BoyzForum! BoyzForum! - forum gay Indonesia www.boyzforum.com

Howdy, Stranger!

It looks like you're new here. If you want to get involved, click one of these buttons!

Selamat datang di situs Boyzforum yang diarsipkan oleh Queer Indonesia Archive. Forum untuk komunitas gay Indonesia yang populer ini didirikan pada tahun 2003, dan ditutup pada tanggal 15 Desember 2020.

Forum ini diabadikan untuk kepentingan sejarah. Tidak akan ada konten baru di forum ini. Silakan menikmati forum ini sebagai potongan dari sejarah queer Indonesia.

Street punk dan Cerita Talal

Aku sudah lupa bercermin, aku juga lupa akan cermin yang menggambarkan diriku. Sebuah cermin usang terpajang di tembok putih polos dengan noktah-noktah jamur kecoklatan yang timbul karena udara ruangan yang lembab. Entah kapan terakhir kalinya aku berdiri di depannya dan membaca seluk-seluk tubuhku yang mulai menggemuk karena akumulasi kehidupan tanpa arti. Atau mungkin juga karena kenyamanan yang mematikan progresitas.

Teko di atas kompor berdesit mengeluarkan uap warna putih dari lubang kecil di ujung teko. Aku segera mematikan api dan menuangkan air panas ke gelas-gelas yang telah kuisi kopi hitam, tanpa gula. Kubawa gelas-gelas itu ke teras belakang rumah dimana dia sedang duduk di kursi kayu. Ia mendekap kedua tangannya dalam selimut jas wool warna coklat dengan erat.

Kusodorkan segelas kopi panas untuknya. Digenggam erat-erat kopi panas itu dengan telapak tangannya. Dia menyebul permukaan kopi dan meminumnya pelan-pelan karena panas. Kulihat bekas luka cukup lebar di kepalanya yang botak. Luka yang aku kira berbekas tak hanya permukaan kulitnya, tetapi juga di dalam benaknya yang hidup menggelayut bebas bak air di parit-parit hutan.

Lihatlah matanya yang menyala, hitam berbinar indah. Aku membayangkan apa yang telah kau lihat jauh di luar sana.

Aku menggeser kursiku kearahnya. Gesekan antara kursi dan lantai mengalihkan perhatiannya pada secangkir kopi. Kini, kami tidak lebih dari sedepa. Kudengar desahan nafasnya yang berat karena udara malam yang dingin. Kau seret cangkir kopimu ke arahku dan kuhentikan dengan sebelah tanganku. Bukannya tidak mau, aku hanya berpikir itu untukmu saja. Seperti dunia yang pernah kau tawarkan kepadaku sebelumnya. Kau tahu sendiri, duniamu itu seperti kopi dan aku sangat menyukainya. Tetapi untuk saat ini, semua itu untukmu saja dulu.

Kau kembali menggeser cangkir kopimu dan menggenggam cangkir itu dengan kedua tanganmu. Tidak lama kemudian kau relungkan telapak tanganmu di bibir leherku. Aku terkaget dengan maksudmu, namun aku membiarkan saja dirimu. Kulihat semburat senyum dari wajahmu, kenapa kau tersenyum tanyaku dalam hati.

“Warm?” Tanyanya.

Aku hanya mengangguk dan mencoba merasakan sisa-sisa kehangatan dari telapak tanganmu. Kulihat kini matamu berkaca-kaca. Air matamu keluar tertahan di kelopak mata, menjadi mata kaca berkilau. Kugenggam kedua tanganmu yang masih tergantung di leherku. Aku memiringkan kepalaku, menyiratkan tanda tanya kepadanya. Kulihat gigi-gigi mu tersembul dibalik bibir tipismu. Aku kira kau hendak tertawa, tetapi kemana suara lepas itu pergi. Sekarang bukan hanya air mata yang kau tahan, tetapi juga suara dalam kerongkonganmu.

Perlahan dia melepaskan kedua tangannya dari leherku, begitu juga dengan tanganku yang menggenggamnya.

Dia mencondongkan badannya ke arahku. Mukanya dan mukaku, yang saling berhadapan. Dua ekspresi berbeda. Dirimu, kulihat ekspresi kebebasan dan ketakutan, sedangkan mukaku sendiri adalah ekspresi tanda tanya dan kebingungan.

“I wanna say goodbye.” Katamu lirih.

Tidak perlu sebuah alasan yang panjang dan masuk akal, aku sudah mengerti maksudmu. Tidak perlu bertanya karena dirimu pun tidak tahu jawabnya saat ini. Aku tahu itu dan aku tahu tidak bisa menghambatmu.

Kau beranjak dari tempat dudukmu, berdiri di depanku. Menunduk kepadaku dengan tatapan penuh keyakinan sementara aku hanya diam menatap lurus ke arah perutmu yang kurus. Kau mengelus rambutku dengan tangan kananmu. Seolah merestui atau mengamini diriku dengan kehidupan supaya selamat.

Aku masih diam terduduk kaku sementara kau mulai melangkah menuju pintu. Katamu pintu itu adalah pintu menuju kehidupan yang tak pernah kita lihat sebelumnya. Katamu kehidupan adalah sebuah sistem yang dikonstruksi. Dalam sistem atau diluar sistem adalah pilihan. Hari ini kamu memilih untuk hidup diluar sistem yang ada.

Kudengar decitan pintu yang kau buka dengan keyakinanmu. Kini kau pergi, sementara aku disini. Di rumahku.

Comments

Sign In or Register to comment.