BoyzForum! BoyzForum! - forum gay Indonesia www.boyzforum.com

Howdy, Stranger!

It looks like you're new here. If you want to get involved, click one of these buttons!

Selamat datang di situs Boyzforum yang diarsipkan oleh Queer Indonesia Archive. Forum untuk komunitas gay Indonesia yang populer ini didirikan pada tahun 2003, dan ditutup pada tanggal 15 Desember 2020.

Forum ini diabadikan untuk kepentingan sejarah. Tidak akan ada konten baru di forum ini. Silakan menikmati forum ini sebagai potongan dari sejarah queer Indonesia.

NO RAIN NO RAINBOW

edited August 2012 in BoyzStories

If it’s a fairytale
I’ll quickly go to the tomorrow where you exist
Every time, everyday, everything
Even though it doesn’t become words
You are my special place
If my only wish could become true
God, please stop the time that is only ours….

~***~**~*~***~**~*~***~**~*~***~**~*~***~
boby POV

“Cuit…. Cuit…Cuit…”

Suara para burung pipit yang bertengger di atas pohon tepat sebelah jendela kamarku membuat aku terbangun dari tidur panjangku sejak tadi malam.
“omg!!…. Ternyata ini sudah benar-benar pagi~” ujarku sambil mengusap kedua mataku dan beranjak dari tempat tidurku. Kulangkahkan kakiku dan bergegas membuka korden jendela kamarku.
“Sreeettt…..” Sinar matahari pagi yang begitu hangat langsung menyelimuti seluruh tubuhku setelah aku membuka korden jendelaku. Kubuka jendela tersebut sambil tersenyum..
“Hmmmhh….” kuhela nafas panjang, kupejamkan kedua mataku sambil menikmati udara pagi yang begitu segar.
“Cit…Cit…Cuit…” kembali kudengar suara kicauan para burung pipit yang masih menghiasi pohon di halaman rumahku tersebut.
“Hey…. Selamat pagi teman-teman !” kataku sambil tersenyum ramah sembari melambaikan tanganku kearah burung-burung pipit nan mungil tersebut.
Mereka seakan membalas ucapanku dengan kicauan mereka yang semakin lama semakin ramai.
Pagi yang cerah ini seakan menyiratkan rasa bahagia yang kurasakan.

“good morning all….!!” teriakku sambil berlari menuju ruang makan.
“good morning honey….” sahut mamah lembut.
“Eh? Adikku yang satu ini pagi-pagi begini sudah senyum-senyum sendiri… “ sindir felix.
“Biar saja… memangnya tidak boleh?” ujarku sambil mengerucutkan bibirku.
(Setelah beberapa waktu kami melanjutkan acara sarapan pagi seperti biasa)

Lho? Ada apa dengan keluargaku ini…?
Kenapa tidak ada satupun yang mengucapkan selamat ulang tahun padaku..?
Apa mereka lupa…?
“Huhhh…Menyebalkan !” aku mendengus kesal.

“abang….” ujarku sambil menarik baju bang felix pelan.

“Ada apa …?” balasnya datar tanpa menoleh kearahku.

“abang tidak ingat ya ini hari apa..??” tanyaku memelas.

“Ingat kok.” Jawabnya sambil tersenyum.

“apa? Jadi abang ingat kalau hari ini adalah hari…” belum sempat aku meneruskan kata-kataku bang felix menjawab,

“ Ini hari Minggu kan? Tentu saja aku tidak lupa…” katanya tertawa.

“Aiishhhh~” gerutuku sambil menggembungkan pipiku.


“mamahh!!!” teriakku pada mamah yang masih berada di dapur.


“Ada apa sayang..??” tanya mama.

“Masa bang felix Cuma bilang kalau hari ini adalah hari Minggu…” kataku mengadu.

“Lho? Bukannya kakakmu benar ya? Hari ini kan memang hari Minggu sayang…” ujar mama.

“Lhooo…. mama ini sama saja dengan Kak felix ~ Menyebalkan !” kataku kesal.
Aku beranjak dari ruang makan menuju ruang tv dan menemui adikku, Yoogeun-ah yang sedang asik memainkan robot-nya…

“good morning adekku sayang…” kataku sambil mencubit pipi adikku yang masih berumur 5 tahun itu.
Namun, lebih-lebih membalas sapaanku, menoleh padaku saja tidak. Dasar anak ini… Dia terlalu serius bermain robot-robotan.

“dede…. Masa kau tidak mau mengucapkan selamat ulang tahun kepada kakak-mu yang cakep ini…??” tanyaku sambil berjongkok agar bisa melihat wajahnya.
Huuhhh~ percuma saja. Untuk apa aku berbicara kepada anak ini agar dia mengucapkan selamat ulang tahun padaku….

Aku bingung mau berbuat apa lagi. Aku melangkah gontai kearah kamarku dan segera merebahkan tubuhku keatas tempat tidurku. Aku merenung sejenak…Tak terasa setetes air mata jatuh dari kedua pelupuk mataku.

“Seandainya saja papa ada disini bersamaku….” harapku sambil menggenggam erat boneka beruang yang merupakan hadiah dari papa saat aku berulang tahun ke 17.
Selama ini aku jarang sekali bertemu dengan papa karena dia harus bekerja di luar negeri. Paling tidak aku hanya bisa bertemu dengannya satu atau dua kali setahun. Jadi rasanya sangat amat tidak mungkin jika papa bisa berada di sini menemaniku dihari ulang tahunku ini….
“papa i miss u…..” tangisku.

“bobii…!!!” teriak mama.


“ya mahh…” jawabku malas.

“Ada teman yang mencarimu diluar, cepatlah temui dia….” kata mama.
Aku mengusap air mataku dan bergegas berganti baju dan merapikan diri. Aku berlari keluar untuk menemui temanku.
Eh? Tunggu dulu… Temanku yang mana?

Aku berbalik arah dan menemui mama, “mama… Siapa yang mencariku?” tanyaku bingung.

“mama tak tau…. Sudah sana temui saja !” suruh mama.
Aku berjalan dengan agak ragu sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
Aku penasaran, siapa yang mencariku hari libur begini…??

“Ceklek…” aku membuka pintu secara perlahan-lahan.
Aku sedikit mengintip keluar untuk memastikan siapa yang hendak menemuiku.Namun, aku tidak melihat siapa-siapa disana.

“Lho..? Kenapa tidak ada siapa-siapa..?” gumamku sambil celingak-celinguk di depan rumahku sendiri.

“Aiissh~” keluhku.“mama mengerjaiku saja ! Dasar…” gerutuku kesal.

“Plok…Plok…” terdengar suara seseorang bertepuk tangan.
Aku membalikkan badanku…. Sungguh aku tak percaya dengan apa yang sedang aku lihat…

“happy birthday to you…. “
“happy birthday to you ….”
“…. papah…???” kataku terkejut.
“happy birthday to you .!!!!” teriak papa, mama, bang felix, dan adekku


“omg….” aku menangis karena terharu.

“Ternyata kalian semua tidak ada yang lupa ulang tahunku…. Dan…. PaPA ! Kau ada disini…. AKU BAHAGIA SEKALI….!!!” pekikku senang.

“Tentu saja sayang… tentu saja kami tidak akan pernah melupakan ulang tahunmu….” jawab mama sambil tersenyum dan mencium pipiku.

“i love you sayang …” ujar mereka sambil memelukku.

“Sekarang tiup kue ulang tahunmu ini de…” pinta kak felix.

“Oke !” jawabku senang dan segera meniup lilin berbentuk angka 20 tersebut.

“Aku mau ini…” ujar dedeku polos sambil mencolek krim kue tersebut dan segera memasukan jari mungil yang terkena krim tersebut kedalam mulutnya.


