BoyzForum! BoyzForum! - forum gay Indonesia www.boyzforum.com

Howdy, Stranger!

It looks like you're new here. If you want to get involved, click one of these buttons!

Selamat datang di situs Boyzforum yang diarsipkan oleh Queer Indonesia Archive. Forum untuk komunitas gay Indonesia yang populer ini didirikan pada tahun 2003, dan ditutup pada tanggal 15 Desember 2020.

Forum ini diabadikan untuk kepentingan sejarah. Tidak akan ada konten baru di forum ini. Silakan menikmati forum ini sebagai potongan dari sejarah queer Indonesia.

Si Cowok Hujan (UPDATE PART 6, 20-11-2011, Page 4)

edited November 2011 in BoyzStories
Si Cowok Hujan

Hujan…

Lagi-lagi hujan turun. Memang Kota Bogor merupakan kota dengan julukan Kota Hujan. Tapi hujan ini mungkin gara-gara aku, karena tadi cuaca Kota Bogor sangat cerah. Huff, selalu saja begini, tiba-tiba saja turun hujan, dalam setiap kejadian atau kesempatan yang penting pasti turun hujan. Nasibku sungguh sial. Aku sangat benci hujan. Padahal hari ini aku berencana akan mengukapkan perasaanku kepada ‘dia’. Sahabat baik aku dari 1 ½ tahun yang lalu. Aku hanya bisa menghela nafas. Dan hanya bisa manatapi hujan. Mungkin memang aku tak seharusnya mengatakan kepadanya. Aku teringat ketika pertama kali mengenalnya.

*****

Satu setengah tahun yang lalu.

Aku tak percaya bahwa aku datang terlalu pagi di hari pertama aku masuk SMA. Masih ada sekitar 30 menit lagi sebelum pelajaran pertama dimulai. Sekolah juga belum terlalu ramai, aku melihat hanya beberapa murid yang sudah datang. Entah apa yang mereka lakukan sepagi ini di sekolah. Saat hari terakhir MOS kelas untuk murid-murid baru sudah dibagikan, aku di tempatkan di kelas X-3. Untungnya saat MOS, kakak-kakak kelas mengadakan tour mengelilingi sekolah jadi aku tak perlu repot mencari ruang kelasku. Ruang kelas 1 berada di bagian depan mengelilingi taman sekolah. Ternyata ada yang datang lebih pagi dariku, cewek berkacamata dan berambut panjang sebahu. Cewek itu duduk paling depan dekat meja guru. Dia sedang asik membaca buku pelajaran tapi akhirnya sadar dengan kehadiranku. Akhirnya aku mengetahui bahwa nama cewek itu ada Dhea.

Menit-menit pun berlalu, kelas X-3 sudah mulai ramai dengan murid-murid yang berdatangan. Aku memilih bangku paling belakang karena menurutku cuma disitu tempat yang paling enak. Aku juga sudah berkenalan dengan teman-teman sekelasku.

“Bangku yang ini kosong?” Tanya salah satu murid yang baru datang.

Di depanku berdiri cowok cakep, aku sampai dibuat terbengong-bengong melihat cowok tersebut. Belum pernah aku melihat cowok secakep ini.

“Halo?? Boleh gak aku duduk di sini?” Tanya cowok itu.

Sadar bahwa cowok tersebut sedang berbicara denganku. “ Eh, kosong kok. Boleh boleh kalo kamu mau duduk sini.” jawabku.

Nggak pernah terpikir olehku bahwa teman sebangku aku adalah cowok cakep. Wajahnya terlihat maskulin di usia yang begitu muda. Tinggi badanya hampir sama denganku sekitar 175-177 cm. Kulitnya kecoklatan tapi tidak terlihat dekil.

“Oh ya, kita belum kenalan. Nama kamu siapa?” kata cowok itu sambil menjulurkan tangannya ke arahku.

Aku segera menyambut uluran tangan cowok itu dan memperkenalkan diri, “Nama aku Chandra Dwi Putra. Kalo nama kamu siapa?”

“Aku Topan. Topan Aska Pradipta.”


*****

Aku hanya bisa menatap Topan dari luar Gedung Olahraga.

“Ada apa, Chan?” Tanya Topan ketika dia istirahat latihan basket. Topan memang salah satu anggota team basket sekolah.

“A…anu, Pan?” Kataku malu-malu.

“Ya?”

Tiba-tiba saja hujan turun sangat deras.

“Wah, hujannya deras sekali.” Kata Topan melihat ke arah luar gedung olahraga.

Sial! Kenapa mesti hujan… ah pupus sudah memang itu tidak mungkin.

“Lebih baik aku pulang saja.”

“Lho, nggak nunggu hujan reda?”

“Nggak apa-apa, aku bawa payung.”

“Wah, sedia payung sebelum hujan rupanya!”

“Kemana pun aku pergi, aku memang selalu membawa payung.” Kataku. “Karena aku ini si cowok hujan.”

Di sinilah aku sekarang, di depan gedung olahraga sekolah. Padahal aku sudah mencoba mengumpulkan keberanian buat mengungkapkan perasaanku dan berdoa agar hujan tidak turun.

“Chandra…!!”

Aku mendengar ada suara cewek yang meneriakan namaku, setelah kulihat itu Dhea. Mau ngapain dia? Masih ada di sekolah pada jam segini.

“Duh, sebal! Padahal tadi cuacanya cerah kok malah hujan deras kayak gini.” Keluh Dhea menghampiriku.

“Hai Dhea, kok jam segini kamu belum pulang?” Tanyaku.

“Haha, iya, Abis latihan Marchine Band tadi.”

“O…”

Dhea menengok ke dalam gedung olahraga dan memperhatikan Topan lalu kembali menatapku dengan aneh.

“Kenapa menatapku seperti itu?” Tanyaku heran.

“Hmm…Chan… hmmm… Nggak jadi deh.”

“Apa sich?” Menatap Dhea aneh. Kenapa si Dhea mau ngomong tapi nggak jadi.

“Chan, aku mau nanya tapi kamu jangan marah, ya?” kata Dhea ragu-ragu.

“Ya, Tanya aja sesukamu.” Aku makin penasaran.

“Gimana kalo kita pindah ke kantin sajah? Kita bisa sambil duduk-duduk dan jajan.” Ajak Dhea.

“Oke baiklah.”

Akhirnya aku dan Dhea berjalan menuju ke arah kantin sekolah. Kami memilih tempat duduk dekat dengan warung nasi Teh Iis. Pada jam segini kantin sekolah sudah tutup semua.

“Chan… kamu mau… mau nyatakan perasaan kamu ke Topan, ya?” Tanya Dhea hati-hati.

Dheg…

Bagaimana Dhea tau soal itu. Aku kan tidak pernah berbicara hal itu kepada siapa pun.

“Ah…Ng…Nggak kok…Nggak. Kata siapa?” Kataku salah tingkah.

“Aku hanya menerka kok.” Kata Dhea. “Chandra, aku tuh selalu memperhatikan kamu sejak kelas IX. Aku tahu tatapan mata kamu ke Topan. Bukan tatapan seorang sahabat tapi tatapan seseorang yang jatuh cinta.”

“Eh…jangan…jangan ngomong yang aneh-aneh deh Dhea.” Kilahku salah tingkah. Sejelas itu kah aku menatap Topan sehingga orang lain menyadarinya.

“Nggak usah bohong sama aku, Chan. Aku mengerti kok perasaan kamu.” Kata Dhea sambil menggenggam tanganku.

Huff… aku mengela nafas. Mau bagaimana lagi kalo sudah ketahuan oleh Dhea. “Kayaknya aku nggak bisa menghindar lagi deh. Semua tebakan kamu benar.”

Perasaan aku terasa lebih lega sekarang. Sekaligus juga takut. “Dhea kamu nggak merasa jijik kepadaku? Nggak menjauhi aku?”

“Tentu sajah nggak. Aku bukan orang yang sepicik itu. Chan, I don’t care if you are gay or not. I’m your friend, right?”

Entah apa yang terjadi tiba-tiba air mataku mengalir membasahi pipi ketika mendengar semua kata-kata Dhea. Dhea tetap menggenggam tanganku.

“Cup…cup…cup… Sudah jangan nangis.”

“Iya, aku terlihat cengeng ya?” kataku sambil menyeka air mataku.

“Oia, kalo boleh tau sejak kapan kamu menyukai Topan?” Tanya Dhea penasaran.

