BoyzForum! BoyzForum! - forum gay Indonesia www.boyzforum.com

Howdy, Stranger!

It looks like you're new here. If you want to get involved, click one of these buttons!

Selamat datang di situs Boyzforum yang diarsipkan oleh Queer Indonesia Archive. Forum untuk komunitas gay Indonesia yang populer ini didirikan pada tahun 2003, dan ditutup pada tanggal 15 Desember 2020.

Forum ini diabadikan untuk kepentingan sejarah. Tidak akan ada konten baru di forum ini. Silakan menikmati forum ini sebagai potongan dari sejarah queer Indonesia.

Projek One Shot - Emotion

Miss

“Enggak-enggak, bukan kesana.”

Aku membolak balik peta di tanganku, sudah beberapa puluh menit aku habiskan untuk menelaah petunjuk jalan ini. Walau –harus aku akui– menafsirkan peta bukan keahlianku, entah kenapa Arya bersikeras bahwa harus aku yang menentukan arah perjalanan ini.

“Kenapa harus gue yang megang peta sih?” Aku mulai kesal, dan kecepatan membolak-balikkan peta di tanganku meningkat. “Udah tau kita selalu nyasar kalo gue yang pegang peta”.

“Itu dia.” Arya menekuk lututnya dan berjongkok di sampingku, yang sedang duduk di dekat peron kereta.

“Apanya yang ‘itu dia’?” Aku mendelik kearahnya, berhenti membolak balik peta.

“Gabakal seru kan kalo ga nyasar?” Arya tersenyum sambil membenarkan letak topinya.

“Iya, seru.” Aku mendengus. “kalo dua hari lagi kita ga harus nyampe Jakarta.”

“Kita bakal nyampe kok, tenang aja.” Arya menepuk kepalaku. “Lagian kalopun ga nyampe, bukan berarti kiamat kan?”

Rasanya aku hampir meledak mendengar kata-katanya, tapi tepukan di kepalaku selalu berhasil meredam amarah itu, mengubahnya menjadi dengusan.

“Jadi kemana kita sekarang?” Arya mendekatkan kepalanya, ikut melihat peta.

“Belom tau.” Aku kembali mendengus. “yang jelas kita sekarang disini” –aku menunjuk satu titik bergambar stasiun– “dan gue gatau stasiun terdekat mana yang masih ber-operasi.”

Walau ada beberapa stasiun yang letaknya tidak begitu jauh dari tempat kami sekarang, belum tentu stasiun tersebut masih ber-operasi. Seperti stasiun kosong ini.

“Gimana kalo taruhan?” Arya kembali tersenyum.

Aku meliriknya tajam. Membawa tas carrier 50 L dengan berjalan kaki menuju stasiun yang ternyata kosong membuat selera humorku menguap.

“Ayolaah” Arya memaksa ketika melihat raut mukaku yang jelas menunjukkan ketidak-setujuan.

“Ck.” Baiklah, toh yang manapun sama aja kan, kalo kosong tinggal cari stasiun lain. “Gue pilih stasiun yang ini.”

Aku menunjuk salah satu stasiun yang letaknya tidak jauh dari stasiun kosong ini, namun bukan stasiun yang terdekat.

“Menarik.. Hmm yaudah gue pilih stasiun yang ini.” Arya menunjuk stasiun terdekat, stasiun yang aku hindari.

“Taruhannya apa?” Aku melipat kembali peta tahun 2010 itu ke dalam tas, bersiap-siap pergi. Tak ada waktu yang boleh terbuang.

“Yang kalah harus ngelakuin satu hal apapun yang disuruh.” Arya berdiri sambil merapikan letak tas carrier di punggungnya.

“Basi ah itumah.” Aku menjawab begitu, walau pada akhirnya –karena tidak ada ide lain– itu yang menjadi taruhan kami.


Aku baru saja menjatuhkan diri di kasur ketika handphone ku bergetar. Arya.

“Hoy, lo udah di rumah?” suaranya terdengar jernih.

“Udeeh, ini udah di kasur.”

“Maaf ya tadi gak sempet nganterin dulu, gue mesti langsung pulang soalnya.” Suaranya terdengar menyesal.

“Iya gapapa, adek lo gimana? Udah dibawa ke rumah sakit?”