“Hahahahaha….” kami semua tertawa menyaksikan hal tersebut.
~***~**~*~***~**~*~***~**~*~***~**~*~***~

“papah aku kangen…” kataku sambil memeluk appa setelah acara buka kado selesai.

“papah juga sayang….” sahut appa sambil tersenyum lembut.

“makasih banget pah kau sudah menyempatkan waktumu kesini hanya untuk ikut merayakan ulang tahunku…. Kau tau? Hari ulang tahunku tak akan seindah ini jika kau tidak hadir disini dan mengucapkan selamat ulang tahun padaku….” paparku.

“Tentu saja papa rela memberikan waktuku untuk merayakan ulang tahun anakku sendiri…. papa tau, saat ini adalah saat yang sangat berharga. papa tidak akan melewatkan kesempatan ini. Siapa tau ini adalah kesempatan terakhirku untuk mengucapkan selamat ulang tahun padamu boby…” sahut papa lembut.

“papa jangan bilang begitu…. “ pintaku.

“Hahahahah…. iya sayang.” Balasnya sambil tertawa.

“… Karena ini ulang tahunmu, papa akan mentraktirmu makan malam di tempat favoritmu. Bagaimana?” kata papa menawarkan.
“oke! oke! Tentu saja aku mau…!” jawabku antusias.

“Baiklah… Ayo kita berangkat !” ajak papa.

“cusss ! Aku sudah lapar….” sahutku sambil berlari memasuki mobil.

Author POV


boby dan ayahnya bergegas masuk ke mobil dan berangat menuju restoran yang dituju. Mereka berdua tampak bahagia dan sudah tidak sabar untuk segera sampai ke tempat yang dituju.
Saat itu malam hari sekitar jam setengah 8. Situasi jalanan cukup sepi dan lancar. Namun saat mobil mereka melewati jalan yang membelok, dari arah yang berlawanan sebuah mobil melaju dengan begitu cepat dan tidak terkendali.

“papa… Ada apa dengan si pengendara mobil yang berada didepan kita itu…??” tanya boby panik.

“Entahlah… papa juga tidak tau. Namun dia ngebut sekali dan sepertinya arahnya tidak terkendali…” jawab papa-nya.

“papa harus hati-hati…” pinta boby.
Saat itu mobil yang melaju berlawanan arah dengan mereka itu melaju semakin cepat dan semakin dekat dengan mobil mereka. Mobil tersebut menyenggol sebuah truk sehingga truk tersebut meghantam mobil yang berisi boby dan ayahnya.

brokkk ! Karena terhantam truk tersebut, Mobil papa boby kini terpental hingga menabrak mobil yang tadinya menyenggol truk tadi. Karena saling bertabrakan kedua mobil tersebut secara bersamaan jatuh ke dalam jurang.

Alhasil, karena kecelakaan tersebut kedua mobil tersebut hancur . Kondisinya menggenaskan dan para penumpang yang berada di dalamnya belum bisa diketahui nasibnya karena sedang ditangani oleh ambulance untuk dibawa ke rumah sakit.

biandara POV

“Aiisssh~ apa-apaan ini?” gerutuku sambil merobek-robek formulir pendaftaran universitas yang disodorkan appa padaku.

“heii ! Kau ini benar-benar keterlaluan bia !” kata papa geram.

“Keterlaluan apanya hah?? Kau itu yang keterlaluan !” balasku kesal.

“Kurang ajar ! Apa yang kau lakukan dengan merobek-robek formulir pendaftaran ke universitas itu? Kau tidak mau kuliah? Lalu mau jadi apa kau nantinya ?! “ omel papa.

“Aku tidak mau kuliah dan aku tidak akan mau meneruskan perusahaanmu yang tidak penting itu ! Kau urus saja perusahaanmu sendiri ..!!” ocehku emosi.

“KAU ..!!!” seru papa geram sambil mengangkat telapak tangannya hendak menamparku.

“knp? Kau mau menamparku? silahkan ! Tampar saja aku sepuasmu ! Tapi ingat, aku tidak akan pernah mau menuruti keinginanmu… !!” teriakku.

“Arrgggghhh… Percuma aku punya anak sepertimu! Benar-benar tidak ada gunanya…!” ujar papa kesal sambil melangkah pergi.

Huh! Lagipula siapa juga yang sudi dilahirkan dengan memiliki ayah yang tidak bertanggung jawab sepertimu ! Aku benar-benar menyesal pernah dilahirkan di dunia ini !

Selama ini hidupku hanya sia-sia. Tidak ada kasih sayang atau perhatian sedikitpun dari kedua orang tuaku. Semuanya hanya sibuk mementingkan karir serta perusahaannya masing-masing. Tidak ada satupun yang bisa memperhatikan aku.

Apa gunannya semua harta, kekayaan, materi, dan segala yang mereka berikan? Toh aku tetap saja tidak bisa menikmati hidupku. Semuanya tetap saja terasa hampa.
“AISSHH~ RASANYA AKU INGIN MATI SAJA !” teriakku sambil mengacak-acak rambutku sendiri.

~***~**~*~***~**~*~***~**~*~***~**~*~***~
-Malam hari di ruang makan-

“Ini dek…..” kataku sambil menyodorkan makanan pada adikku, arta.


“Emm….” jawabnya tanpa menyentuh makanan itu sedikitpun.
Aku mengunyah makananku sambil memperhatikannya yang terlihat begitu lemas dan suntuk. Rasanya makanan yang kuberikan tak menarik perhatiannya sedikitpun. Ia hanya memangku tangannya di atas meja sambil melamun.

“Hey? Ada apa ini…? Kau tidak lapar ya…?” tanyaku sambil mengangkat piring dan menghadapkannya ke wajahnya.

“gak…” jawabnya singkat. Seusai menjawab pertanyaanku di beranjak dari tempat duduknya dan melangkah pergi menuju kamarnya dengan langkah gontai.

“Ada apa dengan anak itu…?” gumamku bingung.
Tanpa pikir panjang aku segera meninggalkan meja makan dan mengikuti dia yang sudah sampai terlebih dulu di kamarnya.
Saat aku sampai di ambang pintu kamarnya, aku melihat Minwoo sedang tertunduk sedih sambil memandangi sebuah foto. Aku berjalan mendekatinya…
Ternyata arta sedang memandangi foto kami, lebih tepatnya papa, mama, Aku, dan arta.
Aku melihat matanya begitu berkaca-kaca. Dia terlihat begitu sedih.

“Aiisshh…. Apa-apaan ini??” pekikku sambil merebut foto tersebut.

“woyy bangg …!! Kembalikan foto itu padaku !!” teriak arta terkejut.

“knp? gag akan ! Untuk apa kau menangisi foto yang tidak penting seperti ini de?” ujarku.

“bang pleasee … Aku mohon kembalikan foto itu…” pinta arta sambil menangis.

“denger de ! Untuk apa kau menangis?? Kau itu cowoo ! cowo itu tidak boleh menangis ! Kau dengar itu..!!” omelku.

“Tapi…. Tapi itu adalah satu-satunya foto keluarga yang kita miliki bangg …” rintihnya.

“Ada apa denganmu? Kenapa kau jadi cengeng seperti ini? Aku tidak mau punya adek cengeng sepertimu!” sahutku seraya mengembalikan foto itu.

“knp bang ? Kenapa papa dan mama tidak pernah peduli padaku..? Padahal aku sudah menuruti mereka… Aku sudah belajar dengan giat, bahkan aku selalu juara satu disekolah… Tapi untuk hadir di acara penerimaan penghargaan saja mereka tidak mau…” tangis arta.

“Mereka tidak mau..??” tanyaku.

“huum. Mereka bilang mereka sibuk. Tidak sempat menghadiri acara tidak penting seperti itu…” ujarnya.

“Padahal semua anak yang akan mendapatkan penghargaan biasanya ditemani orang tuanya dengan rasa bangga, tapi aku? Percuma saja… papa dan mama seertinya sama sekali tidak bangga padaku…” tambahnya lirih.

