BoyzForum! BoyzForum! - forum gay Indonesia www.boyzforum.com

Howdy, Stranger!

It looks like you're new here. If you want to get involved, click one of these buttons!

Selamat datang di situs Boyzforum yang diarsipkan oleh Queer Indonesia Archive. Forum untuk komunitas gay Indonesia yang populer ini didirikan pada tahun 2003, dan ditutup pada tanggal 15 Desember 2020.

Forum ini diabadikan untuk kepentingan sejarah. Tidak akan ada konten baru di forum ini. Silakan menikmati forum ini sebagai potongan dari sejarah queer Indonesia.

BASKETBALL ROMANCE (A Story From Tea For Two)

First of all. Aku ingin memohon maaf kepada semua pembaca yang telah menunggu karyaku. Dengan berat hati, kusampaikan beribu-ribu maaf atas tumpukan cerita yang-nyatanya-tak sanggup aku rampungkan. Kalian boleh men-judge aku penulis gadungan atau apa. But, jujur, sometimes otakku tak bisa kuajak berkompromi untuk melanjutkan kisah-kisah yang sudah susah payah kuurai. Terkadang ide memang memudar sementara kita tak menginginkannya. Oleh sebab itu, SEBAGAI PERMINTAAN MAAF, kuhadirkan kisah baru yang kuharap akan mampu mengganti segala kerinduan kalian pada karyaku. Terakhir, semoga kalian bisa menerima karya ini, dan menyukainya. Salam -Tito.


BASKETBALL ROMANCE
(Tentang persahabatan, cinta, dan bola basket)


"Dukk! Duk!! Dukk!"

Benda bulat berwarna cokelat itu terus memantul dengan lincah dibawah gerakan tangan seseorang. Tanpa ampun, ia men-dribble bola itu ke lantai dengan keras. Cowok itu berlari, mencoba menghindari cowok-cowok lain yang berusaha merebut bolanya. Sesaat kemudian, ia melempar bola itu kearahku. Lemparan lurus. Aku bersiap-siap. Namun,

"Bruakkk!"

Bola itu tepat mengenai kepalaku. Membuatku seketika terjatuh karena pandanganku mendadak kabur. Bola itu tak pernah hinggap di genggamanku. Malah terpantul jauh kearah yang berlawanan.

"Hei! Lo bisa main basket nggak sih sebenernya?"

Aku bisa mendengar ucapan kasar dan menusuk itu. Dan aku tahu jika teriakan yang keluar dari mulut lelaki yang tadi mengoper bola itu ditujukan padaku. Seketika aku terkesiap dan menoleh. Dibelakangku, seorang cowok tinggi dalam balutan kaos basket yang basah melemparkan tatapan tajam kearahku.

"Kalo lo nggak bisa main basket, bilang dong! Gimana tim kita bisa lolos turnamen kalo pemainnya saja lembek kayak lo!"

Sekali lagi ucapan itu berhasil menusuk jantungku.

"Lo tadi ngelemparnya terlalu rendah, Rom! Jadi gue nggak bisa nangkepnya!"kilahku. Menatap balik cowok berambut spike bernama Romeo itu.

"Alah! Alesan aja lo! Kalo emang dasarnya lemah! Ya lemah!"

"Rom! Gue!"

"Udah lah! Gue mau istirahat dulu! Capek gue ngeladenin pemain lembek kayak lo!"pungkas Romeo sebelum hengkang meninggalkan aku yang masih terduduk di lantai. Kulihat anak-anak lain juga mengikuti Romeo. Mereka bergegas menyahut air minum yang mereka letakkan di pinggir lapangan. Sementara aku hanya mendengus sebal. Lagi-lagi, si kapten tim basket sekolah itu mengeluarkan kata-kata pedasnya padaku. Sama seperti kemarin-kemarin, ia tetap saja kasar dan kaku.

"Hei? Kau tak apa-apa?"