Sekarang Dhea sudah tau semua lebih baik aku menceritakan semuanya. Karena aku tidak akan mungkin menutupi semua yang terjadi kepada Dhea.

“Itu dimulai ketika…”

*****

Topan dan aku mengikuti kegiatan ekstrakulikuler yang sama yaitu paskibra. Walaupun masih anggota baru, kami sudah dipersiapkan untuk mengikuti lomba yang memperebutkan Piala Walikota. Ketika hampir tiba giliran team paskibra sekolah kami untuk tampil tiba-tiba saja turun hujan deras sekali padahal sebelumnya matahari bersinar dengan terik. Kejadian serupa terulang lagi ketika team paskibra kami mengikuti perlombaan lainnya. Pernah suatu kali, aku tidak masuk sekolah selama seminggu karena harus dirawat di rumah sakit gara-gara demam berdarah. Saat aku tidak masuk sekolah team paskibra sekolah mengikuti perlombaan yang diadakan oleh sekolah lain. Saat aku tidak dapat mengikuti perlombaan tersebut cuaca sangat cerah dan tidak turun. Oleh karena itu, seluruh anggota team paskibra berpikir bahwa aku adalah cowok pembawa hujan. Sehingga aku dijuluki oleh mereka ‘Si Cowok Hujan’. Julukan tersebut segera saja tersebar ke seluruh penjuru sekolah.

Aku masih ingat ketika perlombaan Paskibra terakhir. Saat itu hujan turun sangat derasnya.

“Ya ampun, kok malah hujan.” Kata Tio, salah satu anggota Paskibra.

“Payah nih, bisa-bisanya hujan saat begini!” Kata Adit, anggota Paskibra yang lainnya.

“Chandra, ini pasti gara-gara kau! Dasar cowok pembawa hujan!” kata Tio menyalahkan aku.

“Eh?” aku tak percaya mendengarnya.

“Iya, gak salah lagi setiap ada kau, pasti turun hujan! Sana pulang! Pulang!” Kata Adit ikut menyalahkan aku juga.

“Kok begitu…” Kataku sedih.

“Sudah, jangan berantem kayak anak kecil! Mana mungkin kalian boleh menyalahkannya?!” Tegur Topan.

“Topan…”

“Jangan di ambil hati ya, Chan.”

“Makasih, sudah membela aku.”

Topan hanya memberikan senyum manisnya.


*****

“Awalnya aku tidak pernah merasakan apapun terhadap Topan, aku juga masih menyukai cewek. Tapi perhatian dan perlakuan Topan kepadaku membuatku berdebar-debar yang belum pernah kurasakan terhadap cowok.” Aku menjelaskan kepada Dhea. Dhea menyimak dengan baik, ternyata Dhea seorang pendengar yang baik.

“Aku mencoba untuk menghapus perasaan ini, semakin aku ingin menghapusnya semakin aku terus membayangkan Topan. Lama kelamaan aku menyerah dan harus menerima keadaan yang seperti ini. Sekarang aku tak mau mengingkari orientasi seksual aku.”

“Apakah Topan tahu kalo… kalo kamu gay? Sehingga kamu mau menyatakan perasaan kamu?” Tanya Dhea.

Aku hanya bisa menggelengkan kepala. “Tidak, Topan sama sekali tidak tahu.”

“Lho? Aku kira Topan sudah tau. Kalian bersahabat dekat kan?” Tanya Dhea heran.

“Ya tapi dia belum tau tentang ini. Aku terlalu takut untuk mengatakan aku seperti ini. Tadinya aku mau menanyakan terlebih dahulu pendapat dia tentang orang yang memiliki orientasi seksual seperti aku. Tapi terburu hujan deras. Aku takut kalo Topan jijik dan menjauhi aku. Aku tidak pernah bisa membayangkannya.”

“Jika kau tidak mencobanya bagaimana kau tau?”

“Aku takut Dhea, takut dengan kemungkinan terburuknya. Mungkin lebih baik tidak mengatakannya.”

“Ya, aku ngerti kok. Aku rasa aku tau kenapa kamu bisa sangat menyukai Topan.”

“Hah?”

“Topan itu selalu ceria seperti matahari. Walaupun sedih dia tidak pernah menunjukannya kepada teman-temannya. Dia selalu baik dan ramah ke semua orang. Sehingga dia banyak disukai oleh semua orang. Dan kamu bisa kepincut oleh Topan.”

“Haha, ya. Kamu betul-betul memahami aku, ya.”

“Chandra, aku pikir tidak ada jeleknya kok jadi cowok hujan… Justru hujan membawamu pada kebahagiaan, kan? Membuatmu jatuh cinta pada Topan. Iya, kan?”

Aku kaget ternyata Dhea bisa mengatakan hal tersebut. Aku jadi tidak benci lagi pada hujan. Aku bersyukur karena hujan bisa membuat aku jatuh cinta pada Topan.

“Iya juga, ya… Makasih, Dhea.” Aku memberikan senyum terbaik pada Dhea. Dan Dhea balas tersenyum.

*****
«13456

Comments

  • wah bahaanya seru nih

    lanjut
  • edited November 2011
    *****

    Tidak terasa aku sudah mengobrol dengan Dhea selama 1 jam. Aku merasa tidak enak hati karena Dhea harus mendengarkan curhat-ku. Lagipula saat ini hujan sudah reda.

    Aku mengajukan diri untuk mengantar Dhea pulang ke rumah. “Dhea, biar aku mengantar kamu sampai ke rumah.”

    “Eh… Nggak usah, Chan. Aku pulang sendiri saja.” Ujar Dhea menolak ajakkanku halus.

    “Ayolah lagi pula sudah mau magrib, nggak baik loh buat anak perempuan.” Bujukku.

    “Hm…” Dhea berpikir.

    “Aku memaksa. Aku bakal mengantarmu sampai rumah dengan selamat.”

    “Oke baiklah. Kalo kamu memaksa.”

    Aku dan Dhea berjalan menuju parkiran motor, tempat motor Ninja kesayanganku di parkirkan. Motor ini adalah hadiah ulang tahunku yang ke-17 dari orang tua-ku. Padahal aku mengingkan mobil tapi kedua orang tua-ku belum memperbolehkan aku mempunyai mobil sendiri.

    “BTW, rumah kamu dimana ya? Perasaan aku belum tau rumah kamu. Hehehe.” Kataku tersenyum.

    “Di Bantar Jati. Nanti aku tunjukin jalannya.”

    Tanpa kusadari, saat itu Topan melihat kearah kami berdua dari kejauhan.

    *****

    “Assalamu’alaikum.” Tidak terdengar jawaban.

    KRIEEETT…

    Aku membuka pintu garasi. Kosong. Mobil Papa, Mobil Mama dan Mobil Mas Billy nggak ada. Pada belum pulang semua. Padahal jam segini Mas Billy sudah pulang. Aku memasukkan motor ke garasi dan masuk ke rumah. Loh kok sepi! Beneran nggak ada siapa-siapa nich di rumah? Masa Mbak Surti juga pergi? Mana pintu rumah gak dikunci. Aku masuk lagi ke dalam ruang keluarga. Ya ampun, ternyata pembantu keluargaku sedang asik nonton TV. Nonton film drama Korea. Dasar, memang sich sekarang sedang demam Korea sampai-sampai pembantu aku juga ikut-ikutan.

    “Ehem…”

    Mbak sadar kalo ada suara di belakangnya, Mbak Surti menoleh dan tersipu malu. “Kapan pulang Mas? Kok Surti nggak denger Mas masuk rumah.”

    “Baru saja kok Mbak.” Aku langsung duduk di sofa.

    Mbak Surti hendak meninggalkan ruang keluarga tetapi kucegah, “Nonton aja, Mbak! Tapi tolong siapin air panas buat mandi sama teh manis hanget dolo.”

    “Baik, Mas! Bentar ya, Mas. Surti siapin dolo air panas sama Teh-nya.” Surti segera menuju ke dapur.

    Aku menatap layar kaca yang sedang memutar drama Korea. Apa sich bagusnya drama Korea. Eh, loh itu aktornya cakep. Siapa ya namanya?? Judul drama korea ini apa ya?

    “Ini mas teh manis hangetnya, air panasnya lagi dimasak dulu.” Mbak Surti meletakan mug yang berisi teh manis hanget di meja lalu kembali menatap layar kaca.

    “Mbak…”

    “Iya, Mas?”

    “Ini film-nya judulnya apa?” tanyaku.

    “S’cret Gar-den.” Kata Mbak Surti dengan inotasi pengucapan yang salah.