“Benar-benar keterlaluan…! Orangtua macam apa mereka berdua itu? Percuma saja kau menuruti semua perintah mereka… Tetap saja tidak ada bedanya kan?” ucapku kesal.

“Tapi aku pikir dengan aku menuruti mereka, mereka akan menyayangiku?” ujar arta.

“gag… mereka memang orangtua yang tidak berguna…” ucapku geram sambil pergi meninggalkan arta dan bergegas ke kantor papa.

Dengan penuh amarah aku memasuki mobilku dan mengendarainya dengan terburu-buru. Aku sudah tidak tahan lagi. Aku ingin melabraknya dan memakinya sampai dia sadar bahwa dia adalah orangtua yang benar-benar keterlaluan.

Aku mengendarai mobilku dengan sangat cepat dan tak terkendali. Aku tidak memperdulikan kendaraan lain yang berada di sekitarku. Yang penting aku harus cepat sampai di tempat itu.
Sementara diperjalanan, di sebelah kananku sebuah truk besar menyelip seenaknya dan menghalangi jalanku.

“ANJINGGG ! Kau benar-benar menghalangi jalanku..!!” gerutuku kesal dan mencoba menyalip truk tersebut. Namun karena terlalu keras, mobilku terbentur dengan truk tersebut sehingga truk itu oleng dan menabrak mobil lainnya.

“SHITTT !” teriakku terkejut.
Beberapa detik kemudian, mobil yang terhantam oleh truk tersebut terpental kearah mobilku dan……..


(To Be Continued…)




Comments

  • 7 hari kemudian....

    @Ruang inap biandra

    “Bagaimana dokter? Apa dia sudah benar-benar sadarkan diri..??” tanya mamah-nya bian.
    “ya. Sekarang dia sudah sadar... Tapi aku mohon jangan terlalu sering menanyainya hal-hal yang bisa membuat dia tertekan...” jawab sang dokter.
    “Aku dimana ini...??” tanya bian bingung sambil memegang kepalanya.
    “omg.... biann....” teriak mama-nya bian bahagia sambil memeluknya dengan erat.
    “Akhirnya kedua bola matamu terbuka kembali nak... mama benar-benar menantikan saat-saat ini...” ucap wanita itu seraya meneteskan air matanya.
    “Kk...Ka...Kau siapa...?? Apa aku mengenalmu...??” tanya bian dengan tampang bingung.
    “Apa kau tidak mengenalku sayang? Aku ini mama-mu...” jawab wanita itu sambil terkejut.
    “bian? Apakah itu namaku...??” tanyanya lagi.
    “Benar bang.. . Dan aku ini arta bang, adek-mu.” Ucap arta.
    “omg... ternyata benturan yang begitu keras saat kecelakaan itu membuatnya menjadi amnesia...” kata dokter sambil memeriksa bian.
    “benarkah itu? Jadi anakku lupa ingatan..??” tanya papa-nya bian yang baru saja masuk.
    “ya. Ingatannya hilang karena kecelakaan tersebut.... Aku mohon kalian bersabar...” ujar dokter.
    “hah? Apa amnesia bisa disembuhkan?” tanya arta.
    “ya. Tentu saja... Suatu saat nanti dia akan ingat semuanya.Tapi itu butuh waktu...” Jawab dokter.



    ~***~**~*~***~**~*~***~**~*~***~**~*~***~
    @Ruang inap boby

    “Nahh... perbannya sudah dilepas. Sekarang coba buka kedua matamu perlahan-lahan” ucap dokter.
    “Baiklahh...” jawab boby sambil membuka kedua matanya sedikit demi sedikit.

    “Bagaimana...?” tanya dokter sambil mengibaskan tangannya di depan wajah boby.
    boby menggeleng. “Tidak ada... semuanya gelap....” jawab bobi lirih.
    “benarka.?” felix terkejut.
    “Tidak mungkin...” ucap mama tak percaya.
    “benarkah..?? omg... maafkan saya...” ujar dokter sambil menundukkan kepalanya.
    “knp dok ? Aku tetap bisa melihat lagi kan? Ini pasti hanya sementara kan dokter..??” tangis boby.
    “Sekali lagi maaf..... Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi” sesal sang dokter.
    “mama bagaimana ini? Aku tidak buta kan? Aku tidak mungkin buta kan mama...??” tanya boby khawatir.
    mama boby hanya bisa terdiam dan menangis.
    “Sabar sayangg... Aku yakin kau pasti bisa melihat lagi...” hibur felix sambil merangkul adiknya.
    “gakk..!! gakk..!!gakk mungkin..!!” tangis boby.
    “Aku tidak mungkin buta ! Aku tidak mau buta ! Aku....” isaknya semakin menjadi-jadi.
    “papa? Kemana papa? Bagaimana keadaannya? papa baik-baik saja kan ma??” tanya boby khawatir.
    “sayang.... papa-mu....” ucapan mama boby terhenti sejenak.
    “Ada apa ma? Kenapa berhenti? papa benar baik-baik saja kan? A-yo jawablah pertanyaanku !” boby semakin curiga.
    mama boby kembali terisak dan tak sanggup lagi mengeluarkan kata-katanya.
    “papa sudah pergi sayang.... Dia sudah tidak ada....” ucap felix sambil menahan air matanya.
    “bohonggg?! Tidak Mungkin..... Itu pasti tidak mungkin !!! papa tidak mungkin pergi meninggalkan kita ! Aku yakin itu !” bantah boby.
    “Tapi itu benar dek.... pApa sudah pergi ke surga sekarang.....Kau harus kuat !” sahut felix sambil memeluk boby erat.
    “ya tuhan.... Kenapa secepat ini appa meninggalkanku? knp tuhan ?? Aku benar-benar membutuhkannya sekarang...” tangisnya.
    “Hidupku benar-benar sudah tidak ada artinya lagi sekarang....” gumam boby pedih.


    boby POV
    Beberapa hari kemudian....

    “abang... Antarkan aku ke kolam renang sekarang...” pintaku.
    “Kolam renang? Tapi untuk apa?” tanya bang felix.
    “Aku ikut juga ya bang??” pinta adit.
    “Oke baiklah...” ucap bang felix sambil mendorong kursi rodaku meninggalkan ruang inapku menuju kolam renang yang terletak di sebelah rumah sakit.

    “Nah kita sudah sampai...” ujar bang felix.
    “emm..” jawabku.
    “Eiitts... tunggu dulu. Dimana adit? Perasaan tadi dia mengikuti kita?” bang felix kebingungan.
    “Mana aku tau... Aku kan tidak bisa melihatnya...” jawabku.
    “Emm... baiklah. Kau tunggu disini dulu, aku akan mencari adit sebentar...” kata eonni.
    “wpkehh..” ucapku.

