<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<rss version="2.0"
    xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
    xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
    xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">
    <channel>
        <title>BoyzStories — BoyzForum!</title>
        <link>https://boyzforum.qiarchive.org/</link>
        <pubDate>Tue, 21 Apr 2026 01:26:55 +0000</pubDate>
        <language>en</language>
            <description>BoyzStories — BoyzForum!</description>
    <atom:link href="https://boyzforum.qiarchive.org/categories/boyzstories/feed.rss" rel="self" type="application/rss+xml"/>
    <item>
        <title>CERITA SECANGKIR KOPI by @caramel_machiatto (re-upload) - cerita berlanjut di page 36</title>
        <link>https://boyzforum.qiarchive.org/discussion/16731939/cerita-secangkir-kopi-by-caramel-machiatto-re-upload-cerita-berlanjut-di-page-36</link>
        <pubDate>Sun, 30 Oct 2011 01:38:40 +0000</pubDate>
        <category>BoyzStories</category>
        <dc:creator>the_rainbow</dc:creator>
        <guid isPermaLink="false">16731939@/discussions</guid>
        <description><![CDATA[suatu kehormatan untuk gue buat nge re-upload salah satu cerita terbaik yg pernah ada di boyzstories. thanks to <a href="https://boyzforum.qiarchive.org/profile/caramel_machiatto" rel="nofollow">@caramel_machiatto</a> sang penulis yg udah ngabisin sebagian waktu luangnya buat menghibur para Bfers, makasih juga buat <a href="https://boyzforum.qiarchive.org/profile/fansnyaAdele" rel="nofollow">@fansnyaAdele</a> yg ngasih softcopy cerita ini dan minta tolong di re-upload buat pada pengunjung boyzforum. 2388 halaman ms word berisi sebuah kisah hidup yg bikin emosi turun naik para pembacanya (termasuk gue yg dulu sering koar koar  minta lanjutannya cepet dibikin <img src="https://boyzforum.qiarchive.org/resources/emoji/lol.png" title=":D" alt=":D" height="20" />) gue upload disini tanpa ada pengurangan atau penambahan apapun,  so..... here we go ]]>
        </description>
    </item>
    <item>
        <title>Jika Cinta Itu Bukan Untuk Amir</title>
        <link>https://boyzforum.qiarchive.org/discussion/16732569/jika-cinta-itu-bukan-untuk-amir</link>
        <pubDate>Mon, 26 Dec 2011 09:16:32 +0000</pubDate>
        <category>BoyzStories</category>
        <dc:creator>aderahmat</dc:creator>
        <guid isPermaLink="false">16732569@/discussions</guid>
        <description><![CDATA[Tidak ada alasan untuk tidak percaya pada orang lain dan cinta yang dibawanya. Kata philosoph, cinta itu kadang datang terakhir setelah penderitaan hidup, jika cinta itu tidak pernah ada ?<br />
<br />
<br />
***** INTRODUCTION<br />
<br />
Ini cerita tentang seorang anak yang bernama Amirsyahreza Nuralam.<br />
Dibilang cerita fiktif ya begitulah adanya. Kalau kebetulan mengalirnya seperti cerita sungguhan maka penulis mohon maaf ya untuk kesamaan nama orang dan lokasi kejadian.<br />
Tak ada maksud apapun hanya sekedar bentuk partisipasi dari seorang adek setelah membaca cerita dari tiga orang Aa yang super hebat.<br />
This I promise you Aa.<br />
<br />
<br />
***** KEHIDUPAN ANAK KECIL ITU<br />
<br />
Seorang Amir menjalani takdirnya yang terlahir dari keluarga sederhana dan hidup di pinggiran kota Pagar Alam, Sumatera Selatan. Sebuah kota di ketinggian Bukit Barisan Sumatera. Amir anak tunggal bersama Ibu single fighter. Sang Ibu berjuang membesarkan anak setelah suaminya meninggal saat Amir berusia dua tahun. Kedua orang tua Amir memiliki kulit yang putih dan bersih tentunya diturunkan pada Amir. Ditingkat nasional mereka masih dikategorikan sebagai orang Palembang dengan postur tubuh yang bagus. Pagar Alam cukup jauh dari Palembang.<br />
<br />
Ibu itu bekerja sebagai buruh di pabrik pengolahan kulit manis dan hasil perkebunan lainnya. Kalau lagi tidak musim panen, sang Ibu bekerja sebagai tukang cuci pakaian di rumah penduduk yang kaya.<br />
<br />
Perasaan jadi tenang dan damai saat melihat rumah peninggalan dari Sang Bapak berupa rumah kayu ada kolong di bawah lantainya dan tentunya ada tangga juga untuk naik menuju pintu rumah. Ada dua kamar dan Amir sekamar dengan sang Ibu. Pada masa itu Amir kecil membutuhkan perlindungan dari sang Ibu, karena masih berusia 5 tahun. Satu kamar yang lain berisi peralatan makan sederhana dengan jumlah yang tidak terlalu banyak.<br />
<br />
Rumah-rumah di sebelah adalah rumah saudara Sang Ibu, tetapi Amir kecil tidak tahu harus memanggil mereka apa, karena mereka juga tidak pernah mengajak Amir bicara. Dari kumpulan keluarga besar ini hanya sang Ibu lah yang tidak beruntung dan mereka anggap tidak selevel dengan kehidupan mereka.<br />
<br />
Sepupu Amir cukup banyak, ada yang seusia dengannya. Usia 5 tahun adalah usia dimana anak-anak di daerah itu sudah mengenyam pendidikan di TK. Tetapi ceritanya lain dengan Amir, sang Ibu tidak ada uang untuk biaya pendidikan di TK. Meski demikian sang Ibu membimbing Amir untuk belajar membaca dan menulis. Dalam keadaan seperti ini penulis yakin sekali Tuhan maha kuasa yang tidak membiarkan seorang anak kecil yang lemah terus dipandang sebelah mata. Terimakasih Tuhan karena telah memberi kecerdasan pada Amir.<br />
<br />
Amir punya teman namanya Suryo kelas 1 SD, Topan TK, dan Pedro yang juga TK. Mereka adalah anak majikan dimana Ibu mencuci pakaian. Ibu selalu rutin mengajak Amir kalau Ibu lagi ada job cucian di hari Minggu. Amir adalah anak yang penurut, tidak banyak tingkah, dan punya belas kasihan melihat Ibu bekerja begitu keras. Mereka berangkat subuh-subuh saat teman-teman nya masih tidur.<br />
<br />
Saat Ibu Amir lagi mencuci di ruangan yang disatukan dengan dapur,  Amir mencoba untuk melihat-lihat sobekan surat kabar bekas yang jadi pembungkus cabe dan sayur di rumah itu (sangat ironis). Kita bandingkan sama anak-anak zaman sekarang buku dan majalah apa yang tidak ada di rumah mereka tetapi mereka lebih memilih main PS. Meski masih 5 tahun dan belom terlalu lancar membaca, Amir mencoba memahami gambar dan mengenali kata demi kata. Mama Pedro yang juga baik dan suka menjelaskan itu foto siapa yang ada di surat kabar, dan ada berita apa di Jakarta sana.<br />
<br />
Kakak laki-laki Pedro berusia 13 tahun, waktu itu sudah bangun dan sedangi memutar lagu NSynk yang jadi favorit Amir hingga saat ini karena sangking seringnya mendengar di rumah Pedro hingga hafal. Itu group band USA yang top di generasi Amir. Meski tidak mengerti bahasa Inggris dan waktu itu juga dengan pengucapan yang tidak tepat karena masih kecil dan belum belajar English. Sambil duduk bersenandung, Amir melihat kakak Pedro keluar kamar dan memberi pujian “Duh suara Amir bagus ya dan bisa menyanyikan bagian reff dari This I Promise You”. Kalau sudah begitu bisa diprediksi Amir berhenti bersenandung karena malu.<br />
<br />
Barulah jam 6 pagi teman Amir yang bernama Pedro itu bangun. Sambil menarik tangan Amir ke ruang tamu, Pedro melihatkan mainan robot Megaloman yang bisa dilepas dan dipasang lagi setiap bagian tubuhnya. Pedro sangat baik, tapi ini TIDAK ADA sedikitpun berhubungan dengan asmara dikemudian hari ketika mereka dewasa, karena Amir tidak akan menjadikan sahabat sebagai objek sex.<br />
<br />
<br />
Amir sedang duduk termenung, melambungkan asanya pada 16 TAHUN YANG SILAM :<br />
...................................................................................................................................................................<br />
Hari ini saya senang sekali bisa ikut Ibu dan juga bahagia ketemu sama teman-teman dan bermain. Kalau di rumah ditinggal sendirian terasa sepi ga ada teman. Sepupu itu tersa dilarang main sama sama saya mungkin karena saya miskin. Terus kalo di rumah yang ada hanya ndengar saudara Ibu dari rumah sebelah yang selalu bertengkar suami istri.<br />
<br />
Sering Pedro membawakan roti dengan selai kacang yang dimakan pagi hari. Saya hanya ngucapin terima kasih karena saya telah makan nasi dan lauk hangat yang dimasak Ibu setiap pagi. Tidak pernah saya makan roti selai kacang karena itu adalah makanan untuk orang kaya. Tapi biasanya Pedro maksa karena mau ditemanin makan.<br />
<br />
Setelah selesai nyuci di rumah orang tua Pedro, Ibu bergerak ke rumah yang lain yaitu rumah orang tua dari Suryo dan Topan. Karena tidak begitu jauh dari rumah Pedro, biasanya dia ikut dengan saya karena bisa bermain bersama. Semisal Suryo dan Topan lagi ada acara dengan Papanya, maka saya dan Pedro hanya lanjutin aktivitas kita di rumahnya.<br />
<br />
Tapi hari Minggu ini terasa lain,  anak sungai di depan rumah Suryo dan Topan lagi penuh dengan air karena beberapa hari hujan. Setelah dapat izin dari Ibu, saya dan ketiga teman langsung menuju kebon pisang bukan untuk berbuat mesum euy ... hihihi kan masih kecil, tapi mengambil beberapa batang pisang yang kecil dan dipadu dengan tali jadilah perahu-perahuan. Anak-anak zaman 1990 an kan masih sedikit tradisionil dibandingin anak-anak 2000. Tapi sedikit lebih moderen juga dari anak-anak zaman Aa Panji, Aa Argi, dan Aa Rainbow hihihi.<br />
<br />
Anak sungai yang tidak dalam itu mengalir cukup deras sekitar 125 m turun ke area sawah. Kami mah tidak takut tenggelam tapi saya agak takut juga sama ular sawah. Karena kami berempat agak berisik moga ular sawah itu lari terbirit-birit hihihi dan tidak mengganggu kami. Ingat betul, karena tenaga anak kecil yg ga begitu kuat dalam mengikat batang anak pisang itu, maka perahu-perahuan itu suka lepas dan kami kecebur ke dalam air.<br />
<br />
Sambil ketawa lepas, kami berusaha berenang mengejar batang-batang pisang yang lari lebih kencang karena terseret arus. Kenudian masing-masing anak membawa satu batang pisang untuk ulangi start lagi di depan rumah itu, Kali ini Papa Suryo dan Topan membantu mengikatkan batang pisang itu dengan tali. Berharap lebih padu ya, dan ga lepas diperjalanan.<br />
<br />
Setelah Ibu selesai dengan job cuciannya, saya dan ketiga teman minta dimandiin dengan sabun kesehatan.<br />
<br />
Badan saya dan ketiga teman bentol-bentol karena alergi oleh protein dan calsium phosphate dari batang pisang juga dari air sungai yang super kotor, hihihihi. Kata orang anak dari golongan ekonomi lemah lebih kuat dan tangguh dengan lingkungan, hmmm kalo kasus alergi dan infeksi ya saya nyerah juga .....<br />
<br />
Mama Suryo dan Topan menaburi badan kami dengan bedak yang bauuu banget yaitu bedak anti gatal-gatal mereknya Herocyn hari gini udah ga diproduksi kali ya ?<br />
<br />
Diperjalanan nuju rumah Pedro, kami asik menggaruk-garuk punggung yang masih gatal. Di rumah Pedro, mamanya dan Ibu hanya senyum dan menilai ini peristiwa yang biasa dilalui oleh anak-anak. Ibu dan saya kembali berjalan pulang dibawah rintik hujan.<br />
<br />
Jam 3 siang kami sampai di rumah. Ibu mengambil Uduk untuk siap-siap sholat Ashar. Setelah sholat, Ibu memanasi nasi dan lauk, Saya yang telah berbaring di tempat tidur langsung tertidur. Perasaan baru mulai mimpi main perahu-perahuan Ibu sudah membangunkan. Tapi mata agak susah untuk dibuka.<br />
<br />
“Amir, bangun nak” seru Ibu sambil menguncang-guncangkan badan saya.<br />
<br />
“Wah keringatnya kok banyak sih nak ? dan badanmu panas” kata ibu yang mengelap keringat didahi saya.<br />
<br />
Saat itulah saya berusaha membuka mata dan bangun dengan badan yang lemas.<br />
<br />
“Besok-besok jangan berenang dan main perahu-perahuan lagi ya nak” kata ibu yang menasehati dengan lembut.<br />
<br />
Lalu Ibu mengambilkan sepiring nasi dan lauk yang hangat dan dibawakan beliau ke kamar dimana saya tersandar lemas.<br />
<br />
Mungkin karena rekasi alergi aja, terus juga gerimis-gerimis nuju rumah. Ibu berusaha nyuapin nasi dan saya menolak denga halus karena saya akan berusaha sendiri. Lalu Ibu kembali ke dapur untuk membersihkan setelah selesai masak. Lalu Ibu juga bersistirahat.<br />
<br />
Saya tumbuh menjadi anak yang menyaksikan banyak sandiwara hidup manusia. Kalau Ibu lagi bekerja di pabrik pengolahan kulit manis saya juga diajak. Ada ratusan karyawan disana dengan berbagai tingkah-laku nya. Saya nilai mereka cukup senang melihat saya yang sabar duduk menunggu Ibu yang lagi bekerja. Ada beberapa diantara mereka mengajak duduk dengan mereka yang lagi mengobrolin masalah politik yang terimbas reformasi besar-besaran waktu itu, bagaimana situasi Palembang dan Jakarta.<br />
<br />
Jika Ibu telah selesai bekerja, kami pulang jalan kaki. Begitu panjang dan banyak langkah yang telah saya lakukan untuk anak sekecil saya, tapi saya tidak pernah mengeluh selama ada Ibu mendampingi langkah saya tersebut. Saya bahagia sekali sambil senyum tertidur melepas penat seharian tadi mengikuti aktivitas Ibu.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Cerita berikutnya ditujukan pada sebuah kota besar Eropha, yaitu Berlin merupakan Ibu Kota negara Jerman. Sebagai perbandingan dari kehidupan Amir yang dulu dengan sekarang.<br />
......................................................................................................................................<br />
<br />
WEIHNACHTSMARKT  BERLIN<br />
<br />
Setelah menulis pesan penuh semangat dan do’a untuk seorang Pacar di Facebook saya bergegas ke luar appartment menuju stopan Strassenbhan di kawasan Hermanplatz Berlin untuk bekerja partime di tenda Indonesia pada pasar malam jelang natal dan tahun baru Berlin, Jerman.<br />
<br />
Pasar jenis ini sangat populer di seluruh Eropha, terutama di kota besar seperti Berlin. Mereka butuh pernak pernik untuk natal dan tahun baru serta makanan dan minuman saat mereka bernostagia ketemuan sama teman-teman lama.<br />
<br />
Tahun ini mahasiswa dan warga Indonesia patungan buka tenda juga disni untuk sekedar exis dan kalo dapat untung berupa pundi-pundi mata uang Euro. Seraya saya dengar suara Aldi anak Tanggerang yang juga lagi kuliah di Berlin masuk dikerumunan orang-orang yang lagi makan dan minum hidangan Indonesia.<br />
<br />
“Halo Amir, sibuk ya ?” sapa Aldi dan saya balas dengan senyuman. Lalu Aldi mendekat ke meja pesanan dimana saya berdiri. Sambil memesan bandrek dan goreng ubi dia melanjutkan pembicaraanya. Bandrek dan goreng ubi adalah menu favorit di tenda Indonesia dan itu jadi menu sangat dan super istimewa di tengah rintik salju kota Berlin.<br />
<br />
“Amir, ada tawaran manggung nih di Caffe Sonnenberge ! saya pengenya loe bisa bareng sama Tareq anak Maroco yang kamu cuekin. Saya biar sama Agus saja bisa gantiin Tareq di Seventh Club Alexander Platz” kata Aldi<br />
<br />
“Oh benar ‘ldi ? hmm bilang aja loe pengen dampingi Agus. Gw sih seneng aja karena pengunjungnya lebih cakep-cakep dibandngin club, bukan karena Tareq” kata saya dengan artian bercanda. Aldi hanya senyum. Itu benar sekali penonton yang rame dan cakep-cakep bisa menaikkan adrenalin kita yang lagi perform.<br />
<br />
Main gitar dan nyanyi sejak tiga bulan terakhir ini menjadi sumber rezeki bagi saya yang mengharapkan uang Euro dari manggung untuk studi saya di Berlin. Tapi setahun yang lalu saya kerja di resto jadi tukang cuci piring ya Alhamdulillah ya Allah meski kerja diresto juga kuliah bisa jalan dan pernah sekali ngajak Ibunda saya libur ke Berlin, ngasih tambahan sedikit modal untuk usaha Ibu yang sudah pindah ke Jakarta.<br />
<br />
“Ya bener lah Amir, nih loe bisa latihan songs yang di request orang-orag Caffe tentunya” kata Aldi<br />
<br />
“Dengan seneng hati ‘ldi, makasih ya dan karena loe lebih familiar dengan songs ini maka kita ketemu di appartment loe ya malam ini habis jam kerja ini” balas saya pada Aldi. Asiknya Aldi menyanggupi permintaan saya.<br />
<br />
Aldi pun selesai dengan makanannya dan pamit sama saya. Saya tetap sibuk dengan para pembeli yang datang ke tenda kami. Makin malam makin rame dan kami tutup jam 23.00.<br />
<br />
<br />
]]>
        </description>
    </item>
    <item>
        <title>Rembang Petang</title>
        <link>https://boyzforum.qiarchive.org/discussion/16751914/rembang-petang</link>
        <pubDate>Wed, 24 Jun 2020 11:54:19 +0000</pubDate>
        <category>BoyzStories</category>
        <dc:creator>Obipopobo</dc:creator>
        <guid isPermaLink="false">16751914@/discussions</guid>
        <description><![CDATA[Salam teman-teman BF-ku!<br />
<br />
Buat menambah koleksi cerita di forum BF tercinta ini, aku akan menyumbang satu buah karya kecilku lagi. Judulnya adalah Rembang <br />
<br />
Petang—atau dalam Bahasa Inggris, itu disebut dengan Twilight.<br />
<br />
Wah, kok kayak judul novel roman termasyur karya Stephenie Meyer, apa ini cerita tentang vampir? Bukan temanku, bukan. Sama sekali <br />
<br />
bukan. Kalian akan tepuk jidat jika membaca karya kecilku ini lantaran sangat bertolak belakang dengan apa yang kalian bayangkan.<br />
<br />
<br />
<br />
Tapi anu..., sebelum teman-teman mulai membaca karya kecilku ini, aku ingin mengenakan tarif buat teman-teman semua sebagai simbol apresiasi buatku penulis amatiran ini. Berapa tarifnya? Murah kok, liat rincian di bawah:<br />
<br />
1. Baca cerita ku, boleh bayar dengan 1 ‘Like’ atau 1 ‘LOL’<br />
2. Atau dalam beberapa kasus tertentu, abang bisa membayarnya dengan 1 ‘Kesal’ (sedih...)<br />
3. Kasih Obi 1 komentar (kalau perlu).<br />
<br />
Itu aja deh, selamat membaca ya teman-temanku semua. Tetep sehat dan tetep jaga harak selama pandemi yaah (❀*´ `*).<br />
<br />
<br />
<br />
.Prolog.<br />
<br />
Aku rasa ini sudah pagi ketika aku bangun dan sadar bahwa ini masih di dalam ruang inap salah satu rumah sakit di kotaku. Seperti de javu, ketika aku melewatkan satu lagi malam berhargaku di sini dengannya satu dekade lalu. Menggelikan sekali. Sebagai mahasiswa semester 7 yang sedang mengejar acc Bab II untuk skripsiku, aku malah lalai dengan kondisiku. Aku lupa batasan pada diriku dan pingsan di tempatku sedang duduk terakhir kali: di ruang kerja pribadi ayahku, terkulai tak berdaya di sana, aku rasa.<br />
<br />
Itu terjadi kemarin sore, sepulang dari bimbingan untuk Bab II-ku yang sebelumnya mendapatkan coretan merah di sana-sini. Uh, itu adalah revisi keduaku yang diberikan oleh dosen pembimbingku yang ironisnya, beliau adalah seorang dokter yang juga bekerja di rumah sakit ini. Lima puluh lembar cetakan lebih yang sia-sia setengahnya. <br />
<br />
Mendapatkan dosen pembimbing yang juga mempunyai gelar profesor sepertinya sudah tertulis jauh-jauh masa di dalam luhmahful milikku. Sedikit celah atau kelemahan ada pada landasan teori yang aku ajukan, mampu menjadi ancaman fatal bagi kesuksesan acc Bab II-ku.<br />
<br />
Namun, lupakan saja itu. Aku kelelahan dan pingsan, itulah yang terjadi hingga akhirnya aku bisa berakhir di tempat ini. Dan ingatan tentang kenangan satu dasawarsa yang dulu pernah terjadi, itu yang akan menjadi inti dari jalan cerita ini.<br />
<br />
Kupandangi setiap sisi dinding ruangan ini yang mampu terlihat olehku. Seperti sedang bernostalgia. Di dalam satu ruangan berukuran 5x10 meter ini, masih tersusun rapi dua ranjang inap dengan masing-masing tirai yang menjadi sekat antara ranjang satu dengan ranjang sebelahnya—membuatnya mendapat predikat gagal total jika tujuannya adalah untuk memberikan privasi antar pasien, karena di ruangan kecil ini, aku masih bisa mendengar suara jikalau ada orang yang dirawat di samping ranjang inapku.<br />
<br />
Hanya ada satu jendela yang terletak di ujung ruangan ini, mungkin itu tidak akan pernah terbuka lagi—mengingat ruangan ini sekarang berpendingin udara, dan aku senang karenanya. Ah, kesenangan yang ironis, aku rasa.<br />
<br />
Selain tambahan pendingin udara tadi, ruangan ini tidak banyak mengalami perubahan, begitu menurutku. Jikalau ada perubahan, itu hanyalah tirai penutup antar ranjang yang sekarang bermotif daun-daun suplir berwarna hijau muda dengan warna dasar kain yang putih bersih, dan ukuran televisinya yang lebih besar dengan model terbaru—jika dua tahun lalu masih bisa dibilang keluaran terbaru.<br />
<br />
Aroma ruangan ini pun masih sama—bau sterilizer Detol yang membakar hidungku, pengar sekali—aroma-aroma kesehatan itu. Warna catnya pun masih serupa saat terakhir kali aku terpaksa dirawat-inap di sini—toska. Ajaib sekali, tidak ada noda kusamnya sama sekali. Kecuali bekas garisan samar pastel berwarna biru donker di atas nakas dua laci yang berada di samping tempatku berbaring. Tidak adakah yang berusaha membersihkannya selama kurun waktu sepuluh tahun ini? Coretan pastel itu seakan-akan membelah tombol bel pemanggil yang terhubung di ruangan perawat yang letaknya di ujung koridor ruangan ini. Adanya coretan itu jugalah yang memberiku kesimpulan bahwa ruangan ini belum pernah di cat ulang sama sekali.<br />
<br />
Tidak disangka, aku terbaring lemas di tempat yang sama, pun ranjang yang sama pula…<br />
<br />
Kuambil dan kubuka satu lembar halaman novelku yang tergeletak di atas nakas kecil. Entah Dad atau Mom yang membawakannya untukku, aku tidak tahu.<br />
Aku tersenyum masam melihat novel ini, sudah genap satu dekade berlalu semenjak hari itu, aku rasa. Minatku untuk membaca langsung surut. Kusibak tirai bermotif daun suplir dari tempatku setengah berbaring agar aku bisa melihat ke seluruh bagian ruangan. Kudapati ranjang sebelah tampak lenggang, rupanya belum ada pasiennya sama sekali di ruangan ini kecuali diriku.<br />
<br />
Kutatap ranjang itu—mengabaikan novel roman yang sudah setengah jalan aku baca sebelumnya di rumah. Biarlah, aku sudah hafal sisa jalan ceritanya, sebenarnya. Selama kurun waktu sepuluh tahun ini, aku sudah membacanya sebanyak 7 kali—membuat sampul depan novel ini menjadi lebih kumal karenanya. Ini yang kedelapan. Aku baca ulang, kali ini karena aku memang membutuhkan diversi di sela-sela skripsiku. Tentunya kalian yang sudah menginjak semester akhir di tingkat kuliah tahu sendiri, bukan? Mengajukan proposal dan menulis bab-bab skripsi akan menjadi tantangan tersendiri jika kita tahu ada ancaman revisi ke depannya. Kita membutuhkan sebuah diversi. Untukku, membaca novel menjadi pilihanku.<br />
<br />
Sekali lagi kutatap ranjang yang ada di sampingku. Ranjang itu tampak rapi. Tampak bersih dengan sprei barunya. Seberkas sinar matahari yang menembus kaca jendela tampak menyinari bagian atas ranjang kasur tersebut. Terima kasih kepada pendingin udara karena telah menyaring debu yang ada di dalam ruangan ini—menjadikan cahaya itu terlihat murni tanpa sedikitpun noktah padanya. Aku rasa itu sebabnya tanaman Lidah Mertua yang bertugas menyaring udara di dalam ruangan yang dulu berada di pojokan, kini tergantikan dengan tanaman suplir.<br />
<br />
Senyum masamku memudar, mendayu seiring kepalaku yang memutar ulang sepotong episode yang terjadi sepuluh tahun lalu di sini, di ruangan ini.<br />
<br />
“Wah, wah! Itukah engkau? Lihat! Lihat siapa yang kembali terbaring di sini jika bukan engkau, Shann? Ya Tuhan, sudah besar rupanya engkau, Nak?” seru seorang suster berseragam putih yang samar-samar aku ingat siapa namanya, dan tentu saja ia mengagetkanku. Ia memasuki ruang inap dengan membawa troli berisi bermangkuk-mangkuk menu sarapan. Terdapat paper board yang diapit di sela-sela ketiaknya. Bibirnya menyunggingkan senyum sumringah ketika melihatku terbaring di atas ranjang. Setelah meletakkan paper board di sisi troli, ia berkacak pinggang dan bergeleng-geleng kepala, senyumnya makin melebar.<br />
<br />
Kukembangkan senyumku kembali. Bukan senyum masam tentunya. Lihatlah, tidak banyak perubahan selama kurun waktu satu dekade ini kepada dirinya. Hanya terdapat beberapa tambahan kerutan di kening tanda penuaan di sana sini. Dan ijinkan aku untuk tidak membahas hal itu di depannya. Tidak akan pernah lagi, begitu paling tidak. Aku rasa sekarang ia sudah berumur tiga puluh lima.<br />
<br />
“Oh hebat! Engkau masih hidup rupanya, Suster Florentina. Dari puluhan perawat yang berada di sini, kenapa harus engkau jualah yang datang? Di mana Suster Jennifer?” protesku sembari meletakkan novel roman di atas dadaku yang sempat aku abaikan.<br />
“Dasar engkau! Sifat burukmu masih saja tidak berubah. Mulutmu masih tidak punya tata krama rupanya,” katanya sembari menoyor kepalaku. Mengingat aku pasien yang sedang sakit, itu bukanlah hal yang patut dilakukan oleh seorang perawat. Aku mengabaikannya—ia hanya kangen kepadaku, itu saja. “Twilight lagi? Oh ayolah, roman? Engkau bercanda, Shann?” cercanya sambil memegang sampul novel yang terbaring di atas dadaku. Baginya, itu adalah hal yang mengejutkan.<br />
“Ah diamlah, Suster Florentina! Saat ini aku sedang tidak ingin mendengar komentarmu,” kataku sambil mengerucutkan bibirku.<br />
“Baiklah, baiklah. Ada apalagi sekarang? Mengapa engkau sampai tumbang lagi? Apakah penyakit lamamu muncul kembali, Shann?” tanya Suster Florentina sambil menaikkan sebelah alisnya.<br />
“Oh bukan, bukan!” tukasku. “Hanya hal sepele, Suster. Aku hanya terlalu lelah saja dengan kuliahku. Skripsi, kau tahu?” kataku mencoba bersombong ria di depannya.<br />
Suster Florentina memutar bola matanya, “Bisa kuliah juga ternyata, anak ini,” cibirnya.<br />
“Hmmph,” dengusku. “Aku ‘kan tidak bodoh-bodoh amat!” kesalku kepadanya.<br />
“Suntikan vitamin, Shann? Atau hanya cukup dengan beberapa tablet saja?” tawar Suster Florentina seraya membaca selembar kertas hasil diagnosa pada paper board-nya. Tentu saja ia menyeringai.<br />
“Ergh,” erangku. Keduanya adalah musuhku. Aku tidak bisa menerima keduanya: suntikan dan tablet. Aku takut jarum. Aku juga kesulitan menelan obat dalam bentuk tablet. Dan Suster Florentina tahu itu. “Tablet, tolong,” kataku memberitahukan pilihan finalku kepadanya. “Dalam bentuk serbuk, tentunya,” cengirku.<br />
“Aku sudah tahu itu, Shann,” Suster Florentina mencebik. “Engkau sama sekali tidak berubah, Shann,” tambahnya seraya manggut-manggut. Ia memandangiku lamat-lamat. Lalu beralih ke ranjang sebelah yang tampak lenggang. Sorot kedua matanya menjadi sendu seketika. “Apa engkau sering menengoknya, Shann…, anak itu?”<br />
Kudenguskan nafasku sekali sebelum menjawab pertanyaan darinya. “Selalu…” kataku dengan senyum yang kembali masam. “Selama sepuluh tahun ini…, setiap akhir bulannya…”<br />
“Itu bagus sekali, Shann…” dayunya, masih menatap ranjang kosong yang berada di samping ranjangku. “Ia anak yang baik, Shann…, kau tahu itu, bukan?” tanyanya.<br />
“Yang terbaik,” kataku.<br />
Kualihkan pandanganku ke arah ranjang yang sama. Sayup-sayup, suaranya terdengar kembali di kedua telingaku. Aku akan menceritakannya kepada kalian. Meski…, itu adalah sepuluh tahun yang lalu…<br />
<br />
.<br />
<br />
.<br />
<br />
.<br />
<br />
.<br />
<br />
.<br />
[Bersambung.]]]>
        </description>
    </item>
    <item>
        <title>Permen Gulali Joya</title>
        <link>https://boyzforum.qiarchive.org/discussion/16750265/permen-gulali-joya</link>
        <pubDate>Tue, 08 Mar 2016 11:18:03 +0000</pubDate>
        <category>BoyzStories</category>
        <dc:creator>Obipopobo</dc:creator>
        <guid isPermaLink="false">16750265@/discussions</guid>
        <description><![CDATA[Salam abang!<br />
<br />
Bang, ini Obi punya cerita lagi. Obi sengaja buat cerita mini seri ini sebagai salah satu projek sampingan SKO nya Obi. Berbeda dengan SKO yang sudut pandangnya adalah <i>Pelaku utama tokoh utama</i>, di Project miniseri <b>Permen Gulali Joya</b> ini menggunakan sudut pandang <i>Orang ketiga tunggal</i>. Hmm, suatu tantangan baru buat Obi yang selama ini bercerita tentang ‘Obi’, ‘Obi’ dan ‘Obi’.<br />
<br />
Yap, sebelum memulai mengikuti chapter miniseri ‘<b>Permen Gulali Joya</b>’, Obi ingin mengenakan tarif buat abang-abang semua (hahah..). Berapa tarifnya? Murah kok, liat rincian di bawah:<br />
<br />
1. Baca cerita Obi, bayar dengan 1 ‘Like’ atau 1 ‘LOL’<br />
2. Atau dalam beberapa kasus tertentu, abang bisa membayarnya dengan 1 ‘Kesal’<br />
3. Kasih Obi 1 komentar (wajib).<br />
<br />
Yap! Wajib berkomentar, Obi ingin mendengar suara dan tanggapan abang sama temen-temen semua (❀*´ `*). Itu aja deh, selamat mengikuti (❀*´ `*).<br />
<br />
❂❁❀✿❂❁❀✿❂❁❀✿❂❁❀✿❂❁❀✿❂❁❀✿❂❂❁❀✿❂❁❀✿❂❁❀✿❂❁❀✿❂❁❀✿❂❁❀❂❁❀✿❂❁❀✿❂❂❁❀✿❂❁<br />
<br />
<b>Chapter 1. Permen Gulali</b><br />
<br />
<br />
<i>Bangun pagi, menyiapkan kotak harta karun, mandi...<br />
Sarapan kalo ada sisa makanan semalam, berdoa, berangkat...<br />
Jangan lapar, jangan menyerah, berjuanglah...</i><br />
<br />
<br />
Deru mesin mobil. Suara langkah kaki. Hingar-bingar pusat perbelanjaan. Semuanya terdengar saling bersahut-sahutan. Bau makanan cepat saji tercium sedap. Memancing siapa saja yang menciumnya untuk sekedar mampir mencicipi. Siang itu emperan kompleks pertokoan sedang ramai. Wajar. Berkah perayaan tahun baru cina yang akan tiba 5 hari lagi.<br />
<br />
<br />
“Heh! Bangun! Pergi! Pergi!” usir salah seorang penjaga toko kelontong yang terdapat di emperan kompleks toko Malioboro dengan kakinya.<br />
<br />
<br />
Seorang anak kecil terbangun dari istirahatnya siang itu. Mengambil kotak harta karunnya. Beranjak pergi dengan langkah gontai. Dalam diam. Dalam kebisuan. Tanpa protes. Ia menyandarkan punggungnya ke sebuah tiang penyangga atap mall yang megah. Melempar pandangan sana-sini dengan mata sayunya. Sesekali mengelus kotak harta karunnya. Apa isinya? Siapa tau? Kepingan emas? Sebongkah berlian? Bukan! Bukan itu. Itu adalah dagangannya yang baru laku 5 tusuk siang itu.<br />
<br />
Anak itu menatap emperan toko kelontong tempat ia tadi merebahkan badan kecilnya. Tega sekali cina sialan itu mengusir anak yang baru berusia dua belas tahun ini. Layaknya menghalau seekor anjing. Ringan sekali kakinya menyepaknya. Sialan.<br />
<br />
Anak itu mempererat jinjingan kotak harta karunnya. Menyusuri emperan pertokoan kompleks Malioboro.<br />
<br />
<br />
“Permen gulali..., siapa mau beli?”<br />
<br />
<br />
Suara anak itu menjajakan isi kotak harta karun itu.<br />
<br />
<br />
“Permen..., permen gulali..., siapa mau beli?”<br />
<br />
<br />
Anak itu masih menjajakan isi kotak harta karunnya. Suara lembut tersebut terdengar seperti menyayat hati.<br />
<br />
Apalah arti laku 5 tusuk buat anak itu? Oh! Itu sekali makan dan minum. Jembatan hidup untuk melewati malam gelapnya nanti.<br />
<br />
<br />
“Permen gulali..., siapa mau beli?”<br />
<br />
<br />
Suara itu masih menawarkan isi kotak harta karun tersebut. Tapi tak seorang pun membeli. Bahkan melihat pun tidak.<br />
<br />
Ahh! Siapa sih yang mau beli dagangan anak itu? Laku satu itu sudah syukur. Lima, itu semata-mata hanyalah ungkapan rasa kasihan mereka-mereka yang masih mempunyai hati. Manisnya permen gulali, masih kalah pamor dengan produk-produk yang ditayangkan di televisi-televisi. Permen gulali yang dulunya terkenal, kini namanya perlahan mulai dilupakan. Jaman memang sudah berubah! Sial.<br />
<br />
Kembali dengan langkah gontainya. Anak itu berjalan menyisiri kompleks pertokoan. Sesekali melihat ke dalam restauran yang dilewatinya. Menelan ludah. Melihat sebuah keluarga kecil menikmati hidangan hangat nan lezat. Iri? Jelas. Butuh berapa tusuk permen gulali yang terjual  untuk masuk dan menikmati hidangan restauran ala barat itu? Tidak tahu.<br />
<br />
Andai anak malang itu masih bersama dengan kedua orang tuanya. Ahh, kemana mereka?<br />
<br />
Masih terekam jelas diingatannya. Ia masih mendengarnya. Suara bising peluit satpol PP yang kala itu melakukan razia. Suara derap kaki tunggang langgang. Membuat semua pedagang kaki lima yang ada di kompleks pertokoan berlarian kesana kemari. Salah satu pedagang berlari ke arah selatan karena ia dikejar oleh beberapa preman pemerintah itu. Panik. Sambil menggandeng seorang anak kecil berusia belasan tahun, ibu itu terus berlari. Menyeberang jalan. Mencoba membuat selisih jarak dengan preman berseragam itu. Namun naas, ia tertabrak sebuah mobil yang tiba-tiba datang dari arah kanan. Anak kecil itu terlempar karena dorongan ibunya. Si ibu tadi? Ia terpental. Kepalanya retak membentur aspal keras. Darah bercucuran. Mengalir membasahi dagangannya. Enam bulan lalu, ibunya tersayang meninggal karena sebuah kecelakaan ketika tengah menjajakan permen gulali.<br />
<br />
<br />
<i>“Jangan lapar, jangan menyerah, berjuanglah...”</i><br />
<br />
<br />
Itulah kata-kata perpisahan Si ibu untuk anak sulungnya. Joya.<br />
<br />
Bagaimana dengan ayahnya? Ohh, pria itu meninggalkan kedua anaknya sebulan setelah istrinya meninggal. Entah ada dimana pria itu sekarang. Mencari istri muda? Entahlah. Yang jelas, ia meninggalkan Joya dan adiknya begitu saja. Ringan bukan? Pria bangsat!<br />
<br />
Apa yang terjadi setelah itu? Joya, anak berusia dua belasan tahun itu terpaksa berhenti sekolah. Begitu juga dengan adik semata wayangnya, yang berusia empat tahun dibawahnya. Tidak ada uang untuk menambal tunggakan SPP. Memaksa kedua anak malang itu berhenti mengeyam dunia pendidikan. Mencerdaskan anak bangsa, huh? Omong kosong! Kemana mereka? Antek-antek pemerintah itu.<br />
<br />
Tuhan. Lihatlah sekarang. Anak sulung ini berakhir dengan berjualan permen gulali untuk meyambung hidup. Masih lima tusuk lagi! Ya! Agar adik semata wayangnya dapat makan nanti malam. Anak itu tau dia akan sangat lapar. Tidak ada nasi pagi tadi. Malang. Sungguh malang.<br />
<br />
<br />
“Permen gulali..., ayo beli...”<br />
<br />
<br />
Joya beranjak meninggalkan restauran yang menyajikan hidangan lezat tadi. Kembali menjajakan permen gulali yang masih tersisa banyak di dalam kotak harta karunnya. Paling tidak, hari ini harus laku lima lagi. Sebelum sore menjelang. Agar adik kesayangannya dapat merasakan nikmatnya nasi kucing dari angkringan seberang rumahnya. Satu seribu. Tiga ribu lima ratus, dua nasi, satu es teh. Dua anak, tujuh ribu. Biaya untuk melewati malam-malam mereka setiap hari. Bosan? Mau tidak mau.<br />
<br />
<br />
<i>“Lima lagi...”</i><br />
<br />
<br />
Hanya itu yang bisa Joya katakan dalam hati.<br />
<br />
Langit kota berwarna jingga. Burung layang-layang berterbangan berputar-putar. Sesekali bermanuver cepat sekali. Lampu-lampu kendaraan sudah mulai menyala. Begitu juga dengan lampu-lampu kompleks pertokoan itu. Beberapa darinya berkelap-kelip bak kunang-kunang. Indah sekali kelihatannya. Sore menjelang.<br />
<br />
Namun sial. Hari itu, hanya lima tusuk permen gulali yang bisa Joya jual. Ia terpaksa pulang. Menyudahi pekerjaannya yang sudah empat bulan ia jalani. Sebuah pekerjaan yang ia teruskan dari mendiang ibunya. Menjual permen gulali. Hanya itu pekerjaan yang bisa ia lakukan agar Joya dan adik semata wayangnya bisa menyambung hidup. Dunia memang keras.<br />
<br />
<br />
<i>“Jangan lapar..., jangan menyerah..., berjuanglah...”</i><br />
<br />
<br />
Hanya itulah kata-kata yang diucapkan Joya dalam perjalanan pulang. Pesan mendiang ibunya. Kata-kata itu menemani langkah kaki Joya. Mengantarnya sampai ke sebuah rumah kecil bercat putih yang terletak di daerah pemukiman bantaran sungai. Lampu bohlam samar-samar menerangi halaman depan rumah tanpa teras itu. Joya mengetuk pintu rumah tersebut.<br />
<br />
<br />
“Adek..., abang pulang...”<br />
<br />
<br />
<br />
[Bersambung]<br />
<br />
❂❁❀✿❂❁❀✿❂❁❀✿❂❁❀✿❂❁❀✿❂❁❀✿❂❂❁❀✿❂❁❀✿❂❁❀✿❂❁❀✿❂❁❀✿❂❁❀❂❁❀✿❂❁❀✿❂❂❁❀✿❂❁<br />
<br />
p.s “Jangan lupa tarif sama komentarnya yah bang (❀ *´ `*)”<br />
<br />
<br />
]]>
        </description>
    </item>
    <item>
        <title>ada yang tau kelanjutan serial andre and Calvin.......</title>
        <link>https://boyzforum.qiarchive.org/discussion/16740500/ada-yang-tau-kelanjutan-serial-andre-and-calvin</link>
        <pubDate>Sat, 20 Apr 2013 07:01:00 +0000</pubDate>
        <category>BoyzStories</category>
        <dc:creator>ANDRELAZARUS</dc:creator>
        <guid isPermaLink="false">16740500@/discussions</guid>
        <description><![CDATA[Tolong di share]]>
        </description>
    </item>
    <item>
        <title>tanya cerita</title>
        <link>https://boyzforum.qiarchive.org/discussion/16751912/tanya-cerita</link>
        <pubDate>Tue, 28 Apr 2020 03:19:09 +0000</pubDate>
        <category>BoyzStories</category>
        <dc:creator>04ujang</dc:creator>
        <guid isPermaLink="false">16751912@/discussions</guid>
        <description><![CDATA[ada yang pernah baca cerita tentang seorang anak orang kaya yang diblackmail sama satpam rumahnya sendiri gara-gara ketauan gay? terus dia dipaksa melayani napsu bejad si satpam, anaknya masih sekolah, lupa judulnya.. nyari di gugel ngak ketemu]]>
        </description>
    </item>
    <item>
        <title>i'm Raka, and this is my story (P336 Kelahiran Viko Jr, P337 Nama anak Viko )</title>
        <link>https://boyzforum.qiarchive.org/discussion/16742028/im-raka-and-this-is-my-story-p336-kelahiran-viko-jr-p337-nama-anak-viko</link>
        <pubDate>Sun, 18 Aug 2013 08:22:35 +0000</pubDate>
        <category>BoyzStories</category>
        <dc:creator>CinTaPuCCiNo</dc:creator>
        <guid isPermaLink="false">16742028@/discussions</guid>
        <description><![CDATA[Hi semuanya, salam kenal <img src="https://boyzforum.qiarchive.org/resources/emoji/smiley.png" title="=)" alt="=)" height="20" /><br />
Gw udah pernah sebelumnya bikin blogie gini, tapi sudah hilang entah kemana. Kali ini gw mau sedikit curhat tentang pengalaman gw (yang masih dikit) ini..<br />
Gw bagi beberapa fase cerita gw *jjiaah*, untuk yang pertama ini fase waktu masih SMA di sebuah kota besar di luar pulau Jawa.<br />
<br />
Cerita singkat tentang gw<br />
Gw lahir dan besar di sebuah kota besar di luar pulau jawa, anak ke 2 dari 3 bersaudara (co-co-ce).<br />
Seingat gw, kehidupan kecil gw baik-baik saja, gw anak baik <img src="https://boyzforum.qiarchive.org/resources/emoji/smile.png" title=":)" alt=":)" height="20" /> , berprestasi di kelas, aktif di kegiatan olahraga di skul dulu. Gw pernah punya pengalaman *maaf* main t1t1t ama 3 orang saudara waktu gw masih kecil (pada masa berbeda-beda), sekitar usia 5, 7, dan 9 tahun, dan mereka semua lebih tua 1-4 tahun dari gw waktu itu.<br />
<br />
Waktu SMA, gw sekelas sama salah satu cowo paling ganteng dan playboy di SMA gw itu, dia keturunan india-cina. Ganteng sih, tapi sayang, belagu dan sok. Namanya Rafi. Awalnya gw malas ama dia karena belagunya itu. Entah kenapa, gw malah dipasangin duduk ama dia di kelas (jaman segitu duduk diatur sama wali kelas). Gw awalnya biasa aja ama dia, begitu juga dia ke gw. Lama kelamaan kita mulai dekat. Karena dia playboy bgt, gw tantangin dia buat pacarin teman gw (cewe) yang terkenal cantik di sekolah kita itu. Nah, buat deketin tu cewek, dia sering minta bantuan gw (karena gw tu dekat ama cewe itu), akhirnya kita sering jalan bareng bertiga, main ke timezone, nonton dll (waktu SMA kelas 1 itu gw belum jadian lagi). Karena sering bersama, dan memang sekelas, si rafi jadi sering banget telepon gw, tiap malam mesti telpon gw (jaman gw kelas 1 SMA, belum pake hp, hehehe). Singkat cerita, mereka jadian, gw awalnya senang banget mereka jadian. Tapi, kayaknya gw juga udah mulai suka ama rafi (waktu itu masih belum sadar), karena waktu rafi untuk telponan ama gw berkurang. Puncaknya adalah ketika gw lagi jalan ama teman-teman lain ke pantai (tempat rekreasi di daerah gw), gw ngajakin si rafi, tapi dia tolak karena katanya ada acara keluarga. Ya udah, akhirnya gw berangkat ama teman-teman. Eh, pas sampai di sana, gw liat si rafi lagi berenang berduaan dengan teman cewe gw itu *jreng jreng*<br />
Gw ga tau knapa, gw langsung jadi malas sepanjang siang itu, si rafi akhirnya nyamperin gw ama cewenya (la wong keliatan juga di pantai), dan anehnya gak ngerasa bersalah karena bohongin gw. Ya udah, gw juga cuek aja, hari itu gw bt banget.<br />
Besoknya gw gak masuk sekolah karena sakit (memang benar sakit), and guess what? rafi telpon gw, dia minta maaf udah bohong sama gw, alasannya dia ga mau kecewain gw karena dia hanya ingin berdua ke pantai itu (alasan dia sih cewenya yang mau berdua aja), awalnya gw dingin banget ama dia, trus begini percakapannnya<br />
Rafi : Ka, lu jangan marah ama gw dong, lu juga kalo pergi dengan teman gank lu juga gak ngajak-ngajak gw, dan gw gak marah<br />
Gw : iya, gpp<br />
Rafi : gw mau, gw jadi yang no 1 buat lu, lu juga jadi yang no 1 buat gw<br />
Gw : maksud lu no 1 paan?<br />
Rafi : ya pokoknya gw akan dahuluin lu, dan lu juga akan dahuluin gw dibanding semua orang<br />
<br />
Pada masa itu sih, gw hanya berpikir maksud rafi no 1 itu sebagai sahabat, gak lebih (but who knows?).<br />
Sejak saat itu, hubungan gw ama rafi lebih dekat lagi. Dia suka gambar, dan dia sampe bikin singkatan nama gw dan dia RR (Rafi-Raka) dalam bentuk stiker *masih kebayang stikernya, hehehe*<br />