Aku mendongak. Mengalihkan pandanganku kearah sumber suara. Tepat dihadapanku, seorang cowok yang tingginya kurang lebih sama seperti si Romeo tadi berdiri sambil menyodorkan botol air mineral dingin. Bibirnya yang merah nampak menyunggingkan senyum yang kian menyempurnakan wajahnya.

"Nggak papa kok, thank you, ya Daf?"ucapku membalas senyumnya. Sebentar kubuka botol air mineral itu dan segera menyiramkan isinya ke tenggorokanku yang kering.

"It's okey!"Dafa-cowok itu mendudukkan pantatnya tepat disampingku. "Lagian kenapa tadi pake acara jatuh segala sih, hehehe. Aku jadi pengen tertawa ngelihatnya."

Aku hanya nyengir. Benar-benar memalukan apa yang kualami tadi.

"Ah! Itu mah emang dasar Romeo nya aja yang nggak becus ngoper bola, masa bolanya ditimpukin ke kepalaku,"cerocosku. Membuat Dafa-lagi-lagi- tersenyum menampakkan deretan giginya yang putih bersih. Aku bisa mencium aroma maskulin parfum yang bercampur dengan keringat dari tubuhnya. Membuatku sejenak merasa nyaman. Entah kenapa.

"Hahah, kamu bisa aja, lagian kamunya sih. Kayaknya hobi banget diomelin sama si Romeo."

"Itu sih emang Romeonya yang tukang ngomel. Dia cowok tapi kayak cewek lagi menstruasi aja ngomel-ngomel mulu."

Lagi-lagi Dafa terkikik. "Hahaha, bisa aja. Yaudah, aku ke kelas dulu yah, mau ngambil cemilan. Latihan basket ternyata menguras isi perut juga ya, hehehe."

"Yaudah, aku masih mau duduk-duduk disini dulu,"ucapku memandang Dafa yang setengah terburu melangkahkan kaki menuju kelasnya. Memandangi setiap inci tubuh terbentuknya yang terberungkus seragam berwarna merah kebanggan tim basket sekolah itu.

***

Okee. Sebelumnya, perkenalkan. Aku Aldiano Deffiansyah. 19 tahun. Anggota tim basket sekolah yang sebentar lagi akan bersiap-siap menghadapi turnamen nasional antar SMA se-Jakarta. Secara fisik, tak ada yang patut kubanggakan. Aku hanya punya rambut pendek keriting yang kata teman-temanku terkesan cupu. Tubuh 168cm yang kurus tak begitu berbentuk. Serta wajah oval yang standar. Selebihnya, tak ada yang menarik. Hanya orientasi seksual saja yang sedikit berbeda. Aku kelas 3 di sebuah SMU favorit di Jakarta. Namun begitu, otakku tetap saja standar. Tak jenius, juga tak terlalu bodoh.

Tim basketku dipimpin oleh cowok bertemperamen baja yang banyak digilai cewek-cewek disekolah. Namanya Romeo. Yah, kuakui, secara fisik dia memang nampak seperti romeo-romeo di film Princess buatan Disney. Rambut spikenya yang menjulang dan body terbentuk latihan basket selalu membuat para gadis berjerit.Tapi secara sifat, aku yakin dia tak lulus uji attitude. Dia keras. Suka ngomel. Dan selalu merasa kuat. Dan kejadian seperti yang kualami tadi, sudah bukan hal aneh ketika kami latihan. Aku sudah terlalu terbiasa dengan omelan-omelan rasa cabe miliknya.

Selain Romeo, aku juga mengenal Dafa. Berbeda dengan Romeo, cowok berambut pendek dengan anting ditelinga kanannya itu selalu memperhatikanku. Meskipun wajah tampannya terkesan bad boy, namun hatinya seperti malaikat. Badannya yang padat terbentuk sering sukses membuatku berfantasi gila. Kami satu tingkat, meskipun tak sekelas. Tapi biar begitu, kami bersahabat. Best friend, jika aku boleh menjabarkannya secara tepat.