    “Inilah saatnya...” pikirku.
    Ku genggam kedua ban kursi rodaku dan segera menjalankannya, aku menggunakan instingku untuk menjalankannya mendekati kolam renang.
    Semakin lama, aku menjalankannya semakin kencang dan....
    “BYUUUURRR...!!!” aku merasakan seluruh tubuhku beserta kursi rodaku tenggelam di dalam air.
    Nafasku benar-benar sesak sekarang. Yang bisa kulakukan hanyalah menggerakan seluruh anggota tubuhku secara tidak teratur.
    “BYURRR !” kurasakan ada seseorang yang sedang menyelam masuk ke dalam kolam tersebut.
    Dan, tiba-tiba ada sebuah tangan yang meraih tanganku.... Kemudian tangan tersebut merangkulku dan berusaha membawaku keluar dari air.
    Orang tersebut mengangkatku dan membaringkanku di tepi kolam renang. Dia berusaha menyadarkanku dan memompa nafasku. Dia berusaha menekan dadaku agar air yang ada di dalam dapat keluar. Begitu juga ia memberikanku nafas buatan.
    “Uhuk...” aku terbatuk beberapa kali dan sadarkan diri.
    “kamu? gpp kan...??” terdengar suara seorang cowo Sepertinya itu suara cowo yang menyelamatkanku barusan.
    “kenapa?” tanyaku kesal.
    “Hah?” Ia merasa bingung dengan pertanyaanku.
    “Kenapa kau menyelamatkanku hah? Kenapa kau tidak membiarkanku mati saja?” tanyaku.
    “Kau ini bicara apa..?? Aku ini sudah menyelamatkanmu dan kau malah marah-marah padaku..??” tanya namja itu bingung.
    “Hidupku ini sudah tidak ada gunannya ! Kau tidak lihat? Aku ini buta !” ujarku.
    “Lalu kenapa? Memangnya dengan kau buta itu sama saja kau sudah tidak pantas lagi untuk hidup begitu...??” tanyanya.
    “Kau itu bukanya bersyukur sudah diberi kesempatan untuk hidup... Kau itu sama sekali tidak menghargai kesempatan yang kau miliki, tau tidak?” omel namja itu.
    “Apa maksudmu..??” tanyaku bingung.
    “Masih banyak yang ingin sekali mendapat kesempatan untuk hidup sepertimu.... Tapi mereka tidak bisa mendapatkannya ! Tapi kau? Kau justru menyia-nyiakannya dan menganggap hidupmu tidak berharga..??” ucapnya.
    “Tapi...” ujarku.
    “Tapi apa..??” tanya namja tersebut.
    “KAU TIDAK MENGERTI APA YANG KURASAKAN ! Dihari ulang tahunku, yang seharusnya diselimuti dengan penuh kebahagiaan justru aku harus mengalami kecelakaan yang menyebabkan aku kehilangan penglihatanku serta appa yang sangat amat aku cintai lebih dari apapun di dunia ini...” isakku.
    “knp ??” ucapnya terkejut.
    “Kau tentu tidak bisa membayangkan kan betapa rapuhnya aku sekarang... Aku merasa bagaikan akulah orang yang paling menyedihkan di dunia ini...” tangisku semakin menjadi-jadi.
    “Aku mengerti sekarang...” ucapnya sambil menyenderkan kepalaku di dadanya.
    “Menangislah jika kau ingin menangis.... Aku rela meminjamkan dadaku untukmu jika kau mau...” katanya.
    Saat itu aku menangis sejadi-jadinya. Aku rasa aku sudah tak kuat lagi menghadapi semua ini.


    biandra pov

    “OMg... Kasihan sekali sampai ini... sampai-sampai aku tidak bisa berhenti memikirkan ceritanya yang membuatku begitu terharu” gumamku sembari mengangkatnya dan mendudukkanya kembali di kursi rodanya .
    Tanpa sadar jari-jari tanganku mendekati pipinya dan berusaha mengusap air mata yang membasahi pipinya tersebut.
    “udah yahh... Aku yakin kau pasti tidak akan sendiri menghadapi semuanya...” hiburku.
    “bobi!!... Kenapa kau bisa basah kuyup begini...??” tanya seorang cowo yang tiba-tiba datang.
    “bang felix...??” ternyata cowo itu adalah kakak cowo yang kuselamatka tadi.
    “Ya! Kau apakan adikku sampai basah kuyup seperti ini..??” tuduhnya padaku.
    “Aku tidak melakukan apa-apa ! Justru aku yang menyelamatkanya, dia tadi hampir saja kehabisan nafas karena tenggelam di kolam renang ..!!” jelasku.
    “benarkah..??” tanyanya terkejut.
    “ya. Itu benar bang.. cowo ini yang sudah menyelamatkanku...” ujar bobi.
    “Ohh... Kalau begitu terima kasih...maaf aku sudah menuduhmu yang tidak-tidak...” sesal abang itu.
    “gpp...” jawabku seraya tersenyum.
    “maafin aku boob... Ini semua salahku... Tidak seharusnya aku meninggalkanmu seorang diri...” ucap abang itu lagi.
    “Lebih baik kita kembali kerumah sakit saja sekarang...” ujar sang abang sambil mendorong kursi roda boby dan pergi.

    “Owhhh... Jadi dia juga salah satu pasien dirumah sakit tempat aku dirawat...” pikirku.
    “cowo itu bernama boby....” ucapku.








    arta POV

    Sepulang sekolah ini aku dan mama meutuskan untuk mengunjungi bang biandirumah sakit. Kasihan dia, pasti suasana di rumah sakit sudah sangat membosankan baginya. Padahal keadaannya sudah cukup membaik, namun dokter masih belum mengizinkannya untuk pulang ke rumah.
    Namun, disisi lain aku sangat senang. Sejak kecelakaan yang dialami bang bian, papa dan mama menjadi sangat memperhatikan kami berdua. Bahkan papa rela meninggalkan meeting pentingnya begitu saja ketika mendengar kabar kalau bang bian kecelakaan. Sampai sampai mama sudah tidak mengijinkan aku pulang sekolah sendiri, kini mama selalu menyempatkan waktunya untuk menjemputku. Mungkin bagi sebagian orang perhatian yang kini diberikan orangtuaku terasa agak berlebihan, tapi bagiku, inilah yang kuinginkan ! Sejak dulu aku ingin sekali merasakan saat-saat seperti ini.

    Namun saat kami sampai di ruangan bang bian, kami tidak mendapatinya disana.
    “Kemana abang-mu...??” tanya mama bingung.
    “Entahlah... Sebentar, biar aku mencarinya...” ujarku dan segera keluar untuk mencari bang bian.
    Setelah beberapa lama mengelilingi rumah sakit aku masih belum menemukan bang bian. Akhirnya aku memutuskan untuk bertanya kepada suster yang biasanya merawat abang.

    “Dia bilang akan pergi ke kolam renang....” jawab suster itu.
    “Owhh.... Baiklah. makasih...” ucapku sambil melangkah pergi menuju tempat kolam renang tersebut.

    Namun, setibanya disana aku justru terkejut melihat bang bian sedang berbicara dengan seorang noona yang juga memakai baju pasien sama seperti abang.
    “Masih banyak yang ingin sekali mendapat kesempatan untuk hidup sepertimu.... Tapi mereka tidak bisa mendapatkannya ! Tapi kau? Kau justru menyia-nyiakannya dan menganggap hidupmu tidak berharga..??” teriak abang bian pada abang itu.
    “omg... apa benar abang mengatakan hal itu?” pikirku.
    Sekarang aku benar-benar sadar.... Semenjak kecelakaan itu terjadi dan abang menjadi lupa ingatan, dia benar-benar berubah 180 derajat dari bang bian yang dulu. bang bian yang dulu tidak mungkin mengatakan hal seperti itu, karena abang yang dulu adalah orang yang arogan, keras kepala, dan tidak pernah menganggap kalau hidupnya itu berarti. Dia selalu mengatakan kalau percuma saja dia hidup, percuma saja dia dilahirkan di dunia ini.
    Tapi sekarang dia benar-benar berubah....
    Dia sekarang menjadi jauh lebih baik. Selama ini aku belum pernah mendengarnya sebijaksana itu.

    “bang... Aku tadi mencarimu kemana-mana. Ternyata kau malah disini bersama seorang cowo!” aku menghampiri bang bian setelah abang yang tadi kembali ke rumah sakit.
    “Ya dede... “ sapa abang sambil tersenyum dan mengacak-acak rambutku.
    “Aku senang....” ucapku.
    “Senang? knp?” tanya bang bian
    “ya. Aku senang. Sekarang abang lebih banyak tersenyum...” ujarku.
    “masa? Memangnya dulu aku tidak suka tersenyum ya..?” tanyanya polos.
    “ya. Dulu hyung kerjanya hanya marah-marah saja....” jelasku.
    “Hahaha... berarti kau lebih suka kalau aku lupa ingatan ya? Dengan begitu kan aku jadi lebih baik padamu....” kata abang.
    “ya! Aku suka abang-ku yang sekarang.... Tetaplah seperti ini bang...” pintaku.
    “Hahaha... Kau ini ....” tutur bang bian sambil tertawa dan mengajakku kembali ke rumah sakit.


    biandra pov

    (Keesokkan harinya...)