Dia sering kasih gw hadiah (cd lagu, karena dia tau gw suka dengar musik), dan juga ngajak ke mall main (kecuali malam minggu karena itu jadwal dia dengan pacar dia).<br />
<br />
Dia sempat beberapa kali main ke rumah gw, biasanya langsung gw ajak ke kamar, kita rebahan di kasur bersebelahan, kemudian suka ngobrol (biasanya dia cerita soal keluarga dia atau cewe dia), dan yang paling gw suka, dia biasanya suka ngelus-ngelus rambut gw (ada gak yah cowo straight yg spt itu?).<br />
*Rafi sambil cerita belai rambut gw*<br />
Rafi : wooii, jangan tidur lu mentang-mentang gw belai-belai<br />
Gw : hahaaha, lagian lu juga<br />
Rafi : lu kok suka ya di belai kepalanya?<br />
Gw : iya, sama cewe gw juga dulu gw suka dibelai kok<br />
Rafi : dasar lu, harusnya lu yang belai rambut cewe lu<br />
<br />
(Kayaknya cerita gw kepanjangan yah? Sorry kalo gak menarik)<br />
<br />
]]>
        </description>
    </item>
    <item>
        <title>Cowok Aneh Itu Pacarku</title>
        <link>https://boyzforum.qiarchive.org/discussion/16749957/cowok-aneh-itu-pacarku</link>
        <pubDate>Fri, 01 Jan 2016 14:03:01 +0000</pubDate>
        <category>BoyzStories</category>
        <dc:creator>akina_kenji</dc:creator>
        <guid isPermaLink="false">16749957@/discussions</guid>
        <description><![CDATA[Hai..Guys.! mau coba nulis di sini juga nih...tapi harap maklum ya jika ceritanya berasa flat, karena masih baru nih dalam menulis cerita fiktif...sebelumnya pernah nyoba nulis sih di blog, tapi tentang kisahku sendiri. yah boleh di diary lah, tapi udah di tinggal blog-nya. dan karena sering baca cerita gay, aku jadi ke pengen nulis cerita juga....|sebenarnya cerita ini belum mau aku post karena sempat pesimis, dan karena ingat sekarang tanggal 1 awal tahun, jadi aku coba post aja sebagai pengingat bagiku kalau pertama kali ceritaku terbit di sini...ternyata bikin cerita fiktif itu susah juga daripada kisah kisah sendiri *jadi mikir keras*....|semoga banyak yang baca dan suka sama ceritaku yang sangat biasa-biasa ini. mohon bimbingannya dan komentar yang positif ya.<br />
<br />
******<br />
<br />
Part. 1<br />
<br />
<br />
‘I hate Monday’<br />
<br />
Itu adalah kata-kata keramat yang sering di ucapkan oleh banyak orang jika hari Senin datang, termasuk diriku. Ya, sekarang adalah hari Senin, hari di mana semua aktifitas di mulai lagi setelah menghabiskan waktu libur di hari Minggu. Aku segera memasukkan buku-buku yang aku butuhkan ke dalam tas ranselku, setelah semuanya selesai aku bergegas menuruni anak tangga menuju ruang makan untuk mengisi perutku dengan sarapan, jika tidak mamaku yang cantik itu akan mengomeliku kalau tidak menyentuh sarapanku. Sampai di meja makan aku sudah melihat kakakku, Hendra. Aku segera mendekatinya dan bermanja-manja duduk di sebelahnya, itulah kebiasaanku dari kecil kala kakakku sedang makan. Aku membuka mulutku dan bersiap menerima suapan darinya, satu sendok nasi goreng berhasil ku lahap dari suapannya, aku mengunyah dengan nikmat tanpa sedikitpun merasa bersalah.<br />
<br />
“Andri, jangan ganggu kakakmu makan!” Seru Mama yang datang dari arah dapur sambil geleng-geleng kepala melihat aku yang selalu minta di suapi oleh kakakku.<br />
<br />
“Ish, Mama nggak asik” dengusku lalu membalikan piring yang ada di depanku dan mengisinya dengan nasi goreng. Kak Hendra hanya tersenyum melihatku dan mengacak rambutku pelan. “Kak Inka dan Papa mana Ma?” Tanyaku setelah Mama duduk di depan kami ikut menyantap makanannya.<br />
<br />
“Kak Inka sudah berangkat bareng Papa, mereka ada meeting pagi ini.” Aku hanya ber ‘ooo’ panjang setelah mendengar jawaban dari Mama dan segera menghabiskan sarapanku.<br />
<br />
Seperti biasa sebelum berangkat, aku mencium tangan dan pipi Mama dengan lembut. Wanita yang sudah bertahun-tahun mengurus kami anak-anaknya ini membalas dengan mencium keningku. Mama tersenyum padaku dan melambaikan tangannya. Akupun melingkarkan kedua tanganku di pinggang kakakku yang mulai mengemudikan motornya dengan hati-hati.<br />
<br />
“Daah Mama.” Wanita mulia itu masih ku lihat tersenyum saat aku melambaikan tanganku.<br />
Saat melewati pintu gerbang Kak Hendra mulai mengendarai motornya dengan kecepatan ‘sedang’ katanya. Tapi aku tak pernah protes dengan kecepatannya membawa motor, karena aku merasa nyaman saat berada dalam boncengannya walaupun dengan kecepatan yang membuatku semakin mengeratkan pelukanku.<br />
<br />
*<br />
<br />
Ku serahkan helm yang ku pakai ke tangan Kak Hendra.<br />
<br />
“Belajar yang rajin, jangan nakal.” Katanya seraya menyisir rambutku yang sedikit berantakan dengan jemari tangannya.<br />
<br />
“Siap Boss.!” Aku memberikan hormat padanya layaknya seorang prajurit yang hormat kepada komandannya. Dia terkekeh lalu mengacak rambutku yang sudah di rapikannya tadi. “Aish Kak Hendra, berantakan lagi kan!” omelku, dia hanya tertawa pelan mendengar omelanku.<br />
<br />
“Segitu aja manyun, jelek tau pagi-pagi udah manyun.” Katanya yang masih tertawa. Aku hanya mendengus pelan sambil menggembungkan pipiku. “Kakak pergi dulu,” katanya yang kemudian menghidupkan lagi motornya.<br />
“Hati-hati!” aku  mengingatkan dia, lalu berjalan menuju gerbang sekolah yang sudah mulai ramai di masuki oleh siswa-siswi berseragam putih abu-abu.<br />
<br />
Baru saja aku memasuki kelas, aku sudah di kagetkan oleh Andre yang tiba-tiba merangkulku. Sahabatku yang satu ini memang seperti pocong muncul secara tiba-tiba. Kami berjalan berbarengan menuju tempat duduk kami, aku duduk di bangku urutan ketiga dekat dinding, dan Andre duduk di bangku urutan keempat tepat di belakangku. Sebenarnya aku duduk bareng Andre sebelumnya, tapi semenjak Tora muncul aku jadi terpisahkan dari Andre, huhuhu.<br />
<br />
Tora adalah murid baru di kelasku, dia baru satu bulan sekolah di sini, dan karena saat itu Andre lagi nggak masuk akhirnya dia duduk di bangku sebelahku yang lagi kosong. Dia sangat aneh, saat aku memperkenalkan diri padanya dia hanya menatapku lama dan terus menatapku hingga pelajaran berakhir. Dia selalu memperhatikanku hingga membuatku risih. Saat aku tanya kenapa dia selalu melihatku dia hanya diam dan mengalihkan pandangannya ke depan. Dia juga tidak mau bicara padaku, juga pada teman-teman yang lain. Hari ini sepertinya dia belum datang karena aku tidak melihat tasnya, ah biarkan saja, lagian apa peduli ku coba dan akan sangat bagus jika dia tidak masuk.<br />
<br />
“Sepertinya tetangga lu nggak masuk hari ini,” kata Andre ketika kami sudah mendudukkan pantat kami di kursi masing-masing.<br />
<br />
“Bagus deh kalo dia nggak masuk,” kataku sedikit memiringkan dudukku menghadap meja Andre.<br />
<br />
“Keliatannya dia suka lu deh,” ujarnya yang tiba-tiba membuatku kaget.<br />
<br />
“Hah, dia suka gue? Ada-ada aja lu mikirnya, demi apa coba dia bisa suka sama gue,” kataku mengernyitkan keningku.<br />
<br />
“Lu tentu tahu kan dia sering liatin lu mulu, dan gue sering mergokin dia yang selalu melihat lu. Saat di parkiran juga, gue liat dia merhatiin lu terus, bahkan kemaren saat Bang Hendra jemput lu, dia natap tajam ke arah kalian kayak orang marah gitu.” Jelasnya panjang lebar.<br />
<br />
“Serius lu? Masa segitunya dia liatin gue. Ah, bodo ah, terserah dia mau suka sama gue atau nggak, peduli apa gue. Dia orangnya aneh, diajak ngomong nggak nyahut, saat gue marah ketika dia liatin gue, dia diam juga dan malah ngeloyor pergi entah kemana. Amit-amit dah jika dia jadi pacar gue, ck.” Aku bergidik ngeri membayangkan dirinya.<br />
<br />
“Dan lu tentu ingat juga setiap gue dan yang lain ngerangkul lu, dia pasti akan memisahkan kita kan?” Andre mengingatkanku tentang kejadian yang pernah ku alami.<br />
<br />
Ku ingat-ingat lagi beberapa kejadian yang aku alami karena dia. Saat Andre memeluk pinggangku, Tora akan menarik tanganku dan mendorong Andre agar menjauh dariku. Saat Sari, anak kelas sebelah menggandeng tanganku, dia juga memisahkan kami, berjalan di antara kami dengan alasan kami menghalangi jalan. Bahkan saat Kak Ridho ketua OSIS kami merangkul dan memegang pipiku dengan gemas, dia langsung melayangkan bogemnya ke Kak Ridho. Aku sempat marah saat dia menarik tanganku menjauhi Kak Ridho, aku menghentakkan tanganku yang di pegangnya dan menanyakan dia punya masalah apa denganku dan teman-temanku, tapi dia malah bilang “Aku tidak menyukainya.” Lalu berlalu pergi meninggalkanku dengan kebingunganku.<br />
<br />
Teman-temanku, bahkan beberapa kakak kelas, termasuk Kak Ridho yang sudah ku anggap seperti kakakku sendiri sering memperlakukanku seperti itu, mereka memelukku, merangkul, mencubit pipiku gemas, bahkan menggandengku kayak orang pacaran. Mereka bilang aku cute dan menggemaskan. Aku juga tidak pernah marah saat mereka memperlakukanku begitu, selama mereka senang dan tidak menganiaya aku, yah, aku woles aja hehehe. Tapi semenjak Tora ada di sekolah ini, dia sering bersikap seolah-olah aku ini miliknya yang tidak boleh di sentuh oleh siapapun. Dan sialnya, aku tidak pernah bisa murka ataupun membencinya walaupun dia sudah bertindak keterlaluan seperti itu.<br />
<br />
“Dan lu hanya diam melihat dia memperlakukan gue seperti itu! Ck.” Aku berdecak kesal ke arahnya.<br />
<br />
“Ya gue maklumi aja, dia seperti itu karena cemburu.”<br />
<br />
“Kenapa dia harus cemburu, gue bukan pacarnya.” Aku masih memasang wajah kesal.<br />
<br />
“Tapi sebenarnya lu suka juga kan sama dia?” Goda Andre gaje sambil menaik-naikkan kedua alis matanya tanpa mempedulikan wajah kesalku, aku jadi sedikit salah tingkah mendengar pertanyaannya.<br />
<br />
“What! Gue suka dia? Gue aja nggak kenal sama dia, gimana dia, masa gue suka sama dia.” Kataku sewot dan langsung membalikan badanku menghadap ke depan agar Andre tidak melihat wajahku yang saat ini pasti sudah memerah.<br />
<br />
Sebenarnya aku sempat suka dengan Tora saat pertama kali dia berdiri di depan kelas memperkenalkan diri, tapi saat dia hanya diam dan tak mau berbicara denganku yang mencoba untuk akrab dengannya, aku memutuskan untuk tidak menyukainya lagi.<br />
<br />
“Woles Bro! Kalau lu nggak suka dia, nggak usah sewot gitu. Atau lu beneran suka dia ya?” Andre tambah menggodaku lagi. Ngomongnya malah jadi  ngelantur.<br />
<br />
“ANDREE!!” Aku memukul-mukulkan bukuku ke bahunya, dia malah tertawa keras. Saat aku asyik memukul Andre tiba-tiba Tora datang berjalan mendekat, sontak aku menghentikan pukulanku. Andre yang mengetahui aku telah berhenti memukulnya langsung paham dan segera berbisik ke arahku.<br />
<br />
“Pujaan hati lu datang tuh,” godanya lagi di belakangku.<br />
<br />
“Kampret lu.!” Umpatku sambil memukul lagi bahunya dengan bukuku, sementara dia hanya cengengesan.<br />
<br />
“Gue ke toilet bentar,” pamitnya, akupun mengangguk pelan.<br />
<br />
Sialan nih anak aku di tinggal sendirian ck. Tora menatapku tajam, aku segera mengalihkan pandanganku darinya. ‘kenapa dia harus masuk sekolah sih, kenapa nggak libur aja’ kataku dalam hati. Dapat ku lihat dari sudut mataku dia sudah duduk di sebelahku. Tak lama bel masukpun berbunyi dan pelajaran segera di mulai saat Bu Dewi guru Fisika kami sudah masuk ke dalam kelas. Sesekali aku melihat ke arah pintu, tapi sosok Andre belum juga kelihatan, ‘kemana nih anak’  pikirku.<br />
<br />
“Kamu liatin siapa?” Suara Tora tiba-tiba membuatku kaget.<br />
<br />
“Hah,,eh,,oh, Andre dia belum masuk,” jawabku sedikit terbata. ‘mimpi apa aku semalam, tumben nih anak ngomong’ batinku, sambil tetap melihat ke arah pintu.<br />
<br />
“Segitu pentingkah dia, hingga kamu memperhatikannya?” Tanyanya lagi dengan dingin.<br />
<br />
“Hah! Emang kenapa jika aku memperhatikan dia.” Balasku sambil menatapnya heran dengan pertanyaannya barusan.<br />
<br />
“Mulai sekarang jangan terlalu memperhatikannya lagi.” ujarnya dingin tanpa melihat ke arahku sedikitpun.<br />
<br />
“Maksud kamu apa? Kenapa ka...”<br />
<br />
Tok! Tok! Tok!<br />
<br />
Suara ketukan pintu menghentikan ucapanku, ternyata Andre sudah berdiri di depan pintu.<br />
<br />
“Maaf Bu saya terlambat, tadi saya ke toilet sebentar,” ucap Andre dengan sopan ke Bu Dewi.<br />
<br />
“Oh, silahkan masuk,” kata Bu Dewi yang kembali fokus pada papan tulis di hadapannya. Untung guru Fisika kami ini sangat baik. Setelah mengucapkan terima kasih, Andrepun berjalan ke arah bangkunya yang ada di belakangku.<br />
<br />
“Ngapain aja lu di toilet? Lama amat,” kataku sambil berbisik ke arah Andre.<br />
<br />
“Habis dari toilet gue ke kantin bentar, lapar gue,” jawabnya yang juga berbisik ke arahku.<br />
<br />
“Bisakah kalian diam?” Ucapan dan tatapan Tora menghentikanku yang ingin bicara lagi kepada Andre. Aku menatapnya sebentar lalu fokus menatap papan tulis dan menyalin catatan yang diberikan Bu Dewi.<br />
<br />
Oh ya sedikit informasi, Tora ini mirip dengan Robert Pattinson *itu kata teman-temanku* tapi aku juga setuju sih dengan mereka walaupun aku tidak mengidolakan Robert Pattinson, eh. Di tambah kulitnya yang juga putih pucat, aku jadi membayangkan Edward Cullen si vampir yang di perankan oleh Robert Pattinson tersebut. Nah seperti itulah Tora. Bagi kalian yang mengidolakan Robert Pattinson yang pucat itu pasti akan melting jika berhadapan dengan Tora, seperti saat pertama kali dia memperkenalkan diri di depan kelas, para siswi langsung berbisik-bisik membicarakan dia dan bilang kalau dia mirip dengan si vampir itu. Ada juga loh siswa dan siswi yang mengatakan kalau dia itu aneh kerena tidak mau bicara dengan orang lain, dan aku sebagai teman sebangkunya setuju dengan pendapat ini. Namun banyak juga yang suka dia, entah apa yang mereka sukai dari si Robert Pattinson KW itu, aku tidak tahu. Oke, oke, dia cakep, tapi....ah mungkin dia punya sesuatu yang menarik, makanya tuh cewek-cewek pada suka sama dia. Oh iya, aku juga pernah suka sama dia saat pertama dia masuk, ckckck. -_-<br />
<br />
*<br />
<br />
Sepulang sekolah aku, Andre, Doni, Resti, dan Reno memutuskan main dulu ke mall, itung-itung cuci mata. Kami naik menuju ke arena permainan yang terletak di lantai atas, main sepuasnya ngilangin stress. Langsung saja kami bermain Pump It Up karena terlihat kosong. Saat kami asik bermain secara bergantian, banyak pengunjung yang mengelilingi kami, mereka bersorak, bertepuk tangan saat melihat aksi Andre dan Doni yang begitu mahir dalam permainan tersebut. Setelah puas kami beralih ke permainan balap. Di sini Reno paling jagonya, sementara aku dan Resti hanya menjadi penyemangat mereka bertiga. Sesekali aku tertawa melihat tingkah Doni yang sering mengumpat karena selalu tertabrak.<br />
<br />
Puas dengan beberapa permainan kami memutuskan untuk mencari makan. Andre merangkulku dengan cuek, walaupun aku sudah sering protes tapi dia tetap melakukannya.<br />
<br />
“Sayang kamu laper nggak? Aku udah laper nih,” tanya Andre saat kami sudah berada di luar arena permainan.<br />
<br />
“Restiii..!” aku menjitak kepala Andre dan memanggil  Resti yang berada di sebelah Reno. Tanda mengerti Resti langsung menarik tangan Andre agar mendekat ke arahnya.<br />
<br />
“Yaahh, Yang, kok aku di tarik-tarik sih?” Andre mencoba protes saat Resti memegang erat lengannya.<br />
<br />
“Lu resek kalo lagi laper.” Sontak kami bertiga tertawa mendengar kata-kata Resti yang menirukan sebuah iklan di tv.<br />
<br />
Kami memilih restoran Jepang Sushi Bar, karena Resti lagi ke pengen makan Sushi katanya. Setiap kami hangout yang memutuskan di mana kami akan makan selalu Resti, karena dia perempuan satu-satunya jadi kami selalu membiarkan dia yang memilih tempat untuk makan. Saat kami tengah asyik bercanda, aku merasa ada seseorang yang memperhatikanku begitu intens, ketika aku menoleh padanya, dia langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Saat aku berhasil menangkap basah dia yang selalu memperhatikanku, dia tersenyum. Senyum yang tak bisa aku artikan seperti apa. Aku tidak membalas senyumnya, segera beralih ke teman-temanku dan pesananku yang baru saja di letakkan oleh seorang waiter di hadapanku. Kami makan sambil bercengkrama saling membahas tentang gebetan masing-masing. Reno yang lagi galau karena sampai saat ini masih belum berani mendekati Tiara, cewek yang kelasnya sebelahan dengan kelas kami. Kami memberikan semangat kepadanya agar berani mengungkapkan perasaannya kepada gadis tersebut, yang kami yakini dia juga memiliki perasaan yang sama terhadap Reno. Kenapa kami sangat yakin? Karena kami sering melihat Tiara memperhatikan Reno main basket.<br />
<br />
Dan Doni, dia lagi bahagia karena baru jadian dengan salah seorang teman lesnya, dia sangat antusias menceritakan kepada kami kalau pacarnya itu sangat perhatian padanya dan tahu apapun tentang Doni. Ah manusia kalo lagi berbunga-bunga akan selalu bersemangat menceritakan gebetannya. Sementara Andre dan Resti, mereka asyik saling suap-suapan sambil mendengarkan cerita Doni. Lalu aku? Tidak ada cerita dariku karena aku lagi jomblo, sama dengan Reno, bedanya saat ini Reno punya gebetan yang ingin dia dekati, sedangkan aku tidak ada. Yah, pasca putus dari mantanku lima bulan yang lalu, hingga saat ini aku malas mencari pacar lagi. Mereka sering menjodohkan aku dengan beberapa cowok kenalan mereka yang sama sepertiku, tapi aku selalu menolak.<br />
<br />
Saat kami berjalan hendak keluar, tiba-tiba Doni berhenti di depan meja cowok yang dari tadi memperhatikanku, ternyata dulu mereka satu SMP. Tadi Doni memang tidak melihat cowok itu, karena dia duduk membelakangi cowok tersebut. Setalah Doni memperkenalkan kami kepada temannya itu dan berbasa-basi sebentar, kamipun pamit dan berlalu dari mejanya.<br />
<br />
**<br />
<br />
Aku sedang asyik membaca komik kesukaanku detektif conan, tiba-tiba pintu kamarku terbuka dan saat melihat ke arah sosok yang berdiri di depan pintu seketika membuatku kaget, bagaimana dia bisa tahu rumahku dan membuka pintu kamarku tanpa mengetuk pintu. Kekagetanku belum hilang saat dia tersenyum dengan manisnya kepadaku, wajah pucat yang tak pernah tersenyum  itu sekarang memperlihatkan senyumnya yang...ah senyumannya sangat menawan. Dia tidak seperti vampir lagi sekarang. Andai saja dia selalu tersenyum seperti itu, aku tak akan pernah bosan melihatnya. Tapi tunggu dulu, apa tujuannya datang ke sini? Ada apa dengan senyumannya itu?.<br />
<br />
“T..Tora, dari mana kamu tahu rumahku? Dan ada apa kamu datang kesini?” dengan sedikit  gugup, kaget dan entah apalah namanya, aku bertanya kepada sosok yang masih berdiri di sana.<br />
<br />
“Boleh aku masuk?” dia bertanya tanpa menjawab pertanyaanku terlebih dahulu. Aku mengangguk perlahan tanda mengizinkannya masuk. Dia berjalan mendekat ke arah tempat tidurku.<br />
<br />
“Sekarang beritahu aku kenapa kamu bisa datang ke rumahku?”<br />
<br />
“Aku ingin bicara denganmu.”<br />
<br />
“Bicara tentang apa?”<br />
<br />
“Perasaanku.”<br />
<br />
“Perasaan?” aku heran dengan sikapnya yang tiba-tiba datang ke rumahku dan ingin bicara tentang perasaannya padaku. Perasaan apa itu.<br />
<br />
“Aku...aku suka kamu, maukah kamu jadi pacarku?” aku terpana mendengar pernyataannya yang baru saja ku dengar. Dia menggenggam tanganku dan menatap mataku dengan lembut. “Kamu mau kan?” lanjutnya yang meminta jawaban atas pernyataannya barusan.<br />
<br />
“Iya, aku mau.” Tanpa ragu aku memberikan jawaban yang pasti padanya. Sekali lagi aku melihat senyum itu, senyum yang membuatku terpana. Saat ini aku sudah berada dalam pelukannya. Nyaman. Itu yang ku rasakan. Aku membalas pelukannya dan membenamkan kepalaku di dadanya. Setelah dia melepaskan pelukannya, aku merasakan benda lembut mendarat di keningku. Ku pejamkan mataku merasakan kecupan yang di berikannya padaku. Saat aku membuka mata, aku sudah terbaring di kasurku dengan dia yang berada di atas tubuhku dan menatapku dengan tatapan yang lembut. Perlahan dia menundukan wajahnya dan memberikan sebuah kecupan lagi pada kening, hidung dan terakhir di bibirku. Manis. Itu yang kurasakan saat bibir kami bersatu. Aku membalas dan mencoba mengimbangi ciumannya yang sudah mulai dalam dan...<br />
<br />
Tok! Tok! Tok!<br />
<br />
Klekk..<br />
<br />
“Andri, mana.....”<br />
<br />
Aku kaget mendengar suara pintu di buka dan melihat Kak Hendra yang berdiri di ambang pintu kamarku. Dia mengernyitkan keningnya melihat aku yang spontan langsung duduk melihat kehadirannya.<br />
<br />
“Kak Hendra!?”<br />
<br />
“Ngapain kamu meluk dan cium-cium guling seperti itu?” dia masih berdiri di tempatnya dengan kening yang masih berkerut. Aku menoleh ke sekitarku, namun aku tidak menemukan sosok itu. Sosok yang baru saja menyatakan cintanya padaku dan menciumku penuh cinta. Kemana dia, kenapa dia tiba-tiba hilang? Apa tadi itu cuma mimpi? Tapi kenapa terasa begitu nyata. Aku mengarahkan pandanganku ke Kak Hendra yang masih berada di ambang pintu, namun mendadak dia tersenyum dan berjalan mendekatiku, membuatku jadi salah tingkah.<br />
<br />
“Kamu lagi mimpi jorok ya?” tanyanya yang sudah duduk di tempat tidurku dengan senyum menggoda.<br />
<br />
“Apaan sih Kak, aku nggak mimpi aneh kok.” Aku mengalihkan pandanganku dari tatapan matanya, rasanya wajahku sudah memerah sekarang.<br />
<br />
“Bohong, pasti lagi mimpi jorok, ayo ngaku aja.” Dia masih saja menggodaku.<br />
<br />
“Ishh Kak Hendra usil, aku nggak mimpi jorok Kak!” aku memasang wajah kesal padanya, tapi dia malah tertawa, ughh.<br />
<br />
“Kalo nggak mimpi jorok ngapain kamu peluk-peluk dan cium-cium guling seperti itu.” Kali ini dia semakin menggodaku, pake colek-colek daguku lagi, ish.<br />
<br />
“Udah ah, mau apa Kakak ke kamarku?”<br />
<br />
“O iya, mana topi Kakak yang kamu pake kemaren?”<br />
<br />
“Tuh di atas meja.” Aku menunjuk meja belajarku dan langsung mengusirnya keluar dari kamarku.<br />
<br />
Ku baringkan lagi tubuhku dan mengingat lagi mimpiku barusan, rasanya seperti nyata. Ah, kenapa aku bisa memimpikan dia, dan ciumannya terasa begitu lembut dan penuh cinta. Aku menyentuh bibirku, kembali membayangkan kejadian di dalam mimpiku. Membayangkan dia yang tersenyum  padaku bersama tatapannya yang sayu, seandainya dia selalu tersenyum mungkin aku akan selalu merasa nyaman duduk di sampingnya dan menghilangkan sebutan ‘aneh’ yang ku berikan padanya.<br />
<br />
]]>
        </description>
    </item>
    <item>
        <title>Bukan Sekedar Cinta</title>
        <link>https://boyzforum.qiarchive.org/discussion/16743762/bukan-sekedar-cinta</link>
        <pubDate>Wed, 08 Jan 2014 14:18:07 +0000</pubDate>
        <category>BoyzStories</category>
        <dc:creator>VeneNara</dc:creator>
        <guid isPermaLink="false">16743762@/discussions</guid>
        <description><![CDATA[Hai, mau coba nulis disini... gak bagus sih tapi semoga bisa menghibur dan mohon bimbingannya.<br />
<br />
salam Nara.<br />
<br />
<br />
Bagian I<br />
<br />
<br />
Rasa tidak nyaman mulai menguasai tidur Gugun. Dia terlihat gelisah. Tentu saja, jam sudah menunjukkan pukul 7 lewat dan sebagai orang yang selalu bangun pagi jelas matanya sedang berontak minta dibuka. Tapi dia malah mengabaikan semua itu dan meneruskan tidurnya.<br />
Sayup antara sadar dan tidak, Gugun mendengar suara pintu terbuka kemudian tertutup kembali. Keinginannya untuk bangun pun tergugah saat samar-samar aroma kopi menggelitik indra penciumannya yang pasti sangat nikmat kalau diminum pagi-pagi begini.<br />
Sebuah sentuhan lembut di keningnya pun kian membuat Gugun tak sabar untuk membuka mata lalu menatap wajah manis pemilik tangan yang sedang mengusap pelan kepalanya.<br />
<br />
“Pagi sweetheart!” Sapa Gugun parau sebelum matanya terbuka penuh.<br />
<br />
“Pagiii...” Balas Ogi dengan sedikit desahan membuat suaranya terdengar seksi ditelinga Gugun. Dia bahkan mendekatkan bibirnya ketelinga Gugun sampai gugun tersenyum menahan geli oleh hembusan nafasnya.<br />
<br />
Tak perlu menunggu lama, hanya dalam satu gerakan Gugun sudah membawa Ogi dalam pelukannya. Dia yang masih berbaring membiarkan Ogi menumpukan berat badannya yang tidak seberapa diatasnya. Dengan penuh cinta Gugun menatap takjub pria yang sedang ada dalam dekapannya tersebut, dia sangat tidak ingin kehilangan pria ini.<br />
Harus diakui, debaran itu akan setia memeriahkan dada Ogi setiap kali ditatap seperti ini oleh Gugun. Dan jika sudah begini dia tidak ingin Gugun mengalihkan pandangan darinya. Dia ingin memiliki Gugun... sepenuhnya.<br />
<br />
Adegan tatap menatap itu  pun berlanjut. Tanpa paksaan, mengikuti naluri, mereka mendekatkan wajah masing-masing hingga bibir mereka bertemu dalam sebuah ciuman hangat namun menggairahkan. Lama mereka berciuman sebelum akhirnya Gugun menghentikan kehangatan itu. Dengan hati-hati dia mendorong wajah Ogi menjauh, Ogi menatap memelas padanya, yang berarti dia tidak menginginkan ciuman itu berakhir sekarang.<br />
<br />
Gugun tersenyum lembut sebagai permintaan maaf. Sambil mengusap pelan wajah yang begitu dia kagumi itu, wajah yang telah membuatnya gila, gila untuk melakukan hal gila.<br />
<br />
“Aku harus pulang, kita lanjutkan nanti ya?”<br />
<br />
“Kapan?” Tanya Ogi manja.<br />
<br />
“Secepatnya”<br />
<br />
Kata Gugun seraya mengecup singkat ujung hidung Ogi kemudian bangun dari rebahan menuju kekamar mandi.<br />
<br />
Ogi mendengus pelan menelan rasa kecewa yang baru dia dapatkan. Mau bagaimana lagi, memang sudah waktunya Gugun pulang mereka sudah dari kemarin menghabiskan waktu bersama. Ditambah waktu ekstra tadi malam. Seharusnya dia bersyukur, karena Gugun benar-benar menunjukkan keseriusan terhadapnya. Bukankah selama ini mereka memang sering menghabiskan waktu bersama? Jadi apa yang dia kecewakan? Gugun bilang secepatnya, dan itu pasti berarti ‘secepatnya’.<br />
<br />
Gugun keluar dari kamar mandi sambil mengusap wajahnya dengan handuk. Ogi mengernyit heran.<br />
<br />
“Kamu gak mandi dulu?”<br />
<br />
“Gak, aku udah telat. Nanti aja mandinya dirumah”<br />
<br />
Lagi-lagi Ogi mendengus, dia sampai menundukkan wajahnya. Seperti anak kecil sekarang dia sedang memainkan kedua kakinya dilantai.<br />
Hanya sebentar Gugun sudah selesai dengan pakainnya dan terlihat rapi seperti biasa. Meski baju yang dia kenakan adalah baju kemarin tapi tak sedikitpun mengurangi pesonanya.<br />
<br />
CUP!<br />
<br />
Ogi mendongakkan kepala ketika sebuah kecupan mendarat di puncak kepalanya. Senyuman Gugun seketika menenangkan hatinya, seakan semua kekecewaan tadi menguap begitu saja. Ogi balas tersenyum.<br />
<br />
“Minum kopinya dulu!” Ogi mengambilkan kopi yang dia bawa tadi dan sudah diletakkannya dengan manis di atas meja dekat tempat tidur.<br />
<br />
Gugun tidak menolak, dengan patuh dia menyeruput kopi tersebut hingga hanya tersisa seperempatnya saja. Kemudian kembali menatap Ogi.<br />
<br />
<br />
“Aku pergi”<br />
<br />
“Hati-hati!”<br />
<br />
CUP!<br />
Lagi-lagi sebuah kecupan kali ini dikening Ogi diberikan Gugun dengan penuh cinta.<br />
<br />
“Dah!”<br />
<br />
Tidak ada jawaban, Ogi terdiam lesu, matanya mengikuti gerak Gugun yang berjalan menjauh dan menghilang dibalik pintu. Tangannya memegang erat cangkir kopi yang diminum Gugun barusan. Dia menyusuri mulut cangkir menggunakan jarinya yang lentik.<br />
Perlahan Ogi mendekatkan cangkir tersebut kemulutnya, meminum sedikit kopi sisa tepat dibagian Gugun menenpelkan bibirnya tadi.<br />
<br />
“Setidaknya makanlah dulu sarapan yang sudah aku siapkan untukmu”<br />
<br />
Setelah berucap begitu Ogi berjalan keluar dari kamar sambil menghabiskan kopi yang masih tersisa.
<hr />
<br />
Gugun berjalan pelan saat menyusuri ruang tamu, sepi. Tapi dia tidak mau bersenang dulu dengan mengira kalau rumah ini benar-benar sedang sepi.<br />
Setiap indranya bekerja aktif untuk mendengar, melihat, mencium dan merasakan kalau-kalau ada kehidupan disana. Dan benar saja semakin jauh dia memasuki rumah, suara dentingan yang seperti berasal dari gelas dan piring serta guyuran air terdengar jelas berasal dari dapur.<br />
<br />
“Hai” Sapa Gugun pada Ian yang sedang sedang sibuk mencuci piring. Sesaat dia memperhatikan keadaan dapur yang bersih rapi. Bagus pikirnya, berarti Ian tidak menunggunya.<br />
<br />
“Hai” Balas Ian sedikit menoleh dan tersenyum tanpa menghentikan aktivitasya.<br />
<br />
“Mau ku bantu?” Tanya Gugun datar, yah sekedar basa basi mungkin.<br />
<br />
Ian menoleh lagi dan masih seperti tadi memberikan senyum terbaiknya. Dia menggeleng “Kamu kan baru pulang? Ganti baju sama istirahat dulu gih!”<br />
<br />
Gugun pun tidak memperpanjang lagi percakapan mereka. Dia segera berlalu menuju kamar yang dia tempati bersama Ian.<br />
<br />
Sepeninggal Gugun kesunyian itu kembali menyerang Ian. Ekspresinya mendadak berubah murung sangat kontras dengan yang dia perlihatkan pada Gugun barusan. Dengan tidak semangat Ian mematikan keran dengan gerakan perlahan. Hilangnya suara guyuran air menambah kesunyian, yang tersisa hanyalah beberapa piring dan gelas yang entah berapa kali sudah disabuni meski benda-benda itu tidak pernah kotor sama sekali.<br />
Ian mematung beberapa saat lamanya hingga rasa nyeri dari tangan kiri membuatnya kembali hidup.<br />
<br />
“Berdarah lagi!” Katanya parau.<br />
<br />
Ian menghela nafas lelah, dia lalu menyelesaikan terlebih dahulu dengan piring bersih tadi, membilas lalu mengeringkannya. Barulah kemudian dia merawat luka seperti sayatan ditangan kiri yang tadi sempat berdarah kembali meski sedikit.<br />
<br />
Ian menyimpan kembali kotak P3K kedalam lemari tepat didekat tempat lilin yang lilinnya sudah habis terbakar. Disana juga ada vas bunga kecil dan dengan beberapa bunga cantik didalam.<br />
Sebenarnya Ian sudah mempersiapkan segalanya untuk tadi malam. Beberapa macam makanan menggugah selera terhidang dengan indahnya diatas meja makan -yang sekarang sebagiannya telah berada dikulkas dan sebagiannya lagi ditempat sampah- dengan lilin dan juga bunga dalam vas kecil. Semua tertata dengan cantik.<br />
<br />
Kemarin, Ian menerima gaji pertamanya ditempat kerjanya yang baru.  Dan dia ingin merayakan hal tersebut bersama kekasihnya.<br />
Ian dikeluarkan dari pekerjaannya dulu karena satu dan lain hal, baru setelah berbulan-bulan dia akhirnya menemukan pekerjaan baru, meski hanya sebagai pelayan restoran. Sangat berbalik dengan pekerjaannya dulu sebagai karyawan kantor perusahaan ternama dengan gaji yang lebih dari cukup.<br />
Dan tidak sedikitpun dia ceritakan hal itu pada Gugun.<br />
<br />
Namun sepanjang malam kekasihnya tak pulang tanpa kabar, bahkan telpon darinya tak dijawab dan pesan darinya tak kunjung dibalas. Menunggu dalam bosan karena ketidakpastian mengantarnya pada rasa ngantuk hingga Ian pun terlelap di meja makan. Dia terjaga dari tidur terpaksa saat subuh menjelang, dan betapa kecewa Ian mengetahui Gugun tidak juga datang.<br />
Setelah kotak itu tersimpan, Ian mengambil tempat sampah yang barusan dia gunakan untuk membuang beberapa kapas bekas obat dan membawanya keluar rumah. Disana dia akan membuang kembali sampah tersebut bersama dengan makanan semalam yang tidak termakan.<br />
Selesai!<br />
<br />
Dikamar gugun kembali terlelap dibawah selimutnya. Ian tersenyum lembut lalu mendekat. Tangannya terulur membetulkan letak selimut kekasihnya. Dia mengusap pelan lengan Gugun yang berbalut selimut, bahkan sudah tidak ada keberanian baginya walau untuk sekedar mencium kening Gugun. Tingkah Gugun yang seakan menghindar dipahami betul oleh Ian sebagai penolakan halus terhadapnya.<br />
<br />
Lama Ian diam memandangi wajah orang yang sudah hidup selama hampir tiga tahun bersamanya. Disini, dirumah mungil mereka, karena Ian sendiri yang memintanya. Dia tidak mau tinggal dirumah besar, karena hanya akan membawa kesepian, apalagi disaat Gugun sedang bertugas diluar kota.<br />
<br />
Dirumah mungil ini saja dia kerap disiksa kesepian, tak bisa dibayangkan bagaimana penyiksaan yang akan dia terima jika tinggal dirumah besar.<br />
Masih jelas terekam dimemori Ian ketika pertama kali Gugun memberi kejutan sebuah rumah untuknya, rumah ini. Gugun bahkan sampai menutup mata Ian waktu itu. Dan ketika ikatan mata Ian sudah terbuka, dia begitu terpana mendapati dirinya berada didepan sebuah rumah mungil yang cantik dengan beberapa macam bunga dan pohon hias lainnya. Rumput dihalaman lebat dan rapi. Gugun sungguh tau kesukaannya.<br />
<br />
Dan satu lagi, Gugun ternyata bersungguh-sungguh dengan ucapannya ingin hidup bersama.<br />
Memasuki ruang tamu, ian ternganga sampai berkaca-kaca. Mata indahnya pun memandang Gugun dengan berbagai pertanyaan dan pernyataan.<br />
Gugun lalu membimbing tangan Ian menyusuri ruangan demi ruangan yang telah dihiasi bunga-bunga. Baik itu didinding, sudut ruangan dan bagian-bagian lain, meja bahkan kursi terdapat bunga yang sudah dirangkai dengan indah. Ian menutup mulutnya sendiri melihat apa yang di persembahkan di depan matanya.<br />
<br />
Langkah mereka kemudian berhenti tepat didepan taburan dari kelopak bunga yang membentuk sebuah hati ukuran besar, sangat besar. Gugun menuntun Ian masuk kedalam hati tersebut. Disana Gugun tiba-tiba merendahkan tubuhnya, menekuk satu kaki tanpa melepas genggaman pada tangan Ian.<br />
<br />
“Seperti keinginanmu. Inilah rumah mungil yang pernah kita bicarakan dulu. Dan sekarang disini, di rumah mungil ini, maukah kamu menghabiskan hari-harimu bersamaku?”<br />
<br />
Ian tak bisa berkata lagi, hanya anggukan yang mampu ia berikan sebagai jawaban. Sangking bahagianya dia sampai tidak sadar ada lelehan bening yang sedang melintasi pipinya. Gugun tersenyum, dia bangkit dan mengusap pelan air mata Ian.<br />
<br />
“Ku mohon jangan menangis!” Gugun lalu mendekap tubuh Ian erat. “Aku membawamu kemari untuk melihatmu bagahagia, bukan melihatmu menangis”<br />
Ian balas memeluk lebih erat.<br />
<br />
“Kenapa sekarang jadi begini Gun?” Lirih Ian didekat Gugun yang terlelap dengan dengkuran manisnya. Ian tersenyum pelan memandangi kekasihnya yang sekarang tidur membelakanginya.<br />
<br />
“Dia pasti orang yang sangat istimewa, sampai bisa merubahmu sedemikian asing untukku”<br />
suara Ian yang lebih terdengar seperti gumaman. Bisa dipastikan meski saat ini Gugun sedang terbangun, hanya Ian saja yang bisa mendengar kata-katanya barusan.
<hr />
<br />
Gugun bangun saat mendengar ponselnya berdering, dengan rasa kantuk yang masih menguasainnya dia berusaha meraih dimana ponsel tersebut berada.<br />
Sekilas dia melirik layar ponsel dan sedikit terlonjak. Buru-buru dia menjawab.<br />
<br />
“Halo!”<br />
<br />
“Kok lama? Pasti tidur lagi, udah makan?” Sembur suara diseberang.<br />
<br />
“Iya aku tidur lagi sampai kemari, belum aku belum makan”<br />
Ogi mendengus dalam hati dia mengutuk ‘Seharusnya kamu sarapan dulu tadi baru pulang’<br />
<br />
“Kenapa nelpon, untung aku yang angkat kalau sampai Ian yang angkat gimana?”<br />
<br />
“Tinggal aku bilang aja temen kerja kamu” jawab Ogi cuek. “Lagian kamu kok masih tidur bukannya ntar jam satu kamu ada janji ketemu klien? Udah jam sebelas lho ini” Gerutu Ogi agak manja.<br />
<br />
Gugun menepuk jidatnya, “Aku hampir lupa”<br />
Dia segera berhamburan kemar mandi, selain untuk mandi tentunya juga untuk mencari tempat yang agak jauh dari pintu. Mungkin saja sekarang Ian sedang berada disana kan.<br />
<br />
“Sudah kuduga, makanya aku menelpon. Buruan bangun dan siap-siap dan jangan tidur lagi!”<br />
<br />
“Iya iya, pangeranku…”<br />
Ogi tersenyum malu mendengar Gugun memenggilnya seperti tadi.<br />
<br />
“Ah bisa aja, kenapa sih kamu tidur lagi?”<br />
<br />
“Lho kok nanya aku. Yang bikin aku kurang tidur karena desahan-desahannya siapa? Dan siapa yang terus menggodaku dengan wajah imutnya agar diciumi?”<br />
<br />
“Aaahhh i-itu kan… i-itu… itu…” Ogi gelagapan.<br />
<br />
“Itu kenapa?” Desak Gugun sangat betah mengganggu Ogi, pasti wajahnya sangat memerah sekarang.<br />
<br />
“Kenapa kamu mau?” Akhirnya Ogi menemukan pembelaan.<br />
<br />
“Kamu mau tau?” Tanya Gugun.<br />
<br />
“Iya, beritau aku kenapa kamu semalam mau kalau sekarang malah menyalahkanku?” Ogi masih berlagak sok jutek padahal sudah tidak tahan menahan malu. Dia jadi terbayang bagaimana kejadian semalam. Ohh sungguh malam yang indah.<br />
<br />
Gugun mengambil posisi yang nyaman sebelum mengucapkannya. “Karena aku menginginkanmu pangeranku, selalu! I love you”<br />
<br />
Ogi terdiam tak mampu berkata-kata lagi, dia memang tidak bisa melihat wajah Gugun saat mengucapkan kalimat barusan. Tapi dia amat yakin Gugun bersungguh-sungguh.<br />
<br />
“Kok diem?” Tanya Gugun<br />
<br />
“Ck! Kamu tuh ya paling bisa… Udah ah Siap-siap sana”<br />
Tawa Gugun menggema didalam kamar mandi. “Bisa apa sih maksudnya?”<br />
<br />
“Ya itu…”<br />
<br />
“Itu apa?”<br />
<br />
“Ck, kalau mau tau temui aku malam ini”<br />
<br />
Gugun terkekeh “Iya deh. Udah ya. Btw thanks udah bangunin. Love You!”<br />
<br />
“Me too!”
<hr />
<br />
Selesai dengan penampilannya, Gugun bergegas keluar untuk pamit. Dia masih setia dengan rutinitas satu ini.<br />
<br />
“Hei, udah rapi? Aku lagi bikin makan siang. Aku buatkan udang goreng tepung, kesukaanmu” kata Ian bersemangat.<br />
<br />
“Aku harus pergi sekarang, ada janji dengan klien”<br />
<br />
“Tapi kamu kan belum makan dari pulang tadi. Makan aja dulu sedikit ya?” Bujuk Ian.<br />
<br />
“Gak deh, aku makan dijalan aja. Kalau emang gak keburu sekalian waktu jumpa klien aja. Aku pergi”<br />
<br />
Hanya seperti itu, Gugun langsung berjalan pergi. Tak ada ciuman perpisahan seperti dulu, tak ada belaian lembut di kepala Ian sebelum akhirnya sebuah ciuman mendarat dikeningnya. Tak ada lagi hal-hal seperti itu sekarang.<br />
<br />
Ian menunduk lesu, “Sejauh itukah posisiku sudah tergeser sekarang?” Ucapnya getir.<br />
Ian memejamkan mata, menahan rasa sakit didada kiri yang kian menjadi.<br />
<br />
Dia kemudian mematikan api kompor tak lagi melanjutkan menggoreng udang tepung. Udang yang masih dalam minyak, setengah matang, diangkatnya dan dibuang ke tong sampah. Untuk apa disimpan, tidak ada yang akan memakannya. Ian alergi udang sejak dia lahir, bahkan sebelumnya dia bahkan tidak pernah bersentuhan dengan makhluk satu ini. Satu-satunya alasan dia mau melakukannya itu hanya karena Gugun. Dia menyukainya. Dan meski Gugun menyukainya tetap tak ada gunanya disimpan, karna Gugun pasti pulang telat lagi seperti biasa, atau mungkin… dia tidak akan pulang.
<hr />
<br />
<br />
“Ian!” Panggil Bimo. Dia datang dengan sebuah nampan berisi pesanan pelanggan. “Tolong antarkan ini pada meja no 12” Ujarnya.<br />
<br />
Ian menerima nampan tersebut dan sebuah anggukan menjadi jawaban darinya.<br />
Sebulan bekerja disana, Ian sudah lebih lues untuk menjalakan tugasnya. Dia sudah jauh lebih terampil dari saat pertama kali bekerja. Banyak kekacauan yang terjadi dihari pertama, dari salah mengantar pesanan, hampir menabrak pelayan lain ketika berjalan, sampai menumpahkan minuman di kemeja seorang pria yang ternyata adalah direktur sebuah perusahaan yang merupakan pelanggan tetap direstoran ini. pelanggan yang menyebalkan juga sedikit menakutkan.<br />
<br />
Orang itu mengucapkan terima kasih dengan cara yang sangat menyebalkan pada Ian saat itu terjadi, mengejek tentu saja. Dan tatapannya itu… menakutkan.<br />
<br />
Nasib baik, bos tidak memecatnya walau telinga Ian panas mendengar omelan.<br />
Ian segera meletakkan pesanan untuk meja sembilan dan sesaat dia terpana karenanya. Orang itu tak jauh berbeda, dia malah lebih terlihat terkejut. Ian berusaha bersikap sewajar mungkin, tersenyum kemudian meletakkan pesanan tersebut dan berlalu dari sana.<br />
<br />
‘Jika dia disini kemungkinan Gugun juga disini. Bagus, sudah saatnya aku mendengar penjelasannya. Tapi kenapa dia melihatku seperti itu, apa dia mengenalku?’ Ian bertanya-tanya dalam hati.<br />
<br />
Orang yang tidak Ian ketahui siapa namanya itu tapi wajah manis miliknya melekat erat dikepala Ian. Dia menoleh untuk melihat orang itu sekali lagi, tapi orang itu terlihat sedang menelpon dan dengan tergesa-gesa mengeluarkan dompet untuk kemudian meletakkan beberapa lembar uang diatas meja. Setelah itu dia pergi sebelum menyentuh pesanannya.<br />
<br />
Sigh!!!<br />
<br />
Ian menghela nafas mendekati meja yang ditinggalkan pemuda tadi untuk mengambil mengambil kembali pesanan tadi sekalian dengan bayarannya. Sudah bisa dipastikan dia tidak akan kembali.
