiku yang hampa.

    Motor mas Rio ternyata tidak langsung menuju pada tujuan kita. Tapi berbelok pada sebuah resto and café di bilangan Soekarno Hatta. Noddle INC.

    “Aku pingin makan disini dulu sambil ngobrol tentang hubungan kita.” Ujarnya.

    Deggggg…… hubungan kita? entah apa lagi yang akan terjadi. Masih kurangkah beban yang harus kupikul ini sehingga datang lagi beban untuk persoalan hati. Aku tidak mau tuhan.
  • Mohon bantuan saran dan kritiknya kakak, abang, tante, om , mbak.. selamat membaca.
  • menarik ceritanya ... kasihan Dirga ...
  • menarik ceritanya...
    Kalo update, d mention dong.. Hehe
Sign In or Register to comment.