    Pagi ini aku kembali teringat dengan cowo yang aku temui di kolam renang kemarin. Aku jadi merasa ingin sekali bertemu dengannya untuk kembali menghiburnya. Apa jadinya kalau dia bersedih terus seperti itu?
    “Tapi dimana aku bisa menemuinya? Aku kan tidak tau ruangannya dimana...” gumamku sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
    Aku keluar dari ruanganku, dan melangkah menuju ruang resepsionis. Aku bermaksud untuk menanyakan tentang cowo bernama bobi itu agar aku bisa tau dimana ruangan tempat dia dirawat.

    “Pasien dengan atas nama boby dirawat di ruangan nomor 345...” tutur petugas tersebut.
    “Ohh... kalau begitu baiklah. thank you!” ucapku seraya melangkah menuju lift.


    “Tok...tok...tok” aku mengetuk pintu kamar nomor 345 tersebut.Namun tidak ada jawaban.
    Akhirnya aku memutuskan untuk memasuki ruangan tersebut.
    Saat aku memasukinya, ruangan tersebut kosong. Tidak ada seorangpun disana.
    “Aiisshh.... tidak ada siapa-siapa....” keluhku.
    “Aku harus mencari dia kemana lagi...??” gerutuku sambil berjalan menuju taman.

    “Kenapa kau tidak mau makan...? Kalau begini terus kapan kau bisa sembuh...?” ucap seorang suster pada pasiennya.
    “Aku tidak peduli...”jawab sang pasien.

    “bobi.??” pikirku.
  • Tanpa pikir panjang aku segera mendekati mereka berdua untuk memastikan apakah benar itu suara bobi atau bukan.
    Saat aku melihatnya, ternyata benar. Itu adalah bobi.
    Setelah itu aku meminta makanan bobi dari suster itu dan memintanya untuk meninggalkan kami berdua.
    “Kau tidak tau ya? Makanan ini benar-benar lezat.... kau akan menyesal juka tidak mencicipinya...” bujukku.
    “Ya ! Siapa kau?” tanya bobi terkejut.
    “Aku? Kenalkan... Namaku biandara sadewa. Aku juga salah satu pasien dirumah sakit ini, sama sepertimu. Oiya, kita juga sudah bertemu kemarin. Apa kau masih ingat...??” kataku memperkenalkan diri.
    “bian? Jangan-jangan kau cowo yang sudah menyelamatkanku kemarin...?” tebak bobi.
    “yupss. Kau sudah ingat ya?” ujarku.
    “Aku benci kau...” katanya kesal.
    “lowhh? Kau membenciku? knp? Bukannya aku sudah...”
    bobi menyela kata-kataku, “ Menyelamatkanku? Aisshh... Dengar, Dengan kau melakukan itu justru hanya membuatku semakin menderita saja! Aku sudah tidak sanggup lagi hidup di dunia ini... Kau mengerti ?” teriaknya.
    “knp? Jadi ini semua salahku..? Kau tidak sadar ya, kalau kau mati itu justru akan menambah kesedihan keluargamu ! Mereka sudah kehilangan ayahmu, dan kau mau menambah kepedihan mereka dengan ikut meninggalkan mereka semua juga hah ?!” omelku.
    “Tapi...” ucapnya sambil menahan air mata.
    “Aku mohon... berhentilah membenci hidupmu sendiri ! Mungkin bagimu hidupmu sudah benar-benar tidak berguna lagi, tapi bagi orang-orang yang menyayangimu, HIDUPMU ITU LEBIH BERHARGA DARI APAPUN..” tuturku.
    Dia menangis tersedu-sedu mendengar perkataanku tadi. Entah mengapa, semenjak bertemu dengannya kemarin, aku ingiiiinnn...... Aku ingiiiin sekali menghapuskan air mata yang mengalir dipipinya itu dan menggantinya dengan sebuah senyuman yang indah kalau aku bisa.
    “Kalau kau mau, aku bersedia membantumu...” ucapku.
    “Apa yang akan kau lakukan..?” tanyanya sembari mengusap air mata.
    “Kau pasti berfikir hidupmu sia-sia karena kau tidak bisa melihat kan? Aku pikir, Aku bersedia menjadi matamu...” kataku.
    “Apa maksudmu...?” tanyanya.
    “ya. Mulai sekarang aku akan selalu berada disampingmu. Aku akan menceritakan kepadamu semua keindahan yang ada di depan mataku supaya kau bisa turut membayangkanya dan menikmati keindahan itu juga....” paparku.
    “Kau? Tapi untuk apa...?” ujarnya ragu.
    “Agar aku bisa membagi kebahagiaanku denganmu.... Agar kau sadar bahwa kau tidak sendiri di dunia ini, dan agar kau tetap bisa menikmati indahnya dunia ini walaupun tidak secara langsung....” tuturku.
    “Apa kau bilang...?” ucapnya tak percaya.
    “Tunggu sebentar...” kataku sambil berlari ke tengah taman dan memetik beberapa bunga yang ada disana dan kembali serta memberikan beberapa tangkai bunga tersebut pada bobi.
    “Apa ini...?” tanya bobi bingung sambil meraba-raba bunga yang kuberikan.
    “Sekarang kau sedang menggenggam 5 tangkai bunga yang bermacam-macam jenisnya. Mereka berlima memiliki warna dan keindahannya masing-masing. ...” terangku.
    “Ada yang berwarna putih, ungu, kuning, biru, dan orange...” tambahku.
    “ya... Pasti indah...” ucapnya lirih.
    “Seandainya kau mau tersenyum kembali, pasti keindahan bunga-bunga ini akan terkalahkan oleh kecantikanmu....” tuturku dalam hati.


    ~***~**~*~***~**~*~***~**~*~***~**~*~***~
    When I get on my knees and cry before the world
    When I stop my tracks inside the storm

    If you alone are standing
    I can handle this much pain and suffering
    If only you,
    Are with me.....

    ~***~**~*~***~**~*~***~**~*~***~**~*~***~

    AUTHOR POV

    Semenjak saat itu, bian selalu berusaha menemani bobi kapanpun dia bisa. Setiap hari, bian selalu menghibur bobidengan menceritakan hal-hal yang indah. Ia berharap bisa melihat senyuman boby yang selama ini belum pernah sedikitpun diperlihatkannya. Ia berharap dengan adanya dia disisi cowo itu, bobi tidak merasa benar-benar sendiri. Ia ingin sekali membuat bobi sadar, bahwa di dunia ini ada banyak sekali hal-hal dan tempat tempat yang indah yang menanti untuk dapat memperlihatkan keindahannya nanti setelah bobi dapat melihat dunia ini dengan matanya kembali.
    “Yahh... Sayang sekali diluar sedang hujan, jadi aku tidak bisa mengajakmu ke taman...” sesal bian.
    “gpp. Lagipula mau kau mengajakku kemana saja, semua tetap akan sama saja. Hanya hitam dan gelap....” ujar bobi sambil menarik selimutnya.
    bian hanya tertunduk lemas mendengar perkataan bobi. Namun dia tidak menyerah begitu saja...