***
"So, sukses tadi latihan basketnya?"

Seorang cewek centil berambut pendek ala Dora The Explorer mengagetkanku yang tengah mengemasi kaos basket kedalam tas kanvas milikku. Manda-teman sebangkuku yang merupakan salah satu pengagum Romeo itu memang hobi membuatku terkaget. Jika sudah begini, dia pasti akan menginterogasiku soal sang Romeo "Pangeran" Aidiansyah itu.

"Latihannya.."aku memberi jeda. "Kacau!"

"Kacau? Kok bisa?"mulut Manda mengerucut.

"Ya karena pangeran kesiangan lo itu lagi-lagi ngomelin gue gara-gara nggak bisa nangkep bola!"ujarku jutek. Penasaran ingin lihat bagaimana reaksi Manda.

"Ihh, Aldo! Romeo itu bukan pangeran kesiangan! Dia pangeran beneran!"

"Iya! Pangeran beneran! Beneran kayak setan!"tambahku.

"Ihh Aldo!"Manda merajuk. "Lagian kamunya juga sih yang nggak bener-bener latihannya. Makanya si Romeo ngomel."

Aku mengehela napas. "Iyeee.. Romeo lo itu nggak pernah salah. Gue yang nggak bisa main basket. Puas lo?"

Manda pun tergelak puas. "Nah gitu dong! Pangeran Romeo kan emang selalu bener! Sudah keren! Cakep! Jago main basket lagi, kyaaa! Kapan ya gue bisa jadi pacarnyaaa!"

"Udah ah, jangan ngomongin si Romeo mulu, enek gue! Gue mau langsung cabut nih! Lo jadi nebeng motor gue kagak?" Aku menarik tas kanvas dari loker dan memanggulnya.

"Yaa jadi donk, Dii!"

"Yaudah, makanya ayo buruan! Gua udah capek nih, pengen cepet-cepet tidur!"pungkasku seraya mengayun langkah meninggalkan loker, sementara Manda yang masih belum puas mengobrol soal Romeo hanya mengikutiku dengan mulut manyun seperti mulut bebek. Sahabatku yang satu itu memang selalu begitu kalau ngambek.
«134

Comments

  • tetap lanjut............

    cerita ini harus sampai kelar yah......

    btw yang tntang paris tuh di selesaikan donk @Tea_for_two....... nanggung banget ceritanya...... :-)

    semangat.......... hehe
  • ***

    "Brukh!!"

    Kuhempaskan tubuhku yang masih berbalut seragam putih abu-abu ke kasur empuk dikamarku. Rasanya seperti remuk redam. Sudah hampir seminggu tim basket sekolahku latihan menjelang turnamen nasional itu, namun nyatanya aku masih belum bisa mendapatkan kemampuan maksimal. Entah kenapa aku selalu nampak lemah di hadapan Romeo. Dan aku sudah jengah dengan omelan dan kata-kata kasarnya.

    Kuarahkan mataku kearah poster Michael Jordan yang terpajang di dinding kamarku. Andai saja aku bisa sehebat lelaki pelontos itu. Tentu aku akan terbebas dari amukan si kapten Romeo. Namun faktanya, aku tak pernah bisa membuktikan apa-apa.

    "Gimana tim kita bisa lolos turnamen kalo pemainnya lembek kayak lo!"

    Lagi-lagi ucapan itu terngiang di kepalaku. Sialan. Akhir-akhir ini otakku terlalu sering memutar-ulang omelan-omelan Romeo. Jika ini terus berlanjut, bisa dipastikan aku akan schyzophrenia.

    "Okey! Akan gue buktikan kalo gue bisa! Dan lo akan menyesal sama apa yang telah lo ucapkan!"ujarku seraya mengangkat tinjuku tinggi-tinggi. Yaa. Aku memang harus membuktikannya jika aku tak mau terus dicecar oleh Romeo. Lagipula, aku akan sangat malu jika aku tak bisa membuat timku lolos diturnamen nanti.

