BoyzForum! BoyzForum! - forum gay Indonesia www.boyzforum.com

Howdy, Stranger!

It looks like you're new here. If you want to get involved, click one of these buttons!

Selamat datang di situs Boyzforum yang diarsipkan oleh Queer Indonesia Archive. Forum untuk komunitas gay Indonesia yang populer ini didirikan pada tahun 2003, dan ditutup pada tanggal 15 Desember 2020.

Forum ini diabadikan untuk kepentingan sejarah. Tidak akan ada konten baru di forum ini. Silakan menikmati forum ini sebagai potongan dari sejarah queer Indonesia.

Feeling

edited August 2011 in BoyzStories
PROLOG

Hiruk pikuk sekitar tak dapat mengalihkan pandangan seorang cowok berkacamata pada handphone di tangannya. Ia sama sekali tak peduli. Meskipun sejak tadi sobatnya sibuk mengoceh tak jelas mengenai hasil ulangan harian minggu ini, walau kini sobatnya itu memandangnya dengan tatapan kesal.
“Ka—“
“...”
“Raka!” Teriakan itu disambut jitakan pelan pada kepala sang pelaku. Membuatnya meringis lalu mengerucutkan bibirnya, menampilkan wajah—sok—terluka.
“Nggak perlu teriak begitu. Suaramu itu mirip toa tau,” ucap Raka. Matanya mengerling sebentar ke handphone-nya lalu mendesah kecewa. Melihat gelagat itu, cowok yang sejak tadi ada di sampingnya akhirnya memutuskan untuk bertanya, “Ada apa sih? Cerita sama gue aja. Nggak bakal gue beberin ke orang lain.”Dan dengan ditunjukannya jari yang membentuk huruf ‘V’, membuat Raka kembali menghela napas.
“Kamu kenal Dewa ‘kan, Sat?”
Satu anggukan menjadi jawaban pernyataan tersebut.
“Terus kenapa?” Satria balik bertanya. Jujur saja, ia sendiri tidak begitu suka terhadap seorang ‘Dewa’. Cowok dari kelas sebelah yang baru disebutkan oleh Raka memang terkenal berandalan dan menyebalkan. Yah... Meskipun bersifat demikian, Dewa sendiri memilik banyak fans—rela—mati yang menamakan diri mereka ‘Selir Dewa’. Tak mengherankan sih jika mengingat wajahnya yang—ternyata—memang keren itu.
Ingin rasanya Satria tertawa terbahak-bahak di hadapan Dewa jika mengingat nama fans club itu. Menurutnya nama club itu sungguh tidak keren dan menggelikan.
Memangnya sekarang jaman Yunani?! Teriak Satria dengan hebohnya setiap kali melihat Dewa dan ‘selir’nya. Tentu saja ia meneriakinya dari hati yang paling dalam. Bukan berarti Satria takut! No. Seorang Satria tidak pernah takut pada siapapun bahkan terhadap seorang Dewa sekalipun.
Flash back~ ON ~
“Kalau aku tanding sama dia. Bisa-bisa harga diriku jatuh. Aku kan ketua gank kota sebelah,” ucap Satria menjawab pertanyaan Raka mengenai alasan mengapa ia selalu mencibir Dewa dibelakang. Raka hanya balas melongo mendengar penuturan itu.
‘Ketua gank kota sebelah? HAH?!’ batinnya berteriak seakan tak percaya pada pendengarannya sendiri.
Satria yang melihat gelagat itu langsung mengamit leher Raka. “Aduh~ Elo kok pucet begitu. Gue cuma bercanda Raka...” ucapnya diakhiri cengiran seperti biasa. Air muka Raka yang barusan memucat kini mulai kembali seperti semula. Sobatnya satu ini memang sering membuatnya nyaris gagal jantung dengan setiap perkataannya.
TENG TENG TENG
Bunyi lonceng bel itu menyadarkan Satria dari lamunannya. Tak diketahuinya kalau sang sobat kini telah berdiri dan tak menjawab pertanyaan singkat yang dilontarkan Satria barusan.
GREP
“Lho? Ada ap—!” ucapan Satria terputus seketika saat dengan brutalnya Raka menarik lengannya untuk berdiri dan menyeret pemuda itu untuk berlari. Satria yang paham betul akan sifat Raka yang tidak mau terlambat masuk kelas untuk kedua kalinya hanya bisa tersenyum maklum.
“Raka~ Raka.”