    Beberapa saat kemudian setelah hujan sudah berhenti, bian yang begitu senang sengaja mendongakan kepalanya ke luar jendela....
    “omg... bobi ! Cepat bangun, ada pelangi di langit... !!” teriak bian.
    “ada apa?? Aissh~ Ada-ada saja... Itu tidak mungkin...” ucap bobi sambil kembali berbaring.
    “Kau ini ! Aku tidak bohong....! Di luar benar-benar ada pelangi.... Kau tau, pelanginya benar-benar indah...” kata bian sambil membujuk booby turun dari tempat tidur.
    “benarkah..?” tanya bobi ragu.
    “yoi ayoo...!” kata bian sambil menuntunnya mendekati jendela.
    “Bagaimana bentuknya..?” tanya boby.
    “Seperti cincin... Warna-warnanya terlihat begitu jelas.. Benar-benar menakjubkan..” terangku.
    “Klik...” aku memotret pelangi tersebut.
    “Apa yang kaulakukan...?” tanya bobi sambil menaikkan sebelah alisnya.
    “Aku memotret pelangi itu...” jawab bian sambil tersenyum.
    “Untuk apa...?” tanyanya lagi.
    “Ini untukmu... Aku ingin kau bisa melihat pelangi yang begitu indah ini saat kau sudah bisa melihat lagi...” tutur bian sambil menyerahkan foto tersebut pada bobi.

    Tanpa sadar bobi menetes air matanya. Ia sudah tidak kuat menahan air mata tersebut di pelupuk matanya. Memang, sejak kecil ia ingin sekali melihat sebuah pelangi, tapi belum pernah kesampaian. Justru pelangi itu datang saat matanya sudah tidak bisa melihat lagi.

    “Kenapa kau menangis lagi...? Bisakah kau tersenyum untukku sedikit saja...? Aku mohon...” gumam bian sambil berusaha mengusap air mata yang sudah terlanjur membanjiri pipi cowo tersebut.



    biandra POV

    Dokter bilang hari ini adalah hari terakhirku berada di rumah sakit. Besok pagi aku bisa pulang kerumah. Memang sebelumnya hal itu adalah hal yang kutunggu-tunggu, tapi...
    Kenapa sekarang hatiku serasa sangat berat untuk meninggalkan rumah sakit ini, terutama bobi.
    Rasanya aku tidak sanggup untuk meninggalkannya....
    Tapi kenapa..?

    Apakah aku.....
    Aku sudah benar-benar...
    Aku ...

    Apakah aku menyukai cowo itu?

    Aku mencintai bobi...?
    Benarkah itu...?


    ~***~**~*~***~**~*~***~**~*~***~**~*~***~

    “Kenapa diam saja...? Apa yang kau lakukan...?” tanya boby.
    “Aku sedang melukis sesuatu...” jawabku.
    “Sesuatu? Sesuatu apa?” tanyanya penasaran.
    “Lebih tepatnya seseorang.... Seseorang yang sangat kucintai...” ucapku.
    “Owhh... Apakah dia berarti untukmu...??” tanya bobi lagi.
    “Tentu saja ! Dia sangat sangat berarti untukku.... Bahkan melebihi apapun...” jawabku seraya tersenyum.
    “Siapa dia...?Owhh... sayang aku tidak bisa melihatnya...” keluh bobi .
    “tidakk ! Kau tidak boleh tau...” jawabku.
    “Aisshh~ knp ?” gerutunya.
    “Suatu saat, saat kau sudah bisa melihatnya, kau pasti akan tau....” ujarku.
    “Baiklah... terserah kau saja...” keluhnya.


    (Malam harinya....)

    Malam sudah mulai larut, bahkan waktu sudah meunjukkan pukul 10 malam. Namun aku masih belum mengantuk. Apalagi malam ini adalah malam terakhir aku menginap di rumah sakit ini. Aku tidak mau melewatkan saat-saat terakhir ini begitu saja....

    Kulangkahkan kakiku keluar dari ruang inap yang selama ini sudah menjadi tempatku melewati berbagai aktifitasku. Aku berlalu dan berjalan menuju ruang inap bobi. Mungkin aku salah karena akan membangunkan tidurnya, tapi aku juga tidak mau membiarkan malam ini berlalu begitu saja tanpa mengungkapkan apa yang selama ini ingin kukatakan....

    “Tok...tok...tok...” aku mengetuk pintu kamar bobi.
    Karena tidak ada jawaban, aku memutuskan untuk membuka pintu tersebut dan memasukinya perlahan-lahan.
    “Apa kau sudah tidur...?” tanyaku pelan sambil mendekati kasur bobi.
    “bang bian..? Apa itu kau..?” tanya boby yang ternyata masih terbangun.
    “ya. Maaf aku mengganggumu malam-malam begini...” ujarku.
    “knp..?” boby menanyakan maksud kedatanganku.
    “Ayo ikut aku...” kataku sambil meraih tangannya dan menuntunnya turun dari tempat tidur.
    “Kita mau kemana...?” tutur boby bingung.
    “Sudah ikuti saja...” jawabku singkat.



    (Beberapa saat kemudian....)

    “Apa kita sudah sampai...?” ujar bobi memastikan.
    “yap. Kau tau... Dari tempat ini, kita bisa melihat keindahan langit di malam hari...” tuturku.
    “Bulan dan bintang-bintang malam ini terlihat begitu indah....Mereka benar-benar menghiasi malam ini dengan baik...” jelasku.
    “Hhmmm.... Seandainya....” ucap boby.
    “Seandainya apa..?” tanyaku.
    “Seandainya saja ada bintang jatuh....” harap boby.
    “Bintang jatuh?” tanyaku.
    “yapss. Dulu papa selalu bilang padaku, jika kau berdoa dibawah bintang jatuh maka permintaanmu akan terkabul...” papar boby.
    “benarkah..?” tanyaku lagi.
    “Tapi... Jika harus menunggu bintang jatuh, aku rasa aku tidak akan sempat mengatakan semua permohonanku...” ujarku.
    “Um? knp?”
    “ya. Karena semua mimpiku itu sangat banyak dan tidak terbatas... Tapi aku yakin semuanya kan bersinar terang secerah bintang-bintang disana....” ucapku.
    “Kau mau tau salah satu mimpi terbesarku...?” tawarku.
    “apa..?”
    “Aku ingin sekali melihat senyum seseorang.... Seseorang itu, aku yakin jika ia mau kembali tersenyum pasti cerahnya bintang-bintang yang ada dilangit itu tidak mampu mengalahkan keindahannya....” kataku sambil melihat kearahnya.
    “Apa kau bilang?...Hahaha.... Mana mungkin? abang kau ini ada-ada saja...” ucap YeonMi sambil tertawa.
    “omg.... Aku rasa omongan papamu tentang bintang jatuh itu salah...” ucapku spontan.
    “apa?Bagaimana kau bisa bilang begitu? papa ku tidak mungkin bohong !” jawabnya kesal.
    “Bukannya begitu.... Aku tau appamu tidak mungkin berbohong, tapi aku rasa aku sudah membuktikan bahwa mimpi kita akan tetap bisa terkabul walaupun tidak ada bintang jatuh...” tuturku.
    “Apa maksudmu...?” kata boby bingung.
    “ya... Kaulah orangnya... Kaulah bagian dari mimpiku bob. Sejak dulu aku selalu menantikan kehadiran senyumanmu itu...” ujarku sambil menggenggam tangan bobi.
    bobi terlihat sangat terkejut mendengar kata-kataku.
    “apa...?” ucapnya terkejut.
    “Selama ini aku selalu melihatmu menangis menangis dan menangis.... Kau harusnya sadar, bahwa senyumanmu adalah senyuman paling indah yang pernah kulihat selama hidupku.” Ujarku mengakui.
    “ya makasih bang...” ucapnya bobi sambil kembali tersenyum walaupun dengan mata yang berkaca-kaca.
    “Kau tersenyum lagi bobi....
    Saat ini aku sangat bahagia.... Aku benar-benar bahagia... ! “ gumamku.