<hr />
<br />
“Halo sayang!” Sapa Gugun dari seberang.<br />
<br />
“Kamu jangan kesini, kita ketempat lain aja?”<br />
<br />
“Lho emang kenapa? Aku udah diparkiran ini”<br />
<br />
“Ya udah tetap disitu, aku kesana sekarang”<br />
<br />
“Kok gitu, emang ada kenapa sih?”<br />
<br />
“Ck, disini ada Ian!” Kata Ogi sedikit menekankan nama Ian. Dia sedikit kesal dengan kekasihnya bukannya ikut perintah malah banyak tanya.<br />
<br />
“Ian… Ian disana? Kok bisa? Halo… halo”<br />
<br />
Tut tut tut<br />
<br />
Diluar Gugun sudah menunggunya dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya bingung seperti kenapa Ian bisa berada disana. Bukankah ini jam kerjanya, dan setahu Gugun letak kantor Ian sangat jauh dari restoran ini. Makanya dia memilih restoran ini untuk bertemu dengan Ogi.<br />
<br />
“Kamu yakin itu Ian?” Tanya Gugun begitu Ogi sudah berada dalam mobil.<br />
<br />
“Maksud kamu aku salah liat gitu?”<br />
<br />
“Bisa jadi kan?” Kata Gugun mengangkat bahu. Dia mulai menjalankan mobilnya.<br />
<br />
“Gak, aku gak mungkin salah. Lagian aku udah pernah liat Ian sebelumnya”<br />
<br />
“Kamu liat dia cuma di foto yang ada di ponsel aku” Kata Gugun.<br />
Ogi mendelik pada Gugun, mendengus kesal mendengar omongan kekasihnya barusan. Gugun seolah bersikap Ogi ini anak kecil yang tidak bisa mengenali orang yang ada difoto dan dunia nyata dengan baik.<br />
<br />
“Aku emang cuma liat Ian di foto yang ada di ponsel kamu, tapi bukan berarti aku gak bisa mengenali orang dengan baik. Itu Ian!” Tegas Ogi. “Atau kamu mau masuk untuk memastikan?” Tantang Ogi.<br />
Kengerian seketika menyelimuti Gugun, bagaimana kalau ternyata itu benar-benar Ian. Apa yang harus dia katakan nanti? Ah, sebaiknya dia mendengar kata-kata Ogi.<br />
<br />
“Trus kita mau kemana sekarang?” Tanya Gugun.<br />
<br />
“Kenapa? Kamu gak mau balik buat ngecek dulu? Siapa tau kan aku salah” Balas Ogi sewot.<br />
Gugun menoleh pada Ogi yang masih terlihat kesal, perlahan dia mengelus pipi Ogi yang selalu saja terasa halus ditangannya.<br />
<br />
“Aku percaya kok sama kamu. Aku cuma heran kenapa Ian bisa berada disana, ini kan bukan lagi jam istirahat. Dan kantor dia juga jauh dari sini, lagian Ian itu orangnya gak suka keluar jauh-jauh dari kantornya hanya untuk makan”<br />
<br />
Ogi tercekat, dia seperti mengingat sesuatu. Benar, Gugun sudah pernah cerita kalau Ian itu karyawan kantor. Jadi kenapa tadi…<br />
<br />
“Gun, tapi Ian disana bukan untuk makan deh kayaknya, dia… kerja. Soalnya aku liat dia pakai seragam pelayan”<br />
<br />
Gugun menoleh dengan alis yang nyaris bersatu “Maksud kamu?”<br />
<br />
“Ya, aku lihat dia pakai seragam seperti pelayan lain. Berarti kan dia… kerja disana”<br />
Gugun menggeleng kuat. “Ian gak mungkin kerja disana. Dia punya pekerjaanya sendiri yang lebih layak. Ingat kan aku pernah cerita” Bantah Gugun tegas.<br />
<br />
“Ya… Iya sih, tapi…”<br />
<br />
“Sudah lah. Kalau pun benar dia disana untuk bekerja, berarti kita harus masukkan restoran tadi kedalam list tempat yang tidak boleh kita datangi lagi, meski aku sendiri gak ngerti kenapa dia<br />
mau kerja disana padahal jelas dia punya job dengan penghasilan yang lebih menjamin”<br />
<br />
“Mungkin dia dipecat?”<br />
<br />
Gugun segera menggeleng  “Ian itu karyawan dengan kinerja yang bagus, butuh alasan yang logis untuk memecatnya”<br />
<br />
“Itu kan cuma menurutku!”<br />
Gugun melihat lagi pada Ogi yang sedang memasang wajah polosnya, dia menggenggam lembut tangan Ogi dengan tangan kirinya. “Kita ketemuan untuk makan kan, jadi kita udahin aja ya pembahasan ini. soal Ian biar nanti aku cari tau kepastiannya. Oke?”<br />
<br />
Ogi mengangguk paham masih dengan wajah polosnya. Gugun terkekeh, sesekali dia melihat kejalan namun tangan kirinya sekarang berpindah mengelus lembut kepala Ogi.<br />
<br />
“Sekarang kita mau makan dimana?”<br />
<br />
“Terserah kamu aja!”<br />
Gugun kembali tersenyum kemudian melajukan mobinya lebih cepat.
<hr />
<br />
“Bagaimana pekerjaanmu?” Tanya Gugun saat dia sudah berbaring disamping Ian yang masih asik dengan bacaannya.<br />
Dari sejak Gugun pulang, dia sudah mendapati Ian bersandar pada ranjang dengan sebuah buku ditangan.<br />
<br />
“Baik” Senyumnya manis seperti biasa.<br />
<br />
“Kamu masih kerja ditempat dulu kan?”<br />
Pertanyaan bodoh.<br />
<br />
“Tidak, aku tidak bekerja lagi disana”<br />
<br />
“Kenapa?” Tanya Gugun menunjukkan rasa penasaran.<br />
<br />
“Aku dipecat!”<br />
<br />
“Dipecat?” Gugun terkejut, dia tidak percaya ternyata tebakan asal Ogi  tadi benar. “Bagaimana bisa? Setauku kinerjamu bagus”<br />
<br />
‘Itu setaumu, tapi sadarkah kamu kalau banyak hal yang sebenarnya tidak kamu ketahui?’ Batin Ian pahit. “Semua bisa terjadi kan? Aku juga tidak mau membahasnya lagi. Bisa kita ganti topik saja?”<br />
<br />
“Ya sudah” Gugun tidak memperpanjang mengorek informasi kenapa Ian bisa sampai dipecat.<br />
<br />
“Trus sekarang kamu kerja dimana?”<br />
<br />
“Aku kerja direstoran”<br />
<br />
“Oh pantas saja tadi temanku bilang seperti melihatmu direstoran”<br />
Sekarang pernyataan yang bodoh.<br />
<br />
Ian melirik Gugun kemudian tersenyum pahit.<br />
<br />
“Teman yang mana? Apa aku kenal?”<br />
<br />
“Tidak, kau tidak mengenalnya”<br />
<br />
“Ooo….!”<br />
<br />
Ian kembali pada bacaannya, tapi dua menit kemudian dia menutup buku bacaannya secar tiba-tiba. Ian mendekat ke Gugun lalu memeluk Gugun perlahan. Dia memposisikan kepalanya dilekuk leher Gugun, menghirup aroma segar sabun yang menyeruak dari tubuh Gugun.<br />
<br />
“Kamu sendiri, bagaimana pekerjaanmu?”<br />
<br />
“Lancar” Jawab Gugun singkat.<br />
<br />
“Syukurlah!”<br />
Keduanya terdiam.<br />
<br />
“Gun!” Panggil Ian pelan. Sebuah kecupan mendarat dirahang Gugun. “I love You!”<br />
<br />
“Gugun tersenyum tipis “I know, ayo istirahat aku capek!”<br />
<br />
Ian diam sejenak kemudian mengangguk. Dia pun turun dari ranjang untuk mematikan lampu, setelah itu kembali ke pembaringan didekat Gugun yang sudah lebih dulu tidur membelakanginya.<br />
Dipandangi punggung Gugun dengan seribu perasaan berkecamuk didadanya. Sudah tidak ada yang tersisa dari hati Gugun untuknya, semuanya sudah menjadi milik orang itu. Ian harus menerima kenyataan tersebut.<br />
<br />
Tapi Sampai kapan? Sampai kapan ini akan berlangsung? Sampai kapan Ian berada dalam ketidakpastian, diantara Gugun dan orang itu?<br />
Kenapa dengan Gugun? Bukankah sebaiknya dia jujur tentang perasaannya. Kalau memang Ian sudah tak ada dalam hatinya. Dimana kejujuran yang Gugun janjikan dulu. Tidak taukah dia Ian sudah sangat tersiksa?<br />
<br />
Dan terlepas dari semua itu, dimana ketegasan Ian? Seharusnya dia marah dan langsung menuntut Gugun untuk menjelaskan apa yang terjadi padanya. Seharusnya dia memaki Gugun dan menghajar pria itu, toh dia sudah tau semuanya. Seharusnya dia meninggalkan Gugun saja. Semua pasti akan lebih mudah.<br />
Tapi Sayang! Ian bukanlah seorang seperti itu.<br />
Dia tidak punya keberanian seperti orang lain, keberanian yang paling besar yang dia miliki hanya memaki dalam hati, mengutuk ketika sendiri. Mungkin dia juga tidak tau bagaimana caranya marah pada orang lain.<br />
 <br />
Bagian II<br />
<br />
“Gun, gak apa kamu ajak aku kemari?” Ogi memandang kerumunan orang-orang yang ada dipesta<br />
kolega Gugun malam ini.<br />
<br />
“Maksud kamu?” Tanya Gugun tidak mengerti.<br />
<br />
<br />
“Entahlah, tiba-tiba aku merasa sepertinya Ian lebih pantas untuk kamu ajak kemari” Kata Ogi tulus, mengalihkan pandangannya dari kerumunan pada satu orang saja, Gugun.<br />
Gugun mengernyit, kenapa Ogi jadi bicara seperti itu.<br />
<br />
“Bukankah seharusnya kamu mengajak pasanganmu?”<br />
<br />
“Apa yang kamu bicarakan? Kamu pasanganku” Gugun mendekat dan menggenggam tangan Ogi erat.<br />
<br />
Ogi menunduk sebentar dan mengangkat kembali wajahnya menatap Gugun dengan tatapan dalam.<br />
<br />
“Tapi beda Gun!”<br />
<br />
“Beda apanya?”<br />
<br />
“Dia pasanganmu yang sebenarnya. Sedangkan aku…”<br />
<br />
“Sssst… aku gak suka kamu ngomong begitu”<br />
<br />
“Lagi pula jika ada temanmu yang melihat kamu akan dapat masalah”<br />
<br />
“Aku gak peduli, kalau itu terjadi berarti memang sudah saatnya terbongkar”<br />
Ogi masih menunduk, aneh karena mendadak dia jadi sensitif seperti sekarang.<br />
<br />
“Dan siapa bilang kamu bukan pasanganku? Kamu lebih dari pasangan, kamu belahan jiwaku” Lanjut Gugun seraya mendekatkan kepalanya pada Ogi<br />
Ogi mengangkat wajahnya takjub.<br />
<br />
“Dan kamu tau apa itu pasangan sesungguhnya?”<br />
Ogi tidak menjawab dia menunggu Gugun mengatakn maksudnya.<br />
<br />
“Pasangan sesungguhnya adalah orang yang memiliki hati kita dan kembali memberi hatinya dengan tulus. Aku tidak tau bagaimana Ian. Tapi jelas hatiku sudah menjadi milikmu. Jadi apakah kamu pasanganku yang sesungguhnya? Hanya kamu yang tau”<br />
<br />
Ogi cepat membenarkan posisinya dan mebelai bahu Gugun, dia sebenarnya ingin melakukan lebih hanya saja tidak mungkin jika ditempat seramai ini.<br />
<br />
“Tentu saja hatiku sudah menjadi milikmu, bahkan sebelum kamu menyatakan perasaanmu hatiku sudah menjadi milikmu” Kata Ogi menjelaskan dengan semangat. Seakan penjelasan itu menyangkut hidup dan mati.<br />
<br />
“Kalau begitu jelas kan?”<br />
Ogi mengangguk cepat, sekarang matanya sudah sedikit berair tapi sekuat tenaga dia tahan agar tidak mengalir. Tangan Ogi masih berada dibahu Gugun.<br />
<br />
“Gun!”<br />
<br />
“Hmm?”<br />
<br />
“Kita kekamar mandi sebentar yuk!” Kata Ogi sedikit ragu sambil menggigit bibir bawahnya.<br />
Senyum gugun mengembang.<br />
<br />
“Ayo!”<br />
Dia segera menggamit tangan Ogi dan membawanya menuju kamar mandi.<br />
<br />
Sepi!<br />
<br />
Gugun segera menggunakan kesempatan itu untuk melumat habis bibir Ogi. Dia mendekap Ogi erat meniadakan jarak diantara mereka. Perlahan Ogi mendorong tubuh Gugun. Tapi dengan cepat Gugun menghentikan Ogi dangan mendekapnya semakin erat.<br />
<br />
“Kamu membuatku mabuk sweetheart, jadi jangan menghalangiku”<br />
Gugun bicara disela ciumannya, sehingga membuatnya tetap bisa merasakan bibir Ogi meski dia sedang bicara.<br />
<br />
“Tapi.. mmphh, setidaknya… mmphhh… kita masuk ke bilik dulu… mmphhh… ini tempat umum… mmmmpphh… Siapa saja bisa dengan mudah menangkap kita” Ucap Ogi susah payah diantara serangan ciuman Gugun.<br />
<br />
Gugun menghentikan sejenak ciumannya, Ogi segera mengangguk sebagai isyarat bahwa Gugun sebaiknya mengikuti sarannya. Gugun mengerling nakal pada Ogi. Dilumatnya kembali bibir ogi sambil menyeretnya kesalah satu bilik.<br />
<br />
“Gun!”<br />
<br />
Panggilan itu membuat Gugun menghentikan ciumannya dan melihat kepada sipemilik suara. Mereka terlalu asik dengan dunia mereka sendiri sampai tidak sadar ada orang yang keluar dari bilik.<br />
<br />
Reflek Gugun melepaskan begitu saja dekapannya pada tubuh Ogi yang mendadak memucat. Dia menatap Gugun penuh ketakutan. Sementara Gugun tak sedikit pun mengalihkan pandangannya dari seorang yang mengenakan seragam pelayan dipesta ini. Dia tidak akan bisa mengalihkan pandangannya.<br />
<br />
Dia… Ian memandangi Gugun dan Ogi bergantian, ekspresinya sulit dijelaskan. Terluka? Kecewa? Sedih? Jelas. Tapi ada yang lain dari tatapan itu yang tidak bisa Gugun artikan. Bahkan selama menjalani hubungannya dengan Ian, Gugun belum pernah melihat tatapan yang seperti ini.<br />
Keheningan diantara mereka sungguh menyiksa, terutama bagi Ogi yang sudah mulai gemetaran karena takut. Apa yang harus dia lakukan jika Ian menyerangnya? Oh tidak, habislah dia malam ini.<br />
<br />
Gugun hanya mematung, dia ingin bicara mengatakan sesuatu tapi mulutnya tak bergerak. Mungkin dia pernah bilang tak peduli jika sampai ketahuan karna itu berarti sudah saatnya semua ini terbongkar, tapi nyatanya tak semudah itu untuk dihadapi. Apalagi kalau Ian sendiri yang memergoki.<br />
<br />
“Kalian…” Ucapan Ian menggantung. Suaranya bergetar. “Maaf aku mengganggu!”<br />
Ian segera pergi meninggalkan mereka dengan langkah kaku. Entah mengapa kakinya sangat sulit digerakkan. Ogi memandangi kepergian Ian dan Gugun yang hanya mematung.<br />
<br />
“Kejar dia!”<br />
Tak ada reaksi dari Gugun.<br />
<br />
“Gun, kejar dia!” Ogi ingin berteriak karena panik tapi suara yang keluar malah isakan. Dan Gugun tetap bergeming.
<hr />
<br />
Klik!<br />
<br />
Gugun segera mengalihkan pandangan pada pintu yang terbuka. Tadi setelah insiden dipesta dia lebih memilih pulang, entahlah, dia berpikir akan lebih mudah jika menjelaskan peristiwa tadi dirumah pada Ian. Oleh karena itu dia tidak menghiraukan rengekan Ogi utnuk mengejar Ian.<br />
Tapi apa Ian akan pulang setelah ini? Entahlah, Gugun tidak tau. Dia hanya bisa berdoa agar Ian pulang supaya dia bisa bicara padanya. Dan nasib baik memang berpihak pada Gugun, setelah tadi Ian tidak marah-marah, sekarang yang ditunggu sudah berada diambang pintu.<br />
Ian melangkah pelan melewati ruang tamu yang temaram, melewati begitu saja Gugun yang sedang menunggunya disana. Entah dia memang tidak melihat Gugun atau pura-pura tidak melihat.<br />
<br />
Wajar, jika Ian bersikap demikian.<br />
Agak ragu Gugun mengikuti langkah Ian yang sudah hilang dibalik pintu kamar mereka. Keraguan kian besar saat Gugun sudah memegangi gagang pintu. Dengan hati-hari Gugun mendekatkan telinganya ke pintu mencoba dengar apa saja yang bisa ditangkap pendengarannya, mencari tau bagaimana kondisi didalam sana, jangan sampai saat dia membuka pintudia malah disambut oleh barang-barang keras yang melayang kewajahnya.<br />
<br />
Senyap!<br />
<br />
Gugun memberanikan diri membuka pintu, sepi, sayup-sayup terdengar suara gemericik air dari kamar mandi. Gugun sedikit lega paling tidak Ian tidak mengamuk seperti dalam bayangannya, atau belum?<br />
Waktu berjalan sangat lambat saat ini, berbeda jauh dengan ketika Gugun bersama Ogi. Dimana waktu akan berjalan lebih cepat dari biasanya sehingga, waktu yang tersedia pun dirasa tidak akan pernah cukup oleh Gugun maupun Ogi untuk melakukan hal-hal yang mereka inginkan.<br />
Betapa tersiksanya Gugun sekarang, disini, terperangkap dalam kegugupan yang membosankan dan harapan-harapan yang dia sendiri tidak yakin bisa terjadi.<br />
Perlahan Gugun mendengar pintu kamar mandi terbuka, dia segera mengambil posisi yang pas, namun sial, tidak ada posisi yang dia rasa pas. Mendadak dia jadi salah tingkah, tadinya dia ingin duduk tapi malah berdiri didekat sebuah meja sambil mengetuk-ngetukkan jarinya.<br />
Sial, degupan ini seperti saat Gugun ingin menyatakan perasaannya dulu pada Ian.<br />
Dari tempatnya berdiri Gugun memperhatikan dengan seksama tiap aktivitas Ian, dia menunggu waktu yang tepat. Entah waktu yang tepat seperti apa lagi yang ia tunggu.<br />
Ian sudah selesai berpakaian, dia melihat sekilas pada gugun yang sedang begitu gugup.<br />
<br />
Sigh!!!<br />
<br />
“Jadi, siapa namanya?” Tanya Ian kemudian. Sumpah, bukan itu sebenarnya yang ingin dia katakan.<br />
<br />
“Huh?” Tanya Gugun bego.<br />
<br />
“Pria manis tadi, siapa namanya?” Tanya Ian lagi dengan senyum diwajahnya.<br />
Gugun bergidik ngeri, dia menatap Ian dengan tatapan heran sekaligus menyelidik kemungkinan maksud dibalik senyum itu. Tapi Ian kelihatan tulus dengan senyum itu. Ada apa dengannya, apa dia tidak marah?<br />
<br />
“Ogi, Namanya Ogi” Kata Gugun pelan.<br />
<br />
Ian manggut-manggut “Nama yang bagus” Komentar Ian justru membuat Gugun semakin heran. Dan berikutnya pertanyaan Ian berhasil mengagetkan Gugun sampai dia kalang kabut berbicara.<br />
<br />
“Hmmm…… sudah berapa lama hubungan kalian?”<br />
Jelas ada kesedihan dalam kata-kata Ian tapi mati-matian dia sembunyikan.<br />
<br />
“Aku… aku… ka-kamu…kenapa kamu bertanya begitu?”<br />
Ian menunduk, “Aku hanya ingin tahu” Ian diam sejenak menarik nafas dalam seolah mengumpulkan kekuatan untuk mengucapkan kata-kata berikutnya. “Maaf Gun, aku pernah tidak sengaja melihatnya, saat kamu sedang mandi dan ponselmu menyala tanpa dering. Aku melihat nama sweetheart muncul dilayarmu. Dan kamu memasang foto bersama seseorang disana, sangat mesra”<br />
<br />
Gugun tercekat, seingatnya dia tidak lagi memasang foto panggilan, dia memasang foto tersebut saat awal-awal hubungannya dengan Ogi terajut. Jadi?<br />
Ya Tuhan, ini tidak mungkin!<br />
<br />
“Kapan kamu melihatnya” Gugun sebenarnya malas menanyakan hal ini. tapi dia perlu memastikan sesuatu.<br />
<br />
“Sudah lama, waktu kamu pulang dari Surabaya untuk perluasan cabang perusahaanmu disana”<br />
Gugun melebarkan matanya, saat itu berarti tahun lalu tepatnya satu minggu setelah dia jadian dengan Ogi. Berarti Ian sudah tahu sejak lama dan dia tidak mengatakan apapun.<br />
<br />
“Aku…” Gugun tidak tahu harus bicara apa. Minta maafkah atau menjelaskan duduk perkaranya.<br />
<br />
“Aku ingin minta penjelasan tapi lidahku kelu. Aku bertanya-tanya sendiri, apa yang telah kulakukan sampai membuatmu berpaling. Karena itu aku jadi sering minta maaf padamu”<br />
Gugun membisu, susah payah dia mencerna kalimat ian. Minta maaf? Yah benar sejak kedatangannya dari Surabaya, Ian jadi mengucapkan kata maaf meski untuk hal yang sepele. Bahkan kata maaf itu tak hilang saat dia sedang memadu kasih dengan Ian, yang dia lakukan dengan kepura-puraan.<br />
<br />
Belum habis Gugun mencerna Ian sudah bicara lagi. “Aku ingin marah, tapi jika itu kulakukan aku takut kalau ternyata akulah penyebabnya. Karena bisa saja kan, aku melakukan hal yang tidak kamu sukai tanpa aku sadari. Sehingga kamu mencari tempat lain untuk berlabuh. Aku takut akulah penyebabnya. Maka dari itu aku diam, tidak bicara sepatah katapun. Aku terus mencari letak salahku yang menyebabkan kekasihku mencari tempat lain untuk bersandar dan selama itu yang bisa kulakukan hanya bersikap sebaik mungkin. Memperbaiki setiap tingkahku berharap dengan begitu kamu bisa kembali padaku dan memaafkan kesalahan yang ku lakukan. Kembali menjadi Gugunku yang dulu. Gugun yang memintaku untuk hidup bersamanya.”<br />
Gugun hanya terdiam, bukan karena tidak bisa bicara tapi karena sesuatu menghantam dadanya sangat kuat, sakit, rasanya seperti ditusuk-tusuk dengan belati berkali-kali. Atau dihantam bongkahan batu besar. sakit.<br />
<br />
Jadi selama ini Ian bukan hanya tau perselingkuhannya tapi juga menyalahkan dirisendir sebagai penyabab Gugun selingkuh. Kenapa? Seharusnya Ian marah, bakannya malah menyalahkan diri sendiri. Dan entah mengapa Gugun sangat tidak suka cara mereka membahas masalah ini, dia akan lebih senang jika Ian mengamuk sambil memakinya saja atau memukulnya sekalian.<br />
Kenapa?<br />
<br />
Dan sakit itu semakin menyesakkan, panas. Udara… Gugun butuh udara. Namun tubuhnya bagai lumpuh, sekuat apapun dia ingin bergerak, yang ada dia hanya mematung.<br />
<br />
“Gun, kenapa kamu melakukannya padaku?” Tanya Ian, suaranya kini bergetar seperti menahan tangis. Tidak, sedari tadi dia sudah menahannya. Terbukti dari helaan nafas yang berat.<br />
Gugun bergeming, pertanyaan barusan menyengatnya. Iya, kenapa? Kenapa dia melakukannya? Pesona Ogi, yah, itulah jawabannya. Pesona Ogi sungguh telah berhasil memalingkan hatinya. Tapi beranikah dia mengatkan hal tersebut pada Ian.<br />
<br />
Gugun yang tak kunjung menjawab membuat Ian kembali bicara sendiri dan mengambil kesimpulan. Kesimpulan yang menarik Gugun pada ruang gelap pengap tanpa udara.<br />
<br />
“Pasti dia orang yang sangat istimewa, iya kan?” Ian mencoba tersenyum tapi justru air mata yang mengalir. Pertahanannya hancur sudah. “Dia pasti sangat istimewa sampai bisa mengambil Gugunku” Kata Ian pilu. “Tidak aku sangka ternyata aku tidak becus menjaga hubungan, bahkan upayaku untuk membawamu kembali sama sekali tidak membawakan hasil.”<br />
Entah apa yang terjadi namun kelabat bayanganan masa lalu muncul seperti video yang diputar ulang dalam memori Gugun. Betapa hangatnya Ian dan perlakuan manisnya. Tidak peduli Gugun tidak menghubunginya atau tidak pulang kerumah karena sibuk dengan Ogi. Ian tidak pernah bertanya, hanya perhatian yang dia berikan serta senyuman itu.<br />
<br />
Gugun merasa matanya panas.<br />
<br />
“Maaf aku begitu buruk” Ucap Ian diantara tangisnya.<br />
<br />
“Tidak, itu tidak benar” Untuk pertama kalinya Gugun bicara dan mengangkat wajahnya yang ternyata sudah basah.<br />
<br />
Ian menggeleng kuat, air mata itu kian deras “Ini semua tidak akan terjadi jika aku menjaga hubungan ini dengan baik. Aku lengah, maafkan aku!”<br />
Ya Tuhan, dia bahkan tidak ingin menyalahkan Gugun untuk kesakitan yang dia rasakan.<br />
<br />
“Tidak, aku yang salah. Aku yang harus minta maaf”<br />
Gugun kembali bicara sambil menggeleng panik ketika dia semakin menyadari kesalahannya yang telah menyakiti malaikat seperti Ian.<br />
Malaikat!<br />
<br />
Gugun sendiri yang memberi sebutan itu untuk Ian, dulu, karena sifatnya yang amat baik, lembut, dan selama mereka bersama Gugun berani jamin kalau dia tidak pernah melihat Ian marah sekalipun.<br />
<br />
Begitu pun sekarang, dia bicara dengan berderai air mata tapi tidak sedikitpun menunjukkan kemarahan. Padahal kesetiannya telah dikhianati dan dia sadar penuh akan hal itu jauh-jauh hari, namun dia masih saja tersenyum dan bicara baik-baik.<br />
<br />
“Lalu kenapa kamu melakukannya?”<br />
Gugun terdiam. Apa yang harus dia jawab?<br />
<br />
Ian menarik nafas dalam menghembuskannya berat. Dia menyapukan tangannya mengusap air mata yang membasahi pipi, begitu air mata itu hilang yang lain mengalir dengan lancar.<br />
<br />
“Kamu mencintainya?”<br />
Gugun mendongak terkejut mendengar pertanyaan ian.<br />
<br />
“Mmm?” Kejar Ian.<br />
Entah keberanian dari mana Gugun mengangguk mantap, seakan jawaban itu bukan apa-apa dan tidak akan menyakiti Ian.<br />
<br />
“Melebihi aku?”<br />
<br />
Gugun tercengang, demi bumi tempat dia berpijak dia tidak akan punya keberanian menjawab pertanyaan itu. Tidak seharusnya dia menyakiti Ian lebih dalam lagi dengan jawabannya, karna dia memang lebih mencintai Ogi ketimbang Ian?<br />
Oh Tidak!<br />
<br />
“Kenapa tidak dijawab? Apa kamu takut jawabanmu menyakitiku?” Ian menatap lekat kekasihnya yang kemungkinan sebentar lagi akan menjadi mantan.<br />
Gugun tidak bereaksi meski lagi-lagi dia dibuat terkejut, dan kali ini dia mengira Ian bisa membaca pikirannya.<br />
<br />
“Ternyata memang iya” Ian terkekeh menerima kenyataan pahit ini.<br />
<br />
Hening!<br />
<br />
Keadaan ini sungguh menyiksa Gugun, tapi tak ada yang bisa dia lakukan.<br />
<br />
“Baiklah, aku menyerah” Ian berkata dengan tersenyum diantara derai air mata, Gugun memberanikan diri melirik Ian. “Harus ada yang menyerah karena kita tidak mungkin menjalani hubungan seperti ini, aku tidak mau” Ian membalas tatapan takut-takut Gugun dengan lembut.<br />
<br />
“Aku tidak ingin membencimu  Gun, karena itu akan ku anggap ini kesalahanku yang tidak becus menjaga hubungan”<br />
<br />
“Jangan lakukan itu…”<br />
<br />
Ian menggeleng kuat sambil mengangkat tangannya sebagai tanda ‘stop jangan teruskan’, tangisnya kembali pecah.<br />
<br />
“Lalu apa yang harus kujadikan alasan? Kekasiku berkhianat? Tidak. Aku masih ingin berhubungan baik denganmu setelah ini. Dan jika alasan tadi yang kupakai, aku akan sangat membencimu dan juga terluka. Aku tidak mau itu terjadi. Aku ingin tetap bisa menjadi temanmu, dan dengan begitu kamu juga tidak perlu merasa bersalah, iya kan?”<br />
Gugun memandang tak percaya. Bagaimana Ian bisa bicara begitu. “Ini Tidak benar!” desis Gugun tercekat.<br />
<br />
“ Aku mohon Gun, supaya lebih mudah bagiku menerima kekalahan ini. Katakan kalau aku memang buruk”<br />
<br />
Gugun hanya menatap nanar Ian, orang ini, dia sungguh malaikat dan Gugun telah menghancurkannya.<br />
<br />
“Aku minta maaf!” Gugun tertunduk dan terisak hebat.<br />
<br />
“Tidak, aku lah yang minta maaf karna tidak bisa menjaga hubungan kita. Maafkan aku!”<br />
Tangis pun pecah, baik Ian maupun Gugun menangis hebat ditempatnya masing-masing. Sudah tidak mungkin berpelukan seperti dulu untuk menenangkan, karena saat Gugun mengatakan maaf mereka telah menjadi orang lain. Kini mereka tak lain selain orang yang hatinya telah dimiliki orang lain dan sisanya merupakan orang yang tersakiti karena hal tersebut.
<hr />
<br />
<br />
Keesokan harinya, seperti biasa Ian menyiapkan sarapan untuk Gugun sebelum berangkat ke kantor. Gugun semakin tertohok rasa bersalah mendapat perlakuan demikian, dia ingin protes tapi tak ada suara yang keluar dari mulutnya.<br />
<br />
Tak sedikit pun Gugun menikmati sarapannya pagi itu, padahal tak ada yang berubah dari rasa masakan olahan tangan Ian, selalu saja nikmat. Gugun merasa menelan beling ketimbang dibilang nasi.<br />
<br />
Hanya beberapa suap Gugun segera meninggalkan Ian tanpa kata-kata begitu pula dengan Ian, dia hanya memandangi tubuh Gugun yang menjauh dan menghilang dibalik tembok.<br />
Inilah akhir!<br />
<br />
Dipandanginya setiap sudut rumah tempat tinggalnya selama hampir tiga tahun dengan seksama. Perlahan tapi pasti Ian mulai bergerak untuk merapikan rumah, mencuci piring dan beberapa kain kotor, kemudian membersihkan bagian-bagian yang perlu dibersihkan. Beruntung dia sering membersihkan rumah tersebut sehingga dia tidak kerepotan sekarang.<br />
<br />
Selesai dengan rumah Ian beranjak kedalam kamar. Dia mengeluarkan sebuah tas besar lalu memasukkan baju-baju miliknya kedalam tas tadi. Hanya pakaiannya, tak ada satu pun kenangannya dengan Gugun dia bawa serta, semuanya akan dia tinggal untuk terkunci disana.<br />
Sebelum pergi Ian memandangi sekali lagi rumah kecilnya dengan pria yang begitu dia cintai. Potongan demi potongan memori saat dia datang berkelabat didepan matanya, dia seperti sedang menonton layar lebar. Rasa sakit yang sudah ada menjadi kian sakit. Sesak! Tapi Ian tidak akan menangis lagi, tidak disini. Karena itu sebelum butiran bening yang sudah bergelayutan dipelupuk matanya berjatuhan, Ian cepat melangkah pergi meninggalkan rumah cintanya yang tinggal kenangan.<br />
<br />
-THE END-<br />
]]>
        </description>
    </item>
    <item>
        <title>Living With My Cousin [E-Book Re-Release]</title>
        <link>https://boyzforum.qiarchive.org/discussion/7836949/living-with-my-cousin-e-book-re-release</link>
        <pubDate>Fri, 07 Nov 2008 04:45:30 +0000</pubDate>
        <category>BoyzStories</category>
        <dc:creator>bibay007</dc:creator>
        <guid isPermaLink="false">7836949@/discussions</guid>
        <description><![CDATA[Info : E-Book Living With My Cousin kembali dirilis! Dapatkan sekarang!<br />
<br />
<br />
_____________________________________________________________]]>
        </description>
    </item>
    <item>
        <title>KISAH REZKY ANANDA PRASETIAWAN</title>
        <link>https://boyzforum.qiarchive.org/discussion/16741816/kisah-rezky-ananda-prasetiawan</link>
        <pubDate>Sun, 04 Aug 2013 14:58:48 +0000</pubDate>
        <category>BoyzStories</category>
        <dc:creator>kimsyhenjuren</dc:creator>
        <guid isPermaLink="false">16741816@/discussions</guid>
        <description><![CDATA['' Hidup di dunia ini , bukan perkara mudah . namun, harus penuh perjuangan untuk bisa bertahan hidup , itulah jalan kehidupan yang sesungguhnya .....!!! ,''<br />
<br />
SEMANGKA 1<br />
<br />
'' ibu..ibu.. Jangan ninggalin aku bu,<br />
hiks..hikss... aku takut..bu..aku takut ..!!<br />
''Teriak seorang anak kecil, berumur 6 tahun menangis memanggil seorang wanita muda , dengan pakaian lusuh yang telah memudar '',<br />
wanita itu trus berlari  sambil air mata mengalir deras di pipinya , sambil menoleh ke arah wajah anaknya dari kejauhan .<br />
''Jangan menangis anaku, ibu akan segera mengambilmu setelah ibu menjadi sukses nanti,,,!! '', Ujar , wanita itu dengan senyum pahit , dan pergi meningalkan anaknya , di sebuah panti asuhan bernama<br />
''KASIH BUNDA ''<br />
<br />
''di tempat lain , anak itu masih saja terisak menangis memanggil ibunya , dan di bawah masuk kedalam sebuah panti asuhan, oleh seorang wanita parubaya yang tersenyum hangat ,ayo anaku kita masuk kedalam , ujar wanita parubaya itu..!! ''<br />
<br />
6 TAHUN KEMUDIAN<br />
<br />
ANANDA ...!!! teriak bunda dari luar kamar sambil mengetuk-ngetuk pintu ,<br />
iya bunda , sebentar ananda masih siap-siap dulu , teriak nanda dari dalam kamar .<br />
Ya udah , cepat turun ke bawah untuk sarapan bersama adik - adikmu , ujar wanita parubaya itu<br />
sambil berjalan ke dapur.<br />
<br />
RUANG MAKAN<br />
<br />
''ANANDA .. Ini hari pertama kamu sekolah di di smp, ujar bunda tersenyum .<br />
Bunda mohon kamu terus pertahankan beasiswa itu supaya kamu akan mencapai cita- citamu kelak ujar bunda tersenyum tenang '',<br />
iya bunda aku akan jaga kepercayaan bunda , ujar ananda sambil tersenyum memamerkan gigi putih dan gigi gingsulnya(gigi susun) dan lesung piipitnya membuat anak itu tambah imut .<br />
<br />
'', Oh iya , sampai lupa aku untuk memperkenalkan diriku ,<br />
namaku REZKY ANANDA PRASETIAWAN , Aku akan berumur tepat duabelas tahun di sebuah tanggal di bulan agustus nanti. Aku tinggal di sebuah panti asuhan bersama bunda dan 5 orang adiku di sebuah kota kecil di sulawesi tengah, kota yang bersih dan ramai tapi juga nyaman! Di panti asuhan, aku di panggil ananda karna itulah panggilanku, terkesan jauh dari mana cowok, tapi itulah nama yang di berikan ibuku kepadaku.<br />
Sekarang aku udah mau masuk kelas 1 sma , yah aneh memang , iya memang aku aneh , di sekolah dasar aku hanya 4 tahun terus lulus masuk smp 2 tahun dan mendapatkan beasiswa berkat kecerdasanku melebihi kawan - kawanku di sekolah sd - smp ,heheeh bukanya sombong tapi itulah kenyataanya.<br />
, wajahku masih terkesan seperti seorang anak umur 7 tahun padahal umurku udah mau masuk 12 tahun , kata bunda aku anak yang imut dan juga cakep , namun sayang aku memiliki postur tubuh yang kecil, sehingga aku sering di ledekin sama teman teman sdku ,tapi aku bersyukur kepada ALLAH karena memberikan aku kecerdasanku yang menutupi kekuranganku . Aku memiliki wajah imut dan bola mata bulat berwarna coklat terang dan muka bersih tampa ada satu jerawat yang hinggap di  wajahku . Di tunjang dengan kulit putih , tubuhku terkesan seperti cewek, dengan tingkat kemulusan melebihi para wanita !!!!!ehhehehehe<br />
<br />
ah uda berkenalanya lanjoot ke cerita.. Hehehehhehe<br />
<br />
aku berjalan menyusuri jalanan yang tampak masih renggang ,belum ada kendaraan yang berlalu lalang. Karna rumahku dengan sekolah jauh, maka harus pagi-pagi sekali aku berangkat ke sekolah. Sekarang jam menunjukan pukul 06.00 aku terus berjalan menyusuri jalanan yang dingin .<br />
Kira kira perlengkapan apa yah, yang akan di perlukan saat mos nanti , aku terus  bergulat dengan pikiranku sendiri .<br />
Semoga nggak mahal-mahal perlengkapanya '',Ujarku ,..!!<br />
kan kasian bunda nantinya ..!!<br />
Kerepotan karna aku..!!<br />
<br />
Aku terus berjalan sambil bernyayi -nyanyi<br />
menembus angin yang dingin di pagi hari , oh iya setiap pagi bunda selalu mengasah kemampuan suaraku , karna dengan suaraku ini aku bisa mendapatkan hadiah sebuah piano.<br />
<br />
''Akhirnya sampai juga aku di sekolah sma negeri wira bakti yang katanya bergengsi ini ,<br />
aku memutar kepalaku ke sekeliling sekolah, dengan tatapan  takjub tak percaya , gila sekolahnya gede amat , nggak nyangka bisa dapat beasiswa dan bersekolah disini nantinya..!!<br />
<br />
Aku melihat , ada beberapa anak cewe udah ada di depan sekolah yang menatap aku , seperti ingin menerkamkun , apa karena aku imut ya hehehheh ngacok ah..!!<br />
Aku membalas tatapan mereka dan tersenyum sebaik yang aku punya , aku melihat muka mereka memerah sambil berbisik-bisik ,<br />
aku berjalan terus memasuki sekolah tersebut ,<br />
selang lima belas menit bel sekolah berbunyi di sebuah toa<br />
.tett...tet...tet<br />
.. kemudian semua siswa dan calon siswa , sudah berada di di lingkungan sekolah berbaris ,<br />
aku berlari-lari tergesah-gesah untuk bergabung dengan calon siswa lainya .<br />
tiba-tiba......!??aku bertabrakan dengan seseorang<br />
Buukhrr.. Aw sakit...!!? Ujar suara seseorang ,..!!<br />
aku meringis kesakitan ,<br />
maaf ka ,..!!<br />
aku tak sengaja , kataku''<br />
sambil menunduk ketakutan ,<br />
iya nggak papa..?? Kata orang tersebut<br />
maaf aku langsung pergi dari depan kakak tadi tapi aku tak melihat wajahnya ...!?<br />
<br />
Eh tunggu...????? Ujarnya ..!!<br />
<br />
<br />
]]>
        </description>
    </item>
    <item>
        <title>Mahesa,Lelakiku</title>
        <link>https://boyzforum.qiarchive.org/discussion/16750849/mahesa-lelakiku</link>
        <pubDate>Tue, 09 Aug 2016 08:16:09 +0000</pubDate>
        <category>BoyzStories</category>
        <dc:creator>RakaRaditya90</dc:creator>
        <guid isPermaLink="false">16750849@/discussions</guid>
        <description><![CDATA[***<br />
Aku geleng2 kepala.Tak habis pikir dengan cerita yang tengah kubaca di kolom boysstories,dalam forum situs gay yang mana aku bergabung di dalamnya.<br />
Baru dua paragraf saja membacanya sudah membuat perutku mulas.<br />
Bagaimana tidak,cerita fiksi yang diposting sekitar dua jam yang lalu itu tidak memiliki alur yang jelas,ceritanya melompat2,terkesan terburu2.<br />
Dalam cerita yang diberi judul Rangga dan Dewa itu tidak jelas penggambaran tokohnya,setingnya,seperti cerita...amatir.<br />
Anak SD juga bisa menulis cerita semacam itu.Aku memicingkan mata,membaca nama penulisnya;SatriaAji.<br />
Hmm,terasa asing,pasti member baru di forum.<br />
Dan perutku kian mulas saat membaca komen2 dibawah postingan cerita tsb;<br />
<br />
gerry69: wahh seru baangSatt eh bang satria maksutnya,lanjuttt bangg<br />
arkan89:kerenn bangg ceritanya,aku sukaa<br />
iskandar91:oke bangett bangg,jgn lupa mention ya di next chap<br />
<br />
What the fuck?<br />
Apanya yang keren?<br />
Dimananya yang seru<br />
?cerita gaje gitu dibilang oke.<br />
Ada apa dengan mereka?Bah.<br />
<br />
Aku mengklik tulisan pesan pribadi.Aku sudah gatal ingin bercerita pada bang Mahesa,penulis favoritku;favorit seluruh member forum yang dicintai karna puluhan karya tulisnya yang OKE banget yang bahkan selalu di post ulang oleh beberapa member.<br />
Fyi,bang Mahesa ini termasuk sesepuh forum di situs gay ini karna ia sudah cukup lama bergabung di forum,sekitar 5tahun terakhir.<br />
Gaya penulisanya yang elegan,berkualitas,membawanya menjadi penulis nomor satu di forum.<br />
Meski menulis cerita bertema gay,ia mampu mengemasnya dengan sangat bagus dan terkesan mahal.<br />
<br />
&quot;malam bang,udah tengok cerita terbaru boystrories belum bang?ancurrr bang!&quot; aku mengirimkan pesan.<br />
&quot;huss jgn gitu Ta,hargai dong karya orang&quot; balasnya beberapa menit kemudian.<br />
&quot;emang kenyataanya ancurr kok bang,ga jelass alurnya,amatiran,&quot; tukasku seenaknya.<br />
&quot;duh ta jgn meremehkan kreatifitas orang lain dong,ga baik,mungkin dia baru belajar,hargai orang berproses,&quot;bang mahesa menegurku.<br />
&quot;justru klo masih belajar jangan kepedean ngepost cerita lah bang&quot; sanggahku ngeyel.<br />
&quot;justru dengan ngepost dia bisa belajar dari komen para reader kan Ta,&quot; sahut bang mahesa lagi.<br />
&quot; belajar dari komen gmna,orang yg komen pada ga ngerti gmn karya bagus,isinya muji2 semua,pdhl ceritanya zonk!&quot; ejekku kesal.<br />
&quot; Ta,itu karna mereka tau cara menghargai karya orang lain,ga asal cela kayak kamu tu&quot;<br />
&quot;aakhg abang mah gituu&quot; aku sebal membaca balasan bang mahesa.<br />
&quot;hehe yaudah klo km ga suka,km aja gih yang nulis,posting cerita,&quot;<br />
<br />
OK.SKAKMAT.Bang mahesa berhasil membuatku mingkem dengan balasan itu.Dia tau cara menghentikanku.Aku adalah reader banyak bacot yang sering ngritik karya orang,pdhl klo disuru aku nulis sendiri langsung kicep]]>
        </description>
    </item>
    <item>
        <title>Aku dan Rafi</title>
        <link>https://boyzforum.qiarchive.org/discussion/16751896/aku-dan-rafi</link>
        <pubDate>Thu, 14 Nov 2019 04:36:17 +0000</pubDate>
        <category>BoyzStories</category>
        <dc:creator>Hendri94</dc:creator>
        <guid isPermaLink="false">16751896@/discussions</guid>
        <description><![CDATA[Gw abis baca beberapa pengalaman rekan rekan disini,banyak kisah menarik yang bikin gw jadi pengen ikutan share pengalaman pribadi soal lgbt beberapa waktu lalu.Berkali kali gw tetep heran kenapa gw bisa jadi salah satu orang yang punya pengalaman konyol kayak gini,tertarik secara seksual sama temen sesama cowok.<br />
<br />
<br />
<br />
Gw punya tiga orang rekan kerja sambilan di kampus,satu cowok dan dua cewek,mereka adalah Imam,Rere serta Evi.Jadi kita berempat tuh jualan baju\/kaos di sunmor tiap hari minggu.Usaha kecil kami ini udah berjalan satu taunan dan hasilnya lumayan buat nambah uang jajan.Di tahun kedua Rere ngajakin sahabat sefakultasnya buat gabung,namanya Rafi.Sama Rafi inilah gw ngalamin yang namanya jatuh cinta kayak ke lawan jenis.<br />
<br />
<br />
<br />
Rafi cakep,itu kesan pertama gw ketemu dia di sunmor.Dia sepantaran sama kami berempat,dia sama Rere sejurusan di kampus.Gw sama Rafi cukup cepat akrabnya karna dia orangnya supel.Sejak dia join gw jadi sering apa apa sama dia.Sholat dzuhur bareng kalau udah waktunya sholat di sunmor(imam jarang sholat,wk)nyari makan siang bareng,sampe pulang pun gw sering goncengin dia sampe kost nya.Sebelumnya dia kemana mana nebeng yang bisa ditebengi atau naik busway karna dia gak ada kendaraan pribadi.<br />
<br />
<br />
<br />
Suatu saat hubungan bisnis kita sempet keganggu hanya karna masalah perasaan.Selama ini Rere suka sama Rafi makanya dia ngajakin sahabatnya itu buat join di usaha kita.Rafi sama sekali gak ngira rere punya rasa sama dia dan dia gak bisa bales perasaan sahabatnya itu krna dia emang gak ada rasa.Karna gak nyaman akhirnya Rafi milih out dari usaha bareng ini.Herannya gak cuma Rere yang kehilangan,gw pun ikut ngerasa kehilangan Rafi.Udah hampir setengah taun bareng bareng jalanin usaha,banyak moment kita lewati bareng,jujur aja bikin gw kehilangan mood saat jualan tanpa adanya Rafi seperti biasanya.<br />
<br />
<br />
<br />
Beberapa waktu kemudian gw tau Rafi ngambil sambilan jualan ice blend di mall bareng temennya,dan gw mulai sering nongkrong disana nemenin dia.Rafi kuliah sambil kerja bukan buat nambah uang jajan kayak gw sama temen2,dia emang butuh duit tambahan buat kuliahnya,krna dia bilang ortunya bukan pns atau pekerja dengan gaji besar seperti ortu kami.Tiap dia masuk shif malem gw selalu sempetin main ke stan dia beli minum sambil nemenin dia kerja.Waktu itu gak ada yang gw pikirin selain gw ngerasa nyaman temenan sama Rafi.Rafi itu seorang temen yang dengerin kalau kita ngajakin ngobrol tanpa disambi main hp.Itu salah satu kebiasaan dia yang bikin gw seneng ngobrol banyak sama dia.Karna kebanyakan temen gw kalau diajak ngobrol suka disambi pegang hp,balesin chat,buka sosmed dsb.Gw kalau sama Rafi betah ngobrol2 tanpa pegang hp sampai berjam jam.<br />
<br />
<br />
<br />
Satu waktu gw gak main ke stan Rafi karna lagi gak enak badan.Rafi ngechat nanyain,katanya gw disuruh nyobain menu minuman baru di stan nya(yg skrng hit sebagai minuman bernama thai tea).Malemnya sekitar jam 10 Rafi dateng ke kos gw pulang kerja dan dia beliin makan sekaligus obat krna gw bilang lagi meriang.Gw sempet ngerasa canggung waktu Rafi mau nyuapin gw,gw bilang apa apaan dah Fi gw bisa sendiri kali,tapi rafi gak peduli dan tetep jejelin gw makan dari tangannya.Dia lalu bilang dia sama temen temenya udah biasa kyak gtu(suap suapan saking deket dan akrabnya).Rafi juga ngerikin gw dan nginep jagain gw malam itu.<br />
<br />
<br />
<br />
Jujur aja gw belum pernah diperlakukan semacam itu sama temen cowok.Kalau sama mantan pacar cewe gw sih sering dulu kalau gw sakit suka diurusin.Tapi temen cowok gak ada yang kayak Rafi.Sakit ya paling ditanyain doang udah minum obat belom,buat istirhat aja biar besok enakan,paling gitu gitu aja.Makanya gw tersentuh sama perlakuan Rafi hari itu.Waktu dia udah tidur di samping gw,gw pandangin muka dia dengan perasaan aneh.Gw mulai berpikir selama ini gw hampir tiap sore main ke tempat dia kerja,semacam udah jadi kebiasaan.Gw sering chatingan sama dia bahas banyak hal.Gw jadi nyadar di history chat gw banyakan chat dari Rafi timbang dari yg lain.Gw jadi nyadar sering saling nanya di chat kayak "lg ngapain bro",belum tidur bro," sama rafi sedangkan sebelum kenal dia gw gak pernah chatingan semacam itu sama temen cowok kalau bukan krna mau ngomomgin hal penting.]]>
        </description>
    </item>
    <item>
        <title>R A F F A + E V A N</title>
        <link>https://boyzforum.qiarchive.org/discussion/16730638/r-a-f-f-a-e-v-a-n</link>
        <pubDate>Wed, 29 Jun 2011 04:59:25 +0000</pubDate>
        <category>BoyzStories</category>
        <dc:creator>bibay007</dc:creator>
        <guid isPermaLink="false">16730638@/discussions</guid>
        <description><![CDATA[Ini Kisah tentang Persahabatan Gua dengan Evan...<br />
Ini Kisah tentang Gua dan Evan...<br />
.....................<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Copyright © Raffa + Evan<br />