    “Secret Garden kali, Mbak.” Aku membetulkan pengucapan Mbak Surti.

    “Ya itu…yang bener Secret Garden.” Aku hanya bisa tertawa karena Mbak Surti masih salah mengucapkannya. Tapi biarlah, katanya dia dulu hanya lulusan SD. Jadi aku bisa memakluminya.

    “Itu yang pemaen siapa Mbak? Yang cowok-nya?”

    “Oooo itu namanya Hyun Bin, Mas. Ganteng yah, Mas? Aku aja nge-fans sama dia.” Cerocos Mbak Surti.

    Dasar pembantu yang satu ini urusan beginian dia jago, kalau yang laen suka lemot. Huff, lebih baik aku mandi sekarang deh.

    *****

    Huaah…Segar setelah mandi pakai air hangat. Sekarang sudah jam 7 malam, Papa, Mama dan Mas Billy juga sudah pulang. Kami sekeluarga siap-siap untuk makan malam. Di keluargaku memang sudah tradisi untuk makan malam bersama-sama walaupun nggak setiap hari karena kesibukan Papa dan Mama. Mereka memang sibuk dengan pekerjaannya, bahkan di akhir pekan, selalu pulang larut malam dan berangkat kerja pagi-pagi sehingga kami anak-anaknya tidak sempat bertemu. Dengan cara ini, kami bisa bertemu dan berkumpul bersama. Sesibuk apapun itu mereka selalu menyempatkan untuk berkumpul dengan kami, anak-anaknya. Kadang kalau ada waktu kami sekeluarga menyempatkan untuk berlibur bersama.

    “Chan, gimana sekolah kamu?” Tanya Mama ketika aku sedang menyuapkan nasi ke dalam mulutku.

    “Yuea Beu…hieathu aj…haeah…” kataku dengan mulut penuh makanan.

    “Aduh, Chan. Telan dulu makananmu. Baru berbicara.” Ujar Papa.

    Aku hanya bisa tersenyum dan menelan makananku, “Begitu saja, gak ada yang istimewa. Setiap hari seperti itu.”

    “Bohong tuh, pasti sudah punya pacar si Chandra?” ejek Mas Billy. “Tadi sore aku lihat dia ngeboncengin cewek.”

    Aku tersedak mendengar ucapan Mas Billy, “Uhuk…Uhuk…Uhuk…”

    “Neh minum dolo.” Mama menyodorkan gelas kepadaku.

    “Billy jangan godain adek kamu. Kasihankan Chandra jadi keselek.” Tegur Papa.
    Aku meminum air putih yang diberikan oleh Mama. Sial, bagaimana Mas Billy bisa tau. Awas nanti aku bales.

    “Memangnya kamu sudah punya pacar, Chan?” Mama bertanya. Akh, Mama malah ikut-ikutan lagi, menyebalkan.

    “Ajaklah pacar kamu kemari kenalkan ke kami semua. Nanti Papa dan Mama batalin janji meeting minggu depan untuk berkenalan pacar kamu.” Akh, kok Papa juga ikut-ikutan sich.

    “Dhea…”

    “Oooo, namanya Dhea.” Kata Mas Billy.

    “Mas Billy!!! Dhea bukan pacar aku, dia sahabat aku. Lagipula aku belum punya pacar kok.” Kataku marah karena Mas Billy ngejek aku.

    “Ia deh, percaya percaya kok.” Kata Mas Billy. Tapi nada Mas Billy seperti tidak percaya ucapanku.

    Papa dan Mama hanya bisa tersenyum melihat tingkahku dan Mas Billy. Mas Billy sejak dulu memang seperti itu selalu saja senang ngegodain aku. Tapi sebenarnya dia sayang sama aku. Mas Billy berumur 21 tahun, hanya 4 tahun lebih tua dari umurku. Dia merupakan salah satu mahasiswa di IPB Fakultas Kedokteran Hewan. Memang sejak dulu Mas Billy itu pencinta hewan. Padahal Papa dan Mama ingin Mas Billy meneruskan usaha mereka tetapi Mas Billy tidak mau dan memilih menjadi Dokter Hewan. Sehingga kewajiban untuk meneruskan usaha keluarga ada di pundakku.

    “Tau ah gelap! Mas, nanti aku bilangin kalo Mas…” Sebelum aku menyelesaikan perkataanku Mas Billy sudah membekap mulutku dengan tanganya. Memang sich aku tau rahasianya soalnya aku pernah mergokin dia sedang berhubungan intim dengan pacarnya dikamarnya. Hehehe.

    “Bilangin apa Chan?” Tanya Papa penasaran.

    “Ia bilangin apa?” Mama juga terlihat penasaran.

    “Nggak bukan apa-apa kok, Ma, Pa.” Hehe, yes. Mas Billy mati kutu dah. Awas ajah kalo godain aku mulu.

    Tapi kelihatannya Mama dan Papa percaya dan tidak menanyakan lebih lanjut lagi.

    “Oia, kalian nanti cek rekening kalian. Papa dan Mama menang tender besar. Papa kirimin uang untuk kalian.”

    Yes, dapat hadiah uang dari Papa dan Mama. Memang semua keperluan aku dan Mas Billy selalu ditransfer oleh Papa dan Mama. Jadi kami tidak perlu repot meminta kepada mereka.

    “Makasih yah Pa, Ma.” Kataku dan Mas Billy.

    Akhirnya acara makan malam telah selesai. Papa dan Mama kembali menuju ruang kerja mereka, katanya masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Sedangkan Mas Billy sudah pergi keluar lagi. Ngapel ke rumah pacarnya mungkin karena dia baru dapat uang jajan lebih. Sebelum pergi Mas Billy sempet nyubit pipi aku dan ngomong, “Awas ya, Dek. Aku bales nanti.”.

    *****

    Sekarang sudah jam sepuluh malam, buku pelajaran dan baju seragam buat besok sudah disiapkan semua. PR juga sudah kukerjakan. Sekarang aku siap-siap untuk tidur. Sambil tiduran seperti ini, aku jadi memikirkan apa yang bakal terjadi besok di sekolah. Memikirkan Topan, apa yang sedang dilakukan dia sekarang? Apa dia juga memikirkan aku, ya? Haha nggak mungkin terjadi deh.

    Hachi…

    Astagfirullah, kaget aku. Ternyata suara ringtone handphone-ku. Oh, God. Siapa sich yang sms malem-malem gini. Nggak tau apa kalau aku mau tidur. Eh, nggak deng lagi mikirin Topan. Hehe. Kuambil handphone yang aku letakkan di atas meja. Begitu aku membaca nama pengirimnya, aku tersenyum senang.

    -Topan-
    Oi, Chan! Lagi ngapain? Udah molor apa belum?


    Panjang umurnya si Topan lagi dipikirin tiba-tiba sms. Cihuy, udah rada ngantuk sich tapi nggak jadi ngantuknya. Aku senyum-senyum sendiri, kalo dilihat sama orang mungkin aku orang gila yang kabur dari Rumah Sakit Jiwa Marzuki Mahdi.

    Uit... Lagi tiduran ajah. Belum lah. Kenapa pan? Kangen sama aku yah? Xp

    Hehe, mancing-mancing dikit nggak apa-apa kali yah. Hehe kali ajah dia kangen sama aku.

    Hachi…

    Aku meraih handphone-ku. Cepet juga Topan membalas smsnya.

    -Topan-
    Haha. Mau-mu dikangenin sama orang ganteng kayak aku. :p
    Oia tadi siang kamu mau ngomong apa?


    Dheg… aduh Topan masih inget aja.

    Yeeee… Narsis. PD banget. Haha. Bukan hal yang penting kok.

    Sumpah, Topan tuh narsis banget. Tapi memang Topan tuh cakep. Dia juga popular di sekolah. Badannya atletis dengan tinggi badan memadai. Oiya, nilai plusnya, Topan cukup cerdas, suka olahraga, dan mempunyai selera humor. Tapi aku suka semua yang ada di diri Topan, kebaikan dan kejelekannya.

    Hachi…

    -Topan-
    Chan, kamu pacaran ya sama Dhea?


    What???? Kok Topan bisa berpikir seperti itu ya? Darimana dia berkesimpulan seperti itu? Topan aku tuh suka sama kamu. Cinta sama kamu. Tapi kenapa kamu berpikir aku pacaran sama Dhea. Tapi aku nggak mungkin nulis seperti itu.

    Nggak kok. Kok kamu bisa ngira aku pacaran sama Dhea? Dhea cuma temen kok, nggak lebih.