“Ini lagi di rumah sakit, belom jelas kenapa dia bisa demam tinggi. Bisa jadi DB*”

“Omongannya dijaga woy, kalo beneran DB gimana??” Aku langsung duduk, dan reflek memasang raut muka kesal walau jelas Arya tidak akan bisa melihatya.

“Haha iya iya, cuma bercanda kok…….”

“………………”

“………………”

“………………”

“………………”

Aku menghela nafas. “Gue kesana ya?”

“L-lo kan capek baru pulang gini.” Suaranya langsung kedengeran panik.

Aku tahu, sebenarnya dia lagivsangat khawatir dengan keadaan adiknya, dan biasanya dalam keadaan seperti itu, keberadaanku bisa menenangkannya. Katanya sih, lagipula aku sebenarnya sangat khawatir dengan keadaan adiknya Arya.

“Di rumah sakit mana?” Aku beranjak dari kasur, mengambil handuk.

“Seriusan lo mau kesini? Gue jemput ya?” Suaranya mulai kedengeran lega.

“Gak usah Ya, nanti lo chat gue aja tempatnya dimana, gue mau mandi dulu.” Aku menutup sambungan dan melemparkan hape ke atas kasur.

“Buuu.!”

“Yaaaa?” terdengar sahutan dari luar kamar.

Aku beranjak mengikuti sumber suara, dan menemukannya di dapur.

“Kenapa?” ibuku bertanya ketika merasakan kehadiranku, tanpa menoleh dari panci di atas kompor.

“Aku mau keluar lagi abis ini.” Jawabku.

Kali ini ia menoleh. “Kemana lagi? Kamu kan baru pulang, ini ibu juga lagi masakin makanan buat kamu.” Kedua alisnya mulai menyatu, tanda bahwa dirinya tidak senang.

“Mau ke rumah sakit, jenguk sodaranya temen. Nanti makanannya di bungkus aja aku makan di sana hehe.”

“Sodaranya siapa yang sakit? Arya?”

Aku mengangguk.

Terdengar helaan nafas, tapi wanita nomer satu di dunia itu kembali menoleh ke arah panci. “Yaudah kamu siap-siap dulu, nanti ibu panggil kalo makanannya udah jadi. Tau gitu ibu masak lebih banyak sekalian buat Arya, pasti dia belum makan juga.”

“Tapi bu, jangan kebanyakan, susah bawa nya.”

“Iya iya, udah sana mandi dulu, kamu bau asem tau.”

“Yee bau asem juga kan tetep anak ibu.”

Ia kembali menoleh “Iya, untung bukan bau amis. Nanti ibu dikira selingkuh sama mas Jo.”

Mas Jo, nama lengkapnya Sumardjo, tukang ikan yang suka keliling komplek. Aku beranjak ke kamar mandi, sambil memikirkan apa jadinya kalo ibu beneran selingkuh.


“Nih.” Aku menyodorkan tempat makan ke muka Arya.

“Apaan isinya?” Ia berdiri dari kursi ruang tunggu.

“Makanan. Lo pasti belom makan kan?

“Tau aja elo mah.” Senyum merekah di bibir Arya, yang tangannya mengacak-acak rambutku.

“Gimana keadaan Ari?” Ari, adek pertamanya Arya.

“Terakhir masih demam tinggi, tapi dokter belom tau penyakitnya apaan.” Arya berjalan menyusuri koridor rumah sakit, tanpa isyarat menyuruhku mengikutinya.“Kayaknya sih beneran DB, soalnya kemaren-kemaren ada juga yang kena DB di deket rumah.”

“Yaaah, ditunggu aja apa kata dokternya.”

Koridor rumah sakit itu terbilang sepi, hanya ada beberapa suster yang terlihat mondar-mandir membawa berkas, ataupun nampan makanan. Aku sebenarnya tidak terlalu suka dengan rumah sakit, apalagi dirawat di dalamnya. Bisa saja, kasur yang sedang aku gunakan dulunya adalah tempat seseorang meregang nyawa. Tempat persilangan nyawa, adalah istilah yang aku buat untuk tempat ini. Karena seorang bayi yang lahir di rumah sakit seakan menggantikan nyawa orang lain yang pergi meninggalkan dunia.

“Woy!”

Ketika sadar, muka Arya hanya tinggal satu hembusan nafas di depanku.

“Woaah!” aku reflek mundur, tapi kakiku tidak siap dan aku hampir saja jatuh terjerembab.

