BoyzForum! BoyzForum! - forum gay Indonesia www.boyzforum.com

Howdy, Stranger!

It looks like you're new here. If you want to get involved, click one of these buttons!

Selamat datang di situs Boyzforum yang diarsipkan oleh Queer Indonesia Archive. Forum untuk komunitas gay Indonesia yang populer ini didirikan pada tahun 2003, dan ditutup pada tanggal 15 Desember 2020.

Forum ini diabadikan untuk kepentingan sejarah. Tidak akan ada konten baru di forum ini. Silakan menikmati forum ini sebagai potongan dari sejarah queer Indonesia.

TRUE STORY: GARA-GARA SERING PAMER SAAT MANDI (#1)

edited March 2012 in BoyzStories
TRUE STORY: GARA-GARA SERING PAMER SAAT MANDI (#1)

Ini benar-benar kisah yang aku alami. Saat itu umurku baru 13 tahun dan belum mengenal soal seks sama sekali. Aku hidup di desa. Aku dan teman-teman sebaya sering bermain bersama, mandi bersama, bahkan tidur pun bersama di rumah salah satu teman secara bergantian.

Pada awalnya, semua berjalan biasa-biasa saja. Seperti lazimnya anak-anak remaja pada umumnya. Tapi, salah satu temanku, sebut saja X, telah merubah kehidupanku. X rumahnya persis di depan rumahku. Ia lebih tua setahun dariku. Badannya sedang dan mukanya pun biasa-biasa saja.

Ada yang aneh dari si X. saat mandi bersama, ia suka sekali memamerkan kemaluannya kepada kami, bahkan terkadang ketika sedang ereksi (Jawa=ngaceng). Teman-temanku yang lain hanya tertawa melihatnya atau malah cuek saja. Tapi entah mengapa, bagiku terasa sangat lain. Pemandangan itu membuatku terpana, bengong, bahkan kagum. Aku senang sekali melihatnya, apalagi ukuran kemaluannya yang menurutku cukup panjang saat ereksi, dengan bentuk sedikit melengkung (bengkok). Mungkin saja, si X seorang eksibisionis, karena selain suka pamer saat mandi, saat bangun pagi pun ia suka memamerkan penisnya yang sedang ereksi penuh dalam balutan celana dalamnya. Lalu dengan santainya ia kencing di depan kami dengan penis yang masih memerah, sembari memainkan penisnya.

Bagi teman-temanku yang lain, hal tersebut dianggap hal yang lumrah, dan mereka rata-rata cuek saja. Tapi sangat berbeda bagiku. Seringnya melihat pemandangan seperti itu, membuatku ketagihan untuk sering melihatnya. Bahkan, mulai mengganggu pikiranku. Aku jadi terbayang-bayang. Aku merasa ada yang lain pada diriku. Kenapa aku menjadi seperti ini ketika itu, aku sendiri tidak tahu.

Kebiasaan Tidur Ramai-ramai
Sudah menjadi kebiasaan di kampungku, anak remaja atau anak muda tidak tidur di rumah. Biasanya tidur ramai-ramai di salah satu rumah teman kami secara bergantian atau terkadang juga di masjid atau mushalla. Dan yang paling sering adalah tidur di rumah si X. selain tempatnya lega dan enak, ia adalah anak tunggal. Aku sendiri sudah biasa tidur di rumah si X, bahkan tidur di sebelah X persis. Tapi selama ini berlangsung biasa-biasa saja, tidak terpikir apapun dalam benakku.

Tapi, entah mengapa, dapat ide dari mana atau dapat bisikan dari mana; tiba-tiba muncul keinginan untuk meraba-raba (menggerayangi) kemaluan si X. Sudah menjadi kebiasaan si X kalau tidur hanya memakai celana dalam longgar dan kain sarung saja. Tentu aku tak kesulitan untuk merabanya, pikirku. malam itu aku benar-benar tak bisa tidur. Aku gelisah. Pemandangan si X saat mandi atau bangun tidur terus membayangi pikiranku. Aku mencoba untuk membuang pikiranku itu, dan mencoba tidur. Tapi semakin aku mencoba, aku semakin tidak bisa. Aku benar-benar gelisah. Mata benar-benar tak bisa dipejamkan.

Entah sudah jam berapa waktu itu, aku tak tahu. Suara jangkrik dan binatang malam sudah ramai terdengar bersahutan. Keinginan untuk meraba kemaluan si X semakin menjadi-jadi. Tapi di sisi lain aku juga merasa takut, karena sebelumnya aku belum pernah melakukannya ke siapapun. Sekali lagi, aku mencoba membuang pikiran itu dan berusaha untuk tidur. Tapi tetap saja tidak bisa, bahkan keinginan itu kini sudah tak tertahankan lagi. Sepertinya aku telah dikuasai oleh nafsuku. Aku seperti telah kehilangan kesadaran dan pengendalian diri. Kebetulan malam itu aku tidur persis di samping si X. dan perlahan tapi pasti, di tengah kegelapan malam karena lampu minyak tanah dimatikan, aku gerakkan tanganku perlahan-lahan.