    Andai saja aku punya keberanian, aku pasti akan mengatakan kebenarannya kepadamu. Tapi aku terlalu takut untuk kehilangan kamu.

    Hachi…

    -Topan-
    Ooo, kirain. Soalnya tadi aku liat kamu ngeboceng Dhea. Kirain aku, kamu pacaran sama Dhea.


    OMG, dia ngeliat aku sama Dhea. Jangan-jangan Topan… Ah, tapi nggak mungkin.

    Haha, tadi aku cuma nganterin pulang Dhea karena kasihan kalo pulang sendiri udah sore. Kamu cemburu yah?? ;p

    Topan, oh Topan.

    Hachi…

    -Topan-
    Haha, ngapain juga aku cemburu sama kamu. Biasa ajah kali. Lagi pula aku sudah punya cewek.


    Topan punya pacar? Nggak mungkin, nggak mungkin itu nggak mungkin. Topan nggak pernah cerita kalau dia punya cewek. Aku nggak percaya. Aku…God, perasaanku saat ini benar-benar kacau. Refleks, aku mematikan handphone dan meletakkan jauh-jauh dariku. Kini air mataku menetes lagi. Ya, sudah kesekian kalinya aku menangis di hari ini. Aku nggak sanggup harus menerima kenyataan ini.

    Tiba-tiba hujan turun sangat deras di malam ini. Entah mengapa alam ikut menangis dengan kesedihanku ini. Aku merasa konyol, mengharapkan cinta yang tidak mungkin terjadi. Iya betul, konyol. Ya Allah, kenapa hal ini harus terjadi kepadaku? Kenapa aku harus mendengar apa yang tidak ingin kudengarkan. Kenapa hari ini aku harus banyak menangis? Aku sudah capek harus menangis terus…

    Entah sampai jam berapa aku menangis. Aku tidak memperhatikannya, aku terlalu capek untuk menangis kembali. Mungkin air mataku sekarang sudah kering. Lebih baik aku tidur sekarang. Aku sudah mengantuk.

    *****

    Hari Sabtu aku memang sengaja berangkat ke sekolah lebih awal daripada biasanya. Hari yang berembun akibat hujan semalam, suasana terlihat dingin pagi ini. Kulihat keadaan kelas pagi ini masih cukup sepi. Hanya ada beberapa orang yang sudah datang, termasuk aku dan Dhea.

    “Pagi, Dhea.” Sapaku lesu lalu tersenyum.

    “Pagi juga.” Sepertinya Dhea menyadari bahwa senyumku bukan senyum tulus. Lalu Dhea mendekatiku dan duduk di sebelahku, “Ada apa, Chan? Sepertinya kamu ada masalah.”

    “Nggak apa-apa kok.”

    Dhea memperhatikan wajahku dan tersadar, “Chan, kamu habis nangis ya?”

    Loh, kok Dhea bisa tau? Apakah kelihatan banget ya? Aku hanya tersenyum kecut dan berkata, “Kelihatan banget ya?”

    “Iya lah, mata kamu sampai bengkak gitu tapi nggak parah banget.”

    “Aduh bagaimana donk?” Bingung, aku nggak mau sampai ketahuan oleh teman-temanku.

    “Ayo, Chan kita ke UKS! Kita kompres mata kamu di sana.” Ajak Dhea.

    Aku dan Dhea menuju ruang UKS. Ruang UKS terletak di dekat kantin sekolah. Setelah kami masuk ke dalam ruang UKS aku berbaring d atas ranjang, Dhea membantu aku mengompreskan mata agar tidak terlalu bengkak. Walaupun Dhea sudah berusaha mengompres mataku tetap saja air mataku menetes lagi. Aku sungguh malu kepada Dhea, dia harus melihat aku menangis lagi.

    “Chan, kamu kenapa? Aku mintain izin buat nggak ikut pelajaran ya? Sebentar lagi bel masuk sekolah.” Kata Dhea.

    Aku hanya mengangguk lalu Dhea segera keluar menuju ke ruang guru untuk memberikan izin untukku. Aku malu, masa cowok cengeng gini. Tapi mau bagaimana air mataku nggak mau berhenti.

    Nggak lama kemudian, Dhea kembali ke ruang UKS. “Aku sudah meminta izin kepada guru piket buat kita berdua.”

    “Kita berdua? Kamu nggak masuk kelas? Nanti kamu ketinggalan pelajaran.”

    “Nggak apa-apa, aku tahu kamu butuh seseorang untuk menemanimu di saat sedih.” Aku tertegun seorang Dhea mau menemaniku padahal dia tidak pernah absen apalagi membolos. Sekarang demi aku, dia rela absen tidak mengikuti pelajaran hanya untuk menemaniku, cowok cengeng. Dhea termasuk murid berprestasi, juara umum di sekolah untuk kelas XI. Aku jadi tidak enak hati.

    “Topan sudah punya cewek.” Ujarku tiba-tiba.

    “Hah? Bagaimana kamu tau?”

    Aku mulai bercerita yang terjadi tadi malam.

    *****

    Aku dan Dhea kembali ke kelas ketika istirahat pertama dimulai. Aku melihat Topan sedang ngobrol dengan teman-teman cowok. Begitu Topan melihat kami, dia segera menghampiri kami berdua.

    “Chan, katanya kamu sakit? Kamu nggak apa-apa?” Tanya Topan khawatir. Aku tau dia khawatir tapi saat ini aku tidak mau melihatnya.

    “Dhea, aku duduk sama kamu ya?” kataku pada Dhea, aku mengambil tas dan pindah ke tempat Dhea.

    “Ran, boleh tukar tempat?” tanyaku pada Rani, teman sebangku Dhea. Rani mau menolak tapi dia mengerti begitu melihat wajahku. Rani pindah ke tempat aku tanpa banyak bicara. Sekarang dia harus duduk bersama Topan.

    Topan nggak mengerti apa yang terjadi, dia heran melihat tingkahku ini, “Chan, kamu kenapa sih? Kamu marah sama aku?” Kata Topan sambil memegang lenganku, menahan aku.

    Aku menepiskan tangannya dan tidak mempedulikannya.

    “Chan…!!!” Panggil Topan nggak terima. Tapi Dhea menghalangi Topan agar tidak mencegahku. Topan mengerti. Akhirnya mengalah.

    Suasana kelas jadi hening. Aku tahu bahwa seisi kelas memperhatikan kami, mereka tahu kalau sebenarnya kami bersahabat dan tidak pernah melihat kami bertengkar. Tapi yang mereka lihat hari ini membuat kaget mereka semua. Ya iyalah masa ya iya donk. Aku menepiskan tangan Topan di depan semua teman sekelas. Dan pindah tempat duduk ke tempat Dhea dan Rani. Aku nggak peduli lagi apa kata mereka.

    *****

    Sudah hampir seminggu aku tidak berbicara kepada Topan. Topan juga setiap hari berusaha berbicara kepadaku tetapi aku tidak mempedulikannya. Dia tidak mengerti kenapa aku marah padanya, dia juga tidak tahu apa yang terjadi. Dia berusaha bertanya kepada Dhea, SMS, telepon bahkan datang ke rumahku. Tetapi Dhea nggak bisa menjawabnya walau sebenarnya mengetahui masalahnya. Teman-teman sekelas juga banyak yang menasihati aku agar segera berbaikan dengan Topan tetapi tidak pernah ku hiraukan.

    “Chan, mau sampai kapan kamu seperti ini terus? Apa kamu nggak kasihan sama Topan? Dia nggak tau apa-apa.” Kata Dhea.

    “Sudahlah Dhea, jangan mencoba menasihatiku.”

    “Aku kasihan sama kamu, juga sama Topan.”

    “Aku nggak apa-apa. Aku bukan orang yang butuh di kasihanin.” (Aku) Pergi meninggalkan Dhea.

    Dhea hanya bisa menggelengkan kepala tapi dia tidak bisa memaksakan kehendaknya. Dhea berpikir mungkin aku butuh waktu untuk sendiri.

    Aku berjalan menuju ke halaman belakang sekolah. Disana ada pohon beringin besar, katanya sih ada mitosnya kalau mengukir nama orang yang kamu sukai di pohon beringin cintanya akan berbalas. Haha, aku sich nggak percaya itu kan cuma mitos. Walaupun begitu pohon beringin ini cukup terkenal di sekolah, banyak murid-murid yang mengukirnya. Jadi penasaran siapa ajah deh yang percaya kayak ginian.