    Belum sempat aku bernapas lega, tiba-tiba handphone-ku berbunyi. Sebuah panggilan masuk. Dari Dafa.

    "Hai, Daf! Ada apa?"sapaku begitu ponsel genggamku sukses menempel di telinga

    "Hai, Do! Lagi apa? Ganggu nggak?"sahut Dafa di kejauhan.

    "Nggak kok, lagi tiduran aja gue nya. Kenapa? Tumben banget nelpon jam segini."

    "Emmmm,"kudengar Dafa sedikit bergumam. "Nggak papa sih, cuma pengen ngajak lo nemenin gue aja nanti malem."

    "Kemana?"tanyaku.

    "Nyari sepatu olah raga sih, kalo lo nggak sibuk."

    Sebentar aku menerawang. Malam ini aku tak punya acara. "Emmm, jam berapa?"

    "Kalo lo bisa, jam 7 gue jemput ke rumah lo, gimana?"

    "Okey, yaudah. Gue tunggu ya ntar malem."

    "Okey, sipp! Tunggu gue ngejemput lo, yaa?" Suara Dafa berubah antusias.

    "Iyaa"

    "Kalau gitu, udah dulu yaa? Makasih sebelumnya."

    "Iya, sama-sama,"pungkasku seraya mematikan telepon. Beberapa saat kemudian, terdengar suara Ibu yang berteriak menyuruhku untuk makan. Aku segera menyahut. Bangkit dan mengganti seragamku sebelum bergegas menuju ruang makan. Baru sadar aku kalau perutku sudah keroncongan sedari tadi.


    (To be continued)
  • wew karya lain, moga tamat ya. Tp di awal dialognya ada yg pake bhasa baku tapi nyampur ma bhasa gaul, jd lucu
    *koment ja*
  • Henry_13 wrote: »
    wew karya lain, moga tamat ya. Tp di awal dialognya ada yg pake bhasa baku tapi nyampur ma bhasa gaul, jd lucu
    *koment ja*

    Haahahaha, mengganggu tidak? Aku emang sengaja sih, biar ada kesan wah tapi tetep kerasa teen!
  • jujur itu agak bikin lidahku gmana gt?
    *gk bs ngebayangn lo w bikin karya tlis pake bhasa gado2 wat tgas sastra*
  • Gw dah keburu kcewa baca crita2 lu yg sbnernya bgus tp stuck tgh jalan, jd yg ini harus tamat
  • BASKETBALL ROMANCE
    (Tentang persahabatan, cinta, dan bola basket)


    Pukul tujuh kurang sepuluh menit, Dafa sudah datang ke rumahku dengan motor ninja warna hijaunya. Maka dengan setengah terburu, kutatap sekali lagi pantulan bayanganku pada cermin besar di kamarku. Aku sempat nyengir melihat dandananku yang sudah mirip orang kencan. Padahal Dafa hanya memintaku menemaninya membeli sepatu. Tapi bodo amat, toh jalan-jalan di mall kanl nggak mungkin dengan dandanan serampangan.

    Maka begitu aku menyelesaikan sentuhan akhir pada rambutku, segera aku bergegas turun dari kamarku di lantai dua. Nampak di kursi tamu, Daffa yang begitu tampan dalam balutan jeans dan jaket kulit hitamnya tengah mengobrol dengan Mama.

    "Udah siap berangkat sekarang?"tanya Daffa begitu aku sukses berdiri di hadapannya.

    Aku mengangguk,"Yaudah, berangkat sekarang aja yuk, takut kemaleman."

    "Yaudah kalo gitu, Tante kami berangkat dulu yaa?"pamit Daffa pada Mamaku yang masih duduk memperhatikan kami.

    "Iya Nak Daffa, hati-hati yaa?"jawab Mamaku.

    "Pasti Tante!"

    "Yaudah Aldo berangkat dulu yaa, Ma?"ucapku sembari mencium telapak tangan Mamaku. Semenjak ayahku pergi untuk selamanya dari kehidupan kami. Beliau-lah satu-satunya orang yang amat kusayangi di dunia ini.