Pertama sekali, tanganku menyentuh bagian perutnya. Dengan tangan sedikit gemetar dan jantung berdegup lebih kencang karena gejolak nafsu plus rasa takut, aku menggeser tanganku sedikit ke bawah. Dan…..bughhh!

Tanganku menyentuh benda keras tapi kenyal. Dan tahukah pembaca bagaimana rasanya pertama kali aku menyentuh kemaluan orang lain: tanganku semakin gemetar dan jantungku berdegup semakin kencang, tapi sekaligus rasa senang dan berdesir. Aku mencoba menenangkan diriku sesaat. Dengan masih rasa takut, aku singkapkan sedikit kain sarung itu dan mulai meraba ke sekeliling. Oh! Ternyata panjang sekali kemaluannya, hingga kepalanya nongol sampai keluar celana dalam. Aku mulai mengelus pelan-pelan, mengusap dan sesekali meremasnya karena gemas. Walau hanya memegang dari luar, tapi aku bisa merasakan benda itu terasa hangat dan berdenyut. Sesekali terasa bergerak seperti mau loncat. Ohhh! Nikmat sekali rasanya, aku jadi senang sekali melakukan ini semua. Aku lakukan semua itu dengan sangat pelan sekali. Aku takut kalau si X terbangun dan tahu apa yang sedang aku lakukan terhadapnya. Lama semakin lama aku semakin bernafsu, ingin sekali aku membuka celana itu dan berharap bisa memegang benda itu sepuasnya.

Tapi dalam waktu besamaan, aku tersadar. Aku tak boleh melakukannya. Aku takut si X akan marah jika mengetahuinya. Maka, seketika itu juga aku menarik kembali tanganku dan mencoba untuk tidur, walau masih dengan hasrat yang membara.

Keesokan harinya, tatkala aku bertemu dengan si X, aku merasa sedikit grogi dan kikuk. Aku takut saja jika apa yang aku lakukan semalam ketahuan. Tapi setelah aku amati dengan seksama, si X kelihatannya biasa-biasa saja. Malah dia bertanya padaku, “Kok kamu kelihatan lain hari ini?”. Aku agak kaget dengan pertanyaannya itu dan spontan aku jawab, “Ah nggak, lagi nggak enak badan aja.”

Malam Berikutnya
Biasanya agenda tidur ramai-ramai ini bergiliran tempatnya. Eh, semalam sudah di tempatnya si X, sekarang di tempat X lagi. Duh, gimana ini? Selain merasa senang, aku juga merasa takut.

Sebelum-sebelumnya, aku tidur di sembarang tempat. Eh, kok malam ini aku sengaja memilih tidur di samping si X. lagi-lagi aku tak bisa tidur. Kejadian kemarin malam terus terbayang-bayang dan menghantuiku hampir sepanjang malam. Keinginan untuk menggerayangi semakin kuat dan sepertinya kali ini aku memiliki keberanian yang lebih besar.

Masih dengan tangan gemetar dan jantung yang berdegup kencang, dalam kegelapan pelan-pelan aku julurkan tanganku kira-kira ke bagian bawah perut si X. dan tenggg…..!

Tanganku menyentuh benda menjulang tanpa balutan celana dalam. Saking kagetnya aku buru-buru menarik kembali tanganku. kok celananya terbuka? Apakah ia kepanasan sehingga memelorotkan celana dalamnya atau karena apa? Saya tidak tahu.

Atau jangan-jangan dia sedang tidak tidur. Duuuh! Gimana ini. Padahal aku sudah pingin sekali memegangnya lagi. Cukup lama aku berpikir, antara ragu-ragu, takut dan juga keinginan yang sangat kuat. Akhirnya, lagi-lagi nafsu mengalahkan segalanya. Segera aku kembali menjulurkan tanganku. dan ……tappp! “Tombak itu kini telah dalam genggamanku. Beberapa saat aku mendiamkan tanganku di sana, menunggu reaksi X kalau-kalau ia sedang tidak tidur. Cukup lama tidak ada reaksi, aku pun mulai memberanikan diri menggerak-gerakkan tanganku. mengelus, mengusap, membelai dan sesekali meremasnya karena gemas. Kulit penisnya lentur sekali, licin bak memegang belut. Duh, gagah dan kokoh sekali. Tombaknya terasa menempel kuat ke perutnya, bukan berdiri lurus ke atas, dan kepalanya hampir sampai ke pusarnya. Walau masih umur SMP, bulu kemaluannya sudah cukup lebat hingga sampai pusar. Beberapa saat lamanya aku beraksi, sepertinya tidak ada tanda-tanda X bereaksi. Malah sayup kudengar, napasnya panjang-panjang seperti seorang yang lagi tertidur pulas. Entah ia benar-benar tertidur pulas atau justru malah menikmati perbuatanku, aku tidak tahu. Tapi sekalipun demikian, aku tetap melakukannya dengan pelan dan sangat hati-hati, masih takut kalau ketahuan.