    Aku berkeliling melihat-lihat batang pohon beringin. Haha banyak nama Topan. Loh ini kan namaku. Ada 1, 2, 3, 4, 5, 6, … Wah sebanyak nama Topan. Aneh. Mana mungkin orang suka sama aku, apa coba yang diliat dari aku. Seketika itu aku melihat seorang cowok sedang mengukirkan nama di pohon. Aku belum pernah melihat dia sebelumnya. Mungkin murid kelas 1 atau kelas 3.

    Aku mendekatinya untuk menyapanya, “Hai…”

    Cowok tersebut kaget tapi dia bisa ngendalikan kekagetannya, “Oh, hai…”

    “Kamu sedang apa?” pertanyaan bodoh, sudah tau dia sedang mengukir nama di situ. Malah pakai nanya segala.

    “Kau tau kan… mengukir sebuah nama. Kau tau mitos itu.” Ujar cowok itu malu. Mukanya memerah.

    “Ya, kau percaya sama mitos?” tanyaku heran. Di zaman modern sekarang masih aja ada orang yang percaya tentang mitos-mitos seperti ini.

    Dia hanya tersenyum, “Entah itu benar atau tidak tapi buktinya aku bisa berbicara dengannya untuk pertama kalinya.”

    “Oh, ya?” ujarku masih tidak percaya.

    “Ya, aku ini orangnya pemalu jadi untuk menyapanya saja tidak berani. Mengobrol dengannya saja aku sudah senang apalagi kalo bisa menjadi pacarnya.”

    “Haha, cinta kan butuh perjuangan. Kalo hanya bisa berharap bagaimana dia bakal tau kalo kamu cinta sama dia. Kamu harus berjuang demi cinta kamu.” Kataku memberi nasihat. Huff, aku bisa memberikan nasihat ke orang lain tapi percintaanku gak berjalan lancar.

    “Oia, dari tadi kita ngobrol tapi belum berkenalan. Nama kamu siapa?” Tanya cowok itu.

    “Hehe, oia kita belum berkenalan. Namaku Chandra Dwi Putra. Kalo kamu?” Tanyaku sambil mengulurkan tangan.

    “Aku Yudha Maulana Firdaus. Chandra ya? Aku banyak melihat nama kamu diukir di pohon.” Menyambut uluran tanganku.

    “Haha, bukan aku kayaknya.” Aku hanya bisa tersenyum.

    “Ya, mungkin juga sich.” Sialan memangnya aku sejelek itu.

    “Kan yang namanya Chandra banyak di sekolah.”

    “Iya, mungkin yang dimaksud itu Chandra anak XI-2. Dia kan populer.” Kata Yudha. Loh itu kan kelas aku, se-tau aku, cuma aku saja yang namanya Chandra. Memang sich di angkatan aku, ada 5 orang yang namanya Chandra, termasuk aku.

    “Iya, mungkin yang itu kali.” Aduh jangan sampai tau kalo itu aku yang dia maksud. “Kok kamu tau dia itu popular?”

    “Ada temen kelas-ku yang naksir Chandra, katanya Chandra itu cute. Wajahnya manis dengan rambut acak-acakan seperti baru bangun tidur. Badannya berisi dengan tinggi badannya memadai. Kata temenku juga, kalo melihat dia rasanya pengen memeluk dan melindunginya. Banyak kok yang suka padanya.” Yudha menjelaskan

    Glek! Loh memangnya aku seperti itu? Bahkan aku sendiri tidak tau kalau aku sepopuler itu. Tapi kok rasanya aneh mendengar itu dari mulut cowok seperti Yudha. Cute? Berwajah manis? Argh… kenapa aku dibilang cute dan berwajah manis. Aku ini cowok. Aku paling benci kalo dibilang seperti itu. Yang aneh lagi kenapa kalau melihat aku, mereka mau melindungiku?

    “Eh, Kamu bukan Chandra kelas XI-2 kan? Kamu kelas berapa?” Tanya Chandra penasaran.

    TENG…TENG… TENG…TENG…
    Huff, untung aku diselamatkan oleh bel sekolah. Tanda untuk aku dan Yudha kembali ke kelas.

    “Duluan ya, Yudh. Aku ada quiz neh. Bye!” kataku segera berlari meninggalkan Yudha.

    *****
  • ayo dlanjut ah.... mmm usul ya... jangan rusak cerita dengan usur2 mesum yg ga jelas.... banyakin aja roman nya..... heehe piisss....
  • soulblack wrote:
    ayo dlanjut ah.... mmm usul ya... jangan rusak cerita dengan usur2 mesum yg ga jelas.... banyakin aja roman nya..... heehe piisss....

    Ini kisah roman kok nggak bakal ada unsur2 mesum ^^. di tunggu masih dalam proses. ^^
  • bagus..
    tp cowok ujanx terinspirasi dri manga fairytail yah?
    tp dsitu cewek ujan yg ska ma grey.
    tp aq harap grey dpt erza.amien.
    Ћι² .. Ћî²_Ћι² .. Ћî²
  • paling si dhea yg suka sma si chandra, karena melihat ketulusan si dhea, si chandra-nya akhirnya luluh deh dan jatuh cinta jg sma si dhea.....hmm :)
  • bagus..
    tp cowok ujanx terinspirasi dri manga fairytail yah?
    tp dsitu cewek ujan yg ska ma grey.
    tp aq harap grey dpt erza.amien.
    Ћι² .. Ћî²_Ћι² .. Ћî²

    haha bukan kok. ^^
    paling si dhea yg suka sma si chandra, karena melihat ketulusan si dhea, si chandra-nya akhirnya luluh deh dan jatuh cinta jg sma si dhea.....hmm :)

    Hmmm, tunggu ajah kelanjutannya
  • edited November 2011
    *double post*
  • Layoutnya ud bagus,, ud sering nulis ya? *sepuluh jempol* *jarinya mmg jempol semua -_-*
  • reefarief wrote:
    Layoutnya ud bagus,, ud sering nulis ya? *sepuluh jempol* *jarinya mmg jempol semua -_-*


    hahaha. wah ini cerita pertama ku ^^


  • Sepulang sekolah, aku ingin rasanya cepat-cepat pulang ke rumah. Sayangnya, hari ini aku nggak membawa Ninja kesanyanganku karena motorku harus dibawa ke bengkel. Biasanya kalau aku tidak membawa motor, Topan pasti mau mengantar-jemput aku. Tapi karena aku sedang berantem dengan Topan jadinya gini deh, sengsara , harus naik angkot. Mana aku tidak tau jalan kalau naik angkot. Tadi pagi sih masih bisa memaksa Mas Billy buat nganterin aku ke sekolah, kalau jam segini dia pasti sedang kuliah.

    “Chandra…”

    Dia lagi! Mau ngapain sich?

    “Chan, kita perlu bicara.” Kata Topan.

    Aku nggak peduli, aku tetap mengacuhkan Topan.

    “Chandra…”

    “Mau apa sih?” Kataku kesal.

    “Kita perlu bicara sekarang.”

    “Nggak ada yang perlu kita bicarakan.” Kataku pergi meninggalkan Topan. Tetapi Topan menarik tanganku dan membawaku kearah mobilnya.

    “Topan lepasin, nggak! Aku nggak mau!” kataku berusaha melepaskan cengkraman Topan tetapi genggaman tangannya cukup kuat.

    “Nggak pokoknya kita harus bicara sekarang! Kamu harus ikut aku!” Kata Topan sambil menyeret aku ke arah mobilnya.

    Aku nggak bisa melepaskan genggaman Topan, dia terlalu kuat mengcengkram tanganku sehingga aku bisa merasakan perih di tanganku. Pada akhirnya, aku harus ikut bersama Topan. Selama perjalanan Topan hanya diam membisu, aku nggak tau mau dibawa kemana olehnya. Dapat kulihat dari wajahnya ia sedang kesal. Untungnya dia bisa mengendalikan emosinya dan tidak mengebut. Bisa celaka dua belas kalau sampai kecelakaan gara-gara Topan mengebut.

    Akhirnya mobil Topan berhenti. Ternyata Topan membawa aku ke rumahnya. Aku sama tidak memperhatikan jalan dari tadi. Sebenarnya aku sudah sering main ke rumahnya. Topan hanya tinggal sendiri di rumah bersama pembantunya yang sudah tua. Topan adalah anak tunggal. Orang tua Topan jarang pulang ke rumah karena sibuk dengan pekerjaan mereka. Dalam sebulan hanya dua kali orang tua Topan hanya pulang ke rumah. Bisa dikatakan aku lebih beruntung daripada Topan.