    Aku dan Daffa pun segera bergegas keluar begitu usai berpamitan. Tanpa basa-basi, segera aku menjatuhkan pantat pada jok empuk motor ninjanya. Sementara Daffa segera men-starter motornya dan melajukannya pelan diantara jalanan yang lumayan padat malam itu.
    Jakarta di petang hari memang selalu seperti ini, penuh dengan kendaraan-kendaraan pulang kantor.

    Motor yang kami tumpangi berhenti di sebuah mall besar dikawasan Jakarta Pusat. Setelah memarkirkan motor di basement, kami lantas bergegas masuk kedalam mall yang mulai dipadati lalu-lalang manusia. Aku baru sadar kalau ini hari sabtu. Pantas saja.

    Langkah kami berhenti di sebuah outlet yang khusus menjual barang-barang kebutuhan olah raga. Nampak disana terpajang beraneka ragam sepatu olah raga, jersey, dan berbagai sport equipment yang nampak berkelas dan mahal. Aku terus saja mengekor Daffa yang masih sibuk mengendarkan pandangan diantara deretan sneaker basket bermacam bentuk.

    "Bagusan mana sih menurut lo, yang hitam apa yang putih?" Daffa meminta pendapat seraya mengangkat dua buah sneaker berwarna putih dan hitam.

    "Kalo menurut gue sih yang putih lebih cocok sama lo deh,"ujarku sekenanya.

    "Iya juga sih, bentuknya juga rada kerenan dari yang hitam,"sahutnya. "Yaudah deh kalau gitu aku pilih yang putih aja."

    Maka, begitu selesai memilih sepatu yang cocok untuknya, Daffa pun bergegas melajukan langkah menuju kasir sementara aku menunggu diluar. Agak mengantri pada awalnya, namun tak berapa lama kemudian Daffa menhampiriku dengan menenteng kantong plastik bertuliskan nama outlet sepatu tadi.

    "Abis ini kita makan dulu yuk, laperrr,"ucapnya. "Lo mau makan apa?"

    Aku mengangkat bahu. Tak tahu harus menjawab apa. "Terserah lo saja deh."

    "Yaudah, kita ke KFC ajaa yuk biar cepet, udah laper banget nih,"ujar Daffa kemudian sebelum kami mengayunkan langkah menuju sebuah restoran fastfood yang terletak disamping eskalator. Sesampainya didalam, rupanya memang ramai. Akupun-seperti biasa-kebagian memilih tempat duduk sementara Daffa yang mengantre makanan.

    Aku duduk disebuah kursi dekat kaca yang menampakkan pemandangan luar. Aku selalu suka menatap lelampuan Jakarta di malam seperti ini. Gedung-gedung pencakar langit yang dihiasi lampu-lampu selalu berhasil menampakkan eksotismenya di malam gelap.

    "Awas-awas! Truk trontonnya mau lewat!"ujar Daffa yang datang sembari membawa nampan berisi paket nasi-ayam, kentang goreng, pudding dan Coca-Cola. Nampak keberatan, dia segera meletakkan nampan diatas meja. Aku hanya tersenyum melihat tingkah konyolnya itu. Setidaknya, pikiranku tentang Romeo dan latihan basket sedikit terhapuskan oleh kehadiran Daffa.

    "Banyak banget mesen makanannya? Niat mau ngasih makan yatim-piatu sekampung nih?"kelakarku menatap rentetan makanan di nampan yang tidak sedikit.

    Tanpa menjawab, Daffa hanya nyengir kuda. "Ah, biarin ah! Akunya kan laper! Hihihi!"celosnya seraya membagikan nasi-ayam, puding dan Cola ke piringku.

    Untuk sesaat, kami sibuk dengan makanan kami masing-masing. Hingga kemudian, Daffa yang asyik mencomoti kentang gorengnya membuka percakapan.