Ya, tangan siapa lagi yang menahanku kalau bukan tangan Arya.

“Haha, maaf–maaf. Lo gak pa pa?” Arya menarikku ke arah tubuhnya. Maksudku dengan ‘ke arah tubuhnya’ adalah keadaan dimana aku hampir bisa merasakan detak jantungnya, saking dekatnya.

“Enggak, gak pa pa…” Aku melepaskan diri ketika tangan Arya mengendur. Aku tak tahu apakah dia menyadari kecepatan detak jantungku.

“Loh, Arya? Ngapain di depan pintu?”

Aku menoleh ketika sebuah suara terdengar dari salah satu ruangan terdekat. Kepala Ibu Arya menongol dari salah satu pintu.

“Tante.” Aku tersenyum, menyapa wanita paruh baya itu.

“Eeeh anak angkat tante udah dateng,” wanita itu menutup pintu di belakangnya, dan mengelus kepalaku. “Gimana jalan-jalannya??”

“Biasa tan, nyasar lagi.”

Sudah beberapa kali Ibunya Arya memintaku memanggilnya ‘mama’ , karena katanya aku sudah seperti anaknya sendiri. Tapi aku menolak, masih terlalu canggung dan aneh rasanya.

“Emang ini anak kalo jalan-jalan mah suka gak jelas, kalo ditanya ‘mau kemana?’ jawabnya pasti ‘liat entar aja’. Suka bikin khawatir aja.” Wanita itu melirik ke arah anaknya, jelas sedang menyindir.

“Yang penting kan pulang mam…” Arya memasang muka memelas.

Wanita disampingku berpura-pura tidak mendengarnya.

“Kamu masuk dulu aja ya, duduk aja di dalem. Kamu pasti masih capek, tuh mukanya sampe merah gitu.”

Aku hanya bisa diam ketika Ibu Arya mempersilahkan aku masuk ke dalam ruangan. Kalau bisa aku ingin menutupi wajahku dengan poster ‘anti-rokok’ di seberang ruangan.

“Lo kenapa? Kok diem?” Arya berjalan ke arah kursi di seberang kasur pasien, tempat Ari sedang terlelap.

“Gak pa pa, Ari lagi tidur?” Aku berjalan menghampiri kasur, dan terlihat jelas wajah anak laki-laki yang masih duduk di bangku SMP itu sangat pucat.

“Iya, katanya baru aja bisa tidur. Dari semalem dia demam tingginya.”

Suara Arya terdengar sedih. Aku tahu, sebagai kakak tertua, ia sangat mencemaskan adiknya. Apalagi beda umur mereka terbilang agak jauh. Ari lahir ketika umur Arya 11 tahun. Apalagi setelah ibunya di vonis tidak bisa memiliki anak lagi. Vonis itu tentu saja terbukti salah, dengan lahirnya kedua adik Arya.

“K-kakak?” Ari mendesah pelan.

“Iya Ari?? Kamu gapapa?” Aku tahu itu pertanyaan bodoh, tapi aku tak bisa berfikir lagi di saat seperti ini. “Arya! Ini Ari bangun!”

Arya langsung menghampiri sisi kasur di sampingku. “Dek, kamu gapapa?” Tuhkan, pertanyaan bodoh itu lagi.

Aku bisa melihat bibir pucat Ari tersenyum tipis, bahkan untuk bicara pun sepertinya sangat sulit untuknya.

“M-makasih udah dateng kak..” Ari menggapai tanganku dan menggenggamnya sejenak, sebelum akhirnya terlelap lagi. Kalau aku belum bisa menganggap Ibu Ari sebagai ibuku sendiri, lain halnya dengan Ari, yang sudah aku anggap sebagai adikku sendiri.

Aku menggigit bibirku sendiri untuk menahan emosi. Aku memang sudah menduga bahwa keadaannya akan seperti ini, tapi melihatnya sendiri di depan mataku adalah hal yang benar-benar di luar dugaan.

Aku memalingkan muka, berusaha meredam perasaan sedih yang mulai menyerang kedua mata ku.

“Udah udah….”

Arya yang menyadari gelagat aneh dari orang disampingnya menepuk kepala ku, yang akhirnya berubah menjadi elusan.

“Gue gapapa kok.” Aku kembali menoleh, dengan senyum yang dipaksakan. “Lo makan dulu gih, itu sengaja dibikinin banyak sama nyokap gue soalnya buat lo juga.”