    “Turun!” Perintah Topan.

    “Nggak mau! Anterin aku pulang sekarang!” kataku keukeuh.

    “Kamu mau turun sendiri atau aku gendong?”

    Aku hanya diam membisu, nggak mau keluar dari mobil. Topan keluar dari mobil dan menuju ke arah pintu penumpang lalu membuka pintu mobil. Topan hendak menggendong aku tetapi aku menolak untuk digendong.

    “Aku bisa jalan sendiri.” Kataku yang pada akhirnya keluar dari mobil Topan.

    “Ayo ikut aku!” kata Topan sambil menarik aku untuk mengikutinya.

    Topan membawa aku ke kamar tidurnya. Di dalam kamarnya, kita berdua hanya diam-diaman belum ada yang mau memulai berbicara. Kamar tidur Topan cukup luas dengan ranjang yang besar dan fasilitas yang lengkap seperti AC, TV Flat dan Komputer.

    “Chan, kamu sebenarnya kenapa sih? Tiba-tiba kamu pindah tempat duduk dan selalu menghindari aku.” Topan memulai pembicaraan.

    Aku hanya diam dan tidak menjawab pertanyaannya.

    “Chan, kalo kamu diam seperti ini bagaimana aku tau salahku apa?” Kata Topan memelas.

    Entah kenapa air mataku mengalir begitu saja. Rasanya ingin meledak. Topan terkejut saat dia melihatku menangis. Hujan pun turun, tapi Topan tidak peduli dengan hujan. Dia hanya khawatir karena tiba-tiba aku menangis.

    “Chan… jangan nangis donk! Aduh, maafin aku Chan.” Topan kelabakan.

    Aku tetap saja menangis, Topan makin bingung karena tidak tahu harus berbuat apa.

    “Udah donk nangisnya, Chan! Cup…cup…cup!” Topan mencoba menenangkan aku.

    Bukannya tangisku berhenti malah tangisanku makin keras.

    “Aduh malah tambah nangis lagi.”

    Tiba-tiba saja Topan memelukku erat, dia mengelus-ngelus punggungku dan rambutku. “Chan, maafin aku ya! Maafin aku kalo aku punya salah. Walau aku sendiri nggak tau apa salahku. Pasti karena perbuatan aku hingga kamu benci padaku, marah padaku.”

    Akhirnya aku bisa mengendalikan tangisanku,“Nggak… kamu nggak salah apapun…”

    “Terus kenapa selama ini kamu menghindari aku? Marah sama aku?” Tanya Topan masih tetap memelukku.

    Aku hanya diam membisu, karena aku tidak mau kalo Topan sampai tau kalo aku itu cemburu.

    “Hmmm… waktu terakhir kita SMS-an itu kita lagi ngomongin kamu yang nganterin Dhea.” Kata Topan. Topan terus berpikir, “Hmm,,, terus itu aku pernah bilang ya kalo aku udah punya cewek, masa kamu cemburu sich kalo aku udah punya cewek. Haha…haha…”

    Saat Topan berkata seperti itu tubuhku menegang dan sepertinya Topan sadar akan hal itu lalu melepaskan pelukannya.

    “Kamu cemburu beneran?” Tanya Topan memastikan.

    Aku hanya diam mengalihkan pandanganku dari Topan.

    “Chan, kamu cemburu kalo aku punya cewek?” Tanya Topan tidak sabaran.

    Aku tau saat ini mukaku memerah seperti kepiting rebus. Aku nggak tau apa yang dipikirkan Topan sekarang. Sekarang dia sudah tau kalau aku cemburu.

    “Chan, kenapa kamu cemburu? Emang aku yang salah nggak bilang sama kamu kalo aku udah punya cewek. Karena aku baru jadian sama dia selama tiga mingguan.”

    “Siapa…??” tanyaku tetap tidak mau memandangi Topan.

    “Hah…??”

    “Siapa cewek kamu?” aku mengulangi pertanyaan yang tadi.

    “O… Anak kelas XI-8. Namanya Mitha.” Kata Topan. “ Kamu tau kan yang namanya Mitha.”

    Aku hanya mengganggukan kepala. Ya, aku tau Mitha. Cewek paling cantik di sekolah, cukup popular di antara cowok-cowok satu sekolahan. Banyak yang mau jadi pacarnya. Berutung sekali Mitha bisa jadian sama Topan bukannya aku.

    “Terus kenapa kamu cemburu, Chan? Karena aku jadian sama Mitha?”

    Emosiku makin meledak rasanya kepalaku ingin pecah. Karena Topan menanyakan hal itu.

    “KAMU MAU TAU KAN YANG SEBENARNYA! HAH!” Teriakku marah.

    Topan kaget karena tiba-tiba saja aku berteriak marah. “Chan,,, kok jadi marah? Aku hanya…”

    “KARENA AKU SAYANG SAMA KAMU! KARENA AKU SUKA SAMA KAMU! PUAS!”

    Topan terlihat kaget dan sangat bingung, “Tapi bagaimana bisa?”
    Akhirnya aku bisa mengendalikan emosiku. “Itu karena kamu. Ya, gara-gara kamu, aku bisa jadi kayak gini. Karena perlakuan dan perhatian kamu ke aku yang buat aku kayak gini. Rasa sayang aku ke kamu bukan rasa sayang seperti ke sahabat atau saudara, rasa sayang aku ke kamu lebih dari itu.”

    Topan hanya bisa diam mendengarkan kata-kataku barusan, dia bingung harus berkata apa mungkin juga takut.

    “Tapi, Chan. Aku udah punya cewek. Lagipula kita sama-sama cowok jadi…”

    “Ya, aku ngerti kok! Kamu mau benci sama aku ngga apa-apa kok” Kataku ketus.

    “Bukan… Bukan itu maksud aku…” Topan berusaha menjelaskan.

    “Makasih buat semuanya, selamat tinggal!” Kataku segera berlari keluar.

    Yang aku pikirkan adalah untuk segera keluar dari rumah Topan. Aku berlari secepat mungkin. Aku tahu bahwa Topan berusaha mengejarku tetapi dia tidak berhasil menyusulku. Ketika berlari, aku juga sempat mendengar Topan memanggil namaku tapi aku tidak peduli. Aku hanya berlari secepat mungkin di bawah guyuran hujan.

    Setelah dirasa cukup jauh aku berhenti berlari. Aku menengok ke belakang tidak ada tanda-tanda dari Topan. Ketika aku memperhatikan sekitar, aku sama sekali tidak tau berada dimana yang aku pikirkan berlari dengan cepat. Aku hanya bisa menangis, selesai sudah semua. Aku sudah tidak mempunyai harapan lagi.

    Hujan menutupi air mataku yang mengalir. Aku hanya bisa berjalan tanpa tentu arah. Baju seragam, sepatu dan tas aku basah semua. Dada aku terasa sakit sekali, aku tau bahwa tadi aku berlari jauh sekali. Melebihi batas kemampuanku yang sebenarnya. Kepala aku terasa sangat pusing, badanku terasa sangat panas dan lemas sekali, dan mataku berkunanng-kunang.

    Tiba-tiba…

    BRUUKK!!

    *****
    Uuuhh!!

    Cahaya terang, menyilaukan mataku. Ini dimana? Kepalaku terasa sakit. Aku berbaring di ranjang tanganku di genggam oleh Mama.

    “Mah! Mama!” kataku pelan.

    “Ya Tuhan, Chandra! Mama senang kamu sudah sadar.” Kata Mama memelukku sambil menangis.

    “Mah, ini dimana?” tanyaku.

    “Di rumah sakit, sayang.”

    “Kok Chandra bisa ada di sini?” Aku bingung, apa yang terjadi padaku sebenarnya?

    “Kamu pingsan, Nak. Saat itu hujan deras dan kamu pingsan di jalan. Untungnya warga menolong kamu dan langsung membawa kamu ke rumah sakit.” Mama menjelaskan.

    Sekarang aku ingat. Saat itu aku berlari meninggalkan rumah Topan. Berlari dalam hujan kemudian jatuh pingsan.

    “Udah berapa lama Chandra di sini, Ma?” tanyaku.

    “Selama 3 hari kamu nggak sadarkan diri. Kondisi kamu sempat kritis. Untungnya kamu bisa melewatinya. Mama takut kehilangan kamu. Mama, Papa dan Mas Billy bergantian menjaga kamu disini.”