    "Jadi sejak kapan kamu suka basket, Do?"tanyanya dengan mulut penuh.

    Aku menyedot Cola-ku sebentar, "Hemm, sebenarnya sudah sejak SMP sih aku suka basket, tapi baru akhir-akhir ini aja aku serius menekuni olah raga itu,"jawabku sekenanya.
  • Jd cerita yg paris sama rental bf ga akan d lanjut lg? Trys yg ini bakal sampe end gak nih??
  • kutu22 wrote: »
    Jd cerita yg paris sama rental bf ga akan d lanjut lg? Trys yg ini bakal sampe end gak nih??

    Yg rental itu bukan punyaku lo, hehehehe, tp punya temenku! Kalo yg paris. Jika aku punya inspirasi akan kulanjut lg.
  • kutu22 wrote: »
    Jd cerita yg paris sama rental bf ga akan d lanjut lg? Trys yg ini bakal sampe end gak nih??

    Yg rental itu bukan punyaku lo, hehehehe, tp punya temenku! Kalo yg paris. Jika aku punya inspirasi akan kulanjut lg.

    Sori" bru liat nick nya mirip.. Heheh.. Yg paris d lanjut Pliss.. Itu bgus ceritanya...
  • "Kau sendiri?"lanjutku.

    Daffa tidak langsung menjawab. Sebentar diteguknya Cola dihadapannya kemudian mengelap bibirnya dengan tissue.

    "Asal kamu tahu, aku sudah sejak SD menyukai olah raga itu. Dulu sih aku cuma iseng ikut klub basket, tapi akhirnya lama-lama aku menikmatinya. Apalagi kalau timku bisa jadi juara, rasanya akan sangat menyenangkan!"jelas Daffa antusias. Yah, aku tahu. Sejarah dan prestasinya di dunia basket memang sudah tak diragukan lagi. Ia sering menunjukkan piala-piala basketnya saat aku main ke rumahnya. Ia bahkan pernah menjadi kapten tim basketnya kala SMP. Jauh berbeda denganku yang sama sekali awam dengan basket. Bahkan sesungguhnya alasan terbesarku ikut klub basket adalah Daffa. Yah, demi Tuhan aku memang menyukai Daffa. Aku menyukainya lebih dari seorang lelaki menyayangi sahabatnya. Mengagumi, lebih tepatnya. Tapi hingga sekarang aku tak pernah berani mengungkapkan rasa. Aku hanya takut ia akan menjauh kelak begitu tahu aku memiliki perasaan terlarang padanya. Biarlah. Biarlah kelak sang waktu yang menjawab dan mengisyaratkan perasaanku padanya. Setidaknya, untuk saat ini aku memang ditakdirkan untuk menjadi sahabatnya.

    "Oya, omong-omong, kau sudah siap menghadapi turnamen nasional bulan depan?"sambung Daffa kemudian, masih dengan mulut yang dipenuhi kentang goreng.

    Aku mengangkat bahu,"Yah, sebenarnya sejak awal pun aku sudah siap, cuma emang dasarnya si Romeo aja yang nggak puas sama permainanku!"dengusku. Lagi-lagi aku teringat dengan setan bernama Romeo itu.

    "Ahahahah!"Daffa terkekeh. "Nggak usah didengerin lah ucapan Romeo itu. Yang penting, percayalah pada kemampuanmu sendiri. Memang sih, ketika kita main basket, kita butuh teamwork. Tapi bagaimanapun kadar kemampuan orang itu pasti beda-beda kan?"

    Aku mengangguk takzim. Apa yang dikatakan Daffa tentu ada benarnya. "Tapi kurasa emang akunya juga sih yang nggak bisa jadi apa yang diharapkan Romeo. Aku memang masih terlalu lemah untuk jadi pemain basket."

    "Hei, kenapa malah jadi down sih?"Daffa nyengir. "Setidaknya masih ada cukup waktu untuk kita buat latihan, okey?"