    ~***~**~*~***~**~*~***~**~*~***~**~*~***~

    There’s one person
    Who’ll secretly come to me
    Into my dreams and make me smile....
    You....
    Whispering words sweetly to me
    A person who’ll be by my side, giving me light~

    ~***~**~*~***~**~*~***~**~*~***~**~*~***~

    ToBeContinued...
  • boby POV

    Pagi ini rasanya datang tak seperti biasanya...
    Sejak tadi malam rasanya jantungku ini berdetak semakin lama semakin cepat...
    Aku juga tak tau mengapa aku merasakan hal seperti ini... Tapi aku mulai menyadari bahwa ternyata tersenyum membuatku merasa jauh lebih baik...
    Entahlah, bisa-bisanya aku mengembangkan senyumku malam itu padahal sebelumnya aku pikir aku tidak akan pernah lagi melakukannya...
    Apa ini semua karena..... ...biandra?
    Dia yang sudah mengembalikan senyumku yang dulu hilang ditelan bumi...?
    Benarkah cowo itu...?


    Aku meraba dadaku...
    Sekarang detak jantungku benar-benar bergerak cepat.

    “Ngomong-ngomong kemana namja itu...?” gumamku.
    Padahal biasanya pagi-pagi begini dia sudah menghampiriku dan berkata
    “ Selamat pagi bobi ..?? Pagi yang cerah bukan..??” sambil memberiku setangkai bunga yang sangat wangi...
    Aku tersenyum manis mengingat kenangan itu....

    Tunggu dulu...
    Sebenarnya apa yang kurasakan ini?
    Kenapa tiba-tiba aku jadi memikirkan dia..?
    Untuk apa aku mengharapkan kedatangannya..?
    Lagipula apa dia tidak bosan menemaniku setiap hari...?

    biandra POV

    Pagi ini eomma sudah datang dan membantuku mengemasi pakaian dan barang-barangku.
    mama bilang, sesudah mengemasi barang-barangku kami akan langsung meninggalkan rumah sakit ini.
    “Nahh... sudah selesai! Ayo kita pergi...” ajak mama sambil mengangkat koperku.
    “Tapi ma...” ucapku menahan tangan mama.
    “Ada apa ...?” tanya mama.
    “Aku ingin menemui bobi dulu... Setidaknya aku ingin berpamitan padannya...” pintaku.
    “bobi? Maksudmu boby wicakso..??” tanya mama yang terlihat sangat terkejut.
    “ya. Memangnya kenapa...?” tanyaku bingung.
    “Asshhh....” mama mendesah lesu sambil menundukkan kepalanya.
    “Lebih baik tidak usah... Kita sedang buru-buru. Lagipula papa-mu sudah menunggu kita daritadi di luar...” ujar mama sambil menarik tanganku.
    “ma.... pleaseee....” bujukku sambil menahan tubuhku.
    “Kalau mama bilang tidak ya tidak !” ucap mama sedikit kesal.
    “Tapi.... Ayolah ma, sebentar saja....” mohonku sambil melipat kedua tanganku.
    mama tidak menjawab. Ia hanya menggeleng hebat dan kembali menarik tanganku.

    “mama itu kenapa sih? Aku kan hanya ingin mengucapkan selamat tinggal padanya....Kenapa tidak boleh...?” gerutuku sesampainya di mobil.
    “Berhentilah mengurusi dia sayang !” bentak mama.
    “knp mahh!!! ??” teriakku.
    “Kau tidak tau ya? Dia itu...” perkataa mama tiba-tiba terhenti.
    “Dia itu? Dia itu apa ma...? Apa ada sesuatu yang mama sembunyikan dariku...??” tanyaku penasaran.
    “Dia... Dia adalah salah satu korban pada kecelakaan yang sama denganmu... Mobil kalian saling bertabrakan saat itu... dan ayah dari anak itu meninggal seketika itu juga...” papar mama.
    “Karena kecelakaan itu juga anak itu sekarang kehilangan penglihatanya dan menjadi buta...” tambah mama.
    “hah...???” aku terkejut setengah mati mendengar hal itu.
    “Jadi... Bisa dibilang, Aku... Akulah penyebab penderitaan yang dialami bobi...? Begitu..?” ucapku tak percaya.
    “Karena itulah mama tidak mengizinkan kau bertemu dengannya.... Ibu tidak mau keluarganya melakukan hal yang tidak-tidak padamu karena menganggap kaulah penyebab semua itu...” ujar mama lirih.
    “astaga... Bodohnya aku ! Kalau bobi tau semua ini, pasti dia akan sangat amat membenciku.... Dia tidak akan pernah memaafkanku seumur hidupnya...” ucapku pedih.
    “Selama ini aku merasa kasihan dengan apa yang dialami bobi... Aku selalu berusaha untuk menghiburnya dan mengembalikan senyumannya... Tapi ternyata.... Aku lah penyebab semua kesedihan dan penderitaannya.... Orang macam apa aku ini..??” umpatku pada diriku sendiri.

    “bobi.....maafin aku ...” kataku sambil menitihkan airmataku.


    boby pov

    Aku lelah. Sudah berapa lama aku menunggu kedatanganya? Kenapa dia tidak menghampiriku juga?
    “Ehh.... Dia bosan karena selama ini selalu menemaniku...? Apa itu benar...?” pikirku.

    Kurogoh kantongku, disana aku menemukan setangkai bunga yang diberikan bang bian padaku kemarin. Aku menciumnya, wanginya masih terasa sampai sekarang.
    “bang bian...? Dimana kau..? Apa hari ini kau tidak akan datang...?” gumamku cemas.

    “Datang... tidak... Datang... tidak... Datang...tidak” gumamku sambil memetik kelopak bunga tersebut satu-persatu.
    “Ceklek...” aku mendengar suara pintu kamarku yang dibuka oleh seseorang.
    “bang bia...? Kau kah itu...?” pekikku senang.
    “pagi dede ...?” ucap bang felix.
    Ternyata yang datang bukanlah bang bian melainkan Jbang felix . Aku tertunduk lesu.

    “Ada appa de..? Kau kesepian ya?” tanya bang felix lembut.
    Aku mengangguk menjawab pertanyaannya.
    “bang... Antarkan aku ke taman ya..?” pintaku.
    “Emm... Baiklah...” jawab bang bian seraya menuntunku keluar dari kamarku dan melangkah menuju taman yang terletak di belakang rumah sakit tersebut.

    “Kita sudah sampai...” bisik bang felix sambil menuntunku untuk duduk.
    “bang... Kau bisa tinggalkan aku sendiri saja?” ujarku.
    “Memangnya tidak apa-apa?” tanya bang felix khawatir.
    “Heum..” aku mengangguk mantap.
    “Baiklah... Aku akan kembali sebentar lagi...” balas abang sambil menepuk pundakku.

    Aku merenung sejenak di dalam keheningan siang itu. Angin siang itu terasa sangat berbeda, berhembus dengan halus, namun tidak membuaiku. Hatiku dipenuhi dengan rasa kesal dan sesal pada “dia” dan diriku sendiri. Bahkan semua hal itu hingga membuat dadaku begitu sesak. Semua kenangan seakan melintas begitu saja di otakku.
    Kau tidak tau betapa aku takut membayangkan, jika kau merubah kata-kata indahmu kemarin malam, dan meninggalkan aku.
    Meski kau tidak tau, meski aku tidak pernah berfikir untuk mengatakannya tapi aku merasa setiap hari-hari yang kulewati denganmu, selalu hari yang cerah.
    Meski aku baru saja menyadarinya, tapi taukah kau? kehangatan selalu menyelimuti hatiku disaat kedua tanganmu itu menggenggam tanganku dengan lembut.

    Dimana kau sekarang...?

    Kenapa sekarang aku merasa begitu kehilangan sosokmu yang dulunya tak pernah kurindukan sedetikpun....?