<br />
2011 by bibay007 | All rights reserved | Seluruh tulisan dan cerita pada serial ini merupakan hasil tulisan sendiri, dan jika ada kesamaan nama atau karakter dan lain sebagainya, itu merupakan kebetulan. Segala bentuk penggandaan untuk kepentingan komersial, pengakuan sebagai hak milik, klaim dan lain sebagainya atas serial ini adalah ilegal dan tidak diizinkan.<br />
<br />
Foto RAFFA (Kiri) &amp; EVAN (Kanan)]]>
        </description>
    </item>
    <item>
        <title>kumpulan cerita misteri by @ruby</title>
        <link>https://boyzforum.qiarchive.org/discussion/16743954/kumpulan-cerita-misteri-by-ruby</link>
        <pubDate>Sun, 26 Jan 2014 09:23:53 +0000</pubDate>
        <category>BoyzStories</category>
        <dc:creator>ruby</dc:creator>
        <guid isPermaLink="false">16743954@/discussions</guid>
        <description><![CDATA[Cerita di bawah adalah cerita misteri yg mengandung teka-teki. Beberapa sengaja dibuat belum selesai dan menggantung, agar kalian bisa menarik kesimpulan berdasarkan persepsi kalian. Ada yg bisa memecahkan teka-tekinya?<br />
<br />
Yang mau ikutan cerita dipersilakan <img src="https://boyzforum.qiarchive.org/resources/emoji/smile.png" title=":)" alt=":)" height="20" /><br />
<br />
disclaimer : beberapa bukan karya loly sendiri, repost dari kaskus <img src="https://boyzforum.qiarchive.org/resources/emoji/smile.png" title=":)" alt=":)" height="20" /> ]]>
        </description>
    </item>
    <item>
        <title>Gairah OM OM Muda by Leoverry</title>
        <link>https://boyzforum.qiarchive.org/discussion/16751822/gairah-om-om-muda-by-leoverry</link>
        <pubDate>Thu, 27 Dec 2018 11:07:32 +0000</pubDate>
        <category>BoyzStories</category>
        <dc:creator>Leoverry</dc:creator>
        <guid isPermaLink="false">16751822@/discussions</guid>
        <description><![CDATA[Oleh Leoverry<br />
<br />
Di usia yang baru 17 tahun aku sudah banyak mengenal gadun. Beberapa kali aku juga menjalin hubungan yang cukup serius, seperti pacaran meskipun aku akui kalau aku tidak tulus mencintai mereka. Tak banyak teman-teman dekatku yang mengetahui rahasiaku ini, apalagi keluarga. Justru yang tahu adalah orang-orang yang aku kenal ketika masuk ke dalam dunia ini.<br />
<br />
Istilah gadun bukan hal yang asing di antara remaja sekolah seusia kami, terutama di Jakarta, tempat sekarang aku tinggal. Bahkan beberapa teman cewek di sekolah sering membahasnya dan aku sering kali cuek saja, karena sebagai cowok terasa risih ketika membahas tentang om-om.<br />
<br />
Namaku Reza siswa Kelas XII salah satu SMA Swasta di Jakarta. Dari kecil aku sudah merasakan ketertarikan dengan laki-laki, saat itu aku belum memahaminya sama sekali. Aku pernah bermimpi memeluk teman kelasku waktu SD, dan dia cowok. Perlahan fantasiku tentang cowok semakin kuat, aku sering membayangkan tentang adegan-adegan seksual dengan cowok, objeknya tentu saja teman-teman sekolahku.<br />
<br />
Aku banyak mendapatkan bahan dari internet yang aku akses melalui smartphoneku. Ada rasa hangat begitu melihat gambar-gambar pria macho dan ganteng, padahal aku bukan orang yang kemayu. Kadang ketika secara tidak sengaja melihat foto profil cowok ganteng di beranda facebook aku akan langsung mengecek detail yang punya akun. Meskipun seringkali ternyata itu akun palsu. Kadang ada juga yang berbagi video porno sejenis melalui facebook, aku menikmatinya meskipun beberapakali aku mencoba menggosok-gosok kemaluanku dan tidak ada yang terjadi, hanya mengeras saja. Hal itu terus terjadi sampai usiaku 12 tahun dan puncaknya adalah saat pertama kali sperma meluncur keluar dari penisku.<br />
<br />
Kejadian itu bermula saat aku duduk di kelas VIII semester dua. Waktu itu kakak sepupuku menikah dan Pakde Agus (kakaknya papa) mengadakan resepsi di rumahnya yang ada di Salatiga. Kami sekeluarga berangkat dan akan menginap di tempat Pakde Agus selama beberapa hari. Kami tiba di lokasi sore harinya. Awalnya papa mengajak kami menginap di Hotel karena rumah Pakde Agus digunakan untuk rangkaian acara pesta pernikahan, tapi jarak pusat kota ke rumah Pakde Agus sangat jauh, jadi papa memutuskan kami akan menginap di rumah Pak Darmin tetangganya Pakdeku.<br />
<br />
Rumah pak Darmin cukup luas seperti rumah-rumah di desa pada umumnya, tidak terlalu banyak desain. Ada tiga kamar tidur, ruang tamu dan ruang keluarga yang ukurannya besar-besar serta dapur. Kamar mandinya ada di luar di samping sumur dan hanya disekat dengan karung plastik bekas. Sore itu kami istirahat sebentar di salah satu kamar yang masih lumayan berantakan. Papa dan mama sudah mandi ketika aku bangun.<br />
<br />
"Ja, mandi sana gi, bentar lagi kita mau ke tempat Pakde" ucap mama sambil memegang pundakku.<br />
<br />
Aku mengangguk dan berjalan menuju pintu belakang sambil menenteng handuk dan sikat gigi. Terlihat beberapa ember besar telah terisi air, kelihatannya sudah disiapkan oleh yang punya rumah. Aku membuka pakaianku dan menyisakan celana dalam saja lalu mulai mengguyur tubuhku dengan air yang ada di ember, terasa begitu segar. Suasana sore di desa ini benar-benar bikin betah. Entah sudah berapa lama aku menikmati mandi sore itu sampai aku tidak sadar ketika seorang remaja laki-laki berdiri hanya menggunakan celana dalam saja tepat di sampingku.<br />
<br />
Aku terkejut ketika dia memberi tanda kehadirannya dengan batuk kecil. Sebagai orang yang sudah terbiasa membangun fantasi tentang keindahan tubuh laki-laki, tentu saja mataku langsung memandangi setiap senti tubuh cowok yang hanya menggunakan CD itu.<br />
<br />
Untuk cerita lengkapnya dapat mengunjungi <a href="https://www.wattpad.com/story/171795984-gairah-om-om-muda" rel="nofollow">https://www.wattpad.com/story/171795984-gairah-om-om-muda</a>]]>
        </description>
    </item>
    <item>
        <title>Cerita Secangkir Kopi     (Wayang Golek page 90)</title>
        <link>https://boyzforum.qiarchive.org/discussion/16713737/cerita-secangkir-kopi-wayang-golek-page-90</link>
        <pubDate>Tue, 21 Jul 2009 04:53:39 +0000</pubDate>
        <category>BoyzStories</category>
        <dc:creator>caramel_machiatto</dc:creator>
        <guid isPermaLink="false">16713737@/discussions</guid>
        <description><![CDATA[Duh, pembicaraan si mamah kok jadi panjang lebar begini.....<br />
<br />
tapi ini suatu pembuktian bahwa yg empunya cerita sayang banget ma mamahnya....<br />
<br />
but still.., WE WANT MORE.... WE WANT MORE....<br />
<br />
WE WANT MOOOOREEEE.........................  <img src="https://boyzforum.qiarchive.org/resources/emoji/lol.png" title=":D" alt=":D" height="20" />  <img src="https://boyzforum.qiarchive.org/resources/emoji/lol.png" title=":D" alt=":D" height="20" />  <img src="https://boyzforum.qiarchive.org/resources/emoji/lol.png" title=":D" alt=":D" height="20" />  <img src="https://boyzforum.qiarchive.org/resources/emoji/lol.png" title=":D" alt=":D" height="20" />  <img src="https://boyzforum.qiarchive.org/resources/emoji/lol.png" title=":D" alt=":D" height="20" /><br />
<br />
<br />
NB: Jgn sering2 bahasa sunda atuh, saya orang bali agak ribet bacanya......[/quote]<br />
<br />
aduh makasih udah dateng jauh2 dari bali mampir ke sini. hehe...<br />
gapapa atuh yah ada bahasa sunda nya. sekalian belajar bahasa sunda. <img src="https://boyzforum.qiarchive.org/resources/emoji/smile.png" title=":)" alt=":)" height="20" /><br />
<br />
haturnuhun.<br />
<br />
<i>(haturnuhun = terimakasi)</i>]]>
        </description>
    </item>
    <item>
        <title>Friends Around Me (Dihapus)</title>
        <link>https://boyzforum.qiarchive.org/discussion/16738331/friends-around-me-dihapus</link>
        <pubDate>Fri, 02 Nov 2012 12:46:45 +0000</pubDate>
        <category>BoyzStories</category>
        <dc:creator>totalfreak</dc:creator>
        <guid isPermaLink="false">16738331@/discussions</guid>
        <description><![CDATA[Selamat Membaca!!<br />
<br />
Bagi yang baru baca dari awal ni daftar list page-nya :<br />
<br />
<b>Friends Around Me -  The Sacrifice (Bryan's Book - END)<br />
<br />
Page 1  : Part 1 - 6<br />
Page 2  : Part 7 - 8<br />
Page 3  : Part 9 - 10<br />
Page 4  : Part 11<br />
Page 5  : Part 12 - 13<br />
Page 6  : Part 14 - 19<br />
Page 11 :Part 20 - 24<br />
<br />
Friends Around Me 2 - The Trust (Kristan's Book - END)<br />
<br />
Page 16 : Part 1<br />
Page 17 : Part 2 - 3<br />
Page 19 : Part 4 - 5<br />
Page 20 : Part 6 - 8<br />
Page 24 : Part 9 - 11<br />
Page 25 : Part 12 - 14<br />
Page 26 : Part 15 - 16<br />
Page 27 : Part 17<br />
Page 28 : Part 18 - 20<br />
<br />
<i>One Shoot</i><br />
Pege 112 : Bryan's Book - Hidden Note<br />
<br />
Page 33 : Part 21 - 22<br />
Page 36 : Part 23<br />
Page 37 : Part 24 - 25<br />
Page 38 : Part 26 - 27<br />
Page 41 : Part 28<br />
Page 44 : Part 29 - 30<br />
<br />
Friends Around Me 3 - The Choices (Dharma's Book - END)<br />
<br />
Page 51 : Part 1<br />
Page 53 : Part 2<br />
Page 54 : Part 3<br />
Page 57 : Part 4<br />
Page 58 : Part 5<br />
Page 60 : Part 6<br />
Page 61 : Part 7<br />
Page 63 : Part 8<br />
Page 65 : Part 9<br />
Page 66 : Part 10<br />
Page 67 : Part 11 - 14<br />
Page 68 : Part 15 - 16<br />
Page 70 : Part 17<br />
Page 74 : Part 18 - 20<br />
Page 76 : Part 21<br />
Page 80 : Part 22<br />
Page 83 : Part 23<br />
Page 87 : Part 24<br />
Page 89 : Part 25 - 26<br />
<br />
<i>One Shoot</i><br />
Pege 128 : Kristan's Book - Additional Resume<br />
<br />
Friends Around Me 4 - The Conflict (Dharu's Book - Proses)<br />
<br />
*Friends Around Me 5 - The Decision (Erfan's Book - Rencana)</b><br />
<br />
<br />
<br />
Proses penyelesaian masing-masing season lumayan lama, jadi kalau di masa yang akan datang forum dan niat menulis masih ada, moga bisa dilanjutin sampai tamat.]]>
        </description>
    </item>
    <item>
        <title>&quot;Tom needs Jerry&quot; (cerpen pertama gue)</title>
        <link>https://boyzforum.qiarchive.org/discussion/16730990/tom-needs-jerry-cerpen-pertama-gue</link>
        <pubDate>Thu, 04 Aug 2011 06:53:32 +0000</pubDate>
        <category>BoyzStories</category>
        <dc:creator>ILOVEU123</dc:creator>
        <guid isPermaLink="false">16730990@/discussions</guid>
        <description><![CDATA[Hai boyzforum. Ini pertama kali nya gua post disini, tp gw udah tau lama tentang BoyzForum. Gw rasa forum ini bagus buat share dan berkarya. Ini cerpen pertama gua,Tema nya tentang percintaan. maaf kalo rada aneh dan ngga nyambung, but enjoy it! <img src="https://boyzforum.qiarchive.org/resources/emoji/smile.png" title=":)" alt=":)" height="20" /><br />
<br />
-Chapter 1-<br />
&quot; new school &quot;<br />
Nama gua Jerremia. Panggil gua Jerry. Gw lahir di kalangan orang menengah keatas. jadi jangan heran kalau tiap hari gw selalu naik mobil ke sekolah. Postur tubuh gua berisi, dengan tinggi badan yang standart di Indonesia, 169 cm, muka Indonesia. gw bawel di kelas, rusuh sama temen-temen cowo. Tapi di lubuk hati gua yang terdalam, gw ini Rapuh. Ya, gw gapernah mendapatkan cinta yang sesungguhnya. Kadang di sekolah gua sering iri sama temen-temen lain yang di anter jemput sama pacarnya, nonton bareng dan diperhatiin sama pacar mereka. Jujur, dari kelas 1 SMP sampe sekarang gua udah SMA, gua gapernah dapet sosok yang pas sama gua. Gw udah mencoba mendekati seorang cewek, bahkan sampai dating dan sebagainya. Belum keburu gw tembak, gw tinggalin dia, karena gw merasa ga nyaman sama cewek.<br />
Cerita di mulai saat gw baru masuk di kelas 1 SMA. Anak baru menghiasi mata gw. Gaada yang menarik di mata gua. waktu pembagian kelompok MOS, gue pun mulai berkenalan dengan seorang cowok Chinesse, yang ramah dan cool banget.<br />
&quot; Hey Kenalin,  Rey &quot; sahut Rey sambil menjabatkan tangannya.<br />
&quot; Jerry &quot; jawab gua sambil tersenyum terpanah.<br />
&quot; Papan nama kamu mana? &quot;<br />
&quot; Di atas nih rey, kenapa? &quot;<br />
&quot; Hm ketinggalan pasti, yuk ambil sama aku ke atas ! &quot; Ajak Rey.<br />
Aku pun langsung ke atas bareng dia dengan wajah memerah. Mungkin karena dia memakai &quot;aku kamu&quot; dan kharisma nya, yang aku impi-impikan dari dulu. Sejak pertama berkenalan, gw udah melting sm dia.<br />
Di perjalanan kita melakukan obrolan singkat.<br />
&quot; Kamu dr SMP mana? &quot; Tanya Rey.<br />
&quot; Dari SMP ***** &quot; jawab gw<br />
&quot; Wah aku deket situ loh rumahnya. Km rumahnya dimana? &quot;<br />
&quot; Aku di ****** , knp ? &quot;<br />
&quot; Wahhh aku bisa anter kamu dong pulang, rumahku disitu juga&quot;<br />
Sumpah demi apa gua gapernah kenal cowok sebaik dia. Gw seneng banget nanti di anter sama dia. Jadi sopir gua ga perlu capek anter jemput gua.<br />
Dan bell pun berbunyi , waktu untuk pulang pun tiba.<br />
&quot; hey pangeranku, silahkan naik, keburu ujan nih &quot; ajak Rey sambil tersenyum<br />
Gua pun segera naik dengan wajah memerah.<br />
( Bersambung ke Chapter 2 ) ]]>
        </description>
    </item>
    <item>
        <title>Philophobia, lucu gak sih?</title>
        <link>https://boyzforum.qiarchive.org/discussion/16751854/philophobia-lucu-gak-sih</link>
        <pubDate>Fri, 26 Apr 2019 05:48:31 +0000</pubDate>
        <category>BoyzStories</category>
        <dc:creator>say_my_name971015</dc:creator>
        <guid isPermaLink="false">16751854@/discussions</guid>
        <description><![CDATA[<p>Hidup memang akan indah kalau dihiasi dengan berbagai perasaan, apalagi cinta. Beuh. Bahkan tidak sedikir orang yang mengejar cinta lebih buruknya mengemis.</p><p>Cinta? Apasih itu? Penting gak sih? Lagu cinta itu banyak ada senang sedih galau bingung dan lain-lain compleks ya?</p><p>Dalam seluruh rasa dalam cinta, pernahkah merasa takut akan cinta? Meragukan cinta, lebih buruknya tidak percaya cinta. </p><p>Hidup sebagai seorang philophobia itu tidak gampang-dari sudut pandang yang aku jalani- ekspektasi sih ingin mencari pasangan namun apa daya, baru di deketin aja udah takut, panik dan tidak nyaman. Ingin tidak dikejar. Parahnya sampai nangis-nangis saking takutnya ada orang yang naksir. Menjauhi teman karena di kompor-kompori si temen suka ke kitanya. Tidak nyaman. Pengen marah tapi untuk apa.</p><p>Berpikir untuk hidup melajang saat ini. Hidup sendiri tidaklah buruk karena kesepian memang teman abadi.</p><p>Sempat berpikir apa untungnya menikah dan menjalin hubungan-pacaran- karena dia orang datang dalam hidup dan singgah akhirnya pergi sebagai orang lain. Orang lain yang hidup satu atap akan tetap menjadi orang lain, dia yang tidak aku kenal. Hidup, singgah dan pergi. Yang mengikat hanya cinta. Apa cinta bersifat abadi atau hanya temporary?</p><p>Sampai saat ini panik itu masih ada. Bukan karena tidak bisa jatuh cinta tapi memilih untuk menghindarinya sementara waktu sampai rasa takut ini lenyap, dengan sendirinya.</p><p><br /></p><p>Ini bukan cerita cuma numpang curhat aja :&#39;)</p>]]>
        </description>
    </item>
    <item>
        <title>AKU KAMU dan DIA</title>
        <link>https://boyzforum.qiarchive.org/discussion/16751652/aku-kamu-dan-dia</link>
        <pubDate>Mon, 25 Dec 2017 08:44:02 +0000</pubDate>
        <category>BoyzStories</category>
        <dc:creator>cowokkumal</dc:creator>
        <guid isPermaLink="false">16751652@/discussions</guid>
        <description><![CDATA[Hi guys ini cerbung pertamaku, mungkin akan sedikit aneh, happy reading gayss]]>
        </description>
    </item>
    <item>
        <title>Daftar Cerita yang Sudah Tamat di BF (Pengarang , Judul +Link) up 01.06.14</title>
        <link>https://boyzforum.qiarchive.org/discussion/16740892/daftar-cerita-yang-sudah-tamat-di-bf-pengarang-judul-link-up-01-06-14</link>
        <pubDate>Sat, 25 May 2013 16:40:26 +0000</pubDate>
        <category>BoyzStories</category>
        <dc:creator>yuzz</dc:creator>
        <guid isPermaLink="false">16740892@/discussions</guid>
        <description><![CDATA[ Thread ini dibuat untuk memudahkan temen2 sekalian yang pingin baca cerita di BF, terutama buat yang males baca cerita yang ujung2nya gantung,hehe.<br />
<br />
Dibawah ini adalah list pengarang (A-Z) ; Judul Cerita ; dan Link Cerita.<br />
<br />
Daftar akan diperbaharui secara berkala jika ada cerita yang sudah tamat plus Cerpen/Oneshoot.<br />
<br />
Check this out..!<br />
<img src="https://boyzforum.qiarchive.org/resources/emoji/lol.png" title=":D" alt=":D" height="20" /><br />
<br />
<br />
<br />
Nb: Thread penting di Boyzstories yang disarankan dibaca bagi author dan reader baru ataupun lama<br />
<br />
Tentang 'Kritik' dan 'Mengkritik Cerita' di Boyzstories ===&gt; <a href="http://boyzforum.com/discussion/16742891/tentang-kritik-dan-mengkritik-cerita-di-boyzstories/p1" rel="nofollow">http://boyzforum.com/discussion/16742891/tentang-kritik-dan-mengkritik-cerita-di-boyzstories/p1</a> <br />
<br />
]]>
        </description>
    </item>
    <item>
        <title>Cowok tulalit</title>
        <link>https://boyzforum.qiarchive.org/discussion/16751871/cowok-tulalit</link>
        <pubDate>Tue, 16 Jul 2019 10:13:20 +0000</pubDate>
        <category>BoyzStories</category>
        <dc:creator>giohz23</dc:creator>
        <guid isPermaLink="false">16751871@/discussions</guid>
        <description><![CDATA[Today my heart is burn. <a href="https://boyzforum.qiarchive.org/profile/nendra94" rel="nofollow">@nendra94</a> last online 20 juni 2019. September 2018 tanpa sepatah katapun dia menghilang, lenyap begitu saja. Dia sengaja menyembunyikan dirinya dan tidak membaca pesan2ku. Itu bukan kali pertama dia melakukannya. Sebelumnya, sudah 2x dia mencoba lenyap namun selalu berhasil aku temukan. Dulu dia begitu menawan di mataku. Baik, cerdas, bahkan dia menerima kondisiku meskipun statusku sudah sebagai odha sejak awal. Tahun baru 2018 adalah saat di mana dia menginginkanku untuk melangkah menghadapi hidup bersama2. Kami saling menjaga dan support satu sama lain. Aku melakukan segala cara untuk bisa membahagiakannya. 2 bulan kami pacaran dia memutuskan keluar rumah. Selama itu, dia selalu berkata besar padaku bahwa penghasilannya sangat cukup untuk dia hidup. Namun kenyataannya berbeda. Tidak ada satu tandapun bahwa dia baik2 saja. Dia kacau. Penampilannya berantakan, tidur di sembarang tempat, tubuhnya mengurus, dia jarang mau makan dan merawat dirinya untuk menghemat uangnya. Di kondisinya yg seperti itu dia masih saja keras kepala. Impiannya menjadi seorang alpha male dan orang kaya membutakannya untuk sekedar menerima kondisinya. Yang dia inginkan adalah aku diam dan tak usah mempedulikannya. Dia merasa lemah dan sungkan saat ada orang yg mengasihaninya. Aku tunda segala rencana yg ingin kami lakukan. Menunggunya siap, namun aku tetap berusaha menghibur dan membantunya meski dia melarangku. Di kondisinya yg seperti itu aku juga ikut memutar otak agar bisa meringankan bebannya. Aku tidak mengerti, kenapa dia masih sering sekali angkuh dengan kondisinya yg sudah seperti itu. Tidak hanya sekali dia menghinaku dengan sebutan bodoh saat mencoba membantunya. Dia makin sering menghinaku dan makin sering tak mau menyampaikan alasan perbuatannya yang seringkali tak masuk akal. Dia lebih suka menghinaku daripada membuatku mengerti. Tidak hanya sekali kami bertengkar karena aku yg bertanya kenapa, dan dia yg selalu lari. Saat dia tidak jelas dan menghilang aku selalu mencarinya dan berusaha menyelesaikan apa masalahnya agar kami kembali baik2 saja. Apapun kesalahannya aku selalu memaafkannya. Aku baik/ bodoh? Aku meminjamkan netbookku satu2nya untuk dia bekerja mencari uang agar dia ttp bisa hidup. Sempat dia jelas ingin membawanya kabur lenyap bersamanya namun aku berhasil menemukannya.  Saat aku mengambil paksa barangku karena sikapnya, dia benar2 sudah seperti pencuri. Dia mengikutiku, menghimpit motorku ditengah jalan raya, dan mengambil diam2 netbookku dari dalam tasku saat aku sedang lengah mengisi bensin. Di saat itu reflek aku mencabut kunci motornya yg berada di sampingku. Aku geram dengan sikapnya. Namun aku masih bersabar. Dengan pelan aku mengancamnya akan meneriakinya maling jika dia tidak memberikan netbookku. Dia membeku, terlihat dia takut sambil menyerahkan netbookku dr dlm tasnya. Pergi dari sana aku hanya bisa menghela nafas. kenapa dia jadi seperti ini. Aku memberikannya beberapa hari untuk memikirkan perbuatannya. Saat dia lengah aku melihat kondisinya. Ternyata dia punya cukup uang untuk membeli netbook sendiri. Miris, dengan uang yg dia punya dia lbh memilih membawa kabur milikku. Jujur aku sudah sangat lelah. Tapi lagi2 kakiku tetap melangkah menghampirinya. berusaha meminta alasannya dan berusaha memperbaiki hubungan kita. Hanya karena aku odha, cacat, merasa tidak berharga, lagi2 aku kembali merendahkan diriku. Berharap dia bisa menepati janjinya dan bisa kembali seperti dulu lg. Akhirnya  semuanya terulang. Netbook yang ia beli rusak. Dia kembali meminjam milikku. Lalu dia mengulangi perbuatannya. Kemudian menghilang. Kali ini dia berpindah keluar kota agar aku tidak bisa menemukannya. Sampai detik ini aku masih membuat alasan saat kakak dan ibuku menanyakan keberadaan netbookku yg tidak juga dikembalikan. Aku sempat mencarinya sejauh yg aku bisa tetapi tetap tidak bisa menemukannya. Aku sempat stress, aku semakin sering terlambat minum arv yg harusnyadiminum tepat waktu agar aku tetap bisa sehat. Bahkan aku sempat ingin mengakhiri hidupku hanya karena tak bisa menerima kenyataan kalau dia sudah bukan dia yg dulu. Dia berhasil meningkalkan luka yg sampai sekarang masih membekas. Semangat hidupku sudah tak sekuat dulu sebelum aku bersamanya. Dikecewakan dan ditinggalkan membuatku semakin melihat bahwa diriku tidak berharga. Tp aku masih bersyukur. Dalam perang melawan kesedihanku aku masih menang dan bernafas sampai detik ini. Jujur aku belum bisa mengikhlaskan apa yg dia ambil karena itu dari keringat orang tuaku. Terlebih itu bukan hal kecil bagi keluarga kurang mampu seperti keluarga kami.]]>
        </description>
    </item>
    <item>
        <title>P.R.I.A</title>
        <link>https://boyzforum.qiarchive.org/discussion/16751873/p-r-i-a</link>
        <pubDate>Thu, 25 Jul 2019 04:55:04 +0000</pubDate>
        <category>BoyzStories</category>
        <dc:creator>Monster26</dc:creator>
        <guid isPermaLink="false">16751873@/discussions</guid>
        <description><![CDATA[The Wedding Invitation<br />
( One shoot )<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Chan terdiam, kepalanya tertunduk, kedua lengannya tertumpuk di atas meja, di depannya, terdapat sebuah amplop putih berhias dua ekor merpati.<br />
Di seberangnya, duduk seseorang yang memberikan amplop putih tersebut padanya,<br />
<br />
“aku mau kamu nemenin aku” ujar Yoven, pria yang memberikan amplop pada pemuda tertunduk itu,<br />
<br />
Chan mengangkat kepalanya, matanya menatapi Yoven,<br />
<br />
“buat?” tanyanya，<br />
<br />
Sebuah pertanyaan menggantung menurut Yoven,<br />
<br />
“aku nggak ngerti apa maksud pertanyaan kamu” <br />
<br />
“aku lebih nggak paham sama apa yang kamu kasih ke aku” sergah Chan cepat,<br />
<br />
Yoven menelan ludah, mulutnya terbungkam, ia mengalihkan pandangannya pada arah lain, tak mau membalas tatapan lurus Chan terhadapnya,<br />
“kalau kamu emang udah mutusin gitu, yaudah... aku juga nggak maksa, aku ngalah” Chan merendahkan tatapannya, menjadikan matanya terlihat sayu,<br />
<br />
“untuk yang terakhir kali” sambung Yoven cepat,<br />
<br />
Chan menggeleng pelan, ia berusaha menampilkan senyum termanisnya, <br />
<br />
“aku rasa nggak perlu”<br />
<br />
Lagi-lagi Yoven terdiam,<br />
<br />
“aku mohon… temenin aku”<br />
<br />
Kesabaran Chan habis, meskipun tak terlihat kesal, ia bangkit berdiri, meninggalkan Yoven. Yoven mengarahkan pandangan dan kepala mengikuti Chan yang berlalu hingga pemuda bertubuh mungil itu menghilang dari pandangannya.<br />
Yoven terduduk sendiri di dalam cafe itu.<br />
<br />
<br />
***<br />
<br />
Chan berdiri termenung di dalam halte busway, banyaknya orang yang berdiri di belakangnya tak ia hiraukan. Pikirannya masih saja bernaung pada kejadian beberapa saat lalu. Ia benar-benar tak habis pikir kalau Yoven, pria itu, pria yang beberapa waktu lalu bersamanya, dapat melakukan hal yang menurutnya bukanlah sebuah lelucon.<br />
Mengajaknya untuk bertemu, lalu menyodorkannya sebuah undangan, ya… sebuah undangan pernikahan, dan herannya lagi, ia meminta dirinya untuk menemani Yoven untuk berjalan masuk ke dalam ruangan acara?<br />
<br />
Apakah pikiran Yoven terbuat dari batok kelapa? Apakah dengan menggunakan cara seperti itu Yoven dan juga Meisya, calon istrinya itu dapat mentertawakan Chan dengan sepuasnya hingga terjatuh dari pelaminan?<br />
Lucu? Tidak.<br />
<br />
Bus yang di tunggu datang dan merapat, Chan bersama orang-orang yang sudah mengantri, mempercepat langkah untuk masuk ketika pintu bus terbuka. Suasana di dalam bus tak begitu ramai, meskipun sewaktu mengantri tadi orang terlihat sangat banyak. Bus yang membawa  Chan dan penumpang lainnya, mulai beranjak meninggalkan halte, melaju perlahan-lahan bersama-sama kendaraan lain, membelah jalanan ibukota. <br />
<br />
<br />
*** <br />
<br />
Malam harinya, Chan terduduk di balkon kamarnya. Malam semakin larut, jarum jam menunjukkan pukul 23:45, pemuda itu masih belum dapat terlelap. Berulang kali ia mencoba membenamkan dirinya dalam tidur, berulang kali ia terjaga, setelahnya, ia memutuskan untuk duduk di balkon. Suasana sekitar sangat sepi.<br />
Dering tanda pesan masuk pada ponsel memecah keheningan, Chan menarik turun layar ponsel, melihat dari tampilan layar, sebuah pesan dari Yoven,<br />
<br />
“Chan...”<br />
<br />
Chan melengos, menghela nafas kecil, meletakkan ponselnya di sampingnya, tak berniat untuk membalas. Untuk kedua kalinya ponselnya berdering. Cuek, namun penasaran, Chan mengambil ponselnya itu, dan dilihatnya,<br />
<br />
“aku di depan kamar kamu, tolong bukain pintu”<br />
<br />
Kedua mata Chan terbelalak terpaksa, lalu ia arahkan pandangannya pada pintu yang letaknya sejajar dengan balkon tempat ia duduk. Pemuda yang tahun ini berusia 25 tahun tersebut berdiri, berjalan mengendap-ngendap ke arah pintu, ia lalu menempelkan telinganya pada daun pintu. Telinganya tak menangkap suara apapun. Rasa penasarannya pun muncul, dengan gerakan yang sangat pelan, ia memutar kunci dan gagang pintu, menyembulkan kepalanya dari balik pintu, menggerakkannya ke arah kiri, tak ada siapapun disana. Saat menengok ke arah kanan, wajah Chan menempel di perut seseorang.<br />
<br />
Bagai maling yang terpergoki ingin mencuri, Chan mengangkat kepalanya perlahan-lahan, dilihatnya wajah Yoven yang tersenyum kecil ke arahnya. Malu. Buru-buru ia menutup pintunya, tapi ternyata dirinya kalah cepat, tangan Yoven yang kokoh menahan pintu untuk tidak tertutup. Semakin kuat Chan bertenaga untuk menutup pintu, semakin besar pula tenaga Yoven untuk menghalangi pemuda itu menutup pintunya. Pintu terbuka dengan paksa, Chan menyerah, harus ia akui, tenaga Yoven bukanlah tandingannya.<br />
<br />
Berada di dalam kamar, Yoven terlihat mengatur nafas, dadanya naik turun, dua orang itu terlihat berusaha mengatur nafas agar kembali bernafas dengan normal,<br />
<br />
“kamu itu kenapa?” protes Yoven,<br />
<br />
“kamu aneh, nggak di ijinin masuk, tapi maksa” Chan gusar, mengambil posisi duduk di atas tempat tidur dengan posisi membelakangi Yoven,<br />
Yoven mengangkat kedua alisnya, menghela nafas besar, berusaha sabar menghadapi pemuda kecil yang selama 3 tahun belakangan ini menjadi tambatan hatinya. <br />
Pria berusia 30 tahun itu melangkah ke depan, ikut duduk di samping Chan, kepalanya di tolehkan ke kanan, melihati punggung kekasihnya itu,<br />
<br />
“marah?” tanya Yoven,<br />
<br />
Tak ada jawaban,<br />
<br />
Yoven menetralkan lagi kepalanya, kedua matanya menatapi lantai,<br />
<br />
“aku nggak heran kalau kamu marah” tukas Yoven lirih, <br />
<br />
Masih tak ada jawaban,<br />
<br />
“maaf kalau aku nggak bisa jadi aku yang dulu”<br />
<br />
Suasana kamar menjadi hening, Yoven menjedakan dirinya, Chan masih saja tak bergeming.<br />
<br />
“aku masih sayang kamu”<br />
<br />
“bullshit!!” gumam Chan menanggapi,<br />
<br />
Yoven menoleh,<br />
<br />
“kamu momong apa? Aku nggak denger”<br />
<br />
“udah lah, nggak usah basa-basi, aku mau tidur”<br />
<br />
Yoven menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Chan merasakan per kasur bergerak, sesaat kemudian, ia mendengar suara pintu kamarnya tertutup. <br />
<br />
<br />
***<br />
<br />
Beberapa bulan kemudian setelah kejadian malam itu, tak ada lagi sosok Yoven yang menemani Chan, tak ada lagi bunyi pesan dari Yoven yang kepo dengan apa yang dirinya lakukan, tak ada lagi Yoven yang menjemputnya ketika jam pulang kerja tiba. Chan menjadi kehilangan semangat. <br />
<br />
Sore itu, pada saat Chan baru saja keluar dari dalam gedung kantor tempat dirinya bekerja, ia mendengar seseorang memanggilnya.<br />
Chan terlihat tak begitu nyaman dengan posisi duduknya, terlebih-lebih wanita yang duduk di hadapanya itu, tak henti-hentinya menatapi dirinya,<br />
<br />
“di bawa santai aja” tukas Meisya sembari menyesap Coffee latte hangat miliknya,<br />
Pemuda itu tak begitu memperdulikan perkataan Meisya, ia berusaha menghindara tatap mata dengan perempuan yang menurutnya adalah pelakor itu.<br />
<br />
“aku dengar dari Yoven, kamu lagi marah?”<br />
<br />
“dia aja yang lebay”<br />
<br />
Meisya tersenyum kecil,<br />
<br />
“tanggal 20 nanti, kamu bisa datang kan?”<br />
<br />
Kali ini, pandangan Chan tertuju lurus pada Meisya, untuk beberapa saat, mata indahnya itu tak berkedip,<br />
<br />
“ketemu Cuma buat ngobrolin ini? Iya?”<br />
<br />
Dengan anggun, Meisya meletakkan cangkir di atas piring tatakan,<br />
<br />
“memangnya, ada alasan apa lagi aku datang buat cari kamu?”<br />
<br />
Kedua alis tebal Chan perlahan-lahan tertarik ke arah tengah, rasa emosi di dalam dadanya perlahan-lahan merambat, dan hampir meluap. Tapi itu hanya sesaat, Chan berhasil mengontrol emosinya, berhasil meredam emosinya yang hampir saja meledak. Menurutnya, menghadapi wanita pelakor tidak harus dengan emosi, meskipun sebetulnya ia hampir saja emosi,<br />
<br />
“gimana?” Meisya kembali bertanya,<br />
<br />
Berpikir untuk sesaat, Chan menarik kedua sudut bibirnya, menyungging senyuman pada Meisya,<br />
<br />
“kamu cantik, pintar, menggoda”<br />
<br />
“terima kasih”<br />
<br />
Rasa penyesalan menyambangi dirinya ketika mendengar tanggapan Meisya,<br />
<br />
“kamu bisa menggaet siapapun yang kamu mau”<br />
<br />
Kedua terdiam dan saling pandang, tak ada satupun dari mereka yang berniat untuk mengalah dalam tatapan itu,<br />
<br />
“buat apa kamu meminta aku hadir ke pernikahan kamu? Jadi bahan tertawaan kamu? Jadi bahan ejekan kamu?”<br />
<br />
“kalau bukan Yoven yang minta, kamu pikir aku mau datang nemuin kamu?”<br />
<br />
“kurang aku satu rasanya pernikahan kalian juga bakal lancar-lancar aja kan?” sambung Chan tegas,<br />
<br />
Tatapan Meisya melonggar, memberikan ruang bagi dirinya sendiri untuk mengubah posisi duduknya dari tegang menjadi lebih santai,<br />
<br />
“aku sih mikirnya emang gitu”<br />
<br />
“terus?”<br />
<br />
“tapi karena Yoven yang minta, mau nggak mau aku turutin lah”<br />
<br />
“aku tarik lagi kata-kata pintarku tadi buat kamu, ternyata kamu nggak pintar-pintar amat kok ya”<br />
Wajah Meisya menegang, matanya mendelik lebar, seolah-olah ia bersiap untuk menelan Chan bulat-bulat,<br />
<br />
“buat apa kamu ngelakuin hal yang sebenarnya nggak mau? Meskipun itu D.I S.U.R.U.H”<br />
<br />
“D.I M.I.N.T.A” Meisya mengeja dan menegaskan perkataanya,<br />
<br />
“itu bahasa halusnya, kasarnya D.I S.U.R.U.H”<br />
<br />
Meisya terlihat menggengam erat kedua tangannya, mulutnya terbungkam rapat, ingin rasanya pada saat itu juga ia melayangkan sebuah tamparan di wajah Chan,<br />
<br />
“lelaki sejati, tidak ada waktu untuk berdebat dengan perempuan KURANG PINTAR”<br />
<br />
Selesai berkata, Chan bangkit berdiri, meninggalkan Meisya yang masih terlihat menatapi dirinya dengan tatapan tajam.<br />
<br />
<br />
***<br />
<br />
Seminggu berlalu, pertemuan dengan Meisya masih saja menyisakan bekas kekesalan pada benak Chan. Berulang kali ia berniat mengirim pesan pada Yoven, memaki pria itu di karenakan kedatangan Meisya, tapi berulang kali pula ia mengurungkan niatnya itu, di karenakan menurutnya tidaklah pantas dan tidaklah penting baginya untuk melakukan hal tersebut. Jika benar Chan memuluskan aksinya itu, ia akan di anggap sebagai orang pencemburu dan benar-benar akan menjadi bahan tertawaan Yoven.<br />
<br />
“mas Chan” panggil bu Dewi, cleaning Service di dalam kantor, saat perempuan paruh baya itu berdiri di dekat meja kerja nya,<br />
Sebelum menjawab, Chan sempat melihat perempuan paruh baya itu memegang sebuah kantong plastik berwarna hitam ditangannya,<br />
<br />
“eh ibu, ada apa bu”<br />
<br />
Kantong plastik yang di lihat Chan, di letakkan oleh perempuan itu di atas mejanya,<br />
<br />
“tadi ada kiriman di recepcionist, katanya buat mas Chan”<br />
<br />
Kedua alis pemuda itu terlihat mengerut,<br />
<br />
“buat saya?”<br />
<br />
Perempuan itu mengangguk,<br />
<br />
“oh ya, makasih ya bu”<br />
<br />
“sama-sama mas” ucapnya seraya berlalu, melanjutkan tugasnya,<br />
Untuk sejenak, mata Chan tak lepas dari kantong plastik di hadapannya, setelahnya, rasa penasarannya menuntun tangannya untuk mengeluarkan isi dari dalam kantong. Sebuah bungkusan berbentuk kotak. Di bantu gunting, Chan akhirnya mengetahui isi dari bungkusan tersebut yang ternyata adalah sebuah CD.<br />
Tak ada cover ataupun petunjuk mengenai CD tersebut. Polos. <br />
Sedikit terkejut melihat CD tersebut berisikan sebuah video. Kamera dalam video merekam sebuah ruangan, terlihat seperti ruang tamu, tepat di depan kamera terdapat sebuah kursi, tak berapa lama, mata Chan menangkap sesosok pria yang sangat ia kenal duduk pada kursi. Buru-buru Chan memasang earphone pada komputernya, agar suara dari video tersebut tak terdengar oleh rekan kerja lainnya,<br />
<br />
“hai... apa kabar, aku harap kamu baik-baik aja ya Chan” Yoven terlihat jeda dalam video, <br />
<br />
“aku tau kamu marah, kesel, benci sama aku, tapi aku nggak... sampai kapanpun aku nggak bisa benci kamu, dan nggak bakal bisa lupain kamu”<br />
<br />
“anggap aja aku pecundang, karena berani ngungkapin perasaan lewat vidio ini, kara kalau kita ketemu, selalu nggak ada omongan apa-apa dari kamu”<br />
<br />
Yoven kembali jeda,<br />
<br />
“Chan, aku sayang banget sama kamu, sayang banget”<br />
<br />
Chan tertegun, niat awalnya ia ingin menyudahi video itu, namun entah mengapa, ia masih melanjutkan untuk menonton,<br />
<br />
“tiga hari lagi aku udah melepas masa lajang, dan sampai saat ini, aku masih belum geliat kamu lagi, aku kangen kamu Chan”<br />
<br />
“aku udah berusaha nemuin kamu, berusaha hubungin kamu, tapi kamu nggak balas setiap pesanku, nggak jawab panggilan dari aku”<br />
<br />
Dalam hatinya, Chan membenarkan apa yang di katakan Yoven dalam rekaman,<br />
<br />
“aku tau, nggak seharusnya aku milih buat menikah, karena sebelumnya aku udah pernah janji sama kamu bakal selalu sama kamu sampai kapanpun”<br />
<br />
“kamu tahu? Foto-foto kita, video-video kita masih aku simpen, karena kalau aku kangen kamu, kangen senyuman kamu, aku bisa liatin foto sama video itu”<br />
<br />
“aku minta kamu datang di hari aku menikah nanti, bukan karena mau nertawain kamu, ngejek kamu atau semua pikiranmu buruk lainnya, aku cuma ingin kamu jadi saksi ku, kalau aku kuat buat ngejalanin semua prosesinya”<br />
<br />
Chan ingat, kata-kata pada detik itu dalam video, adalah kata-kata yang di ucapkan pada Meisya beberapa waktu lalu. Wanita itu pasti bercerita pada Yoven, sehingga Yoven dapat mengulang kembali kata-kata itu.<br />
<br />
“sedangkan aku tahu, kalau kamu di sana, hati kamu jadi semakin sakit, tapi Chan... aku Bener-bener butuh kamu”<br />
<br />
Wajah Yoven yang putih bersih terlihat mulai memerah, Chan hafal, jikalau sudah seperti itu, hanya ada dua kemungkinan, marah, ataupun menangis. Nyatanya, di dalam rekaman, Yoven terlihat berulang kali menundukkan wajah, berbicara namun tak menatap ke arah kamera, makin lama, suara tangis Yoven semakin nyaring. Chan tak bergeming. Seingatnya, terakhir kali ia melihat Yoven menangis seperti itu ketika pemakaman ayahnya, sebuah tangisan kehilangan.<br />
<br />
“aku Bener-bener butuh kamu Chan...”<br />
<br />
Yoven sesenggukan. Chan terbawa suasana. Air mata terlihat mulai berkumpul di pelupuk matanya. Sekuat tenaga ia berusaha menahan mereka agar tak menetes, tapi karena terbawa oleh suasana dari rekam video Yoven, air mata yang di tahan-tahannya itu mengalir beriringan. Buru-buru Chan mengusapnya, takut di lihat rekan kerja lainnya.<br />
Selebihnya, video itu di edit dengan campuran video-video pendek yang di rekam oleh Yoven dalam berbagai momen. Dalam keterharuannya, Chan terlihat tertawa mendesis, ketika rekaman video editan menampilkan video yang di rekam oleh Chan sendiri ketika Yoven sedang tertidur dengan posisi kacau dan suara dengkurannya yang kencang.<br />
Harus Chan akui, kebersamaan mereka selama tiga tahun itu, menyisakan begitu banyak kenangan yang sekarang itu hanya dapat di kenang olehnya. Melalui video itu, perasaan Chan mulai sedikit melunak. Namun ia masih belum memutuskan apakah pada hari-H ia akan mendatangi acara pernikahan Yoven.<br />
<br />
<br />
***<br />
<br />
20 Juni 2017<br />
<br />
Chan memutuskan untuk datang ke lokasi, tempat di mana Yoven akan melangsungkan pernikahan. Sebelumnya ia sempat merutuki dirinya sendiri ketika ia tak tahu di mana lokasi Yoven menikah, di sebabkan pada saat bertemu dengan Yoven, ia lupa menyimpan undangan yang di berikan. Ia tak menyesali ataupun menyalahkan dirinya sendiri pada waktu itu yang tak menyimpan undangan. Siapa di dunia ini yang dapat menerima dengan lapang dada undangan pernikahan kekasihnya bersama orang lain? 1 : 1000 jawabannya.<br />
<br />
Beruntung Chan masih tergabung dalam Group chat.  Dari sana, ia mendapat informasi tentang lokasi pernikahan Yoven. <br />
Chan masih berada di dalam mobil meskipun sudah sampai di tempat. Rasanya ia sangat enggan untuk keluar dari dalam mobil, masuk ke tengah-tengah acara, dan harus melihat senyuman bahagia dari Yoven maupun Meisya. Ia kembali memaki dirinya yang bodoh, kenapa hanya di karenakan video yang di kirim oleh Yoven, ia harus menahan rasa sakit hati yang luar biasa selama beberapa jam ke depan. Bodoh.<br />
<br />
Malam itu, ia berpakaian layaknya orang yang berkunjung ke sebuah pesta. Kemeja lengan panjang berwarna Pink susu, celana panjang hitam dan sepatu pantofel yang berwarna senada dengan celana. Tadinya Chan berniat untuk memakai T-shirt dan celana Jeans, tapi di pikir lagi, ini adalah sebuah acara pernikahan yang mana semua keluarga pihak mempelai pria dan wanita juga turut hadir, tidak etis rasanya jika ia memakai pakaian seperti itu meskipun tak ada larangan mengenai pakaian untuk menghadiri acara pernikahan.<br />
<br />
Chan tersadar, sudah lima belas menit lebih ia berada di dalam mobil, ia pun segera turun dari mobil, berjalan ke arah pintu masuk dengan perasaan tak menentu. <br />
Acara pernikahan di langsungkan di sebuah cafe yang berada di atas sebuah gedung di bilangan Jakarta pusat. Chan pernah mengunjungi tempat itu, cukup indah pemandangan di bawah sana jika dilihat dari atas. Sepertinya pesta pernikahan ini hanya untuk kalangan tertentu, mengingat kapasitas tempat itu tak dapat menampung tamu dalam jumlah ratusan. <br />
<br />
Saat akan menuju pintu masuk, ia mendapati beberapa orang temannya yang juga masih belum masuk ke dalam, salah seorang teman perempuan yang ia kenal, menangkap kehadiran Chan, <br />
<br />
“eh... Chan” seru Shirleen,<br />
<br />
Perempuan itu terlihat berjalan tergopoh-gopoh mendatangi tempat pemuda dengan tinggi 178 sentimeter itu berada, dari raut wajahnya, Chan melihat Shirleen terlihat panik,<br />
<br />
“kenapa Shir?” tanya Chan,<br />
<br />
“kamu jadi Best man ya”<br />
<br />
Secara refleks Chan menunjuk dirinya sendiri, perempuan di hadapannya mengangguk-angguk berulang kali,<br />
<br />
“nggak ah...” tolak Chan,<br />
<br />
“ayolah Chan.... pleaseeeee.....” pinta Shirleen, <br />
<br />
“nggak ah... kenapa harus aku?” Chan terlihat bingung,<br />
<br />
Shirleen benar-benar terlihat bingung, ia juga terlihat berusaha menenangkan dirinya yang terlihat panik, mencoba berusaha untuk menjelaskan pada pria di hadapannya,<br />
<br />
“Best man  yang udah di pilih hari ini malah nggak bisa dateng, nggak ada yang bisa gantiin”<br />
<br />
“nggak usah pak Best man kan bisa” seloroh Chan,<br />
<br />
“aduh... Chan.... itu artinya harus ngubah semua susunan acara” terang Shirleen,<br />
<br />
Ah ya... Chan membenarkan apa yang di katakan temannya itu, dengan di minta dirinya menjadi Best man, pastinya acara itu sudah di susun sedemikian rupa, sehingga tak boleh ada yang kurang dalam rangkaian acara. Rasa enggan nya itu, membuat Chan menjadi tak dapat berpikir dengan jernih,<br />
<br />