Comments

  • Dilanjutin yak... dri aura2nya bkal jdi crta yg mnarik nih...
  • bagus kok sev, lanjutin ya?
  • Clayyyyyy pantesan aja lama update cerita lu...lu mampir2 sana sini sih. Cobalah belajar untuk setiaaaa aclayyyyyyy gw nunggu lanjutan cerita luuuu :(
  • Clayyyyyy pantesan aja lama update cerita lu...lu mampir2 sana sini sih. Cobalah belajar untuk setiaaaa aclayyyyyyy gw nunggu lanjutan cerita luuuu :(
  • chapter 2 nya mana yahh.. ayo dong lanjut..
  • arcclay wrote:
    kek bgus nih..
    LANJUT XD


    rhein_a wrote:
    Dilanjutin yak... dri aura2nya bkal jdi crta yg mnarik nih...
    coolmon wrote:
    bagus kok sev, lanjutin ya?
    arcclay wrote:
    lanjut dong :'(
    chapter 2 nya mana yahh.. ayo dong lanjut..

    buat all semua.. terima kasih uda mampir n ngasih koment di dini. huaa.. saya terharu

    :((
    lanjutannya di bawah ^^
  • -
    -
    -
    Bunyi bel barusan tentu terdengar keras ke seluruh bagian sekolah. Membuat beberapa siswa yang ketiduran langsung gelagapan. Mentitahkan pada para murid yang masih santai dengan semangkuk bakso atau sepiring mie goreng mereka untuk meninggalkannya dan berpaling hati ke kelas. Dan tentu saja, bunyi bel yang terdengar setiap tiga puluh menit sekali itu meyakinkan semua warga sekolah bahwa SMU yang menduduki peringkat satu se-kota ternyata sama saja dengan sekolah kuno jaman Belanda. Yah... Tak berlebihan pula jika ada segelintir siswa ataupun siswi yang mengendarai mobil sendiri ke sekolah. Mengingatkan kalau biaya untuk bisa menuntut ilmu di SMU itu tidaklah murah. Kesimpulannya, sekolah bertingkat tiga itu kebanyakan diisi oleh anak-anak dari kalangan berada.
    Well... kembali pada dua orang cowok yang kini tengah berlari tergesa di koridor. Siapa lagi kalau bukan Satria dan Raka.
    Dua orang yang sudah berkawan sejak TK itu memang selalu satu sekolah dan satu kelas. Meski demikian, keduanya hanya sesekali saja duduk satu meja. Karena jika tidak, kedua cowok itu jelas bisa membuat perhatian seluruh kelas tertuju pada mereka. Mengingat kalau Satria adalah seseorang yang pedenya berlebihan dan cukup terkenal di kawasan sekolah karena ia juga kapten tim basket. Berkebalikan dengannya, Raka justru tak termasuk dalam ‘Daftar Murid Populer’ SMU 27. Cowok berwajah manis dan memiliki tubuh yang lebih kecil dari kebanyakan cowok itu agak pendiam dan hanya dekat dengan beberapa orang. Ia juga merupakan orang tertenang yang bisa mengendalikan sifat beringas Satria jika cowok Libra itu sedang marah-marah tak jelas dan memaki orang disekitarnya.
    Intinya, mereka berdua adalah sosok yang—sama sekali—berbeda. Namun, kedekatan dan keakraban keduanya juga merupakan penanda bahwa berbeda belum tentu tak sama. Pertemanan yang unik sekaligus indah.
    Ya... Kira-kira begitulah hubungan mereka.
  • -
    -
    -
    [Kelas 11-2]
    Jika pintu punya mulut, sumpah serapah pasti langsung ditujukan untuk Satria. Cowok itu dengan brutalnya membuka pintu geser tersebut dengan tenaga raksasa. Menghasilkan bunyi ‘BRAK’ keras dan membuat orang-orang yang sudah ada di kelas takjub akan tindakan berani-mati nya. Tentu saja karena sang guru killer berwajah ala pak Raden juga sudah ada di sana. Terbengong dengan telunjuk mengarah ke arah tempat duduk murid-muridnya dan menambah kesan kaget dengan mulut ternganga. Sepertinya beliau baru saja akan menerangkan sesuatu sebelum detik berikutnya pintu kelas terbuka dengan kerasnya.
    Kedua mata sang guru matematika kini memandang tajam pada Satria—