    Air mata keluar begitu saja menghiasi pipiku. Aku tak mengerti apa yang kurasakan. Aku juga tak tau apa yang terjadi padaku. Kenapa aku jadi seperti ini setelah kepergiannya?


    Aku tertunduk lesu. Bagai tiada semangat sedikitpun.
    “boby
    "ya bang..” ucapku pelan.
    “Diluar mendung... lebih baik kita kembali ke kamarmu saja ya...” ajaknya sambil mendorong kursi rodaku dan kamipun kembali ke kamar inapku.



    @Ruang inap boby

    “bang... kapan aku bisa pulang ke rumah. Aku bosan ditempat ini terus...”keluhku.
    “Mungkin 3 atau 4 hari lagi kau bisa pulang... Sabar ya de...” jawab abang.
    “knp Sebelumnya kau tidak pernah mengeluh kan? lebih tepatnya saat bersama cowo itu...” ujar bang felix.
    “hah? Apa maksud bang..?” tanyaku.
    “ya. Aku fikir kau merasa nyaman saat bersamanya. cowo itu bernama bian.. “ kata abang felix.
    “Apanya..? gag...” ucapku sedikit kesal.
    “knp? Dia cowo yang baik kok. Bahkan setiap hari ia selalu menemanimu. Oh iya, seharian ini aku tidak melihatnya? Memangnya kemana dia?” tanya abang.
    Aku hanya tertunduk diam.
    “knp Kau merindukannya ya..?” tanya bang felix lagi.
    “bang kumohon hentikan ! Berhenti membahas cowo itu lagi... !” ucapku geram.
    “Aih.. baiklah. Jangan marah begitu de. abangmu ini kan hanya bertanya...”ujarabang felix .

    ~***~**~*~***~**~*~***~**~*~***~**~*~***~

    Since the day you left me without even saying "goodbye"

    I felt the scenery and scent of this town change
    The promise I made with you because I wanted to be everything you desired
    It will turn into a memory without being carried out.

    ~***~**~*~***~**~*~***~**~*~***~**~*~***~

    AUTHOR POV

    Hari demi haripun berlalu...
    Semuanya terasa berubah semenjak kepergian bian Kini tak ada lagi yang selalu setia menemani boby, berusaha membuatnya tersenyum, menceritakan semua keindahan yang untuk saat ini belum bisa ia lihat secara langsung lagi. Mungkin ini adalah hal yang begitu berat untuknya. Disaat ia baru menyadari bahwa ia membutuhkan keberadaan bian, justru disaat bian sudah pergi dan kini ia baru merasa sangat kehilangan sesosok cowo yang hampir saja mengembalikan senyumannya itu.
    Bukan hanya boby, bian pun turut merasa kehilangan cowo yang memang dicintainya itu. Walaupun memang bian belum menyadari jika ia memang mencintai boby tapi kini ia justru dirundung rasa bersalah yang kian mendalam. Ia harus menerima kenyataan bahwa dialah salah satu penyebab penderitaan yang dialami boby.



    biandra pov

    “bang... Kuperhatikan akhir-akhir ini kau sering murung. knp?” tanya arta .
    “Hemmhh.... gpp de...” jawabku lemas.
    “benarkah ..?” tanya arta lagi.
    “ee.. sebenarnya tidak. Aku sedang merasa bersalah sekarang...” ucapku.
    “abang merasa bersalah? Memangnya kenapa..? Kalau abang salah harusnya minta maaf saja..” ujar arta.
    “Minta maaf..? Apa dia akan memaafkanku..?” ujarku ragu.
    “Ya tergantung seberapa besar kesalahan yang abang buat... “ jawabnya.
    “Aissh~ kau tidak tau saja. Kesalahan yang ku buat itu sangat amat besar. Bagaimana mungkin dia mau memaafkanku?” gumamku sedih.
    “Memangnya abang merasa bersalah pada siapa..?” tanya arta.
    “abang merasa bersalah pada.....” aku tak kuasa mengatakannya. Kini air matapun menetes dari pelupuk mataku.
    “boby... Maafkan aku...” ucapku lirih. Kini dadaku terasa begitu sesak. Tak tau lagi apa yang bisa kulakukan.
    Aku merusaha mengusap wajahku dan menenggelamkannya diantara kedua lututku. Kini aku terduduk lesu tak berdaya. Tak ada yang dapat kulakukan selain menyalahkan diriku sendiri. Aku bahkan tak bisa mengampuni diriku sendiri.

    "Tidak... seharusnya bukan kau yang merasakan semua penderitaan itu... Seharusnya aku saja yang buta ! seharusnya aku saja yang menderita... Bukan kau ! Bukan kau bob.." sesalku.

    ~***~**~*~***~**~*~***~**~*~***~**~*~***~

    These last tears

    Are tearing my entire heart apart
    Leaving wounds that will never heal
    Leaving me resentful
    I’m really miserable, what should I do?

    ~***~**~*~***~**~*~***~**~*~***~**~*~***~

    1 MINGGU KEMUDIAN....


    “Aku pilih yang ini..” ucapku sambil menunjuk kearah sebuah karangan bunga.
    Aku segera beranjak dari toko bunga tesebut setelah mengambil bunga itu dan membayarnya.
    “Hmmm... bunga ini wangi sekali...” kataku sembari mencium aroma bunga tersebut.
    “Aku akan memberikannya pada boby. Dan kali ini aku sendiri yang akan memberikannya, bukan lewat orang lain lagi. Ya. Aku harus berani menemuinya. Aku adalah laki-laki dan aku harus berani mengakui kesalahanku...” gumamku.
    Ya selama semenjak aku keluar dari rumah sakit aku sudah tidak bisa menemui boby lagi. Padahal aku sangat sangat ingin bertemu dengannya, aku benar-benar merindukannya. Semenjak berpisah aku hanya bisa mengirimkan karangan bunga setiap hari ke kamarnya, tentu saja lewat salah satu suster yang ada disana.
    Tapi kali ini aku sudah bertekad untuk menemuinya secara langsung. Aku tidak bisa terus-terusan bersembunyi seperti ini. Dan tidak mungkin aku menyembunyikan rahasia ini darinya. Aku harus mengatakannya. Ya. Aku akan mengungkapkan semuanya.

    “Tap.. tap.. tap...” Aku sudah sampai di rumah sakit. Langkahku sedikit kuperlambat. Ada sedikit keraguan menyelimuti hatiku. Apakah benar keputusanku ini? Apa dia masih mau menemuiku? Maukah dia memaafkanku..? Pertanyaan demi pertanyaan semakin merasuki otakku.

    “Kamar 345”
    Aku terus saja memandangi pintu kamar itu. Sekarang aku sudah berada di depan pintu ruang inap boby. Dadaku tentu saja berdegup kencang sekencang kencangnya. Hatiku rasanya campur aduk.
    Tanganku sudah mulai mengepal bermaksud untuk mengetuk pintu tersebut. Rasanya keringat dingin mulai menyelimuti tubuhku sekarang.

    “Tok..Tok..Tok..” akhirnya kuketuk pintu tersebut dengan ragu.

    ~~~~~~~~~~~ToBeContinued~~~~~~~~~~~
  • Tragis sekali nasibmu Lengkap Sudah Pendrtaanny.
    Udah Buta, ilang ingatan, Mati.. Masih D yg kurang Penyakit Mematikan Kanker, lumpuh meybe.
    Hehehehe
  • Sicnus wrote: »
    Tragis sekali nasibmu Lengkap Sudah Pendrtaanny.
    Udah Buta, ilang ingatan, Mati.. Masih D yg kurang Penyakit Mematikan Kanker, lumpuh meybe.
    Hehehehe

    hahaha.... belon kena kanker koq itu
  • lanjuttttt..
Sign In or Register to comment.