“pleaseeee Chan.... kali ini aja, ya ya... Cuma bentar doang kok, Cuma nganterin Meisya ke atas panggung, udah itu udahan”<br />
<br />
Whatttt?????<br />
<br />
Chan mendelik, <br />
<br />
“aku harus anter Meisya gitu? Ke atas panggung?”<br />
<br />
Shirleen mengangguk cepat,<br />
<br />
“ke pelaminan?”<br />
<br />
Lagi-lagi Shirleen mengangguk. Masih dalam keterkejutannya, dan belum mendapatkan persetujuannya, Shirleen meminta beberapa pria yang berdiri tak jauh dari mereka, membawakan sebuah jas berwarna putih ke arahnya, dengan sigap pula Shirleen membantu Chan untuk memakai jas tersebut. Chan mengenakan jas itu dengan bantuan Shirleen layaknya sebuah robot yang mengikuti saja apa yang di pakaikan padanya.<br />
Shirleen juga tak lupa menyematkan bunga dada pada saku kiri jas yang di kenakan oleh Chan. Ketika semuanya Shirleen rasa siap, dirinya, bersama Chan, dan juga beberapa pria berpakaian berwarna senada, dengan cepat memasuki ruangan. Sesampianya mereka, Chan bersama yang lain tak langsung berada di tempat acara, melainkan di dalam sebuah ruangan, di mana Meisya berada. <br />
<br />
Tatapan Chan dan Meisya sempat saling bertemu. Keduanya saling tatap, namun tak bertegur sapa. Meisya malam itu terlihat sangat cantik, Chan mengakui itu. Gaun yang ia kenakan, sama sekali tak terlihat seperti gaun pengantin pada umumnya yang identik dengan rok mengembang penuh dengan payet, yang di kenakan oleh perempuan itu hanya sebuah gaun malam long dress berhiaskan bordiran berwarna maroon, namun dengan di dukung penampilan Meisya yang elegan dan wajah cantiknya, gaun itu terlihat sangat mewah.  <br />
<br />
Meisya berjalan ke arah Chan. Chan terlihat gugup, berulang kali menelan ludah, <br />
<br />
“akhirnya kamu datang juga” ucap Meisya membuka pembicaraan,<br />
<br />
Chan hanya menanggapi dengan senyuman simpul,<br />
<br />
“aku pikir kamu nggak akan datang”<br />
<br />
Keduanya terdiam, <br />
<br />
“aku, minta maaf atas kejadian beberapa waktu lalu” sambung Meisya,<br />
<br />
Chan menggeleng pelan,<br />
<br />
“nggak usah di pikirin, aku nggak masukin ke dalam hati”<br />
<br />
“terima kasih”<br />
<br />
Lagi-lagi Chan mengeluarkan senyuman andalannya. Senyuman simpul. <br />
Beberapa orang pria yang ikut masuk ke dalam ruangan bersama dengan Chan sebelumnya, terlihat terburu-buru keluar ruangan ketika suara pembawa acara yang menginstruksi terdengar dari dalam ruangan, tersisa hanya Chan dan Meisya berdua di dalam ruangan. <br />
<br />
Ya.. ini juga adalah sebagian dari rangkaian acara yang sebelumnya Shirleen sudah beritahukan, pria-pria itu akan keluar lebih dulu, dan puncaknya adalah, Chan yang menggandeng Meisya akan keluar dari dalam ruangan, mengantarkan mempelai wanita hingga pelaminan. Sesuai susunan, pembawa acara kembali mengajak penonton di luar sana untuk menyambut mempelai wanita.<br />
<br />
Chan menghela nafas, menyingkirkan rasa tegangnya, memegang bouquete bunga dengan erat, dan menyambut kaitan lengan kanan Meisya pada lengan kirinya. Terdengar suara tepukan tangan ketika keduanya keluar dari dalam ruangan. Di kiri dan kanan karpet merah jalur yang mereka lewati, semua tamu tampak memberikan tepuk tangan. Chan sempat melirik ke arah Meisya, perempuan cantik di sebelahnya itu tak henti-hentinya melontarkan senyuman ke tamu-tamu.<br />
Dari tempatnya berjalan, di ujung sana, tepatnya di singgasana pelaminan sana, ia melihat kemunculan Yoven. Malam itu, pria itu terlihat sangat tampan, meskipun jarak tak begitu jauh, Chan masih dapat menangkap sosok tampan itu dalam penglihatannya. Pria itu terlihat tersenyum, senyuman yang sangat manis. Sebuah perasaan sedih, dan kecewa, menyamabangi Chan. Chan berusaha mengontrol emosi, ini adalah momen bahagia keduanya, ia tak boleh melakukan kesalahan sedikitpun, meskipun itu hanya setetes air mata. <br />
<br />
“mari kita sambut sekali lagi dengan tepuk tangan yang meriah untuk mempelai yang sebentar lagi akan mencapai singgasana bahagia” seru pembawa acara.<br />
<br />
Lagi-lagi telinga Chan mendengar suara tepuk tangan yang cukup ramai. Dua langkah lagi, Chan akan sampai pada panggung untuk mengantar Meisya dan menyerahkan pada Yoven. Satu langkah lagi, keduanya akan sampai di panggung, di mana Chan melihat dengan jelas tampilan Yoven pada malam hari itu, dan keduanya sampai di atas panggung. Tatapan kedua pria itu bertemu untuk beberapa saat. Wajah Chan menegang, kedua alisnya sedikit tertekuk, sedangkan wajah Yoven di penuhi oleh senyuman. <br />
Hampir saja Chan terbawa suasana. <br />
<br />
Dengan sangat perlahan, Chan melepas kaitan lengan Meisya. Bermaksud untuk menggenggam tangan perempuan cantik itu untuk di serahkan pada Yoven, namun pada saat Chan akan melancarkan niatnya, perempuan cantik itu terlihat menarik tangannya, kemudian ia memeluk Chan dan mengucapkan sesuatu yang membuat pemuda itu benar-benar terlihat kikuk dan bodoh.<br />
<br />
“happy wedding Chan, May Brother in law” ucap Meisya yang setelahnya turun dari atas panggung, <br />
<br />
Chan kikuk. Ia melihati Yoven yang berdiri di hadapannya, pria itu meraih tangan Chan, lalu di kecupnya dengan lembut.<br />
<br />
“i.. ini?” ujar Chan tak mengerti, <br />
<br />
Selanjutnya, Shirleen muncul dan naik ke atas panggung, memberikan sebuah kotak kecil berwarna hitam pada Yoven. Setelah menerima kotak itu, Yoven yang juga terlihat sedikit canggung, berlutut di hadapan Chan yang sampai saat itu masih belum dapat mencerna dengan semuanya,<br />
Suasana tempat itu, mendadak hening. Semua mata tertuju pada dua insan yang berada di atas panggung, <br />
<br />
“kalau aku di tanya, apa yang membuatku bahagia, jawabanku adalah kamu<br />
  kalau aku di tanya, di manakah hatiku akan berlabuh, jawabanku adalah kamu<br />
  kalau aku di tanya, di manakah cinta sejatiku, jawabanku adalah kamu<br />
  kalau aku bertanya padamu, maukah kau menikah denganku, melewati hari-hari bersamaku, <br />
  menikmati hari tua dan menua bersamaku?”<br />
<br />
Wajah Chan terlihat memerah, mulutnya membisu, berulang kali ia menghela nafas dan menelan ludah, mendengar penuturan Yoven, <br />
<br />
“tiga tahun sudah kita lewati bersama, susah senang kita lewati bersama, hingga sampai satu hari, aku menyadari, bahwa kau adalah orang yang benar-benar ku cari dalam hidupku, aku tahu kita adalah sesama jenis, namun, aku tak memperdulikannya, selama aku mencintaimu, yang ku tahu hanyalah dirimu”<br />
<br />
“malam ini, di depan semua orang yang ada di tempat ini, aku Yoven Mahendra, melamarmu Ichan Handhono”<br />
<br />
“apakah kau bersedia menjadi pendampingku?”<br />
<br />
Chan tak dapat membendung perasaannya, tak lagi dapat menahan air matanya lagi, semua pertanyaan-pertanyaan, ia kesampingkan. Tak mau membuat Yoven menunggu lama, Chan mengangguk dengan mata yang mulai basah.<br />
Suara tepuk tangan kembali terdengar, Yoven bangkit berdiri membuka kotak kecil berwarna hitam itu, memakaikan cincin berbahan emas putih bertakhtakan permata pada jari manis Chan. Pria itu lalu memberikan sebuah pelukan dan sebuah ciuman pada kekasihnya itu.<br />
<br />
<br />
*** <br />
<br />
Dua hari setelah pernikahan, Yoven mengajak pasangannya, Chan untuk melewatkan bulan madu di pulau dewata. Sebuah Villa yang berada di daerah ujud menjadi pilihan mereka. Sore harinya, keduanya duduk di teras balkon sembari menikmati suasana pemandangan berkabut di hadapan mereka.<br />
Yoven menidurkan kepalanya pada pangkuan Chan,<br />
<br />
“kamu kenapa nggak pernah bilang kalau kamu punya adik?” <br />
<br />
Yoven tersenyum kecil, ia menghentikan aktivitas tangannya yang memainkan ponsel. Di tatapnya wajah Chan sambil sesekali di elus-elus,<br />
<br />
“aku udah pernah bilang, kamu nya aja yang nggak ngeh...”<br />
<br />
Chan menggeser matanya dan menyipit, berusaha mengingat. Ia yakin betul kalau Yoven sama sekali belum pernah memberitahunya,<br />
<br />
“belum ah...”<br />
<br />
“udah sayang, aku pernah bilang kalau aku punya adik di Australia”<br />
<br />
Yoven membangkitkan tubuhnya, di raihnya kedua tangan Chan, di genggam halus.<br />
<br />
“Cuma memang aku nggak pernah bilang, kalau adik ku itu cowok atau cewek” jelasnya lagi,<br />
Chan terdiam. Ia menanggapi penjelasan Yoven dengan senyuman simpul, ia sempat melihat pria yang kini menjadi pendamping hidupnya itu sedang menatapinya, pemuda itu merasa sedikit malu, ia lantas mengalihkan pandangan ke arah lain,<br />
<br />
“maaf ya.. kalau aku harus buat kamu tersiksa” ungkap Yoven sembari mengecup kedua punggung tangan Chan, <br />
<br />
“jujur, aku juga nggak tega ngelakuin hal itu ke kamu, tapi, atas saran Meisya, aku ngikutin, supaya aku bisa tahu gimana perasaan kamu ke aku” lanjut Yoven, <br />
Chan jeda, di tatapnya kedua mata Yoven lekat-lekat,<br />
<br />
“seandainya malam itu aku nggak dateng gimana?”<br />
<br />
Kini giliran Yoven terdiam. Hal yang di ucapkan oleh Chan, sama sekali tak terlintas di benaknya, setelah semuanya usai, sekarang itu ia baru terpikirkan,<br />
<br />
“aku nggak pernah terpikir sama sekali, kalau malam itu kamu nggak datang, bakal gimana”<br />
Chan tersenyum geli,<br />
<br />
“aku tahu kelemahan kamu, jadinya aku sengaja ngirimin video itu supaya mancing kamu buat dateng, dan ternyata, kamu demang dateng”<br />
Tanpa basa basi, Chan melepas genggaman Yoven, dan mendekapkan tubuh pada tubuh bidang pria itu. Yoven sendiri segera mendekap dalam pemuda kecil itu.<br />
<br />
“makasih ya”<br />
<br />
***]]>
        </description>
    </item>
    <item>
        <title>M.U.R.D.E.R.E.R</title>
        <link>https://boyzforum.qiarchive.org/discussion/16751876/m-u-r-d-e-r-e-r</link>
        <pubDate>Thu, 01 Aug 2019 19:45:13 +0000</pubDate>
        <category>BoyzStories</category>
        <dc:creator>Monster26</dc:creator>
        <guid isPermaLink="false">16751876@/discussions</guid>
        <description><![CDATA[Part 1<br />
<br />
[ Aku ]<br />
<br />
<br />
Sesuai janji, siang itu aku menuju bilangan timur Jakarta guna bertemu seseorang. Orang itu bernama Yudi, seorang polisi muda. Perkenalan ku dengan Yudi berawal dari ia mengirim direct message melalui akun instagramku, dan mengaku sebagai pembaca ceritaku. Tak ada yang istimewa di awal perkenalan, hanya saling menyapa jika kami sama-sama sedang Online. <br />
<br />
Pertemuan hari itu adalah untuk yang kesenian kalinya. Dari Yudi, aku jadi tahu mengenai cerita-cerita di dalam jeruji besi. Pernah sekali aku menanyakan pada penyidik muda itu tentang kelakuan para narapidana di dalam sana, semuanya tampak biasa saja menurutnya. Namun ada seorang dari sekian banyak narapidana di dalam sana dengan kasus yang menurutnya cukup rumit. Aku pun menjadi penasaran. <br />
<br />
Melalui pertimbangan selama beberapa waktu, Yudi pun memberikanku akses untuk mengunjungi rutan untuk menemui orang tersebut. Yudi menyambutku ketika aku sampai di sana. Udara panas segera menyergap ketika aku turun dari mobil. Melewati serangkaian pemeriksaan, aku berjalan menyusuri pintu gerbang rutan, di bawa naik ke lantai dua oleh Yudi. Sebuah ruangan yang cukup nyaman. <br />
<br />
Dari ruangan ini, aku dapat melihat bangunan jeruji besi yang berada di seberang melalui jendela. Waktu itu jam istirahat, semua nara pidana sedang menikmati waktu mereka. Seorang napi yang bertugas menjadi tamping ( tahanan pendamping ) masuk ke dalam ruang sembari menyuguhkan aku segelas teh manis hangat setelah sebelumnya Yudi yang meminta. Dari cerita Yudi, di dalam rutan tersebut, para narapidana bebas memilih berbagai macam kegiatan yang di sediakan oleh pihak rutan, guna mengisi waktu, hal itu juga dapat di jadikan sebagai bahan pertimbangan oleh pihak rutan sebagai pengurangan masa tahanan mereka.  <br />
Usai berbincang sekitar dua puluh lima menit, aku mendengar suara ketukan pintu dari arah luar, Yudi yang sedang bersamaku, mempersilahkan si pengetuk pintu untuk masuk ke dalam ruangan. Seorang pemuda berkulit putih bersih dengan perawakan semampai menghampiri Yudi.<br />
<br />
“ini mas Evan, kenalin dulu”<br />
<br />
Dengan sopan pemuda itu menurut, mengulurkan tangannya padaku,<br />
<br />
“Ryan” <br />
<br />
“Evan”<br />
<br />
Yudi mempersilahkan pemuda itu untuk mengambil kursi dan duduk di bagian tengah. Aku sedikit mengobrol dengan pemuda itu, usia nya baru 24 tahun, asal Surabaya. Aku masih ragu untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan, mungkin Yudi menangkap gelagat pembicaraanku, ia pun meminta diri untuk keluar dari ruangan, dengan alasan masih ada pekerjaan, dan satu jam kemudian, ia akan kembali. <br />
<br />
Setelah Yudi keluar, tinggallah aku dan pemuda itu. Hanya berdua.<br />
<br />
Ku tatapi wajah pemuda yang sedari awal menunduk namun mencuri-curi pandang terhadapku. <br />
<br />
“mm... sekarang udah tinggal kita berdua” sergahku, “boleh aku bertanya??” sambungku yang di jawab dengan anggukan,<br />
<br />
“kalau boleh tahu, Ryan bisa di sini karena kasus apa?”<br />
<br />
Ryan menengadahkan kepala, melihatku sejenak, lalu menunduk kepalanya lagi. Diam.<br />
<br />
“apa Ryan cukup leluasa kalau aku bertanya tentang hal ini?”<br />
<br />
Lagi-lagi Ryan mengangkat kepalanya,<br />
<br />
“sebenarnya mas nya mau ngapain?”<br />
<br />
Mendapat pertanyaan ini, aku serasa tersudut, aku pun bingung sebenarnya. Aku berusaha tenang, menghela nafas, lalu mencoba memikirkan jawaban untuk ku jawab <br />
pertanyaannya,<br />
<br />
“aku, penulis cerita”<br />
<br />
Ryan menjatuhkan pandangan lurus dan tajamnya padaku. Antara takut dan salah tingkah berbaur menjadi satu. Dengan tatapannya yang seperti itu, aku jadi dapat memperhatikan wajah Ryan dalam jarak yang sangat dekat dan detil. <br />
Pemuda berusia 24 tahun itu memilik wajah yang tirus, rambut cepak yang di wajibkan bagi seluruh napi, kedua alis tebal, mata cokelat di padu bulu mata lentik, hidung kecil mungil namun tinggi, serta bibir yang cukup tipis berwarna kemerahan. Boleh di bilang sempurna. <br />
<br />
“mau tulis ceritaku?” <br />
<br />
Aku mengangguk ragu,<br />
<br />
“gunanya apa? Supaya mas bisa dapet keuntungan dengan mengumbar cerita orang”<br />
<br />
Aku terdiam tanpa kata. Kata-kata tajam yang pernah ku terima dari orang yang pernah ku temui.<br />
<br />
“aku nggak bermaksud gitu”<br />
<br />
“terus?”<br />
<br />
Lagi-lagi aku diam, benar-benar memutar otakku untuk mencari jawaban yang tepat.<br />
<br />
“kalau mas demang nggak ada niat gitu, ngapain juga sengaja minta pak Yudi buat ketemu aku” <br />
<br />
Sedikit geram dengan cara bicaranya yang ketus, aku berinisiatif untuk sedikit egois,<br />
<br />
“ya.. aku berniat untuk menulis cerita kamu” sela ku, “salah?” lanjut ku bertanya,<br />
<br />
“nggak ada kerjaan?” <br />
<br />
“banyak”<br />
<br />
“kerjain aja kerjaan mas, nggak usah kepo sama orang lain kalau mas sendiri nggak bisa ngapa-ngapain”<br />
<br />
Aku kembali terdiam, otakku berusaha mencerna setiap perkataannya. Setiap perkataannya aku pahami dalam-dalam sebagai balasanku untuk menyerangnya dengan jawaban yang dapat di terima oleh Ryan,<br />
<br />
“aku dengar dari pak Yudi, kasusmu masih gantung”<br />
<br />
Masih dengan mata yang tak lepas dariku, Ryan terdiam. Aku berusaha mencuri kesempatan ketika aku melihat Ryan yang terdiam seolah sedang berpikir,<br />
<br />
“sekarang ini, banyak sekali kasus ataupun berita di luar sana, yang memanfaatkan penulis, wartawan untuk membuat klarifikasi, dan setelah tulisan muncul, khalayak umum jadi tahu mengenai salah atau benarnya sebuah kasus ataupun berita yang beredar itu” terangku tanpa di tanya, Ryan masih terdiam, tangannya ku lihat sedang memilin-milin ujung seragam tahanan yang di kenakannya,<br />
<br />
“aku rasa kamu paham dengan kata-kataku” sambungku,<br />
<br />
“itu kan dari sudut pandang mas nya yang kepo” komentar Ryan menanggapi,<br />
<br />
Aku menundukkan kepalaku sejenak, menghelan nafas panjang, seolah dadaku sedang di timpa oleh sebuah beban yang cukup berat, sehingga aku harus berfikir bagaimana untuk melegakannya,<br />
<br />
Tatapanku dan tatapan Ryan saling bertemu, hingga tak sadar, pembicaraan kami berdua, sudah sampai di penghujung waktu yang di tentukan. Yudi masuk ke dalam ruangan, mempersilahkan Ryan untuk kembali ke dalam blok sel nya.<br />
<br />
“gimana?”<br />
<br />
Aku menatapi Yudi. Seolah tahu apa yang ku pikirnya, polisi muda itu segera berkomentar,<br />
<br />
“apa sudah dapat informasi?”<br />
<br />
Kedua sudut bibirku menyungging senyum simpul, <br />
<br />
“belum semua, tapi menurutku cukup untuk sebagai permulaan”<br />
<br />
Yudi mengangguk-angguk yang menurutku tak jelas, aku pun tak mempermasalahkannya. <br />
<br />
<br />
***<br />
<br />
“kalau kamu mau ketemu dia lagi, hubungi aku aja, nanti aku yang jemput kamu” ujar Yudi di saat mobilnya yang ku tumpangi berhenti di depan rumahku,<br />
<br />
“ya mas... makasih banyak”<br />
<br />
Aku membereskan barang-barang, bersiap untuk turun,<br />
<br />
“malam nanti ada acara?” tanya Yudi yang membuat niatku terhenti sejenak,<br />
<br />
Aku berusaha memikirkan,<br />
<br />
“nggak ada mas...”<br />
<br />
“bisa ku jemput?”<br />
<br />
Ku lihati wajah Yudi yang sesekali melirik ke arahku,<br />
<br />
“mau ke mana?”<br />
<br />
Polisi muda itu mengangkat bahu dan menetralkannya dengan cepat,<br />
<br />
“terserah... aku ngikut”<br />
<br />
<br />
***<br />
<br />
Beberapa hari setelahnya, dalam waktu satu minggu dua kali, aku mengunjungi rutan. Selain di pertemukan oleh Yudi dengan Ryan, aku juga di berikan kesempatan untuk melihat-lihat para napi yang berada di BimGiat ( bimbingan kegiatan ). Meskipun mereka sedang menjalani hukuman, namun mereka juga tak berhenti dalam berkreasi. Hasil kreasi mereka juga dapat kita temui di luaran sana. <br />
<br />
Siang itu, Ryan kembali menemuiku. Aku tak lupa membawakannya makanan yang sebelumnya ia minta untuk di bawakan. Ryan yang sekarang ini, mulai lebih terbuka di banding awal aku bertemu. Ternyata pemuda ini sangat menarik, murah senyum dan juga baik. Sempat berbincang pada pertemuan sebelum-sebelumnya. Ia mulai menjadi cukup sensitif semenjak di pindah ke dalam rutan ini. Petuah-petuah napi lainnya pada saat dirinya masih menjadi tahanan polres untuk keperluan penyidikan, menjadikannya cukup sensitif. Aku berusaha memahami. Terkadang satu lingkungan dapat berpengaruh besar terhadap sifat seseorang.<br />
<br />
Yudi mengisyaratkan padaku dari tempat dirinya duduk, jika waktu bertemu akan segera berakhir, aku mengangguk mengiyakan, setidaknya, kedatangan kali ini, aku sudah mendapat beberapa bagian cerita dari seorang Ryan. Setelah membuang bungkus makanan, dan membersihkan mulutnya, Ryan pamit dari ruangan, tinggallah aku dan juga Yudi.<br />
<br />
“gimana?”<br />
<br />
Aku menghela nafas lega, wajahku sedikit terasa sumringah,<br />
<br />
“ok” jawabku singkat,<br />
<br />
“ok apa nih?” <br />
<br />
“ya... ok aja”<br />
<br />
Yudi yang tak paham, dengan wajah yang di hiasi senyuman tak mengerti bangkit berdiri, mengulurkan tangan ke arahku,<br />
<br />
“yuk...”<br />
<br />
Ku tengadahkan kepala, ku lihati wajah Yudi, lalu membalas juluran tangannya. Hanya sampai di dalam ruangan itu aku merasakan genggaman tangan Yudi, keluar ruangan, aku lebih dulu berjalan di depannya. Tak terasa, aku mengenal Yudi dan juga Ryan, hampir 3 bulan lamanya. Waktu terasa sangat cepat. <br />
Ponselku berdering, tanda pesan masuk.<br />
Aku yang sedang berada di atas kasur, dengan cepat ku raih benda berbentuk persegi panjang itu, ku lihati nama pengirim dari jendela layar, <br />
<br />
<br />
<br />
***<br />
<br />
<br />
Yudi <br />
( Online )<br />
Malam, lagi apa nih?<br />
<br />
<br />
<br />
Tak begitu menyadari, wajahku mengembang, kedua sudut bibirku tertarik ke atas. <br />
Ku arahkan jari-jariku, untuk membalas,<br />
<br />
<br />
"Lagi nyantai aja, km?"<br />
<br />
<br />
Yudi <br />
( Sedang mengetik )<br />
Sama, lagi nyantai juga<br />
Udh mkn mlm?<br />
<br />
<br />
"Udah nih, km?"<br />
<br />
<br />
Yudi <br />
( Sedang mengetik )<br />
Udah donk, <br />
Lagi dimana?<br />
<br />
<br />
"Di kamar"<br />
<br />
<br />
Yudi <br />
( Online )<br />
 Owh... gabut nih hahaha <br />
<br />
<br />
<br />
"Gabut knp?"<br />
<br />
<br />
<br />
Yudi <br />
( Online )<br />
Nggak tau, gabut aja<br />
( Sedang mengetik )<br />
Mau jalan?<br />
<br />
<br />
Aku menekuk kedua alisku, <br />
<br />
<br />
"Mmm.. boleh, kmn?"<br />
<br />
<br />
<br />
Yudi <br />
( Sedang mengetik )<br />
Terserah, aku ngikut<br />
<br />
<br />
"Lhaa.. aku juga nggak tau mau kmn hehehe..."<br />
<br />
<br />
Yudi <br />
( Sedang mengetik )<br />
Yaudah, aku siap2 dulu, dah itu jmpt km,<br />
( Sedang mengetik )<br />
Ok?<br />
<br />
<br />
"Ok deh... di tnggu"<br />
<br />
<br />
***<br />
<br />
<br />
“gimana tempat ini?” tanya Yudi selesai makan<br />
<br />
Aku melihati suasana sekitar, sebuah restoran yang tepat di belakang kami adalah sebuah pantai lepas.<br />
<br />
“ok kok” <br />
<br />
“suka?”<br />
<br />
Aku melihati Yudi untuk sejenak, kemudian mengangguk. Yudi tak menjawab ataupun bertanya lagi, yang ku lihat wajahnya menunduk sembari kedua sudut bibirnya menyungging senyuman. Malam itu, setelah menjemputku, Yudi mengajakku untuk nongkrong di sebuah restoran yang letaknya berada di tengah-tengah kawasan pantai. Sebuah restoran masakan lokal. Kata Yudi, biasanya restoran itu sangat ramai jika weekend tapi di karenakan hari itu adalah weekday restoran tak begitu ramai. <br />
<br />
Selesai makan, Yudi mengajakku untuk berjalan-jalan di sekitaran restoran yang hampir seluruhnya adalah hamparan pasir putih. Angin laut yang berhembus ke darat, membuat tubuhku sedikit menggigil. Tanpa ku minta, Yudi mengenakan jaket berbahan kulit miliknya padaku.<br />
<br />
“makasih” ucapku yang di sambut senyuman manis milik polisi muda tersebut.<br />
<br />
Jaket milik Yudi ini, beraroma parfum khas pria, hangat dan menenangkan, lebihnya, aroma tubuh khas milik Yudi juga menyergap indera penciumanku. Yudi mengajakku untuk duduk di satu sisi pembatas pantai yang terbuat dari tumpukan-tumpukan batu. Baik aku maupun Yudi, kami sama-sama membisu meskipun kami duduk bersebelahan. Mata kami menatapi beberapa titik bintang yang tersebar di langit gelap, melihati lampu-lampu kecil dari kapal nelayan di ujung pantai. Romantis? Mungkin.<br />
Bagiku, sosok Yudi adalah sosok pria yang tenang, murah senyum, ramah, dan hangat. <br />
Di balik itu semua, aku merasa Yudi adalah sosok pria yang sedikit terbilang misterius. <br />
Dari beberapa kali pertemuan, aku sudah dapat merasakan itu, tapi, aku tak mau dengan cepat mengambil keputusan seperti itu. <br />
<br />
“kok diem?” tanya Yudi tiba-tiba yang membuat lamunanku memudar bersama dengan angin, <br />
<br />
“hah? Oh” <br />
<br />
Aku menjadi sedikit salah tingkah. Ku lihat Yudi tertawa sambil menatapiku,<br />
<br />
“kamu tu lagi mikirin apa?” <br />
<br />
Kepalaku menggeleng, lalu dengan cepat aku memalingkan wajahku ke arah lain, tak mau di dapati Yudi jika aku sedang mendeskripsikan dirinya dalam benak ku. Yudi sedikit menggeser posisi duduknya untuk lebih dekat dengan tempatku duduk. Masih dalam diam, aku membiarkan Yudi menyelipkan jari-jarinya diantara jari-jariku.<br />
<br />
“nggak apa kan?” tanya Yudi,<br />
<br />
Aku tak menjawab, masih menyembunyikan wajah ke segala penjuru. Aku merasa wajahku memanas.<br />
<br />
<br />
***]]>
        </description>
    </item>
    <item>
        <title>Obsession..?</title>
        <link>https://boyzforum.qiarchive.org/discussion/16751344/obsession</link>
        <pubDate>Thu, 23 Mar 2017 09:05:35 +0000</pubDate>
        <category>BoyzStories</category>
        <dc:creator>akina_kenji</dc:creator>
        <guid isPermaLink="false">16751344@/discussions</guid>
        <description><![CDATA[Ini cerita kedua yang aku posting di sini. Walaupun 'cowok aneh itu pacarku' belum tamat, hehe. Namun, aku harap, kalian yang membaca cerita ini, menyukainya.<br />
Sebelum aku update di sini. Cerita 'Obsession' ini aku ikutkan pada event di 'way6969' (wattpad). Tapi karena ceritanya sangat sederhana, jadinya gak menang deh, hehehe. Dan karena event-nya sudah selesai. Aku coba update di sini <img src="https://boyzforum.qiarchive.org/resources/emoji/smile.png" title=":smile:" alt=":smile:" height="20" /><br />
<br />
Selamat membaca ya. Semoga suka..<br />
<br />
<br />
*******<br />
<br />
Part 1<br />
<br />
<br />
<br />
Apa yang lebih membahagiakan selain punya pacar yang setia, pengertian, selalu ada untukmu dan sangat mencintaimu. Coba kalian beritahu apa yang lebih membahagiakan selain itu? Dan apakah kalian memiliki kekasih yang seperti itu? Bagaimana rasanya? Aku yakin kalian akan berpikiran sama dengan pemuda ini. Bahagia. Itulah yang dia rasakan. Tentu kalian juga merasakan hal yang sama. Apalagi dalam percintaan kaum gay. Sangat susah mendapatkan seorang kekasih yang seperti itu. Dan pemuda ini mendapatkannya. Ya, dia mendapatkan seorang kekasih yang sangat mencintainya, juga setia.<br />
<br />
Sebut saja namanya Revie Christian Alexan. Kalian boleh memanggilnya, Revie. Saat ini dia tengah menunggu sang kekasih yang beda kampus dengannya. Revie duduk pada sebuah bangku yang terletak tak jauh dari gerbang kampusnya.<br />
<br />
Mahasiswa kedokteran itu begitu asyik memainkan ponsel pintarnya. Membaca sebuah cerita dari penulis favoritnya. Jika sudah membaca karya dari penulis favoritnya itu, Revie takkan peduli lagi dengan orang-orang di sekitarnya. Hingga sebuah tangan mengelus punggungnya dengan nakal, membuatnya kaget dan hampir menjatuhkan ponsel kesayangannya ke tanah. Dengan cepat dia menolehkan kepala ke samping untuk melihat siapa yang mengagetkannya, dan dia menemukan sosok pemuda yang sudah hampir dua puluh menit ditunggunya.<br />
<br />
Pemuda di samping Revi itu tersenyum sambil menangkupkan kedua telapak tangannya dan memasang wajah memohon maaf yang dibuat seimut mungkin agar sang kekasih memaafkannya. Namun, ekspresi dari pemuda itu sukses membuat Revie tertawa. Lalu memukul pelan bahunya.<br />
<br />
“Kamu gak cocok berekspresi seperti itu, tau gak?” komentar Revie, sambil memperbaiki duduknya. Pemuda itu memanyunkan bibirnya, kemudian tersenyum menatap wajah bersih Revie.<br />
<br />
“Aku lagi cemburu, tau,” kata pemuda itu merajuk.<br />
<br />
“Hah! Kamu cemburu sama siapa? Aku gak ada dekat-dekat dengan cowok lain, kok,” jelas Revie panik. Takut pemuda di sampingnya itu salah paham. Dalam pikirannya sudah membayangkan hal-hal negatif seperti, pemuda itu marah dan akhirnya mereka bertengkar. Tapi kenyataannya, pemuda itu malah tertawa melihat tingkah sang pacar yang suka panikan.<br />
<br />
“Sayang.. aku cemburu sama ini,” ujarnya sambil mengambil dan mengangkat ponsel Revie ke hadapan wajahnya. Namun hal itu malah membuat Revie bingung, kenapa pacarnya ini bisa cemburu dengan ponselnya.<br />
<br />
“Kok kamu cemburu sama ponselku?” tanya Revie dengan wajah polos.<br />
<br />
Pria itu mencubit pipi pacarnya itu gemas, lalu menjelaskan perihal kenapa dia cemburu.<br />
<br />
“Aku cemburu, karena tiap kali kamu membaca cerita si Cupu ini, kamu pasti bakal lupa sama orang-orang di sekitarmu, termasuk aku,” terang pemuda itu sambil menunjuk layar ponsel Revie yang masih menyala dan menampilkan foto profil penulis favoritnya. Revie memanyunkan bibir dan merebut ponsel yang dipegang pemuda itu.<br />
<br />
“Radit sayang... yang di foto ini bukan dia. Dia gak cupu tauk,” protes Revie kepada pacarnya yang dipanggil, Radit. Sementara Radit hanya tersenyum mendengar protesan sang pacar.<br />
<br />
“Sekarang sudah sore. Kita langsung pulang?” mendengar pertanyaan Radit, Revie segera menggelengkan kepalanya.<br />
<br />
“Karena seorang Raditya Adam sudah membuatku menunggu lama. Jadi dia harus mentraktirku makan,” jawab Revie sambil menepuk-nepuk perut datarnya. Radit bangkit dari duduknya, berdiri di hadapan Revie.<br />
<br />
“Dengan senang hati, My Lord,” katanya sambil membungkuk layaknya seorang pelayan istana. Revie tersenyum lebar melihat tingkah Radit. Ikut berdiri, diapun merangkul pundak Radit, berjalan meninggalkan kampus yang selalu didatanginya setiap hari.<br />
<br />
Namun tanpa mereka sadari, seseorang memandang kepergian mereka dengan tatapan penuh kemarahan dan meremas buku yang dipegangnya dengan kuat. Dia sudah dari tadi memperhatikan Revie, semenjak pemuda itu mendudukan pantatnya pada bangku yang ditempatinya tadi.<br />
<br />
“Aku akan memilikimu,” ujarnya dingin, masih terus memandang kepergian Revie yang sudah masuk ke dalam mobil Radit.<br />
<br />
Setalah mobil Radit menghilang dari pandangannya. Pemuda itu berjalan melangkahkan kakinya ke arah mobilnya yang terletak di parkiran tidak jauh dari tempat dia berdiri sekarang. Sambil menuju parkiran, pikirannya sibuk mengatur rencana untuk mendapatkan Revie.<br />
<br />
***<br />
<br />
Revie dan Radit memasuki sebuah restoran yang bernuansa cozy.  Beruntung restoran yang mereka datangi tidak begitu ramai, jadi mereka bisa memilih tempat yang tidak terlalu mencolok.<br />
<br />
Mereka begitu menikmati menu yang kini terhidang di hadapan mereka. Sifat Radit yang penuh perhatian menjadikan sosok yang selalu dibangga-banggakan Revie kepada penulis favoritnya. Seperti sekarang ini, Radit tidak segan-segan melap sudut bibir Revie yang suka berlepotan jika makan makanan berkuah atau saus. Diperlakukan seperti itu membuat Revie merasa begitu dicintai oleh kekasih yang sudah dua tahun berhubungan dengannya. Tapi acara makan mereka jadi terganggu karena kehadiran seorang gadis yang tiba-tiba berdiri di depan meja mereka.<br />
<br />
“Revie sayang, aku kangen sama kamu.” Gadis itu membungkukkan badannya dan memeluk Revie yang sudah menghentikan makannya sejenak.<br />
<br />
“Hai Mir, apa kabar?” tanya Revie membalas pelukan gadis yang dipanggil Mira itu.<br />
<br />
“Aku baik. Dan dari yang kulihat, kelihatannya kamu juga baik,” balas Mira yang sudah melepas pelukannya, “Boleh aku bergabung dengan kalian?” tanyanya, memandang mereka bergantian.<br />
<br />
“Oh boleh,” jawab Revie tanpa meminta persetujuan dari Radit karena Revie tahu, Radit tidak akan melarang teman SMAnya ini makan bareng dengan mereka. Gadis cantik itu juga teman satu kampus Radit, jadi mereka sudah saling mengenal satu sama lain.<br />
<br />
Mira mendudukan dirinya pada salah satu kursi dan memesan menu kepada pelayan restoran. Sambil menunggu pesanannya datang, Mira membuka obrolan dengan menanyakan tentang hubungan Radit dan Revie. Gadis itu begitu antusias mendengar cerita Revie tentang Radit.<br />
<br />
“Oh ya, pacarmu gimana kabarnya, Mir?” tanya Revie setelah berhenti bercerita.<br />
<br />
“Dia, kabarnya baik kok. Tar malam kami mau ngerayaiin anniversary hubungan kami yang udah satu tahun,” balas Mira dengan ceria. Mira melirik Radit yang dibalas dengan senyuman lembut kepadanya.<br />
<br />
“Wah selamat ya, Mir,” ujar Revie ikut senang melihat aura kebahagiaan di wajah temannya itu.<br />
<br />
“Makasih, Rev,” balas Mira senang. Mereka membicarakan banyak hal tentang kuliah, serta liburan setelah UAS nanti.<br />
<br />
...<br />
<br />
Revie menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Perasaannya begitu bahagia karena hubungannya dengan Radit semakin romantis. Mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana, Revie membuka aplikasi <i>wattpad</i> di ponsel tersebut. Kembali melanjutkan cerita yang tadi belum selesai dibacanya. Dia tersenyum-senyum sendiri membaca cerita dari penulis favoritnya itu sambil membayangkan kalau dia dan Radit yang menjadi tokoh dalam cerita tersebut. Selesai membaca, tak lupa dia memberikan vote dan komentar. Dia juga mengirimkan sebuah pesan untuk sang penulis.<br />
<br />
[Ar ar, lagi apa?]<br />
<br />
[Lagi ngetik, Re.]<br />
<br />
[Aku ganggu dong.]<br />
<br />
[Gak kok. Dikit lagi juga selesai.]<br />
<br />
[Buat next chapt ya?]<br />
<br />
[Iya. Btw gimana kencanmu hari ini, Rere?] Revie tersenyum membaca balasan dari pemilik akun <i>‘i am_ar’</i> tersebut.<br />
<br />
[Hehehe, kamu tahu aja aku habis pulang kencan,] balasnya dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya, walaupun sang penulis tidak dapat melihatnya, [Hari ini kami kencan ke tempat pertama kali dia nyatain cintanya padaku. Dia juga ngasih aku sesuatu.]<br />
<br />
Revie menceritakan kebahagiaannya hari ini kepada penulis favoritnya itu. Betapa dia sangat mencintai kekasihnya dan berharap selalu bersama dengannya.<br />
<br />
Sementara di tempat lain seorang pemuda terlihat sangat serius mengerjakan sesuatu di laptopnya. Sesekali dia tersenyum di depan laptop tersebut. Tidak lama dia mematikannya, kemudian beralih ke ponsel pintarnya. Membuka galeri foto, dan terseyum ketika melihat foto seseorang yang sangat ingin dimilikinya.<br />
<br />
“Sebentar lagi kau akan menjadi milikku. Aku akan membuatmu berpisah dengan pria itu.” Pemuda tersebut mengelus wajah yang ada di dalam ponselnya. Menatapnya penuh damba, kemudian menciumnya sebelum dia menutup mata menuju alam mimpi, berharap bertemu dengan sang pujaan hati.<br />
<br />
<br />
<br />
]]>
        </description>
    </item>
    <item>
        <title>Sepenggal Cerita Di Balik Gulungan Kertas [TAMAT] [Daftar Chapter di P1]</title>
        <link>https://boyzforum.qiarchive.org/discussion/16747929/sepenggal-cerita-di-balik-gulungan-kertas-tamat-daftar-chapter-di-p1</link>
        <pubDate>Sat, 31 Jan 2015 19:51:38 +0000</pubDate>
        <category>BoyzStories</category>
        <dc:creator>MarioBros</dc:creator>
        <guid isPermaLink="false">16747929@/discussions</guid>
        <description><![CDATA[A story about life, love, friendship, and mystery.<br />
<br />
<b>Sepenggal Cerita di Balik Gulungan Kertas</b><br />
<br />
Hi, Saya MarioBros, salam kenal. Ini cerbung utama saya dari mini-mini cerbung sebelumnya. Bagi yang belum membaca mini-cerbung itu, harap mencobanya terlebih dulu karena plot cerita cukup dipengaruhi oleh mini-mini cerbung tersebut. Berikut tautannya.<br />
<br />
<b>Mini-Cerbung 1: The Man Who Was Killed That Night </b>(<i><a href="http://boyzforum.com/discussion/16747726/mini-cerbung-1-the-man-who-was-killed-that-night-tamat/p1" rel="nofollow">http://boyzforum.com/discussion/16747726/mini-cerbung-1-the-man-who-was-killed-that-night-tamat/p1</a></i>)<br />
<b>Mini-Cerbung 2: The Man With The Stolen Kiss</b> (<i><a href="http://boyzforum.com/discussion/16747730/mini-cerbung-2-the-man-with-the-stolen-kiss-tamat/p1" rel="nofollow">http://boyzforum.com/discussion/16747730/mini-cerbung-2-the-man-with-the-stolen-kiss-tamat/p1</a></i>)<br />
<b>Mini-Cerbung 3: The Boy Who Went Wild and Regretted </b>(<i><a href="http://boyzforum.com/discussion/16747737/mini-cerbung-3-the-boy-who-went-wild-and-regretted-tamat/p1" rel="nofollow">http://boyzforum.com/discussion/16747737/mini-cerbung-3-the-boy-who-went-wild-and-regretted-tamat/p1</a></i>)<br />
<b>Mini-Cerbung 4: The Boy with The Possessive Desire</b> (<i><a href="http://boyzforum.com/discussion/16747757/mini-cerbung-4-the-boy-with-the-possessive-desire-tamat/p1" rel="nofollow">http://boyzforum.com/discussion/16747757/mini-cerbung-4-the-boy-with-the-possessive-desire-tamat/p1</a></i>)<br />
<br />
NB: Saya masih newbie dan amatir. Masih sangat butuh bimbingan (aseek). Saya berharap pembaca berkenan memberikan masukan konstruktif untuk perbaikan dan peningkatan kualitas tulisan saya. Terima kasih dan selamat membaca.<br />
<br />
<b>STORY INDEX :</b><br />
<br />
<b>Chapter 0</b> - My Name is Panji = Page 1<br />
<b>Chapter 1</b> - The Mystery  of the Matryoskha Dolls = Page 9<br />
<b>Chapter 2</b> - The Birthday Celebration = Page 13<br />
<b>Chapter 3</b> - The Stalker and The Corruption Issues = Page 18<br />
<b>Chapter 4</b> - The Stalker and The Secret Admirer = Page 21<br />
<b>Chapter 5</b> - The Gorgeous Doctor = Page 25<br />
<b>Chapter 6</b> - The Sweet Distraction = Page 33<br />
<b>Chapter 7</b> - The Love Signal = Page 38<br />
<b>Chapter 8</b> - Thing That's Harder to Say = Page 43<br />
<b>Chapter 9</b> - The March Rain = Page 49<br />
<b>Chapter 10</b> - If A Bird Doesn't Sing = Page 54<br />
<b>Chapter 11</b> - The Difficult Circumstances = Page 61<br />
<b>Chapter 12</b> - Here Come, My Foxy Sister = Page 66<br />
<b>Chapter 13</b> - Time For Friends = Page 72<br />
<b>Chapter 14</b> - The Hidden Truth = Page 81<br />
<b>Chapter 15</b> - The Expected and The Unexpected = Page 90<br />
<b>Chapter 16</b> - The Trapdoor = Page 103<br />
<b>Chapter 17.1</b> - Birthday Boy = Page 109<br />
<b>Chapter 17.2</b> - Saturdate = Page 116<br />
<b>Chapter 17.3</b> - Before Mid Night = Page 122<br />
<b>Chapter 18</b> - Lucky I'm in Love = Page 133<br />
<b>Chapter 19</b> - Because I Like The Way You Smile = Page 150<br />
<b>Special Chapter</b> - Mario's Side Story: What Happened At That Night = Page 157<br />
<b>Chapter 20</b> - Things Change = Page 146<br />
<b>Chapter 21</b> - Ashita Hareru Kana = Page 179<br />
<b>Chapter 22</b> - Rebound = Page 187<br />
<b>Bonus Chapter 1</b> - #20factsaboutme = Page 187<br />
<b>Chapter 23</b> - Full Moon = Page 201<br />
<b>Special Chapter</b> - Mario’s Side Story 2 : Untitled = Page 205<br />
<b>Chapter 24</b> - Cuffing Season = Page 209<br />
<b>Chapter 25</b> - Turning Point = Page 219<br />
<b>Chapter 26</b> - When Time Grabs You By The Wrist = Page 230<br />
<b>Chapter 27.1</b> - The Destined Encounter = Page 243<br />
<b>Chapter 27.2</b> - Special Bond = Page 246<br />
<b>Chapter 27.3</b> - Doubt and Determination [TAMAT] = Page 249<br />
<b>Bonus Chapter 2</b> - Somebody Love Story Part 1 = Page 261<br />
<b>Bonus Chapter 2</b> - Somebody Love Story Part 2 = Page 265<br />
<b>Bonus Chapter 3</b> - Happy Ending? = Page 271<br />
<br />
Get the full PDF with extra bonus at bit.ly/MarioBros2015]]>
        </description>
    </item>
    <item>
        <title>Penasaran cerita Argi Sofi Panji</title>
        <link>https://boyzforum.qiarchive.org/discussion/16747829/penasaran-cerita-argi-sofi-panji</link>
        <pubDate>Thu, 22 Jan 2015 17:04:33 +0000</pubDate>
        <category>BoyzStories</category>
        <dc:creator>Tamafarizan</dc:creator>
        <guid isPermaLink="false">16747829@/discussions</guid>
        <description><![CDATA[Ok, i'm a newbie. <br />
Kmren jg dikasi ama temen cerita cinta Argi Sofi Panji. Dan menurutku, itu cerita bagus pisan euy! <br />
<br />
Ini jg yg jd alasan aku daftar di bf ini- dan sampai detik ini masih penasaran sama part kenapa Argi dan Sofi harus bener bener pisah ga balikan lagi? Dan kenapa jadinya malah Argi pacaran sama Panji-?? <br />
<br />
Ada yg tau email Argi asli ga? Bener bener mau tanya sama dia nih- <br />
Thanks before- penasaran banget banget banget]]>
        </description>
    </item>
    <item>
        <title>Melon Es Doger</title>
        <link>https://boyzforum.qiarchive.org/discussion/16751865/melon-es-doger</link>
        <pubDate>Thu, 23 May 2019 00:18:34 +0000</pubDate>
        <category>BoyzStories</category>
        <dc:creator>inutile</dc:creator>
        <guid isPermaLink="false">16751865@/discussions</guid>
        <description><![CDATA[Judulnya masih belum fix ya. TS-nya masih bingung mau ngasih judul apa. Buat temen-temen penggemar WHD (kalau ada), Halo lagi! Kali ini Summersnow udah nyelesaiin draft-nya baru upload disini. Jadi ga akan digantungin lagi kok kayak 2 cerita terakhir yg ga dilanjut-lanjut. Hehe.<br />
<br />
**Preview**<br />
<br />
“Mandi gih. Abis itu temenin gue.” <br />
<br />
Tangannya menyodorkan handuk di hadapanku, sebelum aku sempat mengambilnya dia melepas handuk itu sehingga jatuh di pangkuanku. Sial, tabiatnya menyebalkan. Kenapa aku harus terjebak dengan orang ini sih? Kalau bukan karena dia anak bos papa, sudah kuhabisi dia. Seperti tidak pernah diajarkan sopan santun saja.<br />
<br />
“Ke?”<br />
<br />
“Beli baju,” jawabnya sambil berbalik memunggungiku.<br />
<br />
“Gue udah ada rencana hari ini.”<br />
<br />
“Batalin.”<br />
<br />
*****************************************************<br />
<br />
“Hmm. Padahal baru kemarin lu mau jalan sama Aini, tapi hari ini lu malah jalan sama Aa’ ini.”<br />
<br />
<br />
*****************************************************<br />
<br />
“Buka baju lu!” Katanya dengan nada galak seperti tadi.<br />
<br />
What?? Buka baju? Di kerumunan orang sebanyak ini.<br />
<br />
“Kenapa? Malu? Di teknik banyakan cowok, ga ada bakal ada yang nafsu.” Tukasnya.<br />
<br />
<br />
*****************************************************<br />
<br />
“Lu gampang banget kasihan sama orang ya? Kayak kenal aja.”<br />
<br />
“Gue emang ga kenal dia, tapi gue pernah ngerasain posisi dia.”<br />
<br />
<br />
*****************************************************]]>
        </description>
    </item>
    <item>
        <title>Sorry , I LOVE YOU !</title>
        <link>https://boyzforum.qiarchive.org/discussion/16748632/sorry-i-love-you</link>
        <pubDate>Wed, 06 May 2015 13:51:22 +0000</pubDate>
        <category>BoyzStories</category>
        <dc:creator>DaveFahrezi</dc:creator>
        <guid isPermaLink="false">16748632@/discussions</guid>