    Sekali lagi aku mengangguk. Kali ini dengan senyum lebar. Entah kenapa beban yang beberapa hari ini kurasakan sedikit berkurang setelah mendengar apa yang diucapkan Daffa barusan.

    "Yang pasti, tetaplah berusaha, Do!"sambung Daffa. "Aku yakin, sebelum Michael Jordan bisa jago main basket, dia pasti juga pernah ditimpuk kepalanya sama kapten timnya! Iya kan?"

    Mau tak mau aku nyengir. Kelakar Daffa berhasil membuatku tersenyum. "Yah, mungkin saja."

    "Okey, kalau gitu, kita kemana lagi nih abis makan? Toh baru jam delapan nih!"

    "Terserah kamu aja lah, Daf."

    "Okey, kalau gitu, kita nonton yuk? Kayaknya seri terakhir Harry Potter yang diposter tadi keren deh!"

    Aku pun mengangguk tanpa harus berpikir lebih lama, "Okey, deh!"

    Dan kami pun segera bergegas menghabiskan makanan kami sebelum beranjak ke bioskop yang malam itu memutar film Harry Potter And The Deathly Hallows part kedua..

    ***


    "Prittt!"

    Pekik peluit memekakkan telinga kembali terdengar bersamaan dengan lemparan bola berwarna cokelat diudara. Seketika saja, cowok-cowok dalam balutan kaos basket berlengan buntung sibuk berebut bola yang tiada henti membumbung akibat terpantul dilantai. Aku masih ditempatku, duduk termangu sembari menunggu giliran bermain. Mataku tiada henti menatap Daffa yang tengah mempertahankan bolanya agar tak direbut pemain lain. Sementara diujung lapangan, Romeo terus meneriaki para pemain agar melakukan strategi seperti yang diaturnya.

    Aku kontan melongok begitu Daffa mulai berlari menuju ring. Langkahnya yang kencang tak terkejar oleh pemain lain. Sebentar ia memantul-mantulkan bola, dan dalam hitungan detik, ia melompat dan berhasil memasukkan bola kedalam ring setinggi 15 meter itu. Three point. Romeo bersorak girang.

    "Okey, selanjutnya, Aldo!"

    Terdengar suara Romeo yang berat menyuruhku untuk memasuki lapangan. Maka dengan segera, aku bangkit dan berlari menuju tengah lapangan. Sementara Daffa yang telah basah oleh keringat nampak memberiku semangat. Ia duduk seraya menenggak botol mineralnya.

    "Udah siap lo?"tanya Romeo dengan nada tak bersahabat.

    "Kapanpun lo minta, gue akan siap!"jawabku menyunggingkan senyum percaya diri.

    "Okey, jangan sampai lo terjatuh lagi waktu nangkep bola!"ujar Romeo melemparkan seringai meremehkan.

    Dan peluit pun kembali berbunyi, seiring dengan derap langkahku dan pemain lain mengejar bola yang terpantul dengan kencang. Beruntung, lompatanku paling tinggi sehingga dengan mudah, bola berada dalam kendaliku. Tanpa mengabaikan kesempatan yanga ada, segera aku berlari sambil mendribble bola kearah ring. Dibelakangku, nampak pemain lain berusaha menghadang dan mengejarku. Maka dengan mempercepat langkah, aku terus mendribble bola. Ring tinggal beberapa meter dihadapanku. Aku melompat, hendak memasukkan bola kedalam ring. Namun, rupanya kakiku menyerempet kaki pemain lain. Dan alhasil, tubuhku limbung dan untuk kesekian kalinya aku ambruk, sementara bola yang tadi digenggamanku terpantul kearah lain.

    "Stop! Stop! Stop! Argggghhh!!!!"

    Terdengar Romeo berteriak kecewa dari sudut lapangan. Bisa kulihat wajahnya menyeringai sementara tangannya nampak mengepal keudara.

    "Lo gimana sih, Do! Beneran bisa main nggak sih! Tinggal nge-shoot bola ke ring aja masak nggak bisa!"!