Aku melanjutkan aksiku. Di genggaman tanganku, penis X terasa hangat dan berdenyut-denyut, ada desiran aliran darah yang mengalir deras. Di ujung kepalanya terasa seperti ada cairan keluar yang berbau khas dan licin. Entah apa itu, aku belum tahu waktu itu. Beberapa kali ia bergerak naik-turun seperti mau meloncat. Ketika itu pula, aku meremasnya lebih kuat karena gemas. Karena tidak ada reaksi apapun, aku pun semakin berani memainkan tombak itu dengan bebas. Semauku dan sesukaku, hingga akhirnya aku puas dan kelelahan, dan melepaskan tanganku dari benda yang masih tetap tegak menjulang itu.

Remaja Polos
Terus terang pembaca, waktu itu aku masih merasa sebagai anak kecil, baru 13 tahun. Aku belum tahu sama sekali apa itu seks, onani, oral, sperma, apalagi tentang gay. Aku hanya tahu bahwa aku senang melihat si X memamerkan penisnya atau memegang penisnya saat tidur malam. Aku pun tak tahu mengapa aku suka demikian, mengapa aku mempunyai naluri seperti itu. Aku tidak sedang jatuh cinta sama si X, apalagi mengagumi ketampanannya. Ia layaknya remaja desa pada umumnya, dengan wajah dan bodi yang biasa-biasa saja.

Hari-hari berikutnya, kebiasaanku menggerayangi si X terus berlanjut. Setiap ada kesempatan tidur di dekatnya, aku pasti melakukannya. Suatu malam, ketika aku sudah mulai merasa bosan dan sedang tidak ingin melakukannya, si X menarik tanganku dan meletakkannya di penisnya yang sedang ereksi. Ia membimbingku agar melakukan gerakan naik-turun (mengocok). Sekarang aku baru tahu bahwa si X tidak marah atas apa yang aku lakukan selama ini, bahkan kini ia sendiri yang memintaku untuk melakukannya. (Kalau tahu begini dari kemarin-kemarin, aku tak perlu takut-takut melakukannya). Sekarang aku merasa senang dan lega, tak perlu jantungku berdegup kencang karena takut.

Lalu, aku pun menuruti permintaannya. Aku mengocoknya perlahan. Kulit penisnya yang sangat lentur, terasa licin seperti memegang belut. Apalagi penisnya menempel dengan kuat ke perutnya-bukan berdiri tegak ke atas, sehingga aku agak kesusahan. Aku mulai mempercepat gerakanku. Ahhh……ahhh….. kudengar si X mendesah lirih. Penis dalam genggamanku terasa bergerak-gerak, seakan mau meloncat atau melepaskan diri. Sesekali si X menggeliat.
“GImana X rasanya?” tanyaku memberanikan diri.
“Enak banget”, jawabnya lirih sedikit malu-malu. “Agak cepat sedikit ya!” imbuhnya lagi.
Aku menurut saja. Melakukan semua ini dengan senang dan tanpa rasa takut, membuatku juga terangsang. Kemaluanku ikut tegang. Pingin rasanya punyaku dipegang atau dikocok juga. Tapi aku malu mengutarakannya pada X.
Tangan X memegang tanganku. membimbingku agar lebih cepat lagi melakukan gerakan.
“Sudah dulu ya, aku sudah capek?” pintaku padanya.
“Yah, tapi aku kan belum puas. Ayolah sebentar lagi!” pintanya sembari merengek, seperti anak kecil yang meminta mainan pada ibunya.
Aku mencoba menuruti kemauannya lagi. Aku melanjutkan aksiku, walau sebenarnya aku sudah capek. Tampaknya X sangat menikmati permainanku. Ia semakin sering mendesah dan menggeliat. Tombaknya semakin berdenyut dan meronta naik turun. Aku pun dapat merasakan kepala penisnya mengeluarkan cairan berbau wangi dan terasa lengket.
“Ahhh….ughh…..” ia makin mendesis. Napasnya terdengar memburu.
“AKu sudah capek beneran nih, besok lagi ya.”
Walaupun kasihan, aku terpaksa menarik tanganku. aku benar-benar sudah capek. Mungkin sudah hampir sejam aku mengocok dan mempermainkan tombaknya.
“Yaaah, payah deh kamu”, desahnya terdengar kecewa. Ia pun menaikkan kembali celana dalamnya dan memiringkan badannya membelakangiku.

Selain merasa senang dan nikmat, aku sendiri juga tak tenang memikirkan “burung” ku sendiri. Ia juga ikut tegang dengan sangat kuat dan meronta-ronta, mungkin pingin juga diperlakukan seperti X. lalu aku pegang dia dan mencoba menenangkannya. (bersambung)

Comments

Sign In or Register to comment.