        <description><![CDATA[ini adalah cerita keduaku setelah 7 brothers and 1 crush . semoga kalian pada suka ya ... btw maaf 7 brothers and 1 crush nya belum bisa dilanjutin hihihi .. kalo ada kekurangan mohon langsung di comment<br />
]]>
        </description>
    </item>
    <item>
        <title>Rizki Diary</title>
        <link>https://boyzforum.qiarchive.org/discussion/16749542/rizki-diary</link>
        <pubDate>Wed, 30 Sep 2015 17:11:13 +0000</pubDate>
        <category>BoyzStories</category>
        <dc:creator>didot_adidot</dc:creator>
        <guid isPermaLink="false">16749542@/discussions</guid>
        <description><![CDATA[Y (25)<br />
<br />
Hidup.... Taukah teman, apa hidup itu ? apakah kau sudah menjalani sesuai dengan yang kau inginkan? Semudah itukah kalian menjalani hidup itu? Apakah mencintai sesorang yang “bukan” seharusnya kau cintai, itu bagian yang disebut dari hidup???<br />
<br />
( Kisah ini merupakan season dua, lanjutan dari cerita sebelumnya<br />
<a href="http://boyzforum.com/discussion/16749436/tamat-ada-apa-dengan-adi/p1" rel="nofollow">http://boyzforum.com/discussion/16749436/tamat-ada-apa-dengan-adi/p1</a> )<br />
<br />
Suara angin sore ini membawa gua ke lamunan beku, mengantar hidup menuju babak baru, yang akan membawa entah kemana gua pergi.  Semakin lama, semakin terlihat jelas, bahwa di depan telah menanti sesuatu yang baru pula. Ya masa depan Baru dan hari yang baru.<br />
<br />
Seminggu setelah kepergian Rizki, bagai setengah nyawa ini ga genap, hidup gua pontang panting kagak jelas, hidup gua seperti bunga dandelion yang diterbangkan angin,  ke utara, kadang ke selatan, singgah di barat dan muncul dari timur. Kadang terbawa menganut arah mata angin pergi. Gua hidup di kost seperti sendirian, walaupun teman-teman di kamar sebelah ada banyak, tapi tetep, kehilangan seseorang yang pernah menjadi bagian dari hidup ini tidaklah mudah. Ya, seminggu  ini Rizki juga belum ngasih kabar, Gua selalu berfikiran positif, Gua anggap Rizki belum mempunyai uang untuk membeli HP lagi. seminggu yang berat, Gua mau pulang ke rumah, tetepi tanggung teman, masih harus mengurus administrasi dan ijazah di sekolah, kadang info yang diberikan pihak sekolah ga jelas, sehingga membuat gua terpaksa harus menunda kepulangan.<br />
<br />
Lagi-lagi Gua ingat Rizki, setiap gua ingat, pasti buku ini gua buka, tulisan demi tulisan, dan lembar-demi lembar gua baca. Sungguh menggelitik ketika menemukan kisah yang lucu, tapi kadang meringis, bahkan terbawa emosi, bahwa tulisan itu telah menyinggung gua. Ya teman, lewat buku ini, gua akan berusaha menjelaskan lewat sisi hidup teman hidupku, lewat tulisan ini juga, gua akan bebagi kisah hidup, berbagi kehidupan dari sesosok &quot;Rizki&quot;. Gua berusaha jelskan, walaupun hanya dari sebuah buku.<br />
<br />
Sementara itu, di pojok sisi sebelah timur sekolah, bersebelahan dengan lab.komputer dan berseberangan dengan lab. kimia, ada ruangan ukuran 5x5 meter, terdiri dari 5 meja, 4 meja untuk guru, dan 1 meja buat tamu, berdiri gagah lemari kaca yang berisi puluhan thropy dari para siswa moderat, siswa golongan kasta tertinggi,  ya.. siswa berprestasi. Ruang konseling namanya. Hari ke 9 setelah kami dinyatakan lulus, berbondong-bondong siswa &quot;mantan lulus&quot; menjejali ruangan itu, entah sekedar cari-cari informasi SPMB, cap 3 jari ijazah, tanda tangan transkrip nilai ataupun hanya ikut rame-rame sekedar sok sibuk menjejali ruangan itu.<br />
<br />
&quot;Woi... ngelamun aja, jadinya ambil dimana?&quot; Toro, teman sekelas gua, dimana 3 tahun setia sebangku dengan gua mengagetkan dari belakang,<br />
<br />
&quot;Belum tau sob, &quot; sambil mengangkat pundak dan pasrah<br />
<br />
&quot;Kenapa belum tau, Raihlah mimpi Lu setinggi langit, Raihlah apa yang orang tua Lu harapakan&quot;<br />
<br />
&quot;Ga ada biaya sob, ga tau juga gua bisa lanjut kuliah atau ga&quot; jawab Gua<br />
<br />
&quot;Lu kan pinter sob, Ambil tuh Beasiswa  yang kemarin ditawarkan, &quot; kata Toro.<br />
Gua hanya senyum, senyum getir, bibir gua memang senyum, tapi hati ini menangis.<br />
<br />
&quot;Gua tinggal dulu sob, ingat.. kesempatan ga dateng dua kali&quot; sambil meninggalkan gua yang duduk di depan ruang BK.<br />
<br />
Setelah urusan sekolah kelar, gua resmi sudah kagak siswa lagi. Semua teman-teman gua bubar jalan... ada yang mau meneruskan studi di Jogja, Surabaya, Bandung, Maupun Jakarta. Gua sudah di rumah, sementara bayangan mau melanjutkan studi lanjut semakin jauh, apalagi bapak gua yang hanya wiraswasta biasa, usahanya kadang maju, kadang mundur ga pasti. dalam pikiran Gua, Gua harus kerja, sementara perkuliahan dimulai bulan september, ini masih Mei akhir, artinya masih ada 3 bulan lagi kalau gua emang mau kuliah, 3 bualan buat nyari uang , 3 bulan buat daftar masuk kuliah.<br />
<br />
Gua mencoba melamar kerja di sebuah mall di pusat kota semarang, ya teman, datang pagi hari jam 6. pakai baju putih lengan panjang, celana kain hitam, dan sepatu fantofel, rapi sekali.. gua langsung diterima, taukah teman di bagian apa, Cleaning service... !! orang awam pasti akan mengira itu pekerjaan yang keren, memakai baju bagus ala kantoran, dan sepatu hitam mengkilap seperti para executive muda.<br />
<br />
&quot;Hei, Adi, cepat kesini, ini ada eskrim pengunjung jatuh&quot; seorang superisor berwajah kotak, oriental, alis tebal, dan rahang yang menunjukan gurat kerasnya meneriakan itu ke Gua. Segera gua lari tergopoh-gopoh membawa Mop Pel dan kain buat ngebersihinya. Lantai yang kotor karena ada tumpahan eskrim pengunjung, ditambah terinjak-injak pengunjung lainnya, semakin panjang kotorannya, sejauh bekas es krim di sepatu itu kagak habis, sejauh itu pula gua membersihkannya.<br />
<br />
Pekerjaan gua ini ringan teman, cuma ngepel lantai. Dulu Tiap hari gua juga ngepael di kost, gantian dengan Rizki. Fikir gua ini pekerjaan ringan. Tapi, apa boleh dikata, ngepel bukan hanya sekedar ngepel, Ngepel 8 jam tanpa henti, lagi di pel di injak-injak pembeli, lagi ngepel ember ke tendang pengunjung, 8 jam berdiri dan istirahat cuma 30 menit, 8 jam mengerakan kain pel dari kiri ke kanan, dan 8 jam harus tunduk dari pengawasan supervisor yang kaku. Oh teman, beginilah beratnya cari uang. Kadang sekarang kalau gua ke mall, gua lebih menghargai  para petugas kebersihan mall, karna gua pernah merasakan di posisi mereka.<br />
<br />
Hari pertama Gua kerja, Remuk badan ini, tubuh serasa kaku semua, kaki serasa sudah tidak berotot lagi, rasa letih, capek, dan lesu membuat gua harus tidur lebih awal. Gua dapat kost di dekat sungai, di kawasan golongan menengah kebawah. hanya tersedia kasur dan 1 lemari kecil saja, jendela kecil dan terbagi-bagi dengan kamar kost lainnya. teman sekamar gua bernama Rohmat, dia Anak Purwodadi, merantau ke Semarang, sama kaya Gua, mencari sesuap nasi.<br />
<br />
Gua ga bisa tidur, mata ini selalu on terus, padahal tubuh rasanya sudah remuk redam, mana besuk harus kerja lagi. Gua buka diary Rizki, Gua baca tulisan-tulisa Rizki, ya, dengan membacanya, Hati Gua lebih tenang, capek Gua serasa berkurang, dan pikiran Gua kagak kalut lagi. Dalam hati gua bergumam, Riz, sedang apa Lu disana. Ga tau berapa lama, akhirnya Gua tertidur, denga posisi Diary Rizki masi terbuka dan tengkurap di dada gua.<br />
<br />
Malam itu gua bermimpi, ya mimpi masih suasana dengan Rizki, Mimpi ketika Gua di stadiun Bola, nonton Bola dengan Rizki. Sepertinya Mimpi yang begitu nyata, Mimpi itu bukan mengobati kangen  Gua, tapi mimpi itu malah membuat jiwa ini semakin menderita.<br />
<br />
&quot;Sob, bangun, hari ini Lu shift pagi lagi kan ? Rohmat menggoyangkan badan gua, Gua lihat jam masih jam 5, sementara kerja masuk jam 6, ya teman , Pekerjaan Gua terbagi menjadi 2 shift, shift pertama jam 6 pagi sampai 3 sore, dan shift 2 dari jam 3 sore sampai 11 malam,. paling susah itu kalau saat jumping Shift, harus pulang jam 11 malam, dan pagi masuk jam 6 pagi.<br />
<br />
Tiga bulan sudah gua bekerja di mall, dan di sela pekerjaan itu gua sempatkan daftar kuliah. Gua putuskan untuk kuliah di swasta, ya, karena alasan klasik,,, kuliah di swasta lebih fleksibel dan bisa disambi kerja. Bukan berarti anak swasta itu buangan dari anak-anak yang kagak diterima di Negeri, tapi kuliah di swasta adalah Pilihan.<br />
<br />
Gua kuliah pagi, sementara di waktu sore gua kerja. Gua sudah ga kerja di mall lagi, gua kerja di salah satu restoran di daerah Semarang. Pemilik Restoran ini sangatlah baik,  gua minta untuk masuk shift malam terus, karena kalau pagi Gua kuliah, dan itu diijinkan.<br />
<br />
Suasan kuliah Gua tidak seperti yang terlihat kayak di Tivi tivi, pakaian yang keren, modis, pakai mobil, hanya main dan pacaran, itu kagak berlaku buat gua teman, walaupun sebagian besar teman kuliah gua memang kehidupannya seperti itu. Gua berteman dengan Herman, anak pendiem, yang kemana-mana selalu bawa buku tebel, entah buku apa itu namanya, yang jelas tiap minggu bukunya selalu ganti, dengan judul yang ganti pula.<br />
<br />
Sepertinya hati ini susah sekali dimasukin oleh orang lain selain Astra dan Rizki, tapi hari ini lain, seorang anak dari fakultas sebelah, bergigi kecil-kecil , mirip Astra giginya, Anak UKM futsal, tinggi tegap, kulit agak hitam dikit, ganteng, Hidung mancung, ya saat gua ketemu di kantin<br />
<br />
&quot;Mas, ambil Jurusan apa?&quot; tanya anak itu<br />
<br />
&quot; Teknik xxxxxxxx  mas, &quot; jawab gua dengan lirih<br />
<br />
&quot;Oh ya, Gua Akuntansi &quot; jawab anak itu,<br />
<br />
&quot;Kenalin gua Ardhan&quot; sambil nyalami gua,<br />
<br />
&quot;Adi&quot; jawab gua sambil menjabat tangan Ardhan. Ga tau seperti ada energi yang bergetar ketika gua berjabat tangan denan Ardhan, energi positiv yang menggerakan jiwa ini, energi yang menyatu setelah kesekian bulannya gua terpuruk karena kehilangan 2 sahabat gua.<br />
<br />
Perkenalan pertama di kantin kampus, Ardhan, anak yang  yang jika tersenyum seperti senyum Astra, Anak ketika main basket mengingatkan gua seperti Rizki, dan Cara berfikirnya seperti Iqbal... Shitt,,, gua ga mau lagi kejebak dengan perasaan ini. Gua selalu berdoa, Ardhan anak straight, anak normal, sehingga gua kagak punya kesempatan buat naruh ke hatinya.<br />
<br />
“Eh, mas, Lu kost di mana ? tanya Ardhan<br />
“Jangan panggil Mas, panggil Adi saja, kita seumuran kan “jawab gua<br />
“Gua di daerah Tugu Muda, sob “ jawab gua<br />
<br />
“Jauh amet, kenapa ga di deket-deket sini aja” jawab Ardhan<br />
<br />
“Kost di deket kampus sini mahal-mahal sob, lagian di sana Gua sudah nyaman” kata Gua<br />
<br />
“Satu kost sama Gua saja, Free.. Gua sudah bayar 1 tahun Full, lagian Ibu kost bilang ke Gua kalau mau nambah teman buat temen Gua ga papa, tanpa adanya tambahan biaya lagi” jelas Ardhan dengan semngat berkobar kaya orang maju perang.<br />
<br />
“Ga usah sob, Gua ga mau jadi beban Lu, Gua juga mau mandiri” jawab Gua<br />
<br />
“Ayo lah sob, Plisss,, gua butuh temen, rasa di kost sendiri itu ga enak. Oh ya, kalau lu tetep ga enak, Lu bayar 50 %, “<br />
<br />
BERSAMBUNG..............<br />
<br />
Turut ikut mention<br />
<a href="https://boyzforum.qiarchive.org/profile/black_skies" rel="nofollow">@black_skies</a><br />
<a href="https://boyzforum.qiarchive.org/profile/crueldecision" rel="nofollow">@crueldecision</a><br />
<a href="https://boyzforum.qiarchive.org/profile/steveAnggara" rel="nofollow">@steveAnggara</a><br />
<a href="https://boyzforum.qiarchive.org/profile/Kim_Hae_Woo679" rel="nofollow">@Kim_Hae_Woo679</a><br />
<a href="https://boyzforum.qiarchive.org/profile/half_blood" rel="nofollow">@half_blood</a><br />
<a href="https://boyzforum.qiarchive.org/profile/harya_keifends" rel="nofollow">@harya_keifends</a><br />
<a href="https://boyzforum.qiarchive.org/profile/Mustajab3" rel="nofollow">@Mustajab3</a><br />
<a href="https://boyzforum.qiarchive.org/profile/khonk" rel="nofollow">@khonk</a><br />
<a href="https://boyzforum.qiarchive.org/profile/onewinged_bird" rel="nofollow">@onewinged_bird</a><br />
<a href="https://boyzforum.qiarchive.org/profile/boyzski" rel="nofollow">@boyzski</a><br />
<a href="https://boyzforum.qiarchive.org/profile/fends" rel="nofollow">@fends</a><br />
<a href="https://boyzforum.qiarchive.org/profile/alhadi_pramana1" rel="nofollow">@alhadi_pramana1</a><br />
<a href="https://boyzforum.qiarchive.org/profile/regieallvano" rel="nofollow">@regieallvano</a><br />
<a href="https://boyzforum.qiarchive.org/profile/rioz" rel="nofollow">@rioz</a><br />
<a href="https://boyzforum.qiarchive.org/profile/otsutsuki97s" rel="nofollow">@otsutsuki97s</a><br />
<a href="https://boyzforum.qiarchive.org/profile/lulu_75" rel="nofollow">@lulu_75</a><br />
<a href="https://boyzforum.qiarchive.org/profile/Dasta97" rel="nofollow">@Dasta97</a><br />
<a href="https://boyzforum.qiarchive.org/profile/adi_suseno10" rel="nofollow">@adi_suseno10</a><br />
<a href="https://boyzforum.qiarchive.org/profile/arieat" rel="nofollow">@arieat</a><br />
<a href="https://boyzforum.qiarchive.org/profile/Madz_inhouse" rel="nofollow">@Madz_inhouse</a><br />
<a href="https://boyzforum.qiarchive.org/profile/dhani_123" rel="nofollow">@dhani_123</a><br />
<a href="https://boyzforum.qiarchive.org/profile/kiyomori" rel="nofollow">@kiyomori</a><br />
<a href="https://boyzforum.qiarchive.org/profile/alfa_centaury" rel="nofollow">@alfa_centaury</a><br />
<a href="https://boyzforum.qiarchive.org/profile/yansah678" rel="nofollow">@yansah678</a><br />
<a href="https://boyzforum.qiarchive.org/profile/idans-true" rel="nofollow">@idans-true</a><br />
<a href="https://boyzforum.qiarchive.org/profile/balaka" rel="nofollow">@balaka</a><br />
<a href="https://boyzforum.qiarchive.org/profile/monster_swifties" rel="nofollow">@monster_swifties</a><br />
<a href="https://boyzforum.qiarchive.org/profile/tioherm" rel="nofollow">@tioherm</a><br />
<a href="https://boyzforum.qiarchive.org/profile/viji3_be5t" rel="nofollow">@viji3_be5t</a><br />
<a href="https://boyzforum.qiarchive.org/profile/line" rel="nofollow">@line</a><br />
<br />
Yang ga mau di mensyen bilang nggih .. suwun ]]>
        </description>
    </item>
    <item>
        <title>1001 Samsara: Immortal Ascension</title>
        <link>https://boyzforum.qiarchive.org/discussion/16751842/1001-samsara-immortal-ascension</link>
        <pubDate>Thu, 07 Mar 2019 16:00:56 +0000</pubDate>
        <category>BoyzStories</category>
        <dc:creator>doppelganger126</dc:creator>
        <guid isPermaLink="false">16751842@/discussions</guid>
        <description><![CDATA["Come hurt with me, Scipio."<br />
<br />
Agra merasa putus asa dengan hidupnya. Dia mengalami kondisi klinis yang disebut sindrom Immortal. Kini tak ada lagi yang bisa mempertahankan keinginannya untuk hidup. Tidak orang tuanya. Tidak juga Sylvia, pacarnya. Lalu Corilus hadir dengan imajinasinya yang tidak biasa.<br />
<br />
Cowok itu empat tahun lebih muda, berwajah sama persis seperti Agra, dan suka melontarkan kalimat-kalimat ajaib, misalnya mengaku-ngaku sebagai abang Agra. Awalnya Agra pikir bocah sinting itu sangat menyebalkan, namun lambat laun hubungan mereka pun menjadi dekat.<br />
<br />
"That's okay, we can hurt together... Cori..."<br />
<br />
notes: cek wattpad gue ya <a href="https://www.wattpad.com/396488565-1001-samsara-immortal-ascension-part-satu" rel="nofollow">https://www.wattpad.com/396488565-1001-samsara-immortal-ascension-part-satu</a>]]>
        </description>
    </item>
    <item>
        <title>MY PARTNER - jantung hatiku ....</title>
        <link>https://boyzforum.qiarchive.org/discussion/7834422/my-partner-jantung-hatiku</link>
        <pubDate>Fri, 15 Aug 2008 05:00:01 +0000</pubDate>
        <category>BoyzStories</category>
        <dc:creator>bunny.blue</dc:creator>
        <guid isPermaLink="false">7834422@/discussions</guid>
        <description><![CDATA[Cinta adalah anugerah terindah<br />
<br />
Siapakah yang sanggup menolak cinta?<br />
<br />
Yang hadir tak terduga menyusup dengan paksa di kekosongan hati<br />
<br />
<br />
*************<br />
<br />
Aku baru sadar bahwa Aku ini gay sejak kelas 2 SMP, saat itu temanku si Heri datang menemuiku yang sedang asyik sendirian di kelas menyalin catatan fisika.<br />
<br />
&quot;Ssst.....,Di.....&quot; Heri berbisik, sambil duduk di sebelahku.<br />
<br />
&quot;Hmmm....&quot; Jawabku sambil melanjutkan pekerjaanku tanpa menoleh.<br />
<br />
&quot;Sssst, Di, liat sini dong .....&quot; nadanya sedikit maksa, tapi masih terus berbisik.<br />
<br />
Kutolehkan wajahku ke arahnya. Dia sedang menunduk sambil melihat sesuatu di bawah meja. Aku penasaran. Kudekatkan kepalaku sambil bertanya : &quot;Apa itu, Her?&quot;<br />
<br />
Kulihat dia sedang memegang selembar foto wanita sedang duduk ngangkang memperlihatkan barangnya yang penuh dengan bulu jembut.<br />
<br />
&quot;Hiii,... kamu dapat dari mana itu, Her?&quot; tanyaku, agak sedikit jijik.<br />
<br />
&quot;Bagus nggak?&quot; Tanyanya.<br />
<br />
&quot;Ah, .... bagusan punya cowok?&quot; Kataku polos, sambil tetap mengamati foto itu.<br />
<br />
&quot;Kalau punya cowok, kan kita juga udah punya, tiap hari juga liat, apa anehnya?&quot; Katanya, juga sambil tetap memandang foto itu. &quot;Kita kan bukan homo.... kalau cowok tuh harusnya lebih suka sama yang seperti ini.&quot; Lanjutnya. Nada suaranya seperti memberi nasihat.<br />
<br />
&quot;Kamu lebih suka yang mana sih sebenernya?&quot; tanyanya menyelidik.<br />
<br />
Aku diam beberapa saat, karena perasaanku agak aneh. Akhirnya aku jawab : &quot;Aku lebih suka yang bersih dan sopan?&quot; kataku diplomatis, sambil mengalihkan perhatianku untuk meneruskan pekerjaanku.<br />
<br />
&quot;Oo, gitu ya.... sori deh. Aku lupa kalau kamu tuh seksi rohani, hehehe....&quot; Heri ngeloyor pergi ke luar kelas.<br />
<br />
Tapi sejak saat itu aku mulai berfikir, ada yang aneh nih dalam diriku. Kenapa aku lebih suka melihat cowok cakep ketimbang cewek cantik? Aku mulai flashback ke masa SD beberapa tahun sebelumnya.]]>
        </description>
    </item>
    <item>
        <title>Curhat dikit :D</title>
        <link>https://boyzforum.qiarchive.org/discussion/16751714/curhat-dikit-d</link>
        <pubDate>Mon, 19 Mar 2018 16:06:18 +0000</pubDate>
        <category>BoyzStories</category>
        <dc:creator>Rainbow_nobles</dc:creator>
        <guid isPermaLink="false">16751714@/discussions</guid>
        <description><![CDATA[Jadi gini gays<br />
Tadi malam apa malam tadi ya... Yah pokok nya tadi tadiii banget kan... Bos gue(pak bos). Lagi bincang2 ma orang orang baru yg nanya jalan(ceritanya tuh orang jakarta).. Nanya travel(bus) buat ke Kalimantan. Bla bla bla (gak jelas gitu.... Gue sih gak denger apa yg di omongin. <br />
Skip.... <br />
Orang nya ada 3 berpenampilan agak gak gimana gitu...agak alay tapi suara &amp;  gerak tubuh nya tidak melambai.. Kelihatannya macho sih tapi itu tadi,,,, pakaian nya kaya tukang salon sambil ninting tas cewek gitu... <br />
Skip.... <br />
Nah habis nanyain kepoin tadi mereka pergi... Lalu bos bilang ke gue.. <br />
Bos:eh lo tau gak tadi siapa<br />
Gue:gak, mang napa(gue pikirin)... <img src="https://boyzforum.qiarchive.org/resources/emoji/lol.png" title=":D" alt=":D" height="20" /> <br />
Bos: kaya nya 3 orang tadi LGBT deh....?? <br />
Gue: lgbt (pura pura bego) apa itu<br />
Bos:itu tuh yg cowok suka cowok(anjay) najis deh... <br />
Gue: hah baru denger(ya ampun bos,,, tega bener,,,  gue juga lgbt tau)<br />
Bos:iya itu kelihatan banget dari penampilan nya.... Kaya gitu.. Ih serem gilak tuh manusia. <br />
Gue: oh ngeri juga yak  (anjay bos ini minta di tabok,  sehina itu kah homo) <br />
<br />
Aduh itu momen paling WTFFFFFf......dalam hidup gue... Mimpi apa aku semalam... Untung bos gue gak tau kalau anak buah nya ini homo juga... Kalau tau bisa kiamat dunia ini.  :'''v... <br />
<br />
Sering juga bos nanya in.. Udah punya pacar belum.... Gue bilang aja belum.. Gak mau pacaran dulu... Kadang nanya.. Kapan nikah.. Itu pertanyaan paling paling sakit di dengar oleh telinga...gue bilang aja belum punya uang buat merid. <br />
<br />
Aduh pokok nya bos gue itu homopobik banget deh.... <br />
<br />
Makasih ya udah baca curhat gue.. Gak tau lagi mau curhat kemana... Ke fb mah bakal ketahuan nanti kalo aq homo... Wkwkwkwk<br />
<br />
Kalau kalian punya pengalaman juga silakan di share... Kalo mau baca aja juga silahkan. <br />
<br />
Maaf tulisan nya berantakan,,, ini pertama kalinya gue curhat di sosmed... Biasa di pendem dalam hati aja <img src="https://boyzforum.qiarchive.org/resources/emoji/lol.png" title=":D" alt=":D" height="20" /> gue orang nya introvert sih... Wkwkwkwk<br />
<br />
NB:dalam kurung itu artinya dalam hati]]>
        </description>
    </item>
    <item>
        <title>I Think I Love You, Buddy (Romantic, 18+ Love Story)</title>
        <link>https://boyzforum.qiarchive.org/discussion/16751815/i-think-i-love-you-buddy-romantic-18-love-story</link>
        <pubDate>Thu, 13 Dec 2018 10:47:45 +0000</pubDate>
        <category>BoyzStories</category>
        <dc:creator>ryrxxx</dc:creator>
        <guid isPermaLink="false">16751815@/discussions</guid>
        <description><![CDATA[Closed, will be moved to BS+ soon.]]>
        </description>
    </item>
    <item>
        <title>Lanjutan Ada Cerita Cinta di Asrama Eps. 14</title>
        <link>https://boyzforum.qiarchive.org/discussion/16751826/lanjutan-ada-cerita-cinta-di-asrama-eps-14</link>
        <pubDate>Mon, 31 Dec 2018 15:47:47 +0000</pubDate>
        <category>BoyzStories</category>
        <dc:creator>Leoverry</dc:creator>
        <guid isPermaLink="false">16751826@/discussions</guid>
        <description><![CDATA[Malam Gaes, Maaf nih Ada Cerita Cinta Di Asrama terhenti sangat lama, dikarenakan banyak kerjaan yang nggak bisa ditinggalkan. Saat ini cerita yang saya tulis di awal tahun 2015 itu sudah dilanjutkan kembali.<br />
<br />
Episode 14<br />
<br />
Para remaja belasan tahun duduk dalam barisan dengan tertib dan rapi. Aula Pertemuan ini terasa begitu sunyi, padahal ada 202 orang siswa kelas XI di dalamnya, termasuk aku, Reno dan Idris. Kami berada dalam satu barisan, suasana hening dan tegang, tak ada satupun siswa yang menoleh kiri kanan seperti pertemuan-pertemuan biasanya, tak ada juga suara hiruk pikuk dan bisik-bisik dari para siswa yang terdengar. Semua fokus dan pandangannya satu arah ke depan, tepat kepada seorang pria berperawakan tegap dan berambut cepak, berumur empat puluhan, dia adalah Pak Armen, Kepala Pengasuh. Di samping kirinya berdiri Pak Romi, aku ingat beliau adalah staf Pengasuh di kampus ini, dia dari Pacitan dan punya tampang galak, dan tentu saja semua yang ada di ruangan ini tidak akan berharap untuk berurusan dengan kedua orang itu, kecuali hari ini.<br />
<br />
Hari ini adalah hari paling bersejarah dalam kehidupan berasrama kami. Tahun ini kami semua telah menjadi siswa kelas XI, siswa senior, dan tepat hari ini sebagian dari siswa kelas XI yang ada dalam ruangan ini akan mendapatkan tugas tambahan baru, yaitu sebagai pengurus asrama. Tanggung jawab ini merupakan proses pembelajaran kepemimpinan di Sekolah ini. Kami semua berharap dapat menjadi bagian dari kepengurusan asrama, meskipun hanya setengah dari kami yang akan dipanggil.<br />
<br />
Gosip dan informasi intelejen telah beredar beberapa hari ini. Informasi itu menyebar begitu cepat di kalangan siswa kelas XI, Semuanya masih simpang siur dan kadang berubah-ubah. Di antara kami tentu saja menjadi pengurus asrama adalah suatu kebanggaan, apalagi kalau jadi kepala asrama, maka akan lebih bangga rasanya. Namun dengan jumlah 14 asrama yang tersedia tentu hanya 130 an siswa saja yang akan ditunjuk sebagai pengurus, sisanya akan menjadi pengangguran, begitu umumnya siswa menyebut kelas XI yang bukan pengurus asrama.<br />
<br />
Jabatan pengurus asrama begitu diminati karena pengurus asrama mendapat fasilitas khusus, baik kamar, kantor, kamar mandi dan fasilitas-fasilitas lainnya. Selain itu juga pengurus asrama mempunyai wewenang dan tanggung jawab untuk membina dan mengurusi siswa di luar jam sekolah, mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi.<br />
<br />
Selain fasilitas, Pengurus asrama juga mendapat perlakuan khusus, terutama dari para junior dan anggota asrama. Seluruh siswa kelas X ke bawah harus berperilaku sopan dan santun terhadap pengurus asrama bila tidak mau dihukum, selain itu pengurus asrama juga dapat menghukum seluruh anggota yang ada di asramanya masing-masing.<br />
<br />
Menjadi pengurus asrama adalah bagian tak terpisahkan dari pendidikan di sekolah ini, sebagaimana pesan Direktur dan Kepala Sekolah, pendidikan tidak hanya didapatkan dari pelajaran di kelas, tapi juga dari semua aspek yang ada di kampus ini, bahkan tidur pun ada nilai pendidikannya. Dulu aku sempat tidak percaya tidur ada pendidikannya. Belakangan aku baru paham ternyata yang dimaksud tidur ada pendidikannya adalah bagaimana kita bisa memanfaatkan waktu tidur secara efektif, karena hal itu akan menjadi kebiasaan setelah keluar dari sekolah ini, setidaknya itu menurut pemahamanku saat ini.<br />
<br />
Bicara tentang tidur, dengan menjadi pengurus asrama waktu tidur akan semakin sedikit. Seorang pengurus asrama tidur sedikit lebih lambat dari siswa pada umumnya. Karena pengurus asrama harus mengecek anggota-anggota asramanya mulai dari mengabsen setiap kamar, berkeliling mengawasi kondisi anggota, mengecek seluruh sudut asrama dan tugas-tugas lainnya. Bila semua sudah beres dan aman, baru pengurus dapat tidur. Selain itu sekali dalam seminggu pengurus asrama akan berjaga tidak tidur sampai pagi, menjaga kondisi asrama dari berbagai macam gangguan.<br />
<br />
"Rick, namamu dipanggil tuh! ayo buruan maju" Ucap Reno mengejutkanku. Aku tidak sadar ternyata Pak Armen sudah mulai memanggil calon-calon pengurus asrama satau per satu.<br />
<br />
Dengan sedikit canggung aku berdiri, sambil melirik ke kiri dan ke kanan, sebagian siswa tampaknya sudah dari tadi memandangku, ada yang senyum-senyum, ada juga yang bertampang sinis. Hmmmm, suasana yang sudah biasa. Perlahan aku berjalan maju masuk dalam barisan teman-temanku yang sudah dipanggil pertama kali. Ada sekitar 7 orang siswa, heran juga ternyata aku dipanggil lebih awal dari dugaanku.<br />
<br />
Hampri 2 jam kegiatan itu berjalan. Idris dan Reno pun sudah dipanggil ke depan. Kami semua jadi pengurus asrama. Aku kebagian jadi pengurus di asrama Alhambra, asrama yang pernah aku diami beberapa tahun lalu. Bersama 24 orang lainnya kami akan menjaga 250 an siswa kelas VIII sampe kelas X, lumayan juga. Ada semangat baru yang muncul, kebiasaan yang selama ini dilakukan oleh kami tentunya akan sedikit berubah, maklum saja kami harus menjaga wibawa dan nama baik asrama yang dengan susah payah diperjuangkan oleh pengurus-pengurus sebelum kami.<br />
<br />
Dhani Cahyadi, siswa kelas XI.C IPA dari Pekanbaru Riau yang menjadi kepala asrama kami. Pada dasarnya dia bukan bos kami sih, karena siswa kelas XI tidak membawahi sesama siswa kelas XI, Kepala asrama hanya mengkoordinir kami semua untuk mengurus siswa yang ada di asrama ini, dan menjadi penanggungjawab terhadap seluruh anggota asrama yang kami bina. Aku tidak terlalu kenal dengan Dhani, meski beberapa kali aku pernah bertemu dengannya. Sekilas tampak anak itu cukup smart dan kalem, selebihnya akan aku nilai berjalan dengan waktu.<br />
<br />
Sebelum kami bubar, Pak Armen memberikan wejangan kepada kami, terutama tentang bagaimana kami harus mampu menjadi tim yang baik dan kompak.<br />
<br />
"Kuncinya ada di komunikasi antar pengurus" jelas Pak Armen.<br />
<br />
"Semua siswa kelas XI punya banyak tugas, sebagian besar dari adik-adik semua adalah anggota inti di klub olahraga, kesenian, bahasa dan klub-klub lainnya. Selain itu juga ada yang merangkap menjadi pengurus perwakilan daerah, belum lagi ada juga yang menjadi ketua kelas. Jadi dengan banyak kesibukan dapat menambah stres akibatnya akan susah mengontrol emosi." sambung Pak Armen.<br />
<br />
Dengan antusias seluruh siswa yang terpilih jadi pengurus asrama mengangguk-anggukan kepalanya, sebagian siswa yang tidak terpilih tampak tidak memperhatikan, mungkin ada rasa kecewa dalam diri mereka. Aku pun akan berperasaan sama bila tidak terpilih, tapi gimana lagi, tidak mungkin semuanya bisa jadi pengurus, toh dalam kehidupan sehari-hari proses seleksi adalah hal yang akan kita hadapi sehari-hari.<br />
<br />
"Maka itu dalam mengelola asrama dibutuhkan keterbukaan antar pengurus. Kepala Asrama tidak boleh membuat kebijakan seenaknya, harus dimusyawarahkan antar sesama pengurus. Bila ada yang tidak berkenan harus menyampaikannya dalam rapat-rapat pengurus, agar tidak saling dongkol. Selain itu harus mampu menjaga rasa di antara adik-adik sekalian. Yang sedang bertugas jaga harus melaksanakannya dengan sebaiknya. Seperti yang adik-adik ketahui, Bagian Keamanan OSIS tidak akan segan menghukum seluruh pengurus asrama meski yang lalai hanya satu atau dua orang saja. Ini bertujuan untuk mendidik adik-adik sekalian agar bertanggung jawab dengan tugas yang diamanahkan." jelas Pak Armen lagi.<br />
<br />
Aku dan beberapa siswa saling pandang mendengar penjelasan itu, seakan-akan kami semua merasa kurang puas bila kami harus dihukum hanya karena keteledoran beberapa orang.<br />
<br />
"Jangan kecewa dulu" tambah Pak Armen, yang entah mengapa seakan tau apa yang sedang ada di pikiran kami.<br />
<br />
"Itu sebabnya adik-adik harus mampu membangun komunikasi yang baik antar pengurus. Bila semua pengurus kompak, komunikasi lancar dan leadership Kepala Asramanya juga kuat, maka adik-adik akan mampu mengelola asrama tanpa banyak kendala dan masalah." tambah Pak Armen lagi.<br />
<br />
Aku sangat setuju dengan arahan Pak Armen. Membayangkan 25 orang harus bekerjasama dalam tim untuk mengurusi 250 anggota yang masing-masing punya watak berbeda-beda tentu tugas yang sangat berat. Selama menjalani kehidupan asrama aku sudah merasakan bagaimana hubungan antar sesama teman kamar yang jumlahnya hanya 4 orang. Kadang kami saling diam, tersinggung dan bahkan pernah juga berkelahi. Apalagi kalau jumlahnya 25 orang, tentu lebih rumit lagi hubungannya.<br />
<br />
"Dan satu hal yang paling penting, Yayasan melarang adik-adik menghukum anggota asrama dengan hukuman fisik atau hukuman lainnya yang dapat menyebabkan cedera fisik" kali ini raut Pak Armen tampak lebih serius ketika menjelaskan aturan ini.<br />
<br />
"Pimpinan Yayasan sangat menekankan hal ini. Bila ada yang kedapatan main pukul atau menghukum anggota sampai menyebabkan cidera, hukumannya sangat berat. Bapak Direktur sudah menyampaikan, yang main pukul akan dikeluarkan dari sekolah dengan tidak hormat." jelas Pak Armen.<br />
<br />
Kami bergidik mendengarnya. Dikeluarkan pada saat-saat seperti ini bukan pilihan yang bijaksana. Aku jadi teringat cerita Dion beberapa tahun silam, tentang pengurus yang dikeluarkan dari sekolah karena menganiaya anggota asrama atau pengurus lainnya, aku lupa persisnya, yang jelas pengurus itu dikeluarkan dari sekolah.<br />
<br />
Akhirnya setelah hampir 30 menit arahan Pak Armen kami dapat bubar dan kembali ke asrama kami masing-masing. Aku, Idris dan Reno ngobrol sebentar membahas apa saja kira-kira yang akan kami lakukan esok hari, hari pertama dimana kami akan dipanggil "kak" oleh ratusan siswa binaan kami. Ada rasa bangga dan juga rasa cemas, semua bercampur aduk jadi satu. Tapi setidaknya kami akan mencoba berusaha untuk melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab. Lagian, kami juga sudah mulai dewasa.<br />
<br />
*************<br />
<br />
Aku sedang mencatat nama-nama siswa yang belum pulang ke asrama hingga lebih dari jam 10.00 malam. Dan lagi-lagi nama anak ini ada di daftarku. Aku masuk menuju kamar 207 dan mengecek mungkin dia sudah pulang dan belum sempat melapor, tapi hasilnya nihil. Tahun ajaran ini baru saja dimulai, tidak mungkin juga walikelasnya memberikan jam belajar tambahan. Hmmm, memang kadang siswa kelas 3 SMP dan 1 SMA agak sulit diatur, apalagi sebagian dari mereka adalah teman-teman sekamar kami tahun lalu.<br />
<br />
"Kak?" panggilan seseorang membuat aku terkejut. Entah sudah berapa lama aku tertidur diatas tumpukan daftar yang tadi aku isi. Kulirik jam yang melingkar di tanganku, pukul 12.01 dini hari.<br />
<br />
Aku menatap anak yang membangunkanku tadi dengan sedikit kesal, lalu menyodorkan absen ke arahnya. Dengan tanpa rasa bersalah dia mengisinya, sekilas kulihat dia tersenyum. Sebenarnya aku bisa saja menghukumnya dengan push up atau lari keliling asrama, atau juga membersihkan toilet besok pagi. Tapi aku lebih memilih mengabaikannya, mungkin disebabkan rasa kantukku atau juga akau belum sepenuhnya sadar dari tidurku tadi.<br />
<br />
<br />
"Kamu dari mana?" tanyaku ketus.<br />
<br />
"Belajar kak" jawabnya tegas.<br />
<br />
"Sampe jam segini? Sama siapa?" tanyaku masih dengan nada yang sama.<br />
<br />
"Sendiri." jawabnya singkat.<br />
<br />
"Kenapa kamu tidak ijin dulu?" tanyaku kesal.<br />
<br />
"Maaf kak, aku malas pulang ke asrama dulu. Kalau sudah di asrama malah nanti pengennya langsung tidur". jawabnya dengan sangat ramah.<br />
<br />
Perlahan kekesalanku mulai menurun, padahal aku ingin marah lagi "Jangan bohonglah kamu, sekarang kan masih awal tahun ajaran, masa sudah belajar. UN juga masih jauh. Saya dulu waktu kelas 3 SMP tidak sebegitunya, saya juga kelas 3B tau gak. Apalagi jawaban kamu yang malas pulang ke asrama dulu, kelihatan banget kamu ini tidak patuh aturan dan sombong."<br />
<br />
Kata-kata itu sudah terangkai dalam kepalaku untuk dikeluarkan, alih-alih tersampaikan malah yang keluar basi-basi norak yang gak jelas.<br />
<br />
"Wah rajin banget, pantes kamu naik kelas 3B"<br />
<br />
Aku saja malu mencerna kata-kataku tadi, apalagi anak ini. Ekspresinya tidak mencerminkan dia merasa dipuji dengan kata-kata itu, malah kesannya dia tau aku lebay.<br />
<br />
"Ada yang lain kak?" tanya anak itu, dan dia mengabaikan kata-kataku tadi seakan-akan itu hanya angin lalu yang nggak penting.<br />
<br />
"Cukup, kamu bisa istirahat." jawabku datar.<br />
<br />
"Terimakasih kak" ucapnya, lalu meninggalkanku dengan setumpuk daftar yang tadi jadi alas tidurku.<br />
<br />
"Leo, tunggu!" tiba-tiba saja mulutku berbunyi tanpa menunggu perintah. Aku bingung mau ngomong apa.<br />
<br />
"Iya kak Ricko?" Leo menoleh.<br />
<br />
"Jangan diulangi lagi, setidaknya kamu harus belajar menaati aturan yang ada. Pengurus yang lain mungkin akan menghukummu bila tidak absen malam. Kamu bisa masuk kamarmu sekarang." ucapku dengan lancar. Leo sesaat tertegun, dia tidak kesal tapi malah tersenyum.<br />
<br />
"Iya kak, aku hanya terlambat saat kakak yang piket jaga kok. Selamat malam." ucapnya, meninggalkanku yang masih bingung mendengar jawabannya.<br />
<br />
Aku bergegas mengambil daftar hadir siswa dari bulan pertama dan mengeceknya satu per satu, dan benar saja Leo tidak pernah terlambat, kecuali setiap kali aku menjadi petugas piket. Apa dia sengaja? Kenapa dia melakukannya?<br />
<br />
Pertanyaan-pertanyaan muncul dalam benakku. Apakah aku tidak punya wibawa sehingga anggota asramaku tidak takut melanggar bila aku yang sedang berjaga? Atau karena aku jarang menghukum adik-adik asramaku menjadikan mereka tidak menggangapku?<br />
<br />
Aku sekali lagi membaca daftar-daftar itu. Kelihatannya tidak seperti dugaanku tadi, karena hanya Leo saja yang melanggar dan siswa lain tidak. Artinya tidak ada masalah dengan pribadiku sebagai pengurus. Lagian aku bukan tipe orang yang gila hormat. Tapi untuk Leo yang selalu saja tidak absen malam, kenapa? Entahlah. Mungkin dia punya alasan sendiri dan aku harus memberinya kesempatan menjelaskannya ketika dia sudah siap.<br />
<br />
"Mikirin apa Rick?" Rangga berdiri di depan pintu kamar pengurus asrama. Dia nyaris membuatku terkejut, semenjak kapan dia berdiri disitu, bikin kaget aja.<br />
<br />
"Oh, nggak ada. Cuma lagi merekap absensi. Kamu belum tidur?" aku balik bertanya.<br />
<br />
"Belum ngantuk. Emang siapa yang terlambat tadi?" Tanya Rangga sambil berjalan ke arahku.<br />
<br />
"Oh, Leo anak kamr 207". jawabku datar.<br />
<br />
"Yang dari Kalimantan itu ya?" tanya Rangga lagi.<br />
<br />
"Iya. Dia selalu tidak absen malam setiap kali aku jaga" ucapku ketus.<br />
<br />
Rangga tertawa. Dia duduk di sofa di samping meja pengurus.<br />
<br />
"Kayaknya dia anak baik. Beberapa kali aku keliling waktu piket dia ada di kamarnya. Mungkin dia sengaja kali Rick" ucap Rangga sambil menguap.<br />
<br />
"Nggak mungkinlah. Ngapain sengaja melanggar dan ketahuan. Katanya sih dia dari belajar, dan kayaknya dia gak bohong. Dia anak kelas 3B, wajar saja dia rajin belajar." sanggahku.<br />
<br />
"Sekarang kan masih awal tahun, masa sih sudah belajar. Pasti dia bohong tuh. Apa mungkin dia keluar kampus?" pernyataan dan pertanyaan Rangga bikin aku terkejut.<br />
<br />
"Gak mungkin lah, dia masih kelas 3 SMP. Dia tidak akan berani" belaku.<br />
<br />
Rangga terdiam, dia rada terkejut dengan jawabanku yang terkesan membela Leo. Aku malah jadi salah tingkah, kenapa juga aku menjawab begitu. Bagaimana kalau seandainya Leo benar-benar keluar kampus?<br />
<br />
"Iya juga sih, anak SMP nggak bakal berani melakukan pelanggaran berat begitu. Apalagi kelas 3. Resikonya gede, kalau dikeluarkan susah mau cari sekolah yang mau nerima."<br />
<br />
Aku mengangguk-ngangguk mendengar respon Rangga, temanku sesama pengurus asrama, walaupun sebenarnya aku tidak terlalu peduli dengan ucapannya. Pikiranku masih penasaran dengan aktivitas Leo.<br />
<br />
"Rick, masak mi isntan yuk. Aku laper nih" ucap Rangga menukar topik pembicaraan.<br />
<br />
"Kamu ambil air panas di dapur ya, soalnya kalau pake dispenser lama nunggunya, belum lagi yang panas palingan cuma segelas." jawabku dengan penuh semangat, jujur saja aku juga lapar apalagi sudah hampir jam 1 malam.<br />
<br />
"Siap bos. Kamu siapkan mie nya ya" ucap Rangga seraya berdiri mencari termos air dan menuju dapur.<br />
<br />
Kami menghabiskan masing-masing 2 bungkus mie instan dan bercerita berbagai macam hal hingga pukul 3 shubuh sebelum akhirnya Rangga tertidur di atas sofa di ruang rekreasi asrama. Sedang aku harus berjaga sampai jam 5 pagi, karena Pengurus yang piket malam tidak diperkenankan tidur hingga pagi. Tapi ada gantinya, setidaknya aku tidak akan masuk kelas pada jam pelajaran pertama dan kedua sebagai ganti tidurku tadi malam.<br />
<br />
************<br />
<br />
"Kok nggak pada makan" tanyaku beberapa anggota asrama yang sedang santai di ruang rekreasi.<br />
<br />
"Kami sudah kak, kakak belum makan?" salah seorang anak kelas 1 SMA balik bertanya.<br />
<br />
"Ini baru mau makan" jawabku ramah. Aku sekarang sudah terbiasa dengan keramahan, maklum aku kan pengurus asrama (GEER).<br />
<br />
"Leo belum makan kak. Ayo Leo bareng kak Ricko aja" celetuk anak kelas 1 SMA tadi.<br />
<br />
Leo berdiri dari sofa dan menuju ke arahku. Aku rada kaget juga, aku baru sadar dia ikut kumpul sama anak-anak itu, jadi nyesal nyapa mereka.<br />
<br />
"Ayo kak." ajak Leo sopan. Teman-temannya tersenyum cekikikan.<br />
<br />
Aku diam sesaat, memperhatikan anak ini, dengan pakaian yang seringkali berantakan. Berkulit kuning terang, Hidungnya mancung, rambut hitam dengan style spike, giginya putih dan rapi, bermata cokelat gelap, posturnya slim dan lebih pendek bebrapa centi dariku.<br />
<br />
"Ayo kak, keburu belajar malam loh" ucap Leo lagi.<br />
<br />
"Iya, mari" ajaku meninggalkan asrama menuju ruang makan. Di belakang kami masih terdengar suara cekikikan anak-anak yang tadi nongkrong di ruang rekreasi.<br />
<br />
"Kenapa kamu tidak makan bareng mereka?" tanyaku sekedar berbasa-basi. Aku menebak anak ini akan menjawab dia tadi belajar dulu. hahaha.<br />
<br />
"Aku masih nulis surat tadi untuk ibu di rumah" jawabnya singkat.<br />
<br />
"Oh gitu. Ayah dan ibumu sering kesini?" tanyaku asal saja.<br />
<br />
" Gak pernah" jawabnya singkat.<br />
<br />
"Sibuk ya? Emang ayah dan ibu kamu kerja dimana?" tanyaku sambil menatap Leo.<br />
<br />
Dia tidak membalas tatapanku, hanya berjalan beriringan dengan langkah yang tidak terlalu cepat.<br />
<br />
"Ayah sudah nggak ada, Ibu di rumah jaga toko dan adik-adik. Jadi ibu gak bisa jenguk-jenguk ke sini, soalnya adik-adik gak ada yang jaga di Banjarmasin." jawabnya lirih.<br />
<br />
Perutku berasa mual dan sesuatu yang berat seperti menghantam kepalaku. Ada perasaan yang sangat tidak nyaman menjalar ke seluruh tubuhku. Aku malu dan merasa bersalah telah bertanya hal yang sensitif kepada Leo.<br />
<br />
Aku berhenti, Leo pun ikut berhenti. Aku malu dengan diriku, kutatap wajahnya. Tidak ada sedikit pun raut kesedihan di dalamnya. Tersirat ketegaran dan ketabahan. Lalu dia tersenyum.<br />
<br />
"Nggak usah sungkan kak, Ayahku meninggal dari aku kecil kok. Ayo gih kita ke ruang makan keburu telat belajar malamnya." Leo menarik tanganku.<br />
<br />
Aku menurut saja. Pikiranku masih melayang. Aku membayangkan semua anak-anak di sekolah ini sama sepertiku yang masih punya papa dan mama. Ada rasa sesal dalam diriku. Aku sudah belajar jauh dari orang tua hampir 5 tahun, tapi sikap manjaku masih ada. Aku membandingkan kedewasaanku dengan Leo, mungkin belum ada apa-apanya diriku ini. Melihat ketegarannya dalam menghadapi kenyataan hidup, harus sekolah jauh dari ibunya, sementara ayahnya sudah meninggal dunia, mungkin bila ini terjadi padaku, rasanya aku tidak akan sanggup.<br />