    Teriakan itu kembali terdengar. Kali ini semakin dekat. Baru kusadari kalau langkah Romeo perlahan menujuku. Aku mendongak dan menemukan sosok jangkungnya sudah berdiri didepan mataku.

    "Gua tadi kepeleset, jadi sori!"ujarku pelan. Nafasku masih memburu karena tadi aku begitu kencang berlari.

    "Alaah! Elo tuh terlalu banyak alasan! Bilang aja kalo nggak bisa main basket! Pake sok-sokan ikut klub basket segala. Bagaimana bisa tim sekolah kita lolos turnamen kalo ngelempar bola ke ring aja lo masih belum becus!"

    Aku menelan ludah. Apa yang baru saja dikatakan Romeo benar-benar sukses membuat telingaku terbakar. Dia sudah benar-benar meremehkanku sekarang.

    "Gue nggak se-bego itu, Rom!"ucapku sembari bangkit berdiri menghadap Romeo.

    "Alah! Emang kenyataannya lagi kalo lo bego dan lemah!"sahut Romeo lagi. Kali ini sudah benar-benar kelewatan.

    "Bisa nggak lo jaga mulut lo!"ancamku dengan nada suara yang naik beberapa desibel.

    "Apa? Lo berani sama gue? Kalo emang dasarnya nggak bisa main basket yaudah. Apa lo nggak malu make seragam kebesaran tim sekolah sementara nge-shoot bola ke ring aja lo nggak bisa? Cowok lemah kayak lo tuh emang nggak pantes main basket! Pulang sana dan ajak temen cewek lo main rumah-rumahan!"

    Sumpah demi apapun. Ucapan Romeo sudah tak bisa ditolerir. Ini sudah benar-benar dibatas kesabaranku.

    "Lo bisa ajar mulut lo buat sedikit ber-sopan santun nggak!"pekikku seraya meraih kerah lehernya. Tanganku bergetar menahan emosi yang sudah tak terbendung.

    "Gua nggak takut! Ayo pukul gue! Dasar cowok cupu!"

    Maka tanpa memikirkan segala kemungkinan yang terjadi, tanganku segera mendarat tepat diwajah Romeo. Cukup keras sampai-sampai hidung mancungnya mengeluarkan beberapa titik darah berwarna merah pekat. Dan perkelahian pun tak bisa dihindari. Aku dan Romeo pun sukses terlarut dalam perkelahian sengit. Beberapa kali ia sempat membalas pukulanku. Namun aku tak tinggal diam. Gerakan tanganku lebih lincah menghajar tiap lekuk wajah dan tubuhnya.

    "Stop! Stop! Hentikan!"

    Terdengar teriakan keras dari Daffa yang mencoba melerai perkelahian kami. Dengan paksa, segera ditariknya tubuhku menjauh dari Romeo. Aku berontak, namun tenaga Daffa lebih kuat daripada tenagaku.

    "Lepasin aku Daf! Lepasin!"pekikku mencoba berkelit.

    "Udahlah, Do! Jangan kayak anak kecil! Kamu nggak perlu membalasnya!"sentak Daffa sementara kedua lengan gempalnya masih mengunci pergerakanku. Terlalu kuat untuk kulerai. Aku tak bisa apa-apa. Hanya diam sementara mataku bisa menangkap Romeo yang wajahnya dihiasi titik-titik darah segar.

    "Denger ya Rom! Gue bakal buktiin kalo gue nggak selemah yang lo bilang! Cepat atau lambat gue bakal ngebuktiin kalo gue pantes ikut mengharumkan tim sekolah kita! Gue bakal ngebuktiin! Dan lo bakal nyesel udah ngebilang gue lemah!"teriakku sebelum tubuhku ditarik menjauh oleh Daffa. Bisa kulihat Romeo terdiam. Pun begitu anak-anak klub basket lain yang masih shock memperhatikan pertengkaran kami.
  • janji ya......dilanjut ampe pinish..... :bz
Sign In or Register to comment.