BoyzForum! BoyzForum! - forum gay Indonesia www.boyzforum.com

Howdy, Stranger!

It looks like you're new here. If you want to get involved, click one of these buttons!

Selamat datang di situs Boyzforum yang diarsipkan oleh Queer Indonesia Archive. Forum untuk komunitas gay Indonesia yang populer ini didirikan pada tahun 2003, dan ditutup pada tanggal 15 Desember 2020.

Forum ini diabadikan untuk kepentingan sejarah. Tidak akan ada konten baru di forum ini. Silakan menikmati forum ini sebagai potongan dari sejarah queer Indonesia.

Kalau Jodoh Juga Nanti Ketemu Lagi


Kembali iseng izinkan saya posting isengan saya lagi




Kalau Jodoh Nanti Juga Ketemu Lagi


Bunyi pintu tertutup dari kejauhan terdengar cukup keras. Pastilah itu unit apartemen tetangga seberang. Suaranya memang biasa terdengar sampai ke dalam ruangan. Tetangga baru. Dasar orang baru, masih belum hafal dia kalau pintu-pintu apartemen ini mudah terbanting hanya karena angin Biasanya suara pintu yang keras bisa langsung mengusiknya. Membuatnya kesal. Membuat dia mengeluarkan gerutu-gerutu layaknya orang tua diganggu saat tidurnya. Namun kali ini sedikit berbeda....tidak...bukan sedikit, tapi beda sama sekali.

Sorot matanya tajam menembus kaca jendela. Tapi sinarnya redup. Tak berisi. Sorot mata tajam yang tak sayangnya tak terfokus pada apapun. Dia hanya berdiri di depan jendela kamarnya. Terdiam. Melamun. Tak sadar apa yang sebenarnya ia lakukan. Pikirannya sedang asyik bertualang. Bahkan beban segelas kopi yang digenggam tak lagi mengganggu khayalannya. Padahal kopi itu dia tuang ke dalam mug paling berat yang dia punya. Dia tersenyum sendiri. Terbayang sekilas saat-saat yang membuatnya begitu senang.

Tepat empat jam yang lalu. Saat itu sinar matahari masih sedikit terlihat di ujung barat. Hampir tenggelam, tapi masih sedikit terlihat. Ia ingat betul. Karena saat tengah menikmati sisa hangat matahari sore itulah sesosok tegap tiba-tiba mengganggu pandangannya. Kenikmatan secangkir kopi sore hari terusik oleh sekelebat wajah yang hingga kini menghantui ketenangannya. Wajah yang menyejukkan. Sosok yang selama ini dicarinya. Dia tidak mengenalnya. Tapi dia tahu kalau wajah asing yang dengan lancangnya berdiri tepat di hadapannya dengan sedikit menghalangi pemandangan sore yang begitu berharga baginya, adalah wajah yang kembali menggugah imajinasi terliarnya tentang sosok pria yang begitu diinginkannya.

Oh ya.... dia menyadari ketertarikannya akan pria. Pernah dulu ia merasa ragu. Namun keraguan itu sudah cukup lama disingkirkannya. Kini hanya seorang pria yang benar-benar ia inginkan. Tak sedikitpun lawan jenis mampu membangkitkan keraguannya. Namun tak sembarang pria juga mampu mengusik hatinya. Hanya sedikit saja yang mampu membuat matanya melirik, kalau beruntung sedikit menoleh. Tapi dari yang sedikit itu tak satupun yang benar-benar menggoda.
Namun kali ini ia merasakan wajah yang ia lihat sore tadi benar-benar menghantui tiap detik yang berlalu. Tak sedetikpun ia mampu menyingkirkan bayangan tentang sosok tegap yang mempu mengalihkan pandangannya dari keindahan mentari sore. Mengganggu saat minum kopinya yang begitu berharga tanpa membuat rasa kesal. Tidak.....ia tidak merasa kesal....malah....ia merasa penasaran.

Rambut hitam tebal, sosok tegap terbalut jaket kulit hitam menyembunyikan kemeja biru kotak-kotak yang terlihat kontras dengan kulit tubuhnya yang putih. Tidak terlalu rapi, tapi juga tidak terlihat kusut. Penampilan yang terasa pas. Mungkin sosok asing itu seusia dengannya....yah setidaknya itu yang ia pikirkan. Makin lama memikirkan si Mr. Stranger makin membuatnya merasa mual. Mual karena tak tahu lagi apa yang harus dilakukan.
Sesaat ia tersadar dari lamunannya. Bangun dari mimpi indah dan terjatuh kembali ke alam nyata yang terasa begitu kosong. Sinar lampu kota serta lalu lalang mobil di kejauhan seakan menambah dosis penawar dari bius khayalan yang begitu mematikan.