    “Mama dan Papa nggak bekerja?” tanyaku.

    “Nggak, Mama dan Papa membatalkan semua jadwal dan meeting. Mas Billy juga nggak masuk kuliah selama kamu dirawat.”

    “Maafkan Chandra, Mah. Gara-gara Chandra sakit, Mama dan Papa harus membatalkan semuanya.” Kataku merasa bersalah.

    “Kamu ngomong apa sih? Kamu tuh lebih penting daripada pekerjaan. Jadi nggak usah dipikirin. Yang penting kamu sekarang harus sembuh.” Aku melihat setitik air mata di mata Mamaku.

    Aku jadi terharu mendengarnya, aku nggak mau membuat semua orang khawatir lagi. “Mah, Chandra sudah nggak apa-apa kok. Kalo Mama dan Papa mau bekerja lagi boleh kok.”

    “Nggak, Mama dan Papa akan menunggu kamu hingga kamu sembuh dan keluar dari rumah sakit.”

    “Chandra nggak apa-apa kok. Kan ada Mas Billy yang jagain Chandra. Beneran deh Chandra nggak apa-apa.” Aku memaksa.

    “Kamu yakin?”

    “100%, Mah.”

    “Makasih ya, sayang.” Kata Mama sambil mengecup keningku. “Oia, Mama panggilkan Papa dan Mas Billy, ya? Mereka sedang makan sekalian Mama panggilkan dokter.

    Mama akhirnya keluar kamar rawatku. Aku kembali mengingat apa yang terjadi saat itu. Di meja banyak sekali buah-buahan dan karangan bunga. Aku tidak tau siapa yang mengirimkannya.

    Pintu kamarku dibuka, dokter dan suster masuk kemudian dokter memeriksa keadaan tubuhku dan menanyakan apa yang aku rasakan saat ini. Aku hanya bisa menjawab apa yang kurasakan sekarang. Setelah selasai memeriksa aku, dokter dan suster keluar dari ruanganku. Aku tau bahwa dokter tersebut sedang berbicara dengan Mama. Nggak lama kemudian Papa, Mama dan Mas Billy masuk ke dalam.

    “Gimana kabar kamu, Chan?” Tanya Papa.

    “Chandra baik-baik sajah. Masih sedikit pusing, Pa.” Kataku.

    “Kamu tau, Chan. Kamu tuh buat kami semua khawatir. Kau tau saat rumah sakit menelepon ke rumah. Dan bilang kau masuk rumah sakit. Kamu buat jantung aku hampir copot…” cerocos Mas Billy.
    Aku hanya bisa tertawa mendengarnya ternyata Mas Billy mengkhawatirkan aku biasanya dia hanya bisa menggoda aku saja.

    “Hei, malah tertawa lagi bukannya minta maaf karena membuat kami repot.” Gerutu Mas Billy.

    “Sudah-sudah. Oia, Chan. Kata dokter kamu masih harus dirawat beberapa hari lagi agar kondisi kamu bisa segera pulih. Kemarin lusa temen-temen sekolah kamu pada datang jengukin kamu disini.” Kata Papa.

    “Hah? Mereka datang menjenguk?”

    “Apalagi Topan dan Dhea, mereka setiap hari datang kesini. Mereka berdua sungguh baik sekali. Apalagi Topan dia selalu memaksa untuk menginap di sini menemani kamu.” Kata Mama.

    “Ia tampaknya Topan sangat khawatir sama kamu.” Kata Papa.

    Mas Billy sepertinya sadar dengan raut wajahku ketika mendengar nama Topan. Tetapi dia hanya diam.

    *****

    Esoknya aku masih belum boleh pulang dari rumah sakit. Mama dan Papa sudah kembali bekerja dan sekarang Mas Billy yang menemaniku. Karena aku sedang sakit aku bisa memanfaatkannya. Aku sering menyuruh-nyuruh Mas Billy untuk mengambilkan atau membelikan sesuatu, mengupas buah, menyuapi aku makan dan lain-lain. Dan Mas Billy nurut saja kemauan aku. Hehe. Seandainya saja Mas Billy seperti ini pasti menyenangkan.

    “Kamu ini manja sekali kalau sedang sakit.” Gerutu Mas Billy sambil keluar kamar. Meski bilang begitu tetap saja Mas Billy selalu menuruti kemauanku, contohnya saja seperti saat ini. Aku lagi pengen makan roti unyil, jadi aku minta mas Billy untuk membelikannya. Habisnya, makanan di rumah sakit tidak enak. Uek…

    Pada jam segini pasti sudah pada pulang sekolah, aku ingin cepat-cepat pulang ke rumah. Disini aku sudah bosan karena hanya tiduran sajah di ranjang. Tapi kata dokter aku baru boleh pulang besok. Jadi aku hanya bisa bersabar. Ingin sekali aku cepat-cepat ke sekolah lagi tapi pasti aku akan bertemu Topan lagi. Apakah aku harus pindah sekolah?

    Tiba-tiba pintu kamar terbuka.

    “Mas, ada yang ketinggalan bukan?” Kataku melihat ke arah pintu.

    Ternyata yang membuka pintu itu bukan Mas Billy melainkan Topan.

    “Gimana kabarmu?” kata Topan menghampiriku di ranjang.

    Aku hanya diam mengacuhkannya. Saat ini hanya Topan yang tidak ingin kutemui.

    Topan datang membawa buah-buahan dan bunga. Kemudian Topan duduk di kursi yang ada di sebelah ranjangku.

    “Kemarin Mas Billy SMS aku katanya kamu sudah sadar. Aku senang sekali ketika mendengar kabar bahwa kamu sudah sadar.” Kata Topan.

    Sialan, kenapa sih Mas Billy harus SMS Topan. Tapi aku juga tidak bisa menyalahakan Mas Billy karena dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

    “Aku khawatir, setelah kamu dari rumah aku, esoknya kamu tidak masuk sekolah. Dhea juga nggak tau kamu ke mana. Semua kekhawatiran aku terjawab ketika guru piket memberi tahu bahwa kamu masuk rumah sakit dan koma. Semua teman-teman sekelas sangat khawatir sama kamu, Dhea menangis. Aku juga sangat sedih karena ini pasti gara-gara aku, kamu harus dirawat di rumah sakit. Sekolah juga sempat mengadakan doa bersama agar kamu lekas sembuh.” Kata Topan panjang lebar.

    Aku hanya diam mendengarkan. Aku sudah tidak peduli, lebih baik aku menghilang saja.

    “Dhea juga sudah menceritakan semuanya, Chan. Tentang perasaan kamu ke aku. Tentang bagaimana kamu bisa sayang ke aku. Semuanya sudah Dhea ceritakan.”

    Huh! Buat apa Dhea menceritakannya.

    “Tapi kamu jangan salahkan Dhea, dia sangat khawatir sama kamu.”
    Tiba-tiba aku mendengar Topan menangis, ya aku melihat Topan menangis. Baru pertama kalinya aku melihat dia begini, Topan tampak sangat terpukul karena aku sama sekali mengacuhkannya.

    “Chan…maafin aku… gara-gara aku…kamu…” Topan masih terisak-isak.

    Bodoh! Aku sungguh bodoh! Aku sama sekali nggak dewasa. Aku telah membuat orang yang aku sayang menangis. Aku telah membuatnya terluka gara-gara tingkahku.

    “Kamu boleh pukul aku. Kamu boleh ngelakuin apa ajah ke aku. Tapi tolong kamu maafin aku, jangan benci sama aku, jangan cuekin aku lagi.” Kata Topan masih menangis. “Aku… aku… rela harus putusin Mitha agar kita bisa kayak dulu lagi. Tetap bersahabat.”

    Aku tertegun lalu memegang tangan Topan, “Nggak, kamu sama sekali nggak salah kok. Aku-nya saja yang nggak dewasa yang nggak bisa nerima keadaan. Aku yang nggak bisa nerima semua kenyataan kalau kamu sudah punya pacar. Aku yang nggak bisa nerima kalo kamu nggak punya perasaan apapun ke aku.”

    “Aku juga sayang sama kamu, Chan. Tapi perasaan sayang aku ke kamu hanya rasa sayang…”

    “Iya, aku mengerti kok.” Kataku memotong omongan Topan.

    “Maafin aku, Chan. Aku mau kita kaya dulu lagi tetap bersahabat.” Kata Topan.

    “Maafin aku juga, ya?”