<br />
Kami makan malam tanpa banyak bicara lagi. Leo menyantap makanannya dengan lahap, aku mamandanginya sambil tersenyum. Tidak ada beban dalam hidupnya, mungkin kalau tidak tahu latar belakang keluarganya orang akan beranggapan dia tidak punya masalah apapun.<br />
<br />
"Kak Ricko, aku boleh minta sesuatu" tiba-tiba Leo memecah lamunanku.<br />
<br />
"Er, iya. Kamu mau apa, ini kalau mau telornya ambil aja. Aku gak suka telor soalnya" jawabku sambil mengaduk piringku yang dari tadi nyaris tidak tersentuh.<br />
<br />
"Bukan makanan'. jawabnya sopan.<br />
<br />
"Oh, lalu apa?" tanyaku penasaran.<br />
<br />
"Tolong jangan mengasihaniku." jawabnya dengan ramah.<br />
<br />
Aku terdiam mendengar jawabannya. Entah kekuatan dari mana sehingga aku mampu membuka mulutku.<br />
<br />
"Aku tidak mengasihanimu. Tapi aku tidak tahu mau bersikap dan bereaksi bagaimana. Aku kagum padamu yang tegar menghadapi masalahmu. Jujur saja Leo, awalnya aku bingung juga dengan sikapmu yang kadang-kadang bikin jengkel. Suka telat absen malam, apalagi kalau aku lagi piket jaga. Di lain pihak kamu anak yang cerdas, sopan, berani dan kadang nekat. Aku bingung mau menilaimu bagaimana, yang jelas bagiku, untuk anak kelas 3 SMP kamu cukup dewasa.' ucapku panjang lebar.<br />
<br />
Ucapan itu jujur keluar dari hatiku. Saat ini penilaianku tentang Leo berubah 360 derajat. Apakah karena ayahnya sudah meninggal? mungkin saja, tapi tentu itu bukan satu-satunya alasan. Toh banyak juga orang lain yang sudah ditinggal ayahnya.<br />
<br />
Tapi Leo berbeda. Aku tidak bisa membacanya, memahaminya dan mencerna apa yang ada padanya. Entahlah.<br />
<br />
"Rata-rata anak kelas 3 SMP di sini memang sudah dewasa kak, setidaknya sudah mimpi basah." celetuk Leo cengengesan.<br />
<br />
"Tidak juga, aku belum sedewasa kamu saat kelas 3 SMP" ucapku datar.<br />
<br />
"Siapa bilang, buktinya kakak sudah pacaran kan saat itu?" jawabnya asal.<br />
<br />
Aku terkejut dengan ucapan Leo. Berani-beraninya dia ngomong begitu. Aku ini pengurus asramanya.<br />
<br />
Aku menarik nafas panjang, aku tidak tau harus bersikap bagaimana, yang jelas bagiku anak ini unik. Kadang dia sopan, kadang juga lancang. Kadang dia sangat taat aturan tapi kadang juga dia melanggarnya tanpa ada rasa bersalah.<br />
<br />
"Kamu sudah selesai makannya? Ayo kita ke asrama! sebentar lagi belajar malam, nanti kamu dihukum walikelasmu lagi karena terlambat" ucapku tanpa menghiraukan ucapan Leo tadi.<br />
<br />
"Iya sudah nih, ayo kita pulang" jawabnya singkat.<br />
<br />
Kami berdua berjalan menyusuri halaman luas yang setiap sudutnya berjejer gedung-gedung asrama. Sebagian di antara asrama-asrama itu adalah tempat tinggalku tahun-tahun lalu. Di dalamnya ku kubur banyak kenangan, suka dan duka, sahabat-sahabatku yang telah meninggalkanku di sekolah ini, dan tentu saja cinta pertama dan pacarku Fikri.<br />
<br />
"Kak, aku langsung ke kamar ya mau ngambil buku" ucap Leo sambil meninggalkanku.<br />
<br />
"Iya, aku juga mau ngambil buku" balasku pelan.<br />
<br />
Aku baru saja berjalan beberapa langkah ke kamarku ketika Leo kembali menghampiriku.<br />
<br />
"Oh iya kak, aku boleh tanya?" Ucap Leo dengan pelan.<br />
<br />
"Tanya apa?" jawabku rada malas.<br />
<br />
"Menurut kakak, mungkin nggak pengurus asrama pacaran sama anggota asramanya?".<br />
<br />
Aku tersedak mendengar pertanyaan Leo. Jangankan berusaha menjawabnya, mencernanya saja sulit. Ini pertanyaan paling konyol yang pernah aku dengar dari anggota asrama. Seumur hidup aku di sini tidak pernah terbersit menanyakan hal begitu kepada pengurus asramaku dulu.<br />
<br />
"Kok diam?" Leo memandangku dengan lebih dekat.<br />
<br />
"Pertanyaan aneh. Tapi menurutku sih gak elok, kalau pacaran sama anggota dari asrama yang berbeda masih bisa diterima." dengan susah payah aku mengeluarkan kata-kata itu.<br />
<br />
"Oh, begitu." ucap Leo sambil mengangguk-nganggukan kepalanya.<br />
<br />
"Kamu lagi mikirin apa?" tanyaku penasaran.<br />
<br />
"Hmmmm, rencana pindah asrama" jawabnya dengan nada yang meyakinkan.<br />
<br />
"Kenapa?" tanyaku bingung.<br />
<br />
Alih-alih menjawab pertanyaanku, Leo meninggalkanku sambil tersenyum lebar.<br />
<br />
Apa maksud anak itu? Entahlah, mungkin dia menyukai pengurus asramanya, dan itu bukan urusanku.<br />
<br />
<br />
Para remaja belasan tahun duduk dalam barisan dengan tertib dan rapi. Aula Pertemuan ini terasa begitu sunyi, padahal ada 202 orang siswa kelas XI di dalamnya, termasuk aku, Reno dan Idris. Kami berada dalam satu barisan, suasana hening dan tegang, tak ada satupun siswa yang menoleh kiri kanan seperti pertemuan-pertemuan biasanya, tak ada juga suara hiruk pikuk dan bisik-bisik dari para siswa yang terdengar. Semua fokus dan pandangannya satu arah ke depan, tepat kepada seorang pria berperawakan tegap dan berambut cepak, berumur empat puluhan, dia adalah Pak Armen, Kepala Pengasuh. Di samping kirinya berdiri Pak Romi, aku ingat beliau adalah staf Pengasuh di kampus ini, dia dari Pacitan dan punya tampang galak, dan tentu saja semua yang ada di ruangan ini tidak akan berharap untuk berurusan dengan kedua orang itu, kecuali hari ini.<br />
<br />
Hari ini adalah hari paling bersejarah dalam kehidupan berasrama kami. Tahun ini kami semua telah menjadi siswa kelas XI, siswa senior, dan tepat hari ini sebagian dari siswa kelas XI yang ada dalam ruangan ini akan mendapatkan tugas tambahan baru, yaitu sebagai pengurus asrama. Tanggung jawab ini merupakan proses pembelajaran kepemimpinan di Sekolah ini. Kami semua berharap dapat menjadi bagian dari kepengurusan asrama, meskipun hanya setengah dari kami yang akan dipanggil.<br />
<br />
Gosip dan informasi intelejen telah beredar beberapa hari ini. Informasi itu menyebar begitu cepat di kalangan siswa kelas XI, Semuanya masih simpang siur dan kadang berubah-ubah. Di antara kami tentu saja menjadi pengurus asrama adalah suatu kebanggaan, apalagi kalau jadi kepala asrama, maka akan lebih bangga rasanya. Namun dengan jumlah 14 asrama yang tersedia tentu hanya 130 an siswa saja yang akan ditunjuk sebagai pengurus, sisanya akan menjadi pengangguran, begitu umumnya siswa menyebut kelas XI yang bukan pengurus asrama.<br />
<br />
Jabatan pengurus asrama begitu diminati karena pengurus asrama mendapat fasilitas khusus, baik kamar, kantor, kamar mandi dan fasilitas-fasilitas lainnya. Selain itu juga pengurus asrama mempunyai wewenang dan tanggung jawab untuk membina dan mengurusi siswa di luar jam sekolah, mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi.<br />
<br />
Selain fasilitas, Pengurus asrama juga mendapat perlakuan khusus, terutama dari para junior dan anggota asrama. Seluruh siswa kelas X ke bawah harus berperilaku sopan dan santun terhadap pengurus asrama bila tidak mau dihukum, selain itu pengurus asrama juga dapat menghukum seluruh anggota yang ada di asramanya masing-masing.<br />
<br />
Menjadi pengurus asrama adalah bagian tak terpisahkan dari pendidikan di sekolah ini, sebagaimana pesan Direktur dan Kepala Sekolah, pendidikan tidak hanya didapatkan dari pelajaran di kelas, tapi juga dari semua aspek yang ada di kampus ini, bahkan tidur pun ada nilai pendidikannya. Dulu aku sempat tidak percaya tidur ada pendidikannya. Belakangan aku baru paham ternyata yang dimaksud tidur ada pendidikannya adalah bagaimana kita bisa memanfaatkan waktu tidur secara efektif, karena hal itu akan menjadi kebiasaan setelah keluar dari sekolah ini, setidaknya itu menurut pemahamanku saat ini.<br />
<br />
Bicara tentang tidur, dengan menjadi pengurus asrama waktu tidur akan semakin sedikit. Seorang pengurus asrama tidur sedikit lebih lambat dari siswa pada umumnya. Karena pengurus asrama harus mengecek anggota-anggota asramanya mulai dari mengabsen setiap kamar, berkeliling mengawasi kondisi anggota, mengecek seluruh sudut asrama dan tugas-tugas lainnya. Bila semua sudah beres dan aman, baru pengurus dapat tidur. Selain itu sekali dalam seminggu pengurus asrama akan berjaga tidak tidur sampai pagi, menjaga kondisi asrama dari berbagai macam gangguan.<br />
<br />
"Rick, namamu dipanggil tuh! ayo buruan maju" Ucap Reno mengejutkanku. Aku tidak sadar ternyata Pak Armen sudah mulai memanggil calon-calon pengurus asrama satau per satu.<br />
<br />
Dengan sedikit canggung aku berdiri, sambil melirik ke kiri dan ke kanan, sebagian siswa tampaknya sudah dari tadi memandangku, ada yang senyum-senyum, ada juga yang bertampang sinis. Hmmmm, suasana yang sudah biasa. Perlahan aku berjalan maju masuk dalam barisan teman-temanku yang sudah dipanggil pertama kali. Ada sekitar 7 orang siswa, heran juga ternyata aku dipanggil lebih awal dari dugaanku.<br />
<br />
Hampri 2 jam kegiatan itu berjalan. Idris dan Reno pun sudah dipanggil ke depan. Kami semua jadi pengurus asrama. Aku kebagian jadi pengurus di asrama Alhambra, asrama yang pernah aku diami beberapa tahun lalu. Bersama 24 orang lainnya kami akan menjaga 250 an siswa kelas VIII sampe kelas X, lumayan juga. Ada semangat baru yang muncul, kebiasaan yang selama ini dilakukan oleh kami tentunya akan sedikit berubah, maklum saja kami harus menjaga wibawa dan nama baik asrama yang dengan susah payah diperjuangkan oleh pengurus-pengurus sebelum kami.<br />
<br />
Dhani Cahyadi, siswa kelas XI.C IPA dari Pekanbaru Riau yang menjadi kepala asrama kami. Pada dasarnya dia bukan bos kami sih, karena siswa kelas XI tidak membawahi sesama siswa kelas XI, Kepala asrama hanya mengkoordinir kami semua untuk mengurus siswa yang ada di asrama ini, dan menjadi penanggungjawab terhadap seluruh anggota asrama yang kami bina. Aku tidak terlalu kenal dengan Dhani, meski beberapa kali aku pernah bertemu dengannya. Sekilas tampak anak itu cukup smart dan kalem, selebihnya akan aku nilai berjalan dengan waktu.<br />
<br />
Sebelum kami bubar, Pak Armen memberikan wejangan kepada kami, terutama tentang bagaimana kami harus mampu menjadi tim yang baik dan kompak.<br />
<br />
"Kuncinya ada di komunikasi antar pengurus" jelas Pak Armen.<br />
<br />
"Semua siswa kelas XI punya banyak tugas, sebagian besar dari adik-adik semua adalah anggota inti di klub olahraga, kesenian, bahasa dan klub-klub lainnya. Selain itu juga ada yang merangkap menjadi pengurus perwakilan daerah, belum lagi ada juga yang menjadi ketua kelas. Jadi dengan banyak kesibukan dapat menambah stres akibatnya akan susah mengontrol emosi." sambung Pak Armen.<br />
<br />
Dengan antusias seluruh siswa yang terpilih jadi pengurus asrama mengangguk-anggukan kepalanya, sebagian siswa yang tidak terpilih tampak tidak memperhatikan, mungkin ada rasa kecewa dalam diri mereka. Aku pun akan berperasaan sama bila tidak terpilih, tapi gimana lagi, tidak mungkin semuanya bisa jadi pengurus, toh dalam kehidupan sehari-hari proses seleksi adalah hal yang akan kita hadapi sehari-hari.<br />
<br />
"Maka itu dalam mengelola asrama dibutuhkan keterbukaan antar pengurus. Kepala Asrama tidak boleh membuat kebijakan seenaknya, harus dimusyawarahkan antar sesama pengurus. Bila ada yang tidak berkenan harus menyampaikannya dalam rapat-rapat pengurus, agar tidak saling dongkol. Selain itu harus mampu menjaga rasa di antara adik-adik sekalian. Yang sedang bertugas jaga harus melaksanakannya dengan sebaiknya. Seperti yang adik-adik ketahui, Bagian Keamanan OSIS tidak akan segan menghukum seluruh pengurus asrama meski yang lalai hanya satu atau dua orang saja. Ini bertujuan untuk mendidik adik-adik sekalian agar bertanggung jawab dengan tugas yang diamanahkan." jelas Pak Armen lagi.<br />
<br />
Aku dan beberapa siswa saling pandang mendengar penjelasan itu, seakan-akan kami semua merasa kurang puas bila kami harus dihukum hanya karena keteledoran beberapa orang.<br />
<br />
"Jangan kecewa dulu" tambah Pak Armen, yang entah mengapa seakan tau apa yang sedang ada di pikiran kami.<br />
<br />
"Itu sebabnya adik-adik harus mampu membangun komunikasi yang baik antar pengurus. Bila semua pengurus kompak, komunikasi lancar dan leadership Kepala Asramanya juga kuat, maka adik-adik akan mampu mengelola asrama tanpa banyak kendala dan masalah." tambah Pak Armen lagi.<br />
<br />
Aku sangat setuju dengan arahan Pak Armen. Membayangkan 25 orang harus bekerjasama dalam tim untuk mengurusi 250 anggota yang masing-masing punya watak berbeda-beda tentu tugas yang sangat berat. Selama menjalani kehidupan asrama aku sudah merasakan bagaimana hubungan antar sesama teman kamar yang jumlahnya hanya 4 orang. Kadang kami saling diam, tersinggung dan bahkan pernah juga berkelahi. Apalagi kalau jumlahnya 25 orang, tentu lebih rumit lagi hubungannya.<br />
<br />
"Dan satu hal yang paling penting, Yayasan melarang adik-adik menghukum anggota asrama dengan hukuman fisik atau hukuman lainnya yang dapat menyebabkan cedera fisik" kali ini raut Pak Armen tampak lebih serius ketika menjelaskan aturan ini.<br />
<br />
"Pimpinan Yayasan sangat menekankan hal ini. Bila ada yang kedapatan main pukul atau menghukum anggota sampai menyebabkan cidera, hukumannya sangat berat. Bapak Direktur sudah menyampaikan, yang main pukul akan dikeluarkan dari sekolah dengan tidak hormat." jelas Pak Armen.<br />
<br />
Kami bergidik mendengarnya. Dikeluarkan pada saat-saat seperti ini bukan pilihan yang bijaksana. Aku jadi teringat cerita Dion beberapa tahun silam, tentang pengurus yang dikeluarkan dari sekolah karena menganiaya anggota asrama atau pengurus lainnya, aku lupa persisnya, yang jelas pengurus itu dikeluarkan dari sekolah.<br />
<br />
Akhirnya setelah hampir 30 menit arahan Pak Armen kami dapat bubar dan kembali ke asrama kami masing-masing. Aku, Idris dan Reno ngobrol sebentar membahas apa saja kira-kira yang akan kami lakukan esok hari, hari pertama dimana kami akan dipanggil "kak" oleh ratusan siswa binaan kami. Ada rasa bangga dan juga rasa cemas, semua bercampur aduk jadi satu. Tapi setidaknya kami akan mencoba berusaha untuk melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab. Lagian, kami juga sudah mulai dewasa.<br />
<br />
*************<br />
<br />
Aku sedang mencatat nama-nama siswa yang belum pulang ke asrama hingga lebih dari jam 10.00 malam. Dan lagi-lagi nama anak ini ada di daftarku. Aku masuk menuju kamar 207 dan mengecek mungkin dia sudah pulang dan belum sempat melapor, tapi hasilnya nihil. Tahun ajaran ini baru saja dimulai, tidak mungkin juga walikelasnya memberikan jam belajar tambahan. Hmmm, memang kadang siswa kelas 3 SMP dan 1 SMA agak sulit diatur, apalagi sebagian dari mereka adalah teman-teman sekamar kami tahun lalu.<br />
<br />
"Kak?" panggilan seseorang membuat aku terkejut. Entah sudah berapa lama aku tertidur diatas tumpukan daftar yang tadi aku isi. Kulirik jam yang melingkar di tanganku, pukul 12.01 dini hari.<br />
<br />
Aku menatap anak yang membangunkanku tadi dengan sedikit kesal, lalu menyodorkan absen ke arahnya. Dengan tanpa rasa bersalah dia mengisinya, sekilas kulihat dia tersenyum. Sebenarnya aku bisa saja menghukumnya dengan push up atau lari keliling asrama, atau juga membersihkan toilet besok pagi. Tapi aku lebih memilih mengabaikannya, mungkin disebabkan rasa kantukku atau juga akau belum sepenuhnya sadar dari tidurku tadi.<br />
<br />
<br />
"Kamu dari mana?" tanyaku ketus.<br />
<br />
"Belajar kak" jawabnya tegas.<br />
<br />
"Sampe jam segini? Sama siapa?" tanyaku masih dengan nada yang sama.<br />
<br />
"Sendiri." jawabnya singkat.<br />
<br />
"Kenapa kamu tidak ijin dulu?" tanyaku kesal.<br />
<br />
"Maaf kak, aku malas pulang ke asrama dulu. Kalau sudah di asrama malah nanti pengennya langsung tidur". jawabnya dengan sangat ramah.<br />
<br />
Perlahan kekesalanku mulai menurun, padahal aku ingin marah lagi "Jangan bohonglah kamu, sekarang kan masih awal tahun ajaran, masa sudah belajar. UN juga masih jauh. Saya dulu waktu kelas 3 SMP tidak sebegitunya, saya juga kelas 3B tau gak. Apalagi jawaban kamu yang malas pulang ke asrama dulu, kelihatan banget kamu ini tidak patuh aturan dan sombong."<br />
<br />
Kata-kata itu sudah terangkai dalam kepalaku untuk dikeluarkan, alih-alih tersampaikan malah yang keluar basi-basi norak yang gak jelas.<br />
<br />
"Wah rajin banget, pantes kamu naik kelas 3B"<br />
<br />
Aku saja malu mencerna kata-kataku tadi, apalagi anak ini. Ekspresinya tidak mencerminkan dia merasa dipuji dengan kata-kata itu, malah kesannya dia tau aku lebay.<br />
<br />
"Ada yang lain kak?" tanya anak itu, dan dia mengabaikan kata-kataku tadi seakan-akan itu hanya angin lalu yang nggak penting.<br />
<br />
"Cukup, kamu bisa istirahat." jawabku datar.<br />
<br />
"Terimakasih kak" ucapnya, lalu meninggalkanku dengan setumpuk daftar yang tadi jadi alas tidurku.<br />
<br />
"Leo, tunggu!" tiba-tiba saja mulutku berbunyi tanpa menunggu perintah. Aku bingung mau ngomong apa.<br />
<br />
"Iya kak Ricko?" Leo menoleh.<br />
<br />
"Jangan diulangi lagi, setidaknya kamu harus belajar menaati aturan yang ada. Pengurus yang lain mungkin akan menghukummu bila tidak absen malam. Kamu bisa masuk kamarmu sekarang." ucapku dengan lancar. Leo sesaat tertegun, dia tidak kesal tapi malah tersenyum.<br />
<br />
"Iya kak, aku hanya terlambat saat kakak yang piket jaga kok. Selamat malam." ucapnya, meninggalkanku yang masih bingung mendengar jawabannya.<br />
<br />
Aku bergegas mengambil daftar hadir siswa dari bulan pertama dan mengeceknya satu per satu, dan benar saja Leo tidak pernah terlambat, kecuali setiap kali aku menjadi petugas piket. Apa dia sengaja? Kenapa dia melakukannya?<br />
<br />
Pertanyaan-pertanyaan muncul dalam benakku. Apakah aku tidak punya wibawa sehingga anggota asramaku tidak takut melanggar bila aku yang sedang berjaga? Atau karena aku jarang menghukum adik-adik asramaku menjadikan mereka tidak menggangapku?<br />
<br />
Aku sekali lagi membaca daftar-daftar itu. Kelihatannya tidak seperti dugaanku tadi, karena hanya Leo saja yang melanggar dan siswa lain tidak. Artinya tidak ada masalah dengan pribadiku sebagai pengurus. Lagian aku bukan tipe orang yang gila hormat. Tapi untuk Leo yang selalu saja tidak absen malam, kenapa? Entahlah. Mungkin dia punya alasan sendiri dan aku harus memberinya kesempatan menjelaskannya ketika dia sudah siap.<br />
<br />
"Mikirin apa Rick?" Rangga berdiri di depan pintu kamar pengurus asrama. Dia nyaris membuatku terkejut, semenjak kapan dia berdiri disitu, bikin kaget aja.<br />
<br />
"Oh, nggak ada. Cuma lagi merekap absensi. Kamu belum tidur?" aku balik bertanya.<br />
<br />
"Belum ngantuk. Emang siapa yang terlambat tadi?" Tanya Rangga sambil berjalan ke arahku.<br />
<br />
"Oh, Leo anak kamr 207". jawabku datar.<br />
<br />
"Yang dari Kalimantan itu ya?" tanya Rangga lagi.<br />
<br />
"Iya. Dia selalu tidak absen malam setiap kali aku jaga" ucapku ketus.<br />
<br />
Rangga tertawa. Dia duduk di sofa di samping meja pengurus.<br />
<br />
"Kayaknya dia anak baik. Beberapa kali aku keliling waktu piket dia ada di kamarnya. Mungkin dia sengaja kali Rick" ucap Rangga sambil menguap.<br />
<br />
"Nggak mungkinlah. Ngapain sengaja melanggar dan ketahuan. Katanya sih dia dari belajar, dan kayaknya dia gak bohong. Dia anak kelas 3B, wajar saja dia rajin belajar." sanggahku.<br />
<br />
"Sekarang kan masih awal tahun, masa sih sudah belajar. Pasti dia bohong tuh. Apa mungkin dia keluar kampus?" pernyataan dan pertanyaan Rangga bikin aku terkejut.<br />
<br />
"Gak mungkin lah, dia masih kelas 3 SMP. Dia tidak akan berani" belaku.<br />
<br />
Rangga terdiam, dia rada terkejut dengan jawabanku yang terkesan membela Leo. Aku malah jadi salah tingkah, kenapa juga aku menjawab begitu. Bagaimana kalau seandainya Leo benar-benar keluar kampus?<br />
<br />
"Iya juga sih, anak SMP nggak bakal berani melakukan pelanggaran berat begitu. Apalagi kelas 3. Resikonya gede, kalau dikeluarkan susah mau cari sekolah yang mau nerima."<br />
<br />
Aku mengangguk-ngangguk mendengar respon Rangga, temanku sesama pengurus asrama, walaupun sebenarnya aku tidak terlalu peduli dengan ucapannya. Pikiranku masih penasaran dengan aktivitas Leo.<br />
<br />
"Rick, masak mi isntan yuk. Aku laper nih" ucap Rangga menukar topik pembicaraan.<br />
<br />
"Kamu ambil air panas di dapur ya, soalnya kalau pake dispenser lama nunggunya, belum lagi yang panas palingan cuma segelas." jawabku dengan penuh semangat, jujur saja aku juga lapar apalagi sudah hampir jam 1 malam.<br />
<br />
"Siap bos. Kamu siapkan mie nya ya" ucap Rangga seraya berdiri mencari termos air dan menuju dapur.<br />
<br />
Kami menghabiskan masing-masing 2 bungkus mie instan dan bercerita berbagai macam hal hingga pukul 3 shubuh sebelum akhirnya Rangga tertidur di atas sofa di ruang rekreasi asrama. Sedang aku harus berjaga sampai jam 5 pagi, karena Pengurus yang piket malam tidak diperkenankan tidur hingga pagi. Tapi ada gantinya, setidaknya aku tidak akan masuk kelas pada jam pelajaran pertama dan kedua sebagai ganti tidurku tadi malam.<br />
<br />
************<br />
<br />
"Kok nggak pada makan" tanyaku beberapa anggota asrama yang sedang santai di ruang rekreasi.<br />
<br />
"Kami sudah kak, kakak belum makan?" salah seorang anak kelas 1 SMA balik bertanya.<br />
<br />
"Ini baru mau makan" jawabku ramah. Aku sekarang sudah terbiasa dengan keramahan, maklum aku kan pengurus asrama (GEER).<br />
<br />
"Leo belum makan kak. Ayo Leo bareng kak Ricko aja" celetuk anak kelas 1 SMA tadi.<br />
<br />
Leo berdiri dari sofa dan menuju ke arahku. Aku rada kaget juga, aku baru sadar dia ikut kumpul sama anak-anak itu, jadi nyesal nyapa mereka.<br />
<br />
"Ayo kak." ajak Leo sopan. Teman-temannya tersenyum cekikikan.<br />
<br />
Aku diam sesaat, memperhatikan anak ini, dengan pakaian yang seringkali berantakan. Berkulit kuning terang, Hidungnya mancung, rambut hitam dengan style spike, giginya putih dan rapi, bermata cokelat gelap, posturnya slim dan lebih pendek bebrapa centi dariku.<br />
<br />
"Ayo kak, keburu belajar malam loh" ucap Leo lagi.<br />
<br />
"Iya, mari" ajaku meninggalkan asrama menuju ruang makan. Di belakang kami masih terdengar suara cekikikan anak-anak yang tadi nongkrong di ruang rekreasi.<br />
<br />
"Kenapa kamu tidak makan bareng mereka?" tanyaku sekedar berbasa-basi. Aku menebak anak ini akan menjawab dia tadi belajar dulu. hahaha.<br />
<br />
"Aku masih nulis surat tadi untuk ibu di rumah" jawabnya singkat.<br />
<br />
"Oh gitu. Ayah dan ibumu sering kesini?" tanyaku asal saja.<br />
<br />
" Gak pernah" jawabnya singkat.<br />
<br />
"Sibuk ya? Emang ayah dan ibu kamu kerja dimana?" tanyaku sambil menatap Leo.<br />
<br />
Dia tidak membalas tatapanku, hanya berjalan beriringan dengan langkah yang tidak terlalu cepat.<br />
<br />
"Ayah sudah nggak ada, Ibu di rumah jaga toko dan adik-adik. Jadi ibu gak bisa jenguk-jenguk ke sini, soalnya adik-adik gak ada yang jaga di Banjarmasin." jawabnya lirih.<br />
<br />
Perutku berasa mual dan sesuatu yang berat seperti menghantam kepalaku. Ada perasaan yang sangat tidak nyaman menjalar ke seluruh tubuhku. Aku malu dan merasa bersalah telah bertanya hal yang sensitif kepada Leo.<br />
<br />
Aku berhenti, Leo pun ikut berhenti. Aku malu dengan diriku, kutatap wajahnya. Tidak ada sedikit pun raut kesedihan di dalamnya. Tersirat ketegaran dan ketabahan. Lalu dia tersenyum.<br />
<br />
"Nggak usah sungkan kak, Ayahku meninggal dari aku kecil kok. Ayo gih kita ke ruang makan keburu telat belajar malamnya." Leo menarik tanganku.<br />
<br />
Aku menurut saja. Pikiranku masih melayang. Aku membayangkan semua anak-anak di sekolah ini sama sepertiku yang masih punya papa dan mama. Ada rasa sesal dalam diriku. Aku sudah belajar jauh dari orang tua hampir 5 tahun, tapi sikap manjaku masih ada. Aku membandingkan kedewasaanku dengan Leo, mungkin belum ada apa-apanya diriku ini. Melihat ketegarannya dalam menghadapi kenyataan hidup, harus sekolah jauh dari ibunya, sementara ayahnya sudah meninggal dunia, mungkin bila ini terjadi padaku, rasanya aku tidak akan sanggup.<br />
<br />
Kami makan malam tanpa banyak bicara lagi. Leo menyantap makanannya dengan lahap, aku mamandanginya sambil tersenyum. Tidak ada beban dalam hidupnya, mungkin kalau tidak tahu latar belakang keluarganya orang akan beranggapan dia tidak punya masalah apapun.<br />
<br />
"Kak Ricko, aku boleh minta sesuatu" tiba-tiba Leo memecah lamunanku.<br />
<br />
"Er, iya. Kamu mau apa, ini kalau mau telornya ambil aja. Aku gak suka telor soalnya" jawabku sambil mengaduk piringku yang dari tadi nyaris tidak tersentuh.<br />
<br />
"Bukan makanan'. jawabnya sopan.<br />
<br />
"Oh, lalu apa?" tanyaku penasaran.<br />
<br />
"Tolong jangan mengasihaniku." jawabnya dengan ramah.<br />
<br />
Aku terdiam mendengar jawabannya. Entah kekuatan dari mana sehingga aku mampu membuka mulutku.<br />
<br />
"Aku tidak mengasihanimu. Tapi aku tidak tahu mau bersikap dan bereaksi bagaimana. Aku kagum padamu yang tegar menghadapi masalahmu. Jujur saja Leo, awalnya aku bingung juga dengan sikapmu yang kadang-kadang bikin jengkel. Suka telat absen malam, apalagi kalau aku lagi piket jaga. Di lain pihak kamu anak yang cerdas, sopan, berani dan kadang nekat. Aku bingung mau menilaimu bagaimana, yang jelas bagiku, untuk anak kelas 3 SMP kamu cukup dewasa.' ucapku panjang lebar.<br />
<br />
Ucapan itu jujur keluar dari hatiku. Saat ini penilaianku tentang Leo berubah 360 derajat. Apakah karena ayahnya sudah meninggal? mungkin saja, tapi tentu itu bukan satu-satunya alasan. Toh banyak juga orang lain yang sudah ditinggal ayahnya.<br />
<br />
Tapi Leo berbeda. Aku tidak bisa membacanya, memahaminya dan mencerna apa yang ada padanya. Entahlah.<br />
<br />
"Rata-rata anak kelas 3 SMP di sini memang sudah dewasa kak, setidaknya sudah mimpi basah." celetuk Leo cengengesan.<br />
<br />
"Tidak juga, aku belum sedewasa kamu saat kelas 3 SMP" ucapku datar.<br />
<br />
"Siapa bilang, buktinya kakak sudah pacaran kan saat itu?" jawabnya asal.<br />
<br />
Aku terkejut dengan ucapan Leo. Berani-beraninya dia ngomong begitu. Aku ini pengurus asramanya.<br />
<br />
Aku menarik nafas panjang, aku tidak tau harus bersikap bagaimana, yang jelas bagiku anak ini unik. Kadang dia sopan, kadang juga lancang. Kadang dia sangat taat aturan tapi kadang juga dia melanggarnya tanpa ada rasa bersalah.<br />
<br />
"Kamu sudah selesai makannya? Ayo kita ke asrama! sebentar lagi belajar malam, nanti kamu dihukum walikelasmu lagi karena terlambat" ucapku tanpa menghiraukan ucapan Leo tadi.<br />
<br />
"Iya sudah nih, ayo kita pulang" jawabnya singkat.<br />
<br />
Kami berdua berjalan menyusuri halaman luas yang setiap sudutnya berjejer gedung-gedung asrama. Sebagian di antara asrama-asrama itu adalah tempat tinggalku tahun-tahun lalu. Di dalamnya ku kubur banyak kenangan, suka dan duka, sahabat-sahabatku yang telah meninggalkanku di sekolah ini, dan tentu saja cinta pertama dan pacarku Fikri.<br />
<br />
"Kak, aku langsung ke kamar ya mau ngambil buku" ucap Leo sambil meninggalkanku.<br />
<br />
"Iya, aku juga mau ngambil buku" balasku pelan.<br />
<br />
Aku baru saja berjalan beberapa langkah ke kamarku ketika Leo kembali menghampiriku.<br />
<br />
"Oh iya kak, aku boleh tanya?" Ucap Leo dengan pelan.<br />
<br />
"Tanya apa?" jawabku rada malas.<br />
<br />
"Menurut kakak, mungkin nggak pengurus asrama pacaran sama anggota asramanya?".<br />
<br />
Aku tersedak mendengar pertanyaan Leo. Jangankan berusaha menjawabnya, mencernanya saja sulit. Ini pertanyaan paling konyol yang pernah aku dengar dari anggota asrama. Seumur hidup aku di sini tidak pernah terbersit menanyakan hal begitu kepada pengurus asramaku dulu.<br />
<br />
"Kok diam?" Leo memandangku dengan lebih dekat.<br />
<br />
"Pertanyaan aneh. Tapi menurutku sih gak elok, kalau pacaran sama anggota dari asrama yang berbeda masih bisa diterima." dengan susah payah aku mengeluarkan kata-kata itu.<br />
<br />
"Oh, begitu." ucap Leo sambil mengangguk-nganggukan kepalanya.<br />
<br />
"Kamu lagi mikirin apa?" tanyaku penasaran.<br />
<br />
"Hmmmm, rencana pindah asrama" jawabnya dengan nada yang meyakinkan.<br />
<br />
"Kenapa?" tanyaku bingung.<br />
<br />
Alih-alih menjawab pertanyaanku, Leo meninggalkanku sambil tersenyum lebar.<br />
<br />
Apa maksud anak itu? Entahlah, mungkin dia menyukai pengurus asramanya, dan itu bukan urusanku.<br />
<br />
Bersambung.<br />
<br />
Episode 15 dapat dibaca di wattpad <a href="https://www.wattpad.com/661626290-ada-cerita-cinta-di-asrama-by-leoverry-episode-15" rel="nofollow">https://www.wattpad.com/661626290-ada-cerita-cinta-di-asrama-by-leoverry-episode-15</a>]]>
        </description>
    </item>
    <item>
        <title>Me &amp;amp; The Future Goals ( Kisah Nyata-Ku ) #SESSION1</title>
        <link>https://boyzforum.qiarchive.org/discussion/16751401/me-amp-the-future-goals-kisah-nyata-ku-session1</link>
        <pubDate>Fri, 28 Apr 2017 08:03:04 +0000</pubDate>
        <category>BoyzStories</category>
        <dc:creator>AlfaMart20</dc:creator>
        <guid isPermaLink="false">16751401@/discussions</guid>
        <description><![CDATA[Hai guyzz aq newbie disini dan iseng2 aja mw berbagi cerita pengalaman pribadiku.. mhon koreksi nya yaaa. Trims !!<br />
<br />
#Episode1<br />
<br />
Hai guys nama ku arie, Ari dwi agustian. Aku merupakan seorang anak tunggal dan berasal dari keluarga yang sangat sederhana. Bapakku hanya bekerja sebagai seorang sopir dan ibuku hanyalah ibu rumah tangga biasa. Meski begitu, aku sangat bangga terhadap mereka yang telah mendidik aku sebagai anak yang mandiri dan jauh dari kata manja. Biarpun mereka cukup keras dalam mendidik anak semata wayangnya ini, tapi bukan berarti mereka lupa bahwa aku hanyalah anak remaja biasa dan masih banyak keterbatasan dalam melakukan beberapa hal yang biasa dilakukan oleh orang dewasa. Contohnya ketika bekerja membantu orangtuaku, mereka tidak terlalu memaksakan aku untuk melakukan semua pekerjaan yang sering mereka lakukan semisal membersihkan rumput dikebun atau pun sawah dan sebagainya.<br />
<br />
Oke kita kembali ke topik utama, hari ini adalah hari pertama aku sekolah dan resmi menjadi siswa putih abu-abu setelah melewati serangkaian acara MOS ( Masa Orientasi Siswa ) di salah satu SMA yang paling difavortikan di kota kecil ini, biayanya cukup mahal namun hal tersebut sebanding dengan fasilitas dan kualitas para pengajarnya yang sudah banyak mencetak alumni-alumni yang sukses dan menjadi orang besar. Mungkin hal itulah yang menjadi pertimbangan kedua orangtuaku untuk menyekolahkan aku disini. Padahal aku tahu untuk biaya kehidupan sehari-hari saja sangatlah pas-pasan sehingga awalnya aku ragu dan meminta orangtuaku untuk menyekolahkanku di SMA sebelah saja yang biayanya sedikit lebih murah. Namun orangtuaku telah bertekad ingin membuatku sukses dikemudian hari dan mereka percaya bahwa kesuksesan harus dimulai dengan kerjakeras dan pendidikan yang bagus. Akhirnya akupun meng-iya kan saja keinginan mereka dan aku berjanji tidak akan menyia-nyiakan pengorbanan orangtuaku. Aku harus jadi orang hebat !! Itulah kata-kata yang selalu ada dalam hatiku. <br />
<br />
Pagi ini aku berangkat jam 06.00 wib dari rumahku dengan mengendarai honda supra fit yang dibelikan oleh orangtuaku semasa SMP dulu, karena jarak yang cukup jauh dari rumahku ke sekolah terpaksa aku harus bangun subuh dan berangkat sepagi itu. Ditengah perjalanan aku bertemu rahman teman SMP ku yang sedang berdiri di pinggir jalan dan terlihat seperti sedang menunggu seseorang, lalu aku memberhentikan motorku tepat didepannya.<br />
"Belum berangkat man ??" Tanyaku sama rahman.<br />
"Belum rie, lagi nungguin si nanang nih.. aku berangkat bareng dia" <br />
"Emangnya km gak bawa motor?"<br />
"Gak rie, hari ini motorku dipake bapak" jawab rahman.<br />
"Oohhh.. ya udah bareng aku aja yuukk!!" <br />
"Makasih rie, tapi aku nunggu si nanang aja lagian kita kan juga beda sekolah" timpal rahman.<br />
"Ya udah kalo gitu aku duluan ya man.." kataku ke rahman sambil menstarter motorku.<br />
"Iya rie.. hati-hati yaa dijalan" <br />
"Siiipppp" <br />
Kemudian aku pun ngegas motorku dan berlalu meninggalkan rahman yang masih berdiri di pinggir jalan.<br />
Sedikit gambaran, rahman ini orangnya lumayan cakep dan kulitnya putih. Dia beda sekolah denganku. Semasa SMP kami berdua selalu satu kelas dan dia pernah menjabat sebagai ketua osis sekaligus ketua kelas dan yang paling membuatku betah berteman dengannya, selain cakep dia juga pintar. Heheheee !!<br />
<br />
Sekitar 45 menit perjalananku akhirnya tiba juga disekolahku ini. Jujur saja aku merasa deg-degan dan agak canggung pada saat itu selain karena aku tidak datang berbarengan dengan teman SMP ku yang juga bersekolah disini aku pun punya sifat "PEMALU" dan susah berinteraksi sama orang yang baru dikenal. <br />
Setelah selesai memarkirkan motorku di area parkiran khusus siswa, aku berjalan cepat menuju kelas ku. Ya.. dikelas X-1 ini aku akan mulai perjuanganku untuk menjadi orang sukses. Aku pun tidak mengerti kenapa aku bisa masuk kelas X-1 pas pengumuman di akhir MOS kemarin yang notabene nya kelas ini khusus untuk orang-orang yang punya prestasi bagus saja alias siswa pilihan padahal prestasiku semasa SMP biasa saja. Namun aku pun tidak mau terlalu pusing memikirkan hal itu. Setibanya di kelas tampak sudah ada beberapa murid yang datang lebih awal dariku. Aku pun cuma senyum saja ketika melewati meja mereka untuk menuju Mejaku yang ada di baris paling belakang. Setelah menaruh tas aku pun hanya terdiam sambil mengotak-atik HP Nokia jadul pemberian bapakku dulu. Sepintas aku melihat ada seseorang yang menghampiriku dan ternyata dia adalah Yulianti orang yang pertama aku kenal ketika MOS kemarin.<br />
" pagi arie.. tumben pagi-pagi amat nih datangnya."<br />
"Pagi juga yul.. iya nih kebetulan rumahku jauh dari sekolah jadi aku berangkat pagi sekali tadi.. takut telat heheee"<br />
"Ohhh.. gitu.." kata yuli sambil duduk disebelahku.<br />
"Ehh yul.. wali kelas kita siapa sih ??" Tanyaku penasaran sama guru yang akan jadi wali kelasku. "Semoga saja tidak killer", bathinku.<br />
"Gak tau nih rie.. lagian belum diumumin juga kan.. mungkin pagi ini sehabis upacara" jawab yuli sambil mainin HP Nokia nya. <br />
Ketika kami sedang asyik ngobrol tiba-tiba ada seseorang yang meneriaki namaku dari pintu kelas, sontak saja aku menoleh ke arah suara itu dan ternyata dia Agus temanku dri kelas X-2. <br />
"Ehhhh agus.. dah datang kamu" sapaku sambil senyum padanya.<br />
"Iya nih.. hampir aja kesiangan kalo tidak dibangunin sama kak muldan tadi" kata agus sambil menghampiri mejaku.<br />
"Huuuhhh dasar kamu mah emang kebo hahahaa" candaku sama si agus.<br />
"Diiihhh enak ajeeee" <br />
"Oya gus.. kenalin ini yuli teman sekelasku" kataku memperkenalkan yuli ke agus.<br />
"Haiii.. aku agus" sapa agus sambil menyodorkan tangan ke yuli.<br />
"Aku yuli lengkapnya yulianti dewi pertiwi" kata yuli sambil tersenyum dan membalas sodoran tangan agus sehingga mereka pun bersalaman.<br />
Setelah ngobrol-ngobrol sedikit dan teman sekelasku mulai berdatangan akhirnya agus pun pamit untuk kembali ke kelasnya, begitupun yuli yang kembali ke bangkunya. <br />
"Pagi broooo" terdengar suara disampingku ketika aku kembali sibuk mengotak-atik Nokia jadulku itu. Sesaat aku menoleh dan ternyata itu bayu yang menjadi teman sebangku ku.<br />
"Pagi juga" balasku sambil sedikit senyum.<br />
"Km jam berapa sampainya ??" Tanya bayu kemudian setelah ia menyimpan tas nya dan duduk di kursinya.<br />
"Aku jam setengah 6 lewat tadi" balasku.<br />
"Busyettt pagi bener kamu.. emang gak dingin tuh dijalan"<br />
"Gak lah bay.. aku kan pake jaket lagian rumahku cukup jauh dari sekolah jadi aku harus pagi-pagi bener dari rumah takut telat" <br />
"Ya kalo gitu kenapa gak ngekost atau ngontrak saja.. kan lumayan bisa agak santai"<br />
"Gak lah bay.. kasian kalo aku ngontrak gak ada yang bantuin orangtuaku dirumah.. lagian biayanya juga pasti jadi mahal karena makan pun harus beli hehehee" kataku sambil tersenyum yang terkesan dipaksakan.<br />
"Hmmm.. kalo gitu tinggal dirumahku aja gimana? Kebetulan cuma ada aku dan ortu dirumah.. kakak ku sedang kuliah di bandung.. jadi rumah pasti rame kalo ada kamu.. mau ya ??" Kata bayu dengan ucapan yang sedikit memohon. Aku akui bayu orangnya memang baik meski penampilannya agak sedikit berandal dengan rambut harajuku style nya. Dan aku kenal dia karena berada pada Tim yang sama ketika MOS.<br />
"Maaf bay.. aku gak bisa. Aku sangat berterimakasih sama kebaikan kamu.. tapi maaf ya bay" aku sehalus mungkin menolak ajakannya agar tidak menyinggung.<br />
"Ya udah gapapa.. tapi kalo misalkan hujan atau ada kegiatan sekolah yang sampe sore km nginep dirumahku aja yaaa..!!"<br />
"Siiipppp tenang aja.. heheheee" kataku seraya kembali fokus ke HP jadulku.<br />
Sesaat kemudian terdengar bunyi bel dan suara pengumuman dari pengeras suara agar semua siswa berkumpul dilapangan untuk upacara bendera. Aku dan beberapa siswa yang lain langsung meninggalkan meja kami dan begerak menuju lapangan yang persis berada di depan kelasku. <br />
Setelah semuanya berkumpul, upacara pun dimulai dan berjalan dengan khidmat meski ada beberapa siswa yang sibuk mengobrol dengan suara yang samar-samar ketika kepala sekolah memberikan arahan. Namun itu tidak mengganggu jalannya upacara. Setelah selesai kami semua yang berstatus siswa baru atau lebih dikenal sebagai kelas X disarankan agar tetap berbaris di lapangan untuk menyaksikan pembagian walikelas. Nama-nama guru yang akan menjadi walikelas pun sudah diumumkan dan kelas kami kebagian seorang guru wanita yaitu Ibu primita atau bu mita begitu kami memanggilnya. Kesan pertama yang Aku lihat beliau orangnya ramah dan sangat keibuan jika dilihat dari cara berbicara dan gerak geriknya. "Semoga dia tidak killer" kataku dalam hati.<br />
Hari ini kegiatan kami lebih banyak dihabiskan dengan perkenalan dari para guru yang akan bertugas untuk mengisi pelajaran di kelas kami. Dari yang lucu, ramah, sampai yang terlihat galak a.k.a killerpun ada. Tapi yang paling aku suka adalah guru bahasa indonesia yang juga jadi wali kelas kami yaitu bu primita kusmiati. Seperti yang kusebutkan tadi, beliau orangnya menyenangkan. Selanjutnya pembagian jadwal piket kelas, sampai penunjukan perangkat kelas juga dilakukan pada hari ini juga. Fauzi Wijaya akhirnya terpilih sebagai ketua kelas. Dia orangnya hitam manis, lucu dan juga terlihat pintar. Sepertinya orangnya mudah bergaul dengan orang lain terbukti dia cepat sekali akrab dengan semua siswa yang ada dikelasku. Beda denganku yang hanya kenal beberapa orang saja. <br />
Memasuki jam istirahat hampir semua siswa pada berhamburan keluar. Ada yang ke kantin, ada yang nongkrong-nongkrong saja di depan kelas dan sebagainya. Aku sendiri lebih memilih untuk mengunjungi kelas sebelah yaitu kelas X-2 dimana disana ada sahabatku yang berasal dari SMP yang sama Agus dan Lina. Aku pun menghampiri mereka dan terlibat obrolan yang seru. Rasanya ingin sekali aku sekelas dengan mereka karena dikelasku sendiri aku merasa kesepian tidak bisa bercanda seperti ketika berada dekat mereka. Meskipun ada bayu dan yuli yang sudah mulai aku kenal namun aku belum terlalu akrab dengan mereka mungkin hal inilah yang terkadang menimbulkan kecanggungan dalam diriku ketika berinteraksi dengan mereka. Setelah waktu istirahat habis aku pun kembali ke kelas dan kali ini ternyata ada sekumpulan kakak kelas yang berasal dari organisasi paskibra untuk kembali mencari anggota baru padahal sebelumnya ketika MOS kemarin mereka sudah berhasil merekrut beberapa siswa namun katanya masih kurang dan perlu beberapa siswa lagi. <br />
Dari sekian banyak senior paskibra itu aku menangkap sosok yang membuat hatiku bergetar ketika melihatnya entah perasaan macam apa ini, yang jelas aku bingung sekali pada saat itu. Dia sosok pria yang sangat tampan berkulit putih dengan sisiran rambut yang rapi dan berkacamata. Namanya adalah Naiga Romadhona dan biasa disebut Gaga. Dia adalah ketua paskibra di SMA ku ini, sesaat kemudian di duduk di kursi yang biasa dipake oleh para guru ketika mengajar kami dan beberapa anggotanya sibuk berkeliling meja untuk mendata siswa yang mau ikut bergabung kedalam organisasi tersebut. <br />
Saat itu tak henti-hentinya aku curi curi pandang memperhatikan wajah tampannya itu. Jujur, aku telah terpesona.. yaaa aku terpesona dengan ketampanannya itu. Beberapa murid wanita pun terdengar bisik-bisik membicarakan si ganteng itu. Ada yang bilang putih amat, ada yang bilang manis banget, ganteng banget dan bla..bla..bla.. !!<br />
"Mau ikut gabung" samar aku mendengar orang berbicara disampingku.<br />
"Heyy.. mau ikut gabung paskib gak??" Serunya lagi.<br />
Aku pun yang dari tadi fokus ke kak Gaga ketua paskib itu sedikit kaget karena ternyata salah satu senior paskib yang ku ketahui bernama Nazia itu telah berada disampingku.<br />
"Iii...iiiyaaa.. kak.. kenapa ??" Kataku agak gugup.<br />
"Kamu nih.. bengong aja. Saya tanya mau ikut gabung gak..??" Kata Nazia yang terlihat agak kesal. Mungkin karena dari tadi aku bengong saja.<br />