    Lalu beralih pandang pada pemuda di belakang Satria.
    —pada Raka.
    “Permisi, Pak.” Raka maju dengan senyum innocent diwajahnya. Kalau keadaan sudah gawat begini, Satria tak lagi bisa diandalkan. Bisa-bisa ia malah adu argumen coretkemarahancoret dengan sang guru.
    “Hm...” gumam lelaki paruh baya dengan suara mirip lebah. Ia terdiam sembari menunggu alasan keterlambatan dua muridnya ini.
    Raka menarik napas panjang sebelum menghembuskannya dengan ketara. “Tadi saat akan kemari ternyata kacamata saya tertinggal di meja kantin, Pak. Satria yang dasarnya adalah sobat dekat saya memaksa ikut ke kantin, takut-takut kalau saya malah nyasar. Jadilah kita berdua memutar arah kembali kesana, untungnya kacamata saya masih ada dan dalam kondisi sehat walafiat,” tuturnya sembari bergantian menatap sang gurudan Satria di sampingrya.
    “Satria, apa betul penjelasan dari Raka barusan?”
    Satria cuma balas angkat bahu. Sepertinya ia tak menghiraukan pelototan Raka yang jelas sekali tertuju padanya.
    “AUCH,” pekik Satria pelan. Kepalanya menoleh ke samping hanya untuk mendapati kawannya itu tengah berpaling muka. Lalu memandangnya balik karena merasa diperhatikan sejak tadi. Matanya menyiratkan perkataan yang sangat ketara.
    ‘Bukan aku pelakunya!’
    Cowok berambut spike itu hanya balas mendesah pelan jika Raka sudah bersikap seperti anak kecil begini. “Iya Pak. Bapak juga tau ‘kan, cacat mata Raka itu sudah parah. Minus tiga! Bayangkan kalau saya yang ada diposisinya, Hah! Sudah jelas saya akan lebih memilih ikut homescholling daripada susah-susah belajar di sekolah.”
    Semua yang ada disana hanya bisa melontarkan pandangan—Elo curhat nih ceritanya?—pada Satria. Bahkan, sang guru malah memasang wajah prihatin yang ditujukan pada Raka. Malangnya nasibmu, anak muda! Batinnya serasa ikut terharu.
    Sementara itu, Raka yang juga ikut mendengar penuturan Satria kini perasaannya tak menentu. Antara senang dan kesal. Jelas ia senang melihat reaksi teman-teman dan juga gurunya itu setelah mendengar ucapan Satria yang berkesan lebay. Tapi, ia sebenarnya juga benar-benar—sangat—kesal ketika mendengar kata ‘parah’ dan ‘posisinya’. Hei! Keadaannya tak seburuk penuturan Satria. Ia memang kadang tak bisa membedakan tulisan satu dengan yang lain. Namun, jika hanya untuk melihat jalanan di depannya ia sih masih sanggup.
    ‘Sabar Raka... Kamu harus bisa sabar sama orang yang mengaku sebagai sobatmu ini.’Kalimat itu ia doktrin dalam hati. Yah... Ia sendiri yang sudah mengarang alasan ‘kacamata’ itu, jadi ia tak sepatutnya menyalahkan Satria akan ‘keterangan’ lanjutannya.
    “Baiklah. Kalian berdua cepat duduk! Saya akan meneruskan materi kita kali ini,” titah lelaki paruh baya itu dan kembali mengambil buku paket matematika yang tadi sempat ia telantarkan di mejanya.
    Tanpa bahasa verbal. Satria dan Raka hanya mengangguk kecil lalu berjalan kearah dua meja kosong berderet yang ada di pojok kiri kelas. Seringai kemenangan nampak di wajah bak porselen milik Satria dan Raka sendiri cuma menampilakan senyum innocent-nya.
    ‘Rencana sukses!’
    Dan sepertinya, percakapan kecil mengenai seorang cowok bernama Dewa yang tadi sempat jadi bahan pikiran keduanya.
    —Kini terlupakan.
    -
    -
    -
  • Waah . . Aku juga libra ! <~~ gak tanya hoy
  • arcclay wrote:
    lagiiiiiiiii...msh pnasaran ma tuh 3 cwo hehehe
    Dan Anda, Miss. Clay, telah membuat penggemar Rey penasaran setengah hidup.
Sign In or Register to comment.