    Kemudian kami saling berpelukan. Aku menangis di pelukan Topan. Aku sadar bahwa aku tidak boleh egois. Aku harus lebih dewasa. Aku tidak mau melihat orang-orang yang aku sayang menangis lagi. Walaupun begitu aku akan tetap menyimpan perasaan ini sampai suatu saat aku menemukan penggantinya. Topan izikan aku untuk mencintaimu walau cintaku tidak terbalas. Izinkan aku tetep menyimpan cinta ini untukmu. Walaupun terasa pahit aku akan selalu tersenyum.

    *****

    Hari ini akhirnya aku pulang ke rumah setelah hampir seminggu aku di rumah sakit. Mas Billy dan Topan membantu aku bersiap-siap untuk pulang ke rumah. Dokter juga sudah memberikan aku resep obat dan menyuruhku banyak istirahat. Walaupun aku sudah boleh pulang tetapi badanku masih lemas. Tadi aja aku harus menggunakan kursi roda untuk sampai ke mobil Mas Billy.

    Aku, Topan, dan Mas Billy akhirnya sampai di rumah. Uh, aku kangen masakan Mbak Surti. Hehe. Ketika mobil kami sampai kulihat Mbak Surti sudah ada di depan rumah sambil membawa spanduk yang terbuat dari karton dengan tulisan ‘WELKOM BAK TO HOM, MAS CHANDRA’. Aduh, Mbak Surti malu-maluin ajah. Mau tidak mau kami bertiga tertawa melihat tulisan Mbak Surti. Mbak Surti harus aku ajari Bahasa Inggris biar penulisannya benar. Masa tuannya ganteng-ganteng gini tetapi pembantunya agak oon. Nanti diketawain sama orang-orang.

    “Mas Chandra… Gimana kabarnya? Huhuhu Surti shock pas dikasih tau Mas Billy kalo Mas Chandra masuk rumah sakit. Nggak ada Mas Chandra di rumah, rumah terasa sepi banget. Kan biasanya Mas Chandra yang nemenin Surti ngobrol. Surti juga sudah buatin makanan kesukaan Mas Chandra.” Kata Mbak Surti panjang lebar. Ternyata Mbak Surti perhatian banget.

    “Iya, iya. Tapi Mbak boleh nggak aku masuk rumah dulu. Badanku masih lemes neh.” Kataku tersenyum.

    “Monggo Mas Chandra.” Kata Mbak Surti mempersilahkan aku masuk.

    Berjalan ke dalam rumah aku harus di tuntun oleh Mas Billy dan Topan. Mungkin karena Mas Billy tidak sabaran akhirnya dia menggendong aku. Aku tentu saja kaget jarang-jarang Mas Billy menggendong aku. Topan yang melihatnya hanya bisa bengong tapi akhirnya sadar dan mengikuti kami dari belakang.

    Sesampainya di kamarku, Mas Billy membaringkan aku di ranjang.

    “Mas mau nebus obat di apotik dulu, kamu harus makan dan istirahat. Nanti aku suruh Mbak Surti membawakan makanan ke sini.“ Kata Mas Billy lalu mencium keningku. “Kamu harus cepat sembuh ya, Dek.”

    Aku dibuat terbengong-bengong dengan apa yang dilakukan oleh Mas Billy. Aku tau saat ini wajahku pasti memerah. Aku belum pernah melihat Mas Billy seperti ini. Lalu aku tersadar dan akhirnya hanya menganggukan kepala.

    Mas Billy akhirnya keluar kamar. Aku lupa di kamarku juga ada Topan. Kulihat tatapan Topan yang aneh. Belum pernah kulihat tatapan itu dari Topan. Di tatapan mata Topan ada rasa cemburu dan iri. Tapi dia bisa menyembunyikannya.

    Tiba-tiba Topan berkata, “Mas Billy sangat menyayangimu, ya.”

    Aku sama sekali tidak mengerti apa maksud Topan, sebelum aku berbicara pintu kamarku sudah di buka oleh Mbak Surti yang membawakan makanan dan air putih.

    “Mas Chandra, ini makanannya kata Mas Billy, Mas harus makan sekarang biar cepet sembuh.” Kata Mbak Surti menghampiri kami.

    “Sini Mbak biar aku saja yang nyuapin Chandra.” Kata Topan sambil mengambil nampan yang di bawa Mbak Surti.

    Eh!! Disuapin Topan? Hari ini Topan sangat aneh. Seaneh dengan Mas Billy.

    “Mas Topan mau minum apa?” Kata Mbak Surti malu-malu. OMG, Mbak Surti naksir sama Topan.

    “Nggak usah, Mbak. Nanti aku ambil sendiri.” Kata Topan.

    Akhirnya Mbak Surti keluar dari kamarku. Lalu Topan segera duduk di ranjangku.

    “Kamu harus makan, Chan. Ayo buka mulut kamu. Aaa…” Kata Topan sambil menyendokan makanan kearah mulutku.

    “Nggak usah, aku bisa makan sendiri.” Aku menolak dengan halus.

    “Nggak, izinkan aku menyuapi kamu. Aku nggak mau kamu sakit lagi.”

    Aku nggak bisa berkata apa-apa lagi. Akhirnya Topan menyuapi aku sampai semua makanannya habis.

    *****

    Setelah minum obat, aku siap-siap mau tidur. Kondisi badanku sudah membaik. Aku mau segera masuk sekolah besok. Aku kangen sama teman-teman. Pasti aku banyak ketinggalan pelajaran.

    Tok…Tok…Tok…

    Kudengar pintu kamarku diketuk. Mungkin Mas Billy.

    “Masuk aja, nggak di kunci kok!” Kataku.

    Pintu kamarku dibuka, ternyata benar yang mengetuk pintu pada jam segini adalah Mas Billy. Kulihat Mass Billy membawa bantal dan guling. Mau ngapain dia?

    “Aku tidur sini yah.” Kata Mas Billy menghampiri ranjangku lalu berbaring di sebelahku. Memang ranjangku cukup besar sehingga bisa di tempati oleh 3 orang.

    Aku hanya menganggukan kepala, tumben sekali Mas Billy mau menemaniku. Aku hanya bisa tertawa.

    “Kenapa?” Kata Mas Billy malu-malu. “Eh, kalo kamu butuh apa-apa tinggal bangunin Mas jadi kamu nggak perlu repot-repot ke kamar Mas.”

    Aku cukup yakin kalo Mas Billy khawatir sekali. Mas Billy sekarang telah berubah lebih perhatian padaku. Ah, seandainya dia bukan kakakku, aku pasti sudah jatuh cinta padanya.

    “Mas…?”

    “Hmmmm…”

    “Mas besok aku mau sekolah boleh ya?” tanyaku ke Mas Billy.

    “Kamu istirahat saja di rumah, kalo sudah sembuh baru sekolah.”

    “Tapi nanti aku pingin sekolah. Aku udah bosan, Mas. Nanti aku ketinggalan banyak pelajaran.” Rengekku sambil menatap Mas Billy penuh harap.
    “Kamu nggak usah menatap aku kayak gitu.” Kata Mas Billy.

    “Boleh yah?”

    “Iya, iya. Pokoknya nanti aku antar jemput kamu sampai kamu benar-benar sembuh total.” Akhirnya Mas Billy nyerah juga. Hehehe

    “Makasih ya, Mas.” Saking senang aku memeluk Mas Billy.

    “Apaan sich kamu, lepasin nggak!” Mas Billy berusaha melepaskan pelukanku.

    “Nggak mau, ah! Kalo aku ini cewek pasti aku sudah menjadikan Mas Billy pacarku.” Kataku masih tetap bertahan memeluk Mas Billy.

    Mas Billy tidak melawan lagi ketika aku memeluknya. Tanggan Mas Billy mengelus-ngelus rambutku lalu berkata, “Ayo cepat tidur, besok kamu mau sekolahkan?”

    Akhirnya aku tertidur sambil memeluk Mas Billy. Kakakku yang satu ini sungguh baik sekali. Aku sayang sama Mas Billy.

    *****
  • waow...nice story!keep it up bro ;)
  • topan apa billy ni?
  • pokemon wrote:
    topan apa billy ni?

    Topan shabatnya,, klo billy abangnye,, tp bisa jg incest tuh ntar2 hahaha
  • Unyu.. Chandra ala" cwo manja childish heboh..
    Billy yang nakal tp cukup perhatian n penuh kasih sayang..
    Topan, setia nih!! Kawan sejati bgt.. Pribadi yang diidamkan banyak ciptaan tuhan..
    Hahahaha
Sign In or Register to comment.