Ia menggeleng. “ Bangun Rio.....bangun! Sadar! Kenal juga enggak!” pikirnya dalam hati.
Rasa mual di dalam perutnya mulai mengambil alih kesadaran Rio. Ia baru ingat barang terakhir yang masuk dalam perutnya adalah kopi sore hari tadi. Setelah itu ia bahkan tak sempat memikirkan hal lain kecuali wajah Mr. Stranger sialan itu.

“Ah...pantas gua mual. Gua belum makan apa-apa dari tadi.” Pikir Rio.

Sekejab ia meraih telepon genggamnya.

“....ya atas nama Rio...pizza medium aja ya mas. Kalibata City...ya lantai tiga unit AF...bukan bukan AS. Alfa Fanta. Oke. Makasih mas.”

Selama beberapa saat Rio kembali dihantui rasa gelisah. Mungkin mual yang dia rasakan tadi bukan karena lapar. Mungkin karena ia berharap sesuatu yang terlalu besar. Ah...bagaimanapun itu cuma sekedar love at the first sight bukan? Love... tapi entah mengapa justru Rio merasa sedih saat akhirnya ia merasakan cinta. Penyesalanpun mulai menjalari tubuhnya. Mengapa ia tidak menyapanya? Mengapa ia tidak mengajak Mr. Stranger itu berkenalan? Mengapa ia tidak memberikan sedikit senyum untuknya? Apakah dia juga gay? Ah tidak semua orang yang kamu temui di jalan berpikiran sama kayak kamu, Rio? Tapi...seandainya ini...seandainya itu...mengapa tidak begini...mengapa tidak begitu? Begitu banyak pertanyaan....

Saat mulai merasa kosong Rio mendengar tawa di kejauhan. Tawa yang terdengar dari apartemen si tetangga baru di seberang.

“Tawa....” pikiran Rio kembali menerawang...namun kosong. Ia tersenyum. “Ngapain galau sih. Kalaupun jodoh juga pasti nanti ketemu lagi.” Pemikiran sederhana yang memenangkan keadaan.

***

Di sudut lain, pria muda nan tegap tengah berjalan riang bersama beberapa orang teman. Malam sudah mulai larut. Sudah waktunya melepas lelah. Toh besok sudah Sabtu. Bercengkrama sejenak dengan teman bukanlah sebuah dosa mengisi awal dari malam yang panjang ini.

“Cakep! Type gue banget....” pemuda itu tampak sedikit tersipu namun terpaksa harus jujur setelah didesak oleh gurauan segenap rekannya.

“Terus...gak lu apa-apain gitu?” tanya salah satu diantara teman.

“Maksud lu? Langsung gua tembak gitu?” jawab pemuda tegap sambil tertawa terkekeh. Ia membuka pintu rumah dan mempersilakan teman-temannya untuk masuk.

“Ya...apa kek. Kenalan kek. Tanya nama kek.” Jawab rekannya.

“Hahaha.....udahlah bro. Lagian kebetulan aja pas papasan gitu tadi waktu gue ada meeting sama klien di Kemang. Kita juga gak ngobrol gak apa gimana gitu kok.” Si pemuda tegap menutup pintu. “...lagian juga kalau emang jodoh entar ketemu lagi.”

Mereka kembali terkekeh. Ah dasar gurauan antar teman lama.

“Tapi akhirnya lu bisa beli rumah sendiri ya bro. Asik juga interiornya.” Salah seorang teman si pemuda tampak mengamati tiap lekuk ruangan itu.

“Ah....rusunami ini. Btw lu semua pada laper ga? Gua traktir pizza aja ya. Itung-itung sekalian syukuran rumah baru lah.” Si pemuda meraih telepon genggamnya diiringi senyum sumringah rekan-rekan yang lain. “Halo?....pizza gede ya mas. Ferry. Ya Ferry. Kalibata City lantai 3 unit AS. Alfa Sierra. Oke mas.”

Suasana hening sejenak.

“...tapi, Fer...seandainya lu ketemu cowok itu lagi...gimana Fer?” suara salah seorang teman pemuda itu memecah kesunyian.

Pemuda tegap bernama Ferry itu terdiam. Tampak ia bimbang sejenak. Namun akhirnya ia tersenyum.

“Hmm...gak tau deh. Mungkin gue tanya siapa namanya kali yah.” Jawabnya singkat sambil meletakkan jaket kulit hitam yang dikenakannya sedari tadi di atas tempat tidurnya, menyisakan kemeja kotak-kotak biru yang terlihat kontras dengan warna kulitnya yang putih.

***

Jakarta Selatan, 19 Oktober 2015

Comments

Sign In or Register to comment.