Aku masih mencoba tersenyum ketika Arya beranjak kembali ke tempatnya semula, dan membuka tempat makan yang tadi aku berikan. Tapi senyumanku memudar ketika kembali memandang Ari. Aku mengelus kepalanya, merapikan rambutnya yang menutupi dahi.

Ari sangat mirip dengan kakaknya, sehingga mau tak mau aku membayangkan apa jadinya kalau Arya yang terbaring di kasur ini.

Aku tidak pernah percaya dengan firasat sebelumnya. Tapi baru kali ini aku merasa sangat tidak nyaman dengan pikiran itu.

“Arya?” aku beranjak dari samping kasur.

“Ya?” Arya menjawab dengan mulut penuh nasi goreng sarden yang aku bawa.

“Kunyah dulu itu makanannya.” Aku duduk di samping Arya, menyisakan jarak sejengkal. “Lo masih inget kan taruhan kita?”

Arya mengangguk, mulutnya sibuk mengunyah.

Ya, aku yang menang taruhan stasiun itu. Karena aku untung-untungan memilih stasiun yang lebih jauh, karena stasiun itu tidak terhubung dengan stasiun kosong yang kami datangi. Sedangkan stasiun yang Arya pilih masih terhubung dengan stasiun kosong itu, padahal tidak ada sama sekali kereta yang lewat.

“Gue tagih hasil taruhannya yak.”

“Sekarang banget?” Arya menatap enggan.

Aku menggangguk. “Dengerin dulu sebelom protes.”

Arya menaruh tempat makan ke atas meja, dan sekarang menatapku penuh perhatian. Entah karena ia merasakan aura serius atau apa, tapi malah aku yang rasanya ingin memalingkan muka sekarang.

“Gue mau.. Lo jaga kesehatan, jangan sampe sakit –eits dengerin dulu!” Aku mencegah ketika Arya tampak akan memotong. “Jangan kecapekan, jangan sampe telat makan. Pokoknya terus jaga kesehatan, oke? Gue bakal marah kalo lo sampe sakit seringan apapun sakitnya.”

Arya tiba-tiba duduk tegak, dan membusungkan dadanya “Saya, Arya, berjanji akan selalu menjaga kesehatan, tidak kecapekan, makan tepat waktu dan menjaga diri.” Ia berbicara layaknya seorang prajurit yang sedang melapor, membuat tawaku hampir pecah.

“Janji ya?” tanyaku, meyakinkan.

Arya mengangguk, dan mengulurkan kelingkingnya. “Janji.”

Aku benar-benar tersenyum kali ini, dan mengaitkan jari kelingkingku di jari kelingkingnya.

“K-kakak…” tiba-tiba desahan Ari terdengar lagi.

“Eh itu Ari bangun lagi!!”

.

.

.


.

.

.

.

Kamu masih ingat itu semua Ya?

Kamu masih ingat janji itu? Kamu kalah taruhan loh, dan kamu bilang yang kalah harus nurutin satu hal yang dibilang sama yang menang.

Kamu udah janji bakal jaga kesehatan, dan gabakal sakit.

Padahal pas Ari mendingan, kamu bilang kita bakal jalan bertiga. Aku sampe belajar mati-matian baca peta supaya ga malu-maluin di depan Ari.

Aku udah ngerencanain perjalanan kita, bahkan sampe ngedata stasiun mana yang masih beroperasi.

Ari seneng banget, sampe-sampe dia sembuh lebih cepet dari waktu yang diduga dokter.

Tapi abis itu kenapa malah kamu yang sakit. Kamu demam tinggi, aku sampe harus nginep di rumah sakit, nungguin kamu, karena ibu kamu harus ngurus kerjaannya dirumah.

Bukannya aku gak mau, aku justru seneng banget bisa ngerawat kamu. Tapi aku takut bakal kehilangan kamu di sana, di tempat nyawa seringkali bersilang. Makanya, aku seneng bukan main pas kamu akhirnya dibolehin pulang.

Tapi aku salah. Beberapa hari kemudian kamu kembali demam tinggi.

Dan kamu lagi-lagi membatalkan janjimu, kali ini untuk selamanya…

.

.

.

Maaf Ya, bahkan untuk melihat pusara kamu, aku ga bisa lama lama…

I f*cking miss you Ya.

Comments

Sign In or Register to comment.