"Bb... bboolehh kak.. ehhhh uummmm.. gk tau nih.." kataku yang masih gugup.<br />
"Kok gak tau...,?? Oia nama kamu siapa??.." tanya nazia kemudian.<br />
"Aku arie kak.. arie dwi agustian".. jawabku.<br />
"Ohhh arie.. gini ya rie.. alasan knapa kamu harus gabung paskib karena dipaskib itu..  <a href="https://boyzforum.qiarchive.org/profile/%26amp" rel="nofollow">@&amp;amp</a>;*%/:"#<a href="https://boyzforum.qiarchive.org/profile/%24%24%E2%82%AC%28%C2%A5%C2%A5%23" rel="nofollow">@$$€(¥¥#</a>.." kata nazia panjang lebar menjelaskan tentang paskibra seolah-olah seperti seorang SPG yang mempromosikan sebuah brand kepada calon costumernya. <br />
Akhirnya aku mulai mempertimbangkan untuk ikut organisasi ini termasuk si ketua yang ganteng itu. Hehehee !!<br />
" jadi gimana..?? Mau yaa..??" Kata nazia dengan sedikit memaksa.<br />
"Umm.. baiklah kak.. aku gabung.." jawabku kemudian. <br />
"Ya udah saya catat yaa nama kamu rie.."<br />
"Iya kak.." kataku. <br />
<br />
Dan kemudian Nazia pun kembali melanjutkan kegiatannya. Aku pun sebetulnya tidak yakin dengan pilihanku ini namun ketika aku teringat perjuangan orangtuaku mungkin ini adalah langkah awal untuk membentuk diriku yang semakin disiplin karena setahu aku organisasi paskibra itu terkenal tegas dan disiplin. <br />
Oya.. untuk bayu teman sebangku ku itu dia memilih organisasi lain yaitu KEPAL atau Kelompok Pecinta Alam. <br />
<br />
Setelah selesai kegiatan hari ini, akhirnya para siswa diperbolehkan untuk pulang dan kala itu jam menunjukan pukul 12.45 Wib. Seluruh siswa sudah mulai berhamburan keluar tinggal aku yang masih sedikit santai-santai didalam kelas. Aku sengaja pergi belakangan karena sifatku yang pemalu tidak terlalu suka dengan keramaian. <br />
"Rie.. duluan yaaa.." kata bayu sesaat setelah ia membereskan tasnya.<br />
"Iya bay.." balasku.<br />
Tak lama setelah itu aku pun keluar meninggalkan kelas dan kulihat agus dan lina juga baru keluar dari kelasnya.<br />
"Kamu langsung balik ke rumah rie?" Tanya agus sesaat setelah ia melihat kehadiranku.<br />
"Iya gus.." kataku<br />
"Kenapa gak nginep aja di kosanku.. cuma ada aku sama kakak ku doank ko" lanjut agus seraya menawariku untuk menginap saja.<br />
"Iya rie.. mending nginep aja sama si agus, lagian cuaca udah mendung gini kayaknya mau hujan" timpal lina.<br />
"Gak ah lin.. kapan-kapan aja aku nginep.." <br />
"Ya dah kalo gitu.. yuk kita pulang.." sambung agus kemudian.<br />
"Yuukk" kataku dan lina berbarengan.<br />
Akhirnya kami pun pergi meninggalkan koridor kelas kami, aku menuju parkiran sedangkan agus sudah ditunggu dekat gerbang oleh kakaknya yg bernama Muldan dan merupakan siswa dari kelas XI IPS 1.<br />
Ketika aku sudah menjalankan motorku, ku lihat Agus dan kakak nya masih ada di Gerbang. Rupanya ia sengaja menungguku tetapi Lina sudah tidak ada disana. Mungkin ia sudah pulang duluan.<br />
"Yakin kamu gak mau nginap saja ??" Tanya agus sekali lagi ketika motorku sudah sampai dekat mereka. Sepertinya agus ingin memastikan bahwa siapa tahu aku berubah fikiran.<br />
"Gak gus.. makasih, aku mau pulang saja. Kasiha gak ada yang bantu ibu beres beres rumah.."<br />
"Wahhhh anak soleh nih yeee hahahaa.." sindir agus menimpali pernyataanku. Namun Muldan hanya diam saja dan tidak berbicara sama sekali.<br />
Aku heran melihat Muldan yang tanpa reaksi ini, ada apa ya sama orang ini. Padahal aku merasa tidak punya salah apa-appa sama dia. Kenal juga tidak..!! Tapi yasudahlah mungkin dia lagi sariawan.<br />
"Ya dah kalo gitu kami duluan yaaa.. hati2 dijalan ri.." sambung agus kemudian.<br />
"Iya gus.. aku juga mau pulang.." timpalku.<br />
Setelah itu kami langsung keluar gerbang dengan motor masing masing namun berbeda arah. Aku belok kanan dan agus belok kiri dari muka gerbang sekolah. <br />
Semoga hari ini tidak hujan ya Allah..!! <br />
#Bersambung]]>
        </description>
    </item>
    <item>
        <title>KILLIAN &amp;amp; GINANDRA (LET ME TELL YOU A STORY)</title>
        <link>https://boyzforum.qiarchive.org/discussion/16751810/killian-amp-ginandra-let-me-tell-you-a-story</link>
        <pubDate>Mon, 03 Dec 2018 12:56:04 +0000</pubDate>
        <category>BoyzStories</category>
        <dc:creator>KillianSalvatore</dc:creator>
        <guid isPermaLink="false">16751810@/discussions</guid>
        <description><![CDATA[Mengenal karakter seseorang sangat bermanfaat bagi dalam sebuah hubungan, yang akan dibangun, bahkan unduk mendapatkan pekerjaan sebuah perusahaan akan melakukan test psikologis untuk memahami kepribadian tersebut. dalam dunia psikologis banyak sekali teori teori yang membahas sebuah karakter sesorang, namun kepadanya aku tidak mampu meneliti bahkan menerjermahkan bahwa dia tergolong salah satu dari 16 teori kepribadian.<br />
Namun gw dapat mengandalakan pembelajaran gw dari tabib yang berasal dari yunani "Hippocrates" si tabib ini menyampaikan pemahaman tentang karakter manusia itu ada 4 hal berdasarkan temperampennya. dan sitabib ini mengemukakan bahwa empat cairan didalam tubuh dapat membedakan karakter dan kebiasaan sesorang <br />
4 Dari karakter tersebut : <br />
<br />
1. Sanguinis<br />
Darah sebagai cairan tubuh dan tubuh astral adalah yang menyimbolkan tipe sanguinis. Tubuh astral direfleksikan pada sistem saraf agar sistem tersebut memegang kendali. Sistem saraf mampu menyerap ide-ide, visualisasi atau gambar dan sensasi. Aktivitas sistem saraf ini tertahan oleh sirkulasi darah. Jika tidak ditahan oleh sirkulasi darah, maka mental image akan menjadi liar, yang membawa pada halusinasi dan ilusi. Inilah yang menjadi batasan untuk para sanguinis.Bahkan mereka orang yang percaya diri untuk mengambil risiko.<br />
<br />
2. Plegmatis<br />
Lendir dan tubuh eterik menjadi simbol cairan dari karakter ini. Orang tipe plegmatis lebih fokus pada apa yang terjadi dalam dirinya, sehingga ia membiarkan apa yang ada di luar terjadi sebagaimana mestinya. Tidak heran orang-orang dengan tipe ini menyukai kedamaian. Yang mereka cari dari sebuah hubungan adalah keharmonisan dan keakraban. Mereka selalu berusaha untuk menghindari konflik yang ada, itu membuat mereka menjadi pasangan yang penuh cinta dan setia. Terlibat dalam kegiatan charity adalah kegiatan yang menyenangkan untuk mereka.  Penuh cinta dan selalu menolong sesama.<br />
Namun terkadang ia merasa tidak terhubung dengan sekitarnya, karena fokus aktivitasnya ada pada tubuh eteriknya. Sehingga, pada kehidupan sosial, ia cenderung menjadi pendiam.<br />
<br />
3. Koleris<br />
Empedu kuning dan ego mendominasi pada tipe koleris. Karena ego yang memegang kendali, koleris sangat agresif dan harus selalu mendapatkan apa yang ia inginkan dengan caranya. Orang dengan tipe koleri sangat berorientasi pada target, analitis, dan logis. Tipe-tipe seorang pemimpin.<br />
Karakter koleris ini juga tidak menyukai basa-basi, ia lebih suka menghabiskan waktu dengan hal bermanfaat. Jadi ia akan lebih menyukai percakapan yang jelas tujuan dan intiny<br />
<br />
4. Melankolis<br />
Empedu hitam dan tubuh fisik mendominasi tipe melankolis. Melankolis merasa bahwa ia bukanlah tuan dari tubuhnya dan terikat dengan rasa sakit. Tubuhnya dikendalikan oleh ketiga bagian lain, sehingga ia kehilangan keinginannya untuk bertindak sendiri. Perumpaannya, tubuh fisik hanya menjadi ‘penggerak saja’, sementara yang menggerakkan adalah ketiga bagian lainnya. Padahal seharusnya tubuh fisik menjadi instrumen tertinggi, sebab tanpa fisik, ketiga bagian yang lain itu tidak akan ada.<br />
<br />
Tipe melankolis sering berkorban untuk orang lain, cenderung sensitif, penyayang, senang berada di balik layar, namun juga seorang yang pemikir. Ia diibaratkan harus menjadi penggerak, dan memberi kesempatan pada bagian tubuh lainnya, sehingga ia akan sensitif dan memikirkan cara untuk menyelesaikan masalah. Ia seorang yang cukup kreatif karena dapat berpikir dari berbagai sudut pandang. Memikirkan bagian tubuh lain, membuatnya melihat dari berbagai sudut pandang.<br />
<br />
Ada berbagai jenis tes psikologi untuk mengetahui karakter Anda dan mengukur seberapa dekatnya pendekatan suatu teori terhadap karakter Anda. Seperti yang sudah dijelaskan di awal, Anda tidak bisa menelannya mentah-mentah begitu saja dalam menilai seseorang. Tetapi parameter pada empat temperamen ini dapat membuat Anda mengatasi kekurangan yang Anda miliki, sehingga membentuk kepribadian yang lebih baik lagi.<br />
<br />
Misalnya pada anak dengan tipe melankolis dan plegmatis, mereka harus dilatih untuk lebih percaya diri dan selalu aktif mengikuti kegiatan. Lalu anak tipe koleris, mereka bisa dilatih untuk menghormati pendapat orang lain. Begitu juga dengan tipe sanguinis, bisa dilatih dengan lebih mengenali dirinya sendiri. Apa pun temperamen Anda, kuncinya adalah selalu memperbaiki diri jika memang ada yang salah dari karakter Anda. Temperamen itu sendiri membuat dunia menjadi lebih indah, lebih hidup dan lebih berwarna.<br />
<br />
itu kembali kepada para psikolog untuk memantau atau melihat perkembangan pasien agar kembali kekehidupan yang baik. <br />
<br />
Sebelumnya gw kenalkan , gw KILLIAN, kali ini gw di hadapkan kepada pria seumuran dengan gw, bisa gw sebutkan namanya disini sebagai GINANDRA, dan dia sangat unik dikarenakan gw sendiri tidak bisa menebak karakter utama dia. dan dia tidak mempunyai alter ego ( Diri dia yang lain) dan dia juga tidak mempunyai penyakit mental SKIZOFERNIA , tidak juga mempunyai gejala DID ( Dissociative Identity DIsorder) / MIP ) Multiple Idendity dia sadar betul akan yang dikerjakan dan dilakukan dan dia juga tidak keterbelakangan mental, sangat rumit dan sangat menarik. <br />
<br />
Mungkin sampai dengan disini saja, di tunggu kelanjutan antaran KILLIAN dan GINANDRA]]>
        </description>
    </item>
    <item>
        <title>gay and bastard</title>
        <link>https://boyzforum.qiarchive.org/discussion/16751736/gay-and-bastard</link>
        <pubDate>Mon, 21 May 2018 04:06:45 +0000</pubDate>
        <category>BoyzStories</category>
        <dc:creator>mumu3gemez</dc:creator>
        <guid isPermaLink="false">16751736@/discussions</guid>
        <description><![CDATA[Rahasia<br />
Apa yang ada di dalam benak kalian,saat rahasia terbesar di dalam hidup kalian yang berusaha kalian kubur dalam-dalam terkuak. KIAMAT.<br />
Itu yang aku rasakan saat itu. Yak, saat itu. Saat waktu yang dibantu oleh tangan Tuhan membongkar rahasiaku. Saat keluargaku pertama kali tahu bahwa aku seorang GAY.<br />
Seperti terdakwa yang langsung dihukum bersalah tanpa ada pembelaan. Duniaku berubah saat detik itu juga. Berurai tangisan, berjuta kata maaf, tak dapat merubah hati mereka saat itu.<br />
Hingga aku dulu pernah sumpah serapah pada Tuhan yang telah menciptakan aku seperti ini.<br />
“ANJING KAU TUHAN! SETAN KAU TUHAN!” dan sumpah serapah yang lebih buruk lagi. (Ya Tuhan maaf kan aku saat itu, setan telah merasuki ku, sekarang setan yang aku persalahkan)<br />
Dunia yang luas ini berubah menjadi kecil, sempit dan menyesakan. Tak ada tempat untuk aku disini. saat mereka keluargaku tak mau menerimaku lagi.<br />
Yak, tindakan bodoh terlintas dalam benakku. Tindakan yang benar-benar bodoh. Aku mencoba bunuh diri dengan menggunakan pisau untuk memotong nadi.<br />
Entah bagaimana caranya, mungkin sudah menjadi kuasa Tuhan aku tidak mati saat itu. <br />
Aku tersadar sudah berada di rumah sakit. Ibuku, hanya ibuku yang kulihat saat itu. Ayah dan saudara-saudaraku yang lain, entahlah. <br />
Dalam masa penyembuhan saat itu, aku baru tersadar akan kalimat yang dulu pernah seorang penceramah ucapkan bahwa ‘Siapa yang harus kita hormati dalam hidup ini? Ia menyebutkan kata ibu sebanyak 3 kali lalu bapak.’<br />
 Ibu selalu mengutamakan perasaanya, kasih sayangnya. Sebesar apapun kesalahan anaknya ia akan selalu hadir untuk menenangkan.<br />
Walau aku masih bisa membaca raut kekecewaan di wajahnya, tapi ia merawatku hingga sembuh.<br />
Apakah penderitaanku sudah berakhir?<br />
BELUM, karena cerita ini baru akan dimulai.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
Namaku Resky, ini bukan nama sebenarnya. Aku menyamarkan namaku karena aku tahu kalian yang membaca ini pasti ada yang lebih hebat dari detektif Conan atau Sherlock Holmes. Hanya dengan sedikit informasi yang aku tulis pasti langsung ketahuan siapa aku sebenarnya. Selain itu, aku menjaga perasaan keluargaku, terutama bapak dan saudara-saudaraku, yang masih belum bisa menerima aku, sebagai GAY.<br />
Aku tidak tahu apakah kalian mengalami nasib yang sama seperti ku. Aku berdoa sih tidak. Semoga. Amiin.<br />
Pasti ada yang bertanya, bagaimana kok bisa ketahuan oleh keluarga?<br />
Yah, itulah kebodohanku, STUPID, DODOL, GOBLOK, DONGO, BODOH.  Semua kata-kata yang bermakna sama atau lebih rendah lagi, kalau ada akan aku pakai untuk mengutuk diriku sendiri.<br />
Kejadian itu terjadi 6 tahun lalu. Saat dunia internet sedang digandurungi. Yah, kalian taulah dengan adanya internet semua jadi mudah terjangkau, termasuk dengan soal pornografi. Dara muda, masa pertumbuhan (21 tahun usia aku saat itu masih dibilang dalam masa pertumbuhan atau enggak, tapi kita anggap saja masih dalam masa pertumbuhan), dan keingintahuan tentang seks akan makin menumpuk.<br />
Coba-cobalah aku mendownload beberapa video seks, bukan video seks straight, tapi gay. Karena dari kecil aku sudah sadari ketertarikanku pada sosok pria, makhluk berbatang, yang mana jenis kelaminya sama dengan aku.<br />
Singkat cerita, aku yang gaptek ini, tidak memproteksi file-file yang berisi video itu. Dimana saat itu aku lupa kenapa bapak aku pinjam HP aku untuk menelpon saudara, entah HP-nya rusak atau enggak ada pulsa, aku lupa. Mungkin memang ini juga sudah jadi takdir Tuhan untuk membongkar aib aku di depan bapak aku. (Ini bisa jadi buat pelajaran kalian, sembunyikan-sembunyikan segala bau-bau yang bisa membongkar bangkai kalian sendiri).<br />
Bapak aku teriak manggil-manggil nama aku. Saat wajah aku muncul di ruang tengah dia langsung lempar itu HP ke arah aku dengan video yang masih berputar.<br />
Sontak aku langsung membeku, kaget, dan udah enggak tahu mau ngomong apa lagi. Ibu aku, saudara-saudara aku, berkumpul lihat aku disidang. Oh, iya aku belum kasih tahu bapak aku itu anggota TNI, dan kalian yang anak kolong akan tahu rasanya menjadi anak TNI, hidup itu keras bung.         <br />
Udah enggak ada yang bisa menolong saat kekerasan di mulai. Kepala aku di tempeleng. Badan aku dipukul. Aku sudah pasrah. Banyak kalimat yang di ujarkan, tapi yang terdengar dan masuk ke telinga aku adalah DOSA, DOSA, DOSA, DOSA, DOSA, DOSA, DOSA, dan DOSA.<br />
Sejak kejadian itu, tak ada yang berani untuk bicara sama aku karena sebuah ultimatum yang harus dipatuhi. Gila rasanya kaya di neraka. Enggak dianggap sebagai manusia. Hingga bisikan setan merasuk dan terjadilah tindakan bodoh itu. menyayat diri sendiri dengan pisau. (Jangan pernah kalian lakukan).<br />
Pikiranku saat itu, kalau aku mati, mungkin mereka akan senang, enggak ada lagi yang bikin malu nama keluarga. Walau dunia belum ada yang tahu saat itu aku gay. <br />
Aku tidak akan memberikan ciri-ciriku seperti apa pada kalian, rambutku warna apa, badanku gemuk atau kurus, aku kuliah dimana, ambil jurusan apa. Kenapa? Ah, kurang asik. Biarin aja, daripada nanti wujud asliku terkuak oleh kalian yang berjiwa detektif. <br />
 Tapi sebelum cerita ini berlanjut, aku mohon maklum bagi kalian yang membaca ceritaku, karena aku baru belajar menulis (menulis sebagai media terapiku saat ini) karena tulisannya bukan seperti tulisan profesional, jadi nanti ada beberapa tulisan yang typo, atau penempatan yang salah harap maklum, yah.]]>
        </description>
    </item>
    <item>
        <title>Saber, Saber</title>
        <link>https://boyzforum.qiarchive.org/discussion/16751619/saber-saber</link>
        <pubDate>Sun, 29 Oct 2017 16:49:59 +0000</pubDate>
        <category>BoyzStories</category>
        <dc:creator>lightsaber</dc:creator>
        <guid isPermaLink="false">16751619@/discussions</guid>
        <description><![CDATA[Ada ratusan notifikasi dan tak ada satupun yang bisa saya cek lagi apa.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
R E D E F I N E D<br />
<br />
<br />
Berbahagia. Itu, jawaban kalau ditanya saat ada di ruang ini lagi. Siang tadi saya buka lagi forum ini setelah.. lebih dari dua tahun lah. Sedikit tergelitik melihat-lihat lagi tiap sisinya. Kembali terasa. Seperti saat kamu menengok lagi rumah masa kecilmu. Entah itu rumah yang dulu keluargamu tinggali atau itu rumah eyang yang kerap kamu kunjungi. Terasa kembali dan kamu pun tersenyum.<br />
<br />
Saya tidak yakin bila dalam suasana itu, kamu masihlah kamu yang dulu itu juga. Tentu saja kamu banyak melewati hal-hal kehidupan. Dan beberapa hal mengubahmu menjadi kamu yang sekarang.<br />
<br />
Jadi, apa kabar kamu disana?<br />
<br />
Tergelitik saya masih, sebab terpikir bahwa dua tahun itu, saya banyak menghabiskan waktu menatap layar laptop dan ponsel untuk berinteraksi dengan kamu disini di dalam ruang yang ramai ini. Dulu aktifitas itu mendominasi keseharian. Pagi saya bangun tidur, siang setelah kelas bubar, sore saat di kantin, dan malam saat sambil menikmati musik, dan bahkan saat larut malam dan mengubah jam tidurmu. Karena di ruangan ini ramai. Kamu menemukan banyak benda baru dan banyak orang yang kamu temui. Dua tahun itu.<br />
<br />
Lalu dua tahun belakang kini.<br />
<br />
Itulah kenapa tadi tergelitik. Dua tahun belakang kamu berada di luar ruangan tadi, berkendara menuju tempat-tempat keren, menyusuri hutan beton bersama teman-teman, berkas-berkas dirapikan, langit senja memerah tercemar polusi, langit biru digores gumpalan-gumpalan awan putih, hawa sejuk atas bukit berhutan pinus, dokumen-dokumen penting disiapkan. Kamu manusia penikmat perjalanan, kamu manusia pekerja korporat, kamu manusia pengecap rasa, kamu manusia kota, kamu manusia kamaran. Sedikit mencoba melucu, ada satu hal yang sama dari kurun dua waktu itu; ratusan “hai” di layar ponsel. Haha.<br />
<br />
Dua tahun dan dua tahun. Sudah barang pasti kamu bukan pribadi berisi sama seperti isi kamu empat-lima tahun lalu.<br />
<br />
Sudah. Saya mau matikan lampu kamar lalu istirahat. Terima kasih Banda Neira, album terakhirnya telah dengan mulus menemani tulis ocehan mala mini. Terima kasih juga buatmu yang sudah membaca sampai di titik ini.]]>
        </description>
    </item>
    <item>
        <title>These Memories.. (Short Stories) ; Kali Ke(empat)dua (Page 5)</title>
        <link>https://boyzforum.qiarchive.org/discussion/16741220/these-memories-short-stories-kali-ke-empat-dua-page-5</link>
        <pubDate>Sat, 22 Jun 2013 11:13:54 +0000</pubDate>
        <category>BoyzStories</category>
        <dc:creator>chandisch</dc:creator>
        <guid isPermaLink="false">16741220@/discussions</guid>
        <description><![CDATA[Hai teman-teman BoyzForum..<br />
Sebenarnya aku udah pernah bikin topik dengan judul yang sama, tapi nggak dilajutin..<br />
Alasannya sih karena I finally find out that I don't really like to create a Long Story and more atrracted to Short one..<br />
<br />
Cerita-cerita aku di topic ini bakal berbentuk Short Stories, some kind of Antologi gitu deh..<br />
Cerita-cerita ini akan bergenre either fiksi, non-fiksi atau campuran.. <img src="https://boyzforum.qiarchive.org/resources/emoji/smile.png" title=":)" alt=":)" height="20" /><br />
<br />
I am imperfect, thus your suggestions and critics are highly needed..<br />
God bless you.. <img src="https://boyzforum.qiarchive.org/resources/emoji/smile.png" title=":)" alt=":)" height="20" /><br />
<br />
Love,<br />
Chandisch <img src="https://boyzforum.qiarchive.org/resources/emoji/kiss.png" title=":*" alt=":*" height="20" />]]>
        </description>
    </item>
    <item>
        <title>Maaf cerita dihapus</title>
        <link>https://boyzforum.qiarchive.org/discussion/16745155/maaf-cerita-dihapus</link>
        <pubDate>Sun, 04 May 2014 16:24:54 +0000</pubDate>
        <category>BoyzStories</category>
        <dc:creator>kaka_el</dc:creator>
        <guid isPermaLink="false">16745155@/discussions</guid>
        <description><![CDATA[:-h ]]>
        </description>
    </item>
    <item>
        <title>Book Trailer Antologi #Ketetapan Hati (Abiyasha, Noel, Nayaka, Titto, Gr3yboy, Mario Bastian, Dll)</title>
        <link>https://boyzforum.qiarchive.org/discussion/16735293/book-trailer-antologi-ketetapan-hati-abiyasha-noel-nayaka-titto-gr3yboy-mario-bastian-dll</link>
        <pubDate>Wed, 06 Jun 2012 06:27:18 +0000</pubDate>
        <category>BoyzStories</category>
        <dc:creator>gr3yboy</dc:creator>
        <guid isPermaLink="false">16735293@/discussions</guid>
        <description><![CDATA[Salam Karya!<br />
<br />
Sahabat penulis yang terhormat. Jika ada yang bertanya kepada kalian semua, “Apa arti menulis buat kalian?” Aku yakin diantara kita semua punya jawaban yang beraga. Ada yang sekedar hobi, ada sebagai pelampiasan perasaan, bahkan mencari uang. Sebenarnya menulis itu apa sih? Penting tidak sih?<br />
<br />
<br />
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” – Pramoedya Ananta Toer<br />
<br />
<br />
Berdasar kutipan dari salah satu penulis terhebat kita. Bukankah menulis itu suatu hal yang sangat agung? Kita dapat meninggalkan jejak pena kita, meski sudah lama hilang dari kefanaan ini. Karena manusia akan dikenang akan karyanya, bukan seberapa pandai dia. Bukti otentik sebuah karya jauh dihargai dari sekedar bualan.<br />
<br />
Lalu bagaimana jika tidak bisa menulis?<br />
<br />
Itu cuma bualan belaka. Semua orang bisa menulis. Aku yakin itu. Mulailah dengan satu kalimat, lalu paragraf, lalu menjadi panjang hingga mungkin novel. Menulis apa saja yang ada dipikiranmu, jangan memikirkan apa yang kau tulis. Mulailah dari sesuatu yang sederhana. Mulailah dari sesuatu yang kecil.<br />
<br />
<br />
 “Ilmu pengetahuan, Tuan-tuan, betapa pun tingginya, dia tidak berpribadi. Sehebat-hebatnya mesin, dibikin oleh sehebat-hebat manusia dia pun tidak berpribadi. Tetapi sesederhana-sederhana cerita yang ditulis, dia mewakili pribadi individu atau malahan bisa juga bangsanya.” <br />
<br />
<br />
 “Menulis adalah keberanian...” <br />
<br />
<br />
Menyikapi hal tersebut, saya memiliki sebuah ide. Yang juga didukung oleh beberapa teman penulis pada forum tercinta ini. Saya ingin mengajak membuat buku gotong-royong dengan tema yang nanti dibicarakan lagi. Sebuah buku yang berisi karya kita semua (puisi dan cerpen). Jika semuanya terkumpul, makan dibentuk sebuah Antologi, dan diterbitkan secara indie. Aku hanya ingin mengajak kita semua berkarya, terlepas dari keadaan kita. Aku yakin tidak ada perbedaan kita dalam menelurkan sebuah karya!<br />
<br />
<br />
Jika ide ini dirasa baik, kira-kira kita mengangkat tema apa?<br />
<br />
<br />
_____________________________________<br />
<br />
Apa itu antologi? ( <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Antologi" rel="nofollow">http://id.wikipedia.org/wiki/Antologi</a> )<br />
<br />
Contoh Antologi:  Madre (Dewi Lestari); 3-SOME (Hendri Yulius Dkk)<br />
<br />
_____________________________________<br />
<br />
<br />
Sumbangan Ide: (Atau bisa kirim ke: antologibf@gmail.com )<br />
<br />
<a href="https://boyzforum.qiarchive.org/profile/ambigu" rel="nofollow">@ambigu</a> - &quot; Love for Everyone&quot;<br />
<br />
<a href="https://boyzforum.qiarchive.org/profile/xchoco_monsterx" rel="nofollow">@xchoco_monsterx</a> - &quot;Cinta bahasa Universal&quot;<br />
<br />
<a href="https://boyzforum.qiarchive.org/profile/Heland" rel="nofollow">@Heland</a> - &quot;From Us with Love&quot;<br />
<br />
<a href="https://boyzforum.qiarchive.org/profile/chi_lung" rel="nofollow">@chi_lung</a> - &quot;Karya Cinta Untuk Sesama &quot;<br />
<br />
<a href="https://boyzforum.qiarchive.org/profile/Tea_for_two" rel="nofollow">@Tea_for_two</a> - &quot;BOYS LOVE STORY&quot;<br />
<br />
<a href="https://boyzforum.qiarchive.org/profile/monster26" rel="nofollow">@monster26</a> - &quot;Karya Cinta Untuk Sesama&quot;<br />
<br />
<a href="https://boyzforum.qiarchive.org/profile/ularuskasurius" rel="nofollow">@ularuskasurius</a> - &quot;PROTECT ME FROM WHAT I WANT! &quot;<br />
<br />
<a href="https://boyzforum.qiarchive.org/profile/zalanonymouz" rel="nofollow">@zalanonymouz</a> - &quot;love is undefined&quot;<br />
<br />
<br />
<br />
....<br />
....<br />
<br />
<br />
5 Naskah pertama yang terpilih dalam Proyek Antologi BF 2012.<br />
<br />
1. Ketetapan Hati<br />
2. Cendawan dan Serangga<br />
3. Di Balik Nyanyian Bulbul<br />
4. Di Pelataran Senja<br />
5. Impian Kelas Bisnis<br />
<br />
Sisa naskah yang masuk akan diberitahukan segera. Kontributor akan dimasukkan grup khusus guna pembahasan naskah selanjutnya.<br />
<br />
Tabik,<br />
Javas]]>
        </description>
    </item>
    <item>
        <title>Selamat Datang di BOYZSTORIES!!  [WAJIB BACA]</title>
        <link>https://boyzforum.qiarchive.org/discussion/16745648/selamat-datang-di-boyzstories-wajib-baca</link>
        <pubDate>Thu, 12 Jun 2014 12:36:03 +0000</pubDate>
        <category>BoyzStories</category>
        <dc:creator>yuzz</dc:creator>
        <guid isPermaLink="false">16745648@/discussions</guid>
        <description><![CDATA[<b>Selamat Datang di BOYZSTORIES!!</b><br />
<br />
<br />
Di sini adalah tempat dimana bisa mengunggah hasil karya tulis kamu, baik berupa cerita fiksi (cerpen, cerbung, puisi) maupun nonfiksi (jurnal sehari-hari/blog).<br />
<br />
<b>Tidak diperkenankan mengunggah cerita yang berisi adegan seks eksplisit, konten porno, bahasa vulgar, sadisme maupun SARA.</b><br />
<br />
Untuk dapat mengunggah karya kamu di sini, kamu harus menjadi member terlebih dahulu, kamu juga bisa memberikan komentar di cerita favorit kamu.<br />
<br />
Tentunya sampaikan komentar dengan bijak, dalam bahasa yang baik dan sopan.<br />
<br />
<br />
Selamat berkarya dan selamat membaca!]]>
        </description>
    </item>
    <item>
        <title>Vision</title>
        <link>https://boyzforum.qiarchive.org/discussion/16751788/vision</link>
        <pubDate>Tue, 09 Oct 2018 06:32:46 +0000</pubDate>
        <category>BoyzStories</category>
        <dc:creator>Bananafla</dc:creator>
        <guid isPermaLink="false">16751788@/discussions</guid>
        <description><![CDATA[Mau berbagi cerita disini xD, udah lama ga main disini hwhw.<br />
Ini cerita sebenernya gue post di wattpad, tapi yang baca kaga ada jadi gue post disini aja sapatau ada yang baca. y g ?<br />
btw this my wattpad <a href="https://www.wattpad.com/user/butbecause" rel="nofollow">https://www.wattpad.com/user/butbecause</a><br />
<br />
-----------<br />
<br />
<br />
Masih bersiteru dengan Laptopnya.<br />
Hari ini, dia sedang menyendiri di cafe. Matanya sibuk menatap layar, tangan tidak berhenti mempermainkan 'tikus' dan papan ketik-nya. Huruf demi huruf tersusun menjadi kata, yang kemudian tumbuh menjadi kalimat dan besar menjadi paragraf. Alurnya tidak selalu lancar, beberapa kali salah dan kemudian hapus. Seperti itulah kegiatannya saat setelah sampai di cafe 4 Jam lalu. <br />
Sekarang adalah Senin, dia seharusnya berada dikantornya hari ini. Tetapi dengan tidak peduli pada padatnya pekerjaan di hari Senin, diabaikanlah tugas tersebut untuk hari esok saja. Karena harus mengejar gelar 'Sarjana' lah maka dia berani.<br />
<br />
'Drrrtttt,drrrrttt' suara getar yang dihasilkan oleh ponsel pintarnya. Ada panggilan masuk.<br />
<br />
"Halo, iya kenapa?" Tembaknya.<br />
~<br />
"Oh, iya masih gue kerjain. <br />
Ini gue lagi kerjain, gue ambil cuti buat ini tugas.<br />
Sial emang tuh dosen." Balas dia dengan cukup kesal.<br />
~<br />
"Lu udah selesai ?<br />
Belum juga kan ?" Balas dia kali ini dengan bertanya balik.<br />
~<br />
"Oh yang itu, iya..." dia menjelaskan apa yang ditanya oleh si lawan bicara.<br />
<br />
Dengan tanpa sadar suaranya cukup keras, tidak terlalu nyaring memang. Tapi cukup di dengar oleh mereka yang sedang berada di cafe tersebut. Bahkan, yang baru masuk cafe langsung memusatkan pandangan ke padanya karena cukup terkejut dengan suara yang sangat jelas itu. Reaksi mereka berbagai macam, ada yang menahan tawanya, ada yang acuh, melirik atau menengok sesekali karena penasaran apa yang dibicarakan sampai semenarik itu, dan bahkan ada yang cukup terganggu walau berusaha tidak peduli.<br />
Cukup lama pembicaraannya lewat ponsel pintar berlogo buah yang sudah digigit itu.<br />
"Ok deh siap! Semangat ya lu! Biar bisa lulus bareng kita! <br />
Sip!"<br />
Penanda sebagai penutup pembicaraannya tadi yang bahkan hampir semua yang ada di cafe tahu apa yang dibicarakan.<br />
<br />
...<br />
<br />
Masih dengan aktivitasnya yang sama, dia masih menghasilkan suara yang cukup banyak dari pertemuan jemari dengan papan ketiknya. <br />
Pekerjaannya hampir selesai, tapi bukan berarti benar. Saat sudah sampai bagian tertentu, kadang dia baru sadar bahwa ada bagian yang salah pada bagian sebelumnya. Dia bukan orang yang mengkoreksi salahnya saja, tapi dia menghapus sampai bagian yang salah tersebut. Jadi dia bisa mengoreksi lebih leluasa dan melanjutkan bagian yang lain. Memang kurang tepat dan tidak cepat jika melakukannya seperti itu. Tapi itu adalah caranya untuk mengkoreksi sampai tidak ada yang salah.<br />
<br />
Sudah lebih dari 2 jam lalu dia menerima panggilan dari temannya, bahkan sekarang jam makan siang sudah hampir selesai. Dia tidak menyadari bahwa 1 jam terakhir cafe yang dia berada tersebut ramai dan hampir penuh, karena memang sifatnya yang cukup cuek.<br />
Saat jam makan siang semua meja diisi oleh para pekerja kantor disekitar cafe tersebut untuk beristirahat dan bersenda gurau sebentar, biasanya cafe akan penuh saat pukul 12.25 dan mulai sepi kembali 1 jam setelahnya. Pada setiap meja terdapat 2 sampai 4 kursi, semuanya diisi oleh mereka yang butuh nutrisi tambahan untuk bekerja sampai sore hari nanti.<br />
Dia duduk di meja yang hanya terdpat dua kursi, dan hanya kursi itu yang kosong. Karena orang lain lebih memilih tempat yang lain daripada harus duduk berhadapan orang yang tidak dikenalnya.<br />
Beberapa orang sudah ada yang selesai dengan hidangannya dan langsung meninggalkan tempatnya, tapi ada juga yang baru datang. Ya, karena jam Istirahat tidak semuanya sama untuk perkantoran, cukup fleksibel memang. <br />
Waktu berlalu, keadaan cafe mulai sepi kembali. Tapi, tiba - tiba saja ada seorang pria yang menempati kursi didepannya. Dia belum menyadarinya karena masih sibuk dengan yang ada di laptonya, pria tersebut pun tampak santai walau sebenarnya dia bisa duduk di tempat lain. <br />
Dia sesekali mencoba untuk melihat wajah pria di depannya itu. Tapi, pria itu masih sibuk membaca buku menu yang menutupi hampir 3/4 wajahnya.<br />
Dia pun tidak terlalu memperdulikan pria tersebut, walau ada fikiran yang terlintas untuk meminta pria itu pergi.<br />
Tanpa peduli lagi dengan pria yang masih sibuk dengan buku menunya, dia melanjutkan tugasnya dengan cukup tenang dan berusaha untuk tidak terusik dengan pria di depan.<br />
Tapi, beberapa menit berlalu dia menjadi grogi dan sesekali melirik ke ponselnya. Pikirannya tidak fokus pada apa yang dikerjakan, walau sebelumnya dia tampak santai.<br />
Dia penasaran dengan pria didepannya, sebelumnya dia sesekali melirik dan mulai tidak fokus dan memaksakan memaku pandangan dan fikiran pada tugasnya.<br />
Dia pun mencoba memejamkan matanya untuk menenangkan fikirannya sebentar, lalu menghela nafasnya. Dengan hitungan detik, dia langsung menegakkan lehernya meluruskan padangan ke pria didepannya dan menaham nafas untuk beberapa detik. Belum ada yang disadari, sampai pria tersebut selesai dengan hidangannya dan mengakkan kepalanya juga.<br />
Suasana menjadi berubah ketika pandangan mereka yang hanya terhalangi kacamata yang dipakai pria itu bertemu. <br />
Matanya terbelalak, menyadari siapa yang ada didepannya. Matanya terus terkunci dengan mata si pria yang juga tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun. Pria tersebut memasang senyum pada wajahnya, senyum yang sama seperti dulu. Raut wajah dia masih sama, cukup kaget dan dengan pandangan mata yang mulai kabur.<br />
"Apa kabar ?" Ucap si pria dengan maksud merubah suasana canggung itu.<br />
Dia mengedipkan matanya agar pandangannya tak lagi kabur, mencoba untuk menyadarkan diri pada pejaman mata yang hanya sepersekian detik tadi. <br />
"Baik." Balasnya, cukup dijeda dengan kecanggungan<br />
Si pria hanya membalas senyum dari jawaban itu, senyum yang hangat walau wajahnya terlihat kelelahan.<br />
"Kamu ?" Potong dia.<br />
Si pria masih dengan senyumnya dan belum ingin menjawab. Suasana masih cukup canggung dan hening, sampai dia memotong lagi. "Sudah lama ya."<br />
<br />
-Bersambung-]]>
        </description>
    </item>
    <item>
        <title>Pegupone Pigeon : cerita dari selat malaka</title>
        <link>https://boyzforum.qiarchive.org/discussion/7827600/pegupone-pigeon-cerita-dari-selat-malaka</link>
        <pubDate>Wed, 12 Dec 2007 07:10:50 +0000</pubDate>
        <category>BoyzStories</category>
        <dc:creator>LittlePigeon</dc:creator>
        <guid isPermaLink="false">7827600@/discussions</guid>
        <description><![CDATA[tes tes<br />
<br />
bisa ga yak?]]>
        </description>
    </item>
    <item>
        <title>DAYA &amp; JALA, pada Jalan yang Berbeda</title>
        <link>https://boyzforum.qiarchive.org/discussion/16751781/daya-jala-pada-jalan-yang-berbeda</link>
        <pubDate>Tue, 11 Sep 2018 00:36:55 +0000</pubDate>
        <category>BoyzStories</category>
        <dc:creator>Turney</dc:creator>
        <guid isPermaLink="false">16751781@/discussions</guid>
        <description><![CDATA[Ternyata kangen sama forum ini tidak ada obatnya. <br />
Ingin bertemu lagi dengan teman-teman member yang sudah berpencar entah kemana dengan dunia social media aneka ragam, semoga bisa bersatu lagi semua. <br />
Beberapa bulan yang lalu aku dapati forum kita ini sangat sulit diakses. Syukurlah sekarang agak dan mendingan lancar. <br />
Aku tidak menghilanglah, tahun yang lalu ada urusan keluarga di Ingelheim Jerman. Kebetulan ada seorang calon dokter berusia muda dari Universitas Mainz dan agak dekat dari Ingelheim. Namanya Daya Volta, wawwwwww semua teriak siapa tuh Daya Volta ? Kami hanya kenal Jala. Hahahahaha. Teman-teman akan tahu siapa itu Daya, dalam beberapa bulan pertemuan kita ke depan, semoga lancar dengan sedikit melupakan Rusli dan Iqbal <img src="https://boyzforum.qiarchive.org/resources/emoji/smile.png" title=":)" alt=":)" height="20" /> <br />
Ini ada beberapa foto untuk membawa alam fikiran teman-teman akan setting cerita kita.]]>
        </description>
    </item>
    <item>
        <title>WIRAKU (Si Pencuri Hati)</title>
        <link>https://boyzforum.qiarchive.org/discussion/16751751/wiraku-si-pencuri-hati</link>
        <pubDate>Tue, 17 Jul 2018 11:59:46 +0000</pubDate>
        <category>BoyzStories</category>
        <dc:creator>santay</dc:creator>
        <guid isPermaLink="false">16751751@/discussions</guid>
        <description><![CDATA[Setelah sekian lama Hiatus dari dunia tulis menulis dan ninggalin Forum, tetiba keingat dan rindu sama forum ini di tengah kepenatan aktivitas yang melanda...<br />
Begitu banyak ide yang mengalir di kepala dan sayang kali nggak dituangkan. <br />
Cerita ini diketik di Android. Jadi maaf kalo banyak typo. Nggak usah khawatir bakal ngegantung. Ceritanya udah kelar. tinggal posting aja. hehehe. Tapi postingnya bakal sedikit-sedikit karena ribet ngetik lewat HP. Enaknya ngepost via kompie, tapi forum kan diblokir mana tempat kerja rame jadi was-was, ya udahlah ya, HP aja deh.<br />
Selamat menikmati. <br />
Jangan lupa komentarnya ya gays.<br />
<br />
****<br />
<br />
Yuda berjalan gontai menyusuri jalanan yang kebetulan siang ini tampak lengang. Cuaca yang terik tak membuatnya lantas mempercepat langkahnya menuju halte bus. Ia merogoh saku seragamnya dan mengeluarkan sepucuk sapu tangan lalu mengusap keringat di jidatnya.<br />
Tiba-tiba seseorang dari arah samping menyergapnya.<br />
"Eeh, eehh... bagi duit!" Kata cowok itu tanpa basa-basi.<br />
"Ng.. nggak ada..." tolak Yuda.<br />
"Buruan...!!!" Paksa cowok itu setengah berbisik.<br />
"Nggak ada!" Tolak Yuda keras sambil mempercepat langkahnya.<br />
Cowok itu mencengkram lengan Yuda keras. "Gua minta baik-baik nih. Jangan sampe gue nekat..." ancam cowok itu.<br />
"Aku juga ngomong baik-baik. Kalau nggak aku teriak nih..." Yuda balas mengancam.<br />
Cowok itu celingak-celinguk. Ia memperhatikan sekeliling. Tiba-tiba ia mengangguk dan mengacungkan jempol ke arah depan entah ke siapa. Perasaan Yuda mulai nggak enak. Firasatnya mengatakan cowok ini punya komplotan.<br />
"Kalo nggak ada duit, lu punya apa? HP mana HP?!" Tanya cowok itu sembari meraba saku kemeja dan celana Yuda.<br />
Nggak bakal aku biarin, desis Yuda dalam hati. Maka saat cowok itu lengah ia langsung menyikut dada cowok itu dengan keras sehingga cowok itu mengerang kesakitan. <br />
Masih belum puas, Yuda berteriak maling hingga orang-orang berdatangan. Kemudian tanpa banyak tanya orang-orang memukuli cowok itu.<br />
Awalnya Yuda merasa puas. Tapi melihat orang-orang seperti tak akan berhenti memukuli cowok itu, dirinya yang sedari tadi hanya berdiri menyaksikan malah jatuh iba.<br />
"STOP!!! Berhenti!! Berhenti!!!" Teriaknya keras.<br />
Beberapa orang menoleh padanya.<br />
"Cukup, Pak. Bukan dia..." kata Yuda seraya menyeruak menerobos kerumunan.<br />
"Bukan dia apanya?"<br />
"Bukan dia pelakunya. Dia yang nolongin saya..." jawab Yuda dengan terbata-bata sembari merentangkan kedua tangannya untuk melindungi cowok yang sedang terkapar di trotoar itu.<br />
"Hah?!"<br />
"I-iya..."<br />
"Kenapa nggak bilang dari tadi?! Ini malah mantengin aja...!" Sergah bapak berbaju kotak-kotak kesal.<br />
"Terus malingnya lari kemana?"<br />
"Ss..situ. Ke arah situ!" Yuda menunjuk ke sembarang arah.<br />
"Aaahhhhhhh... gimana sih?! Ayo bubar...bubarrr!!"<br />
Yuda mengelus dadanya setelah kerumunan masa itu pergi. Dadanya masih berdegup kencang. Ia menoleh ke arah cowok yang masih meringkuk di trotoar seraya meringis.<br />
"Ya Tuhan, apa yang barusan terjadi???" Gumam Yuda tak habis pikir.<br />
Ia berjongkok dan membantu cowok itu duduk.<br />
"Kamu nggak apa-apa?" Pertanyaan bodoh meluncur begitu saja dari bibir Yuda. Padahal beberapa bekas tonjokan, pukulan dan tendangan terlihat jelas di tubuh cowok itu.<br />
"Maaf..." ucap Yuda seraya mengambil sapu tangan lalu mengelap tetesan darah di sudut bibir cowok itu. "Kalo kamu nggak macam-macam, kejadiannya nggak bakal kayak gini..." sesal Yuda.<br />
Cowok itu tak berucap sepatah katapun. Hanya sepasang matanya saja yang terus menautkan tatapannya ke wajah Yuda. Pun ketika Yuda membuka tas sekolahnya lalu mengeluarkan selembar uang seratus ribu dan berkata, "Aku cuma punya duit segini. Ambil aja buat berobat. Aku harap kamu bertobat."<br />
Setelah itu Yuda bergegas pergi...<br />
***]]>
        </description>
    </item>
    <item>
        <title>Love in Past</title>
        <link>https://boyzforum.qiarchive.org/discussion/16751750/love-in-past</link>
        <pubDate>Tue, 17 Jul 2018 10:28:06 +0000</pubDate>
        <category>BoyzStories</category>
        <dc:creator>stevemboiz</dc:creator>
        <guid isPermaLink="false">16751750@/discussions</guid>
        <description><![CDATA["Aku mencoba menyimpan masa laluku. Ternyata itu keputusan yang salah."<br />
<br />
Pernahkah kalian mengetahui setelah sekian lama berpacaran ternyata pacar kalian bermain "dibelakangmu". Orang-orang mengibaratkan seperti sebuah gelas kaca yang jatuh berantakan, tidak mungkin akan kembali menyatu dengan sempurna. Dia yang dulu aku banggakan, aku cintai, aku rindukan setiap malamku ternyata berbuat hal yang sulit untuk dimaafkan.<br />
<br />
Aku kecewa, aku marah, aku benci saat mengetahui itu. Aku mencoba menjauhinya, pergi darinya, berusaha untuk melupakan semua kenanganku.<br />
Namun, tidak disangka Dia muncul dikehidupanku lagi setelah sekian lama tidak berjumpa.<br />
<br />
Dan satu persatu, rasa yang dulu pernah ada mulai menyatu. Oh Tuhan, tidak mungkin aku mencintai lagi orang yang telah mengkhianati cintaku.<br />
<br />
<br />
cerita ini juga tersedia di wattpad <img src="https://boyzforum.qiarchive.org/resources/emoji/smile.png" title=":)" alt=":)" height="20" />]]>
        </description>
    </item>
    <item>
        <title>TEBING TERJAL</title>
        <link>https://boyzforum.qiarchive.org/discussion/16747446/tebing-terjal</link>
        <pubDate>Mon, 15 Dec 2014 07:47:07 +0000</pubDate>
        <category>BoyzStories</category>
        <dc:creator>Turney</dc:creator>
        <guid isPermaLink="false">16747446@/discussions</guid>
        <description><![CDATA[Salam kenal ...<br />
Mohon izinkan cerita ini hadir ya Bro diantara banyak cerita baru yang tidak pernah paripurna. Semoga cerita ini dapat mengalir sampai jauh. Ketika pembaca sudah mulai bosan maka itulah waktunya untuk menghentikan cerita ini.<br />
Mari kita lihat sejauh mana pembaca mau menyimak cerita ini ...]]>
        </description>
    </item>
   </channel>
</rss>
